Bulan Ramadhan adalah bulan
termulia; bulan turunnya Al-Qur`an
untuk pertama kali, bulan penuh
ampunan, rahmah serta ridho Allah
Subhanahu wa Ta`ala, bulan yang
penuh dengan momen-momen terkabulnya doa, di bulan ini terdapat
lailatul qadar, yakni suatu malam yang
lebih baik daripada seribu bulan. Bulan Ramadhan merupakan
kesempatan emas bagi umat Islam
untuk memperbanyak pahala dengan
melakukan berbagai macam amal
ibadah. Diantara ibadah yang mendapat
penekanan khusus pada bulan
Ramadhan adalah qiyam Ramadhan.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
bersabda: ﺎًﺑﺎَﺴِﺘْﺣﺍَﻭ ﺎًﻧﺎَﻤﻳِﺇ َﻥﺎَﻀَﻣَﺭ َﻡﺎَﻗ ْﻦَﻣ
ِﻪِﺒْﻧَﺫ ْﻦِﻣ َﻡَّﺪَﻘَﺗ ﺎَﻣ ُﻪَﻟ َﺮِﻔُﻏ “Barangsiapa melaksanakan qiyam
pada (malam) bulan Ramadhan
karena meyakini keutamaannya dan
karena mencari pahala (bukan karena
tujuan pamer atau sesamanya), maka
diampuni dosa-dosanya yang telah lewat”. (Muttafaq `alaih). Qiyam Ramadhan yang dimaksud
pada hadis di atas bisa dilaksanakan
dengan shalat Tarawih atau ibadah
lainnya.(1) Kontroversi Jumlah Rakaat Shalat
Tarawih Perdebatan seputar jumlah rakaat
shalat tarawih bukanlah hal baru
dalam kajian hukum Islam.
Perdebatan itu adalah perdebatan
klasik dan telah ada sejak masa
para ulama salaf. Imam Ishaq bin Manshur pernah bertanya kepada
Imam Ahmad bin Hanbal tentang
jumlah rakaat shalat qiyam
Ramadhan yang beliau kerjakan.
Beliau menjawab: “Ada sekitar
empat puluh pendapat mengenai masalah ini.” Imam al-`Aini
menyebutkan sebelas pendapat
ulama seputar jumlah raka`at
shalat Tarawih.(2) Walaupun terjadi perbedaan semacam
itu, perlu diketahui, shalat Tarawih
boleh untuk dilakukan hanya dua
rakaat saja atau berpuluh-puluh
rakaat.(3) Syekh Ibnu Taimiyah
berkata : “Barangsiapa yang menduga bahwa sesungguhnya qiyam
Ramadhan memiliki bilangan tertentu
yang ditentukan oleh Nabi shallallahu
alihi wa sallam, tidak boleh ditambah
atau dikurangi, maka sungguh dia
telah salah.”(4) Para ulama hanya berbeda pendapat dalam menentukan
jumlah rakaat yang paling utama.(5)
Kebanyakan ulama memilih dua puluh
rakaat.(6) Namun ada juga beberapa
pendapat yang memilih selain dua
puluh, seperti sebelas (delapan rakaat Tarawih dan tiga rakaat Witir) dan
lain-lain.(7) Ibnu Taimiyah
menganggap semuanya baik dan
boleh dikerjakan.(8) Perbedaan ini muncul karena di dalam
hadis-hadis yang shahih, tidak ada
kejelasan berapa rakaat Nabi
shallallahu alaihi wa sallam melakukan
qiyam Ramadhan. Yang jelas Nabi
shallallahu alaihi wa sallam melakukan qiyam Ramadhan yang kemudian
dikenal dengan shalat Tarawih itu
selama dua atau tiga malam saja
dengan berjamaah di masjid. Malam
ketiga atau keempat, beliau ditunggu-
tunggu, tetapi beliau tidak keluar. Sejak saat itu, sampai beliau wafat
bahkan sampai pada awal masa
Khalifah Umar bin Khattab
radhiyallahu `anhu, tidak ada yang
melakukan shalat Tarawih secara
berjamaah dengan satu imam di masjid.(9) Dalil Tarawih 20 Rakaat Mayoritas ulama berpendapat bahwa
bilangan rakaat shalat Tarawih yang
paling afdhal adalah dua puluh rakaat. Berikut ini adalah dalil-dalil yang di
jadikan pijakan untuk mendukung
pendapat tersebut. 1. Hadis mauquf. ﺮﻴﺑﺰﻟﺍ ﻦﺑ ﺓﻭﺮﻋ ﻦﻋ ﺏﺎﻬﺷ ﻦﺑﺍ ﻦﻋﻭ ﻱﺭﺎﻘﻟﺍ ﺪﺒﻋ ﻦﺑ ﻦﻤﺣﺮﻟﺍ ﺪﺒﻋ ﻦﻋ ، ُﻪَّﻧَﺃ َﻝﺎَﻗ : ِﺏﺎَّﻄَﺨْﻟﺍ ِﻦْﺑ َﺮَﻤُﻋ َﻊَﻣ ﺖْﺟَﺮَﺧ ِﺪِﺠْﺴَﻤْﻟﺍ ﻰَﻟﺇ َﻥﺎَﻀَﻣَﺭ ﻲِﻓ ًﺔَﻠْﻴَﻟ ، ﺍَﺫِﺈَﻓ َﻥﻮُﻗِّﺮَﻔَﺘُﻣ ٌﻉﺍَﺯْﻭَﺃ ُﺱﺎَّﻨﻟﺍ ، ﻲِّﻠَﺼُﻳ ِﻪِﺴْﻔَﻨِﻟ ُﻞُﺟَّﺮﻟﺍ ، ُﻞُﺟَّﺮﻟﺍ ﻲِّﻠَﺼُﻳَﻭ ُﻂْﻫَّﺮﻟﺍ ِﻪِﺗﺎَﻠَﺼِﺑ ﻲِّﻠَﺼُﻴَﻓ . ُﺮَﻤُﻋ َﻝﺎَﻘَﻓ :
ﻰَﻠَﻋ ِﺀﺎَﻟُﺆَﻫ ُﺖْﻌَﻤَﺟ ْﻮَﻟ ﻯَﺭَﺃ ﻲِّﻧﺇ َﻞَﺜْﻣَﺃ َﻥﺎَﻜَﻟ ٍﺪِﺣﺍَﻭ ٍﺉِﺭﺎَﻗ ، َﻡَﺰَﻋ َّﻢُﺛ ٍﺐْﻌَﻛ ِﻦْﺑ ِّﻲَﺑُﺃ ﻰَﻠَﻋ ْﻢُﻬَﻌَﻤَﺠَﻓ . َّﻢُﺛ
ُﺱﺎَّﻨﻟﺍَﻭ ﻯَﺮْﺧُﺃ ًﺔَﻠْﻴَﻟ ُﻪَﻌَﻣ ﺖْﺟَﺮَﺧ ْﻢِﻬِﺋِﺭﺎَﻗ ِﺓﺎَﻠَﺼِﺑ َﻥﻮُّﻠَﺼُﻳ . ُﺮَﻤُﻋ َﻝﺎَﻗ :
ِﻩِﺬَﻫ ُﺔَﻋْﺪِﺒْﻟﺍ َﻢْﻌِﻧ… “Diriwayatkan dari Ibnu Syihab, dari
`Urwah bin al-Zubair, dari Abd.
Rahman bin Abd. al-Qari, ia berkata:
“Pada suatu malam di bulan
Ramadhan, saya keluar ke masjid
bersama Umar bin al-Khatthab. Kami mendapati masyarakat terbagi
menjadi beberapa kelompok yang
terpisah-pisah. Sebagian orang ada
yang shalat sendirian. Sebagian yang
lain melakukan shalat berjamaah
dengan beberapa orang saja. Kemudian Umar berkata: “Menurutku
akan lebih baik jika aku kumpulkan
mereka pada satu imam.” Lalu Umar
berketetapan dan mengumpulkan
mereka pada Ubay bin Ka`ab. Pada
kesempatan malam yang lain, aku (Rahman bin Abd. al-Qari) keluar lagi
bersama Umar. (dan aku
menyaksikan) masyarakat melakukan
shalat secara berjamaah mengikuti
imamnya. Umar berkata: “Ini adalah
sebaik-baik bid`ah…” (HR. Bukhari). Di dalam hadis yang lain disebutkan,
bilangan rakaat shalat Tarawih yang
dilaksanakan pada masa Khalifah
Umar bin al-Khatthab adalah dua
puluh. ُﻪْﻨَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻲِﺿَﺭ َﺪﻳِﺰَﻳ ِﻦْﺑ ِﺐِﺋﺎَّﺴﻟﺍ ْﻦَﻋ ، َﻝﺎَﻗ ) : َﺮَﻤُﻋ ِﺪْﻬَﻋ ﻰَﻠَﻋ َﻥﻮُﻣﻮُﻘَﻳ ﺍﻮُﻧﺎَﻛ
ِﺮْﻬَﺷ ﻲِﻓ ُﻪْﻨَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻲِﺿَﺭ ِﺏﺎَّﻄَﺨْﻟﺍ ِﻦْﺑ
ًﺔَﻌْﻛَﺭ َﻦﻳِﺮْﺸِﻌِﺑ َﻥﺎَﻀَﻣَﺭ . “Diriwayatkan dari al-Sa`ib bin Yazid
radhiyallahu `anhu. Dia berkata :
“Mereka (para shahabat) melakukan
qiyam Ramadhan pada masa Umar bin
al-Khatthab sebanyak dua puluh
rakaat.” Hadis kedua ini diriwayatkan oleh
Imal al-Baihaqi di dalam al-Sunan al-
Kubro, I/496. dengan sanad yang
shahih sebagaimana dinyatakan oleh
Imam al-`Aini, Imam al-Qasthallani,
Imam al-Iraqi, Imam al-Nawawi, Imam al-Subki, Imam al-Zaila`i, Imam Ali al-
Qari, Imam al-Kamal bin al-Hammam
dan lain-lain.(10) Menurut disiplin ilmu hadis, hadis ini di
sebut hadis mauquf (Hadis yang mata
rantainya berhenti pada shahabat dan
tidak bersambung pada Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam).
Walaupun mauquf, hadis ini dapat dijadikan sebagai hujjah dalam
pengambilan hukum (lahu hukmu al-
marfu`). Karena masalah shalat
Tarawih termasuk jumlah rakaatnya
bukanlah masalah ijtihadiyah (laa
majala fihi li al-ijtihad), bukan pula masalah yang bersumber dari
pendapat seseorang (laa yuqolu min
qibal al-ra`yi).(11) 2. Ijma` para shahabat Nabi. Ketika Sayyidina Ubay bin Ka`ab
mengimami shalat Tarawih sebanyak
dua puluh rakaat, tidak ada satupun
shahabat yang protes, ingkar atau
menganggap bertentangan dengan
sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Apabila yang beliau lakukan
itu menyalahi sunnah Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam, mengapa
para shahabat semuanya diam? Ini
menunjukkan bahwa mereka setuju
dengan apa yang dilakukan oleh Sayyidina Ubay bin Ka`ab. Anggapan
bahwa mereka takut terhadap
Sayyidina Umar bin al-Khatthab adalah
pelecehan yang sangat keji terhadap
para shahabat. Para shahabat Nabi
shallallahu alaihi wa sallam adalah orang-orang yang terkenal
pemberani dan tak kenal takut
melawan kebatilan, orang-orang yang
laa yakhofuna fi Allah laumata laa`im.
Bagaimana mungkin para shahabat
sekaliber Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Sayyidina Utsman bin Affan, Sayyidina
Abu Hurairah, Sayyidah A`isyah dan
seabrek shahabat senior lainnya
(radhiyallahu `anhum ajma`in) kalah
berani dengan seorang wanita yang
berani memprotes keras kebijakan Sayyidina Umar bin al-Khatthab yang
dianggap bertentangan dengan Al-
Qur`an ketika beliau hendak
membatasi besarnya mahar?(12) Konsensus (ijma`) para shahabat ini
kemudian diikuti oleh para tabi`in dan
generasi setelahnya. Di masjid al-
Haram Makkah, semenjak masa
Khalifah Umar bin al-Khatthab
radhiyallahu `anhu hingga saat ini, shalat Tarawih selalu dilakukan
sebanyak dua puluh rakaat. KH.
Ahmad Dahlan, pendiri Perserikatan
Muhammadiyah juga melakukan
shalat Tarawih sebanyak dua puluh
rakaat, sebagaimana informasi dari salah seorang anggota Lajnah Tarjih
Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang
sekaligus pembantu Rektor
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr.
HAMKA. Para ulama salaf tidak ada
yang menentang hal ini. Mereka hanya berbeda pendapat mengenai
kebolehan melakukan shalat Tarawih
melebihi dua puluh rakaat.(13) Imam Ibnu Taimiyah yang di agung-
agungkan oleh kelompok
pendukung Tarawih delapan rakaat,
dalam kumpulan fatwanya
mengatakan: “Sesungguhnya telah tsabit (terbukti)
bahwa Ubay bin Ka`ab mengimami
shalat pada bulan Ramadhan dua
puluh rakaat dan Witir tiga rakaat.
Maka banyak ulama berpendapat
bahwa hal itu adalah sunnah, karena Ubay bin Ka`ab melakukannya di
hadapan para shahabat Muhajirin dan
Anshar dan tidak ada satupun di
antara mereka yang
mengingkari…”(14) Di samping kedua dalil yang sangat
kuat di atas, ada beberapa dalil lain
yang sering digunakan oleh para
pendukung Tarawih dua puluh
rakaat. Namun, menurut hemat
penulis, tidak perlu mencantumkan semua dalil-dalil tersebut. Karena di
samping dha`if, kedua dalil di atas
sudah lebih dari cukup. Dalil Tarawih 8 Rakaat Sebagian ulama ada yang
berpendapat shalat Tarawih delapan
rakaat lebih afdhal. Bahkan ada yang
ekstrim, yaitu sebagian umat Islam
yang berkeyakinan shalat Tarawih
tidak boleh melebihi delapan rakaat. Syekh Muhammad Nashir al-Din al-
Albani berpendapat bahwa shalat
Tarawih lebih dari sebelas rakaat itu
sama saja dengan shalat Zhuhur lima
rakaat.(15) Berikut ini adalah beberapa dalil yang
biasa mereka gunakan untuk
membenarkan pendapatnya sekaligus
sanggahannya. 1. Hadis Ubay bin Ka`ab : ﻰﻨﺜﻤﻟﺍ ﻦﺑ ﻲﻠﻋ ﻦﺑ ﺪﻤﺣﺃ ﺎﻧﺮﺒﺧﺃ ، ﻝﺎﻗ : ﺩﺎﻤﺣ ﻦﺑ ﻰﻠﻋﻷﺍ ﺪﺒﻋ ﺎﻨﺛﺪﺣ ، ﻝﺎﻗ : ﻲﻤﻘﻟﺍ ﺏﻮﻘﻌﻳ ﺎﻨﺛﺪﺣ ، ﻝﺎﻗ : ﺔﻳﺭﺎﺟ ﻦﺑ ﻰﺴﻴﻋ ﺎﻨﺛﺪﺣ ، ﺮﺑﺎﺟ ﺎﻨﺛﺪﺣ ﻪﻠﻟﺍ ﺪﺒﻋ ﻦﺑ ، ﻝﺎﻗ : ﺐﻌﻛ ﻦﺑ ﻲﺑﺃ ﺀﺎﺟ
ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻲﺒﻨﻟﺍ ﻰﻟﺇ ﻝﺎﻘﻓ : ﻪﻠﻟﺍ ﻝﻮﺳﺭ ﺎﻳ ، ﻲﻨﻣ ﻥﺎﻛ ﻪﻧﺇ ﺀﻲﺷ ﺔﻠﻴﻠﻟﺍ – ﻥﺎﻀﻣﺭ ﻲﻓ ﻲﻨﻌﻳ – ﻝﺎﻗ : ﻲﺑﺃ ﺎﻳ ﻙﺍﺫ ﺎﻣﻭ ؟ ﻝﺎﻗ : ﺓﻮﺴﻧ ﻦﻠﻗ ﻱﺭﺍﺩ ﻲﻓ : ﻥﺁﺮﻘﻟﺍ ﺃﺮﻘﻧ ﻻ ﺎﻧﺇ ، ﻚﺗﻼﺼﺑ ﻲﻠﺼﻨﻓ ، ﻝﺎﻗ : ﻦﻬﺑ ﺖﻴﻠﺼﻓ ﺕﺎﻌﻛﺭ ﻲﻧﺎﻤﺛ ، ﺕﺮﺗﻭﺃ ﻢﺛ ، ﻝﺎﻗ : ﺎﺿﺮﻟﺍ ﻪﺒﺷ ﻥﺎﻜﻓ ، ﺎﺌﻴﺷ ﻞﻘﻳ ﻢﻟﻭ . Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata :
“Ubay bin Ka`ab datang menghadap
Nabi shallallahu alaihi wa sallam lalu
berkata : “Wahai Rasulullah tadi malam
ada sesuatu yang saya lakukan,
maksudnya pada bulan Ramadhan.” Nabi shallallahu alaihi wa sallam
kemudian bertanya: “Apakah itu,
wahai Ubay?” Ubay menjawab :
“Orang-orang wanita di rumah saya
mengatakan, mereka tidak dapat
membaca Al-Qur`an. Mereka minta saya untuk mengimami shalat mereka.
Maka saya shalat bersama mereka
delapan rakaat, kemudian saya shalat
Witir.” Jabir kemudian berkata : “Maka
hal itu sepertinya diridhai Nabi
shallallahu alaihi wa sallam dan beliau tidak berkata apa-apa.” (HR. Ibnu
Hibban). Hadis ini kualitasnya lemah sekali.
Karena di dalam sanadnya terdapat
rawi yang bernama Isa bin Jariyah.
Menurut Imam Ibnu Ma`in dan Imam
Nasa`i, Isa bin Jariyah adalah sangat
lemah hadisnya. Bahkan Imam Nasa`i pernah mengatakan bahwa Isa bin
Jariyah adalah matruk (hadisnya semi
palsu karena ia pendusta). Di dalam
hadis ini juga terdapat rawi bernama
Ya`qub al-Qummi. Menurut Imam al-
Daruquthni, Ya`qub al-Qummi adalah lemah (laisa bi al-qawi).(16) 2. Hadis Jabir : ﻲﺤﻠﻄﻟﺍ ﻪﻠﻟﺍ ﺪﻴﺒﻋ ﻦﺑ ﻥﺎﻤﺜﻋ ﺎﻨﺛﺪﺣ
ﺎﻧ ﻝﺎﻗ ﺪﻴﻤﺣ ﻦﺑ ﺮﻔﻌﺟ ﺎﻧ ﻝﺎﻗ
ﺔﻳﺭﺎﺟ ﻦﺑ ﻰﺴﻴﻋ ﻦﻋ ﻲﻤﻘﻟﺍ ﺏﻮﻘﻌﻳ
ﻪﻠﻟﺍ ﻝﻮﺳﺭ ﺎﻨﺑ ﻰﻠﺻ ﻝﺎﻗ ﺮﺑﺎﺟ ﻦﻋ
ﺮﻬﺷ ﻲﻓ ﻢﻠﺳ ﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ
ﺮﺗﻭﺃﻭ ﺕﺎﻌﻛﺭ ﻲﻧﺎﻤﺛ ﻥﺎﻀﻣﺭ . Dari Jabir, ia berkata : “Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam pernah
mengimami kami shalat pada bulan
Ramadhan delapan rakaat dan Witir.”
(HR. Thabarani).(17) Hadis ini kualitasnya sama dengan
Hadis Ubay bin Ka`ab di atas, yaitu
lemah bahkan matruk (semi palsu).
karena di dalam sanadnya terdapat
rawi yang sama, yaitu Isa bin Jariyah
dan Ya`qub al-Qummi.(18) 3. Hadis Sayyidah A`isyah tentang
shalat Witir : ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﻝﻮُﺳَﺭ َﻥﺎَﻛ ﺎَﻣ
ﻲِﻓ ﺎَﻟَﻭ َﻥﺎَﻀَﻣَﺭ ﻲِﻓ ُﺪﻳِﺰَﻳ َﻢَّﻠَﺳَﻭ
ًﺔَﻌْﻛَﺭ َﺓَﺮْﺸَﻋ ﻯَﺪْﺣِﺇ ﻰَﻠَﻋ ِﻩِﺮْﻴَﻏ “Rasulullah shallallahu `alaihi wa
sallam tidak pernah menambahi, baik
pada bulan Ramadhan maupun selain
bulan Ramadhan, dari sebelas rakaat.”
(Muttafaq `alaih). Menurut kelompok pendukung
Tarawih delapan rakaat, sebelas
rakaat yang di maksud pada hadis ini
adalah delapan rakaat Tarawih dan
tiga rakaat Witir. Dari segi sanad, hadis ini tidak
diragukan lagi keshahihannya.
Karena di riwayatkan oleh Imam al-
Bukhari, Imam Muslim dan lain-lain
(muttafaq `alaih). Hanya saja,
penggunaan hadis ini sebagai dalil shalat Tarawih perlu di kritisi dan di
koreksi ulang. Berikut ini adalah beberapa kritikan
dan sanggahan yang perlu
diperhatikan oleh para pendukung
Tarawih delapan rakaat : 1. Pemotongan hadis. Kawan-kawan yang sering
menjadikan hadis ini sebagai dalil
shalat Tarawih, biasanya tidak
membacanya secara utuh, akan tetapi
mengambil potongannya saja
sebagaimana disebutkan di atas. Bunyi hadis ini secara sempurna
adalah sebagai berikut : ُﻪَّﻧَﺃ ِﻦَﻤْﺣَّﺮﻟﺍ ِﺪْﺒَﻋ ِﻦْﺑ َﺔَﻤَﻠَﺳ ﻲِﺑَﺃ ْﻦَﻋ َﺔَﺸِﺋﺎَﻋ َﻝَﺄَﺳ ُﻪَّﻧَﺃ ﻩﺮﺒﺧﺃ – ﻪﻠﻟﺍ ﻲﺿﺭ ﺎﻬﻨﻋ : - ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﻝﻮُﺳَﺭ ُﺓﺎَﻠَﺻ ْﺖَﻧﺎَﻛ َﻒْﻴَﻛ - َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ - َﻥﺎَﻀَﻣَﺭ ﻲِﻓ ؟ ْﺖَﻟﺎَﻗ : ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﻝﻮُﺳَﺭ َﻥﺎَﻛ ﺎَﻣ
ﻲِﻓ ﺎَﻟَﻭ َﻥﺎَﻀَﻣَﺭ ﻲِﻓ ُﺪﻳِﺰَﻳ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ًﺔَﻌْﻛَﺭ َﺓَﺮْﺸَﻋ ﻯَﺪْﺣِﺇ ﻰَﻠَﻋ ِﻩِﺮْﻴَﻏ ،
َّﻦِﻬِﻨْﺴُﺣ ْﻦَﻋ ْﻝَﺄْﺴَﺗ ﺎَﻠَﻓ ﺎًﻌَﺑْﺭَﺃ ﻲِّﻠَﺼُﻳ َّﻦِﻬِﻟﻮُﻃَﻭ ، ْﻝَﺄْﺴَﺗ ﺎَﻠَﻓ ﺎًﻌَﺑْﺭَﺃ ﻲِّﻠَﺼُﻳ َّﻢُﺛ َّﻦِﻬِﻟﻮُﻃَﻭ َّﻦِﻬِﻨْﺴُﺣ ْﻦَﻋ ، ﻲِّﻠَﺼُﻳ َّﻢُﺛ ﺎًﺛﺎَﻠَﺛ ، ُﺔَﺸِﺋﺎَﻋ ْﺖَﻟﺎَﻗ : ُﺖْﻠُﻘَﻓ : ﺎَﻳ ِﻪَّﻠﻟﺍ َﻝﻮُﺳَﺭ ، َﺮِﺗﻮُﺗ ْﻥَﺃ َﻞْﺒَﻗ ُﻡﺎَﻨَﺗَﺃ ؟ َﻝﺎَﻘَﻓ : ُﺔَﺸِﺋﺎَﻋ ﺎَﻳ ، ِﻥﺎَﻣﺎَﻨَﺗ َّﻲَﻨْﻴَﻋ َّﻥِﺇ
ﻲِﺒْﻠَﻗ ُﻡﺎَﻨَﻳ ﺎَﻟَﻭ . dari Abi Salamah bin Abd al-Rahman,
ia pernah bertanya kepada Sayyidah
A`isyah radhiyallahu `anha perihal
shalat yang dilakukan oleh Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam pada bulan
Ramadhan. A`isyah menjawab : “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
tidak pernah menambahi, baik pada
bulan Ramadhan maupun selain bulan
Ramadhan, dari sebelas rakaat. Beliau
shalat empat rakaat, dan jangan kamu
tanyakan baik dan panjangnya. Kemudian beliau shalat empat rakaat,
dan jangan kamu tanyakan baik dan
panjangnya. Kemudian beliau shalat
tiga rakaat. A`isyah kemudian
berkata : “Saya berkata, wahai
Rasulullah, apakah anda tidur sebelum shalat Witir?” Beliau
menjawab : “Wahai A`isyah,
sesungguhnya kedua mataku tidur,
akan tetapi hatiku tidak tidur.” Pemotongan hadis boleh-boleh saja
dilakukan, dengan syarat, orang yang
memotong adalah orang alim dan
bagian yang tidak disebutkan tidak
berkaitan dengan bagian yang
disebutkan. Dalam arti, pemotongan tersebut tidak boleh menimbulkan
kerancuan pemahaman dan
kesimpulan yang berbeda.(19)
Pemotongan pada hadis di atas,
berpotensi menimbulkan kesimpulan
berbeda, karena jika di baca secara utuh, konteks hadis ini sangat jelas
berbicara tentang shalat Witir, bukan
shalat Tarawih, karena pada akhir
hadis ini, A`isyah menanyakan shalat
Witir kepada Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam.(20) 2. Kesalahan dalam memahami
maksud hadis. Dalam hadis di atas, Sayyidah A`isyah
dengan tegas menyatakan bahwa
Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak
pernah melakukan shalat melebihi
sebelas rakaat baik pada bulan
Ramadhan maupun pada bulan-bulan yang lain. Shalat yang dilakukan
sepanjang tahun, baik pada bulan
Ramadhan maupun bulan lainnya,
tentu bukanlah shalat Tarawih. Karena
shalat Tarawih hanya ada pada bulan
Ramadhan. Oleh karena itu para ulama berpendapat bahwa hadis ini
bukanlah dalil shalat Tarawih. Akan
tetapi dalil shalat Witir. Kesimpulan ini diperkuat oleh hadis
lain yang juga diriwayatkan oleh
Sayyidah A`isyah radhiyallahu `anha. ﺔﺸﺋﺎﻋ ﻦﻋ – ﺎﻬﻨﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻲﺿﺭ : – ﺖﻟﺎﻗ » : ُّﻲﺒﻨﻟﺍ ﻥﺎﻛ - ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻢﻠﺳﻭ - َﺓَﺮْﺸَﻋ َﺙﻼﺛ ﻞﻴﻠﻟﺍ ﻦﻣ ﻲِّﻠﺼُﻳ ﺔﻌﻛﺭ ، ﺮﺠﻔﻟﺍ ﺎﺘﻌﻛﺭﻭ ُﺮْﺗﻮﻟﺍ ﺎﻬﻨﻣ ». Dari A`isyah radhiyallahu
`anha, ia berkata : “Nabi
shallallahu alaihi wa sallam
shalat malam tiga belas
rakaat, antara lain shalat
Witir dan dua rakaat Fajar.” (HR. Bukhari).(21) 3. Pemenggalan Hadis. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya,
kawan-kawan pendukung Tarawih
delapan rakaat mengatakan bahwa
maksud dari pada sebelas rakaat pada
hadis di atas adalah delapan rakaat
Tarawih dan tiga rakaat Witir. Hal ini tidak tepat. Karena ini berarti satu
hadis yang merupakan dalil untuk
satu paket shalat dipenggal menjadi
dua, delapan rakaat Tarawih dan tiga
rakaat Witir.(22) Di sisi lain, jika kita menyetujui
pemenggalan ini, maka kita harus
menyetujui bahwa selama bulan
Ramadhan Nabi shallallahu alaihi wa
sallam hanya melakukan shalat Witir
tiga rakaat saja. Ini tidak pantas bagi beliau yang merupakan tauladan bagi
umat dalam hal ibadah. Imam al-
Tirmidzi mengatakan : “Diriwayatkan
dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam
shalat Witir 13, 11, 9, 7, 5, 3 dan 1
rakaat.”(23) Apabila di selain bulan Ramadhan saja beliau melakukan
shalat Witir sebanyak 13 atau 11
rakaat, pantaskah beliau hanya
melakukan shalat Witir hanya tiga
rakaat saja pada bulan Ramadhan
yang merupakan bulan ibadah? 4. Inkonsisten dalam mengamalkan
hadis. Dalam hadis di atas secara jelas
dinyatakan bahwa Nabi shallallahu
alaihi wa sallam tidak pernah
melakukan shalat melebihi sebelas
rakaat baik pada bulan Ramadhan
maupun pada bulan-bulan yang lain. Kalau mau konsisten, kawan-kawan
yang memahami bahwa sebelas
rakaat pada hadis di atas maksudnya
adalah delapan rakaat Tarawih dan
tiga rakaat Witir, seharusnya mereka
melakukan shalat Tarawih dan Witir sepanjang tahun, dan bukan pada
bulan Ramadhan saja. Tetapi
kenyataannya tidak demikian. Entah
dasar apa yang mereka pakai untuk
memenggal hadis tersebut pada bulan
Ramadhan saja. 5. Kontradiksi dengan pemahaman
para shahabat Nabi. Pemenggalan hadis seperti itu juga
bertentangan dengan konsensus
(ijma`) para shahabat radhiyallahu
`anhum termasuk diantaranya
Khulafa` al-Rasyidin yang melakukan
shalat Tarawih dua puluh rakaat. Hal itu berarti juga bertentangan dengan
tuntunan Nabi Muhammad shallallahu
alaihi wa sallam. Karena Nabi
shallallahu alaihi wa sallam
memerintahkan kita untuk mengikuti
jejak para Khulafa` al-Rasyidin. Dalam sebuah hadis disebutkan : ِﺀﺎَﻔَﻠُﺨْﻟﺍ ِﺔَّﻨُﺳَﻭ ﻲِﺘَّﻨُﺴِﺑ ْﻢُﻜْﻴَﻠَﻋ
ﻱِﺪْﻌَﺑ ْﻦِﻣ َﻦﻳِﺪِﺷﺍَّﺮﻟﺍ
“Ikutilah sunnahku dan
sunnah al-Khulafa` al-
Rasyidin setelahku!” (HR.
Ahmad, Abu Dawud, al- Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu
Hibban dan al-Hakim).(24) Dalam hadis yang lain disebutkan : ٍﺮْﻜَﺑ ﻰِﺑَﺃ ﻯِﺪْﻌَﺑ ْﻦِﻣ ِﻦْﻳَﺬَّﻠﻟﺎِﺑ ﺍﻭُﺪَﺘْﻗﺍ
َﺮَﻤُﻋَﻭ “Ikutilah orang-orang setelahku, yaitu
Abu Bakar dan Umar!” (HR. Ahmad, al-
Tirmidzi, Ibnu Majah dan lain-lain).(25) Dalam hadis yang lain juga
disebutkan : ﺮﻤﻋ ﻥﺎﺴﻟ ﻰﻠﻋ ﻖﺤﻟﺍ ﻞﻌﺟ ﻪﻠﻟﺍ ﻥﺇ
ﻪﺒﻠﻗﻭ “Sesungguhnya Allah menjadikan
kebenaran pada lisan dan hati Umar.”
(HR. Ahmad, Abu Dawud, al-Hakim, al-
Tirmidzi dan lain-lain).(26) 6. Kerancuan linguistik. Kata tarawih dalam bahasa Arab
adalah bentuk jamak dari kata
tarwihah, yang secara kebahasaan
berarti mengistirahatkan atau istirahat
sekali. Jika di jamakkan, maka akan
berarti istirahat beberapa kali, minimal tiga kali. Karena minimal jamak dalam
bahasa Arab adalah tiga. Shalat qiyam
Ramadhan disebut dengan shalat
Tarawih, karena orang-orang yang
melakukannya beristirahat tiap
sehabis empat rakaat.(27)[i] Maka Dari sudut bahasa, shalat Tarawih adalah
shalat yang banyak istirahatnya,
minimal tiga kali. Hal ini pada
gilirannya menunjukkan bahwa
rakaat shalat Tarawih lebih dari
delapan, minimal enam belas. Karena jika seandainya shalat Tarawih hanya
delapan rakaat, maka istirahatnya
hanya sekali. Tentu hal ini sangatlah
rancu ditinjau dari segi kebahasaan.
(28) Kesimpulan Dari uraian di atas, jelas sekali bahwa
shalat Tarawih dua puluh rakaat lebih
afdhal dibanding delapan rakaat.
Dengan dalil ijma` shahabat di dukung
hadis mauquf berkualitas shahih yang
diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi di dalam al-Sunan al-Kubro. Sementara
tidak ada dalil shahih yang
mendukung keutamaan shalat
Tarawih delapan rakaat atas shalat
Tarawih dua puluh rakaat. Yang ada
hanyalah dalil-dalil dha`if, bahkan matruk (semi palsu) atau dalil shahih
yang di salah-pahami. Namun perlu di ingat, sebagaimana
dijelaskan sebelumnya, perbedaan ini
hanyalah berkisar seputar mana yang
lebih afdhal? Jadi, tidak selayaknya
kelompok yang lebih memilih
melaksanakan shalat Tarawih dua puluh rakaat melecehkan atau
menyesatkan kelompok yang memilih
melakukannya delapan rakaat. Begitu
pula sebaliknya. Apalagi sampai saling
mengkafirkan. Sungguh sangat
disesalkan, di bulan Ramadhan yang agung, bulan untuk berlomba-lomba
mencari pahala, berkah, rahmah dan
ampunan dari Allah Subhanahu wa
Ta`ala, justru dikotori dengan saling
hina, saling menyalahkan bahkan
saling mengkufurkan antara kelompok masyarakat yang lebih
memilih shalat Tarawih sebanyak dua
puluh rakaat dengan kelompok
masyarakat yang memilih delapan
rakaat saja. Apakah kiranya yang
mendorong kedua kelompok ini untuk tidak pernah berhenti bertikai?
Manakah yang lebih berharga bagi
mereka antara persatuan sesama
Muslim dibanding sikap arogan, egois,
fanatik serta pembelaan mati-matian
terhadap madzhab yang mereka anut? Mengapa toleransi antar umat
beragama yang berbeda lebih mereka
perjuangkan daripada persatuan
saudara seagama? Apakah umat non
Muslim lebih layak untuk dihormati
dan diayomi dibanding saudara sendiri sesama Muslim? Sebenarnya kalau mau introspeksi,
ada hal yang jauh lebih penting yang
harus mereka perhatikan daripada
mengurusi jumlah rakaat shalat
Tarawih orang lain. Yaitu kebiasaan
berlomba-lomba untuk terburu-buru dalam melaksanakan shalat Tarawih
serta berbangga diri ketika shalat
Tarawihnya selesai terlebih dahulu.
Tidak jarang karena terlalu cepatnya
shalat Tarawih yang mereka lakukan,
mengakibatkan sebagian kewajiban tidak dilaksanakan. Seperti
melaksanakan ruku`, i`tidal dan sujud
tanpa thuma`ninah atau membaca al-
Fatihah dengan sangat cepat sehingga
menggugurkan salah satu hurufnya
atau menggabungkan dua huruf menjadi satu. Dengan begitu, shalat
yang mereka laksanakan menjadi
tidak sah, sehingga mereka tidak
mendapatkan apa-apa darinya kecuali
rasa capek (tuas kesel : Jawa).
Ironisnya mereka tidak mengerti akan hal itu bahkan membanggakannya,
sehingga mereka tidak pernah
mengakui kesalahannya.(29) Dari itu, waspadalah dan sadarlah
wahai saudara-saudaraku..! Marilah
kita bersatu dan saling mengingatkan
antara satu sama lain bi al-hikmah wa
al-mau`idzah al-hasanah. Marilah kita
laksanakan shalat Tarawih dan shalat- shalat lainnya dengan benar. Marilah
kita laksanakan shalat dengan
khusyu`, khudhur, memenuhi segala
syarat dan rukun serta penuh adab.
Jangan biarkan syetan menguasai
kita..! karena sesungguhnya syetan tidak dapat menguasai orang-orang
yang beriman dan bertawakkal
kepada Tuhannya. Syetan hanya
dapat menguasai orang-orang yang
mengasihinya dan orang-orang yang
musyrik. Maka janganlah kita termasuk diantara mereka. WA ALLAH A`LAM BI AL-SHAWAB.
“Bekerjalah kamu, maka Allah dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS at-Taubah /9: 105).
Thursday, 18 August 2011
KITAB TALMUD – AYAT-AYAT SETANPEGANGAN UMAT YAHUDI MASAKINI…
"Freemason, Zionis, dan Talmud" Tulisan ini dibuat semata-mata untuk
memperkaya pengetahuan ita tentang
apa yang terjadi didunia ini, dan siapa
mereka (Yahudi Zionis) dn apa yang
mereka anut selama ini, Siapa mereka,
asal-usul serta tujuan mereka, semoga sedikit ulasan singkat ini bisa
membuka mata hati kita tentang apa
yang terjadi pada dunia saat ini...
mudah-mudahan sedikit suguhan ini
bisa mempertebal Iman kita.
Ajaran2 dari Illuminati intinya didasarkan pada ajaran Kaballah dari
Mesir kuno yang berbasis pada
‘Mistisme’. Memanggil mahluk halus,
bekerja sama dengan mereka,
memiliki teknologi canggih berkat
bantuan mahluk halus bukan hal baru bagi mereka.
Mereka tidak harus selalu menguasai
jabatan negara secara formal, tetapi
mereka mampu “mencuci
otak” (brainwashed) para pengambil
keputusannya agar melaksanakan rencana-rencana mereka.
Di suatu negara, presidennya dapat
saja orang yang non Yahudi (goyim),
tetapi jiwa pemerintahan, struktur
budaya, serta perekonomiannya
harus tunduk dan diperbudak oleh sistem Iluminasi Yahudi. Untuk itu,
mereka harus menguasai Perserikatan
Bangsa-bangsa (PBB) dengan cara
melakukan berbagai lobi tingkat
tinggi.
Iluminasi telah menetapkan tujuh prinsip utamanya, yaitu sebagai
berikut: 1. Menghapuskan seluruh
pemerintahan yang berorientasi
kepada nasionalisme (aboliton of
all national government)
2. Menghapuskan seluruh agama
kecuali ajaran setan (abolition of all religions except satanism)
3. Menghapuskan nilai-nilai
kehidupan keluarga –individu
harus tunduk
4. Menghapuskan hak pemilikan
pribadi (abolition of private property)
5. Menghapuskan nilai pajak yang
tinggi (abolition of inheritance by
high inheritance taxes)
6. Menghapuskan-jiwa patriot
(abolition of patriotism) 7. Menciptakan pemerintahan
dunia dengan memperalat
Perserikatan Bangsa-bangsa yang
telah dikuasai kaum Iluminasi
(Creation of the world government
under the United Nations by Illuminati)
Manusialah yang menentukan
segalanya di bawah bimbingan
kekuasaan setan Lucifer. (lihat lebih lanjut di:
http://
kabarnet.wordpress.com/2010/09/23/
illuminati-organisasi-rahasia-yahudi-
qabala/
http:// atik085641095564.wordpress.com/2010/07/13/
illuminati-freemasonry-dan-novus-
ordo-seclorum/) Kabbalah atau Qibil dalam bahasa
Ibrani awalnya adalah istilah yang
netral, yang secara harfiah memiliki
arti sebagai ‘lisan’. Namun
belakangan, ketika kaum Yahudi
menggunakan istilah ini untuk menyembunyikan dan memelihara
kepercayaan mistis-esoteris kelompok
mereka, maka istilah ini menjadi
sangat politis. Encarta Encyclopedia
(2005) menuliskan bahwa istilah
Kabbalah berasal dari bahasa Ibrani yang memiliki pengertian luas sebagai
ilmu kebatinan Yahudi atau Judaism
dalam bentuk dan rupa yang amat
beragam dan hanya dimengerti oleh
sedikit orang. Zionisme adalah akidah dan metode
kerja Yahudi yang berasal dari Kitab
Perjanjian Lama secara ringkas.
Akidah ini secara rinci dapat Anda
temukan dalam Talmud: ajaran yang
paling rasis juga diskriminatif; sebuah kitab paling berbahaya yang pernah
ada di muka bumi. Louis Daste di dalam bukunya ‘Yahudi dan
Organisasi Rahasia’ mengatakan;
Dalam setiap perubahan pemikiran
besar terdapat pengaruh Yahudi
baik yang nampak ataupun
rahasia. Sepanjang sejarah dunia, Yahudi memasukkan ribuan racun
berbahaya. Al-Quran sering menggunakan
sebutan Ahlul Kitab untuk kaum
Yahudi, dan yang dimaksud Ahlul
Kitab juga termasuk orang-orang
Nasrani, jadi Ahlul Kitab adalah
sebutan untuk orang-orang Yahudi dan Nasrani. Di antara beberapa surat
dalam Al-Quran yang banyak
menjelaskan tentang hal-hal yang
berkaitan dengan kaum Yahudi
adalah QS. Al Baqarah, Ali ‘Imran, Al
Maidah, At-Taubah. “Sesungguhnya kamu dapati orang-
orang yang paling keras
permusuhannya terhadap orang-
orang yang beriman ialah orang-
orang Yahudi dan orang-orang
musyrik”. (QS.Al Ma'idah: 82) Dalam buku “An Interview of Illan
Pappe, ” Baudoin Loos menyebutkan
seorang sejarawan Yahudi Illan Pappe
yang menyandang julukan “Orang
Israel yang paling dibenci di Israel”.
Pappe adalah salah satu Yahudi yang memilih memihak pada hati nurani
dan tanpa takut membongkar mitos-
mitos Zionisme. Saat ditanya, kenapa
orang Israel bisa melakukan berbagai
kekejaman terhadap orang Palestina,
Pappe menjawab, “Ini buah dari sebuah proses panjang pengajaran
paham, indoktronasi, yang dimulai
sejak usia taman kanak-kanak, semua
anak Yahudi di Israel dididik dengan
cara ini. Anda tidak dapat
menumbangkan sebuah sikap yang ditanamkan di sana dengan sebuah
mesin indoktrinasi yang kuat, yaitu
menciptakan sebuah persepsi rasis
tentang orang lain yang digambarkan
sebagai primitif, hampir tidak pernah
ada, dan penuh kebencian: Orang itu memang penuh kebencian, tapi
penjelasan yang diberikan di sini
adalah ia terlahir primitif, Islam, anti-
Semit, bukan bahwa ia adalah seorang
yang telah dirampas tanahnya.”(Ayat-
ayat Hitam TALMUD, Prof. Dr. Muhammad asy-Syarqawi Penerbit:
SAHARA) Pendahuluan Kitab Talmud adalah kitab suci yang
terpenting bagi kaum Yahudi, bahkan
lebih penting daripada Kitab Taurat.
Kitab Talmud bukan saja menjadi
sumber dalam penetapan hukum
agama, tetapi juga menjadi ideologi dan prinsip-prinsip, serta arahan bagi
penyusunan kebijakan negara dan
pemerintah Yahudi Israel, dan menjadi
pandangan hidup orang Yahudi pada
umumnya. Itu pula sebabnya
mengapa negara Yahudi Israel disebut sebagai negara yang rasis,
chauvinistik, theokratik, konservatif,
dan sangat dogmatik. Untuk dapat
memahami sepak-terjang negara
Israel yang tampak arogan, keras-
kepala, tidak kenaI kompromi, orang perlu memahami isi ajaran Kitab
Talmud, yang diyakini oleh orang
Yahudi sebagai kitab suci yang
terpenting di antara kitab-kitab suci
mereka.
Keimanan orang Yahudi terhadap Kitab Talmud mengatasi bahkan Kitab
Perjanjian Lama, yang juga dikenal
dengan nama Taurat. Bukti tentang
hal ini dapat ditemukan dalam Talmud
‘Erubin’ 2b (edisi Soncino) yang
mengingatkan kepada kaum Yahudi, “Wahai anakku, hendaklah engkau
lebih mengutamakan fatwa dari para
Ahli Kitab (Talmud) daripada ayat-ayat
Taurat”. Para pendeta Talmud mengklaim
sebagian dari isi Kitab Talmud
merupakan himpunan dari ajaran
yang disampaikan oleh Nabi Musa a.s.
secara lisan. Sampai dengan
kedatangan Nabi Isa a.s. Kitab Talmud belum dihimpun secara tertulis seperti
bentuknya yang sekarang. Nabi Isa
a.s. mengutuk tradisi
‘mishnah’ (Talmud awal) termasuk
mereka yang mengajarkannya (para
pendeta Yahudi dan kaum Farisi), karena isi Kitab Talmud seluruhnya
menyimpang, bahkan bertentangan
dengan Kitab Taurat. Kaum Kristen,
karena ketidak-pahamannya, hingga
dewasa ini menyangka Perjanjian
Lama merupakan kitab tertinggi bagi agama Yahudi. Sangkaan itu keliru.
Para pendeta Parisi mengajarkan,
doktrin dan fatwa yang berasal dari
para rabbi (pendeta), lebih tinggi
kedudukannya daripada wahyu yang
datang dari Tuhan. Talmud mengemukakan hukum-hukumnya
berada di atas Taurat, dan bahkan
tidak mendukung isi Taurat. Seorang
peneliti Yahudi, Hyam Maccoby, dalam
bukunya ‘Judaism on Trial’ mengutip
pemyataan Rabbi Yehiel ben Joseph, bahwa “Tanpa Talmud kita tidak akan
mampu memahami ayat-ayat Taurat …
Tuhan telah melimpahkan wewenang
ini kepada mereka yang arif, karena
tradisi merupakan suatu kebutuhan
yang sama seperti kitab-kitab wahyu. Para arif itu membuat tafsiran mereka
… dan mereka yang tidak pernah
mempelajari Talmud tidak akan
mungkin mampu memahami Taurat.” Memang ada kelompok di kalangan
kaum Yahudi yang menolak Talmud,
dan tetap berpegang teguh kepada
kitab Taurat saja (Perjanjian Lama
yang sekarang) Mereka ini disebut
golongan ‘Karaiyah’, kelompok yang sepanjang sejarahnya paling dibenci
dan menjadi korban didzalimi oleh
para pendeta Yahudi orthodoks.
Kepada tradisi ‘mishnah’ itu para
pendeta Yahudi menambah sebuah
kitab lagi yang mereka sebut ‘Gemarah’ (kitab “tafsir” para
pendeta). Tradisi ‘mishnah’ (yang
kemudian dibukukan) bersama
dengan “Gemarah’, disebut Talmud.
Ada dua buah versi Kitab Talmud,
yaitu ‘Talmud Jerusalem’ dan ‘Talmud Babilonia’. ‘Talmud Babilonia’
dipandang sebagai kitab yang paling
otoritatif.1
Beberapa kutipan yang diangkat dari
Kitab Tamud dalam uraian berikut ini
merupakan dokumen aseli yang tidak-terbantahkan, dengan harapan
dapat memberikan pencerahan
kepada segenap ummat manusia,
termasuk kaum Yahudi, tentang
kesesatan dan rasisme dari ajaran
Talmud yang penuh dengan kebencian, yang menjadi kitab suci
baik bagi kaum Yahudi Orthodoks
maupun Hasidiyah di seluruh dunia.
Pelaksanaan ajaran Talmud tentang
keunggulan kaum Yahudi yang
dldasarkan pada ajaran kebencian itu telah menyebabkan penderitaan yang
tak terperikan terhadap orang lain
sepanjang sejarah ummat manusia
sampai dengan saat ini, khususnya di
tanah Palestina. Ajaran itu telah
dijadikan dalih untuk membenarkan pembantaian secara massal penduduk
sipil Arab-Palestina. Kitab Talmud
menetapkan bahwa semua orang
yang bukan-Yahudi disebut “goyyim”,
sama dengan binatang, derajat
mereka di bawah derajat manusia. Ras Yahudi adalah “ummat pilihan”, satu-
satunya ras yang mengklaim diri
sebagai keturunan langsung dari Nabi
Adam a.s. Marilah kita periksa
beberapa ajaran Talmud. Beberapa Contoh Isi Ajaran Talmud Erubin 2b, “Barangsiapa yang tidak
taat kepada para rabbi mereka akan
dihukum dengan cara dijerang di
dalam kotoran manusia yang
mendidih di neraka”.
Moed Kattan 17a, “Bilamana seorang Yahudi tergoda untuk melakukan
sesuatu kejahatan, maka hendaklah ia
pergi ke suatu kota dimana ia tidak
dikenal orang, dan lakukanlah
kejahatan itu disana”
Sanhedrin 57a, “Seorang Yahudi tidak wajib membayar upah kepada orang
kafir yang bekerja baginya”. Some Talmudic Doctrine: Erubin 2b,
"Whoever does
not obey the rabbis they would be
punished by
boiling in excrement in hell. "
Moed twisted 17a, "When a Jew is tempted
to do something evil, then let
him go into a city, and he
is not known, and do the crime there.
" Persecute a Jew, His
sentence is Dead Sanhedrin 58b, "If a persecuting a Jew, then infidels should be
killed". Be allowed, Deceiving to the Non-
Jewish People Sanhedrin 57a, "A Jew is not obliged
to pay wages, to the heathen
who worked for him". Jews Have Higher Legal Position Baba Kamma 37b, "If ox
of a Jew wounded the Canaanites ox,
there's no need for compensation;
but if the ox of the
Canaanites, injuring cattle belonging
to Jews,then that person must pay compensation to its fullest. " Jews May Steal Property Non-Jews Baba Mezia 24a, "If a Jew finds lost
property owned by the unbelievers,
he is not obliged to return it to the
owner. "
(This paragraph was
reaffirmed in Baba Kamma 113b). Allowed Robbing or Kill the People of
Non-Jews Sanhedrin 57a, "If a Jew kills a Cuthea (infidel), no death penalty.
What has been stolen by a Jew should
belong to jews. "
Baba Kamma 37b, "The infidel is outside
of the law protection & the
Lord opened their money to the Children of Israel. " Lying is allowed to non-jews Baba Kamma 113a, "The Jews are
allowed to lie to deceiveinfidels. " Non-Jews are animals Yebamoth 98a, "All children who
disbelieve are animals. "
Abodah Zarah 22a - 22b, "The infidel prefer sex with cows". Orang Yahudi Mempunyai
Kedudukan Hukum yang Lebih
Tinggi Baba Kamma 37b, “Jika lembu
seorang Yahudi melukai lembu
kepunyaan orang Kanaan, tidak perlu
ada ganti rugi; tetapi ,jika lembu orang
Kanaan sampai melukai lembu
kepunyaan orang Yahudi maka orang itu harus membayar ganti rugi
sepenuh-penuhnya”. Orang Yahudi Boleh Mencuri Barang
Milik Bukan-Yahudi Baba Mezia 24a, “Jika seorang Yahudi
menemukan barang hilang milik
orang kafir, ia tidak wajib
mengembalikan kepada pemiliknya”.
(Ayat ini ditegaskan kembali di dalam
Baba Kamma 113b), Orang Yahudi Boleh Merampok atau
Membunuh Orang Non-Yahudi Sanhedrin 57a, “Jika seorang Yahudi
membunuh seorang Cuthea (kafir),
tidak ada hukuman mati, Apa yang
sudah dicuri oleh seorang Yahudi
boleh dimilikinya”. Orang Yahudi Boleh Berdusta
kepada Orang Non-Yahudi Baba Kamma 113a, “Orang Yahudi
diperbolehkan berdusta untuk
menipu orang kafir”. Yang Bukan-Yahudi adalah Hewan
di bawah Derajat Manusia Yebamoth 98a, “Semua anak
keturunan orang kafir tergolong sama
dengan binatang”.
Abodah Zarah 36b, “Anak-
perempuan orang kafir sama dengan
‘niddah’ (najis) sejak lahir”. Abodah Zarah 22a - 22b, “Orang kafir
lebih senang berhubungan seks
dengan lembu”. Ajaran Gila di dalam Talmud: Gittin 69a, “Untuk menyembuhkan
tubuh ambil debu yang berada di
bawah bayang-bayang jamban,
dicampur dengan madu lalu
dimakan“. Shabbath 41a, “Hukum yang
mengatur keperluan bagaimana
kencing dengan cara yang suci telah
ditentukan”.
Yebamoth 63a, ” … Adam telah
bersetubuh dengan semua binatang ketika ia berada di Sorga”.
Yebamoth 63a, “…menjadi petani
adalah pekerjaan yang paling hina “.
Sanhedrin 55b, “Seorang Yahudi
boleh mengawini anak-perempuan
berumur tiga tahun (persisnya, tiga tahun satu hari)”.
Sanhedrin 54b, “Seorang Yahudi
diperbolehkan bersetubuh dengan
anak-perempuan, asalkan saja anak
itu berumur di bawah sembilan
tahun”. Kethuboth 11b, “Bilamana seorang
dewasa bersetubuh dengan seorang
anak perempuan, tidak ada dosanya”.
(PADAHAL JELAS2X DALAM 10
PERINTAH ALLAH YANG DITURUNKAN
MELALUI NABI MUSA A.S., DIHARAMKAN UNTUK BERZINA). Yebamoth 59b, “Seorang
perempuan yang telah bersetubuh
dengan seekor binatang
diperbolehkan menikah dengan
pendeta Yahudi. Seorang
perempuan Yahudi yang telah bersetubuh dengan jin juga
diperbolehkan kawin dengan
seorang pendeta Yahudi”. HADIST RASULULLAH SAW mengenai
10 Perintah Allah swt. kepada nabi
Musa as. Dalam Kitab Taurat (Keluaran
20:1-17 dan Ulangan 5:4-22) tertulis
10 Perintah Allah (The Ten
Commandments). Kesepuluh Perintah Allah ini tertulis pada dua batu yang
dibawa nabi Musa ketika turun dari
gunung Sinai. Sepuluh Hukum Allah ini
disadari atau tidak disadari berlaku
bagi semua manusia apa pun
agamanya. Abul-Laits Assamarqandi meriwayatkan kepada sanadnya dari
Jabir bin Abdillah r.a. berkata
Rasulullah S.A.W bersabda : "Allah
S.W.T. telah memberikan kepada Nabi
Musa bin Imran a.s. dalam alwaah 10
bab : • Wahai Musa jangan menyekutukan Aku dengan suatu
apa pun bahwa aku telah
memutuskan bahwa api neraka akan
menyambar muka orang-orang
musyrikin. • Taatlah kepada-Ku dan
kedua orang tuamu niscaya Aku pelihara kamu dari segala bahaya dan
akan Aku lanjutkan umurmu dan Aku
hidupkan kamu dengan penghidupan
yang baik. • Jangan sekali-kali
membunuh jiwa yang Aku haramkan
kecuali dengan hak niscaya akan menjadi sempit bagimu dunia yang
luas dan langit dengan semua
penjurunya dan akan kembali engkau
dengan murka-Ku ke dalam api
neraka. • Jangan sekali-kali sumpah
dengan nama-Ku dalam dusta atau durhaka sebab Aku tidak akan
membersihkan orang yang tidak
mensucikan Aku dan tidak
mengagung-agungkan nama-Ku. •
Jangan hasud dengki dan irihati
terhadap apa yang Aku berikan kepada orang-orang, sebab
penghasut itu musuh nikmat-Ku,
menolak kehendak-Ku, membenci
kepada pembagian yang Aku berikan
kepada hamba-hamba-Ku dan siapa
yang tidak meninggalkan perbuatan tersebut, maka bukan daripada-Ku. •
Jangan menjadi saksi terhadap apa
yang tidak engkau ketahui dengan
benar-benar dan engkau ingat
dengan akalmu dan perasaanmu
sebab Aku menuntut saksi-saksi itu dengan teliti atas persaksian mereka.
• Jangan mencuri dan jangan berzina
dengan isteri tetanggamu sebab
niscaya Aku tutup wajah-Ku
daripadamu dan Aku tutup pintu-
pintu langit daripadanya. • Jangan menyembelih kurban untuk selain
dari-Ku sebab Aku tidak menerima
kurban kecuali yang disebut nama-Ku
dan ikhlas untuk-Ku. • Cintailah
terhadap sesama manusia
sebagaimana yang engkau suka terhadap dirimu sendiri. • Jadikan hari
Sabtu itu hari untuk beribadat
kepada-Ku dan hiburkan anak
keluargamu. Abodah Zarah 17a, “Buktikan
bilamana ada pelacur seorangpun di
muka bumi ini yang belum pernah
disetubuhi oleh pendeta Talmud
Eleazar”.
Hagigah 27a, “Nyatakan, bahwa tidak akan ada seorang rabbi pun yang
akan masuk neraka”.
Baba Mezia 59b, “Seorang rabbi telah
mendebat Tuhan dan mengalahkan-
Nya. Tuhan pun mengakui bahwa
rabbi itu memenangkan debat tersebut”. (ASTAGFITULLAH, RABBI
(PENDETA YAHUDI) BERDEBAT DGN
TUHAN? BAHKAN NABI PUN TIDAK
PERNAH BERDEBAT DGN TUHAN DAN
MEMATUHI PERINTAH TUHAN! ) Gittin 70a, “Para rabbi mengajarkan,
‘Sekeluarnya seseorang dari jamban,
maka ia tidak boleh bersetubuh
sampai menunggu waktu yang sama
dengan menempuh perjalanan sejauh
setengah mil, konon iblis yang ada di jamban itu masih menyertainya selama
waktu itu, kalau ia melakukannya
juga (bersetubuh), maka anak-
keturunannya akan terkena penyakit
ayan”.
Gittin 69b, “Untuk menyembuhkan penyakit kelumpuhan campur
kotoran seekor anjing berbulu putih
dan campur dengan balsem; tetapi bila
memungkinkan untuk menghindar
dari penyakit itu, tidak perlu memakan
kotoran anjing itu, karena hal itu akan membuat anggota tubuh menjadi
lemas “. (MEMAKAN KOTORAN ANJING
DIPERBOLEHKAN? BAHKAN DAGING
ANJING SAJA HARAM..APALAGI
KOTORANNYA.. )
Pesahim 11a, “Sungguh terlarang bagi anjing, perempuan, atau pohon
kurma, berdiri di antara dua orang
laki-laki. Karena musibah khusus
akan datang jika seorang perempuan
sedang haid atau duduk-duduk di
perempatan jalan “. Menahoth 43b-44a, “Seorang Yahudi
diwajibkan membaca doa berikut ini
setiap hari, ‘Aku bersyukur, ya
Tuhanku, karena Engkau tidak
menjadikan aku seorang kafir,
seorang perempuan, atau seorang budak belian’ “. (BERSYUKUR KARENA
TIDAK MENJADI PEREMPUAN??? INI
SUNGGUH AJARAN JAHILIYAH SBLM
NABI MUHAMMAD SAW LAHIR, DIMANA
WAKTU ITU BAYI PEREMPUAN
DIBUNUH,DAN MELAHIRKAN ANAK PEREMPUAN DIANGGAP BENCANA.) Kisah-kisah Holocaust oleh Romawi
Di dalam Talmud, ayat Gittin 57b
ada dikisahkan tentang
dibantainya 4 juta orang Yahudi
oleh orang Romawi di kota Bethar.
Gittin 58a, mengklaim bahwa 16 juta anak-anak Yahudi dibungkus
ke dalam satu gulungan dan
dibakar hidup-hidup oleh orang
Romawi.
Demografi tentang zaman kuno
menyatakan orang Yahudi di seluruh dunia pada masa
penjajahan oleh Romawi tidak
sampai berjumlah 16 juta, bahkan 4
juta pun tidak ada!! SUNGGUH
PENIPUAN BESAR..).
Pengakuan Talmud Abodah Zarah 70a, “Seorang rabbi
ditanya, apakah anggur yang dicuri di
Pumbeditha boleh diminum, atau
anggur itu sudah dianggap najis,
karena pencurinya adalah orang-
orang kafir (seorang bukan-Yahudi bila menyentuh guci anggur, maka
anggur itu dianggap sudah najis).
Rabbi itu menjawab, tidak perlu
dipedulikan, anggur itu tetap halal
(’kosher’) bagi orang Yahudi, karena
mayoritas pencuri yang ada di Pumbeditha, tempat dimana guci-guci
anggur itu dicuri, adalah orang-orang
Yahudi”. (Kisah ini juga ditemukan di
dalam Kitab Gemara, Rosh Hashanah
25b). Ibadah Orang Farisi Erubin 21 b, “Rabbi Akida berkata
kepadanya, ‘Berikan saya air untuk
mencuci tangan saya’. Ia menjawab,
‘Air itu tidak cukup bahkan untuk
diminum, apalagi untuk membasuh
tanganmu’ keluhnya. ‘Lalu apa yang harus saya perbuat ?’ tanya seseorang
lainnya, ‘padahal engkau tahu
menentang ucapan seorang rabbi
diancam dengan hukuman mati?’
‘Saya lebih baik mati daripada
menentang pendapat kawan-kawan saya’ ” (Ritual cuci tangan ini terekam
dikutuk Nabi Isa a.s. dalam Injil Matius
15 : 1- 9). Genosida Dihalalkan oleh Talmud Perjanjian Kecil, Soferim 15, Kaidah 10,
“Inilah kata-kata dari Rabbi Simeon
ben Yohai, ‘Tob shebe goyyim
harog’ (”Bahkan orang kafir yang
baik sekali pun seluruhnya harus
dibunuh”). Orang-orang Israeli setiap tahun mengikuti acara nasional ziarah
ke kuburan Simon ben Yohai untuk
memberikan penghormatan kepada
rabbi yang telah menganjurkan untuk
menghabisi orang-orang non-
Yahudi.2 Di Purim, pada tanggal 25 Februari
1994 seorang perwira angkatan darat
Israel, Baruch Goldstein, seorang
Yahudi Orthodoks dari Brooklyn,
membantai 40 orang muslim,
termasuk anak-anak, tatkala mereka tengah bersujud shalat di sebuah
masjid. Goldstein adalah pengikut
mendiang Rabbi Meir Kahane, yang
menyatakan kepada kantor berita CBS
News, bahwa ajaran yang dianutnya
mengatakan orang-orang Arab itu tidak lebih daripada anjing, sesuai
ajaran Talmud”.3 Ehud Sprinzak,
seorang profesor di Universitas
Jerusalem menjelaskan tentang
falsafah Kahane dan Goldstein,
“Mereka percaya adalah teiah menjadi iradat Tuhan, bahwa mereka
diwajibkan untuk melakukan
kekerasan terhadap ‘goyyim’, sebuah
istilah Yahudi untuk orang-orang
non-Yahudi”.4
Rabbi Yizak Ginsburg menyatakan, “Kita harus mengakui darah seorang
Yahudi dan darah orang ‘goyyim’
tidaklah sama”.5 Rabbi Jacov Perrin
berkata, “Satu juta nyawa orang Arab
tidaklah seimbang dengan sepotong
kelingking orang Yahudi”.6 Doktrin Talmud : Orang non- Yahudi
Bukanlah Manusia Talmud secara spesifik menetapkan
orang non-Yahudi termasuk
golongan binatang, bukan-manusia,
dan secara khusus menyatakan
bahwa mereka bukan dari keturunan
Nabi Adam a.s. Ayat-ayat yang berkaitan itu ditemukan bertebaran di
dalam Kitab Talmud, antara lain
sebagai berikut : Kerihoth 6b, “Menggunakan
minyak untuk mengurapi. Rabbi
kita mengajarkan, ‘Barangsiapa
menyiramkan minyak pengurapan
kepada ternak atau perahu, ia
tidak melakukan dosa; bila ia melakukannya kepada ‘goyyim’,
atau orang mati, dia tidak
melakukan dosa. Hukum yang
berhubungan dengan ternak dan
perahu adalah benar, karena telah
tertulis: terhadap tubuh manusia (Ibrani: Adam) tidak boleh
disiramkan (Exodus 30:32); karena
ternak dan perahu bukan manusia
(Adam)’ “. “Juga dalam hubungan
dengan yang meninggal
(sepatutnya) ia dikecualikan, karena setelah meninggal ia
menjadi bangkai dan bukan
manusia lagi (Adam). Tetapi
mengapa terhadap ‘goyyim’ juga
dikecualikan, apakah mereka
tidak termasuk kategori manusia (Adam) ?Tidak, karena telah
tertulis: ‘Wahai domba-domba-Ku,
domba-domba di padang
gembalaan-Ku adalah manusia
(Adam)’ (Ezekiel 34:31): Engkau
disebut manusia (Adam), tetapi ‘goyyim’ tidak disebut sebagai
manusia (Adam)’ “. Pada ayat-ayat terdahulu para rabbi
membahas hukum Talmud yang
melarang memberikan minyak suci
bagi manusia. Dalam pembahasan itu
para rabbi menjelaskan bukanlah
suatu dosa untuk membenkan miyak suci itu kepada ‘goyyim’ (kaum non-
Yahudi, seperti muslim, Kristen, dan
sebagainya), karena ‘goyyim’ tidak
termasuk golongan manusia
(harfiahnya: bukan keturunan Adam).
Yebamoth 61a, “Telah diajarkan: Begitulah Simeon ben Yohai
menerangkan (61a) bahwa kuburan
orang ‘goyyim’ tidak termasuk tempat
yang suci untuk mendapatkan
‘ohel’ (memberikan sikap ruku’
terhadap kuburan), karena telah dikatakan, wahai domba-domba-Ku
yang ada di padang gembalaan-Ku,
kalian adalah manusia (Adam)’,
(Ezekiel 34:31); kalian disebut
manusia (Adam); tetapi kaum kafir ltu
tldak dlsebut manusia (Adam)’ “. Hukum Talmud menerangkan bahwa
seorang Yahudi yang menyentuh
bangkai manusia tau kuburan
(Yahudi) menyebabkan ia ternajisi.
Tetapi hukum Talmud mengajarkan,
sebaliknya, jika seorang Yahudi menyentuh kuburan orang goyyim,
hal itu membuat ia tetap suci, karena
orang goyyim tidak termasuk
golongan manusia (Adam). Baba Mezia 114b, “Dia (Rabbah)
berkata kepadanya: ‘Apakah engkau
bukan pendeta: mengapa engkau
berdiri di atas kuburan ? Ia menjawab:
‘Apakah guru belum mempelajari
hukum tentang kesucian? Karena telah diajarkan: Simeon ben Yohai
berkata:‘Kuburan kaum ‘goyyim’ tidak
menajisi. Karena telah tertulis, ‘Wahai
gembalaan-Ku gembalaan di padang
rumput-Ku adalah manusia (Adam),
dan ia berdiri di atas kuburan kaum ‘goyyim’ “.
Mengingat pembuktian berdasarkan
nash Taurat (Ezekiel 34:31). disebut
sampai beru1ang-kali pada ketiga
ayat-ayat Talmud di atas tadi, padahal
dalam kenyataannya Taurat tidak pernah menyebutkan bahwa hanya
orang Yahudi saja yang termasuk
golongan manusia. Para ‘hachom’
Talmud sangat menekankan
kekonyo1an ajaran mereka tentang
kaum ‘goyyim’. Hal itu merupakan bukti bahwa mereka sebenarnya
adalah rasis dan ideolog anti-kaum
non-Yahudi, yang dalam kebuntuan
nalarnya telah mendistorsikan ayat-
ayat Taurat dalam rangka
membenarkan kesesatan mereka. Berakoth 58a, “Shila seorang Yahudi
memberikan hukuman cambuk
kepada seseorang yang telah
bersetubuh dengan seorang
perempuan Mesir: Orang yang
dicambuk itu pergi mengadukannya kepada pemerintah, dan berkata: ‘Ada
seorang Yahudi yang memberikan
hukuman cambuk tanpa izin dari
pemerintah’. Seorang petugas
memerintahkan untuk memanggilnya
(Shila). Ketika ia (Shila) tiba, ia ditanya: ‘Mengapa engkau mencambuk orang
ini?’ Ia (Shila) menjawab: ‘ Karena ia
telah menyetubuhi keledai betina’ “.
“Petugas itu berkata kepadanya:
‘Apakah engkau mempunyai saksi-
saksi?’ Ia(Shila) menjawab ‘Saya mempunyainya’. Kemudian (nabi)
Elijah turun dari langit dalam bentuk
manusia dan memberikan bukti.
Petugas itu berkata lagi kepadanya:
‘Kalau demikian halnya seharusnya
orang itu dihukum mati!’ Ia (Shila) menjawab: ‘Karena kami telah
diasingkan dari negeri kami, kami
tidak mempunyai wewenang untuk
menjatuhkan hukuman mati;
lakukanlah terhadapnya sesuai
kehendak kalian’ “ “Ketika mereka masih
mempertimbangkan perkara itu Shila
pun berteriak.• ‘Kepada-Mulah ya
Tuhan Yang Maha Besar dan Maha
Kuasa’ (Kisah-kisah 29:11). ‘Apa
kehendakmu? tanya petugas itu. Ia (Shila) menjawab.• ‘Apa yang
kukatakan ialah: Terpujilah Yang Maha
Pengasih yang telah menciptakan
segala sesuatunya dari tanah serupa
dengan Yang di Sorga, dan telah
memberikan kepadamu sekalian tempat tinggal, dan membuat kalian
mencintai keadilan’ “,
“Petugas itu berkata kepadanya
(Shila).• ‘Apakah engkau sedemikian
membantu kepada kehormatan
pemerintah?’ Petugas itu memberi Shila sebuah tongkat dan berkata
kepadanya: ‘Engkau boleh menjadi
hakim. ‘ Tatkala petugas (orang
‘goyyim’) itu telah pergi, orang-orang
yang ada disana berkata kepadanya
(Shila).• ‘Apakah Yang Maha Pengasih membuat mu’zizat bagi kaum
pendusta?’. Ia (Shila) menjawab:
“mereka (’goyyim’) disebut keledai?
Karena telah tertulis: Daging mereka
adalah daging keledai’ (Ezekiel 23:30) Ia (Shila) memperhatikan orang-
orang itu akan memberi-tahukan
petugas-petugas itu bahwa ia (Shila)
telah menyebut mereka sebagai
keledai. Maka ia (Shila) berkata.•
‘Orang itu adalah penuntut hukum, dan Taurat telah mengatakan: Jika
seseorang datang untuk
membunuhmu, bangkitlah segera dan
bunuh dia lebih dahulu. Begitulah
tongkat yang diberikan kepadanya itu
dipukulkannya kepada terdakwa dan membunuhnya.’ Kemudian ia berkata:
‘Karena sebuah mu’zizat telah terjadi
melalui ayat ini, maka aku
melaksanakannya’ “. Bagian ini terpaksa diutarakan
agak panjang, tetapi agaknya
terpaksa dikutip seluruhnya untuk
memperlihatkan bagaimana
kedzaliman kaum Yahudi. Sebagai
tambahan bahwa nabi Elijah sampai perlu turun dari sorga ke
bumi untuk menipu mahkamah
kaum goyyim, disini Talmud
mengajarkan, bahwa kaum
‘goyyim’ pada dasamya adalah
binatang, sehingga karena itu Rabbi Shila (dan nabi Elijah) sama
sekali tidaklah dapat disebut telah
berdusta atau telah membuat dosa.
Ceritera itu menjelaskan bahwa
sekiranya seseorang (termasuk
orang Yahudi) mengungkapkan ajaran Talmud pandangan tentang
kaum ‘goyyim’ sama dengan
keledai, maka ia akan menerima
hukuman mati. Karena
mengungkapkan hal itu akan
membuat kaum ‘goyyim’ murka dan akan menindas agama Yahudi.
Kutipan Talmud dari kitab Ezekiel
ini merupakan “nash bukti” sangat
penting, karena ayat itu
menyatakan bahwa kaum
‘goyyim’ itu termasuk golongan binatang (keledai). Ayat dari kitab
Ezekiel pada Kitab Perjanjian lama
telah diubah dengan hanya
mengatakan bahwa “orang Mesir
memiliki kemaluan yang
besar” (sindiran - sama dengan keledai). Hal ini tidak
membuktikan atau menegaskan
secara eksplisit bahwa orang Mesir
yang dirujuk oleh Taurat sarna
dengan binatang. Dalam hal ini
Talmud memalsukan Taurat dengan cara mendistorsikan tafsir. Beberapa ayat Talmud yang lain yang
mengkaitkannya dengan kitab Ezekiel
23:30 yang memperlihatkan watak
rasis orang Yahudi ditemukan dalam
Arakin 19b, Berakoth 25b, Niddah
45a, Shabbath 150a, dan Yebamoth 98a. Lagipula nash aseli Sanhedrin
37a hanya mengkaitkannya dengan
persetujuan Tuhan untuk
penyelamatan kaum Yahudi saja.7 Maka benarlah firman Allah dalam Al-
Qur’an yang memberikan informasi &
kritikan bahwa ada Ahli Kitab yang
menulis Alkitab dengan tangan
mereka sendiri lalu dikatakan dari
Allah untuk memperoleh keuntungan yang sedikit: َّﻢُﺛ ْﻢِﻬﻳِﺪْﻳَﺄِﺑ َﺏﺎَﺘِﻜْﻟﺍ َﻥﻮُﺒُﺘْﻜَﻳ َﻦﻳِﺬَّﻠِّﻟ ٌﻞْﻳَﻮَﻓ
ﺎًﻨَﻤَﺛ ِﻪِﺑ ﺍﻭُﺮَﺘْﺸَﻴِﻟ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﺪﻨِﻋ ْﻦِﻣ ﺍَﺬَٰﻫ َﻥﻮُﻟﻮُﻘَﻳ
ﻢُﻬَّﻟ ٌﻞْﻳَﻭَﻭ ْﻢِﻬﻳِﺪْﻳَﺃ ْﺖَﺒَﺘَﻛ ﺎَّﻤِّﻣ ﻢُﻬَّﻟ ٌﻞْﻳَﻮَﻓ ۖ ﺎًﻠﻴِﻠَﻗ
َﻥﻮُﺒِﺴْﻜَﻳ ﺎَّﻤِّﻣ
Maka kecelakaan yAng besarlah
bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka
sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari
Allah", (dengan maksud) untuk
memperoleh keuntungan yang
sedikit dengan perbuatan itu. Maka
kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis
oleh tangan mereka sendiri, dan
kecelakaan yang besarlah bagi
mereka, akibat apa yang mereka
kerjakan.(Al Baqarah : 79) Moses Maimonides Membenarkan
Pembantaian Begawan yang sangat dihormati,
Moses Maimonides, mengajarkan
tanpa tedeng aling-aling, bahwa
kaum Kristen wajib dihabisi. Tokoh
yang memberikan fatwa seperti itu
memiliki kedudukan tertinggi dalam hirarki agama Yahudi.
Moses Maimonides dipandang sebagai
penyusun hukum dan filosuf terbesar
sepanjang sejarah Yahudi. Ia acapkali
dengan penuh rasa hormat disebut
dengan nama Rambam, dan disapa dengan panggilan Rabenu Moshe ben
Maimon, yang artinya ‘Rabbi Kami
Musa anak Maimun”.8
Inilah yang diajarkan oleh Maimonides
tentang boleh tidaknya
menyelamatkan nyawa kaum ‘goyyim’, atau bahkan’ orang Yahudi
sekali pun yang berani menolak
“inspirasi ilahiyah di dalam Talmud’.
“Sesungguhnya bila kita melihat
seorang kafir (’goyyim’) sedang
terhanyut dan tenggelam di sungai, kita tidak boleh menolongnya. Kalau
kita melihat nyawanya sedang
terancam, kita tidak boleh
menyelamatkannya.”9. Naskah dalam
bahasa Ibrani edisi Feldheim 1981
tentang Mishnah Torah menyebutkan hal yang sarna seperti itu.
Dengan peringatan dari Maimonides
itu, telah diwajibkan bagi kaum
Yahudi untuk tidak boleh
menyelamatkan nyawa atau
memberikan pertolongan kepada seorang ‘goyyim’, ia sebenarnya
menyatakan sikap kaum Yahudi yang
sebenarnya yang dibebankan oleh
Talmud terhadap kaum non-
Yahudi.10
“Hal itu telah merupakan ‘mitvah’ (kewajiban agama) untuk ,
menghabisi para pengkhianat kaum
Yahudi, para ‘minnim’, dan
“apikorsim” dan membuat mereka
jatuh ke dalam lobang kehancuran,
karena mereka telah menyebabkan penderitaan kepada kaum Yahudi,
dan menipu manusia untuk menjauh
dari Tuhan, sebagaimana yang
dilakukan oleh Isa dari Nazareth dan
para muridnya, dan Tzadok, Baithos
dan murid-muridnya. Semoga terla’natlah mereka”.
Komentar penerbit Yahudi itu memuat
pernyataan Maimonides bahwa Nabi
Isa a.s. adalah contoh seorang
‘min’ (”pengkhianat” majemuknya
‘minnim’). Komentar itu juga menerangkan bahwa murid-murid
Tzadok, yaitu kaum Yahudi yang
menolak kebenaran Talmud dan
mereka yang hanya mengakui hukum
tertulis, yakni Taurat. Menurut buku
‘Maimonides’ Principles’ pada h.5, Maimonides memerlukan waktu dua-
belas tahun untuk menyimpulkan
hukum dan keputusan dari Talmud,
dan mensistemasikan kesimpulannya
itu ke dalam 14 jilid. Karya itu akhirnya
selesai pada tahun 1180 dan diberi judul ‘Mishnah Torah’, atau ‘Syari’at
Taurat’. Maimonides mengajarkan pada
bagian lain dari ‘Mishnah Torah’,
bahwasanya kaum ‘goyyim’
bukanlah golongan manusia:
“Hanyalah manusia (kaum Yahudi),
dan bukannya perahu, yang dapat memperoleh najis bila bersentuhan
… Bangkai dari seorang ‘goyyim’
tidak menyebabkan najis bila
bersentuhan dengan bayang-
bayang seorang Yahudi … seorang
‘goyyim’ tidak sampai menyebabkan penajisan; dan bila
seorang ‘goyyim’ menyentuh,
membawa, atau membayangi …
‘goyyim’ itu tidak menyebabkan
najis … mayat seorang ‘goyyim’
tidak menyebabkan menjadi najis; dan sekiranya’” seorang ‘goyyim’
menyentuh, membawa, atau
menjatuhkan bayangannya
kepada mayat, ia dianggap tidak
pernah menyentuh mayat
tersebut.” .11 Film ‘Schindlers List’ - Contoh
Kebohongan Kaum Yahudi Teks Talmud (khususnya Talmud
Babilonia) pada Sanhedrin 37a tidak
mewajibkan orang Yahudi untuk
menyelamatkan nyawa orang lain,
terkecuali nyawa orang Yahudi. Moshe
Maimonides memperkuat ajaran Talmud tersebut. Tetapi, beberapa
buku yang ditulis oleh orang-orang
Yahudi kontemporer (Hesronot Ha-
shas) merujuk beberapa nash dari
Talmud yang seolah-olah memuat
frase nilai-nilai universal, seperti, “Barangsiapa membunuh kehidupan
seseorang, hal itu sama dengan
membunuh seluruh isi dunia; dan
barangsiapa memelihara kehidupan
seseorang,hal itu seperti ia telah
memelihara seluruh isi dunia”. Namun Hesronot Ha-ash mengakui
ayat-ayat di atas tadi BUKAN KATA-
KATA YG OTENTIK dari Talmud yang
aseli. Dengan kata lain, ayat-ayat bemada universal tersebut bukanlah
nash otentik dari Talmud. Jadi sekedar
sebagai contoh, “versi universal” ini
yang oleh Stephen Spielberg
dituangkan ke dalam filmnya ‘The
Schindler’s List’ yang terkenal itu (dan dikaitkan seolah-olah bersumber dari
Talmud pada judul maupun iklan
filmnya) adalah penipuan dan
merupakan propaganda, yang
dimaksudkan untuk memberikan
polesan kemanusiaan kepada Talmud, yang pada hakekatnya adalah kitab
yang penuh berisi semangat rasisme
dan chauvinisme Yahudi. Dalam nash Talmud yang aseli tertulis pada
ayat yang sama, “Barangsiapa
memelihara bahkan satu nyawa
orang Israeli, maka ia seperti
memelihara seluruh isi dunia”.
Sama seperti ayat-ayat yang lain, Talmud yang asli hanya
membicarakan perihal
menyelamatkan orang-orang
Yahudi. Tipuan Orang Yahudi Sanggahan para rabbi orthodoks
bahwa tidak ada bukti dokumentasi
otentik tentang rasisme dan semangat
kebencian di dalam Talmud adalah
bohong besar, karena di dalam Baba
Kamma 113a, menyatakan bahwa “Orang Yahudi boleh berbohong
untuk menipu kaum ’goyyim’ ‘.
The Simon Wiesenthal Center, sebuah
pusat propaganda ruhubiyah Yahudi
yang didukung oleh dana multi-jutaan
dolar terpaksa memecat Rabbi Daniel Landes pada tahun 1995, karena
rabbi ini menentang ajaran
dehumanisasi oleh Talmud terhadap
orang non-Yahudi. “Sikap ini benar-
benar busuk”, katanya. Buktinya ?
“Ya, pernyataan-pernyataan di dalamnya”. Berdusta untuk menipu orang
‘goyyim’ telah lama menjadi
panutan di dalam agama Yahudi.
Ambil contoh sehubungan dengan
debat pada abad ke-13 di Paris
antara Nicholas Donin, seorang Yahudi yang telah memeluk agama
Katolik - yang oleh Hyam Maccoby
diakui mempunyai pengetahuan
yang luas tentang Talmud”12 -saat
berkonfrontasi lawan Rabbi Yehiel.
Pada waktu itu Yehiel tidak sedang berada di bawah ancaman
hukuman, atau dicederai. Namun
tanpa malu tetap saja berdusta
sepanjang debat tersebut. Sebagai
contoh ketika ditanya oleh Donin
apakah ada ayat-ayat yang menghujat Jesus di dalam Talmud,
Yehiel menyanggahnya. Donin,
seorang ahli dalam bahasa lbrani
paham benar jawaban itu dusta
maka. Ryam Maccoby, seorang
komentator Yahudi mengenai debat tersebut, yang hidup di abad
ke-20, membela kebohongan Rabbi
Yehiel seperti ini, “Pertanyaan itu
mungkin diajukan, apakah Yehiel
benar-benar percaya yang Jesus
tidak disebut-sebut di dalam Talmud atau, bisa juga ia
mengajukan pertanyaan ini
sebagai suatu tipuan yang cerdik,
untuk menciptakan keadaan
mendesak Yehiel … tentu saja
Rabbi Yehiel dapat dimaafjkan bila ia tidak mengakui sesuatu yang
tidak sepenuhnya dipercayainya,
dalam rangka mencegah proses
tiranik yang menghadapkan
budaya dari suatu agama tertentu,
terhadap agama yang lain”.13 Beginilah cara orang Yahudi
menyanggah sampai dengan hari
ini tentang adanya nash Talmud
yang mengandung ayat-ayat yang
penuh dengan kebencian. Sebuah
kata tentang “kebohongan Yahudi diplesetkan dan disulap menjadi
“dapat dimaafkan”, sementara
setiap penyelidikan terhadap
kitab-kitab suci Yahudi oleh
peneliti non-Yahudi dipandang
sebagai “proses tiranik”. Sementara itu serangan kaum Yahudi terhadap
kitab-kitab Injil Perjanjian Baru dan
al-Qur’an tidak pernah dianggap
sebagai “proses tiranik”. Hanya kritik kaum non- Yahudi yang
dianggap tiranik, sedangkan cara
mempertahankan diri bagi orang
Yahudi adalah berdusta. (Tidak semua
orang Yahudi bersikap seperti
tersebut di atas. Dr. Israel Shahak dari Hebrew University menulis sebuah
buku lengkap yang diberinya judul
‘Jewish History, Jewish Religion’, yang
mendokumentasikan secara lengkap
muatan anti-’goyyim’ di dalam kitab
Talmud). Betapapun banyaknya sanggahan
dan kebohongan yang keluar dari
‘The Anti-Defamation League’ (ADL -
‘Liga Anti-Penghinaan’ Yahudi) dan
dari the Wiesenthal Center, dalam
buku ini dikutip nash-nash baik dari Talmud maupun juga dari mufassir
Talmud ‚paling’ terkemuka” di mata
orang Yahudi sendiri, seperti Moses
Maimonides, Pada tahun 1994 Rabbi Tzvi Marx,
direktur pendidikan teknologi
terapan pada ‘Shalom Hartman
Institute’ di Jerusalem, telah
menulis semacam pengakuan yang
menakjubkan tentang bagaimana kaum Yahudi di masa yang silam
telah membuat dua jenis kumpulan
kitab: kitab Talmud yang otentik
sebagai bahan pelajaran bagi para
pemuda mereka di sekolah-
sekolah (’kollel’) Talmud, dan sebuah lagi kitab Talmud yang
telah “disensor dan diamendemen”
yang ditujukan bagi konsumsi para
‘goyyim’ yang tidak mengerti apa-
apa. Rabbi Marx menjelaskan
bahwa versi tafsir Maimonides yang dikeluarkan untuk konsumsi
umum, tertulis misalnya,
“Barangsiapa membunuh seorang
manusia, ia telah melanggar
hukum”. Tetapi Rabbi Marx
menyatakan, nash yang aseli berbunyi, ” Barangsiapa membunuh
seorang Israeli”. َّﻢُﺛ ْﻢِﻬﻳِﺪْﻳَﺄِﺑ َﺏﺎَﺘِﻜْﻟﺍ َﻥﻮُﺒُﺘْﻜَﻳ َﻦﻳِﺬَّﻠِّﻟ ٌﻞْﻳَﻮَﻓ
ﺎًﻨَﻤَﺛ ِﻪِﺑ ﺍﻭُﺮَﺘْﺸَﻴِﻟ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﺪﻨِﻋ ْﻦِﻣ ﺍَﺬَٰﻫ َﻥﻮُﻟﻮُﻘَﻳ
ﻢُﻬَّﻟ ٌﻞْﻳَﻭَﻭ ْﻢِﻬﻳِﺪْﻳَﺃ ْﺖَﺒَﺘَﻛ ﺎَّﻤِّﻣ ﻢُﻬَّﻟ ٌﻞْﻳَﻮَﻓ ۖ ﺎًﻠﻴِﻠَﻗ
َﻥﻮُﺒِﺴْﻜَﻳ ﺎَّﻤِّﻣ
Maka kecelakaan yAng besarlah
bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka
sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari
Allah", (dengan maksud) untuk
memperoleh keuntungan yang
sedikit dengan perbuatan itu. Maka
kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis
oleh tangan mereka sendiri, dan
kecelakaan yang besarlah bagi
mereka, akibat apa yang mereka
kerjakan.(Al Baqarah : 79) Buku Hesronot Ha-shas (”Yang
Dihilangkan dari Talmud”)15 lalu
menjadi penting dalam kaitan ini.
Heshronot Ha-shas dicetak-ulang
pada tahun 1989 oleh Sinai Publishing
House, Tel Aviv. Heshronot Ha-shas menjadi sangat berharga bagi kita,
karena buku ini menyusun suatu
daftar panjang ayat-ayat Talmud yang
diubah atau dihilangkan, dan daftar
ayat-ayat yang dipalsukan dewasa ini,
yang dibuat untuk konsumsi kaum ‘goyyim’ seolah-olah ayat-ayat itulah
yang otentik. Popper (h.58-59) menjelaskan :
“Tidak selalu yang disensor itu
ayat-ayat panjang, tetapi acapkali
satu kata pun dihapus. … Acapkali
dalam hal seperti itu digunakan
dalam rangka penghapusan dan penggantian”. Sebagai contoh
pentarjamah versi Talmud dalam
bahasa Inggris terbitan Soncino
menterjemahkan kata lbrani
‘goyyim’ dengan sejumlah kata-
ganti samaran seperti, “kafir, Cuthean, Mesir, penyembah
berhala”, dan sebagainya. Tetapi
sebenarnya kata-ganti ini merujuk
kepada kata-aseli ‘goyyim’ (semua
yang non- Yahudi). Pada catatan-
kaki no. 5 Talmud pada edisi Soncino dijelaskan bahwa, “Istilah
orang Cuthea (Samaritan) disini
adalah untuk menggantikan kata-
aseli ‘goyyim’ … “ Hal itu merupakan praktek
disinformasi yang lazim dipakai oleh
kaum Farisi untuk menyangkal
adanya ayat-ayat yang rasialistik di
dalam Talmud yang telah
diungkapkan terdahulu dalam buku ini, dalam rangka mengklaim bahwa
ayat-ayat itu adalah “karangan dari
orang-orang yang anti-Semit”.
Pada tahun 1994, Lady Jane
Birdwood, berusia 80 tahun,
ditangkap dan diadili di depan pengadi1an pidana di London, hanya
karena “kejahatannya” menerbitkan
sebuah pamflet berjudu1 ‘The Longest
Hatred’ (’Kebencian yang Paling
Lama’), berisi seluruh pernyatan
kebencian di dalam Talmud yang diangkatnya dari ayat-ayat yang berisi
kebencian kepada kaum ‘goyyim’ dan
Kristen. Sepanjang peradilan yang
dituduhkan terhadapnya sebagai
suatu kejahatan yang sayangnya
tidak mendapatkan perhatian dari media massa, seorang rabbi diundang
sebagai saksi ahli. Rabbi itu
menyanggah sepenuhnya bahwa
kitab Talmud berisi ayat-ayat yang
mengundang kebencian kepada
kaum ‘goyyim’ dan Kristen, dan hanya karena kedudukan dan prestise rabbi
tersebut, wanita tua yang malang itu
dijatuhi hukuman “tiga bulan
kurungan penjara dan denda senilai $
l000″
Dr. Israel Shahak dalam bukunya berjudul ‘Jewish History and Jewish
Religion’, pada bab tentang Jesus di
dalam Talmud pada h.57, dan
h.105-106, menegaskan adanya ayat-
ayat yang menganjurkan kebencian
dan rasisme di dalam Talmud. Mereka yang menyangkal kenyataan ini
adalah pembohong besar. Tanggapan Dunia ‘Judeo-Kristen’
terhadap Talmud: Dewasa ini ada persekongkolan
yang kuat antara dunia Kristen dan
Yahudi. Anehnya tidak ada, bahkan
tidak pernah ada, para Paus,
Katolik serta tokoh-tokoh gereja
Protestan di era modern ini yang menyerang atau mengecam ajaran
rasisme di Talmud, atau kebencian
mendarah-mendaging terhadap
Kristen dan kaum ‘goyyim’ (muslim
dan lain-lain) yang diajarkannya.
Sebaliknya pada pimpinan gereja Kristen, baik Katolik maupun
Protestan, malah dewasa ini
menganjurkan kepada para
pengikut Jesus Kristus untuk
mentaati, menghormati, bahkan
membantu pengikut Talmud. Oleh karena itu kesimpulan kita tidak
lain, para pemimpin gereja Katolik
dan Protestan dewasa ini
sebenarnya adalah pengkhianat
paling nyata terhadap Jesus Kristus
di muka bumi dewasa ini (periksa Perjanjian Baru Matius 23:13-15; I
Thessalonika 2:14-16; Titus 1:14;
Lukas 3:8-9; dan Kitab Wahyu 3:9). Kaum Non-Yahudi adalah ‘Sampah’ Semua orang non-Yahudi dari segala
ras dan agama menurut Talmud
adalah super-sampah’, begitu
menurut pendiri Habad-Lubavitch,
Rabbi Shneur Zalman. Analisanya
ditemukan di dalam majalah Yahudi ‚The New Republic’, yang dalam
analisisnya menyatakan bahwa, “…
ada ironi besar dalam pandangan
universalisme messianik yang baru
pada gerakan Habad khususnya
pandangannya tentang kaum ’goyyim’ yakni pernyataan Habad
yang tanpa tedeng aling-aling berisi
penghinaan bernada rasial terhadap
kaum ‘goyyim ‘. …berdasarkan
pendapat para theolog Yahudi pada
abad pertengahan – terutama sekali pemikiran penyair dan filosuf Judah
Ha-Levi pada pada abad ke-12 di
Spanyol, dan tokoh mistik Yahudi
Judah Loewe pada abad ke-16 di
Praha - mereka mencari ketetapan
mengenai keunggulan kaum Yahudi berdasarkan ras dan bukannya pada
keunggulan kerohanian … menurut
pandangan mereka, secara mendasar
kaum Yahudi itu lebih unggul atas ras
mana pun, dan mengenai hal itu
ditegaskan berulangkali dalam bentuk yang sangat ekstrim oleh
Shneur Zalman dari Lyadi. Pendiri
Lubavitcher-Hasidisme itu
mengajarkan, bahwa ada perbedaan
hakiki antara jiwa orang Yahudi
dengan jiwa kaum ‘goyyim’, bahwasanya hanyalah jiwa orang
Yahudi yang di dalamnya terdapat dan
memancarkan cahaya kehidupan
ilahiyah. Sedangkan pada jiwa kaum
‘goyyim’, Zalman selanjutnya
menyatakan, “sama sekali berbeda, karena terciptanya memang lebih
inferior. Jiwa mereka sepenuhnya
jahat, tanpa mungkin diselamatkan
dengan cara apa pun.”
Akibat rujukan tentang kaum ‘goyyim’
menurut ajaran Rabbi Shneur Zalman, tanpa kecuali menyebabkan adanya
penyakit dalam jiwa mereka. Dzat
darimana jiwa kaum ‘goyyim’ terbuat
penuh dengan “sampah” rohani.
Itulah sebabnya mengapa jumlah
mereka lebih banyak daripada kaum Yahudi, karena jumlah gabah lebih
banyak daripada berasnya. Semua
kaum Yahudi secara hakiki baik, dan
semua kaum ‘goyyim’ secara hakiki
jahat. “Karakterisasi kaum ‘goyyim’ yang
dinyatakan secara hakiki jahat dan
dari segi kerohanian maupun biologis
lebih inferior dari kaum Yahudi, belum
pernah diralat dalam ajaran Habad
masa kini”.16 Syari’at Yahudi Menuntut bahwa
Kaum Kristen Wajib Dihukum Mati: Para ulama Taurat menetapkan,
bahwa, “Taurat mewajibkan
bahwa ummat yang benar akan
mendapatkan tempatnya di Hari
Kemudian. Tetapi, tidak semua
kaum ‘goyyim’ akan memperoleh kehidupan yang abadi meskipun
mereka taat dan berlaku shaleh
menurut agama mereka … Dan
meskipun kaum Kristen pada
umumnya menerima Kitab
Perjanjian Lama Ibrani sebagai kitab yang diwahyukan dari
Tuhan, namun mereka (disebabkan
adanya kepercayaan pada apa
yang disebut mereka ketuhanan
pada Jesus) sebenarnya kaum
Kristen adalah penyembah berhala menurut Taurat, oleh karena itu
patut dihukum mati, dan mereka
kaum Kristen itu sudah dipastikan
tidak akan memperoleh ampunan
di Hari Kemudian.” PERHATIKAN UCAPAN YESUS DI
MARKUS 7 : 6 - 8 :
6). JAWABNYA KEPADA MEREKA:
"BENAR NUBUAT YESAYA TENTANG
KAMU, HAI ORANG-ORANG MUNAFIK..!
SEBAB ADA TERTULIS: BANGSA INI MEMULIAKAN AKU DENGAN BIBIRNYA,
PADAHAL HATINYA JAUH DARI
PADAKU.
7). PERCUMA MEREKA BERIBADAH
KEPADAKU, SEDANGKAN AJARAN
YANG MEREKA AJARKAN IALAH PERINTAH MANUSIA.
8). PERINTAH ALLAH KAMU ABAIKAN
UNTUK BERPEGANG PADA ADAT
ISTIADAT MANUSIA. JADI SESUNGGUHNYA KAUM KRISTIANI
ITU MEMULIAKAN YESUS HANYA
DIBIBIRNYA SAJA........ HATI MEREKA
JAUH DARI YESUS........ HATI MEREKA
LEBIH DEKAT DENGAN PAULUS......
Lebih jelas, Paulus sendiri mengakui kalau rupanya tidak dikenal oleh
orang2 Kristen Yudea (ayat 22), yaitu
sebuah wilayah di Palestina selatan
yang dihuni oleh orang2 Israel
keturunan Yehuda, tempat dimana
Yesus mengemban misinya. Bagaimana mungkin seorang rasul
utusan Yesus tidak dikenal oleh umat
Israel dimana Yesus dibesarkan dan
mengajarkan ajarannya? Lebih jauh,
kecuali hanya sedikit, umat Israel
tidak pernah mengakui Yesus sebagai nabi atau pun Tuhan! Bahkan, saking
jengkelnya mereka, Yesus pun
diburunya dan “dibantai” di tiang
salib! Dari sini, kita bisa melihat bahwa
umat Israel tidak mungkin menerima
Paulus, oleh karena ia bukan dari golongan umat Israel, melainkan
seseorang dari bangsa lain.
Pernyataan Paulus ini membuktikan
bahwa ia sama sekali bukan dan tidak
pernah bahkan tidak mungkin
menjadi murid Yesus! Lebih jauh lagi, sebenarnya Paulus telah
mengada2kan sendiri kesaksiannya
yang seolah2 orang2 Yudea tersebut
beragama Kristen, padahal orang2
Yudea adalah orang2 Israel yang
beragama Yahudi yang lantang menolak Yesus! Kalau begitu,
siapakah yang mengajarkan Kristen
kepada orang2 Yudea? Bukankah
Paulus sendiri ditolak? Benar2 isapan
jempol!
Terlalu jelas, bagaimana Paulus mengada2kan sendiri ajarannya
dengan mengaku2 menjadi rasul
yang diutus oleh Yesus. Sebagaimana
telah disebutkan di atas, bahwa
seluruh ajaran Paulus ini bertentangan
dengan tugas kerasulan Yesus, yakni menegakkan hukum Taurat dengan
menggenapinya dengan Kitab Suci
Injil. Berikut pernyataan Yesus: Matius 5:17. “Janganlah kamu
menyangka, bahwa Aku datang
untuk meniadakan hukum Taurat
atau kitab para nabi. Aku datang
bukan untuk meniadakannya,
melainkan untuk menggenapinya. Matius 5:18 Karena Aku berkata
kepadamu: Sesungguhnya selama
belum lenyap langit dan bumi ini, satu
iota atau satu titikpun tidak akan
ditiadakan dari hukum Taurat,
sebelum semuanya terjadi. bandingkan dengan "firman" Paulus: Ajaran Paulus : Kristen mengutuk
hukum Taurat. Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun
yang dibenarkan oleh karena
melakukan hukum Taurat, tetapi
hanya oleh karena iman dalam Kristus
Yesus. Sebab itu kami-pun telah
percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman
dalam Kristus dan bukan oleh karena
melakukan hukum Taurat. Sebab:
“tidak ada seorangpun yang
dibenarkan” oleh karena melakukan
hukum Taurat. (Galatia 2:16), (Galatia 3:24-25), (Galatia 5:4), (Roma
3:27-28) dan (Efesus 2:15).
Matius 7:21-23 YESUS BERKATA: "BUKAN setiap orang
yang berseru kepadaku: Tuhan,
Tuhan! akan masuk ke dalam
Kerajaan Sorga, MELAINKAN dia yang
melakukan kehendak Bapaku yang di
sorga. Pada hari terakhir(kiamat) banyak orang akan berseru
kepadaku: Tuhan, Tuhan, bukankah
kami bernubuat demi nama-Mu, dan
mengusir setan demi nama-Mu, dan
mengadakan banyak mujizat demi
nama-Mu juga? Pada waktu itulah aku akan berterus terang kepada mereka
dan berkata: Aku tidak pernah
mengenal kamu! Enyahlah dari
padaku, kamu sekalian pembuat
kejahatan!” *Berhati-hatilah orang yang
memanggil Yesus itu adalah
Tuhan...sebab orang Yahudi sendiri
telah mengubah2x kitab Taurat
yang asli dan mempercayai ayat2x
setan dalam Talmud, dan mereka menjadi pengikut setan yg sesat.
Dan Paulus,seorang yg dulunya
adalah Yahudi,berpura2 mendapat
wahyu dari Yesus dan mengbah2
kitab Injil,sehingga dapat kita lihat
bagaimana umat nasrani yang mengaku kristen n menyatakan
pengikut Yesus sebenarnya telah
menjadi pengikut SETIA si
PAULUS,bukan Yesus.(http:// aqse.wordpress.com/2009/08/10/
ajaran-yesus-vs-ajaran-paulus/) Rasulullah SAW bersabda:“Demi Dzat
(Allah SWT) yang jiwa Muhammad
berada di tangan-Nya, tidaklah
mendengar kenabianku seorang di
kalangan umat ini, Yahudi ataupun
Nasrani lalu meninggal dalam keadaan tidak mengimani ajaranku
melainkan dia pasti termasuk
penghuni neraka.” (HR. Muslim dalam
Kitab al-Iman dari Abu Hurairah
radhiyallahu’anhu). Takhayul Kaum Yahudi Bukanlah mengada-ada bila edisi
Talmud Babilonia dipanadang sebagai
kitab suci Yahudi yang paling
otoritatif. Karena orang Kristen
terperdaya oleh para pengkhotbah
Yahudi, maka para Paus kian hari kian percaya dan meminta fatwa kepada
rabbi Yahudi sebagai “nara sumber
yang shahih” untuk mendapatkan
keterangan bila berkaitan dengan
kitab Perjanjian Lama, yang tanpa
mereka sadari berkonsultasi dengan para okultis (juru-ramal). Yudaisme adalah agama kaum
Farisi dan para pendeta Babilonia,
yang menjadi sumber ajaran
Talmud dan Qabala, yang di
kemudian hari membentuk agama
Yudaisme. Kitab suci Yudaisme Orthodoks lainnya, seperti
‘Kabbalah’, isinya penuh dengan
ajaran tentang astrologi, ramal-
meramal, gematria, nekromansi
(sihir), dan demonologi (ilmu
hitam). Jika seorang Yahudi ingin bertaubat ia cukup mengangkat
seekor ayam, membaca mantera
untuk keperluan itu, dan mengibas-
kibaskannya di atas kepalanya
untuk memindahkan dosa-
dosanya kepada ayam tersebut. Yang dapat kita katakan mengenai
hal ini tidak lain adalah takhayul
dalam arti yang sebenar-benarnya.
Selanjutnya lambang Israel yang
mereka sebut sebagai “bintang
Nabi Daud” sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Nabi Daud
a.s. Bintang itu adalah hexagram
(bersudut enam) supranatural yang
melambangkan yantra dari
androgen (kelenjar yang
memberikan karakteristik pada kaum laki-Iaki), yang dihubungkan
dengan para Khazar Bohemia pada
abad ke-14. (Penyesatan publik
dengan penggunaan nama “negara
Israel” yang didirikan pada tahun
1948, merupakan buah hasil persekongkolan antara kaum
Bolshevik-Yahudi dengan kaum
Zionis yang atheis; nama itu tidak
ada sangkut-pautnya dengan
kelanjutan kerajaan Nabi Daud,
tetapi dikukuhkan melalui pcngakuan pertama di PBB yang
diberikan oleh diktator komunis
Uni Sovyet Joseph Stalin). Kaum Kristen akan lebih terbuka
matanya bila berkunjung ke
komunitas Yahudi Hasidik
menonton acara ‘Purim’, dimana
sebuah patung serupa Halloween
meloncat-loncat (seperti ‘jailangkung’). Meskipun upacara
‘Purim’ itu merujuk kepada Kitab
Esther yang disebutkan sebagai
nash dasarnya, dalam prakteknya
upacara ‘Purim’ tidak lain adalah
sebuah tradisi kaum kafir Bacchan.17 Para rabbi orthodoks menggunakan
kutukan, mantra, imej, dan
sebagainya, yang mereka anggap
lebih besar kuasanya dari kuasa
Tuhan. Kesesatan itu mereka ambil
dari ajaran Sefer Yezriah, (sebuah buku tentang ilmu sihir kaurn
Qabalis). Kaum non-Yahudi dapat
menyaksikan ulangan perilaku
paganisme Babilonia kuno setiap kali
mereka mengamati ritual para rabbi
agama Yudaisme.18 Dengan mengetahui ajaran Talmud
yang menjadi dasar konstitusi prinsip,
dan arah kebijakan negara dan
pemerintah Israel, mudah dipahami
mengapa negara Israel sangat arogan
dengan kebuasan yang melebihi Nazi Jerman. "MENJADI BANGSA YANG TERKUTUK" ”Hai Bani Israel, ingatlah akan nikmat-
Ku yang telah Aku anugerahkan
kepadamu dan (ingatlah pula)
bahawasanya Aku telah melebihkan
kamu atas segala ummat”(47).
Dan peliharalah dirimu daripada (azab) hari (Kiamat, yang pada hari
itu) seseorang tidak dapat membela
orang lain, walau sedikitpun ; dan
(begitu pula) tidak diterima syafa’at
(pertolongan) dan tebusan
daripadanya, dan tidaklah mereka akan ditolong”(48) [Q.S. Al-Baqoroh :
47-48] Pada ayat-ayat terdahulu telah
dijelaskan betapa kasihnya Allah
kepada Bani Israel sehingga
menyeru mereka untuk kembali ke
pangkal jalan. Semestinya mereka
menyedari betapa sayangnya Allah kepada mereka sehingga
tidak membiarkan mereka
tenggelam didalam kesesatan.
Tidak setakat itu sahaja, Allah
nampakkan pula bagaimana cara
kembali ke jalan yang lurus, Allah ajarkan pula bagaimana cara
memelihara diri sehingga tidak
terbabas lagi. Namun sayang, nikmat yang Allah
karuniakan itu tidak mereka syukuri.
Mereka bukannya beriman kepada
Rasul yang dijanjikan itu, tapi malah
menentang dan memusuhinya.
Akhirnya bukan keutamaan yang mereka dapatkan, tetapi hinaan dan
siksaan yang mereka rasakan.
Sama seperti yang pernah mereka
lakukan sebelum ini. Disaat Allah
memberikan nikmat kepada mereka
berupa hari Sabtu yang mulia, tapi sayang mereka nodai kemuliaan hari
itu dengan melanggar larangan Allah.
Akhirnya Allah mengutuk mereka
sehingga menjadi kera-kera yang
hina. Allah berfirman :”Dan
sesungguhnya telah kamu ketahui
orang-orang yang melanggar
diantaramu pada hari Sabtu, lalu
Kami berfirman kepada
mereka :”Jadilah kamu kera-kera yang hina”. [Q.S. Al-Baqoroh : 65] Begitu juga disaat Allah melebihkan
mereka dengan mengirimkan para
Nabi yang banyak kepada mereka.
Tapi sayang, mereka bukannya mahu
mendengarkan apa-apa yang
dikatakan oleh para Nabi berupa wahyu-wahyu yang diturunkan,
tetapi malah membunuh mereka.
Akhirnya Allah menimpakan nista dan
kemurkaan kepada mereka, Allah berfirman:”Lalu ditimpakan
kepada mereka nista dan
kehinaan, serta mereka mendapat
kemurkaan daripada Allah SWT.
Hal itu (terjadi) kerana mereka
selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi Yang
memang tidak dibenarkan.
Demikian itu (terjadi) kerana
mereka selalu berbuat durhaka dan
melampaui batas”. [Q.S. Al-
Baqoroh : 61] Bukti bahwa Bani Israel memang telah
melampaui batas dan mengingkari
ayat2x Allah SWT, memang tlh tertulis
dalam Al Quran: QS 2:83. Dan (ingatlah), ketika Kami
mengambil janji dari Bani Israil
(yaitu): janganlah kamu
menyembah selain Allah, dan
berbuat kebaikanlah kepada ibu
bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin,
serta ucapkanlah kata-kata yang
baik kepada manusia, dirikanlah
shalat dan tunaikanlah zakat.
Kemudian kamu tidak memenuhi
janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu
berpaling.
QS 2:84. Dan (ingatlah), ketika Kami
mengambil janji dari kamu (yaitu):
kamu tidak akan menumpahkan
darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu
(saudaramu sebangsa) dari
kampung halamanmu, kemudian
kamu berikrar (akan
memenuhinya) sedang kamu
mempersaksikannya. QS 2:85. Kemudian kamu (Bani
Israil) membunuh dirimu
(saudaramu sebangsa) dan
mengusir segolongan daripada
kamu dari kampung halamannya,
kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan
permusuhan; tetapi jika mereka
datang kepadamu sebagai
tawanan, kamu tebus mereka,
padahal mengusir mereka itu (juga)
terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al
Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap
sebahagian yang lain? Tiadalah
Balasan bagi orang yang berbuat
demikian daripadamu, melainkan
kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka
dikembalikan kepada siksa yang
sangat berat. Allah tidak lengah
dari apa yang kamu perbuat. Maka tatkala mereka(BANI iSRAEL)
bersikap sombong terhadap apa yang
dilarang mereka mengerjakannya,
Kami katakan kepadanya, "Jadilah
kamu kera yang hina." (SQ Al-A''raf:
166) Daftar Pustaka 1. R.C.Musaph-Andriesse, ‘From Torah
to Kabbalah: A Basic Introduction to
the Writings of Judaism’, h.40.
2. Jewish Press, 9 Juni 1989, h.56B.
3. Program CBS 60 Menit “Kahane”.
4. The New York Daily News, 26 Februari 1994, h.5.
5. The New York Times, 6 Juni 1989,
h.5.
6. The New York Daily News, 28
Februari 1994, h.6.
7. ‘The Heshronot Ha”shas’, Cracow, 1894.
8. Aryeh Kaplan, ed., ‘Maimonides’
Priciples’, Union of Orthodox Jewish
Congregation of America, h.3.
9. Maimonides, Mishnah Torah’,
Moznaim Publishing Corporation, Brooklyn, New York, 1990, Chapter
10, English version, h.184.
10. Ibid., Chapter 10, h.184.
11. Herbert Danby, translator, ‘The
Code of Maimonides’, vo1.10, Yale
University Press, New Haven, 1954, h. 8-9.
12. ‘Judaism on Trial’, h.26.
13. ‘Judaism on Trial’, h.28.
14. Tikkun, ‘Bimonthly Jewish Critique,
edisi May-June, 1994.
15. William Popper, ‘The Censorship of Hebrew Book’, h.59.
16. ‘The New Republic’, Edisi 4 May
1992; juga Roman A.Foxbrunner,
‘Habad: The Hasidism of Shneur
Zalman of Lyadi’, Jason Aronson, Inc.,
Northvale, New Jersey, 1993, h. 108-109.
17. “Kepercayaan takhayul perayaan
itu diwarisi dari nenek-moyang orang
Yahudi’” Canadian Jewish News edisi
November 16, 1989, h.58
18. Israeli Mcchon-Mamre Website, August 7, 1999; Hayyim Vital St.,
Jerusalem, (Mechon-Mamre adalah
kelompok kecil sarjana Taurat di Israel
cf. Indra Adil dan Bambang
E.Budhiyono, eds., ‘Skenario Besar
Penghancuran Bangsa-bangsa’, Mimeograf, barani.net, Jakarta,
Desember 2000).
memperkaya pengetahuan ita tentang
apa yang terjadi didunia ini, dan siapa
mereka (Yahudi Zionis) dn apa yang
mereka anut selama ini, Siapa mereka,
asal-usul serta tujuan mereka, semoga sedikit ulasan singkat ini bisa
membuka mata hati kita tentang apa
yang terjadi pada dunia saat ini...
mudah-mudahan sedikit suguhan ini
bisa mempertebal Iman kita.
Ajaran2 dari Illuminati intinya didasarkan pada ajaran Kaballah dari
Mesir kuno yang berbasis pada
‘Mistisme’. Memanggil mahluk halus,
bekerja sama dengan mereka,
memiliki teknologi canggih berkat
bantuan mahluk halus bukan hal baru bagi mereka.
Mereka tidak harus selalu menguasai
jabatan negara secara formal, tetapi
mereka mampu “mencuci
otak” (brainwashed) para pengambil
keputusannya agar melaksanakan rencana-rencana mereka.
Di suatu negara, presidennya dapat
saja orang yang non Yahudi (goyim),
tetapi jiwa pemerintahan, struktur
budaya, serta perekonomiannya
harus tunduk dan diperbudak oleh sistem Iluminasi Yahudi. Untuk itu,
mereka harus menguasai Perserikatan
Bangsa-bangsa (PBB) dengan cara
melakukan berbagai lobi tingkat
tinggi.
Iluminasi telah menetapkan tujuh prinsip utamanya, yaitu sebagai
berikut: 1. Menghapuskan seluruh
pemerintahan yang berorientasi
kepada nasionalisme (aboliton of
all national government)
2. Menghapuskan seluruh agama
kecuali ajaran setan (abolition of all religions except satanism)
3. Menghapuskan nilai-nilai
kehidupan keluarga –individu
harus tunduk
4. Menghapuskan hak pemilikan
pribadi (abolition of private property)
5. Menghapuskan nilai pajak yang
tinggi (abolition of inheritance by
high inheritance taxes)
6. Menghapuskan-jiwa patriot
(abolition of patriotism) 7. Menciptakan pemerintahan
dunia dengan memperalat
Perserikatan Bangsa-bangsa yang
telah dikuasai kaum Iluminasi
(Creation of the world government
under the United Nations by Illuminati)
Manusialah yang menentukan
segalanya di bawah bimbingan
kekuasaan setan Lucifer. (lihat lebih lanjut di:
http://
kabarnet.wordpress.com/2010/09/23/
illuminati-organisasi-rahasia-yahudi-
qabala/
http:// atik085641095564.wordpress.com/2010/07/13/
illuminati-freemasonry-dan-novus-
ordo-seclorum/) Kabbalah atau Qibil dalam bahasa
Ibrani awalnya adalah istilah yang
netral, yang secara harfiah memiliki
arti sebagai ‘lisan’. Namun
belakangan, ketika kaum Yahudi
menggunakan istilah ini untuk menyembunyikan dan memelihara
kepercayaan mistis-esoteris kelompok
mereka, maka istilah ini menjadi
sangat politis. Encarta Encyclopedia
(2005) menuliskan bahwa istilah
Kabbalah berasal dari bahasa Ibrani yang memiliki pengertian luas sebagai
ilmu kebatinan Yahudi atau Judaism
dalam bentuk dan rupa yang amat
beragam dan hanya dimengerti oleh
sedikit orang. Zionisme adalah akidah dan metode
kerja Yahudi yang berasal dari Kitab
Perjanjian Lama secara ringkas.
Akidah ini secara rinci dapat Anda
temukan dalam Talmud: ajaran yang
paling rasis juga diskriminatif; sebuah kitab paling berbahaya yang pernah
ada di muka bumi. Louis Daste di dalam bukunya ‘Yahudi dan
Organisasi Rahasia’ mengatakan;
Dalam setiap perubahan pemikiran
besar terdapat pengaruh Yahudi
baik yang nampak ataupun
rahasia. Sepanjang sejarah dunia, Yahudi memasukkan ribuan racun
berbahaya. Al-Quran sering menggunakan
sebutan Ahlul Kitab untuk kaum
Yahudi, dan yang dimaksud Ahlul
Kitab juga termasuk orang-orang
Nasrani, jadi Ahlul Kitab adalah
sebutan untuk orang-orang Yahudi dan Nasrani. Di antara beberapa surat
dalam Al-Quran yang banyak
menjelaskan tentang hal-hal yang
berkaitan dengan kaum Yahudi
adalah QS. Al Baqarah, Ali ‘Imran, Al
Maidah, At-Taubah. “Sesungguhnya kamu dapati orang-
orang yang paling keras
permusuhannya terhadap orang-
orang yang beriman ialah orang-
orang Yahudi dan orang-orang
musyrik”. (QS.Al Ma'idah: 82) Dalam buku “An Interview of Illan
Pappe, ” Baudoin Loos menyebutkan
seorang sejarawan Yahudi Illan Pappe
yang menyandang julukan “Orang
Israel yang paling dibenci di Israel”.
Pappe adalah salah satu Yahudi yang memilih memihak pada hati nurani
dan tanpa takut membongkar mitos-
mitos Zionisme. Saat ditanya, kenapa
orang Israel bisa melakukan berbagai
kekejaman terhadap orang Palestina,
Pappe menjawab, “Ini buah dari sebuah proses panjang pengajaran
paham, indoktronasi, yang dimulai
sejak usia taman kanak-kanak, semua
anak Yahudi di Israel dididik dengan
cara ini. Anda tidak dapat
menumbangkan sebuah sikap yang ditanamkan di sana dengan sebuah
mesin indoktrinasi yang kuat, yaitu
menciptakan sebuah persepsi rasis
tentang orang lain yang digambarkan
sebagai primitif, hampir tidak pernah
ada, dan penuh kebencian: Orang itu memang penuh kebencian, tapi
penjelasan yang diberikan di sini
adalah ia terlahir primitif, Islam, anti-
Semit, bukan bahwa ia adalah seorang
yang telah dirampas tanahnya.”(Ayat-
ayat Hitam TALMUD, Prof. Dr. Muhammad asy-Syarqawi Penerbit:
SAHARA) Pendahuluan Kitab Talmud adalah kitab suci yang
terpenting bagi kaum Yahudi, bahkan
lebih penting daripada Kitab Taurat.
Kitab Talmud bukan saja menjadi
sumber dalam penetapan hukum
agama, tetapi juga menjadi ideologi dan prinsip-prinsip, serta arahan bagi
penyusunan kebijakan negara dan
pemerintah Yahudi Israel, dan menjadi
pandangan hidup orang Yahudi pada
umumnya. Itu pula sebabnya
mengapa negara Yahudi Israel disebut sebagai negara yang rasis,
chauvinistik, theokratik, konservatif,
dan sangat dogmatik. Untuk dapat
memahami sepak-terjang negara
Israel yang tampak arogan, keras-
kepala, tidak kenaI kompromi, orang perlu memahami isi ajaran Kitab
Talmud, yang diyakini oleh orang
Yahudi sebagai kitab suci yang
terpenting di antara kitab-kitab suci
mereka.
Keimanan orang Yahudi terhadap Kitab Talmud mengatasi bahkan Kitab
Perjanjian Lama, yang juga dikenal
dengan nama Taurat. Bukti tentang
hal ini dapat ditemukan dalam Talmud
‘Erubin’ 2b (edisi Soncino) yang
mengingatkan kepada kaum Yahudi, “Wahai anakku, hendaklah engkau
lebih mengutamakan fatwa dari para
Ahli Kitab (Talmud) daripada ayat-ayat
Taurat”. Para pendeta Talmud mengklaim
sebagian dari isi Kitab Talmud
merupakan himpunan dari ajaran
yang disampaikan oleh Nabi Musa a.s.
secara lisan. Sampai dengan
kedatangan Nabi Isa a.s. Kitab Talmud belum dihimpun secara tertulis seperti
bentuknya yang sekarang. Nabi Isa
a.s. mengutuk tradisi
‘mishnah’ (Talmud awal) termasuk
mereka yang mengajarkannya (para
pendeta Yahudi dan kaum Farisi), karena isi Kitab Talmud seluruhnya
menyimpang, bahkan bertentangan
dengan Kitab Taurat. Kaum Kristen,
karena ketidak-pahamannya, hingga
dewasa ini menyangka Perjanjian
Lama merupakan kitab tertinggi bagi agama Yahudi. Sangkaan itu keliru.
Para pendeta Parisi mengajarkan,
doktrin dan fatwa yang berasal dari
para rabbi (pendeta), lebih tinggi
kedudukannya daripada wahyu yang
datang dari Tuhan. Talmud mengemukakan hukum-hukumnya
berada di atas Taurat, dan bahkan
tidak mendukung isi Taurat. Seorang
peneliti Yahudi, Hyam Maccoby, dalam
bukunya ‘Judaism on Trial’ mengutip
pemyataan Rabbi Yehiel ben Joseph, bahwa “Tanpa Talmud kita tidak akan
mampu memahami ayat-ayat Taurat …
Tuhan telah melimpahkan wewenang
ini kepada mereka yang arif, karena
tradisi merupakan suatu kebutuhan
yang sama seperti kitab-kitab wahyu. Para arif itu membuat tafsiran mereka
… dan mereka yang tidak pernah
mempelajari Talmud tidak akan
mungkin mampu memahami Taurat.” Memang ada kelompok di kalangan
kaum Yahudi yang menolak Talmud,
dan tetap berpegang teguh kepada
kitab Taurat saja (Perjanjian Lama
yang sekarang) Mereka ini disebut
golongan ‘Karaiyah’, kelompok yang sepanjang sejarahnya paling dibenci
dan menjadi korban didzalimi oleh
para pendeta Yahudi orthodoks.
Kepada tradisi ‘mishnah’ itu para
pendeta Yahudi menambah sebuah
kitab lagi yang mereka sebut ‘Gemarah’ (kitab “tafsir” para
pendeta). Tradisi ‘mishnah’ (yang
kemudian dibukukan) bersama
dengan “Gemarah’, disebut Talmud.
Ada dua buah versi Kitab Talmud,
yaitu ‘Talmud Jerusalem’ dan ‘Talmud Babilonia’. ‘Talmud Babilonia’
dipandang sebagai kitab yang paling
otoritatif.1
Beberapa kutipan yang diangkat dari
Kitab Tamud dalam uraian berikut ini
merupakan dokumen aseli yang tidak-terbantahkan, dengan harapan
dapat memberikan pencerahan
kepada segenap ummat manusia,
termasuk kaum Yahudi, tentang
kesesatan dan rasisme dari ajaran
Talmud yang penuh dengan kebencian, yang menjadi kitab suci
baik bagi kaum Yahudi Orthodoks
maupun Hasidiyah di seluruh dunia.
Pelaksanaan ajaran Talmud tentang
keunggulan kaum Yahudi yang
dldasarkan pada ajaran kebencian itu telah menyebabkan penderitaan yang
tak terperikan terhadap orang lain
sepanjang sejarah ummat manusia
sampai dengan saat ini, khususnya di
tanah Palestina. Ajaran itu telah
dijadikan dalih untuk membenarkan pembantaian secara massal penduduk
sipil Arab-Palestina. Kitab Talmud
menetapkan bahwa semua orang
yang bukan-Yahudi disebut “goyyim”,
sama dengan binatang, derajat
mereka di bawah derajat manusia. Ras Yahudi adalah “ummat pilihan”, satu-
satunya ras yang mengklaim diri
sebagai keturunan langsung dari Nabi
Adam a.s. Marilah kita periksa
beberapa ajaran Talmud. Beberapa Contoh Isi Ajaran Talmud Erubin 2b, “Barangsiapa yang tidak
taat kepada para rabbi mereka akan
dihukum dengan cara dijerang di
dalam kotoran manusia yang
mendidih di neraka”.
Moed Kattan 17a, “Bilamana seorang Yahudi tergoda untuk melakukan
sesuatu kejahatan, maka hendaklah ia
pergi ke suatu kota dimana ia tidak
dikenal orang, dan lakukanlah
kejahatan itu disana”
Sanhedrin 57a, “Seorang Yahudi tidak wajib membayar upah kepada orang
kafir yang bekerja baginya”. Some Talmudic Doctrine: Erubin 2b,
"Whoever does
not obey the rabbis they would be
punished by
boiling in excrement in hell. "
Moed twisted 17a, "When a Jew is tempted
to do something evil, then let
him go into a city, and he
is not known, and do the crime there.
" Persecute a Jew, His
sentence is Dead Sanhedrin 58b, "If a persecuting a Jew, then infidels should be
killed". Be allowed, Deceiving to the Non-
Jewish People Sanhedrin 57a, "A Jew is not obliged
to pay wages, to the heathen
who worked for him". Jews Have Higher Legal Position Baba Kamma 37b, "If ox
of a Jew wounded the Canaanites ox,
there's no need for compensation;
but if the ox of the
Canaanites, injuring cattle belonging
to Jews,then that person must pay compensation to its fullest. " Jews May Steal Property Non-Jews Baba Mezia 24a, "If a Jew finds lost
property owned by the unbelievers,
he is not obliged to return it to the
owner. "
(This paragraph was
reaffirmed in Baba Kamma 113b). Allowed Robbing or Kill the People of
Non-Jews Sanhedrin 57a, "If a Jew kills a Cuthea (infidel), no death penalty.
What has been stolen by a Jew should
belong to jews. "
Baba Kamma 37b, "The infidel is outside
of the law protection & the
Lord opened their money to the Children of Israel. " Lying is allowed to non-jews Baba Kamma 113a, "The Jews are
allowed to lie to deceiveinfidels. " Non-Jews are animals Yebamoth 98a, "All children who
disbelieve are animals. "
Abodah Zarah 22a - 22b, "The infidel prefer sex with cows". Orang Yahudi Mempunyai
Kedudukan Hukum yang Lebih
Tinggi Baba Kamma 37b, “Jika lembu
seorang Yahudi melukai lembu
kepunyaan orang Kanaan, tidak perlu
ada ganti rugi; tetapi ,jika lembu orang
Kanaan sampai melukai lembu
kepunyaan orang Yahudi maka orang itu harus membayar ganti rugi
sepenuh-penuhnya”. Orang Yahudi Boleh Mencuri Barang
Milik Bukan-Yahudi Baba Mezia 24a, “Jika seorang Yahudi
menemukan barang hilang milik
orang kafir, ia tidak wajib
mengembalikan kepada pemiliknya”.
(Ayat ini ditegaskan kembali di dalam
Baba Kamma 113b), Orang Yahudi Boleh Merampok atau
Membunuh Orang Non-Yahudi Sanhedrin 57a, “Jika seorang Yahudi
membunuh seorang Cuthea (kafir),
tidak ada hukuman mati, Apa yang
sudah dicuri oleh seorang Yahudi
boleh dimilikinya”. Orang Yahudi Boleh Berdusta
kepada Orang Non-Yahudi Baba Kamma 113a, “Orang Yahudi
diperbolehkan berdusta untuk
menipu orang kafir”. Yang Bukan-Yahudi adalah Hewan
di bawah Derajat Manusia Yebamoth 98a, “Semua anak
keturunan orang kafir tergolong sama
dengan binatang”.
Abodah Zarah 36b, “Anak-
perempuan orang kafir sama dengan
‘niddah’ (najis) sejak lahir”. Abodah Zarah 22a - 22b, “Orang kafir
lebih senang berhubungan seks
dengan lembu”. Ajaran Gila di dalam Talmud: Gittin 69a, “Untuk menyembuhkan
tubuh ambil debu yang berada di
bawah bayang-bayang jamban,
dicampur dengan madu lalu
dimakan“. Shabbath 41a, “Hukum yang
mengatur keperluan bagaimana
kencing dengan cara yang suci telah
ditentukan”.
Yebamoth 63a, ” … Adam telah
bersetubuh dengan semua binatang ketika ia berada di Sorga”.
Yebamoth 63a, “…menjadi petani
adalah pekerjaan yang paling hina “.
Sanhedrin 55b, “Seorang Yahudi
boleh mengawini anak-perempuan
berumur tiga tahun (persisnya, tiga tahun satu hari)”.
Sanhedrin 54b, “Seorang Yahudi
diperbolehkan bersetubuh dengan
anak-perempuan, asalkan saja anak
itu berumur di bawah sembilan
tahun”. Kethuboth 11b, “Bilamana seorang
dewasa bersetubuh dengan seorang
anak perempuan, tidak ada dosanya”.
(PADAHAL JELAS2X DALAM 10
PERINTAH ALLAH YANG DITURUNKAN
MELALUI NABI MUSA A.S., DIHARAMKAN UNTUK BERZINA). Yebamoth 59b, “Seorang
perempuan yang telah bersetubuh
dengan seekor binatang
diperbolehkan menikah dengan
pendeta Yahudi. Seorang
perempuan Yahudi yang telah bersetubuh dengan jin juga
diperbolehkan kawin dengan
seorang pendeta Yahudi”. HADIST RASULULLAH SAW mengenai
10 Perintah Allah swt. kepada nabi
Musa as. Dalam Kitab Taurat (Keluaran
20:1-17 dan Ulangan 5:4-22) tertulis
10 Perintah Allah (The Ten
Commandments). Kesepuluh Perintah Allah ini tertulis pada dua batu yang
dibawa nabi Musa ketika turun dari
gunung Sinai. Sepuluh Hukum Allah ini
disadari atau tidak disadari berlaku
bagi semua manusia apa pun
agamanya. Abul-Laits Assamarqandi meriwayatkan kepada sanadnya dari
Jabir bin Abdillah r.a. berkata
Rasulullah S.A.W bersabda : "Allah
S.W.T. telah memberikan kepada Nabi
Musa bin Imran a.s. dalam alwaah 10
bab : • Wahai Musa jangan menyekutukan Aku dengan suatu
apa pun bahwa aku telah
memutuskan bahwa api neraka akan
menyambar muka orang-orang
musyrikin. • Taatlah kepada-Ku dan
kedua orang tuamu niscaya Aku pelihara kamu dari segala bahaya dan
akan Aku lanjutkan umurmu dan Aku
hidupkan kamu dengan penghidupan
yang baik. • Jangan sekali-kali
membunuh jiwa yang Aku haramkan
kecuali dengan hak niscaya akan menjadi sempit bagimu dunia yang
luas dan langit dengan semua
penjurunya dan akan kembali engkau
dengan murka-Ku ke dalam api
neraka. • Jangan sekali-kali sumpah
dengan nama-Ku dalam dusta atau durhaka sebab Aku tidak akan
membersihkan orang yang tidak
mensucikan Aku dan tidak
mengagung-agungkan nama-Ku. •
Jangan hasud dengki dan irihati
terhadap apa yang Aku berikan kepada orang-orang, sebab
penghasut itu musuh nikmat-Ku,
menolak kehendak-Ku, membenci
kepada pembagian yang Aku berikan
kepada hamba-hamba-Ku dan siapa
yang tidak meninggalkan perbuatan tersebut, maka bukan daripada-Ku. •
Jangan menjadi saksi terhadap apa
yang tidak engkau ketahui dengan
benar-benar dan engkau ingat
dengan akalmu dan perasaanmu
sebab Aku menuntut saksi-saksi itu dengan teliti atas persaksian mereka.
• Jangan mencuri dan jangan berzina
dengan isteri tetanggamu sebab
niscaya Aku tutup wajah-Ku
daripadamu dan Aku tutup pintu-
pintu langit daripadanya. • Jangan menyembelih kurban untuk selain
dari-Ku sebab Aku tidak menerima
kurban kecuali yang disebut nama-Ku
dan ikhlas untuk-Ku. • Cintailah
terhadap sesama manusia
sebagaimana yang engkau suka terhadap dirimu sendiri. • Jadikan hari
Sabtu itu hari untuk beribadat
kepada-Ku dan hiburkan anak
keluargamu. Abodah Zarah 17a, “Buktikan
bilamana ada pelacur seorangpun di
muka bumi ini yang belum pernah
disetubuhi oleh pendeta Talmud
Eleazar”.
Hagigah 27a, “Nyatakan, bahwa tidak akan ada seorang rabbi pun yang
akan masuk neraka”.
Baba Mezia 59b, “Seorang rabbi telah
mendebat Tuhan dan mengalahkan-
Nya. Tuhan pun mengakui bahwa
rabbi itu memenangkan debat tersebut”. (ASTAGFITULLAH, RABBI
(PENDETA YAHUDI) BERDEBAT DGN
TUHAN? BAHKAN NABI PUN TIDAK
PERNAH BERDEBAT DGN TUHAN DAN
MEMATUHI PERINTAH TUHAN! ) Gittin 70a, “Para rabbi mengajarkan,
‘Sekeluarnya seseorang dari jamban,
maka ia tidak boleh bersetubuh
sampai menunggu waktu yang sama
dengan menempuh perjalanan sejauh
setengah mil, konon iblis yang ada di jamban itu masih menyertainya selama
waktu itu, kalau ia melakukannya
juga (bersetubuh), maka anak-
keturunannya akan terkena penyakit
ayan”.
Gittin 69b, “Untuk menyembuhkan penyakit kelumpuhan campur
kotoran seekor anjing berbulu putih
dan campur dengan balsem; tetapi bila
memungkinkan untuk menghindar
dari penyakit itu, tidak perlu memakan
kotoran anjing itu, karena hal itu akan membuat anggota tubuh menjadi
lemas “. (MEMAKAN KOTORAN ANJING
DIPERBOLEHKAN? BAHKAN DAGING
ANJING SAJA HARAM..APALAGI
KOTORANNYA.. )
Pesahim 11a, “Sungguh terlarang bagi anjing, perempuan, atau pohon
kurma, berdiri di antara dua orang
laki-laki. Karena musibah khusus
akan datang jika seorang perempuan
sedang haid atau duduk-duduk di
perempatan jalan “. Menahoth 43b-44a, “Seorang Yahudi
diwajibkan membaca doa berikut ini
setiap hari, ‘Aku bersyukur, ya
Tuhanku, karena Engkau tidak
menjadikan aku seorang kafir,
seorang perempuan, atau seorang budak belian’ “. (BERSYUKUR KARENA
TIDAK MENJADI PEREMPUAN??? INI
SUNGGUH AJARAN JAHILIYAH SBLM
NABI MUHAMMAD SAW LAHIR, DIMANA
WAKTU ITU BAYI PEREMPUAN
DIBUNUH,DAN MELAHIRKAN ANAK PEREMPUAN DIANGGAP BENCANA.) Kisah-kisah Holocaust oleh Romawi
Di dalam Talmud, ayat Gittin 57b
ada dikisahkan tentang
dibantainya 4 juta orang Yahudi
oleh orang Romawi di kota Bethar.
Gittin 58a, mengklaim bahwa 16 juta anak-anak Yahudi dibungkus
ke dalam satu gulungan dan
dibakar hidup-hidup oleh orang
Romawi.
Demografi tentang zaman kuno
menyatakan orang Yahudi di seluruh dunia pada masa
penjajahan oleh Romawi tidak
sampai berjumlah 16 juta, bahkan 4
juta pun tidak ada!! SUNGGUH
PENIPUAN BESAR..).
Pengakuan Talmud Abodah Zarah 70a, “Seorang rabbi
ditanya, apakah anggur yang dicuri di
Pumbeditha boleh diminum, atau
anggur itu sudah dianggap najis,
karena pencurinya adalah orang-
orang kafir (seorang bukan-Yahudi bila menyentuh guci anggur, maka
anggur itu dianggap sudah najis).
Rabbi itu menjawab, tidak perlu
dipedulikan, anggur itu tetap halal
(’kosher’) bagi orang Yahudi, karena
mayoritas pencuri yang ada di Pumbeditha, tempat dimana guci-guci
anggur itu dicuri, adalah orang-orang
Yahudi”. (Kisah ini juga ditemukan di
dalam Kitab Gemara, Rosh Hashanah
25b). Ibadah Orang Farisi Erubin 21 b, “Rabbi Akida berkata
kepadanya, ‘Berikan saya air untuk
mencuci tangan saya’. Ia menjawab,
‘Air itu tidak cukup bahkan untuk
diminum, apalagi untuk membasuh
tanganmu’ keluhnya. ‘Lalu apa yang harus saya perbuat ?’ tanya seseorang
lainnya, ‘padahal engkau tahu
menentang ucapan seorang rabbi
diancam dengan hukuman mati?’
‘Saya lebih baik mati daripada
menentang pendapat kawan-kawan saya’ ” (Ritual cuci tangan ini terekam
dikutuk Nabi Isa a.s. dalam Injil Matius
15 : 1- 9). Genosida Dihalalkan oleh Talmud Perjanjian Kecil, Soferim 15, Kaidah 10,
“Inilah kata-kata dari Rabbi Simeon
ben Yohai, ‘Tob shebe goyyim
harog’ (”Bahkan orang kafir yang
baik sekali pun seluruhnya harus
dibunuh”). Orang-orang Israeli setiap tahun mengikuti acara nasional ziarah
ke kuburan Simon ben Yohai untuk
memberikan penghormatan kepada
rabbi yang telah menganjurkan untuk
menghabisi orang-orang non-
Yahudi.2 Di Purim, pada tanggal 25 Februari
1994 seorang perwira angkatan darat
Israel, Baruch Goldstein, seorang
Yahudi Orthodoks dari Brooklyn,
membantai 40 orang muslim,
termasuk anak-anak, tatkala mereka tengah bersujud shalat di sebuah
masjid. Goldstein adalah pengikut
mendiang Rabbi Meir Kahane, yang
menyatakan kepada kantor berita CBS
News, bahwa ajaran yang dianutnya
mengatakan orang-orang Arab itu tidak lebih daripada anjing, sesuai
ajaran Talmud”.3 Ehud Sprinzak,
seorang profesor di Universitas
Jerusalem menjelaskan tentang
falsafah Kahane dan Goldstein,
“Mereka percaya adalah teiah menjadi iradat Tuhan, bahwa mereka
diwajibkan untuk melakukan
kekerasan terhadap ‘goyyim’, sebuah
istilah Yahudi untuk orang-orang
non-Yahudi”.4
Rabbi Yizak Ginsburg menyatakan, “Kita harus mengakui darah seorang
Yahudi dan darah orang ‘goyyim’
tidaklah sama”.5 Rabbi Jacov Perrin
berkata, “Satu juta nyawa orang Arab
tidaklah seimbang dengan sepotong
kelingking orang Yahudi”.6 Doktrin Talmud : Orang non- Yahudi
Bukanlah Manusia Talmud secara spesifik menetapkan
orang non-Yahudi termasuk
golongan binatang, bukan-manusia,
dan secara khusus menyatakan
bahwa mereka bukan dari keturunan
Nabi Adam a.s. Ayat-ayat yang berkaitan itu ditemukan bertebaran di
dalam Kitab Talmud, antara lain
sebagai berikut : Kerihoth 6b, “Menggunakan
minyak untuk mengurapi. Rabbi
kita mengajarkan, ‘Barangsiapa
menyiramkan minyak pengurapan
kepada ternak atau perahu, ia
tidak melakukan dosa; bila ia melakukannya kepada ‘goyyim’,
atau orang mati, dia tidak
melakukan dosa. Hukum yang
berhubungan dengan ternak dan
perahu adalah benar, karena telah
tertulis: terhadap tubuh manusia (Ibrani: Adam) tidak boleh
disiramkan (Exodus 30:32); karena
ternak dan perahu bukan manusia
(Adam)’ “. “Juga dalam hubungan
dengan yang meninggal
(sepatutnya) ia dikecualikan, karena setelah meninggal ia
menjadi bangkai dan bukan
manusia lagi (Adam). Tetapi
mengapa terhadap ‘goyyim’ juga
dikecualikan, apakah mereka
tidak termasuk kategori manusia (Adam) ?Tidak, karena telah
tertulis: ‘Wahai domba-domba-Ku,
domba-domba di padang
gembalaan-Ku adalah manusia
(Adam)’ (Ezekiel 34:31): Engkau
disebut manusia (Adam), tetapi ‘goyyim’ tidak disebut sebagai
manusia (Adam)’ “. Pada ayat-ayat terdahulu para rabbi
membahas hukum Talmud yang
melarang memberikan minyak suci
bagi manusia. Dalam pembahasan itu
para rabbi menjelaskan bukanlah
suatu dosa untuk membenkan miyak suci itu kepada ‘goyyim’ (kaum non-
Yahudi, seperti muslim, Kristen, dan
sebagainya), karena ‘goyyim’ tidak
termasuk golongan manusia
(harfiahnya: bukan keturunan Adam).
Yebamoth 61a, “Telah diajarkan: Begitulah Simeon ben Yohai
menerangkan (61a) bahwa kuburan
orang ‘goyyim’ tidak termasuk tempat
yang suci untuk mendapatkan
‘ohel’ (memberikan sikap ruku’
terhadap kuburan), karena telah dikatakan, wahai domba-domba-Ku
yang ada di padang gembalaan-Ku,
kalian adalah manusia (Adam)’,
(Ezekiel 34:31); kalian disebut
manusia (Adam); tetapi kaum kafir ltu
tldak dlsebut manusia (Adam)’ “. Hukum Talmud menerangkan bahwa
seorang Yahudi yang menyentuh
bangkai manusia tau kuburan
(Yahudi) menyebabkan ia ternajisi.
Tetapi hukum Talmud mengajarkan,
sebaliknya, jika seorang Yahudi menyentuh kuburan orang goyyim,
hal itu membuat ia tetap suci, karena
orang goyyim tidak termasuk
golongan manusia (Adam). Baba Mezia 114b, “Dia (Rabbah)
berkata kepadanya: ‘Apakah engkau
bukan pendeta: mengapa engkau
berdiri di atas kuburan ? Ia menjawab:
‘Apakah guru belum mempelajari
hukum tentang kesucian? Karena telah diajarkan: Simeon ben Yohai
berkata:‘Kuburan kaum ‘goyyim’ tidak
menajisi. Karena telah tertulis, ‘Wahai
gembalaan-Ku gembalaan di padang
rumput-Ku adalah manusia (Adam),
dan ia berdiri di atas kuburan kaum ‘goyyim’ “.
Mengingat pembuktian berdasarkan
nash Taurat (Ezekiel 34:31). disebut
sampai beru1ang-kali pada ketiga
ayat-ayat Talmud di atas tadi, padahal
dalam kenyataannya Taurat tidak pernah menyebutkan bahwa hanya
orang Yahudi saja yang termasuk
golongan manusia. Para ‘hachom’
Talmud sangat menekankan
kekonyo1an ajaran mereka tentang
kaum ‘goyyim’. Hal itu merupakan bukti bahwa mereka sebenarnya
adalah rasis dan ideolog anti-kaum
non-Yahudi, yang dalam kebuntuan
nalarnya telah mendistorsikan ayat-
ayat Taurat dalam rangka
membenarkan kesesatan mereka. Berakoth 58a, “Shila seorang Yahudi
memberikan hukuman cambuk
kepada seseorang yang telah
bersetubuh dengan seorang
perempuan Mesir: Orang yang
dicambuk itu pergi mengadukannya kepada pemerintah, dan berkata: ‘Ada
seorang Yahudi yang memberikan
hukuman cambuk tanpa izin dari
pemerintah’. Seorang petugas
memerintahkan untuk memanggilnya
(Shila). Ketika ia (Shila) tiba, ia ditanya: ‘Mengapa engkau mencambuk orang
ini?’ Ia (Shila) menjawab: ‘ Karena ia
telah menyetubuhi keledai betina’ “.
“Petugas itu berkata kepadanya:
‘Apakah engkau mempunyai saksi-
saksi?’ Ia(Shila) menjawab ‘Saya mempunyainya’. Kemudian (nabi)
Elijah turun dari langit dalam bentuk
manusia dan memberikan bukti.
Petugas itu berkata lagi kepadanya:
‘Kalau demikian halnya seharusnya
orang itu dihukum mati!’ Ia (Shila) menjawab: ‘Karena kami telah
diasingkan dari negeri kami, kami
tidak mempunyai wewenang untuk
menjatuhkan hukuman mati;
lakukanlah terhadapnya sesuai
kehendak kalian’ “ “Ketika mereka masih
mempertimbangkan perkara itu Shila
pun berteriak.• ‘Kepada-Mulah ya
Tuhan Yang Maha Besar dan Maha
Kuasa’ (Kisah-kisah 29:11). ‘Apa
kehendakmu? tanya petugas itu. Ia (Shila) menjawab.• ‘Apa yang
kukatakan ialah: Terpujilah Yang Maha
Pengasih yang telah menciptakan
segala sesuatunya dari tanah serupa
dengan Yang di Sorga, dan telah
memberikan kepadamu sekalian tempat tinggal, dan membuat kalian
mencintai keadilan’ “,
“Petugas itu berkata kepadanya
(Shila).• ‘Apakah engkau sedemikian
membantu kepada kehormatan
pemerintah?’ Petugas itu memberi Shila sebuah tongkat dan berkata
kepadanya: ‘Engkau boleh menjadi
hakim. ‘ Tatkala petugas (orang
‘goyyim’) itu telah pergi, orang-orang
yang ada disana berkata kepadanya
(Shila).• ‘Apakah Yang Maha Pengasih membuat mu’zizat bagi kaum
pendusta?’. Ia (Shila) menjawab:
“mereka (’goyyim’) disebut keledai?
Karena telah tertulis: Daging mereka
adalah daging keledai’ (Ezekiel 23:30) Ia (Shila) memperhatikan orang-
orang itu akan memberi-tahukan
petugas-petugas itu bahwa ia (Shila)
telah menyebut mereka sebagai
keledai. Maka ia (Shila) berkata.•
‘Orang itu adalah penuntut hukum, dan Taurat telah mengatakan: Jika
seseorang datang untuk
membunuhmu, bangkitlah segera dan
bunuh dia lebih dahulu. Begitulah
tongkat yang diberikan kepadanya itu
dipukulkannya kepada terdakwa dan membunuhnya.’ Kemudian ia berkata:
‘Karena sebuah mu’zizat telah terjadi
melalui ayat ini, maka aku
melaksanakannya’ “. Bagian ini terpaksa diutarakan
agak panjang, tetapi agaknya
terpaksa dikutip seluruhnya untuk
memperlihatkan bagaimana
kedzaliman kaum Yahudi. Sebagai
tambahan bahwa nabi Elijah sampai perlu turun dari sorga ke
bumi untuk menipu mahkamah
kaum goyyim, disini Talmud
mengajarkan, bahwa kaum
‘goyyim’ pada dasamya adalah
binatang, sehingga karena itu Rabbi Shila (dan nabi Elijah) sama
sekali tidaklah dapat disebut telah
berdusta atau telah membuat dosa.
Ceritera itu menjelaskan bahwa
sekiranya seseorang (termasuk
orang Yahudi) mengungkapkan ajaran Talmud pandangan tentang
kaum ‘goyyim’ sama dengan
keledai, maka ia akan menerima
hukuman mati. Karena
mengungkapkan hal itu akan
membuat kaum ‘goyyim’ murka dan akan menindas agama Yahudi.
Kutipan Talmud dari kitab Ezekiel
ini merupakan “nash bukti” sangat
penting, karena ayat itu
menyatakan bahwa kaum
‘goyyim’ itu termasuk golongan binatang (keledai). Ayat dari kitab
Ezekiel pada Kitab Perjanjian lama
telah diubah dengan hanya
mengatakan bahwa “orang Mesir
memiliki kemaluan yang
besar” (sindiran - sama dengan keledai). Hal ini tidak
membuktikan atau menegaskan
secara eksplisit bahwa orang Mesir
yang dirujuk oleh Taurat sarna
dengan binatang. Dalam hal ini
Talmud memalsukan Taurat dengan cara mendistorsikan tafsir. Beberapa ayat Talmud yang lain yang
mengkaitkannya dengan kitab Ezekiel
23:30 yang memperlihatkan watak
rasis orang Yahudi ditemukan dalam
Arakin 19b, Berakoth 25b, Niddah
45a, Shabbath 150a, dan Yebamoth 98a. Lagipula nash aseli Sanhedrin
37a hanya mengkaitkannya dengan
persetujuan Tuhan untuk
penyelamatan kaum Yahudi saja.7 Maka benarlah firman Allah dalam Al-
Qur’an yang memberikan informasi &
kritikan bahwa ada Ahli Kitab yang
menulis Alkitab dengan tangan
mereka sendiri lalu dikatakan dari
Allah untuk memperoleh keuntungan yang sedikit: َّﻢُﺛ ْﻢِﻬﻳِﺪْﻳَﺄِﺑ َﺏﺎَﺘِﻜْﻟﺍ َﻥﻮُﺒُﺘْﻜَﻳ َﻦﻳِﺬَّﻠِّﻟ ٌﻞْﻳَﻮَﻓ
ﺎًﻨَﻤَﺛ ِﻪِﺑ ﺍﻭُﺮَﺘْﺸَﻴِﻟ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﺪﻨِﻋ ْﻦِﻣ ﺍَﺬَٰﻫ َﻥﻮُﻟﻮُﻘَﻳ
ﻢُﻬَّﻟ ٌﻞْﻳَﻭَﻭ ْﻢِﻬﻳِﺪْﻳَﺃ ْﺖَﺒَﺘَﻛ ﺎَّﻤِّﻣ ﻢُﻬَّﻟ ٌﻞْﻳَﻮَﻓ ۖ ﺎًﻠﻴِﻠَﻗ
َﻥﻮُﺒِﺴْﻜَﻳ ﺎَّﻤِّﻣ
Maka kecelakaan yAng besarlah
bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka
sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari
Allah", (dengan maksud) untuk
memperoleh keuntungan yang
sedikit dengan perbuatan itu. Maka
kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis
oleh tangan mereka sendiri, dan
kecelakaan yang besarlah bagi
mereka, akibat apa yang mereka
kerjakan.(Al Baqarah : 79) Moses Maimonides Membenarkan
Pembantaian Begawan yang sangat dihormati,
Moses Maimonides, mengajarkan
tanpa tedeng aling-aling, bahwa
kaum Kristen wajib dihabisi. Tokoh
yang memberikan fatwa seperti itu
memiliki kedudukan tertinggi dalam hirarki agama Yahudi.
Moses Maimonides dipandang sebagai
penyusun hukum dan filosuf terbesar
sepanjang sejarah Yahudi. Ia acapkali
dengan penuh rasa hormat disebut
dengan nama Rambam, dan disapa dengan panggilan Rabenu Moshe ben
Maimon, yang artinya ‘Rabbi Kami
Musa anak Maimun”.8
Inilah yang diajarkan oleh Maimonides
tentang boleh tidaknya
menyelamatkan nyawa kaum ‘goyyim’, atau bahkan’ orang Yahudi
sekali pun yang berani menolak
“inspirasi ilahiyah di dalam Talmud’.
“Sesungguhnya bila kita melihat
seorang kafir (’goyyim’) sedang
terhanyut dan tenggelam di sungai, kita tidak boleh menolongnya. Kalau
kita melihat nyawanya sedang
terancam, kita tidak boleh
menyelamatkannya.”9. Naskah dalam
bahasa Ibrani edisi Feldheim 1981
tentang Mishnah Torah menyebutkan hal yang sarna seperti itu.
Dengan peringatan dari Maimonides
itu, telah diwajibkan bagi kaum
Yahudi untuk tidak boleh
menyelamatkan nyawa atau
memberikan pertolongan kepada seorang ‘goyyim’, ia sebenarnya
menyatakan sikap kaum Yahudi yang
sebenarnya yang dibebankan oleh
Talmud terhadap kaum non-
Yahudi.10
“Hal itu telah merupakan ‘mitvah’ (kewajiban agama) untuk ,
menghabisi para pengkhianat kaum
Yahudi, para ‘minnim’, dan
“apikorsim” dan membuat mereka
jatuh ke dalam lobang kehancuran,
karena mereka telah menyebabkan penderitaan kepada kaum Yahudi,
dan menipu manusia untuk menjauh
dari Tuhan, sebagaimana yang
dilakukan oleh Isa dari Nazareth dan
para muridnya, dan Tzadok, Baithos
dan murid-muridnya. Semoga terla’natlah mereka”.
Komentar penerbit Yahudi itu memuat
pernyataan Maimonides bahwa Nabi
Isa a.s. adalah contoh seorang
‘min’ (”pengkhianat” majemuknya
‘minnim’). Komentar itu juga menerangkan bahwa murid-murid
Tzadok, yaitu kaum Yahudi yang
menolak kebenaran Talmud dan
mereka yang hanya mengakui hukum
tertulis, yakni Taurat. Menurut buku
‘Maimonides’ Principles’ pada h.5, Maimonides memerlukan waktu dua-
belas tahun untuk menyimpulkan
hukum dan keputusan dari Talmud,
dan mensistemasikan kesimpulannya
itu ke dalam 14 jilid. Karya itu akhirnya
selesai pada tahun 1180 dan diberi judul ‘Mishnah Torah’, atau ‘Syari’at
Taurat’. Maimonides mengajarkan pada
bagian lain dari ‘Mishnah Torah’,
bahwasanya kaum ‘goyyim’
bukanlah golongan manusia:
“Hanyalah manusia (kaum Yahudi),
dan bukannya perahu, yang dapat memperoleh najis bila bersentuhan
… Bangkai dari seorang ‘goyyim’
tidak menyebabkan najis bila
bersentuhan dengan bayang-
bayang seorang Yahudi … seorang
‘goyyim’ tidak sampai menyebabkan penajisan; dan bila
seorang ‘goyyim’ menyentuh,
membawa, atau membayangi …
‘goyyim’ itu tidak menyebabkan
najis … mayat seorang ‘goyyim’
tidak menyebabkan menjadi najis; dan sekiranya’” seorang ‘goyyim’
menyentuh, membawa, atau
menjatuhkan bayangannya
kepada mayat, ia dianggap tidak
pernah menyentuh mayat
tersebut.” .11 Film ‘Schindlers List’ - Contoh
Kebohongan Kaum Yahudi Teks Talmud (khususnya Talmud
Babilonia) pada Sanhedrin 37a tidak
mewajibkan orang Yahudi untuk
menyelamatkan nyawa orang lain,
terkecuali nyawa orang Yahudi. Moshe
Maimonides memperkuat ajaran Talmud tersebut. Tetapi, beberapa
buku yang ditulis oleh orang-orang
Yahudi kontemporer (Hesronot Ha-
shas) merujuk beberapa nash dari
Talmud yang seolah-olah memuat
frase nilai-nilai universal, seperti, “Barangsiapa membunuh kehidupan
seseorang, hal itu sama dengan
membunuh seluruh isi dunia; dan
barangsiapa memelihara kehidupan
seseorang,hal itu seperti ia telah
memelihara seluruh isi dunia”. Namun Hesronot Ha-ash mengakui
ayat-ayat di atas tadi BUKAN KATA-
KATA YG OTENTIK dari Talmud yang
aseli. Dengan kata lain, ayat-ayat bemada universal tersebut bukanlah
nash otentik dari Talmud. Jadi sekedar
sebagai contoh, “versi universal” ini
yang oleh Stephen Spielberg
dituangkan ke dalam filmnya ‘The
Schindler’s List’ yang terkenal itu (dan dikaitkan seolah-olah bersumber dari
Talmud pada judul maupun iklan
filmnya) adalah penipuan dan
merupakan propaganda, yang
dimaksudkan untuk memberikan
polesan kemanusiaan kepada Talmud, yang pada hakekatnya adalah kitab
yang penuh berisi semangat rasisme
dan chauvinisme Yahudi. Dalam nash Talmud yang aseli tertulis pada
ayat yang sama, “Barangsiapa
memelihara bahkan satu nyawa
orang Israeli, maka ia seperti
memelihara seluruh isi dunia”.
Sama seperti ayat-ayat yang lain, Talmud yang asli hanya
membicarakan perihal
menyelamatkan orang-orang
Yahudi. Tipuan Orang Yahudi Sanggahan para rabbi orthodoks
bahwa tidak ada bukti dokumentasi
otentik tentang rasisme dan semangat
kebencian di dalam Talmud adalah
bohong besar, karena di dalam Baba
Kamma 113a, menyatakan bahwa “Orang Yahudi boleh berbohong
untuk menipu kaum ’goyyim’ ‘.
The Simon Wiesenthal Center, sebuah
pusat propaganda ruhubiyah Yahudi
yang didukung oleh dana multi-jutaan
dolar terpaksa memecat Rabbi Daniel Landes pada tahun 1995, karena
rabbi ini menentang ajaran
dehumanisasi oleh Talmud terhadap
orang non-Yahudi. “Sikap ini benar-
benar busuk”, katanya. Buktinya ?
“Ya, pernyataan-pernyataan di dalamnya”. Berdusta untuk menipu orang
‘goyyim’ telah lama menjadi
panutan di dalam agama Yahudi.
Ambil contoh sehubungan dengan
debat pada abad ke-13 di Paris
antara Nicholas Donin, seorang Yahudi yang telah memeluk agama
Katolik - yang oleh Hyam Maccoby
diakui mempunyai pengetahuan
yang luas tentang Talmud”12 -saat
berkonfrontasi lawan Rabbi Yehiel.
Pada waktu itu Yehiel tidak sedang berada di bawah ancaman
hukuman, atau dicederai. Namun
tanpa malu tetap saja berdusta
sepanjang debat tersebut. Sebagai
contoh ketika ditanya oleh Donin
apakah ada ayat-ayat yang menghujat Jesus di dalam Talmud,
Yehiel menyanggahnya. Donin,
seorang ahli dalam bahasa lbrani
paham benar jawaban itu dusta
maka. Ryam Maccoby, seorang
komentator Yahudi mengenai debat tersebut, yang hidup di abad
ke-20, membela kebohongan Rabbi
Yehiel seperti ini, “Pertanyaan itu
mungkin diajukan, apakah Yehiel
benar-benar percaya yang Jesus
tidak disebut-sebut di dalam Talmud atau, bisa juga ia
mengajukan pertanyaan ini
sebagai suatu tipuan yang cerdik,
untuk menciptakan keadaan
mendesak Yehiel … tentu saja
Rabbi Yehiel dapat dimaafjkan bila ia tidak mengakui sesuatu yang
tidak sepenuhnya dipercayainya,
dalam rangka mencegah proses
tiranik yang menghadapkan
budaya dari suatu agama tertentu,
terhadap agama yang lain”.13 Beginilah cara orang Yahudi
menyanggah sampai dengan hari
ini tentang adanya nash Talmud
yang mengandung ayat-ayat yang
penuh dengan kebencian. Sebuah
kata tentang “kebohongan Yahudi diplesetkan dan disulap menjadi
“dapat dimaafkan”, sementara
setiap penyelidikan terhadap
kitab-kitab suci Yahudi oleh
peneliti non-Yahudi dipandang
sebagai “proses tiranik”. Sementara itu serangan kaum Yahudi terhadap
kitab-kitab Injil Perjanjian Baru dan
al-Qur’an tidak pernah dianggap
sebagai “proses tiranik”. Hanya kritik kaum non- Yahudi yang
dianggap tiranik, sedangkan cara
mempertahankan diri bagi orang
Yahudi adalah berdusta. (Tidak semua
orang Yahudi bersikap seperti
tersebut di atas. Dr. Israel Shahak dari Hebrew University menulis sebuah
buku lengkap yang diberinya judul
‘Jewish History, Jewish Religion’, yang
mendokumentasikan secara lengkap
muatan anti-’goyyim’ di dalam kitab
Talmud). Betapapun banyaknya sanggahan
dan kebohongan yang keluar dari
‘The Anti-Defamation League’ (ADL -
‘Liga Anti-Penghinaan’ Yahudi) dan
dari the Wiesenthal Center, dalam
buku ini dikutip nash-nash baik dari Talmud maupun juga dari mufassir
Talmud ‚paling’ terkemuka” di mata
orang Yahudi sendiri, seperti Moses
Maimonides, Pada tahun 1994 Rabbi Tzvi Marx,
direktur pendidikan teknologi
terapan pada ‘Shalom Hartman
Institute’ di Jerusalem, telah
menulis semacam pengakuan yang
menakjubkan tentang bagaimana kaum Yahudi di masa yang silam
telah membuat dua jenis kumpulan
kitab: kitab Talmud yang otentik
sebagai bahan pelajaran bagi para
pemuda mereka di sekolah-
sekolah (’kollel’) Talmud, dan sebuah lagi kitab Talmud yang
telah “disensor dan diamendemen”
yang ditujukan bagi konsumsi para
‘goyyim’ yang tidak mengerti apa-
apa. Rabbi Marx menjelaskan
bahwa versi tafsir Maimonides yang dikeluarkan untuk konsumsi
umum, tertulis misalnya,
“Barangsiapa membunuh seorang
manusia, ia telah melanggar
hukum”. Tetapi Rabbi Marx
menyatakan, nash yang aseli berbunyi, ” Barangsiapa membunuh
seorang Israeli”. َّﻢُﺛ ْﻢِﻬﻳِﺪْﻳَﺄِﺑ َﺏﺎَﺘِﻜْﻟﺍ َﻥﻮُﺒُﺘْﻜَﻳ َﻦﻳِﺬَّﻠِّﻟ ٌﻞْﻳَﻮَﻓ
ﺎًﻨَﻤَﺛ ِﻪِﺑ ﺍﻭُﺮَﺘْﺸَﻴِﻟ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﺪﻨِﻋ ْﻦِﻣ ﺍَﺬَٰﻫ َﻥﻮُﻟﻮُﻘَﻳ
ﻢُﻬَّﻟ ٌﻞْﻳَﻭَﻭ ْﻢِﻬﻳِﺪْﻳَﺃ ْﺖَﺒَﺘَﻛ ﺎَّﻤِّﻣ ﻢُﻬَّﻟ ٌﻞْﻳَﻮَﻓ ۖ ﺎًﻠﻴِﻠَﻗ
َﻥﻮُﺒِﺴْﻜَﻳ ﺎَّﻤِّﻣ
Maka kecelakaan yAng besarlah
bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka
sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari
Allah", (dengan maksud) untuk
memperoleh keuntungan yang
sedikit dengan perbuatan itu. Maka
kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis
oleh tangan mereka sendiri, dan
kecelakaan yang besarlah bagi
mereka, akibat apa yang mereka
kerjakan.(Al Baqarah : 79) Buku Hesronot Ha-shas (”Yang
Dihilangkan dari Talmud”)15 lalu
menjadi penting dalam kaitan ini.
Heshronot Ha-shas dicetak-ulang
pada tahun 1989 oleh Sinai Publishing
House, Tel Aviv. Heshronot Ha-shas menjadi sangat berharga bagi kita,
karena buku ini menyusun suatu
daftar panjang ayat-ayat Talmud yang
diubah atau dihilangkan, dan daftar
ayat-ayat yang dipalsukan dewasa ini,
yang dibuat untuk konsumsi kaum ‘goyyim’ seolah-olah ayat-ayat itulah
yang otentik. Popper (h.58-59) menjelaskan :
“Tidak selalu yang disensor itu
ayat-ayat panjang, tetapi acapkali
satu kata pun dihapus. … Acapkali
dalam hal seperti itu digunakan
dalam rangka penghapusan dan penggantian”. Sebagai contoh
pentarjamah versi Talmud dalam
bahasa Inggris terbitan Soncino
menterjemahkan kata lbrani
‘goyyim’ dengan sejumlah kata-
ganti samaran seperti, “kafir, Cuthean, Mesir, penyembah
berhala”, dan sebagainya. Tetapi
sebenarnya kata-ganti ini merujuk
kepada kata-aseli ‘goyyim’ (semua
yang non- Yahudi). Pada catatan-
kaki no. 5 Talmud pada edisi Soncino dijelaskan bahwa, “Istilah
orang Cuthea (Samaritan) disini
adalah untuk menggantikan kata-
aseli ‘goyyim’ … “ Hal itu merupakan praktek
disinformasi yang lazim dipakai oleh
kaum Farisi untuk menyangkal
adanya ayat-ayat yang rasialistik di
dalam Talmud yang telah
diungkapkan terdahulu dalam buku ini, dalam rangka mengklaim bahwa
ayat-ayat itu adalah “karangan dari
orang-orang yang anti-Semit”.
Pada tahun 1994, Lady Jane
Birdwood, berusia 80 tahun,
ditangkap dan diadili di depan pengadi1an pidana di London, hanya
karena “kejahatannya” menerbitkan
sebuah pamflet berjudu1 ‘The Longest
Hatred’ (’Kebencian yang Paling
Lama’), berisi seluruh pernyatan
kebencian di dalam Talmud yang diangkatnya dari ayat-ayat yang berisi
kebencian kepada kaum ‘goyyim’ dan
Kristen. Sepanjang peradilan yang
dituduhkan terhadapnya sebagai
suatu kejahatan yang sayangnya
tidak mendapatkan perhatian dari media massa, seorang rabbi diundang
sebagai saksi ahli. Rabbi itu
menyanggah sepenuhnya bahwa
kitab Talmud berisi ayat-ayat yang
mengundang kebencian kepada
kaum ‘goyyim’ dan Kristen, dan hanya karena kedudukan dan prestise rabbi
tersebut, wanita tua yang malang itu
dijatuhi hukuman “tiga bulan
kurungan penjara dan denda senilai $
l000″
Dr. Israel Shahak dalam bukunya berjudul ‘Jewish History and Jewish
Religion’, pada bab tentang Jesus di
dalam Talmud pada h.57, dan
h.105-106, menegaskan adanya ayat-
ayat yang menganjurkan kebencian
dan rasisme di dalam Talmud. Mereka yang menyangkal kenyataan ini
adalah pembohong besar. Tanggapan Dunia ‘Judeo-Kristen’
terhadap Talmud: Dewasa ini ada persekongkolan
yang kuat antara dunia Kristen dan
Yahudi. Anehnya tidak ada, bahkan
tidak pernah ada, para Paus,
Katolik serta tokoh-tokoh gereja
Protestan di era modern ini yang menyerang atau mengecam ajaran
rasisme di Talmud, atau kebencian
mendarah-mendaging terhadap
Kristen dan kaum ‘goyyim’ (muslim
dan lain-lain) yang diajarkannya.
Sebaliknya pada pimpinan gereja Kristen, baik Katolik maupun
Protestan, malah dewasa ini
menganjurkan kepada para
pengikut Jesus Kristus untuk
mentaati, menghormati, bahkan
membantu pengikut Talmud. Oleh karena itu kesimpulan kita tidak
lain, para pemimpin gereja Katolik
dan Protestan dewasa ini
sebenarnya adalah pengkhianat
paling nyata terhadap Jesus Kristus
di muka bumi dewasa ini (periksa Perjanjian Baru Matius 23:13-15; I
Thessalonika 2:14-16; Titus 1:14;
Lukas 3:8-9; dan Kitab Wahyu 3:9). Kaum Non-Yahudi adalah ‘Sampah’ Semua orang non-Yahudi dari segala
ras dan agama menurut Talmud
adalah super-sampah’, begitu
menurut pendiri Habad-Lubavitch,
Rabbi Shneur Zalman. Analisanya
ditemukan di dalam majalah Yahudi ‚The New Republic’, yang dalam
analisisnya menyatakan bahwa, “…
ada ironi besar dalam pandangan
universalisme messianik yang baru
pada gerakan Habad khususnya
pandangannya tentang kaum ’goyyim’ yakni pernyataan Habad
yang tanpa tedeng aling-aling berisi
penghinaan bernada rasial terhadap
kaum ‘goyyim ‘. …berdasarkan
pendapat para theolog Yahudi pada
abad pertengahan – terutama sekali pemikiran penyair dan filosuf Judah
Ha-Levi pada pada abad ke-12 di
Spanyol, dan tokoh mistik Yahudi
Judah Loewe pada abad ke-16 di
Praha - mereka mencari ketetapan
mengenai keunggulan kaum Yahudi berdasarkan ras dan bukannya pada
keunggulan kerohanian … menurut
pandangan mereka, secara mendasar
kaum Yahudi itu lebih unggul atas ras
mana pun, dan mengenai hal itu
ditegaskan berulangkali dalam bentuk yang sangat ekstrim oleh
Shneur Zalman dari Lyadi. Pendiri
Lubavitcher-Hasidisme itu
mengajarkan, bahwa ada perbedaan
hakiki antara jiwa orang Yahudi
dengan jiwa kaum ‘goyyim’, bahwasanya hanyalah jiwa orang
Yahudi yang di dalamnya terdapat dan
memancarkan cahaya kehidupan
ilahiyah. Sedangkan pada jiwa kaum
‘goyyim’, Zalman selanjutnya
menyatakan, “sama sekali berbeda, karena terciptanya memang lebih
inferior. Jiwa mereka sepenuhnya
jahat, tanpa mungkin diselamatkan
dengan cara apa pun.”
Akibat rujukan tentang kaum ‘goyyim’
menurut ajaran Rabbi Shneur Zalman, tanpa kecuali menyebabkan adanya
penyakit dalam jiwa mereka. Dzat
darimana jiwa kaum ‘goyyim’ terbuat
penuh dengan “sampah” rohani.
Itulah sebabnya mengapa jumlah
mereka lebih banyak daripada kaum Yahudi, karena jumlah gabah lebih
banyak daripada berasnya. Semua
kaum Yahudi secara hakiki baik, dan
semua kaum ‘goyyim’ secara hakiki
jahat. “Karakterisasi kaum ‘goyyim’ yang
dinyatakan secara hakiki jahat dan
dari segi kerohanian maupun biologis
lebih inferior dari kaum Yahudi, belum
pernah diralat dalam ajaran Habad
masa kini”.16 Syari’at Yahudi Menuntut bahwa
Kaum Kristen Wajib Dihukum Mati: Para ulama Taurat menetapkan,
bahwa, “Taurat mewajibkan
bahwa ummat yang benar akan
mendapatkan tempatnya di Hari
Kemudian. Tetapi, tidak semua
kaum ‘goyyim’ akan memperoleh kehidupan yang abadi meskipun
mereka taat dan berlaku shaleh
menurut agama mereka … Dan
meskipun kaum Kristen pada
umumnya menerima Kitab
Perjanjian Lama Ibrani sebagai kitab yang diwahyukan dari
Tuhan, namun mereka (disebabkan
adanya kepercayaan pada apa
yang disebut mereka ketuhanan
pada Jesus) sebenarnya kaum
Kristen adalah penyembah berhala menurut Taurat, oleh karena itu
patut dihukum mati, dan mereka
kaum Kristen itu sudah dipastikan
tidak akan memperoleh ampunan
di Hari Kemudian.” PERHATIKAN UCAPAN YESUS DI
MARKUS 7 : 6 - 8 :
6). JAWABNYA KEPADA MEREKA:
"BENAR NUBUAT YESAYA TENTANG
KAMU, HAI ORANG-ORANG MUNAFIK..!
SEBAB ADA TERTULIS: BANGSA INI MEMULIAKAN AKU DENGAN BIBIRNYA,
PADAHAL HATINYA JAUH DARI
PADAKU.
7). PERCUMA MEREKA BERIBADAH
KEPADAKU, SEDANGKAN AJARAN
YANG MEREKA AJARKAN IALAH PERINTAH MANUSIA.
8). PERINTAH ALLAH KAMU ABAIKAN
UNTUK BERPEGANG PADA ADAT
ISTIADAT MANUSIA. JADI SESUNGGUHNYA KAUM KRISTIANI
ITU MEMULIAKAN YESUS HANYA
DIBIBIRNYA SAJA........ HATI MEREKA
JAUH DARI YESUS........ HATI MEREKA
LEBIH DEKAT DENGAN PAULUS......
Lebih jelas, Paulus sendiri mengakui kalau rupanya tidak dikenal oleh
orang2 Kristen Yudea (ayat 22), yaitu
sebuah wilayah di Palestina selatan
yang dihuni oleh orang2 Israel
keturunan Yehuda, tempat dimana
Yesus mengemban misinya. Bagaimana mungkin seorang rasul
utusan Yesus tidak dikenal oleh umat
Israel dimana Yesus dibesarkan dan
mengajarkan ajarannya? Lebih jauh,
kecuali hanya sedikit, umat Israel
tidak pernah mengakui Yesus sebagai nabi atau pun Tuhan! Bahkan, saking
jengkelnya mereka, Yesus pun
diburunya dan “dibantai” di tiang
salib! Dari sini, kita bisa melihat bahwa
umat Israel tidak mungkin menerima
Paulus, oleh karena ia bukan dari golongan umat Israel, melainkan
seseorang dari bangsa lain.
Pernyataan Paulus ini membuktikan
bahwa ia sama sekali bukan dan tidak
pernah bahkan tidak mungkin
menjadi murid Yesus! Lebih jauh lagi, sebenarnya Paulus telah
mengada2kan sendiri kesaksiannya
yang seolah2 orang2 Yudea tersebut
beragama Kristen, padahal orang2
Yudea adalah orang2 Israel yang
beragama Yahudi yang lantang menolak Yesus! Kalau begitu,
siapakah yang mengajarkan Kristen
kepada orang2 Yudea? Bukankah
Paulus sendiri ditolak? Benar2 isapan
jempol!
Terlalu jelas, bagaimana Paulus mengada2kan sendiri ajarannya
dengan mengaku2 menjadi rasul
yang diutus oleh Yesus. Sebagaimana
telah disebutkan di atas, bahwa
seluruh ajaran Paulus ini bertentangan
dengan tugas kerasulan Yesus, yakni menegakkan hukum Taurat dengan
menggenapinya dengan Kitab Suci
Injil. Berikut pernyataan Yesus: Matius 5:17. “Janganlah kamu
menyangka, bahwa Aku datang
untuk meniadakan hukum Taurat
atau kitab para nabi. Aku datang
bukan untuk meniadakannya,
melainkan untuk menggenapinya. Matius 5:18 Karena Aku berkata
kepadamu: Sesungguhnya selama
belum lenyap langit dan bumi ini, satu
iota atau satu titikpun tidak akan
ditiadakan dari hukum Taurat,
sebelum semuanya terjadi. bandingkan dengan "firman" Paulus: Ajaran Paulus : Kristen mengutuk
hukum Taurat. Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun
yang dibenarkan oleh karena
melakukan hukum Taurat, tetapi
hanya oleh karena iman dalam Kristus
Yesus. Sebab itu kami-pun telah
percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman
dalam Kristus dan bukan oleh karena
melakukan hukum Taurat. Sebab:
“tidak ada seorangpun yang
dibenarkan” oleh karena melakukan
hukum Taurat. (Galatia 2:16), (Galatia 3:24-25), (Galatia 5:4), (Roma
3:27-28) dan (Efesus 2:15).
Matius 7:21-23 YESUS BERKATA: "BUKAN setiap orang
yang berseru kepadaku: Tuhan,
Tuhan! akan masuk ke dalam
Kerajaan Sorga, MELAINKAN dia yang
melakukan kehendak Bapaku yang di
sorga. Pada hari terakhir(kiamat) banyak orang akan berseru
kepadaku: Tuhan, Tuhan, bukankah
kami bernubuat demi nama-Mu, dan
mengusir setan demi nama-Mu, dan
mengadakan banyak mujizat demi
nama-Mu juga? Pada waktu itulah aku akan berterus terang kepada mereka
dan berkata: Aku tidak pernah
mengenal kamu! Enyahlah dari
padaku, kamu sekalian pembuat
kejahatan!” *Berhati-hatilah orang yang
memanggil Yesus itu adalah
Tuhan...sebab orang Yahudi sendiri
telah mengubah2x kitab Taurat
yang asli dan mempercayai ayat2x
setan dalam Talmud, dan mereka menjadi pengikut setan yg sesat.
Dan Paulus,seorang yg dulunya
adalah Yahudi,berpura2 mendapat
wahyu dari Yesus dan mengbah2
kitab Injil,sehingga dapat kita lihat
bagaimana umat nasrani yang mengaku kristen n menyatakan
pengikut Yesus sebenarnya telah
menjadi pengikut SETIA si
PAULUS,bukan Yesus.(http:// aqse.wordpress.com/2009/08/10/
ajaran-yesus-vs-ajaran-paulus/) Rasulullah SAW bersabda:“Demi Dzat
(Allah SWT) yang jiwa Muhammad
berada di tangan-Nya, tidaklah
mendengar kenabianku seorang di
kalangan umat ini, Yahudi ataupun
Nasrani lalu meninggal dalam keadaan tidak mengimani ajaranku
melainkan dia pasti termasuk
penghuni neraka.” (HR. Muslim dalam
Kitab al-Iman dari Abu Hurairah
radhiyallahu’anhu). Takhayul Kaum Yahudi Bukanlah mengada-ada bila edisi
Talmud Babilonia dipanadang sebagai
kitab suci Yahudi yang paling
otoritatif. Karena orang Kristen
terperdaya oleh para pengkhotbah
Yahudi, maka para Paus kian hari kian percaya dan meminta fatwa kepada
rabbi Yahudi sebagai “nara sumber
yang shahih” untuk mendapatkan
keterangan bila berkaitan dengan
kitab Perjanjian Lama, yang tanpa
mereka sadari berkonsultasi dengan para okultis (juru-ramal). Yudaisme adalah agama kaum
Farisi dan para pendeta Babilonia,
yang menjadi sumber ajaran
Talmud dan Qabala, yang di
kemudian hari membentuk agama
Yudaisme. Kitab suci Yudaisme Orthodoks lainnya, seperti
‘Kabbalah’, isinya penuh dengan
ajaran tentang astrologi, ramal-
meramal, gematria, nekromansi
(sihir), dan demonologi (ilmu
hitam). Jika seorang Yahudi ingin bertaubat ia cukup mengangkat
seekor ayam, membaca mantera
untuk keperluan itu, dan mengibas-
kibaskannya di atas kepalanya
untuk memindahkan dosa-
dosanya kepada ayam tersebut. Yang dapat kita katakan mengenai
hal ini tidak lain adalah takhayul
dalam arti yang sebenar-benarnya.
Selanjutnya lambang Israel yang
mereka sebut sebagai “bintang
Nabi Daud” sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Nabi Daud
a.s. Bintang itu adalah hexagram
(bersudut enam) supranatural yang
melambangkan yantra dari
androgen (kelenjar yang
memberikan karakteristik pada kaum laki-Iaki), yang dihubungkan
dengan para Khazar Bohemia pada
abad ke-14. (Penyesatan publik
dengan penggunaan nama “negara
Israel” yang didirikan pada tahun
1948, merupakan buah hasil persekongkolan antara kaum
Bolshevik-Yahudi dengan kaum
Zionis yang atheis; nama itu tidak
ada sangkut-pautnya dengan
kelanjutan kerajaan Nabi Daud,
tetapi dikukuhkan melalui pcngakuan pertama di PBB yang
diberikan oleh diktator komunis
Uni Sovyet Joseph Stalin). Kaum Kristen akan lebih terbuka
matanya bila berkunjung ke
komunitas Yahudi Hasidik
menonton acara ‘Purim’, dimana
sebuah patung serupa Halloween
meloncat-loncat (seperti ‘jailangkung’). Meskipun upacara
‘Purim’ itu merujuk kepada Kitab
Esther yang disebutkan sebagai
nash dasarnya, dalam prakteknya
upacara ‘Purim’ tidak lain adalah
sebuah tradisi kaum kafir Bacchan.17 Para rabbi orthodoks menggunakan
kutukan, mantra, imej, dan
sebagainya, yang mereka anggap
lebih besar kuasanya dari kuasa
Tuhan. Kesesatan itu mereka ambil
dari ajaran Sefer Yezriah, (sebuah buku tentang ilmu sihir kaurn
Qabalis). Kaum non-Yahudi dapat
menyaksikan ulangan perilaku
paganisme Babilonia kuno setiap kali
mereka mengamati ritual para rabbi
agama Yudaisme.18 Dengan mengetahui ajaran Talmud
yang menjadi dasar konstitusi prinsip,
dan arah kebijakan negara dan
pemerintah Israel, mudah dipahami
mengapa negara Israel sangat arogan
dengan kebuasan yang melebihi Nazi Jerman. "MENJADI BANGSA YANG TERKUTUK" ”Hai Bani Israel, ingatlah akan nikmat-
Ku yang telah Aku anugerahkan
kepadamu dan (ingatlah pula)
bahawasanya Aku telah melebihkan
kamu atas segala ummat”(47).
Dan peliharalah dirimu daripada (azab) hari (Kiamat, yang pada hari
itu) seseorang tidak dapat membela
orang lain, walau sedikitpun ; dan
(begitu pula) tidak diterima syafa’at
(pertolongan) dan tebusan
daripadanya, dan tidaklah mereka akan ditolong”(48) [Q.S. Al-Baqoroh :
47-48] Pada ayat-ayat terdahulu telah
dijelaskan betapa kasihnya Allah
kepada Bani Israel sehingga
menyeru mereka untuk kembali ke
pangkal jalan. Semestinya mereka
menyedari betapa sayangnya Allah kepada mereka sehingga
tidak membiarkan mereka
tenggelam didalam kesesatan.
Tidak setakat itu sahaja, Allah
nampakkan pula bagaimana cara
kembali ke jalan yang lurus, Allah ajarkan pula bagaimana cara
memelihara diri sehingga tidak
terbabas lagi. Namun sayang, nikmat yang Allah
karuniakan itu tidak mereka syukuri.
Mereka bukannya beriman kepada
Rasul yang dijanjikan itu, tapi malah
menentang dan memusuhinya.
Akhirnya bukan keutamaan yang mereka dapatkan, tetapi hinaan dan
siksaan yang mereka rasakan.
Sama seperti yang pernah mereka
lakukan sebelum ini. Disaat Allah
memberikan nikmat kepada mereka
berupa hari Sabtu yang mulia, tapi sayang mereka nodai kemuliaan hari
itu dengan melanggar larangan Allah.
Akhirnya Allah mengutuk mereka
sehingga menjadi kera-kera yang
hina. Allah berfirman :”Dan
sesungguhnya telah kamu ketahui
orang-orang yang melanggar
diantaramu pada hari Sabtu, lalu
Kami berfirman kepada
mereka :”Jadilah kamu kera-kera yang hina”. [Q.S. Al-Baqoroh : 65] Begitu juga disaat Allah melebihkan
mereka dengan mengirimkan para
Nabi yang banyak kepada mereka.
Tapi sayang, mereka bukannya mahu
mendengarkan apa-apa yang
dikatakan oleh para Nabi berupa wahyu-wahyu yang diturunkan,
tetapi malah membunuh mereka.
Akhirnya Allah menimpakan nista dan
kemurkaan kepada mereka, Allah berfirman:”Lalu ditimpakan
kepada mereka nista dan
kehinaan, serta mereka mendapat
kemurkaan daripada Allah SWT.
Hal itu (terjadi) kerana mereka
selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi Yang
memang tidak dibenarkan.
Demikian itu (terjadi) kerana
mereka selalu berbuat durhaka dan
melampaui batas”. [Q.S. Al-
Baqoroh : 61] Bukti bahwa Bani Israel memang telah
melampaui batas dan mengingkari
ayat2x Allah SWT, memang tlh tertulis
dalam Al Quran: QS 2:83. Dan (ingatlah), ketika Kami
mengambil janji dari Bani Israil
(yaitu): janganlah kamu
menyembah selain Allah, dan
berbuat kebaikanlah kepada ibu
bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin,
serta ucapkanlah kata-kata yang
baik kepada manusia, dirikanlah
shalat dan tunaikanlah zakat.
Kemudian kamu tidak memenuhi
janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu
berpaling.
QS 2:84. Dan (ingatlah), ketika Kami
mengambil janji dari kamu (yaitu):
kamu tidak akan menumpahkan
darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu
(saudaramu sebangsa) dari
kampung halamanmu, kemudian
kamu berikrar (akan
memenuhinya) sedang kamu
mempersaksikannya. QS 2:85. Kemudian kamu (Bani
Israil) membunuh dirimu
(saudaramu sebangsa) dan
mengusir segolongan daripada
kamu dari kampung halamannya,
kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan
permusuhan; tetapi jika mereka
datang kepadamu sebagai
tawanan, kamu tebus mereka,
padahal mengusir mereka itu (juga)
terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al
Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap
sebahagian yang lain? Tiadalah
Balasan bagi orang yang berbuat
demikian daripadamu, melainkan
kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka
dikembalikan kepada siksa yang
sangat berat. Allah tidak lengah
dari apa yang kamu perbuat. Maka tatkala mereka(BANI iSRAEL)
bersikap sombong terhadap apa yang
dilarang mereka mengerjakannya,
Kami katakan kepadanya, "Jadilah
kamu kera yang hina." (SQ Al-A''raf:
166) Daftar Pustaka 1. R.C.Musaph-Andriesse, ‘From Torah
to Kabbalah: A Basic Introduction to
the Writings of Judaism’, h.40.
2. Jewish Press, 9 Juni 1989, h.56B.
3. Program CBS 60 Menit “Kahane”.
4. The New York Daily News, 26 Februari 1994, h.5.
5. The New York Times, 6 Juni 1989,
h.5.
6. The New York Daily News, 28
Februari 1994, h.6.
7. ‘The Heshronot Ha”shas’, Cracow, 1894.
8. Aryeh Kaplan, ed., ‘Maimonides’
Priciples’, Union of Orthodox Jewish
Congregation of America, h.3.
9. Maimonides, Mishnah Torah’,
Moznaim Publishing Corporation, Brooklyn, New York, 1990, Chapter
10, English version, h.184.
10. Ibid., Chapter 10, h.184.
11. Herbert Danby, translator, ‘The
Code of Maimonides’, vo1.10, Yale
University Press, New Haven, 1954, h. 8-9.
12. ‘Judaism on Trial’, h.26.
13. ‘Judaism on Trial’, h.28.
14. Tikkun, ‘Bimonthly Jewish Critique,
edisi May-June, 1994.
15. William Popper, ‘The Censorship of Hebrew Book’, h.59.
16. ‘The New Republic’, Edisi 4 May
1992; juga Roman A.Foxbrunner,
‘Habad: The Hasidism of Shneur
Zalman of Lyadi’, Jason Aronson, Inc.,
Northvale, New Jersey, 1993, h. 108-109.
17. “Kepercayaan takhayul perayaan
itu diwarisi dari nenek-moyang orang
Yahudi’” Canadian Jewish News edisi
November 16, 1989, h.58
18. Israeli Mcchon-Mamre Website, August 7, 1999; Hayyim Vital St.,
Jerusalem, (Mechon-Mamre adalah
kelompok kecil sarjana Taurat di Israel
cf. Indra Adil dan Bambang
E.Budhiyono, eds., ‘Skenario Besar
Penghancuran Bangsa-bangsa’, Mimeograf, barani.net, Jakarta,
Desember 2000).
Subscribe to:
Comments (Atom)