PERAYAAN HARI ULANG TAHUN
Oleh : Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat
dan salam semoga dilimpahkan kepada
Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya serta
mereka yang mengikuti jejak langkahnya. Amma
ba'd.
Pertanyaan.
Saya telah mengkaji makalah yang diterbitkan
oleh koran Al-Madinah yang terbit pada hari
Senin, tanggal 28/12/1410 H. Isinya menyebutkan
bahwa saudara Jamal Muhammad Al-Qadhi,
pernah menyaksikan program Abna ’ Al-Islam
yang disiarkan oleh televisi Saudi yang
menayangkan acara yang mencakup perayaan
hari kelahiran. Saudara Jamal menanyakan,
apakah perayaan hari kelahiran dibolehkan Islam?
dst.
Jawaban.
Tidak diragukan lagi bahwa Allah telah
mensyari'atkan dua hari raya bagi kaum
muslimin, yang pada kedua hari tersebut mereka
berkumpul untuk berdzikir dan shalat, yaitu hari
raya ledul Fitri dan ledul Adha sebagai pengganti
hari raya-hari raya jahiliyah. Di samping itu Allah
pun mensyari'atkan hari raya-hari raya lainnya
yang mengandung berbagai dzikir dan ibadah,
seperti hari Jum'at, hari Arafah dan hari-hari
tasyriq. Namun Allah tidak mensyari'atkan
perayaan hari kelahiran, tidak untuk kelahiran Nabi
dan tidak pula untuk yang lainnya. Bahkan dalil-
dalil syar'i dari Al-Kitab dan As-Sunnah
menunjukkan bahwa perayaan-perayaan hari
kelahiran merupakan bid'ah dalam agama dan
termasuk tasyabbuh (menyerupai) musuh-
musuh Allah dari kalangan Yahudi, Nashrani dan
lainnya. Maka yang wajib atas para pemeluk
Islam untuk meninggalkannya, mewaspadainya,
mengingkarinya terhadap yang melakukannya
dan tidak menyebarkan atau menyiarkan apa-apa
yang dapat mendorong pelaksanaannya atau
mengesankan pembolehannya baik di radio,
media cetak maupun televisi, berdasarkan sabda
Nabi Saw dalam sebuah hadits shahih.
"Barangsiapa membuat sesuatu yang baru dalam
urusan kami (dalam Islam) yang tidak terdapat
(tuntunan) padanya, maka ia tertolak." [1]
Dan sabda beliau,
"Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang
tidak kami perintahkan maka ia tertolak."[2]
Dikeluarkan oleh Muslim dalam kitab Shahihnya
dan dianggap mu'allaq oleh Al-Bukhari namun ia
menguatkannya.
Kemudian disebutkan dalam Shahih Muslim dari
Jabir Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam, bahwa dalam salah satu
khutbah Jum'at beliau mengatakan.
"Amma ba ’du. Sesungguhnya sebaik-baik
perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik tuntunan
adalah tuntunan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, seburuk-buruk perkara adalah hal-hal
baru yang diada-adakan dan setiap hal baru
adalah sesat."[3]
Dan masih banyak lagi hadits-hadits lainnya yang
semakna. Disebutkan pula dalam Musnad Ahmad
dengan isnad jayyid dari Ibnu Umar , bahwa Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
"Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum,
berarti ia dari golongan mereka."[4]
Dalam Ash-Shahihain disebutkan, dari Abu Sa'id
Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, bahwa beliau bersabda.
"Kalian pasti akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan
orang-orang sebelum kalian sejengkal demi
sejengkal dan sehasta demi sehasta, bahkan,
seandainya mereka masuk ke dalam sarang
biawak pun kalian mengikuti mereka." Kami
bertanya, "Ya Rasulullah, itu kaum Yahudi dan
Nashrani?" Beliau berkata, "Siapa lagi."[5]
Masih banyak lagi hadits-hadits lainnya yang
semakna dengan ini, semuanya menunjukkan
kewajiban untuk waspada agar tidak menyerupai
musuh-musuh Allah dalam perayaan-perayaan
mereka dan lainnya. Makhluk paling mulia dan
paling utama, Nabi kita Muhammad, tidak pernah
merayakan hari kelahirannya semasa hidupnya,
tidak pula para sahabat beliau pun, dan tidak juga
para tabi'in yang mengikuti jejak langkah mereka
dengan kebaikan pada tiga generasi pertama yang
diutamakan. Seandainya perayaan hari kelahiran
Nabi, atau lainnya, merupakan perbuatan baik,
tentulah para sahabat dan tabi'in sudah lebih dulu
melaksanakannya daripada kita, dan sudah
barang tentu Nabi Saw mengajarkan kepada
umatnya dan menganjurkan mereka
merayakannya atau beliau sendiri
melaksanakannya. Namun ternyata tidak
demikian, maka kita pun tahu, bahwa perayaan
hari kelahiran termasuk bid'ah, termasuk hal baru
yang diada-adakan dalam agama yang harus
ditinggalkan dan diwaspadai, sebagai pelaksanaan
perintah Allah Subhanahu wa Ta ’ala dan perintah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sebagian ahli ilmu menyebutkan, bahwa yang
pertama kali mengadakan perayaan hari kelahiran
ini adalah golongan Syi'ah Fathimiyah pada abad
keempat, kemudian diikuti oleh sebagian orang
yang berafiliasi kepada As-Sunnah karena tidak
tahu dan karena meniru mereka, atau meniru
kaum Yahudi dan Nashrani, kemudian bid'ah ini
menyebar ke masyarakat lainnya. Seharusnya
para ulama kaum muslimin menjelaskan hukum
Allah dalam bid'ah-bid'ah ini, mengingkarinya dan
memperingatkan bahayanya, karena
keberadaannya melahirkan kerusakan besar,
tersebarnya bid'ah-bid'ah dan tertutupnya
sunnah-sunnah. Di samping itu, terkandung
tasyabbuh (penyerupaan) dengan musuh-musuh
Allah dari golongan Yahudi, Nashrani dan
golongan-golongan kafir lainnya yang terbiasa
menyelenggarakan perayaan-perayaan semacam
itu. Para ahli dahulu dan kini telah menulis dan
menjelaskan hukum Allah mengenai bid'ah-bid'ah
ini. Semoga Allah membalas mereka dengan
kebaikan dan menjadikan kita semua termasuk
orang-orang yang mengikuti mereka dengan
kebaikan.
Pada kesempatan yang singkat ini, kami
bermaksud mengingatkan kepada para pembaca
tentang bid'ah ini agar mereka benar-benar
mengetahui. Dan mengenai masalah ini telah
diterbitkan tulisan yang panjang dan diedarkan
melalui media cetak-media cetak lokal dan lainnya.
Tidak diragukan lagi, bahwa wajib atas para
pejabat pemerintahan kita dan kementrian
penerangan secara khusus serta para penguasa di
negara-negara Islam, untuk mencegah
penyebaran bid'ah-bid'ah ini dan propagandanya
atau penyebaran sesuatu yang mengesankan
pembolehannya. Semua ini sebagai pelaksanaan
perintah loyal terhadap Allah dan para hambaNya,
dan sebagai pelaksanaan perintah yang
diwajibkan Allah, yaitu mengingkari kemungkaran
serta turut dalam memperbaiki kondisi kaum
muslimin dan membersihkannya dari hal-hal
yang menyelisihi syari'at yang suci. Hanya Allah
lah tempat meminta dengan nama-namaNya
yang baik dan sifat-sifat-Nya yang luhur, semoga
Allah memperbaiki kondisi kaum muslimin dan
menunjuki mereka agar berpegang teguh dengan
KitabNya dan Sunnah NabiNya Shallallahu ‘alaihi
wa sallam serta waspada dari segala sesuatu
yang menyelisihi keduanya. Dan semoga Allah
memperbaiki para pemimpin mereka dan
menunjuki mereka agar menerapkan syari'at
Allah pada hamba hambaNya serta memerangi
segala sesuatu yang menyelisihinya.
Sesungguhnya Allah Maha kuasa atas hal itu.
Shalawat dan salam semoga senantiasa
dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad,
keluarga dan para sahabatnya
__________
Foote Note
[1]. Muttafaq ‘Alaih: Al-Bukhari dalam Ash-Shulh
(2697). Muslim dalam Al-Aqdhiyah (1718).
[2]. Al-Bukhari menganggapnya mu'allaq dalam
Al-Buyu' dan Al-I'tisham. Imam Muslim
menyambungnya dalam Al-Aqdhiyah (18-1718).
[3]. HR. Muslim dalam Al-Jumu ’ah (867).
[4]. HR. Abu Dawud (4031), Ahmad (5093, 5094,
5634).
[5]. HR. AI-Bukhari dalam Al-I ’tisham bil Kitab was
Sunnah (7320). Muslim dalam Al-Ilm (2669).
“Bekerjalah kamu, maka Allah dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS at-Taubah /9: 105).
Tuesday, 8 March 2011
Ma’af Kawan..Saya Gak NgucapinSelamat ULTAH-mu. TernyataULANG TAHUN ada Dalam INJILMATIUS 14 : 6 dan INJIL MARKUS6 :21
Mungkin kurangnya pengetahuan mengenai “ke-
Aqidah-an“, masih banyak ummat Islam yang
mengikuti ritual paganisme ini. Bahkan tidak
menutup kemungkinan para ustadz dan
ustazdahpun ikut merayakannya dan terjebak di
dalamnya. Apalagi gencarnya media televisi dan
media massa lainnya mempublikasikan
seremonialnya yang terkadang dilakukan oleh
beberapa da ’i muda atau yang bergelar ustadz
[setengah artis, katanya sih !]. Ditambah lagi
kebiasaan ini sudah jamak dan menjadi hal yang
seakan-akan wajib apabila ada anggota keluarga,
rekan atau sahabat yang memperingati hari
lahirnya. Dan tak kurang kelirunya sejak di Taman
Kanak-kanak dan SD sudah diajarkan secara
praktek langsung bahkan ada termaktub dalam
buku-buku kurikulum mereka . Wallahu a ’lam.
Semoga Allah memberikan hidayah kepada
mereka.
Pada masa-masa awal Nasrani generasi pertama
(Ahlul Kitab / kaum khawariyyun / pengikut nabi
Isa) mereka tidak merayakan Upacara
UlangTahun, karena mereka menganggap bahwa
pesta ulang tahun itu adalah pesta yang mungkar
dan hanya pekerjaan orang kafir Paganisme.
Pada masa Herodeslah acara ulang tahun
dimeriahkan sebagaimana tertulis dalam Injil
Matius 14:6;
Tetapi pada HARI ULANG TAHUN Herodes,
menarilah anak Herodes yang perempuan,
Herodiaz, ditengah-tengah meraka akan
menyukakan hati Herodes. (Matius14 : 6)
Dalam Injil Markus 6:21
Akhirnya tiba juga kesempatan
yang baik bagi Herodias, ketika
Herodes pada HARI ULANG
TAHUNNYA mengadakan
perjamuan untuk pembesar-
pembesarnya, perwira-
perwiranya dan orang-orang
terkemuka di Galilea. (Markus
6:21)
————————————————————-
Look at the Bible, Matthew 14 : 6 and Mark 6:21;
celebrating of birthday is Paganism, and Jesus
(Isa, peace be upon him) doesn ’t to do it, but
Herod.
Matthew 14:6 :
“But when Herod’s birthday was kept, the
daughter of Herodias danced before them,
and pleased Herod ”.
Mark 6:21 :
And when a convenient day was come, that
Herod on his birthday made a supper to his
lords, and the high captains, and the chief
men of Galilee.
————————————————————-
Orang Nasrani yang pertama kali mengadakan
pesta ulang tahun adalah orang Nasrani
Romawi. Beberapa batang lilin dinyalakan sesuai
dengan usia orang yang berulang tahun. Sebuah
kue ulang tahun dibuatnya dan dalam pesta itu,
kue besar dipotong dan lilinpun ditiup. (Baca
buku : Parasit Aqidah. A.D. El. Marzdedeq,
Penerbit Syaamil, hal. 298)
Sudah menjadi kebiasaan kita mengucapkan
selamat ulang tahun kepada keluarga maupun
teman, sahabat pada hari ULTAHnya. Bahkan
tidak sedikit yang aktif dakwah (ustadz dan
ustadzah) pun turut larut dalam tradisi jahiliyah
ini.
Sedangkan kita sama-sama tahu bahwa tradisi ini
tidak pernah diajarkan oleh Nabi kita yang mulia
MUHAMMAD Shalallah Alaihi Wasallam, dan kita
ketahui Rasulullah adalah orang yang paling
mengerti cara bermasyarakat,
bersosialisasi, paling tahu bagaimana cara
menggembirakan para sahabat-sahabatnya.
Rasulullah paling mengerti bagaimana cara
mensyukuri hidup dan kenikmatannya.
Rasulullah paling mengerti bagaimana cara
menghibur orang yang sedang bersedih.
Rasulullah adalah orang yang paling
mengerti CARA BERSYUKUR dalam setiap hal
yang di dalamnya ada rasa kegembiraan.
Adapun tradisi ULANG TAHUN ini merupakan
tradisi orang-orang Yahudi, Nasrani dan kaum
paganism, maka Rasulullah memerintahkan untuk
menyelisihinya. Apakah Rasulullah pernah
melakukannya ? Apakah para sahabat Rasululah
pernah melakukannya ? Apakah para Tabi ’in dan
Tabiut tabi’in pernah melakukannya ? Padahal
Herodes sudah hidup pada jaman Nabi Isa.
Apakah Rasulullah mengikuti tradisi ini ? Apakah 3
generasi terbaik dalam Islam melakukan
ritual paganisme ini ?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sebaik-baik umat manusia adalah
generasiku (sahabat), kemudian orang-
orang yang mengikuti mereka (tabi ’in) dan
kemudian orang-orang yang mengikuti
mereka lagi (tabi ’ut tabi’in).” (Muttafaq
‘alaih)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Janganlah kalian mencela seorang pun di
antara para sahabatku. Karena
sesungguhnya apabila seandainya ada salah
satu di antara kalian yang bisa berinfak
emas sebesar Gunung Uhud maka itu tidak
akan bisa menyaingi infak salah seorang di
antara mereka; yang hanya sebesar
genggaman tangan atau bahkan
setengahnya saja. ” (Muttafaq ‘alaih)
Rasulullah pernah bersabda:
“Kamu akan mengkuti cara hidup orang-
orang sebelum kamu, sejengkal demi
sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga
jika mereka masuk kedalam lobang biawak
kamu pasti akan memasukinya juga ”. Para
sahabat bertanya,”Apakah yang engkau
maksud adalah kaum Yahudi dan Nasrani
wahai Rasulullah ?”Rasulullah
menjawab:”Siapa lagi jika bukan mereka?!”.
Rasulullah bersabda:
ﻣَﻦْ ﺗَﺸَﺒَّﻪَ ﺑِﻘَﻮْﻡٍ ﻓَﻬُﻮَ ﻣِﻨْﻬُﻢْ
“ Man tasabbaha biqaumin fahua
minhum” (Barang siapa yang menyerupai
suatu kaum, maka ia termasuk golongan
mereka. ”( HR. Ahmad dan Abu Daud dari Ibnu
Umar).
Allah berfirman;
ﻭَﻟَﻦْ ﺗَﺮْﺿَﻰ ﻋَﻨْﻚَ ﺍﻟْﻴَﻬُﻮﺩُ ﻭَﻻ
ﺍﻟﻨَّﺼَﺎﺭَﻯ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﺘَّﺒِﻊَ
ﻣِﻠَّﺘَﻬُﻢْ
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan
senang kepada kamu hingga kamu
mengikuti agama mereka. (QS. Al Baqarah :
120)
ﻭَﻻ ﺗَﻘْﻒُ ﻣَﺎ ﻟَﻴْﺲَ ﻟَﻚَ ﺑِﻪِ ﻋِﻠْﻢٌ
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺴَّﻤْﻊَ ﻭَﺍﻟْﺒَﺼَﺮَ
ﻭَﺍﻟْﻔُﺆَﺍﺩَ ﻛُﻞُّ ﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻛَﺎﻥَ
ﻋَﻨْﻪُ ﻣَﺴْﺌُﻮﻻ
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang
kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran ,
pengelihatan, dan hati, semuannya itu akan
diminta pertanggungjawabannya. (QS. Al-
Isra ’:36)
“… dan kamu mengatakan dengan mulutmu
apa yang tidak kamu ketahui sedikitpun
juga, dan kamu menganggapnya suatu yang
ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah
adalah besar. ” (QS. an-Nuur: 15)
Janganlah kita ikut-ikutan, karena tidak mengerti
tentang sesuatu perkara. Latah ikut-ikutan
memperingati Ulang Tahun, tanpa mengerti
darimana asal perayaan tersebut.
Ini penjelasan Nabi tentang sebagian umatnya
yang akan meninggalkan tuntunan beliau dan
lebih memilih tuntunan dan cara hidup diluar
Islam. Termasuk juga diantaranya adalah
peringatan perayaan ULTAH, meskipun ditutupi
dengan label SYUKURAN atau ucapan selamat
MILAD atau Met MILAD seakan-akan kelihatan
lebih Islami.
Ingatlah ! Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk
Rasul.
ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﻋَﻤَﻼً ﻟَﻴْﺲَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ
ﺃَﻣْﺮُﻧَﺎ ﻓَﻬُﻮَ ﺭَﺩٌّ
“Barangsiapa beramal dengan suatu amalan yang
“tidak ada perintah dari kami padanya” maka
amalan tersebut TERTOLAK (yaitu tidak diterima
oleh Allah). ” [HR. Muslim]
Rasulullah, para sahabat, tabi’in dan tabiut tabi’in
adalah orang yang PALING MENGERTI AGAMA
ISLAM. Mereka tidak mengucapkan dan tidak
memperingati Ulang Tahun, walaupun mungkin
sebagian manusia menganggapnya baik.
Pahamilah “Kaidah” yang agung ini;
ﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﺧﻴﺮﺍ ﻟﺴﺒﻘﻮﻥ ﺍﻟﻴﻪ
“Lau Kaana Khairan Lasabaquuna ilaihi”
SEANDAINYA PERBUATAN ITU BAIK, MAKA
RASULULLAH, PARA SAHABAT, TABI ’IN DAN
TABIUT TABI’IN PASTI MEREKA LEBIH DAHULU
MENGMALKANNYA DARIPADA KITA. Karena
mereka paling tahu tentang nilai sebuah kebaikan
daripada kita yang hidup di jaman sekarang ini.
Jika kita mau merenung apa yang harus
dirayakan atau disyukuri BERKURANGNYA usia
kita? Semakin dekatnya kita dengan KUBUR?
SUDAH SIAPKAH kita untuk itu? Akankah kita bisa
merayakannya tahun depan?
Allah berfirman :
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ
ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﻟْﺘَﻨْﻈُﺮْ ﻧَﻔْﺲٌ ﻣَﺎ
ﻗَﺪَّﻣَﺖْ ﻟِﻐَﺪٍ ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺧَﺒِﻴﺮٌ ﺑِﻤَﺎ ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah
kepada Allah dan hendaklah setiap diri
MEMPERHATIKAN apa yang telah diperbuatnya
UNTUK HARI ESOK (akhirat), dan bertakwalah
kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan. ” (QS. Al-
Hasyr: 18)
Seorang muslim dia dituntut untuk MUHASABAH
setiap hari, karena setiap detik yang dilaluinya
TIDAK akan pernah kembali lagi sampai nanti
dipertemukan oleh ALLAH pada hari
penghisaban , yang tidak ada yang bermanfaat
pada hari itu baik anak maupun harta kecuali
orang yang menghadap ALLAH dengan
membawa hati yang ikhlas dan amal yang soleh.
Jadi, alangkah baiknya jika tradisi jahiliyah ini kita
buang jauh-jauh dari diri kita, keluarga dan anak-
anak kita dan menggantinya dengan tuntunan yg
mulia yang diajarkan oleh Rasulullah.
Aqidah-an“, masih banyak ummat Islam yang
mengikuti ritual paganisme ini. Bahkan tidak
menutup kemungkinan para ustadz dan
ustazdahpun ikut merayakannya dan terjebak di
dalamnya. Apalagi gencarnya media televisi dan
media massa lainnya mempublikasikan
seremonialnya yang terkadang dilakukan oleh
beberapa da ’i muda atau yang bergelar ustadz
[setengah artis, katanya sih !]. Ditambah lagi
kebiasaan ini sudah jamak dan menjadi hal yang
seakan-akan wajib apabila ada anggota keluarga,
rekan atau sahabat yang memperingati hari
lahirnya. Dan tak kurang kelirunya sejak di Taman
Kanak-kanak dan SD sudah diajarkan secara
praktek langsung bahkan ada termaktub dalam
buku-buku kurikulum mereka . Wallahu a ’lam.
Semoga Allah memberikan hidayah kepada
mereka.
Pada masa-masa awal Nasrani generasi pertama
(Ahlul Kitab / kaum khawariyyun / pengikut nabi
Isa) mereka tidak merayakan Upacara
UlangTahun, karena mereka menganggap bahwa
pesta ulang tahun itu adalah pesta yang mungkar
dan hanya pekerjaan orang kafir Paganisme.
Pada masa Herodeslah acara ulang tahun
dimeriahkan sebagaimana tertulis dalam Injil
Matius 14:6;
Tetapi pada HARI ULANG TAHUN Herodes,
menarilah anak Herodes yang perempuan,
Herodiaz, ditengah-tengah meraka akan
menyukakan hati Herodes. (Matius14 : 6)
Dalam Injil Markus 6:21
Akhirnya tiba juga kesempatan
yang baik bagi Herodias, ketika
Herodes pada HARI ULANG
TAHUNNYA mengadakan
perjamuan untuk pembesar-
pembesarnya, perwira-
perwiranya dan orang-orang
terkemuka di Galilea. (Markus
6:21)
————————————————————-
Look at the Bible, Matthew 14 : 6 and Mark 6:21;
celebrating of birthday is Paganism, and Jesus
(Isa, peace be upon him) doesn ’t to do it, but
Herod.
Matthew 14:6 :
“But when Herod’s birthday was kept, the
daughter of Herodias danced before them,
and pleased Herod ”.
Mark 6:21 :
And when a convenient day was come, that
Herod on his birthday made a supper to his
lords, and the high captains, and the chief
men of Galilee.
————————————————————-
Orang Nasrani yang pertama kali mengadakan
pesta ulang tahun adalah orang Nasrani
Romawi. Beberapa batang lilin dinyalakan sesuai
dengan usia orang yang berulang tahun. Sebuah
kue ulang tahun dibuatnya dan dalam pesta itu,
kue besar dipotong dan lilinpun ditiup. (Baca
buku : Parasit Aqidah. A.D. El. Marzdedeq,
Penerbit Syaamil, hal. 298)
Sudah menjadi kebiasaan kita mengucapkan
selamat ulang tahun kepada keluarga maupun
teman, sahabat pada hari ULTAHnya. Bahkan
tidak sedikit yang aktif dakwah (ustadz dan
ustadzah) pun turut larut dalam tradisi jahiliyah
ini.
Sedangkan kita sama-sama tahu bahwa tradisi ini
tidak pernah diajarkan oleh Nabi kita yang mulia
MUHAMMAD Shalallah Alaihi Wasallam, dan kita
ketahui Rasulullah adalah orang yang paling
mengerti cara bermasyarakat,
bersosialisasi, paling tahu bagaimana cara
menggembirakan para sahabat-sahabatnya.
Rasulullah paling mengerti bagaimana cara
mensyukuri hidup dan kenikmatannya.
Rasulullah paling mengerti bagaimana cara
menghibur orang yang sedang bersedih.
Rasulullah adalah orang yang paling
mengerti CARA BERSYUKUR dalam setiap hal
yang di dalamnya ada rasa kegembiraan.
Adapun tradisi ULANG TAHUN ini merupakan
tradisi orang-orang Yahudi, Nasrani dan kaum
paganism, maka Rasulullah memerintahkan untuk
menyelisihinya. Apakah Rasulullah pernah
melakukannya ? Apakah para sahabat Rasululah
pernah melakukannya ? Apakah para Tabi ’in dan
Tabiut tabi’in pernah melakukannya ? Padahal
Herodes sudah hidup pada jaman Nabi Isa.
Apakah Rasulullah mengikuti tradisi ini ? Apakah 3
generasi terbaik dalam Islam melakukan
ritual paganisme ini ?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sebaik-baik umat manusia adalah
generasiku (sahabat), kemudian orang-
orang yang mengikuti mereka (tabi ’in) dan
kemudian orang-orang yang mengikuti
mereka lagi (tabi ’ut tabi’in).” (Muttafaq
‘alaih)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Janganlah kalian mencela seorang pun di
antara para sahabatku. Karena
sesungguhnya apabila seandainya ada salah
satu di antara kalian yang bisa berinfak
emas sebesar Gunung Uhud maka itu tidak
akan bisa menyaingi infak salah seorang di
antara mereka; yang hanya sebesar
genggaman tangan atau bahkan
setengahnya saja. ” (Muttafaq ‘alaih)
Rasulullah pernah bersabda:
“Kamu akan mengkuti cara hidup orang-
orang sebelum kamu, sejengkal demi
sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga
jika mereka masuk kedalam lobang biawak
kamu pasti akan memasukinya juga ”. Para
sahabat bertanya,”Apakah yang engkau
maksud adalah kaum Yahudi dan Nasrani
wahai Rasulullah ?”Rasulullah
menjawab:”Siapa lagi jika bukan mereka?!”.
Rasulullah bersabda:
ﻣَﻦْ ﺗَﺸَﺒَّﻪَ ﺑِﻘَﻮْﻡٍ ﻓَﻬُﻮَ ﻣِﻨْﻬُﻢْ
“ Man tasabbaha biqaumin fahua
minhum” (Barang siapa yang menyerupai
suatu kaum, maka ia termasuk golongan
mereka. ”( HR. Ahmad dan Abu Daud dari Ibnu
Umar).
Allah berfirman;
ﻭَﻟَﻦْ ﺗَﺮْﺿَﻰ ﻋَﻨْﻚَ ﺍﻟْﻴَﻬُﻮﺩُ ﻭَﻻ
ﺍﻟﻨَّﺼَﺎﺭَﻯ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﺘَّﺒِﻊَ
ﻣِﻠَّﺘَﻬُﻢْ
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan
senang kepada kamu hingga kamu
mengikuti agama mereka. (QS. Al Baqarah :
120)
ﻭَﻻ ﺗَﻘْﻒُ ﻣَﺎ ﻟَﻴْﺲَ ﻟَﻚَ ﺑِﻪِ ﻋِﻠْﻢٌ
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺴَّﻤْﻊَ ﻭَﺍﻟْﺒَﺼَﺮَ
ﻭَﺍﻟْﻔُﺆَﺍﺩَ ﻛُﻞُّ ﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻛَﺎﻥَ
ﻋَﻨْﻪُ ﻣَﺴْﺌُﻮﻻ
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang
kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran ,
pengelihatan, dan hati, semuannya itu akan
diminta pertanggungjawabannya. (QS. Al-
Isra ’:36)
“… dan kamu mengatakan dengan mulutmu
apa yang tidak kamu ketahui sedikitpun
juga, dan kamu menganggapnya suatu yang
ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah
adalah besar. ” (QS. an-Nuur: 15)
Janganlah kita ikut-ikutan, karena tidak mengerti
tentang sesuatu perkara. Latah ikut-ikutan
memperingati Ulang Tahun, tanpa mengerti
darimana asal perayaan tersebut.
Ini penjelasan Nabi tentang sebagian umatnya
yang akan meninggalkan tuntunan beliau dan
lebih memilih tuntunan dan cara hidup diluar
Islam. Termasuk juga diantaranya adalah
peringatan perayaan ULTAH, meskipun ditutupi
dengan label SYUKURAN atau ucapan selamat
MILAD atau Met MILAD seakan-akan kelihatan
lebih Islami.
Ingatlah ! Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk
Rasul.
ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﻋَﻤَﻼً ﻟَﻴْﺲَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ
ﺃَﻣْﺮُﻧَﺎ ﻓَﻬُﻮَ ﺭَﺩٌّ
“Barangsiapa beramal dengan suatu amalan yang
“tidak ada perintah dari kami padanya” maka
amalan tersebut TERTOLAK (yaitu tidak diterima
oleh Allah). ” [HR. Muslim]
Rasulullah, para sahabat, tabi’in dan tabiut tabi’in
adalah orang yang PALING MENGERTI AGAMA
ISLAM. Mereka tidak mengucapkan dan tidak
memperingati Ulang Tahun, walaupun mungkin
sebagian manusia menganggapnya baik.
Pahamilah “Kaidah” yang agung ini;
ﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﺧﻴﺮﺍ ﻟﺴﺒﻘﻮﻥ ﺍﻟﻴﻪ
“Lau Kaana Khairan Lasabaquuna ilaihi”
SEANDAINYA PERBUATAN ITU BAIK, MAKA
RASULULLAH, PARA SAHABAT, TABI ’IN DAN
TABIUT TABI’IN PASTI MEREKA LEBIH DAHULU
MENGMALKANNYA DARIPADA KITA. Karena
mereka paling tahu tentang nilai sebuah kebaikan
daripada kita yang hidup di jaman sekarang ini.
Jika kita mau merenung apa yang harus
dirayakan atau disyukuri BERKURANGNYA usia
kita? Semakin dekatnya kita dengan KUBUR?
SUDAH SIAPKAH kita untuk itu? Akankah kita bisa
merayakannya tahun depan?
Allah berfirman :
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ
ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﻟْﺘَﻨْﻈُﺮْ ﻧَﻔْﺲٌ ﻣَﺎ
ﻗَﺪَّﻣَﺖْ ﻟِﻐَﺪٍ ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺧَﺒِﻴﺮٌ ﺑِﻤَﺎ ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah
kepada Allah dan hendaklah setiap diri
MEMPERHATIKAN apa yang telah diperbuatnya
UNTUK HARI ESOK (akhirat), dan bertakwalah
kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan. ” (QS. Al-
Hasyr: 18)
Seorang muslim dia dituntut untuk MUHASABAH
setiap hari, karena setiap detik yang dilaluinya
TIDAK akan pernah kembali lagi sampai nanti
dipertemukan oleh ALLAH pada hari
penghisaban , yang tidak ada yang bermanfaat
pada hari itu baik anak maupun harta kecuali
orang yang menghadap ALLAH dengan
membawa hati yang ikhlas dan amal yang soleh.
Jadi, alangkah baiknya jika tradisi jahiliyah ini kita
buang jauh-jauh dari diri kita, keluarga dan anak-
anak kita dan menggantinya dengan tuntunan yg
mulia yang diajarkan oleh Rasulullah.
Subscribe to:
Comments (Atom)