Segala puji bagi Allah, Rabb semesta
alam. Shalawat dan salam kepada
Nabi kita Muhammad, keluarga dan
sahabatnya.
Untuk menggapai hasil yang kita
cita-citakan, setiap orang punya
usaha keras. Siang malam
mengeluarkan keringat untuk
menggapainya. Mau usaha
laundrynya sukses, bisnis
komputernya lancar, atau berhasil
dalam menghadapi ujian berbagai
usaha pemasaran, inovasi produk
dan belajar keras pun dilakukan.
Namun satu hal yang mesti seorang
pengusaha atau seorang yang ingin
meraih keberhasilan perhatikan
adalah bagaimana dirinya jangan
sampai melupakan Rabb yang
memudahkan segala urusan. Betapa
pun usaha yang kita lakukan, itu
bisa jadi sia-sia ketika kita
melupakan Rabb Ar Rahman yang
mengabulkan segala hajat. Dengan
banyak memohon pada Al Fattaah,
Maha Pemberi Karunia, segala hal
bisa jadi lebih mudah. Inilah yang
jadi senjata seorang muslim yang
mesti ia gunakan untuk meraih
suksesnya.
Janji Allah Bagi Orang yang
Memanjatkan Do ’a
Ayat-ayat qur’aniyah berikut
menunjukkan keutamaan
seseorang yang memanjatkan do’a.
Allah Ta’ala berfirman,
ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺭَﺑُّﻜُﻢُ ﺍﺩْﻋُﻮﻧِﻲ ﺃَﺳْﺘَﺠِﺐْ ﻟَﻜُﻢْ ﺇِﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ
ﻳَﺴْﺘَﻜْﺒِﺮُﻭﻥَ ﻋَﻦْ ﻋِﺒَﺎﺩَﺗِﻲ ﺳَﻴَﺪْﺧُﻠُﻮﻥَ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ
ﺩَﺍﺧِﺮِﻳﻦَ
“ Dan Tuhanmu berfirman:
"Berdoalah kepada-Ku, niscaya
akan Kuperkenankan bagimu.
Sesungguhnya orang-orang yang
menyombongkan diri dari
menyembah-Ku akan masuk
neraka Jahannam dalam keadaan
hina dina".” (QS. Ghofir/ Al Mu’min:
60)
ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺳَﺄَﻟَﻚَ ﻋِﺒَﺎﺩِﻱ ﻋَﻨِّﻲ ﻓَﺈِﻧِّﻲ ﻗَﺮِﻳﺐٌ ﺃُﺟِﻴﺐُ
ﺩَﻋْﻮَﺓَ ﺍﻟﺪَّﺍﻉِ ﺇِﺫَﺍ ﺩَﻋَﺎﻥِ ﻓَﻠْﻴَﺴْﺘَﺠِﻴﺒُﻮﺍ ﻟِﻲ
ﻭَﻟْﻴُﺆْﻣِﻨُﻮﺍ ﺑِﻲ ﻟَﻌَﻠَّﻬُﻢْ ﻳَﺮْﺷُﺪُﻭﻥَ
“ Dan apabila hamba-hamba-Ku
bertanya kepadamu tentang Aku,
maka (jawablah), bahwasanya Aku
adalah dekat. Aku mengabulkan
permohonan orang yang berdoa
apabila ia memohon kepada-Ku,
maka hendaklah mereka itu
memenuhi (segala perintah-Ku) dan
hendaklah mereka beriman
kepada-Ku, agar mereka selalu
berada dalam kebenaran. ” (QS. Al
Baqarah: 186)
Beberapa hadits berikut juga
menunjukkan bagaimanakah
keutamaan seseorang yang tidak
bosan-bosannya memohon pada
Allah. Dari An Nu ’man bin Basyir,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
ﺍﻟﺪُّﻋَﺎﺀُ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻌِﺒَﺎﺩَﺓُ
“ Do’a adalah ibadah.”[1]
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu
‘ alaihi wa sallam bersabda,
ﻟَﻴْﺲَ ﺷَﻲْﺀٌ ﺃَﻛْﺮَﻡَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻣِﻦَ
ﺍﻟﺪُّﻋَﺎﺀِ
“ Tidak ada sesuatu yang lebih besar
pengaruhnya di sisi Allah Ta’ala
selain do’a.”[2]
Dari Abu Sa’id, Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda,
« ﻣﺎ ﻣِﻦْ ﻣُﺴْﻠِﻢٍ ﻳَﺪْﻋُﻮ ﺑِﺪَﻋْﻮَﺓٍ ﻟَﻴْﺲَ ﻓِﻴﻬَﺎ
ﺇِﺛْﻢٌ ﻭَﻻَ ﻗَﻄِﻴﻌَﺔُ ﺭَﺣِﻢٍ ﺇِﻻَّ ﺃَﻋْﻄَﺎﻩُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﻬَﺎ
ﺇِﺣْﺪَﻯ ﺛَﻼَﺙٍ ﺇِﻣَّﺎ ﺃَﻥْ ﺗُﻌَﺠَّﻞَ ﻟَﻪُ ﺩَﻋْﻮَﺗُﻪُ ﻭَﺇِﻣَّﺎ ﺃَﻥْ
ﻳَﺪَّﺧِﺮَﻫَﺎ ﻟَﻪُ ﻓِﻰ ﺍﻵﺧِﺮَﺓِ ﻭَﺇِﻣَّﺎ ﺃَﻥُْ ﻳَﺼْﺮِﻑَ ﻋَﻨْﻪُ
ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴُّﻮﺀِ ﻣِﺜْﻠَﻬَﺎ «. ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺇِﺫﺍً ﻧُﻜْﺜِﺮُ. ﻗَﺎﻝَ »
ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻛْﺜَﺮُ »
“Tidaklah seorang muslim
memanjatkan do’a pada Allah
selama tidak mengandung dosa dan
memutuskan silaturahmi (antar
kerabat, pen) melainkan Allah akan
beri padanya tiga hal: [1] Allah akan
segera mengabulkan do ’anya, [2]
Allah akan menyimpannya baginya
di akhirat kelak, dan [3] Allah akan
menghindarkan darinya kejelekan
yang semisal. ” Para sahabat lantas
mengatakan, “Kalau begitu kami
akan memperbanyak berdo’a.” Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas
berkata, “Allah nanti yang
memperbanyak mengabulkan do'a-
do'a kalian. ”[3]
Bukti Ampuhnya Do’a
Beberapa kisah berikut
membuktikan betapa ampuhnya
do ’a bagi seorang muslim.
(1) Do’a Ummu Salamah sehingga
bisa menikah dengan Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ada sebuah hadits dari Ummu
Salamah -salah satu istri Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam- berkata
bahwa beliau pernah mendengar
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda,
« ﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﻋَﺒْﺪٍ ﺗُﺼِﻴﺒُﻪُ ﻣُﺼِﻴﺒَﺔٌ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ ﺇِﻧَّﺎ ﻟِﻠَّﻪِ
ﻭَﺇِﻧَّﺎ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺭَﺍﺟِﻌُﻮﻥَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺃْﺟُﺮْﻧِﻰ ﻓِﻰ
ﻣُﺼِﻴﺒَﺘِﻰ ﻭَﺃَﺧْﻠِﻒْ ﻟِﻰ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺇِﻻَّ ﺃَﺟَﺮَﻩُ
ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻓِﻰ ﻣُﺼِﻴﺒَﺘِﻪِ ﻭَﺃَﺧْﻠَﻒَ ﻟَﻪُ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻣِﻨْﻬَﺎ «.
ﻗَﺎﻟَﺖْ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺗُﻮُﻓِّﻰَ ﺃَﺑُﻮ ﺳَﻠَﻤَﺔَ ﻗُﻠْﺖُ ﻛَﻤَﺎ
ﺃَﻣَﺮَﻧِﻰ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ -ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ-
ﻓَﺄَﺧْﻠَﻒَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟِﻰ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻣِﻨْﻪُ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ -
ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -.
“Siapa saja dari hamba yang
tertimpa suatu musibah lalu ia
mengucapkan: “Inna lillahi wa inna
ilaihi rooji'un. Allahumma'jurnii fii
mushibatii wa akhlif lii khoiron
minhaa [Segala sesuatu adalah milik
Allah dan akan kembali pada-Nya.
Ya Allah, berilah ganjaran terhadap
musibah ang menimpaku dan
berilah ganti dengan yang lebih
baik ]”, maka Allah akan
memberinya ganjaran dalam
musibahnya dan menggantinya
dengan yang lebih baik. ” Ketika,
Abu Salamah (suamiku) wafat, aku
pun menyebut do'a sebagaimana
yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam perintahkan padaku. Allah
pun memberiku suami yang lebih
baik dari suamiku yang dulu yaitu
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam. ”[4]
Lihatlah bagaimana do’a Ummu
Salamah bisa dikabulkan dengan
diberi suami seperti Rasul shallallahu
‘ alaihi wa sallam. Ini menunjukkan
ajaibnya do’a.
(2) Kisah Seorang Istri yang
Mendoakan Suaminya yang Bejat
Ada seorang suami yang benar-
benar jauh dari ketaatan pada Allah
Ta ’ala, yang gemar melakukan
dosa. Ia memiliki istri yang
sholehah. Istrinya ini senantiasa
memberinya nasehat, wejangan
dan berlemah lembut dalam ucapan
pada suaminya, namun belum juga
nampak bekas kebaikan pada diri
sang suami. Si istri ini pun tahu
bahwa do ’a kepada Allah Ta’ala
adalah sebaik-baiknya cara (agar
suaminya bisa mendapatkan
hidayah). Karena Allah subhanahu
wa ta ’ala yang memberi petunjuk
pada siapa saja yang Dia kehendaki
dan menyesatkan siapa saja yang
Dia kehendaki. Si istri ini akhirnya
terus menerus berdoa agar Allah
memperbaiki keadaan suaminya
menjadi baik dan menunjukkan
suaminya ke jalan yang lurus
(shirothol mustaqim). Ia tidak
bosan-bosannya berdoa akan hal ini
siang dan malam.
Akhirnya si istri mendapatkan
waktu yang ia nanti-nanti. Suatu
hari hidayah pun menghampiri
suaminya, nampak pada suaminya
tanda kembali taat. Suaminya
akhirnya gemar lakukan kebaikan,
ia pun bertaubat dan kembali
kepada Allah Ta ’ala. Walillahil hamd,
segala puji hanya untuk Allah.[5]
Lihatlah bagaimana lagi satu kisah
yang menunjukkan keinginan yang
terwujud berkat do ’a pada Allah.
(3) Kisah Seorang Pria yang
Dikaruniai Anak di Usia Senja.
Ada seorang pria menikahi seorang
wanita. Ia sudah bersama wanita
tersebut beberapa tahun lamanya,
namun belum juga dikaruniai anak.
Lalu ia menikah lagi dengan wanita
lainnya, Allah pun belum
menakdirkan baginya untuk
memiliki anak. Hal ini membuat ia
semakin merindukan memiliki buah
hati. Ketika usianya sudah beranjak
dewasa, ia menikah lagi dengan
wanita ketiga. Padahal umurnya
ketika itu adalah 60 tahun. Di setiap
malam, ia selalu melakukan shalat
tahajud. Di waktu sahr (menjelang
Shubuh), ia berdo ’a pada Allah, “Ya
Allah, karuniakanlah padaku
seorang anak laki-laki atau seorang
anak perempuan. ” Dengan karunia
Allah subhanahu wa ta’ala, akhirnya
istrinya pun hamil. Kemudian
datanglah waktu istrinya
melahirkan. Ia pun diberikan kabar
gembira dengan diberi rizki seorang
putera. Ia begitu amat gembira dan
banyak bersyukur pada Allah.
Beberapa waktu lagi setelah
kelahiran tadi, Allah memberinya
juga seorang puteri. Fa subhanal
kariim. Maha Suci Allah atas karunia-
Nya.[6]
Kisah ini menunjukkan bagaimana
ampuhnya do’a bagi seorang
muslim. Mendapatkan keturunan di
usia tua juga sudah dialami oleh
Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Namun
Nabi Ibrahim mendapatkan anak
dengan istri yang sama-sama juga
sudah berusia senja. Allah Ta'ala
menceritakan,
ﻭَﺍﻣْﺮَﺃَﺗُﻪُ ﻗَﺎﺋِﻤَﺔٌ ﻓَﻀَﺤِﻜَﺖْ ﻓَﺒَﺸَّﺮْﻧَﺎﻫَﺎ
ﺑِﺈِﺳْﺤَﺎﻕَ ﻭَﻣِﻦْ ﻭَﺭَﺍﺀِ ﺇِﺳْﺤَﺎﻕَ ﻳَﻌْﻘُﻮﺏَ )71(
ﻗَﺎﻟَﺖْ ﻳَﺎ ﻭَﻳْﻠَﺘَﺎ ﺃَﺃَﻟِﺪُ ﻭَﺃَﻧَﺎ ﻋَﺠُﻮﺯٌ ﻭَﻫَﺬَﺍ ﺑَﻌْﻠِﻲ
ﺷَﻴْﺨًﺎ ﺇِﻥَّ ﻫَﺬَﺍ ﻟَﺸَﻲْﺀٌ ﻋَﺠِﻴﺐٌ )72 )
“Dan isterinya berdiri (dibalik tirai)
lalu dia tersenyum, maka Kami
sampaikan kepadanya berita
gembira tentang (kelahiran) Ishak
dan dari Ishak (akan lahir
puteranya) Ya'qub. Isterinya
berkata: "Sungguh mengherankan,
apakah aku akan melahirkan anak
padahal aku adalah seorang
perempuan tua, dan ini suamikupun
dalam keadaan yang sudah tua
pula?. Sesungguhnya ini benar-
benar suatu yang sangat aneh."
” (QS. Huud: 71-72)
Itulah karunia Allah, suatu hal yang
mustahil bisa saja terjadi dengan izin
Allah.
(4) Seorang Pemuda yang Berdo’a
agar Dimudahkan Menundukkan
Pandangan dari yang Haram
Ada seorang pemuda yang sempat
melihat video-video (porno) dan
gambar lain yang diharamkan. Ia
pun bertekad kuat agar terhindar
dari melihat seperti itu. Namun ia
tidak mampu. Kemudian ia mampu.
Ia pun berdo ’a pada Allah Ta’ala
agar Allah menjaga pendengaran
dan penglihatannya dari yang
haram. Akhirnya, Allah
memperkenankan do ’anya. Dari sini
ia pun tidak suka melihat gambar-
gambar yang terlarang seperti itu.
Sampai-sampai ia pun bisa
menghafalkan Al Qur ’an karena
sikapnya yang menjauhi maksiat.[7]
Kisah ini membuktikan bahwa kita
bisa terhindar dari maksiat hanya
dengan taufik Allah, jalannya adalah
dengan banyak memohon pada
Allah. Laa hawla wa laa quwwata illa
billah, tidak ada kekuatan untuk
melaksanakan ketaatan dan
menjauhi maksiat kecuali dengan
pertolongan Ar Rahman. Do ’a yang
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
ajarkan agar kita bisa menjaga
pandangan, pendengaran dan hati
kita dari kejelekan dan maksiat
adalah do ’a,
ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻰ ﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﺷَﺮِّ ﺳَﻤْﻌِﻰ ﻭَﻣِﻦْ
ﺷَﺮِّ ﺑَﺼَﺮِﻯ ﻭَﻣِﻦْ ﺷَﺮِّ ﻟِﺴَﺎﻧِﻰ ﻭَﻣِﻦْ ﺷَﺮِّ
ﻗَﻠْﺒِﻰ ﻭَﻣِﻦْ ﺷَﺮِّ ﻣَﻨِﻴِّﻰ
“ Allahumma inni a’udzu bika min
syarri sam’ii, wa min syarri bashorii,
wa min syarri lisaanii, wa min syarri
qolbii wa min syarri maniyyii ” (Ya
Allah, aku berlindung pada-Mu dari
kejelekan pendengaran,
penglihatan, lisan, hati dan angan-
angan yang rusak).[8]
“Bekerjalah kamu, maka Allah dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS at-Taubah /9: 105).
Tuesday, 8 March 2011
mutiara terkubur dalam diri..apa itu malu..?
Ia begitu indah. Menghiasi hati pemeliharanya
dengan pancaran sinar kebaikan. Akan tetapi, ia
kini menghilang. Terpendam dalam kegelapan
hati yang melupakannya. Itulah rasa malu.
Bagaikan mutiara yang terkubur. Ia adalah
keistimewaan para manusia, akhlak yang agung,
tanpanya tidak ada kebaikan sedikitpun dalam
kehidupan.
Apa Itu Malu?
Malu adalah getaran rasa takut dan segan yang
terjadi di dalam hati untuk melakukan sesuatu
yang telah diharamkan oleh Allah Ta ’ala, untuk
tidak melakukan sesuatu yang telah diwajibkan
Allah Ta ’ala, atau untuk melakukan sesuatu yang
tidak dianggap baik oleh manusia selama hal
tersebut juga tidak dianggap baik oleh syariat.
Sehingga rasa malu menjadi penghalang antara
keberanian untuk melakukan kemaksiatan dan
menahan diri dari melakukannya, karena rasa
malu ibarat bendungan yang apabila hancur,
maka air pun akan mengalir dan
menenggelamkan segala sesuatu. Oleh karena itu,
jika seseorang tidak memiliki rasa malu, maka dia
tidak memiliki bendungan, sehingga tidak ada
yang menghalanginya dari melakukan
kemaksiatan. Rasa malu juga tidak akan terjadi
kecuali karena kebaikan. Rasulullah shallallahu
‘ alaihi wa sallam bersabda:
ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺀُ ﻟَﺎ ﻳَﺄْﺗِﻲ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺨَﻴْﺮ
“Sifat malu itu tidak mendatangkan sesuatu
melainkan kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Setangkai Cabang Keimanan
Seiring dengan bertambahnya rasa malu, maka
keimanan pun bertambah. Sebaliknya, jika rasa
malu itu berkurang, berkurang pula
keimanannya. Karena rasa malu adalah sebagian
dari iman. Sebagaimana yang disabdakan oleh
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau
bersabda:
ﺍﻟْﺈِﻳﻤَﺎﻥُ ﺑِﻀْﻊٌ ﻭَﺳَﺒْﻌُﻮﻥَ ﺃَﻭْ
ﺑِﻀْﻊٌ ﻭَﺳِﺘُّﻮﻥَ ﺷُﻌْﺒَﺔً
ﻓَﺄَﻓْﻀَﻠُﻬَﺎ ﻗَﻮْﻝُ ﻟَﺎ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻟَّﺎ
ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺃَﺩْﻧَﺎﻫَﺎ ﺇِﻣَﺎﻃَﺔُ ﺍﻟْﺄَﺫَﻯ
ﻋَﻦْ ﺍﻟﻄَّﺮِﻳﻖِ ﻭَﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺀُ ﺷُﻌْﺒَﺔٌ
ﻣِﻦْ ﺍﻟْﺈِﻳﻤَﺎﻥ
“Keimanan memiliki tujuh puluh atau enam
puluh sekian cabang. Yang paling tinggi adalah
ucapan “Laa ilaaha illallaah” dan yang paling
rendah adalah menyingkirkan gangguan dari
jalan. Sedangkan rasa malu adalah satu dari
cabang-cabang iman. ” (HR. Bukhari dan Muslim)
Obat Penawar Keburukan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ﺇِﻥَّ ﻣِﻤَّﺎ ﺃَﺩْﺭَﻙَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻣِﻦْ
ﻛَﻠَﺎﻡِ ﺍﻟﻨُّﺒُﻮَّﺓِ ﺍﻟْﺄُﻭﻟَﻰ ﺇِﺫَﺍ
ﻟَﻢْ ﺗَﺴْﺘَﺤْﻲِ ﻓَﺎﺻْﻨَﻊْ ﻣَﺎ ﺷِﺌْﺖَ
“Sesungguhnya di antara perkara yang telah
dipahami oleh manusia dari perkataan kenabian
pertama adalah ‘Jika kamu tidak malu, maka
lakukanlah apa yang kamu suka.’” (HR. Bukhari)
Maksudnya adalah bahwa sesungguhnya
penghalang keburukan adalah rasa malu. Oleh
karena itu, orang yang rasa malu telah hilang dari
dalam hatinya, dia akan berbuat apa yang dia
suka. Dia tidak merasa malu di hadapan manusia,
di hadapan dirinya sendiri, bahkan di hadapan
Allah Ta’ala. Maka dia pasti akan mendapatkan
balasan dari apa yang dia perbuat.
Abu Dulaf al-’Ijli rahimahullahu berkata:
Apabila kamu tidak menjaga kehormatan..
Dan tidak takut Sang Pencipta..
Juga tidak merasa malu terhadap makhluk..
Maka lakukan apa yang kamu suka..
Rasa Malu Tidak Menghalangi Amar Ma’ruf
Dan Nahi Munkar
Allah Ta’ala berfirman(yang artinya):
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan
umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma ’ruf dan mencegah
dari yang munkar; merekalah orang-orang yang
beruntung. ” (QS. Ali ‘Imran: 104)
Dosa yang pernah kita perbuat bukanlah menjadi
alasan untuk meninggalkan amar ma ’ruf nahi
munkar. Karena meninggalkannya juga termasuk
dosa. Padahal setiap anak Adam sering
melakukan kesalahan, bahkan setiap da ’i pun
pernah berbuat kesalahan. Seorang penyair
berkata:
Jika saja orang yang berbuat dosa tidak pantas
untuk menasehati manusia
Siapakah yang pantas menasehati para pelaku
maksiat setelah kematian Nabi Muhammad
Rasa Malu Bukan Penghalang Menuntut Ilmu
Sebagaiamana yang diriwayatkan oleh Imam
Bukhari dalam Shahih-nya dari Mujahid berkata:
“ Tidak akan belajar ilmu orang yang pemalu dan
sombong.” Rasa malu bukanlah penghalang
seseorang untuk berbuat kebaikan. Terlebih lagi
kebaikan yang sangat agung, dimana kita
diperintahkan untuk berlomba-lomba di
dalamnya, seperti menuntut ilmu. Sungguh tidak
sepatutnya rasa malu menghalangi kita
menghadiri majelis ta ’lim, bertanya tentang
agama, dan mendalami syariat Islam.
Sebagaimana kaum wanita anshor yang terkenal
dengan sifat malu, akan tetapi hal itu tidak
menghalangi mereka dari mempelajari agama
mereka. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh
Imam Muslim dalam Shahih-nya dari ‘Aisyah
radhiyallahu ‘anha, dia mengabarkan:
ﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀُ ﻧِﺴَﺎﺀُ ﺍﻟْﺄَﻧْﺼَﺎﺭِ
ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻳَﻤْﻨَﻌُﻬُﻦَّ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺀُ
ﺃَﻥْ ﻳَﺴْﺄَﻟْﻦَ ﻋَﻦْ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ ﻭَﺃَﻥْ
ﻳَﺘَﻔَﻘَّﻬْﻦَ ﻓِﻴﻪِ
“Sebaik-baik wanita adalah wanita kaum Anshar.
Rasa malu mereka tidak menghalangi mereka
untuk mendalami ilmu agama. ”
Tidak Menampakkan Perbuatan
Kemaksiatan Adalah Rasa Malu
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ﻛُﻞُّ ﺃُﻣَّﺘِﻲ ﻣُﻌَﺎﻓًﻰ ﺇِﻟَّﺎ
ﺍﻟْﻤُﺠَﺎﻫِﺮِﻳﻦَ ﻭَﺇِﻥَّ ﻣِﻦَ
ﺍﻟْﻤُﺠَﺎﻫَﺮَﺓِ )ﺍﻟْﻤَﺠَﺎﻧَﺔِ( ﺃَﻥْ
ﻳَﻌْﻤَﻞَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻋَﻤَﻠًﺎ
ﺛُﻢَّ ﻳُﺼْﺒِﺢَ ﻭَﻗَﺪْ ﺳَﺘَﺮَﻩُ ﺍﻟﻠﻪُ
ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝَ ﻳَﺎ ﻓُﻠَﺎﻥُ ﻋَﻤِﻠْﺖُ
ﺍﻟْﺒَﺎﺭِﺣَﺔَ ﻛَﺬَﺍ ﻭَﻛَﺬَﺍ ﻭَﻗَﺪْ ﺑَﺎﺕَ
ﻳَﺴْﺘُﺮُﻩُ ﺭَﺑُّﻪُ ﻭَﻳُﺼْﺒِﺢُ ﻳَﻜْﺸِﻒُ
ﺳِﺘْﺮَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻋَﻨْﻪُ
“Seluruh umatku akan diampuni kecuali orang-
orang yang terang-terangan (bermaksiat). Di
antaranya adalah seorang lelaki yang pada malam
hari melakukan satu perbuatan maksiat, padahal
Allah Ta ’ala telah menutupi aibnya tersebut, tetapi
ketika di pagi hari, dia berkata: ‘Wahai Fulan, tadi
malam aku telah melakukan ini dan itu.’ Pada
malam hari Rabb-nya telah menutupi aibnya,
akan tetapi ketika pagi hari dia membuka penutup
tersebut darinya. ” (HR. Bukhari dan Muslim)
Fenomena Rasa Malu
Sebagai contoh nyata adalah sikap malu seorang
remaja putri yang bertemu dengan Nabi Musa
‘ alaihis salam, yang kisahnya telah disebutkan
dalam Al-Qur’an:
“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang
dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia
berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil
kamu agar ia memberikan Balasan terhadap
(kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami”.
Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib)
dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai
dirinya), Syu ’aib berkata: “Janganlah kamu takut.
kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim
itu. ” (QS. Al-Qoshshoh: 25)
Allah Ta’ala telah menyifatinya dengan rasa malu
di dalam cara jalan dan bicaranya, yang
semuanya dihiasi dengan rasa malu.
Namun kenyataan sekarang berbicara lain.
Kebanyakan wanita sekarang menjadi pameran
fashion. Mereka keluar rumah membuka aurat,
ber-tabarruj, dan memakai wangi-wangian.
Sungguh rasa malu telah hilang dari mereka.
Bahkan tidak sedikit kaum lelaki tanpa rasa malu
mengumbar pandangan untuk mengintai aurat
wanita. Tidakkah mereka tahu bahwa Allah Ta ’ala
Maha Mengetahui mata-mata yang berkhianat dan
segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati?
Tidakkah mereka tahu bahwa pandangan mata
adalah panah beracun dari panah-panah setan
laknatullah? Panah tersebut bisa saja
menghancurkan keimanan. Sehingga ia
berpeluang besar berpindah dari satu maksiat ke
maksiat lain.
Ibnu as-Samaak rahimahullahu berkata:
Hai pecandu dosa, tidakkah kamu merasa malu..
Padahal Allah bersamamu di dalam
kesendirianmu..
Penangguhan dosa dari Rabbmu telah
menipumu..
Juga banyaknya keburukan yang telah ditutupi
untukmu..
Oleh karena itu, sudah seharusnya bagi kita agar
bersikap malu untuk melakukan kemaksiatan dan
meninggalkan kewajiban. Akan tetapi, tidak
selayaknya kita bersikap malu untuk
meninggalkan keburukan dan mengerjakan
kebaikan. Janganlah kita biarkan mutiara yang
begitu indah terkubur dalam kegelapan hati. Akan
tetapi, hiasilah hati kita dengan sinar kemuliaannya
yang berkilau. Allahu al-Musta ’an.
[Abu Ahnaf Roni Nuryusmansyah
dengan pancaran sinar kebaikan. Akan tetapi, ia
kini menghilang. Terpendam dalam kegelapan
hati yang melupakannya. Itulah rasa malu.
Bagaikan mutiara yang terkubur. Ia adalah
keistimewaan para manusia, akhlak yang agung,
tanpanya tidak ada kebaikan sedikitpun dalam
kehidupan.
Apa Itu Malu?
Malu adalah getaran rasa takut dan segan yang
terjadi di dalam hati untuk melakukan sesuatu
yang telah diharamkan oleh Allah Ta ’ala, untuk
tidak melakukan sesuatu yang telah diwajibkan
Allah Ta ’ala, atau untuk melakukan sesuatu yang
tidak dianggap baik oleh manusia selama hal
tersebut juga tidak dianggap baik oleh syariat.
Sehingga rasa malu menjadi penghalang antara
keberanian untuk melakukan kemaksiatan dan
menahan diri dari melakukannya, karena rasa
malu ibarat bendungan yang apabila hancur,
maka air pun akan mengalir dan
menenggelamkan segala sesuatu. Oleh karena itu,
jika seseorang tidak memiliki rasa malu, maka dia
tidak memiliki bendungan, sehingga tidak ada
yang menghalanginya dari melakukan
kemaksiatan. Rasa malu juga tidak akan terjadi
kecuali karena kebaikan. Rasulullah shallallahu
‘ alaihi wa sallam bersabda:
ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺀُ ﻟَﺎ ﻳَﺄْﺗِﻲ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺨَﻴْﺮ
“Sifat malu itu tidak mendatangkan sesuatu
melainkan kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Setangkai Cabang Keimanan
Seiring dengan bertambahnya rasa malu, maka
keimanan pun bertambah. Sebaliknya, jika rasa
malu itu berkurang, berkurang pula
keimanannya. Karena rasa malu adalah sebagian
dari iman. Sebagaimana yang disabdakan oleh
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau
bersabda:
ﺍﻟْﺈِﻳﻤَﺎﻥُ ﺑِﻀْﻊٌ ﻭَﺳَﺒْﻌُﻮﻥَ ﺃَﻭْ
ﺑِﻀْﻊٌ ﻭَﺳِﺘُّﻮﻥَ ﺷُﻌْﺒَﺔً
ﻓَﺄَﻓْﻀَﻠُﻬَﺎ ﻗَﻮْﻝُ ﻟَﺎ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻟَّﺎ
ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺃَﺩْﻧَﺎﻫَﺎ ﺇِﻣَﺎﻃَﺔُ ﺍﻟْﺄَﺫَﻯ
ﻋَﻦْ ﺍﻟﻄَّﺮِﻳﻖِ ﻭَﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺀُ ﺷُﻌْﺒَﺔٌ
ﻣِﻦْ ﺍﻟْﺈِﻳﻤَﺎﻥ
“Keimanan memiliki tujuh puluh atau enam
puluh sekian cabang. Yang paling tinggi adalah
ucapan “Laa ilaaha illallaah” dan yang paling
rendah adalah menyingkirkan gangguan dari
jalan. Sedangkan rasa malu adalah satu dari
cabang-cabang iman. ” (HR. Bukhari dan Muslim)
Obat Penawar Keburukan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ﺇِﻥَّ ﻣِﻤَّﺎ ﺃَﺩْﺭَﻙَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻣِﻦْ
ﻛَﻠَﺎﻡِ ﺍﻟﻨُّﺒُﻮَّﺓِ ﺍﻟْﺄُﻭﻟَﻰ ﺇِﺫَﺍ
ﻟَﻢْ ﺗَﺴْﺘَﺤْﻲِ ﻓَﺎﺻْﻨَﻊْ ﻣَﺎ ﺷِﺌْﺖَ
“Sesungguhnya di antara perkara yang telah
dipahami oleh manusia dari perkataan kenabian
pertama adalah ‘Jika kamu tidak malu, maka
lakukanlah apa yang kamu suka.’” (HR. Bukhari)
Maksudnya adalah bahwa sesungguhnya
penghalang keburukan adalah rasa malu. Oleh
karena itu, orang yang rasa malu telah hilang dari
dalam hatinya, dia akan berbuat apa yang dia
suka. Dia tidak merasa malu di hadapan manusia,
di hadapan dirinya sendiri, bahkan di hadapan
Allah Ta’ala. Maka dia pasti akan mendapatkan
balasan dari apa yang dia perbuat.
Abu Dulaf al-’Ijli rahimahullahu berkata:
Apabila kamu tidak menjaga kehormatan..
Dan tidak takut Sang Pencipta..
Juga tidak merasa malu terhadap makhluk..
Maka lakukan apa yang kamu suka..
Rasa Malu Tidak Menghalangi Amar Ma’ruf
Dan Nahi Munkar
Allah Ta’ala berfirman(yang artinya):
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan
umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma ’ruf dan mencegah
dari yang munkar; merekalah orang-orang yang
beruntung. ” (QS. Ali ‘Imran: 104)
Dosa yang pernah kita perbuat bukanlah menjadi
alasan untuk meninggalkan amar ma ’ruf nahi
munkar. Karena meninggalkannya juga termasuk
dosa. Padahal setiap anak Adam sering
melakukan kesalahan, bahkan setiap da ’i pun
pernah berbuat kesalahan. Seorang penyair
berkata:
Jika saja orang yang berbuat dosa tidak pantas
untuk menasehati manusia
Siapakah yang pantas menasehati para pelaku
maksiat setelah kematian Nabi Muhammad
Rasa Malu Bukan Penghalang Menuntut Ilmu
Sebagaiamana yang diriwayatkan oleh Imam
Bukhari dalam Shahih-nya dari Mujahid berkata:
“ Tidak akan belajar ilmu orang yang pemalu dan
sombong.” Rasa malu bukanlah penghalang
seseorang untuk berbuat kebaikan. Terlebih lagi
kebaikan yang sangat agung, dimana kita
diperintahkan untuk berlomba-lomba di
dalamnya, seperti menuntut ilmu. Sungguh tidak
sepatutnya rasa malu menghalangi kita
menghadiri majelis ta ’lim, bertanya tentang
agama, dan mendalami syariat Islam.
Sebagaimana kaum wanita anshor yang terkenal
dengan sifat malu, akan tetapi hal itu tidak
menghalangi mereka dari mempelajari agama
mereka. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh
Imam Muslim dalam Shahih-nya dari ‘Aisyah
radhiyallahu ‘anha, dia mengabarkan:
ﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀُ ﻧِﺴَﺎﺀُ ﺍﻟْﺄَﻧْﺼَﺎﺭِ
ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻳَﻤْﻨَﻌُﻬُﻦَّ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺀُ
ﺃَﻥْ ﻳَﺴْﺄَﻟْﻦَ ﻋَﻦْ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ ﻭَﺃَﻥْ
ﻳَﺘَﻔَﻘَّﻬْﻦَ ﻓِﻴﻪِ
“Sebaik-baik wanita adalah wanita kaum Anshar.
Rasa malu mereka tidak menghalangi mereka
untuk mendalami ilmu agama. ”
Tidak Menampakkan Perbuatan
Kemaksiatan Adalah Rasa Malu
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ﻛُﻞُّ ﺃُﻣَّﺘِﻲ ﻣُﻌَﺎﻓًﻰ ﺇِﻟَّﺎ
ﺍﻟْﻤُﺠَﺎﻫِﺮِﻳﻦَ ﻭَﺇِﻥَّ ﻣِﻦَ
ﺍﻟْﻤُﺠَﺎﻫَﺮَﺓِ )ﺍﻟْﻤَﺠَﺎﻧَﺔِ( ﺃَﻥْ
ﻳَﻌْﻤَﻞَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻋَﻤَﻠًﺎ
ﺛُﻢَّ ﻳُﺼْﺒِﺢَ ﻭَﻗَﺪْ ﺳَﺘَﺮَﻩُ ﺍﻟﻠﻪُ
ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝَ ﻳَﺎ ﻓُﻠَﺎﻥُ ﻋَﻤِﻠْﺖُ
ﺍﻟْﺒَﺎﺭِﺣَﺔَ ﻛَﺬَﺍ ﻭَﻛَﺬَﺍ ﻭَﻗَﺪْ ﺑَﺎﺕَ
ﻳَﺴْﺘُﺮُﻩُ ﺭَﺑُّﻪُ ﻭَﻳُﺼْﺒِﺢُ ﻳَﻜْﺸِﻒُ
ﺳِﺘْﺮَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻋَﻨْﻪُ
“Seluruh umatku akan diampuni kecuali orang-
orang yang terang-terangan (bermaksiat). Di
antaranya adalah seorang lelaki yang pada malam
hari melakukan satu perbuatan maksiat, padahal
Allah Ta ’ala telah menutupi aibnya tersebut, tetapi
ketika di pagi hari, dia berkata: ‘Wahai Fulan, tadi
malam aku telah melakukan ini dan itu.’ Pada
malam hari Rabb-nya telah menutupi aibnya,
akan tetapi ketika pagi hari dia membuka penutup
tersebut darinya. ” (HR. Bukhari dan Muslim)
Fenomena Rasa Malu
Sebagai contoh nyata adalah sikap malu seorang
remaja putri yang bertemu dengan Nabi Musa
‘ alaihis salam, yang kisahnya telah disebutkan
dalam Al-Qur’an:
“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang
dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia
berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil
kamu agar ia memberikan Balasan terhadap
(kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami”.
Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib)
dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai
dirinya), Syu ’aib berkata: “Janganlah kamu takut.
kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim
itu. ” (QS. Al-Qoshshoh: 25)
Allah Ta’ala telah menyifatinya dengan rasa malu
di dalam cara jalan dan bicaranya, yang
semuanya dihiasi dengan rasa malu.
Namun kenyataan sekarang berbicara lain.
Kebanyakan wanita sekarang menjadi pameran
fashion. Mereka keluar rumah membuka aurat,
ber-tabarruj, dan memakai wangi-wangian.
Sungguh rasa malu telah hilang dari mereka.
Bahkan tidak sedikit kaum lelaki tanpa rasa malu
mengumbar pandangan untuk mengintai aurat
wanita. Tidakkah mereka tahu bahwa Allah Ta ’ala
Maha Mengetahui mata-mata yang berkhianat dan
segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati?
Tidakkah mereka tahu bahwa pandangan mata
adalah panah beracun dari panah-panah setan
laknatullah? Panah tersebut bisa saja
menghancurkan keimanan. Sehingga ia
berpeluang besar berpindah dari satu maksiat ke
maksiat lain.
Ibnu as-Samaak rahimahullahu berkata:
Hai pecandu dosa, tidakkah kamu merasa malu..
Padahal Allah bersamamu di dalam
kesendirianmu..
Penangguhan dosa dari Rabbmu telah
menipumu..
Juga banyaknya keburukan yang telah ditutupi
untukmu..
Oleh karena itu, sudah seharusnya bagi kita agar
bersikap malu untuk melakukan kemaksiatan dan
meninggalkan kewajiban. Akan tetapi, tidak
selayaknya kita bersikap malu untuk
meninggalkan keburukan dan mengerjakan
kebaikan. Janganlah kita biarkan mutiara yang
begitu indah terkubur dalam kegelapan hati. Akan
tetapi, hiasilah hati kita dengan sinar kemuliaannya
yang berkilau. Allahu al-Musta ’an.
[Abu Ahnaf Roni Nuryusmansyah
Subscribe to:
Comments (Atom)