Sabtu, 09 September 2017

Justru lewat perkataanlah, kamu bisa mengetahui kualitas seseorang


"Seringkali, kita mengira orang yang sering memperkatakan hal yang negatif, karena mereka memang orang yang blak-blakan atau sedang mengalami hari yang sulit"

Tapi sebenarnya, kemampuan seseorang untuk membuat lawan bicaranya merasa nyaman itu merupakan hal yang sangat mendasar. Justru lewat perkataanlah, kamu bisa mengetahui kualitas seseorang. Kalau kamu menyadari di sekitar kamu ada yang berbicara seperti di bawah ini, ada baiknya kamu tidak terlalu dekat dengan dia

Orang yang suka berbicara tajam

Orang yang suka berbicara tajam ibaratnya, kamu sedang nonton sebuah drama favoritmu, tiba-tiba ia lewat dan melihat "Buat apa kamu nonton drama kaya ginian? Tidak berguna, ini hanya membuang waktu kamu saja"

Kamu membeli sebuah gaun yang telah lama kamu idamkan, tiba-tiba ia datang dan mengejek "Berapa harga gaun ini? Ini terlalu mahal, pemborosan dasar!"

Perkataan orang itu bisa menjadi manis dan penyemangat, ketika yang dilantunkan adalah pujian. Namun sebaliknya, ketika kata-katanya adalah kritikan, komentar pedas, tak sedap di telinga, apalagi di hati, tentu akan meruntuhkan kepercayaan diri. Omongan orang itu mau tidak mau pasti akan membebani diri. Mempengaruhi kehidupan kita. Lalu tanpa sadar pelan-pelan menghancurkan apa yang kita miliki.

Perkataan orang lain itu ibarat batu besar, jika engkau memanggulnya maka patahlah tulang punggungmu. Namun jika engkau gunakan untuk membangun menara di bawah kakimu maka kata-kata itu akan menjujung engkau menjadi tinggi dan meraih kemenangan.

Oleh sebab itu cara yang tepat untuk menyikapi teman yang suka berbicara tajam yaitu dengan tidak menjadikan perkataan orang lain sebagai sesuatu yang harus kita risaukan. Tak perlu diambil hati, jangan dijadikan beban. Toh, belum tentu orang yang mengomentari Anda memiliki kehidupan yang jauh lebih baik dari Anda. Sekali dua kali bisa dimaklumi, tapi kalau sampai berkali-kali lebih baik Anda pergi menjauh darinya. Mungkin EQ dia rendah.

Orang yang suka mengeluh

Banyak di antara kita yang berteman dengan orang-orang yang sering mengeluh tentang berbagai hal yang bertentangan dengan keinginan mereka. Entah di sekolah, di kantor, atau di tempat lainnya. "Aduh, kenapa busnya datangnya telat? Kenapa mataharinya panas banget. Kenapa hujan melalu sih?" Yang ia keluarkan setiap harinya adalah perkataan keluhan dan kritikan. Ia tidak pernah melihat segala sesuatu dari sisi baiknya.

Tanpa kita sadari mereka sebenarnya sedang menarik energi dari Anda dengan mengeluh seperti ini. Sayangnya, orang-orang negatif ada di mana-mana dan sulit dihindari. Selain itu, pikiran negatif harus dihindari sebab bisa berpengaruh buruk bagi kehidupan kita. Saat berinteraksi dengan orang negatif, kita cenderung mudah terbawa ke dalam situasi negatif. Oleh sebab itu disarankan untuk menjaga jarak dengan mereka. Memilih menghindar bukan berarti mengabaikan, melainkan menjaga jarak agar tidak terpengaruh secara emosional.

Kehidupan itu ibarat roda berputar, kadang kita di atas kadang kita di bawah menghadapi banyak masalah. Saat kita menghadapi berbagai guncangan, daripada memilih untuk mengeluh dan protes, pilihlah jadi orang yang dewasa dalam menyikapinya. Seorang yang dewasa justru bisa berdiam saat datangnya masalah, dan bisa menghadapinya dengan positif. Orang yang baik padamu, justru seharusnya akan memberikan senyuman dan hal-hal yang positif untuk dirimu. Kalau setiap hari dia selalu menyampaikan hal negatif, itu tidak ada baiknya untukmu.

Orang yang suka berbohong
Manusia itu unik, kenapa dibilang unik sebab tidak ada satupun manusia yang tidak pernah berbohong . Dan hanya orang munafik lah yang mengatakan jika dirinya tidak pernah berbohong. Biasanya manusia berbohong itu demi kebaikan dan terkadang kita seringkali berbohong tetapi tak ingin dibohongi.

Orang yang suka bohong tentu kata-katanya suka berubah-ubah tidak konsisten.  Hari ini ngomong A, lain hari ngomong B. Karena terlalu sering berbohong jadi sulit untuk
mengingat kebohongan-kebohongan yang telah dilakukan sehingga pada akhirnya salah bicara sehingga yang dibicarakan terlihat ketidak konsistensiannya. Jika ia merasa sudah terpojok atau terpaksa, maka seorang ia akan mencoba mengalihkan perhatian orang yang menjadi lawan bicaranya dengan topik pembicaraan yang berbeda.

kecepatan angin bisa menghancurkan kaum


Pengaruh kekayaan dan kemewahan hidup mereka melahirkan sikap sombong. Hanya mengikuti kepentingan–kepentingan khusus. Lalu salah satu pembesar dari mereka berkata, “Tidakkah Nabi sama seperti kita, dia makan apa yang kita makan, dia minum apa yang kita minum? Bahkan, karena kemiskinannya, dia makan dan minum lebih sedikit dari apa –apa yang kita makan.

Ia menggunakan gelas dari tempat biasa, tapi kta minum dari gelas-gelas yang terbuat dari perak dan emas. Bagaimana ia mengaku berada dalam kebenaran sedangkan kita dalam kebatilan?” Kemudian, salah seorang pembesar juga bertanya, “Bukankah juga aneh, Allah memilih manusia biasa di antara kita untuk menerima wahyu dari-Nya?”

“Apa yang aneh di mata Allah? Allah mencintai kalian, Allah mengutusku untuk mengingatkan kalian. Sungguh, pasti kalian masih ingat dengan cerita perahu Nabi Nuh. Orang-orang yang menetang Allah, akan dihancurkan.” Jelas Nabi Hud

“Siapa yang akan menghancurkan kami wahai Hud? Tuhan-tuhan kami akan menyelamatkan kami.”
Nabi Hud kembali menjelaskan dengan penuh kayakinan, bahwa hanya Allah yang dapat menyelamatkan mereka. Sedangkan yang apa-apa yang ada di muka bumi tidak ada satupun yang dapat menyelamatkan mereka dari azab Allah SWT.

Mereka justru menganggap Nabi Hud gila dan idiot dengan apa yang dipaparkannya. Justru mereka mengatakan, “Sekarang kami memahami kegilaanmu. Itu semua karena tuhan kami telah marah kepadamu, dan kemarahannya menjadikan engkau gila.”

Sampai batas inilah mereka menganggap Nabi Hud mengigau, sehingga apa-apa yang diingatkan Nabi Hud tidak lagi mereka dengar.  Nabi Hud pasrah kepada Allah SWT terhadap orang-orang yang mendustakan dakwahnya.

Sebagai peringatannya yang terakhir, Nabi Hud menyampaikan kepada kaumnya. Nabi Hud hanya melaksanakan amanah dan menyampaikan kebenaran agama yang harus disembah, jika kemudian mereka mengingkari dakwahnya, niscaya Allah akan mengganti mereka dengan kaum sesudah mereka. Dengan demikian, berarti azab akan datang.

Kemudian terjadilah masa kekeringan yang panjang di muka bumi ini. Langit tidak pernah menurunkan hujan, sedangkan matahari menyengat sangat kuat laksanapercikan-percikan api yang menimpa kepala mereka.

Beberapa dari kaumnya ada yang datang menemui Nabi Hud, “Mengapa terjadi kekeringan ini wahai Hud?”
Dengan sabar Nabi Hud menjelaskan, “Sesungguhnya Allah murka kepada kalian. Jika kalian beriman, maka Allah akan rela mengirimkan nikmatnya dan kembali menurunkan hujan untuk kalian.”

Dari jawaban Nabi Hud, bukannya mereka tobat justru mereka semakin menjadi-jadi menganggap Nabi Hud gila. Semakin mengejek dan semakin menentang. Kekeringan semakin meningkat, pohon-pohon menjadi kuning lalu tanaman-tanaman telah mati.

Lalu satanglah suatu hari di mana awan besar menyelimuti langit. Kaum Nabi Hud bergembira. mereka keluar rumah memandang langit dan meyakini hujan akan turun. Tiba-tiba udara berubah, yang awalnya panas dan kering kerontang menjadi dingin dan sangat dingin. Kemudian angin mulai meniup degan kencang, semua benda bergoyang. Angin seperti itu terjadi terus menerus, pagi siang malam dan berhari-hari. Bahkan, setiap saat semakin dingin.

Mereka mulai berlari. Mencari tenda-tenda dan bersembunyi di dalamnya. Angin semakin bertiup kencang dan menghancurkan tenda-tenda orang kafir tersebut. Angin juga menghancurkan pakaian dan kulit mereka. Setiap angin betiup, ia mengahncurkan dan membunuh apa saja di depannya. Angin bertiup selama tujuh malam dan delapan hari, kemudian angin berhenti atas izin Allah.

“Yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus; maka kamu lihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).” (QS. al-Haqqah: 7).

Tidak ada yang tersisa dari kaum Nabi Hud. Nabi Hud dan orang-orang yang beriman pada Allah, selamat. Sedangkan, orang-orang yang menentang dakwah Nabi Hud binasa dalam badai tujuh malam dan delapan hari itu.