Penyakit Hati itu ada Dua Macam : 1. Jenis yang mana pemiliknya tdak
merasakan sakit ketika itu, yaitu
penyakit kebodohan, syubhat dan
keraguan, dan ini jenis yang paling
parah penyakitnya, akan tetapi
dikarenakan rusaknya hati tersebut dia tidak merasakan sakit tersebut. 2. Kedua, jenis penyakit yang
menyakitkan pemiliknya seperti rasa
gelisah, gundah, sedih, jengkel
(marah) dan penyakit ini kadang bisa
hilang dengan pengobatan-
pengobatan yang alami, dengan dia menghilangkan sebab-sebabnya dan
selainnya. Mengobati hati bisa dengan EMPAT
perkara : Perkara yang pertama : Dengan Al- Qur’an, karena ia merupakan
penyembuh (obat) bagi penyakit-
penyakit yang ada didalam dada dan
keraguan, juga dapat menghilangkan
dari kesyirikan, kekotoran,
kekufuran, penyakit-penyakit syubhat dan syahwat. Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi
orang yang mengetahui al-haq dan
mengamalkannya, juga sebagai
rahmat yang diperoleh orang-orang
mukmin sebagai pahala (balasan)
baik yang disegerakan atau yang diakhirkan. Alloh ta’ala berfirman : “Dan apakah
orang-orang yang sudah mati,
kemudian Kami hidupkan dan Kami
berikan cahaya kepadanya yang
terang, yang dengan cahaya itu dia
dapat berjalan-jalan di masyarakat manusia, serupa dengan keadaannya
berada dalam keadaan gelap gulita
yang sekali-kali tidak bisa keluar
daripadanya?” QS. Al-An’an ; 122 Perkara yang kedua : Hati itu butuh pada tiga perkara, 1. Hal yang dapat menjaga
kekuatannya, yaitu dengan keimanan,
dan amalan sholih serta wirid-wirid
(dzikir-dzikir) yang merupakan
ketaatan. 2. Menjaganya dari marabahaya yaitu
dengan cara meninggalkan seluruh
kemaksiatan dan berbagai macam
bentuk penyelisihan. 3. mengeluarkan semua unsur-unsur
yang menyakitkan (mengganggu)
yaitu dengan dia bertaubat dan
meminta ampun kepada Alloh. Perkara yang ketiga : Pengobatan hati yang sakit yang dikuasai oleh
hawa nafsu. Ada dua cara pengobatan, yaitu
mengoreksi (intropeksi / muhasabah)
dan menyelisihinya. Adapun
bermuhasabah ada 2 macam : 1. Sebelum diamalkan dan ia memiliki
empat tingkatan : a. Apakah amalan ini mampu untuk
dikerjakan ? b. Apakah amalan ini mengerjakannya
lebih baik daripada
meninggalkannya ? c. Apakah ibadah ini diniatkan wajah
Alloh ta’ala (ikhlas) ? d. Apakah amalan ini perlu adanya
bantuan yang dapat membantu
amalan tsb jika memang amalan tsb
butuh kepada bantuan ? Apabila
amalan ini perlu bantuan maka ia
kerjakan bila tidak maka tidak dikerjakan selamanya. 2. Setelah diamalkan dan ia ada 3
jenis : a. Menghisab (mengoreksi) dirinya
atas ketaatannya yang ia remehkan
padanya hak Alloh, dimana ia tidak
mengerjakan ketaatan tsb menurut
bentuk yang diperintahkan. Diantara
hak-hak Alloh ialah ikhlas, nasehat, mengikuti, mengetahui kebaikan-
kebaikan yang ia dapatkan, mengakui
karunia Alloh atasnya, juga mengajui
adanya kekurangan dalam hal-hal tsb. b. Mengoreksi jiwanya atas setiap
amalan yang dahulu
meninggalkannya lebih baik daripada
mengamalkannya. c. Mengoreksi dirinya atas perkara
mubah atau kebiasaan yang belum ia
kerjakan, apakah ia maksudkan
dengannya wajah Alloh dan negeri
akhirat sehingga ia menjadi orang-
orang beruntung atau ia maksudkan dunia sehingga ia menjadi orang-
orang yang merugi. Dan kumpulan
itu semua hendaklah mengoreksi
dirinya pertama kali atas amalan-
amalan fardhu, kemudian ia
sempurnakan jika ia kurang dalam mengerjakan amalan fardhu tsb,
kemudian dia menghisab dirinya atas
perkara-perkara yang diharomkan.
Jika ia tahu pernah melakukan
diantara larangan tsb langsung ia
bertaubat dan memohon ampun kepada Alloh, kemudian amalan yang
dilakukan anggota badannya,
kemudian hal-hal yang dia lalaikan. Perkara yang keempat : Pengobatan hati yang sakit karena
setan menguasai hati tersebut. Setan
merupakan musuh bagi manusia, agar
lepas (terbebas) dari setan ialah selalu
beristi’adzah kepada Alloh dengan
apa-apa yang disyariatkanNya. Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam
sendiri betul-betul mengumpulkan
antara isti’adzah dari kejelekan jiwa
dan kejelekan setan. Rosulullah
mengatakan kepada Abu Bakr : “Katakanlah Ya Alloh Pencipta langit
dan bumi, Dzat yang mengetahui
perkara yang ghaib dan yang tampak,
Rabb segala sesuatu dan pemiliknya.
Aku bersaksi bahwa tidak ada
sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Engkau, aku berlindung
kepada Engkau dari kejelekan jiwaku
dan dari kejahatan setan dan
kesyirikannya, juga berlindung dari
berbuat kejelekan terhadap diriku,
atau yang aku lakukan (kejelekan itu) terhadap seorang muslim. Ucapkanlah
doa itu, apabila engkau berada di pagi
hari dan di sore hari juga ketika
engkau ingin tidur.” HR. Tirmidzi, Abu
Dawud, lihat Shahih Tirmidzi 3/142. Beristi’adzah, tawakkal dan ikhlas
dapat menghalangi berkuasanya
setan.
“Bekerjalah kamu, maka Allah dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS at-Taubah /9: 105).
Sunday, 21 August 2011
Tahukah Engkau JalanMenuju Surga ???
Dari Muadz bin Jabal radhiyallohu
‘anhu, dia berkata : Saya pernah
bersama Nabi sholallohu ‘alaihi
wasallam dalam suatu perjalanan.
Pada suatu pagi ketika kami sedang
berjalan, aku berada didekat beliau, maka aku berkata : “Wahai Rosulullah
kabarkanlah kepadaku suatu amalan
yang dapat memasukkan aku ke
dalam Surga dan menjauhkan aku
dari Neraka”. Maka beliau bersabda : “Sungguh
engkau telah bertanya kepadaku
tentang perkarayang begitu besar
akan tetapi akan terasa mudah bagi
orang-orang yang dimudahkan oleh
Alloh, engkau beribadah kepada Alloh dan tidak menyekutukannya
dengan suatu apapun, engkau
mendirikan sholat, menunaikan
zakat, berpuasa dibulan Ramadhan
dan melaksanakan ibadah haji.” Kemudian beliau berkata : “Maukah
aku tunjukkan kepadamu pintu-pintu
kebakan ? Berpuasa adalah perisai, sedekah dapat memadamkan
dosa-dosa sebagaimana air dapat
memadamkan api, demikian juga
sholat seseorang ditengah malam, kemudian beliau membacakan ayat,
‘…lambung-lambung mereka jauh dari
tempat tidur mereka…’ hingga ‘..apa
yang telah mereka kerjakan’ [QS. As-
Sajdah ; 17] Kemudian beliau bersabda : “Maukah
aku tunjukkan urusan yang
terpenting, tiang-tiang
penyanggahnya, dan puncak
tertingginya ?” Saya katakan : “Tentu
wahai Rosulullah”. Maka beliau bersabda : “Urusan terpenting adalah Islam, tiang penopangnya
adalah sholat sedangkan puncak
tertingginya (atapnya) adalah
jihad”. Kemudian lanjutnya : “Maukah aku
kabarkan kepadamu tentang kunci
semua itu ?” Saya menjawab : “Tentu
wahai Rosulullah”. Maka beliau
memegang lidahnya, lalu bersabda : “Jagalah olehmu ini!” Aku bertanya : “Wahai Nabi Alloh, apakah kami akan
disiksa dengan sebab perkataan yang
kami ucapkan?” Beliau menjawab : “ibumu kehilangan
kamu ya Muadz, bukankah orang-
orang itu tersungkur di Neraka diatas
wajah-wajah mereka atau diatas
hidung-hidung mereka, tidak lain
disebabkan oleh ulah lisan-lisan mereka ?” [HR. Tirmidzi, An-Nasa'i, Ibnu Majah,
dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani
dalam Al-Irwa'] ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Faedah yang terkandung dalam
hadits ini : 1. Antusias para shahabat untuk
melakukan amalan-amalan yang
dapat memasukkan ke dalam Surga
dan menjauhkan dari Neraka, dan ini
adalah perkara terpenting dalam
pandangan mereka, oleh karena itu Muadz bin Jabal bertanya kepada Nabi
sholallohu ‘alaihi wasallam tentang
suatu amalan yang dapat
memasukkan ke dalam Surga dan
menjauhkan dari Neraka. 2. Penetapan adanya Surga dan
Neraka, dan keduanya saat ini sudah
ada dan keduanya tidak akan sirna
selama-lamanya. 3. Penjelasan bahwa pertanyaan
Muadz bin Jabal ini adalah pertanyaan
yang begitu besar karena balasannya
begitu besar, sedangkan balasan
sesuai dengan kadar obyek yang
dibalasnya. Oleh karena itu Rosulullah bersabda : “Sungguh engkau telah
bertanya kepadaku tentang perkara
yang begitu besar.” maksudnya
adalah Muadz telah bertanya tentang
amalan yang begitu besar dengan
dalil balasan yang akan diperoleh dengan amalan tersebut. Kemudian
Nabi menjelaskan bahwa perkara
yang begitu agung ini ringan bagi
orang-orang yang diberi kemudahan
oleh Alloh. Maka dapat diambil faedah
dari sini, bahwa semestinya seseorang bersandar kepada Alloh untuk
memohon kemudahan dari-Nya
dalam segenap urusannya dan
semestinya kita pun mengetahui
bahwa diantara sebab diberikannya
kemudahan dari Alloh adalah bertaqwa kepada-Nya. Alloh ta’ala
berfirman : “Barangsiapa bertaqwa kepada Alloh,
niscaya Alloh akan menjadikan
baginya kemudahan dalam
urusannya.” QS. Ath-Thalaq ; 4 4. Bahwa perkara yang paling utama
dan paling besar adalah TAUHIDULLAH
(mentauhidkan Alloh) dan berlaku
ikhlas untuk Alloh, berdasarkan
sabdanya : “Engkau beribadah
kepada Alloh dan tidak menyekutukanNya dengan suatu
apapun.” 5. Arti pentingnya sholat karena
Rosulullah telah menyebutkan rukun
ini setelah kalimat Al-Ikhlas. Jika ada
yang bertanya, “Mana syahadat yang
kedua? Syahadat bahwa Muhammad
adalah Rosulullah ?” Maka kita katakan syahadat ini sudah dimaklumi
dari sabdanya : “Engkau beribadah
kepada Alloh dan tidak
menyekutukanNya dengan apapun
juga.” Dan telah lewat penjelasan ttg
hal itu. 6. Diantara faedahnya adalah
mendahulukan zakat diatas puasa,
karena ibadah ini lebih ditekankan. 7. Diantara faedahnya adalah
mendahulukan ibadah puasa diatas
haji, karena ibadah puasa dilakukan
setiap tahun, beda halnya dengan haji,
ibadah ini hanya diwajibkan satu kali
dalam seumur hidup. 8. Diantara faedahnya adalah dalam
kalimat ini terdapat isyarat tentang
rukun Islam, yakni : “Engkau
beribadah kepada Alloh dan tidak
menyekutukan-Nya dengan sesuatu
apapun, engkau mendirikan sholat, membayar zakat, berpuasa dibulan
Ramadhan dan berhaji ke Baitullah.” 9. Diantara faedahnya adalah
melontarkan pertanyaan kepada anak
didik agar membuatnya tergugah,
berdasarkan sabdanya : “Maukah aku
tunjukkan kepadamu pintu-pintu
kebaikan?” 10. Diantara faedahnya bahwa
kebaikan memiliki pintu-pintu, dan
pintu-pintu itu memiliki jalan masuk.
Hadits ini semodel dengan sabda
Rosulullah yang berbunyi: “Iman itu
lebih dari 72 cabang.” [Hadits Shohih dikeluarkan oleh Muslim] 11. Diantara faedahnya adalah bahwa
ibadah puasa sebagai perisai, yaitu
yang menghalangi orang yang
berpuasa dari perbuatan sia-sia, main-
main, ucapan dusta, dan kebodohan.
Ibadah inipun merupakan perisai bagi seseorang dari siksa api neraka.
Berdasarkan firman Alloh ‘azza wa
jalla : “Puasa adalah untuk-Ku dan
Akulah yang akan membalasnya.”
[Hadits Shohih dikeluarkan oleh
Bukhori] 12. Diantara faedahnya adalah
keutamaan bersedekah berdasarkan
sabda Rosulullah : “Bersedekah dapat
memadamkan kesalahan
sebagaimana air memadamkan api.” 13. Diantara faedahnya adalah bahwa
sholatnya seseorang ditengah malam
dapat memadamkan api kesalahan,
berdasarkan sabda Nabi sholallohu
‘alaihi wasallam diatas, karena beliau
membacakan firman-Nya : “Lambung mereka jauh dari tempat
tidurnya, sedangkan mereka berdoa
kepada Tuhannya dengan rasa takut
dan harap, serta mereka
menafkahkan sebagian rizqi yang
Kami berikan kepada mereka. Seorangpun tidak mengetahui apa
yang disembunyikan untuk mereka
berupa perkara yang menyenangkan
pandangan mata, sebagai balasan
atas apa yang mereka kerjakan.” QS.
As-Sajdah ; 16-17 14. Diantara faedahnya adalah bahwa
Nabi melontarkan permasalahan
dengan bentuk pertanyaan untuk
menarik perhatian orang yang diajak
bicara. 15. Diantara faedahnya adalah bahwa
urusan ini -yaitu urusan para
makhluk- memiliki tiang penyanggah
dan atap (bagian paling tinggi).
Urusan paling penting adalah Islam.
Tiang-tiangnya adalah Sholat sedangkan atapnya adalah jihad
dijalan Alloh. 16. Diantara faedahnya adalah bahwa
orang yang meninggalkan Sholat
adalah kafir, berdasarkan sabda Nabi :
“Tiang-tiang penyanggahnya adalah
sholat.” dan telah dimaklumi, jika
tiang-tiang itu runtuh, maka runtuh pula bangunan tersebut. Inilah
pendapat terkuat berdasarkan kitab
Alloh dan sunnah Rosulullah dan
ucapan para shahabat. 17. Diantara faedahnya adalah bahwa
jihad membawa ketinggian dan
kemuliaan Islam, berdasarkan sabda
Rosulullah : “Puncaknya adalah jihad.” 18. Diantara faedahnya adalah pokok
dari semua itu adalah MENJAGA LISAN,
berdasarkan sabda Rosulullah :
“Maukah aku kabarkan padamu
tentang pokok dari semua itu?” maka
beliau memegang lidahnya seraya bersabda : “Tahanlah olehmu ini!” 19. Diantara faedahnya adalah
bolehnya memberikan pelajaran
dengan menggunakan isyarat, karena
Nabi memegang lidahnya seraya
bersabda : “Tahanlah olehmu ini!” 20. Diantara faedahnya adalah bahaya
lisan terhadap diri seseorang,
berdasarkan sabda Nabi : “Bukankah
manusia tersungkur di Neraka diatas
wajah-wajah mereka atau hidung-
hidung mereka, tidak lain disebabkan ulah lisan-lisan mereka?” 21. Diantara faedahnya adalah Kehati-
hatian dalam hal periwayatan hadits
Nabi, karena perawi mengatakan : “Di
atas wajah-wajah mereka atau di atas
hidung-hidung mereka.” Ini
menunjukkan sikap amanah sempurna dalam penukilan hadits. Dan segala puji hanyalah bagi
Alloh…… -dikutip dari Kitab Syarah Al-Arbain An-Nawawiyah karya Syaikh Sholih Al-’Utsaimin ; penerbit Pustaka Ar
Royyan
‘anhu, dia berkata : Saya pernah
bersama Nabi sholallohu ‘alaihi
wasallam dalam suatu perjalanan.
Pada suatu pagi ketika kami sedang
berjalan, aku berada didekat beliau, maka aku berkata : “Wahai Rosulullah
kabarkanlah kepadaku suatu amalan
yang dapat memasukkan aku ke
dalam Surga dan menjauhkan aku
dari Neraka”. Maka beliau bersabda : “Sungguh
engkau telah bertanya kepadaku
tentang perkarayang begitu besar
akan tetapi akan terasa mudah bagi
orang-orang yang dimudahkan oleh
Alloh, engkau beribadah kepada Alloh dan tidak menyekutukannya
dengan suatu apapun, engkau
mendirikan sholat, menunaikan
zakat, berpuasa dibulan Ramadhan
dan melaksanakan ibadah haji.” Kemudian beliau berkata : “Maukah
aku tunjukkan kepadamu pintu-pintu
kebakan ? Berpuasa adalah perisai, sedekah dapat memadamkan
dosa-dosa sebagaimana air dapat
memadamkan api, demikian juga
sholat seseorang ditengah malam, kemudian beliau membacakan ayat,
‘…lambung-lambung mereka jauh dari
tempat tidur mereka…’ hingga ‘..apa
yang telah mereka kerjakan’ [QS. As-
Sajdah ; 17] Kemudian beliau bersabda : “Maukah
aku tunjukkan urusan yang
terpenting, tiang-tiang
penyanggahnya, dan puncak
tertingginya ?” Saya katakan : “Tentu
wahai Rosulullah”. Maka beliau bersabda : “Urusan terpenting adalah Islam, tiang penopangnya
adalah sholat sedangkan puncak
tertingginya (atapnya) adalah
jihad”. Kemudian lanjutnya : “Maukah aku
kabarkan kepadamu tentang kunci
semua itu ?” Saya menjawab : “Tentu
wahai Rosulullah”. Maka beliau
memegang lidahnya, lalu bersabda : “Jagalah olehmu ini!” Aku bertanya : “Wahai Nabi Alloh, apakah kami akan
disiksa dengan sebab perkataan yang
kami ucapkan?” Beliau menjawab : “ibumu kehilangan
kamu ya Muadz, bukankah orang-
orang itu tersungkur di Neraka diatas
wajah-wajah mereka atau diatas
hidung-hidung mereka, tidak lain
disebabkan oleh ulah lisan-lisan mereka ?” [HR. Tirmidzi, An-Nasa'i, Ibnu Majah,
dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani
dalam Al-Irwa'] ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Faedah yang terkandung dalam
hadits ini : 1. Antusias para shahabat untuk
melakukan amalan-amalan yang
dapat memasukkan ke dalam Surga
dan menjauhkan dari Neraka, dan ini
adalah perkara terpenting dalam
pandangan mereka, oleh karena itu Muadz bin Jabal bertanya kepada Nabi
sholallohu ‘alaihi wasallam tentang
suatu amalan yang dapat
memasukkan ke dalam Surga dan
menjauhkan dari Neraka. 2. Penetapan adanya Surga dan
Neraka, dan keduanya saat ini sudah
ada dan keduanya tidak akan sirna
selama-lamanya. 3. Penjelasan bahwa pertanyaan
Muadz bin Jabal ini adalah pertanyaan
yang begitu besar karena balasannya
begitu besar, sedangkan balasan
sesuai dengan kadar obyek yang
dibalasnya. Oleh karena itu Rosulullah bersabda : “Sungguh engkau telah
bertanya kepadaku tentang perkara
yang begitu besar.” maksudnya
adalah Muadz telah bertanya tentang
amalan yang begitu besar dengan
dalil balasan yang akan diperoleh dengan amalan tersebut. Kemudian
Nabi menjelaskan bahwa perkara
yang begitu agung ini ringan bagi
orang-orang yang diberi kemudahan
oleh Alloh. Maka dapat diambil faedah
dari sini, bahwa semestinya seseorang bersandar kepada Alloh untuk
memohon kemudahan dari-Nya
dalam segenap urusannya dan
semestinya kita pun mengetahui
bahwa diantara sebab diberikannya
kemudahan dari Alloh adalah bertaqwa kepada-Nya. Alloh ta’ala
berfirman : “Barangsiapa bertaqwa kepada Alloh,
niscaya Alloh akan menjadikan
baginya kemudahan dalam
urusannya.” QS. Ath-Thalaq ; 4 4. Bahwa perkara yang paling utama
dan paling besar adalah TAUHIDULLAH
(mentauhidkan Alloh) dan berlaku
ikhlas untuk Alloh, berdasarkan
sabdanya : “Engkau beribadah
kepada Alloh dan tidak menyekutukanNya dengan suatu
apapun.” 5. Arti pentingnya sholat karena
Rosulullah telah menyebutkan rukun
ini setelah kalimat Al-Ikhlas. Jika ada
yang bertanya, “Mana syahadat yang
kedua? Syahadat bahwa Muhammad
adalah Rosulullah ?” Maka kita katakan syahadat ini sudah dimaklumi
dari sabdanya : “Engkau beribadah
kepada Alloh dan tidak
menyekutukanNya dengan apapun
juga.” Dan telah lewat penjelasan ttg
hal itu. 6. Diantara faedahnya adalah
mendahulukan zakat diatas puasa,
karena ibadah ini lebih ditekankan. 7. Diantara faedahnya adalah
mendahulukan ibadah puasa diatas
haji, karena ibadah puasa dilakukan
setiap tahun, beda halnya dengan haji,
ibadah ini hanya diwajibkan satu kali
dalam seumur hidup. 8. Diantara faedahnya adalah dalam
kalimat ini terdapat isyarat tentang
rukun Islam, yakni : “Engkau
beribadah kepada Alloh dan tidak
menyekutukan-Nya dengan sesuatu
apapun, engkau mendirikan sholat, membayar zakat, berpuasa dibulan
Ramadhan dan berhaji ke Baitullah.” 9. Diantara faedahnya adalah
melontarkan pertanyaan kepada anak
didik agar membuatnya tergugah,
berdasarkan sabdanya : “Maukah aku
tunjukkan kepadamu pintu-pintu
kebaikan?” 10. Diantara faedahnya bahwa
kebaikan memiliki pintu-pintu, dan
pintu-pintu itu memiliki jalan masuk.
Hadits ini semodel dengan sabda
Rosulullah yang berbunyi: “Iman itu
lebih dari 72 cabang.” [Hadits Shohih dikeluarkan oleh Muslim] 11. Diantara faedahnya adalah bahwa
ibadah puasa sebagai perisai, yaitu
yang menghalangi orang yang
berpuasa dari perbuatan sia-sia, main-
main, ucapan dusta, dan kebodohan.
Ibadah inipun merupakan perisai bagi seseorang dari siksa api neraka.
Berdasarkan firman Alloh ‘azza wa
jalla : “Puasa adalah untuk-Ku dan
Akulah yang akan membalasnya.”
[Hadits Shohih dikeluarkan oleh
Bukhori] 12. Diantara faedahnya adalah
keutamaan bersedekah berdasarkan
sabda Rosulullah : “Bersedekah dapat
memadamkan kesalahan
sebagaimana air memadamkan api.” 13. Diantara faedahnya adalah bahwa
sholatnya seseorang ditengah malam
dapat memadamkan api kesalahan,
berdasarkan sabda Nabi sholallohu
‘alaihi wasallam diatas, karena beliau
membacakan firman-Nya : “Lambung mereka jauh dari tempat
tidurnya, sedangkan mereka berdoa
kepada Tuhannya dengan rasa takut
dan harap, serta mereka
menafkahkan sebagian rizqi yang
Kami berikan kepada mereka. Seorangpun tidak mengetahui apa
yang disembunyikan untuk mereka
berupa perkara yang menyenangkan
pandangan mata, sebagai balasan
atas apa yang mereka kerjakan.” QS.
As-Sajdah ; 16-17 14. Diantara faedahnya adalah bahwa
Nabi melontarkan permasalahan
dengan bentuk pertanyaan untuk
menarik perhatian orang yang diajak
bicara. 15. Diantara faedahnya adalah bahwa
urusan ini -yaitu urusan para
makhluk- memiliki tiang penyanggah
dan atap (bagian paling tinggi).
Urusan paling penting adalah Islam.
Tiang-tiangnya adalah Sholat sedangkan atapnya adalah jihad
dijalan Alloh. 16. Diantara faedahnya adalah bahwa
orang yang meninggalkan Sholat
adalah kafir, berdasarkan sabda Nabi :
“Tiang-tiang penyanggahnya adalah
sholat.” dan telah dimaklumi, jika
tiang-tiang itu runtuh, maka runtuh pula bangunan tersebut. Inilah
pendapat terkuat berdasarkan kitab
Alloh dan sunnah Rosulullah dan
ucapan para shahabat. 17. Diantara faedahnya adalah bahwa
jihad membawa ketinggian dan
kemuliaan Islam, berdasarkan sabda
Rosulullah : “Puncaknya adalah jihad.” 18. Diantara faedahnya adalah pokok
dari semua itu adalah MENJAGA LISAN,
berdasarkan sabda Rosulullah :
“Maukah aku kabarkan padamu
tentang pokok dari semua itu?” maka
beliau memegang lidahnya seraya bersabda : “Tahanlah olehmu ini!” 19. Diantara faedahnya adalah
bolehnya memberikan pelajaran
dengan menggunakan isyarat, karena
Nabi memegang lidahnya seraya
bersabda : “Tahanlah olehmu ini!” 20. Diantara faedahnya adalah bahaya
lisan terhadap diri seseorang,
berdasarkan sabda Nabi : “Bukankah
manusia tersungkur di Neraka diatas
wajah-wajah mereka atau hidung-
hidung mereka, tidak lain disebabkan ulah lisan-lisan mereka?” 21. Diantara faedahnya adalah Kehati-
hatian dalam hal periwayatan hadits
Nabi, karena perawi mengatakan : “Di
atas wajah-wajah mereka atau di atas
hidung-hidung mereka.” Ini
menunjukkan sikap amanah sempurna dalam penukilan hadits. Dan segala puji hanyalah bagi
Alloh…… -dikutip dari Kitab Syarah Al-Arbain An-Nawawiyah karya Syaikh Sholih Al-’Utsaimin ; penerbit Pustaka Ar
Royyan
Subscribe to:
Comments (Atom)