Wednesday, 6 April 2011

Muslimah sejati

MUSLIMAH SEJATI Daripada Umm Salamah, isteri
Nabi SAW, katanya(di dalam
sebuah hadis yang panjang):
Aku berkata, “Wahai Rasulullah! Adakah wanita di dunia lebih
baik atau bidadari ?” Baginda menjawab, “Wanita di dunia lebih baik daripada bidadari
sebagaimana yang zahir lebih
baik daripada yang batin. ” Aku berkata, “Wahai Rasulullah! Bagaimanakah itu?” Baginda menjawab, “Dengan solat, puasa dan ibadat mereka kepada Allah,
Allah akan memakaikan muka-
muka mereka dengan cahaya
dan jasad mereka dengan sutera
yang berwarna
putih,berpakaian hijau dan berperhiasan kuning….(hingga akhir hadis)” (riwayat al- Tabrani).
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………. Seorang gadis kecil bertanya ayahnya,
“Ayah ceritakanlah padaku perihal muslimah
sejati?” Si ayah pun menjawab, “Anakku,seorang muslimah
sejati bukan dilihat dari kecantikan dan
keayuan
wajahnya semata-mata.Wajahnya
hanyalah satu
peranan yang amat kecil,tetapi muslimah sejati
dilihat dari kecantikan dan ketulusan
hatinya yang
tersembunyi. Itulah yang terbaik ”. Si ayah terus
menyambung, “Muslimah sejati juga tidak dilihat
dari bentuk tubuh badannya yang
mempersona,tetapi dilihat dari sejauh
mana ia
menutupi bentuk tubuhnya yang
mempersona itu ”. “Muslimah sejati bukanlah dilihat dari sebanyak
mana kebaikan yang
diberikannya ,tetapi dari
keikhlasan ketika ia memberikan
segala kebaikan
itu.Muslimah sejati bukanlah dilihat dari seberapa
indah lantunan suaranya tetapi dilihat
dari apa
yang sering mulutnya
bicarakan.Muslimah sejati
bukan dilihat dari keahliannya berbahasa,tetapi
dilihat dari bagaimana caranya ia
berbicara dan
berhujah kebenaran ”. Berdasarkan ayat 31,surah
An Nurr,Abdullah Ibnu Abbas dan lain-
lainya
berpendapat, “Seseorang wanita islam hanya
boleh mendedahkan wajah,dua tapak
tangan dan
cincinnya di hadapan lelaki yang
bukan mahram ”. (As syeikh said hawa di dalam kitabnya
Al Asas fit
Tasir).
“Janganlah perempuan -perempuan itu terlalu
lunak dalam berbicara sehingga
menghairahkan
orang yang ada perasaan dalam
hatinya,tetapi
ucapkanlah perkataan yang baik-baik ”. (surah Al Ahzab:32). “Lantas apa lagi ayah?”sahut puteri kecil terus ingin tahu. “Ketahuilah muslimah sejati
bukan dilihat dari keberaniannya
dalam
berpakaian grand tetapi dilihat dari
sejauh mana ia
berani mempertahankan kehormatannya melalui
apa yang dipakainya. Muslimah sejati
bukan
dilihat dari kekhuwatirannya digoda
orang di tepi
jalanan tetapi dilihat dari kekhuwatirannya
dirinyalah yang mengundang orang
tergoda”. “Muslimah sejati bukanlah dilihat dari seberapa
banyak dan besarnya ujian yang ia
jalani tetapi
dilihat dari sejauh mana ia menghadapi
ujian itu
dengan penuh rasa redha dan kehambaan kepada
TUHAN nya,dan ia sentiasa bersyukur
dengan
segala kurniaan yang diberi.Dan
ingatlah anakku
muslimah sejati bukan dilihat dari sifat mesranya
dalam bergaul tetapi dilihat dari sejauh
mana ia
mampu menjaga kehormatan dirinya
dalam
bergaul ”. Setelah itu si anak bertanya, ”Siapakah yang
memiliki criteria seperti itu ayah?
Bolehkah saya
menjadi sepertinya?mampu dan
layakkah saya
ayah ?”. Si ayah memberikan sebuah buku dan
berkata, ”Pelajarilah mereka!supaya kamu berjaya
nanti.INSYA ALLAH kamu juga boleh
menjadi
muslimah sejati dan wanita yang
solehah
kelak,malah semua wanita boleh ”. Si anak pun
segera mengambil buku tersebut lalu
terlihatlah
sebaris perkataan berbunyi ISTERI
RASULULLAH. – (Riwayat Imam Ahmad) “Jika seseorang wanita menunaikan solat lima
waktu, berpuasa sebulan Ramadan,
memelihara
kehormatannya, mentaati suaminya,
nescaya dia
dapat masuk ke mana-mana saja pintu syurga
menurut kehendakinya. ”

arti sebuah pertunangan

Belum lama ini ada seorang teman yang mengalami sebuah tragedi. Pertunangannya batal karena dia mengetahui bahwa tunangannya selingkuh dengan wanita lain. Cukup menyedihkan cerita yang diceritakan. Dia sudah akan mencapai 3 tahun menjalin hubungan di bulan Desember ini. Waktu yang tidak sedikit
untuk bisa “saling mengenal”. Tapi pertanyaan terbesar adalah kenapa hal semacam ini masih terjadi juga? Padahal tahap pertunangan telah terlaksana dan tercapai beberapa bulan yang lalu. Bila kita membicarakan pertunangan, ada beberapa kontradiksi. Di satu pihak, Islam tidak pernah mengenal apa yang disebut pertunangan. Dan dilihat dari sisi adatpun sebagian besar masyarakat Indonesia tidak mengenal pertunangan. Jadi sebenarnya apakah
fungsi dari pertunangan itu? Pertunangan adalah sebuah titik lanjut
bila kita mengawali semuanya dengan yang biasa kita namakan “pacaran”. Coba akan aku terjemahkan seperti ini kronologisnya:
1. Kita mengenal seseorang 2. Kita menyukainya 3. Kita menyatatan perasaan dan apabila mendapat acc, maka kita akan menjalani sebuah hubungan yang biasa digunakan istilah “saling mengenal”. 4. Kita merasa mantap, tapi karena kita belum memiliki sebuah pegangan yang pasti/kuat sedangkan di sisi lain, pihak wanita meminta kepastian. Maka kita adakan sebuah acara “meminta” dari pihak keluarga kita yang acara pernikahannya diadakan beberapa waktu kemudian. Tujuannya adalah memberikan ketenangan dan jaminan kepada pihak wanita tentang keseriusan pihak lelaki.
5. Setelah dikira siap segalanya untuk memulai sebuah rumah tangga, maka pernikahan bisa dilaksanakan. Pertunangan bisa diistilahkan acara lamaran yang dimana memiliki tenggang waktu tersendiri dengan acara ijab Kabul dan prosesi pernikahan. Bila melihat kasus teman di atas, entah siapa yang patut disalahkan. Namun sesungguhnya dalam kasus ini banyak yang dirugikan. Impact sangat besar karena pihak wanita memotong alur setelah tahap 4 dilewati. Dimana tahap 4 adalah tahap yang sudah melibatkan keluarga besar. Efek kerugian psikologis paling besar jelas, temanku yang malang itu sendiri. Kemudian tentu saja keluarga dari pihak lelaki akan merasa tersinggung dan dipemalukan karena kepercayaan dan harga diri mereka diinjak-injak dengan peristiwa
ini. Pertunangan adalah sebuah acara kesepakatan di antara kedua keluarga dimana dalam tahap ini, kekeliruan kecil bisa menimbulkan friksi yang menyulut perselisihan antar dua keluarga. Apalagi peristiwa perselingkuhan semacam ini. Efeknya tidak terbayangkan. Kerugian yang tidak kalah terbesar adalah dari pihak wanita sendiri. Keluarga wanita tentu merasa malu apabila mengalami hal semacam ini. Keluarga wanita tidak bisa disalahkan atas peristiwa ini karena ini
semua murni kesalahan sang calon pengantin wanita, namun efeknya tentu saja akan menggigit setiap anggota keluarga. Anak perempuan adalah harga diri keluarga. Efeknya akan lebih besar bila seorang wanita mengalami kesalahan fatal daripada seorang laki-laki. Itulah kenapa wanita selalu dituntut untuk serba lebih dalam menjaga perilaku dan kehormatannya daripada laki-laki. Kehormatan wanita adalah kehormatan keluarga. Sekali itu rusak, maka orang akan memandang sebelah mata. Apabila kita menentang tentang sebuah pertunangan maka sebenarnya kita secara otomatis akan menentang hubungan yang dinamakan “saling mengenal” itu sendiri. Ini adalah sebuah pembicaraan klasik yang seakan tidak pernah habis terkupas dari waktu ke waktu terutama di zaman yang katanya sudah serba “modern” ini. Ada yang berpendapat, pertunangan itu penting karena pihak lelaki sebagai orang yang esok akan bertanggung jawab harus mempersiapkan semuanya untuk kelangsungan rumah tangganya kelak, terutama masalah materi. Nikah kan bukan Cuma mau tapi mampu? Bila pacaran dilarang, berarti kita tidak bisa menikah dengan orang yang kita inginkan? Trus bagaimana tuh? Nah, dasar kamu bisa suka dengan seseorang itu trus darimana? Dari pandangan mata juga kan? Padahal pandangan mata yang berlebihan antara wanita dan pria itu juga dilarang. Berarti semua berawal dari dosa dong? Tambah bingung lagi…. Bagaimana kita menikah dengan seseorang yang tidak pernah kita kenal sebelumnya? Bagaimana bila sedang mengarungi bahtera rumah tangga kita tidak saling cocok dan menyebabkan rumah tangga menjadi bubrah? Apa itu bukan berarti kerugian ganda bagi kita? Hmmm, pernyataan semacam ini sangat mudah dibantah. Apa jaminannya 2 orang yang saling beritikad baik satu sama lain untuk membangun keluarga yang baik tidak bisa saling menyayangi satu sama lain. Banyak tuh zaman engkong2 kita yang dulu nikah gak pake pacaran bisa langgeng sampai sekarang. Gak kaya’ zaman sekarang yang pake cinta2an namun ujung2nya cerai kek artis2. ………………………. …………………….. …………………… Kalau udah mulai bahas pacaran emang ujung2nya pusing. Entah pertunangan itu baik apa tidak, semua itu tergantung kondisi dan sudut pandangnya. Yang terpenting dari kesemuanya adalah untuk selalu menjaga kepercayaan pihak-pihak yang kita wakili. Terutama keluarga kita. Hanya satu yang pasti, Menyegerakan menikah itu sangat baik,..bila kita memang telah mau dan (sudah cukup) mampu. Dari sudut pandang apapun!