Wednesday, 13 April 2011

Menebar Keangkuhan MenuaiKehinaan

Masih berkaca pada untaian nasihat Luqman Al-Hakim kepada anaknya. Menjelang akhir nasihat Luqman melarang sang anak dari sikap takabur dan memerintahkan utk merendahkan diri . Luqman berkata kepada anaknya: َﻻَﻭ ْﺮِّﻌَﺼُﺗ َﻙَّﺪَﺧ َﻻَﻭ ِﺱﺎَّﻨﻠِﻟ ِﺶْﻤَﺗ ِﺽْﺭَﻷْﺍ ﻲِﻓ ٍﺭْﻮُﺨَﻓ ٍﻝَﺎﺘْﺨُﻣ َّﻞُﻛ ُّﺐِﺤُﻳ َﻻ َﻪﻠﻟﺍ َّﻥِﺇ ًﺎﺣَﺮَﻣ “Dan janganlah engkau memalingkan wajahmu dari manusia dan janganlah berjalan dgn angkuh. Sesungguh Allah tdk menyukai orang yg angkuh dan menyombongkan diri.” Demikian Luqman melarang utk memalingkan wajah dan bermuka masam kepada orang lain krn sombong dan merasa diri besar melarang dari berjalan dgn angkuh sombong terhadap ni’mat yg ada pada diri dan melupakan Dzat yg memberikan ni’mat serta kagum terhadap diri sendiri. Karena Allah tdk menyukai tiap orang yg menyombongkan diri dgn keadaan dan bersikap angkuh dgn ucapannya.
Pada ayat yg lain Allah k
melarang pula: َﻻَﻭ ِﺶْﻤَﺗ ﻲِﻓ ِﺽْﺭَﻷْﺍ ًﺎﺣَﺮَﻣ َﻚَّﻧِﺇ ْﻦَﻟ َﻕِﺮْﺨَﺗ ًﻻْﻮُﻃ َﻝَﺎﺒِﺠْﻟﺍ َﻎُﻠْﺒَﺗ ْﻦَﻟَﻭ َﺽْﺭَﻷْﺍ “Dan janganlah berjalan di muka bumi dgn sombong krn sesungguh engkau tdk akan dapat menembus bumi dan tdk akan mencapai setinggi gunung.” Demikianlah seseorang dgn ketakaburan tdk akan dapat mencapai semua itu. Bahkan ia akan menjadi seorang yg terhina di hadapan Allah k
dan direndahkan di hadapan manusia dibenci dan dimurkai. Dia telah menjalani akhlak yg paling buruk dan paling rendah tanpa menggapai apa yg diinginkannya.
Kehinaan. Inilah yg akan dituai oleh orang yg sombong. Dia tdk akan mendapatkan apa yg dia harapkan di dunia maupun di akhirat.
‘Amr bin Syu’aib meriwayatkan dari ayah dari kakek dari Nabi n
: ْﻲِﻓ ِّﺭَّﺬﻟﺍ َﻝَﺎﺜْﻣَﺃ ِﺔَﻣَﺎﻴِﻘْﻟﺍ َﻡْﻮَﻳ َﻥْﻭُﺮِّﺒَﻜَﺘُﻤْﻟﺍ ُﺮَﺸْﺤُﻳ ِﺓَﺭْﻮُﺻ ِﻝَﺎﺟِّﺮﻟﺍ ، ٍﻥَﺎﻜَﻣ ِّﻞُﻛ ْﻦِﻣ ُّﻝُّﺬﻟﺍ ُﻢُﻫَﺎﺸْﻐَﻳ ، َﻥْﻮُﻗﺎَﺴُﻳ ﻰَﻟِﺇ ٍﻦْﺠِﺳ ْﻦِﻣ َﻢَّﻨَﻬَﺟ ﻰَّﻤَﺴُﻳ َﺲَﻟْﻮُﺑ ، ْﻢُﻫْﻮُﻠْﻐَﺗ ٌﺭَﺎﻧ َﻦِﻣ ِﺭَﺎﻴْﻧَﻷْﺍ ، َﻥْﻮَﻘْﺴُﻳَﻭ ِﻝَﺎﺒَﺨْﻟﺍ ِﺔَﻨْﻴِﻃ ِﺭﺎَّﻨﻟﺍ ِﻞْﻫَﺃ ِﺓَﺭﺎَﺼُﻋ ْﻦِﻣ “orang2 yg sombong dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut-semut kecil dlm bentuk manusia diliputi oleh kehinaan dari segala arah digiring ke penjara di Jahannam yg disebut Bulas dilalap oleh api dan diberi minuman dari perasan penduduk neraka thinatul khabal.1” Bahkan seorang yg sombong terancam dgn kemurkaan Allah k
. Demikian yg kita dapati dari Rasulullah n
sebagaimana yg disampaikan oleh seorang shahabat mulia ‘Abdullah bin ‘Umar c : ْﻦَﻣ َﻢَّﻈَﻌَﺗ ﻲِﻓ ِﻪِﺴْﻔَﻧ ِﻭَﺃ َﻝﺎَﺘْﺧﺍ ﻲِﻓ ِﻪِﺘَﻴْﺸِﻣ ُﻥﺎَﺒْﻀَﻏ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻮُﻫَﻭ َّﻞَﺟَﻭ َّﺰَﻋ َﻪﻠﻟﺍ َﻲِﻘَﻟ “Barangsiapa yg merasa sombong akan diri atau angkuh dlm berjalan dia
akan bertemu dgn Allah k
dalam keadaan Allah murka terhadapnya.” Kesombongan bukanlah pada orang yg senang dgn keindahan. Akan tetapi kesombongan adl menentang agama Allah k
dan merendahkan hamba-hamba Allah k
. Demikian yg dijelaskan oleh Rasulullah n
tatkala beliau dita oleh ‘Abdullah bin ‘Umar c “Apakah sombong itu bila seseorang memiliki hullah2 yg dikenakannya?” Beliau n
menjawab “Tidak.” “Apakah bila seseorang memiliki dua sandal yg bagus dgn tali sandal yg bagus?” “Tidak.” “Apakah bila seseorang memiliki binatang tunggangan yg dikendarainya?” “Tidak.” “Apakah bila seseorang memiliki teman-teman yg biasa duduk bersamanya?” “Tidak.” “Wahai Rasulullah lalu apakah kesombongan itu?” Kemudian beliau n
menjawab: ِﺱﺎَّﻨﻟﺍ ُﻂْﻤَﻏَﻭ ِّﻖَﺤْﻟﺍ ُﻪَﻔَﺳ “Meremehkan kebenaran dan merendahkan manusia.” Tak sedikit pun Rasulullah n
membuka peluang bagi seseorang utk bersikap sombong. Bahkan beliau n
senantiasa memerintahkan utk tawadhu’. ‘Iyadh bin Himar z menyampaikan bahwa Rasulullah n
bersabda: َّﻥِﺇ َﻪﻠﻟﺍ َّﻲَﻟِﺇ ﻰَﺣْﻭَﺃ ْﻥَﺃ ﻰَّﺘَﺣ ﺍﻮُﻌَﺿﺍَﻮَﺗ َﺮَﺨْﻔَﻳ َﻻ ٍﺪَﺣَﺃ ﻰَﻠَﻋ ٌﺪَﺣَﺃ َﻲِﻐْﺒَﻳ َﻻَﻭ ٍﺪَﺣَﺃ ﻰَﻠَﻋ ٌﺪَﺣَﺃ “Sesungguh Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap tawadhu’ hingga tdk seorang pun menyombongkan diri atas yg lain dan tdk seorang pun berbuat melampaui batas terhadap yg lainnya.” Berlawanan dgn orang yg sombong orang yg berhias dgn tawadhu’ akan menggapai kemuliaan dari sisi Allah k
sebagaimana yg disampaikan oleh shahabat yg mulia Abu Hurairah z
bahwa Rasulullah n
bersabda: ُﻪﻠﻟﺍ ُﻪَﻌَﻓَﺭ َّﻻِﺇ ِﻪﻠﻟ ٌﺪَﺣَﺃ َﻊَﺿﺍَﻮَﺗ ﺎَﻣَﻭ “Dan tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ krn Allah kecuali Allah akan mengangkatnya.” Tawadhu’ krn Allah k ada dua makna. Pertama merendahkan diri terhadap agama Allah sehingga tdk tinggi hati dan sombong terhadap agama ini maupun utk menunaikan hukum-hukumnya. Kedua merendahkan diri terhadap hamba-hamba Allah k
krn Allah k
bukan krn takut terhadap mereka ataupun mengharap sesuatu yg ada pada mereka namun semata-mata hanya krn Allah k
. Kedua makna ini benar.
Apabila seseorang merendahkan diri krn Allah k
maka Allah k
akan mengangkat di dunia dan di akhirat. Hal ini merupakan sesuatu yg dapat disaksikan dlm kehidupan ini. Seseorang yg merendahkan diri akan menempati kedudukan yg tinggi di hadapan manusia akan disebut-sebut kebaikan dan akan dicintai oleh manusia.
Tak hanya sebatas perintah semata kisah-kisah dlm kehidupan Rasulullah n
banyak melukiskan ketawadhu’an beliau. Beliau n
adl seorang manusia yg paling mulia di hadapan Allah k
. Meski demikian beliau menolak panggilan yg berlebihan bagi beliau. Begitulah yg dikisahkan oleh Anas bin Malik z
tatkala orang2 berkata kepada Rasulullah n
“Wahai orang yg terbaik di antara kami anak orang yg terbaik di antara kami! Wahai junjungan kami anak junjungan kami!” Beliau n pun berkata: ﺎَﻳ ُﻢُﻜَّﻨَﻳِﻮْﻬَﺘْﺴَﻳ َﻻَﻭ ْﻢُﻜِﻟْﻮَﻘِﺑ ْﻢُﻜْﻴَﻠَﻋ ُﺱﺎَّﻨﻟﺍ ﺎَﻬُّﻳَﺃ ُﻥﺎَﻄْﻴَّﺸﻟﺍ ، ﻲِّﻧِﺇ َﻻ ُﺪْﻳِﺭُﺃ ْﻥَﺃ ﻲِﻧْﻮُﻌَﻓْﺮَﺗ َﻕْﻮَﻓ ﻲِﺘَﻟِﺰْﻨَﻣ ﻲِﺘَّﻟﺍ ِﻪﻴِﻨَﻟَﺰْﻧَﺃ ﻰَﻟﺎَﻌَﺗ ُﻪﻠﻟﺍ ، ﺎَﻧَﺃ ُﻦْﺑ ُﺪَّﻤَﺤُﻣ ُﻪُﻟْﻮُﺳَﺭَﻭ ُﻩُﺪْﺒَﻋ ِﻪﻠﻟﺍ ِﺪْﺒَﻋ “Wahai manusia hati-hatilah dgn ucapan kalian jangan sampai kalian dijerumuskan oleh syaitan. Sesungguh aku tdk ingin kalian mengangkatku di atas kedudukan yg diberikan oleh Allah ta’ala bagiku. Aku ini Muhammad bin ‘Abdillah hamba-Nya dan utusan-Nya.” Anas bin Malik z
mengisahkan: َﻥﺎَﻛ ُﻝﻮُﺳَﺭ ِﻪﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ُﺭْﻭُﺰَﻳ َﺭﺎَﺼْﻧَﻷْﺍ ُﻢِّﻠَﺴُﻴَﻓ ﻰَﻠَﻋ ْﻢِﻬِﻧﺎَﻴْﺒِﺻ ُﺢَﺴْﻤَﻳَﻭ ْﻢُﻬَﻟ ﻮُﻋْﺪَﻳَﻭ ْﻢِﻬِﺳْﻭُﺅُﺮِﺑ “Rasulullah n biasa mengunjungi orang2 Anshar lalu mengucapkan salam pada anak- anak mereka mengusap kepala mereka dan mendoakannya.” Ketawadhu’an Rasulullah n ini menjadi gambaran nyata yg diteladani oleh para shahabat. Anas bin Malik z
pernah melewati anak-anak lalu beliau mengucapkan salam pada mereka. Beliau n
mengatakan: ُﻪُﻠَﻌْﻔَﻳ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ َﻥﺎَﻛ “Nabi n biasa melakukan hal itu.” Memberikan salam kepada anak-anak ini dilakukan oleh Nabi n
dan diikuti pula oleh para shahabat beliau g
. Hal ini merupakan sikap tawadhu’ dan akhlak yg baik serta termasuk pendidikan dan pengajaran yg baik serta bimbingan dan pengarahan kepada anak-anak krn anak-anak apabila diberi salam mereka akan terbiasa dgn hal ini dan menjadi sesuatu yg tertanam dlm jiwa mereka.
Pernah pula Abu Rifa’ah Tamim bin Usaid z
menuturkan sebuah peristiwa yg memberikan gambaran ketawadhu’an Nabi n
serta kasih sayang dan kecintaan beliau terhadap kaum muslimin: ُﺖْﻴَﻬَﺘْﻧِﺍ ﻰَﻟِﺇ ِﻝﻮُﺳَﺭ ِﻪﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪﻠﻟﺍ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻮُﻫَﻭ ُﺐُﻄْﺨَﻳ ، ُﺖْﻠُﻘَﻓ : ﺎَﻳ َﻝﻮُﺳَﺭ ِﻪﻠﻟﺍ ، ٌﻞُﺟَﺭ ٌﺐْﻳِﺮَﻏ َﺀﺎَﺟ ُﻝَﺄْﺴَﻳ ْﻦَﻋ ِﻪِﻨْﻳِﺩ َﻻ ﻱِﺭْﺪَﻳ ﺎَﻣ ؟ُﻪُﻨْﻳِﺩ َﻞَﺒْﻗَﺄَﻓ ُﻝﻮُﺳَﺭ َّﻲَﻠَﻋ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪﻠﻟﺍ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪﻠﻟﺍ َﻙَﺮَﺗَﻭ ﻰَّﺘَﺣ ُﻪَﺘَﺒْﻄُﺧ َّﻲَﻟِﺇ ﻰَﻬَﺘْﻧﺍ ٍّﻲِﺳْﺮُﻜِﺑ َﻲِﺗُﺄَﻓ ، َﺪَﻌَﻘَﻓ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ، َﻞَﻌَﺟَﻭ ﻲِﻨُﻤِّﻠَﻌُﻳ ﺎَّﻤِﻣ ُﻪَﻤَّﻠَﻋ ُﻪﻠﻟﺍ ، ﺎَﻫَﺮِﺧﺁ َّﻢَﺗَﺄَﻓ ُﻪَﺘَﺒْﻄُﺧ ﻰَﺗَﺃ َّﻢُﺛ “Aku pernah datang kepada Rasulullah n
ketika beliau berkhutbah. Lalu aku berkata ‘Wahai Rasulullah seorang yg asing datang padamu utk berta tentang agama dia tdk mengetahui tentang agamanya.’ mk Rasulullah n pun mendatangiku kemudian diambilkan sebuah kursi lalu beliau duduk di atasnya. Mulailah beliau mengajarkan padaku apa yg diajarkan oleh Allah. Kemudian beliau kembali melanjutkan khutbah hingga selesai.” Begitu banyak anjuran maupun kisah kehidupan Rasulullah n
yg melukiskan ketawadhu’an beliau. Demikian pula dari para shahabat g
. Tinggallah kembali pada diri ayah dan ibu. Jalan manakah kira yg hendak mereka pilihkan bagi buah hatinya? Mengajarkan kerendahan hati hingga mendapati kebahagiaan di
dua negeri ataukah menanamkan benih kesombongan hingga menuai kehinaan di dunia dan akhirat?
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab

Suami pemimpin dalam keluarga

kehidupan seseorang berumah tangga dimulai dgn ijab-kabul. Saat itulah yang halal bisa jadi haram atau sebalik yg haram bisa jadi halal. Demikianlah Allah telah menetapkan bahwa ijab-kabul walau hanya beberapa patah kata dan hanya beberapa saat saja tapi ternyata bisa menghalalkan yg haram dan mengharamkan yg halal. Saat itu terdapat mempelai pria mempelai wanita wali dan saksi lalu ijab-kabul dilakukan sahlah kedua sebagai suami-istri. Status kedua pun berubah asal kenalan biasa tiba-tiba jadi suami asal tetangga rumah tiba-tiba jadi istri. Orang tua pun yg tadi sepasang saat itu tambah lagi sepasang. Karena andaikata seseorang berumah tangga dan dia tak siap serta tak mengerti bagaimana memposisikan diri maka rumah tangga hanya akan menjadi awal berdatangan aneka masalah. Ketika seorang suami tak sadar bahwa diri sudah beristri lalu bersikap seperti seorang yg belum beristri akan jadi masalah. Dia juga punya mertua itupun harus menjadi bagian yg harus disadari oleh seorang suami. Setahun dua tahun kalau Allah mengijinkan akan punya anak yg berarti bertambah lagi status sebagai bapak. Ke mertua jadi anak ke istri jadi suami ke anak jadi bapak. Bayangkan begitu
banyak status yg disandang yg kalau tak tahu ilmu justru status ini akan membawa mudharat. Karena menikah itu tak semudah yg diduga pernikahan yg tanpa ilmu berarti segera bersiaplah utk mengarungi aneka derita. Kenapa ada orang yg stress dalam rumah tangganya? Hal ini terjadi krn ilmu tak memadai dgn masalah yang dihadapinya. Begitu juga bagi wanita yg menikah ia akan jadi seorang istri. Tentusaja tak bisa sembarangan kalau sudah menjadi istri krn memang sudah ada ikatan tersendiri. Status juga bertambah jadi anak dari mertua ketika punya anak jadi ibu. Demikianlah Allah telah menyeting sedemikian rupa sehingga suami dan istri kedua mempunyai peran yg berbeda-beda. Tidak bisa menuntut emansipasi krn memang tak perlu ada emansipasi yg diperlukan adl saling melengkapi. Seperti hal sebuah bangunan yg menjulang tinggi ternyata dapat berdiri kokoh krn ada prinsip saling melengkapi. Ada semen bata pasir beton kayu dan bahan-bahan bangunan lain lalu bergabung dgn tepat sesuai posisi dan proporsi sehingga kokohlah bangunan itu. Sebuah rumah tangga juga demikian jika suami tak tahu posisi tak tahu hak dan kewajiban begitu juga istri tak tahu posisi anak tak tahu posisi mertua tak tahu posisi maka akan seperti bangunan yg tak diatur komposisi bahan-bahan pembangun ia akan segera ambruk tak karu- karuan. Begitu juga jika mertua tak pandai-pandai jaga diri misal dgn mengintervensi langsung pada manajemen rumah tangga anak maka sang mertua sebenar tengah mengaduk-aduk rumah tangga anak sendiri. Seorang suami juga harus sadar bahwa ia pemimpin dalam rumah tangga. Allah SWT berfirman “Laki-laki adl pemimpin kaum wanita krn Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yg lain dan krn mereka telah membelanjakan sebagian harta mereka…” . Dan seorang pemimpin hanya akan jadi pemimpin jika ada yg dipimpin. Arti jangan merasa lbh dari yg dipimpin. Seperti hal presiden tak usah
sombong kepada rakyat krn kalau tak
ada rakyat lalu mengaku jadi presiden bisa dianggap orang gila. Maka presiden jangan merendahkan rakyat karena dgn ada rakyat dia jadi presiden. Sama hal dgn kasus orang yg menghina tukang jahit padahal baju sendiri dijahit “Hmm tukang jahit itu pegawai rendahan”. Coba kalau baju tak dijahitkan oleh tukang jahit tentu dia akan kerepotan menutup auratnya. Dia dihormati krn baju diselesaikan tukang jahit. Lain lagi dgn
yg menghina tukang sepatu “Ah dia mah cuma tukang sepatu”. Sambil dia kemana-mana bergaya memakai sepatu. Tidak layak seorang pemimpin merasa
lbh dari yg dipimpin krn status pemimpin itu ada jikalau ada yg dipimpin. Misalkan istri bergelar master lulusan luar negeri sedangkan suami lulusan SMU dalam hal kepemimpinan rumah tangga tetap tak bisa jadi berbalik dgn istri menjadi pemimpin keluarga. Dalam kasus lain misalkan di kantor istri jadi atasan suami kebetulan staf saat di rumah beda urusannya. Seorang suami tetaplah pemimpin bagi istri dan anak- anaknya. Oleh karena itu bagi para suami jangan sampai kehilangan kewajiban sebagai suami. Suami adl tulang punggung keluarga seumpama pilot bagi pesawat terbang nakhoda bagi kapal laut masinis bagi kereta api sopir bagi angkutan kota atau sais bagi sebuah delman. Demikianlah suami adl seorang pemimpin bagi keluarganya. Sebagai seorang pemimpin harus berpikir bagaimana nih mengatur bahtera rumah tangga ini mampu berkelok-kelok dalam mengarungi badai gelombang agar bisa mendarat bersama semua awak kapal lain utk menepi di pantai harapan suatu tempat di akhirat nanti yaitu surga. Karena seorang suami harus tahu ilmu bagaimana mengarungi badai ombak relung dan pusaran air supaya selamat tiba di pantai harapan. Tidak ada salah ketika akan menikah kita merenung sejenak “Saya ini sudah punya kemampuan atau belum utk menyelamatkan anak dan istri dalam mengarungi bahtera kehidupan sehingga bisa kembali ke pantai pulang nanti?!”. Karena menikah bukan hanya masalah mampu cari uang walau ini juga penting tapi bukan salah satu yang terpenting. Suami bekerja keras membanting tulang memeras keringat tapi ternyata tak shalat sungguh sangat merugi. Ingatlah krn kalau sekedar cari uang harap tahu saja bahwa garong juga tujuan cuma cari uang lalu apa beda dgn garong?! Ha beda cara saja tapi kalau cita-cita sama apa bedanya? Buat kita cari nafkah itu termasuk dalam proses mengendalikan bahtera. Tiada lain supaya makanan yg jadi keringat status halal supaya baju yg dipakai status halal atau agar kalau beli buku juga dari rijki yg status halal. Hati-hatilah walaupun di kantong terlihat banyak uang tetap harus pintar-pintar mengendalikan penggunaan jangan sampai asal main comot. Seperti hal ketika mancing ikan di tengah lautan walaupun nampak banyak ikan tetap harus hati-hati siapa tahu yg nyangkut dipancing ikan hiu yg justru bisa mengunyah kita atau nampak manis gemulai tapi ternyata ikan duyung. Ketika ijab kabul seorang suami harus bertekad “Saya harus mampu memimpin rumah tangga ini mengarungi episode hidup yg sebentar di dunia agar seluruh anggota awak kapal dan penumpang bisa selamat sampai tujuan akhir yaitu surga”. Bahkan jikalau dalam kapal ikut penumpang lain misalkan ada pembantu ponakan atau yg lain maka sebagai pemimpin tugas sama juga yaitu harus membawa mereka ke tujuan akhir yg sama yaitu surga. Allah Azza wa Jalla mengingatkan kita dalam sabda “Hai orang-orang yg beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yg bahan bakar adalah manusia dan batu…” . Kepada pembantu jangan hanya mampu nyuruh kerja saja krn kalau saja dulu lahir Allah tukarkan majikan lahir dari orang tua pembantu dan pembantu lahir dari orang tua majikan maka si majikan yg justru sekarang lagi ngepel. Pembantu adl titipan Allah kita harus mendidik dgn baik kita sejahterakan lahir batin kita tambah ilmu mudah-mudahan orang tua bantu-bantu di kita anak bisa lbh tinggi pendidikan dan yg terpenting lagi lbh tinggi akhlaknya. Inilah pemimpin ideal yaitu pemimpin yg bersungguh-sungguh mau memajukan tiap orang yg dipimpinnya. Siapapun orang didorong agar menjadi lbh maju. **

Monday, 11 April 2011

TUNTUTLAH ILMU SAMPAI KENEGRICHINA...PALSU ATAU SAIH..??

BIsmilahirrahmanirrahiim
Sekiranya kita beriman kepada
perawi2 atau sanad2 yang sering
tuduh menuduh,
apakah tidak berbahaya menentukan
sebuah Hadits saih atau tidak? Hanya berdasarkan kemapada kridibilitas
seseorang menurut sponsor?
Apakah tidak tergolong syirik
beriman kepada orang2 yangsaling
tuduh menuduh
itu....dan lagi hadits2 itu TIDAK pernah di konfermasikan kepada Rasulullah
saw,
dan juga kridibilitas sanad2 juga tidak
mendapat konfermasi dr Rasulullah
swa. Agar kita umat islam tidak jatuh syirik,
maka setiap hadits itu baik muslim
bukhari dll haruslah di FILTER dgn
ucapan Rasulullahsaw di Al quran
yang
berjumlah 6448 ayat. Kalau Hadits itu bertentangan dgn
ayat2 ALLAH, maka Hadits itu bukan
ucapan
Rasul....kalau tidak bertentangan
maka Hadits itu saih... Cara menguji kesaihan sebuah Hadits
seperti ini akan jauh lebih
efektif,terhindar dari dosa syirik.
Berbahayanya kalau ada Hadits yang
di
sisipin oleh orang2 musrik,maka akibtnya fatal bagi umat islam. Mari saya ajak anda bahawa hadits
dibawah ini adalah saih dan tidak
bertentangan dgn ayat ALLAH.
1."Tuntutlah ilmu sampai ke negeri
Cina sekalipun."HR Buhaiqi
Hadits ini memperkuat sebuahb ayat ALLAH dibawah ini,dimana ALLAH
mengatakan
bahwa belajarlah kamu ke negara2
lain non islam agar saling kenal
mengenal.
Jadi Hadits itu TIDAK bertentangan dgn ayat ALLAH dibawah ini bukan?
Maka
Hadits itu saih.
Ayat ALLAH QS.49:13.
Hai manusia, sesungguhnya Kami
menciptakan kamu dari seorang laki- laki dan
seorang perempuan dan menjadikan
kamu berbangsa-bangsa dan
bersuku-suku
(bermacam bahasa/budhaya dan
keyakinan) kamu saling kenal mengenal (saling
belajar). Sesungguhnya orang yang
paling mulia di antara kamu di sisi
Allah
ialah orang yang paling bertakwa di
antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenal.
(QS.49:13). íóÜٰٓÃóíøõÀóÇ
ٱáäøóÇÓõ ÅöäøóÇ
ÎóáóÞۡäóÜٰßõã ãøöä
ÐóßóÑò۬ æóÃõäËóìٰ
æóÌóÚóáۡäóÜٰßõãۡ
ÔõÚõæÈð۬Ç æóÞóÈóÇٓٮٕöáó
áöÊóÚóÇÑóÝõæٓÇú�ۚ Åöäøó
ÃóڪۡÑóãóßõãۡ
ÚöäÏó ٱááøóåö
ÃóÊۡÞóٮٰßõãۡ�ۚ Åöäøó ٱááøóåó Úóáöíãñ
ÎóÈöíÑñ۬
(١٣ Bacalah sebuah penjelasan dr Uztad
kita di eramuslim dibawah ini yang
merujuk
kepada sanad2 yangsaling tuduh
menuduh. Assalamu'alaikum wr, wb.
Saya sering mendengar para
penceramah menyitir sebuah dalil
"Tuntutlah ilmu
sampai ke negeri Cina."
Bagaimana kedudukan haditsnya? Ada yang mengatakan hadits itu
palsu, tapi
kalau dilihat isinya kok ada benarnya?
Mohon penjelasan, ustadz.
Wassalamu'alaikum wr, wb.
Azmi Jawaban
Assalamu 'alaikum wr. wb.
Kalimat tuntutlah ilmu sampai negeri
Cina mungkin ada benarnya. Sebab
negeri Cina banyak memiliki khazanah
kekayaan ilmu pengetahuan. Ilmu ketabiban Cina sejak zaman
dahulu sudah sangat terkenal. Para
tabib Cina terkenal kepiawaiannya di
seantero jagad. Bahkan hingga hari ini
mereka pun tetap unggul di bidang
kedokteran modern. Orang Cina disebut-sebut sebagai
penemu kertas yang pertama kali
dalam
sejarah.
Selain ilmu kedokteran dan
pengetahuan, ilmu bela diri juga berkembang
pesat di Cina.
Sastra dan budaya Cina juga
merupakan sebuah keunikan
tersendiri.
Yang menarik, negeri Cina di masa khulafaurrasyidin telah bersentuhan
dengan para shahabat. Bakan di masa
khalifah Utsman bin Affan, bangsa
itu telah memelk agama Islam. Meski
belum seluruhnya.
Namun boleh dibilang bahwa Islam sebagai agama telah masuk ke Cina
terlebih dahulu dari pada Nusantara.
Bahkan para sejarawan meyakini
bahwa sebagian dari penyebar agama
Islam
di tanah Jawa adalah para da'i dari negeri Cina.
Bahkan model pakaian orang Cina
menjadi pakaian khas umat Islam di
negeri kita. Baju 'koko' konon model
baju Cina yang kni terlanjur menjadi
model baju para kiai, ustadz, dan penceramah.
Namun kalau kita kembal ke titik
masalah, kalimat tuntutlah ilmu sampai
ke negeri Cina bukanlah sabda nabi
Muhammad Saw.
Kalimat ini memang ada perawinya yang diklaim sampai nabi Muhammad
SAW.
Setidajnya ada 3 jalur yang berbeda.
Namun ketiganya bermasalah semua.
1. Sanad Pertama
Sanad bermasalah yang pertama adalah:
1. Dari Alhasan bin Athiyah
2. dari Abu Atikah Tarif bin Sulaiman
3. dari Anas bin Malik
4. dari nabi SAW
Yang menjadi biang kerok adalah Abu Atikah, perawi nomor dua. Dia ini
disepakati oleh para kritikus hadits
sebagai PEMALSU hadits.
Al-Bukhari, Annasai, Abu Hatim dan
lainnya sepakat bahwa Abu Atikah
tidak punya kredibilitas sebagai perawi hadits.
Imam Ibnu Hibban tegas menetapkan
hadits ini BATHIL LAA ASHLA LAHU
(batil, tidak ada asalnya. Pernyataan
itu diulang lagi oleh As-Sakhawi
dalam kitabnya al-Maqashid al- Hasanah.
Imam Ahmad bin Hanbal juga
menentang keras hadits tersebut.
Ibnul Jauzy memasukkkan haits itu ke
dalam kitabnya khusus koleksi
hadits palsu Al-Maudhu'aat. 2. Sanad Kedua
Sanad kedua ini juga bermasalah,
yaitu lewat jalur:
- dari Ahmad bin Abdullah
- dari Maslamah bin Alqashim
- dari Ya'qub bin Ishaq bin Ibrahim Alasqalani
- dari Ubaidillah bim Muhammad Al-
Fiyabi
- dari AzZuhri
- Anas bin Malik ra
- dari nabi SAW Yang bermasalah adalah Ya'qub bin
Ibrahim. Dia adalah seorang pendusta,
menurut Azzahabi.
3. Sanad Ketiga
Dalam sanad ketiga, ada seorang
perawi bernama Ahmad bin Abdullah Aljuwaibiri. Dia juga dikenal sebagai
seorang PEMALSU hadits.
Maka dengan demikian jelaslah
bahwa kalimat tuntutlah ilmu sampai
negeri Cina bukanlah perkataan
Rasulullah SAW. Karena tidak satupun yang
sanadnya sampai kepada Rasulullah.
Kalimat itu mungkin ada benarnya,
tetapi bukan sabda baginda Nabi
Muhammad SAW.
Wallahu a'lam bisshawab. Wassalamu 'alaikum wr. wb.
Ahmad Sarwat, Lc

sejarah islam d indonesia

Pada tahun 30 Hijri atau 651 Masehi,
hanya berselang sekitar 20 tahun dari
wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah
Utsman ibn Affan RA mengirim
delegasi ke Cina untuk
memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan
yang memakan waktu empat tahun
ini, para utusan Utsman ternyata
sempat singgah di Kepulauan
Nusantara. Beberapa tahun kemudian,
tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan
dagang di pantai barat Sumatera.
Inilah perkenalan pertama penduduk
Indonesia dengan Islam. Sejak itu
para pelaut dan pedagang Muslim
terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri
nan hijau ini sambil berdakwah. Lambat laun penduduk pribumi mulai
memeluk Islam meskipun belum
secara besar-besaran. Aceh, daerah
paling barat dari Kepulauan
Nusantara, adalah yang pertama
sekali menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di
Indonesia berdiri, yakni Pasai. Berita
dari Marcopolo menyebutkan bahwa
pada saat persinggahannya di Pasai
tahun 692 H / 1292 M, telah banyak
orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah,
pengembara Muslim dari Maghribi.,
yang ketika singgah di Aceh tahun
746 H / 1345 M menuliskan bahwa di
Aceh telah tersebar mazhab Syafi'i.
Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia
terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa
komplek makam Islam, yang salah
satu diantaranya adalah makam
seorang Muslimah bernama Fathimah
binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu
pada jaman Kerajaan Singasari.
Diperkirakan makam-makam ini
bukan dari penduduk asli, melainkan
makam para pedagang Arab. Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M,
belum ada pengislaman penduduk
pribumi Nusantara secara besar-
besaran. Baru pada abad ke-9 H / 14
M, penduduk pribumi memeluk Islam
secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya
penduduk Nusantara secara besar-
besaran pada abad tersebut
disebabkan saat itu kaum Muslimin
sudah memiliki kekuatan politik yang
berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan
bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh
Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon,
serta Ternate. Para penguasa
kerajaan-kerajaan ini berdarah
campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang
Arab. Pesatnya Islamisasi pada abad
ke-14 dan 15 M antara lain juga
disebabkan oleh surutnya kekuatan
dan pengaruh kerajaan-kerajaan
Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda.
Thomas Arnold dalam The Preaching
of Islam mengatakan bahwa
kedatangan Islam bukanlah sebagai
penakluk seperti halnya bangsa
Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai,
tidak dengan pedang, tidak dengan
merebut kekuasaan politik. Islam
masuk ke Nusantara dengan cara
yang benar-benar menunjukkannya
sebagai rahmatan lil'alamin. Dengan masuk Islamnya penduduk
pribumi Nusantara dan terbentuknya
pemerintahan-pemerintahan Islam di
berbagai daerah kepulauan ini,
perdagangan dengan kaum Muslimin
dari pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang
bermigrasi ke Nusantara juga semakin
banyak. Yang terbesar diantaranya
adalah berasal dari Hadramaut,
Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut,
migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar sepanjang sejarah
Hadramaut. Namun setelah bangsa-
bangsa Eropa Nasrani berdatangan
dan dengan rakusnya menguasai
daerah-demi daerah di Nusantara,
hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus. Terutama di abad ke
17 dan 18 Masehi. Penyebabnya,
selain karena kaum Muslimin
Nusantara disibukkan oleh
perlawanan menentang penjajahan,
juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis.
Setiap kali para penjajah - terutama
Belanda - menundukkan kerajaan
Islam di Nusantara, mereka pasti
menyodorkan perjanjian yang isinya
melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia
luar kecuali melalui mereka. Maka
terputuslah hubungan ummat Islam
Nusantara dengan ummat Islam dari
bangsa-bangsa lain yang telah terjalin
beratus-ratus tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan ummat
Islam Nusantara dengan akarnya,
juga terlihat dari kebijakan mereka
yang mempersulit pembauran antara
orang Arab dengan pribumi. Semenjak awal datangnya bangsa
Eropa pada akhir abad ke-15 Masehi
ke kepulauan subur makmur ini,
memang sudah terlihat sifat rakus
mereka untuk menguasai. Apalagi
mereka mendapati kenyataan bahwa penduduk kepulauan ini telah
memeluk Islam, agama seteru mereka,
sehingga semangat Perang Salib pun
selalu dibawa-bawa setiap kali
mereka menundukkan suatu daerah.
Dalam memerangi Islam mereka bekerja sama dengan kerajaan-
kerajaan pribumi yang masih
menganut Hindu / Budha. Satu
contoh, untuk memutuskan jalur
pelayaran kaum Muslimin, maka
setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, Portugis menjalin kerjasama
dengan Kerajaan Sunda Pajajaran
untuk membangun sebuah
pangkalan di Sunda Kelapa. Namun
maksud Portugis ini gagal total setelah
pasukan gabungan Islam dari sepanjang pesisir utara Pulau Jawa
bahu membahu menggempur mereka
pada tahun 1527 M. Pertempuran
besar yang bersejarah ini dipimpin
oleh seorang putra Aceh berdarah
Arab Gujarat, yaitu Fadhilah Khan Al- Pasai, yang lebih terkenal dengan
gelarnya, Fathahillah. Sebelum menjadi
orang penting di tiga kerajaan Islam
Jawa, yakni Demak, Cirebon dan
Banten, Fathahillah sempat berguru di
Makkah. Bahkan ikut mempertahankan Makkah dari
serbuan Turki Utsmani. Kedatangan kaum kolonialis di satu
sisi telah membangkitkan semangat
jihad kaum muslimin Nusantara,
namun di sisi lain membuat
pendalaman akidah Islam tidak
merata. Hanya kalangan pesantren (madrasah) saja yang mendalami
keislaman, itupun biasanya terbatas
pada mazhab Syafi'i. Sedangkan pada
kaum Muslimin kebanyakan, terjadi
percampuran akidah dengan tradisi
pra Islam. Kalangan priyayi yang dekat dengan Belanda malah sudah
terjangkiti gaya hidup Eropa. Kondisi
seperti ini setidaknya masih terjadi
hingga sekarang. Terlepas dari hal ini,
ulama-ulama Nusantara adalah orang-
orang yang gigih menentang penjajahan. Meskipun banyak
diantara mereka yang berasal dari
kalangan tarekat, namun justru
kalangan tarekat inilah yang sering
bangkit melawan penjajah. Dan meski
pada akhirnya setiap perlawanan ini berhasil ditumpas dengan taktik licik,
namun sejarah telah mencatat jutaan
syuhada Nusantara yang gugur pada
berbagai pertempuran melawan
Belanda. Sejak perlawanan kerajaan-
kerajaan Islam di abad 16 dan 17 seperti Malaka (Malaysia), Sulu
(Filipina), Pasai, Banten, Sunda Kelapa,
Makassar, Ternate, hingga perlawanan
para ulama di abad 18 seperti Perang
Cirebon (Bagus rangin), Perang Jawa
(Diponegoro), Perang Padri (Imam Bonjol), dan Perang Aceh (Teuku
Umar). (Bersambung)

Thursday, 7 April 2011

salahku kah ?

apakah aku terlalu cepat datang
menghampirimu
untuk mengatakan betapa aku
menyayangimu
apakah aku terlalu cepat untuk
mengatakan perasaan dalam hati ini , sejujurnya
padamu
dan apakah aku terlalu cepat, untuk
mengisi pikiranmu
padahal, bukankah pikiranmu masih
terisi kenangan, yang belum sempat hilang ? ku bisa merasa kan bagaimana rasa
hatimu,
pasti bagai digilas banyak keraguan
antara kenanganmu dan cinta
semuanya hadir dalam hatimu,
saling berebut kedudukan untuk bisa kau perhatikan dan untuk
bisa kau sayangi aku tidak punya apapun yang lebih
indah
untuk bisa mengisi hatimu kenanganmu pasti lebih indah dari
kata-kataku
dan kenanganmu pasti lebih mesra
dari tatapanku aku, seperti seorang peri kesepian
memandang dan berharap
untuk kau cintai
untuk kau rindui
dan untuk kau temani
dalam satu sisi kehidupan cintamu dan kenanganmu
derita lalumu, kebahagiaan lalumu,
apakah bisa menyatu dengan
perasaan cintaku salahku kah ?, terlalu cepat,
membiarkanmu untuk memulainya.

Wednesday, 6 April 2011

sholatny org wanita

Diriwayatkan dari
istri
Humaid
As-
Sa'idi,dirinya
datang menemui
Nabi
Saw.seraya
berkata,"Wahai
Rosulullah,sesungguhnya
aku senang
shalat bersamamu"
Kemudian Rosulullah bersabda:"Aku
tahu bahwa
kamu senang shalat bersamaku,namun
jika kamu shalat dikamar dimana kamu tidur,itu
akan lebih
baik dari pada kamu shalat diruangan
lain dalam
rumahmu.Jika kamu shalat ruang
rumahmu,itu akan lebih baik dari pada kamu shalat
diserambi
rumahmu.Jika kamu shalat diserambi
rumahmu,itu akan lebih baik dari pada
kamu
shalat dimasjid " Lebih lanjut Rosulullah saw juga
bersabda:"
Sesungguhnya shalat seorang wanita
dikamar
tidurnya lebih baik baginya dari pada
shalat diruangan lain dalam rumahnya,dan
shalat wanita
di ruang rumahnya lebih baik dari pada
shalatnya
dipekarangan rumahnya,dan shala
seorang wanita diserambi rumahnya adalah
lebih baik dari
pada shalat dimasjid"
Maksud dari hadist diatas
adalah,bahwa tempat
yang afdhal digunakan wanita untuk shalat adalah
kamar tidurnya sendiri dirumah.Lebih
lanjut
adalah,diruangan rumah selain kamar
tidurnya,seperti ruang tamu.Setelah itu
adalah serambi rumah.Dan yang terakhir
adalah
masjid.Lebih ringkasnya,bahwa
Rosulullah
menganjurkan kepada para wanita
untuk shalat diruang yang lebih tertutup,agar
menghindari
timbulnya fitna.
Jadi shalat wanita di ruang lebih
tertutup lebih
afdhal dari tempat lainnya,karena hal itu lebih
menjamin mereka dari timbulnya fitnah.
Kemudian Rosulullah bersabda yang
artinya
"Shalat wanita sendirian lebih utama
dari pada shalatnya dengan berjamaah bersama
kaum lelaki
berlipat dua puluh lima
derajat" (HR.Ad-Dhailami
dari Ibnu Umar )Hadist diatas
diberlakukan bagi para wanita muda.Rosulullah bersabda
"Bahwasannya shalat seorang wanita
yang
dicintai Allah adalah shalta ditempat
yang lebih
gelap didalam rumahnya " Rosul bersabda:"Sesungguhnya ketika
seorang
wanita keluar dari rumahnya tanpa ada
kepentingan apa pun,niscaya setan
akan
mendekatinya seraya berkata "Janganlah kamu
melewati seorang lelaki tanpa
membuat dia
mengagumimu "Dan sesungguhnya
ketika
seorang wanita mengenakan pakaiannya,lalu
keluarganya bertanya,"Mau kemana
kamu? "
Maka wanita menjawab,"Aku akan
menjenguk
orang sakit,atau melayat jenazah,atau shalat
dimasjid.Padahal ibadahnya seorang
wanita
kepada Allah diluar rumah tidak lebih
baik dari
pada ibadah didalam rumahnya" Rosulullah juga bersabda :"Allah tidak
akan
menerima shalat wanita yang pergi
kemasjid
dengan aroma yang sangat harum
hingga ia kembali dan mandi"

Muslimah sejati

MUSLIMAH SEJATI Daripada Umm Salamah, isteri
Nabi SAW, katanya(di dalam
sebuah hadis yang panjang):
Aku berkata, “Wahai Rasulullah! Adakah wanita di dunia lebih
baik atau bidadari ?” Baginda menjawab, “Wanita di dunia lebih baik daripada bidadari
sebagaimana yang zahir lebih
baik daripada yang batin. ” Aku berkata, “Wahai Rasulullah! Bagaimanakah itu?” Baginda menjawab, “Dengan solat, puasa dan ibadat mereka kepada Allah,
Allah akan memakaikan muka-
muka mereka dengan cahaya
dan jasad mereka dengan sutera
yang berwarna
putih,berpakaian hijau dan berperhiasan kuning….(hingga akhir hadis)” (riwayat al- Tabrani).
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………. Seorang gadis kecil bertanya ayahnya,
“Ayah ceritakanlah padaku perihal muslimah
sejati?” Si ayah pun menjawab, “Anakku,seorang muslimah
sejati bukan dilihat dari kecantikan dan
keayuan
wajahnya semata-mata.Wajahnya
hanyalah satu
peranan yang amat kecil,tetapi muslimah sejati
dilihat dari kecantikan dan ketulusan
hatinya yang
tersembunyi. Itulah yang terbaik ”. Si ayah terus
menyambung, “Muslimah sejati juga tidak dilihat
dari bentuk tubuh badannya yang
mempersona,tetapi dilihat dari sejauh
mana ia
menutupi bentuk tubuhnya yang
mempersona itu ”. “Muslimah sejati bukanlah dilihat dari sebanyak
mana kebaikan yang
diberikannya ,tetapi dari
keikhlasan ketika ia memberikan
segala kebaikan
itu.Muslimah sejati bukanlah dilihat dari seberapa
indah lantunan suaranya tetapi dilihat
dari apa
yang sering mulutnya
bicarakan.Muslimah sejati
bukan dilihat dari keahliannya berbahasa,tetapi
dilihat dari bagaimana caranya ia
berbicara dan
berhujah kebenaran ”. Berdasarkan ayat 31,surah
An Nurr,Abdullah Ibnu Abbas dan lain-
lainya
berpendapat, “Seseorang wanita islam hanya
boleh mendedahkan wajah,dua tapak
tangan dan
cincinnya di hadapan lelaki yang
bukan mahram ”. (As syeikh said hawa di dalam kitabnya
Al Asas fit
Tasir).
“Janganlah perempuan -perempuan itu terlalu
lunak dalam berbicara sehingga
menghairahkan
orang yang ada perasaan dalam
hatinya,tetapi
ucapkanlah perkataan yang baik-baik ”. (surah Al Ahzab:32). “Lantas apa lagi ayah?”sahut puteri kecil terus ingin tahu. “Ketahuilah muslimah sejati
bukan dilihat dari keberaniannya
dalam
berpakaian grand tetapi dilihat dari
sejauh mana ia
berani mempertahankan kehormatannya melalui
apa yang dipakainya. Muslimah sejati
bukan
dilihat dari kekhuwatirannya digoda
orang di tepi
jalanan tetapi dilihat dari kekhuwatirannya
dirinyalah yang mengundang orang
tergoda”. “Muslimah sejati bukanlah dilihat dari seberapa
banyak dan besarnya ujian yang ia
jalani tetapi
dilihat dari sejauh mana ia menghadapi
ujian itu
dengan penuh rasa redha dan kehambaan kepada
TUHAN nya,dan ia sentiasa bersyukur
dengan
segala kurniaan yang diberi.Dan
ingatlah anakku
muslimah sejati bukan dilihat dari sifat mesranya
dalam bergaul tetapi dilihat dari sejauh
mana ia
mampu menjaga kehormatan dirinya
dalam
bergaul ”. Setelah itu si anak bertanya, ”Siapakah yang
memiliki criteria seperti itu ayah?
Bolehkah saya
menjadi sepertinya?mampu dan
layakkah saya
ayah ?”. Si ayah memberikan sebuah buku dan
berkata, ”Pelajarilah mereka!supaya kamu berjaya
nanti.INSYA ALLAH kamu juga boleh
menjadi
muslimah sejati dan wanita yang
solehah
kelak,malah semua wanita boleh ”. Si anak pun
segera mengambil buku tersebut lalu
terlihatlah
sebaris perkataan berbunyi ISTERI
RASULULLAH. – (Riwayat Imam Ahmad) “Jika seseorang wanita menunaikan solat lima
waktu, berpuasa sebulan Ramadan,
memelihara
kehormatannya, mentaati suaminya,
nescaya dia
dapat masuk ke mana-mana saja pintu syurga
menurut kehendakinya. ”

arti sebuah pertunangan

Belum lama ini ada seorang teman yang mengalami sebuah tragedi. Pertunangannya batal karena dia mengetahui bahwa tunangannya selingkuh dengan wanita lain. Cukup menyedihkan cerita yang diceritakan. Dia sudah akan mencapai 3 tahun menjalin hubungan di bulan Desember ini. Waktu yang tidak sedikit
untuk bisa “saling mengenal”. Tapi pertanyaan terbesar adalah kenapa hal semacam ini masih terjadi juga? Padahal tahap pertunangan telah terlaksana dan tercapai beberapa bulan yang lalu. Bila kita membicarakan pertunangan, ada beberapa kontradiksi. Di satu pihak, Islam tidak pernah mengenal apa yang disebut pertunangan. Dan dilihat dari sisi adatpun sebagian besar masyarakat Indonesia tidak mengenal pertunangan. Jadi sebenarnya apakah
fungsi dari pertunangan itu? Pertunangan adalah sebuah titik lanjut
bila kita mengawali semuanya dengan yang biasa kita namakan “pacaran”. Coba akan aku terjemahkan seperti ini kronologisnya:
1. Kita mengenal seseorang 2. Kita menyukainya 3. Kita menyatatan perasaan dan apabila mendapat acc, maka kita akan menjalani sebuah hubungan yang biasa digunakan istilah “saling mengenal”. 4. Kita merasa mantap, tapi karena kita belum memiliki sebuah pegangan yang pasti/kuat sedangkan di sisi lain, pihak wanita meminta kepastian. Maka kita adakan sebuah acara “meminta” dari pihak keluarga kita yang acara pernikahannya diadakan beberapa waktu kemudian. Tujuannya adalah memberikan ketenangan dan jaminan kepada pihak wanita tentang keseriusan pihak lelaki.
5. Setelah dikira siap segalanya untuk memulai sebuah rumah tangga, maka pernikahan bisa dilaksanakan. Pertunangan bisa diistilahkan acara lamaran yang dimana memiliki tenggang waktu tersendiri dengan acara ijab Kabul dan prosesi pernikahan. Bila melihat kasus teman di atas, entah siapa yang patut disalahkan. Namun sesungguhnya dalam kasus ini banyak yang dirugikan. Impact sangat besar karena pihak wanita memotong alur setelah tahap 4 dilewati. Dimana tahap 4 adalah tahap yang sudah melibatkan keluarga besar. Efek kerugian psikologis paling besar jelas, temanku yang malang itu sendiri. Kemudian tentu saja keluarga dari pihak lelaki akan merasa tersinggung dan dipemalukan karena kepercayaan dan harga diri mereka diinjak-injak dengan peristiwa
ini. Pertunangan adalah sebuah acara kesepakatan di antara kedua keluarga dimana dalam tahap ini, kekeliruan kecil bisa menimbulkan friksi yang menyulut perselisihan antar dua keluarga. Apalagi peristiwa perselingkuhan semacam ini. Efeknya tidak terbayangkan. Kerugian yang tidak kalah terbesar adalah dari pihak wanita sendiri. Keluarga wanita tentu merasa malu apabila mengalami hal semacam ini. Keluarga wanita tidak bisa disalahkan atas peristiwa ini karena ini
semua murni kesalahan sang calon pengantin wanita, namun efeknya tentu saja akan menggigit setiap anggota keluarga. Anak perempuan adalah harga diri keluarga. Efeknya akan lebih besar bila seorang wanita mengalami kesalahan fatal daripada seorang laki-laki. Itulah kenapa wanita selalu dituntut untuk serba lebih dalam menjaga perilaku dan kehormatannya daripada laki-laki. Kehormatan wanita adalah kehormatan keluarga. Sekali itu rusak, maka orang akan memandang sebelah mata. Apabila kita menentang tentang sebuah pertunangan maka sebenarnya kita secara otomatis akan menentang hubungan yang dinamakan “saling mengenal” itu sendiri. Ini adalah sebuah pembicaraan klasik yang seakan tidak pernah habis terkupas dari waktu ke waktu terutama di zaman yang katanya sudah serba “modern” ini. Ada yang berpendapat, pertunangan itu penting karena pihak lelaki sebagai orang yang esok akan bertanggung jawab harus mempersiapkan semuanya untuk kelangsungan rumah tangganya kelak, terutama masalah materi. Nikah kan bukan Cuma mau tapi mampu? Bila pacaran dilarang, berarti kita tidak bisa menikah dengan orang yang kita inginkan? Trus bagaimana tuh? Nah, dasar kamu bisa suka dengan seseorang itu trus darimana? Dari pandangan mata juga kan? Padahal pandangan mata yang berlebihan antara wanita dan pria itu juga dilarang. Berarti semua berawal dari dosa dong? Tambah bingung lagi…. Bagaimana kita menikah dengan seseorang yang tidak pernah kita kenal sebelumnya? Bagaimana bila sedang mengarungi bahtera rumah tangga kita tidak saling cocok dan menyebabkan rumah tangga menjadi bubrah? Apa itu bukan berarti kerugian ganda bagi kita? Hmmm, pernyataan semacam ini sangat mudah dibantah. Apa jaminannya 2 orang yang saling beritikad baik satu sama lain untuk membangun keluarga yang baik tidak bisa saling menyayangi satu sama lain. Banyak tuh zaman engkong2 kita yang dulu nikah gak pake pacaran bisa langgeng sampai sekarang. Gak kaya’ zaman sekarang yang pake cinta2an namun ujung2nya cerai kek artis2. ………………………. …………………….. …………………… Kalau udah mulai bahas pacaran emang ujung2nya pusing. Entah pertunangan itu baik apa tidak, semua itu tergantung kondisi dan sudut pandangnya. Yang terpenting dari kesemuanya adalah untuk selalu menjaga kepercayaan pihak-pihak yang kita wakili. Terutama keluarga kita. Hanya satu yang pasti, Menyegerakan menikah itu sangat baik,..bila kita memang telah mau dan (sudah cukup) mampu. Dari sudut pandang apapun!

Jangan Tangisi Apa YangBukan Milikmu

Dalam perjalanan hidup ini seringkali
kita merasa kecewa. Kecewa sekali.
Sesuatu yang luput dari genggaman,
keinginan yang tidak tercapai,
kenyataan yang tidak sesuai harapan.
Akhirnya angan ini lelah berandai- andai ria. Pffhh.sungguh semua itu
tlah hadirkan nelangsa yang begitu
menggelora dalam jiwa. Dan sungguh sangat beruntung andai
dalam saat-saat terguncangnya jiwa
masih ada setitik cahaya dalam kalbu
untuk merenungi kebenaran. Masih
ada kekuatan untuk melangkahkan
kaki menuju majlis-majlis ilmu, majelis- majelis dzikir yang akan
mengantarkan pada ketentraman
jiwa. Hidup ini ibarat belantara.Tempat kita
mengejar berbagai keinginan. Dan
memang manusia diciptakan
mempunyai kehendak, mempunyai
keinginan. Tetapi tidak setiap yang
kita inginkan bisa terbukti, tidak setiap yang kita mau bisa tercapai. Dan
tidak mudah menyadari bahwa apa
yang bukan menjadi hak kita tak
perlu kita tangisi. Banyak orang yang
tidak sadar bahwa hidup ini tidak
punya satu hukum: harus sukses, harus bahagia atau harus-harus yang
lain. Demikian juga bagi yang sedang
galau terhadap jodoh.Kadang kita tak
sadar mendikte Allah tentang jodoh
kita,bukanya meminta yang terbaik
dalam istikharah kita tetapi benar-
benar mendikte Allah: Pokoknya harus dia Ya Allah. harus dia, karena
aku sangat mencintainya. Seakan kita
jadi yang menentukan segalanya, kita
meminta dengan pakasa.Dan akhirnya
kalaupun Allah memberikanya maka
tak selalu itu yang terbaik. Bisa jadi Allah tak mengulurkanya tidak
dengan kelembutan, tapi
melemparkanya dengan marah
karena niat kita yang terkotori. Sesaat tertegun sendiri dengan kata2
“jangan kau tangisi apa yang bukan milikmu”… yak benar, sejatinya emang kita ga memiliki apa-apa.. terkadang
lelah dengan tangisan itu.. tangisan
kecewa.. tapi yaakk.. lagi2..
Alhamdulilah.. masih ada setitik
cahaya yang membuatku terus
menggali makna gelisah dan kecewa ini.. hehe biarlah… tahu kenapa?
Terkadang sehebat apapun orang..
aku tau.. ada sisi di mana
keyakinannya pada Allah luntur..
entah karena tergerus dunia atau
terseret hawa nafsu.. Begitulah yang baru saja terjadi
padaku. Hehe. Masalah simpel saat PMS
ternyata membawa efek yang
lumayan dahsyat untukku.
Dan maafkan aku Ya Rabb… Maka wahai jiwa yang sedang
gundah, dengarkan ini dari Allah : “.. Boleh jadi kalian membenci sesuatu,padahal ia amat baik bagi
kalian. Dan boleh jadi kalian mencintai
sesuatu, padahal ia amat buruk bagi
kalian.Allah Maha mengetahui kalian
tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 216) Maka setelah ini wahai jiwa, jangan
kau hanyut dalam nestapa jiwa
berkepanjangan terhadap apa-apa
yang luput darimu. Setelah ini harus
benar-benar dipikirkan bahwa apa-
apa yang kita rasa perlu didunia ini harus benar-benar perlu bila ada
relevansinya dengan harapan kita
akan bahagia di akhirat. Karena
seorang mukmin tidak hidup untuk
dunia tetapi menjadikan dunia untuk
mencari hidup yang sesungguhnya: hidup di akhirat kelak! Maka sudahlah, jangan kau tangisi
apa yang bukan milikmu!

hidup itu jangan d tangisi..

hidup ini hanya sebuah jalan
ketika banyak sekali belokan dan
tikungan
banyak rambu-rambu hidup ini hanya sebuah permainan
ketika kalah dan menang beradu
ego dan gengsi berpadu hidup ini jangan di tangisi
hanya sedih dan tawa kadang selalu
kompak
kita tak pernah tahu apa yang terjadi
besok pertemuan dan perpisahan adalah
kenyataan
keadilan memang harus tetap berdiri
tegap dan kita lah yang menjadi
tiangnya semua sudah di atur sedemikian
meski berat
meski tak rela
semuanya telah terjadi
semua telah di tuliskan
kita tak berdaya melawan sang pencipta

buat sayangku

Ku duduk disini mencoba membuat
syair
Tuk mengungkapkan rasa berat
hatiku
Karena engkau meniggalkan diriku
oh sayangku Mengapa waktu berlalu begitu cepat? Tak dapat lagi kulihat indahnya langit
biru
Tak dapat lagi kulihat sinar mentari
Sejak engkau meninggalkan diriku
Hanya kekosongan yang ada didiriku
sekarang Teringat ketika kita bercanda tawa
bersama
Teringat pula ketika kamu mengangis
di hadapanku
Namun itu semua tinggalah kenangan
yang tersisa Antara kamu dan diriku Selamat jalan kekasihku yang tercinta
Aku takkan melupakanmu untuk
selamanya
Meskipun maut memisahkan kita
Tetapi cintaku takkan pernah mati Terima kasih atas kisah indah yang
engkau beri
Selamanya kisah ini akan mengukir
hidupku
Meskipun ingatanku sering dimakan
waktu Namun ingatanku kepadamu takkan
pernah pudar

Monday, 4 April 2011

Penyebab kenbnykan wanita masuk neraka

Sahabat yang dirahmati Allah,
Suatu perkara yang pasti bahawa Syurga dan Neraka adalah dua tempat balasan yang Allah s.w.t. ciptakan. Syurga diciptakanNya sebagai tempat tinggal yang abadi bagi kaum Muslimin dan Muslimat dan Neraka sebagai tempat tinggal bagi kaum Musyrikin, Musyrikat dan pelaku dosa yang Allah s.w.t. telah melarang darinya. Setiap Muslim yang mengerti keadaan Syurga dan Neraka tentunya sangat berharap untuk dapat menjadi penghuni Syurga dan terhindar jauh dari Neraka, inilah fitrah. Membicarakan tentang Neraka dan penghuninya, yang mana mayoritas penghuninya adalah wanita kerana sebab-sebab yang akan dijelaskan nanti. Sebelum kita mengenal wanita-wanita penghuni Neraka alangkah baiknya jika kita menoleh kepada peringatan- peringatan Allah s.w.t. di dalam Al Quran tentang Neraka dan azab yang tersedia di dalamnya dan perintah untuk menjaga diri daripadanya. Allah s.w.t. berfirman yang maksudnya :
“Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Surah At Tahrim ayat 6) Imam At-Tobari (rahimahu ‘Llah) menyatakan di dalam tafsirnya : “Ajarkanlah kepada keluargamu amalan ketaatan yang dapat menjaga diri mereka dari Neraka.” Ibnu Abbas r.a juga mentafsirkan ayat ini : “Beramallah kamu dengan ketaatan kepada Allah, takutlah kamu untuk bermaksiat kepadaNya dan perintahkan keluarga kamu untuk berzikir, nescaya Allah menyelamatkan kamu dari Neraka. ” Masih banyak tafsir para sahabat dan ulama lainnya yang menganjurkan kita untuk menjaga diri dan keluarga dari Neraka dengan mengerjakan amalan soleh dan menjauhi maksiat kepada Allah s.w.t. Di dalam surah lainnya Allah s.w.t. berfirmanyang bermaksud :
“Peliharalah dirimu dari Neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (Surah Al Baqarah ayat 24) Sahabat yang dimuliakan, Begitu pula dengan ayat-ayat lainnya yang juga menjelaskan keadaan Neraka dan perintah untuk menjaga diri daripadanya. Kedahsyatan dan kengerian Neraka juga dinyatakan Rasulullah s.a.w di dalam hadis yang sahih dari Abu Hurairah r.a bahawasanya baginda bersabdayang bermaksud :
“Api kamu yang dinyalakan oleh anak cucu Adam ini hanyalah satu bahagian
dari 70 bahagian Neraka Jahanam.” Jikalau api dunia saja dapat menghanguskan tubuh kita, bagaimana dengan api Neraka yang panasnya 70 kali ganda dibandingkan dengan panas api dunia? Semoga Allah S.W.T. menyelamatkan kita dari api Neraka. WANITA PENGHUNI NERAKA Mengenai hal ini, Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud :
“Aku melihat ke dalam Syurga maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah fuqara’ (orang- orang fakir) dan aku melihat ke dalam Neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penghuninya adalah wanita.” (Hadis Riwayat Al- Bukhari dan Muslim) Hadis ini menjelaskan kepada kita apa yang disaksikan oleh Rasulullah s.a.w tentang penghuni Syurga yang majoritinya adalah fuqara (para fakir miskin) dan Neraka yang majoriti penghuninya adalah wanita. Tetapi hadis ini tidak menjelaskan sebab- sebab yang menyebabkan mereka dimasukkan ke dalam Neraka dan menjadi majoriti penghuninya, namun demikian sebab-sebab tersebut disebutkan dalam hadis lainnya. Di dalam kisah solat gerhana matahari, Rasulullah s.a.w. dan para sahabatnya melakukan solat gerhana padanya dengan solat yang panjang , Rasulullah s.a.w melihat Syurga dan Neraka. Ketika beginda melihat Neraka beginda bersabda kepada para sahabatnya: “ … dan aku melihat Neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita. Para sahabat pun bertanya : “Mengapa (demikian) wahai Rasulullah?” Baginda s.a.w menjawab : “Kerana kekufuran mereka.” Kemudian ditanya lagi : “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Baginda menjawab : “Mereka kufur terhadap suami-suami mereka, kufur terhadap kebaikan- kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu
pada dirimu (yang tidak dia sukai) nescaya dia akan berkata : ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’ ” (Hadis Riwayat Imam Al-Bukhari) Dalam hadis yang lain, Rasulullah s.a.w
menjelaskan tentang wanita penghuni
Neraka, baginda bersabda : “ … dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya mereka telanjang, melenggak-lenggokkan kepala mereka kerana sombong dan berpaling dari ketaatan kepada Allah dan suaminya, kepala mereka seakan-
akan seperti bunggul unta. Mereka tidak masuk Syurga dan tidak mendapatkan wanginya Syurga padahal wanginya boleh didapati dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (Hadis Riwayat Muslim dan Ahmad) Dari Imran bin Husain dia berkata, Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud :
“Sesungguhnya penduduk Syurga yang paling sedikit adalah wanita.” (Hadis Riwayat Muslim dan Ahmad) Imam Qurthubi (rahimahu ‘Llah) menjelaskan maksud hadis di atas dengan pernyataannya : “Penyebab sedikitnya kaum wanita yang masuk Syurga adalah hawa nafsu yang mendominasi pada diri mereka, kecondongan mereka kepada kesenangan-kesenangan dunia, dan berpaling dari akhirat kerana kurangnya akal mereka dan mudahnya mereka untuk tertipu dengan kesenangan-kesenangan dunia yang menyebabkan mereka lemah untuk beramal. Kemudian mereka juga sebab yang paling kuat untuk memalingkan kaum lelaki dari akhirat disebabkan adanya hawa nafsu dalam diri mereka, kebanyakan dari mereka memalingkan diri-diri mereka dan selain mereka dari akhirat, cepat tertipu jika diajak kepada penyelewengan terhadap agama dan sulit menerima jika diajak kepada akhirat.” (Jahannam Ahwaluha wa Ahluha halaman 29-30 dan At Tazkirah halaman 369) Jika kita perhatikan keterangan dan hadith di atas dengan insaf, nescaya kita akan dapati beberapa sebab yang menjerumuskan kaum wanita ke dalam Neraka bahkan menjadi majoriti
penghuniya dan yang menyebabkan mereka menjadi golongan minoriti dari penghuni Syurga. 1. Kufur Terhadap Suami dan Kebaikan-Kebaikannya : Rasulullah s.a.w menjelaskan hal ini pada sabda baginda di atas tadi. Kekufuran seumpama ini terlalu banyak kita dapati di tengah-tengah keluarga kaum muslimin, iaitu seorang isteri yang mengingkari kebaikan-kebaikan suaminya selama sekian waktu yang panjang hanya dengan sikap suami yang tidak sesuai dengan kehendak isteri sebagaimana kata pepatah,’panas setahun dihapus oleh hujan sehari’. Padahal yang harus dilakukan oleh seorang isteri ialah bersyukur terhadap apa yang diberikan suaminya, janganlah ia mengkufuri kebaikan-kebaikan suami
kerana Allah s.w.t. tidak akan melihat isteri seumpama ini sebagaimana dijelaskan Rasulullah s.a.w : “Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak mensyukuri apa yang ada pada suaminya dan tidak merasa cukup dengannya.” (Hadis Riwayat Nasaie) Hadis di atas adalah peringatan keras bagi kaum wanita muslimah yang menginginkan keredhaan Allah s.w.t. dan SyurgaNya. Maka tidak layaklah bagi wanita yang mengharapkan akhirat untuk mengkufuri kebaikan- kebaikan suaminya dan nikmat- nikmat yang diberikannya atau meminta dan banyak mengadukan hal-hal kekurangan yang tidak sepatutnya untuk diperbesar- besarkan. Jika sedemikian keadaannya, maka sangat tidak sesuai sekali jika wanita yang kufur terhadap suaminya serta kebaikan-kebaikannya dikatakan Rasulullah s.a.w sebagai majoriti kaum yang masuk ke dalam Neraka walaupun mereka tidak kekal didalamnya. Cukup sekiranya isteri-isteri Rasulullah
s.a.w dan para sohabiyah sebagai suri tauladan bagi isteri-isteri kaum muslimin dalam mensyukuri kebaikan-kebaikan yang diberikan suaminya kepadanya. 2. Durhaka Terhadap Suami Kedurhakaan yang dilakukan seorang isteri terhadap suaminya pada umumnya berupa tiga bentuk kedurhakaan yang sering kita jumpai pada kehidupan masyarakat kaum Muslimin. Tiga bentuk kedurhakaan itu adalah : 1. Derhaka dengan ucapan.
2. Derhaka dengan perbuatan.
3. Derhaka dengan ucapan dan perbuatan. Bentuk pertama ialah seorang isteri yang biasanya berucap dan bersikap baik kepada suaminya serta segera memenuhi panggilannya, tiba-tiba berubah sikap dengan berbicara kasar dan tidak segera memenuhi panggilan suaminya. Atau ia memenuhinya tetapi dengan wajah yang menunjukkan rasa tidak senang atau lambat mendatangi suaminya. Kederhakaan seperti ini sering dilakukan seorang isteri ketika ia lupa atau memang sengaja melupakan ancaman-ancaman Allah terhadap sikap ini. Termasuk bentuk kederhakaan ini ialah apabila seorang isteri membicarakan perbuatan suami yang tidak ia sukai kepada teman-teman atau keluarganya tanpa sebab yang dibenarkan oleh syara’. Atau ia menuduh suaminya dengan tuduhan- tuduhan yang bermaksud untuk menjatuh dan merosak kehormatannya sehingga suaminya dipandang hina di mata orang lain. Begitu juga apabila seorang isteri meminta talak atau di khulu’ (dicerai) tanpa sebab syar’i. Atau ia mendakwa telah dianiaya atau dizalimi suaminya atau lain-lainnya. Permintaan cerai biasanya di awali dengan pertengkaran antara suami dan isteri kerana ketidakpuasan isteri terhadap kebaikan dan usaha suami. Atau yang lebih menyedihkan lagi bila hal itu dilakukannya kerana suaminya berusaha mengamalkan syari’at- syari’at Allah s.w.t. dan sunnah- sunnah Rasulullah s.a.w. Sungguh hina sekali apa yang dilakukan isteri seperti ini terhadap suaminya. Ingatlah sabda Rasulullah s.a.w :
“Wanita mana saja yang meminta cerai pada suaminya tanpa sebab (yang syar’ie) maka haram baginya mencium wangi Syurga.” (Hadis Riwayat Abu Daud dan At-Tirmizi ) Bentuk kederhakaan kedua yang dilakukan para isteri terjadi apabila seorang isteri tidak mahu melayani keperluan batiniyah suaminya atau bermuka masam ketika melayaninya atau menghindari suami ketika hendak disentuh dan dicium atau menutup pintu ketika suami hendak mendatanginya dan yang seumpamanya. Termasuk dari bentuk ini ialah apabila seorang isteri keluar rumah tanpa izin suaminya walaupun hanya untuk mengunjungi kedua orang tuanya. Tindakan ini sebenarnya adalah seakan-akan seorang isteri lari dari rumah suaminya tanpa sebab syar’ie. Demikian pula jika isteri enggan untuk bersafar (melakukan perjalanan) bersama suaminya, mengkhianati suami dan hartanya, membuka dan menampakkan apa yang seharusnya ditutupi dari anggota tubuhnya (aurat), menerima tetamu tanpa izin suaminya, berjalan di tempat umum dan pasar-pasar tanpa mahram, bersenda gurau atau berbicara lemah- lembut penuh mesra kepada lelaki yang bukan mahramnya dan yang lain-lain. Begiti juga apabila seorang isteri tidak mau berdandan atau mempercantikkan diri untuk suaminya padahal suaminya menginginkan hal-hal itu, melakukan puasa sunat tanpa izin suaminya, meninggalkan hak-hak Allah seperti solat atau puasa Ramadhan. Maka setiap isteri yang melakukan perbuatan-perbuatan seperti tersebut adalah isteri yang durhaka terhadap suami dan telah melakukan maksiat kepada Allah s.w.t. Jika kedua bentuk kederhakaan ini dilakukan sekaligus oleh seorang isteri maka ia dikatakan sebagai isteri yang derhaka dengan ucapan dan perbuatannya. Sungguh rugi wanita yang melakukan kederhakaan ini. Mereka lebih memilih jalan ke Neraka daripada jalan ke Syurga kerana memang biasanya wanita yang melakukan kederhakaan-kederhakaan ini tergoda oleh angan-angan dan kesenangan dunia yang menipu. Jalan menuju Syurga tidaklah dihiasi dengan bunga-bunga yang indah, melainkan dipenuhi dengan rintangan-rintangan yang berat untuk
dilalui oleh manusia kecuali orang- orang yang diberi ketegaran iman oleh Allah. Tetapi ingatlah di hujung jalan ini ada Syurga yang Allah sediakan untuk hamba-hambaNya yang sabar menempuhnya. Ketahuilah pula bahawa jalan menuju ke Neraka memang indah, penuh dengan syahwat dan kesenangan dunia yang setiap manusia tertarik untuk menjalaninya. Tetapi ingat dan sedarlah bahawa Neraka menanti orang-orang yang menjalani jalan ini dan tidak mahu berpaling darinya semasa ia hidup di dunia. Hanya wanita yang bijaksanalah yang mahu bertaubat kepada Allah s.w.t. dan meminta maaf kepada suaminya dari kederhakaan-kederhakaan yang pernah ia lakukan. Ia akan kembali berusaha mencintai suaminya dan sabar dalam mentaati perintahnya. 3. Tabarruj Yang dimaksud dengan tabarruj ialah seorang wanita yang menampakkan perhiasannya dan keindahan tubuhnya serta apa-apa yang wajib ditutupnya dari pandangan lelaki bukan mahramnya. Hal ini kita dapati pada sabda Rasulullah s.a.w tentang wanita- wanita yang berpakaian tapi hakikatnya telanjang disebabkan pakaian yang mereka pakai tipisnya, berseluar ketat menampakkan bahagian-bahagian tubuh tertentu, tidak menutup aurat sepertimana yang berlaku di dalam masyarakat kita. Sebagaimana yang dihuraikan oleh Ibnul ‘Abdil Barr rahimahu ‘Llah ketika menjelaskan sabda Rasulullah s.a.w tersebut. Ibnul ‘Abdil Barr menyatakan : “Wanita-wanita yang dimaksudkan Rasulullah s.a.w adalah yang memakai pakaian yang tipis yang menampakkan tubuhnya atapun yang menunjukkan bentuk tubuhnya dan tidak menutupinya, maka mereka adalah wanita-wanita yang berpakaian pada zahirnya dan telanjang pada hakikatnya … .” Mereka adalah wanita-wanita yang suka dan amat gembira apabila berjaya menampakkan perhiasan mereka, padahal Allah s.w.t. telah melarang hal ini dalam firmanNya yang bermkasud : “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan-perhiasan mereka.” (Surah An Nur ayat 310) Imam Az-Zahabi rahimahu ‘Llah menyatakan di dalam kitab Al Kabair :
“Termasuk dari perbuatan-perbuatan yang menyebabkan mereka dilaknat ialah menampakkan hiasan emas dan permata yang dipakai oleh mereka, memakai minyak wangi dengan yang seumpanya jika mereka keluar rumah … .” Dengan perbuatan seperti ini bererti mereka secara tidak langsung menyeret kaum lelaki ke dalam Neraka, kerana pada diri kaum wanita terdapat daya tarik syahwat yang sangat kuat yang dapat menggoncang keimanan yang kukuh sekalipun, apa lagi iman yang lemah yang tidak dikuatkan dengan ilmu Al Qur’an dan As Sunnah. Rasulullah sendiri menyatakan di dalam hadis yang sahih bahwa : “ Fitnah yang paling besar yang paling ditakutkan atas kaum lelaki adalah fitnahnya wanita.” Sahabat yang dirahmati Allah,
Sejarah sudah membuktikan bahawa betapa banyak tokoh-tokoh dunia yang tidak beriman kepada Allah s.w.t. hancur hanya disebabkan pujuk-rayu wanita. Bahkan berapa banyak persaudaraan di antara kaum muslimin terputus hanya disebabkan wanita. Berapa banyak anak yang menderhaka kepada ibunya demi mencari cinta seorang wanita, dan masih banyak lagi gejala-gejala lainnya yang dapat membuktikan bahawa wanita seumpama mereka ini memang layak untuk tidak mendapatkan wanginya Syurga. Hanya dengan ucapan dan rayuan seorang wanita mampu menjerumuskan kaum lelaki ke dalam lembah dosa yang hina, terlebih lagi jika mereka bersolek dan menampakkan tubuh mereka kepada kaum lelaki. Tidak menghairankan lagi jika di sana-sini terjadi jenayah dan kezaliman terhadap kaum wanita, kerana yang demikian adalah hasil perbuatan mereka sendiri. Hindarilah tabarruj dan berhiaslah dengan pakaian yang disaran oleh Islam yang akan menyelamatkan kaum wanita dari dosa di dunia ini dan azab di akhirat kelak. Jangan diikut pemikiran sekular pemimpin- pemimpin wanita Islam yang cuba mempertikaikan hukum-hukum Allah dan mempertikaikan hak-hak wanita yang telah dinyatakan di dalam al- Qur’an. Allah s.w.t. berfirman yang bermaksud :
“Dan tinggallah kamu di rumah-rumah kamu dan janganlah kamu bertabarruj dengan tabarrujnya orang-orang jahiliyyah pertama dahulu.” (Surah Al Ahzab ayat 33) Masih banyak sebab-sebab lainnya yang menyebabkan wanita menjadi penghuni majoriti Neraka. Tetapi cukuplah dengan tiga sebab ini sahaja yang dijelaskan di sini kerana memang tiga perkara inilah yang sering kita dapati di dalam kehidupan masyarakat kita. Rasulullah s.a.w pernah menerangkan satu amalan yang dapat menyelamatkan kaum wanita dari azab Neraka. Ketika beginda selesai berkhutbah hari raya yang berisikan perintah untuk bertakwa kepada Allah s.w.t. dan anjuran untuk mentaatiNya. Baginda pun bangkit mendatangi kaum wanita, baginda menasihati mereka dan mengingatkan
mereka tentang akhirat kemudian baginda bersabda : “Bersedekahlah kamu semua. Kerana kebanyakan kamu adalah kayu api Jahanam!” Maka berdirilah seorang wanita yang duduk di antara wanita-wanita lainnya yang berubah kehitaman kedua pipinya, iapun bertanya : “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?” Baginda menjawab : “Kerana kamu banyak mengeluh dan kamu kufur terhadap suami!” (Hadis Riwayat Al- Bukhari) Bersedekahlah kerana sedekah adalah satu jalan untuk menyelamatkan kaum wanita dari azab Neraka. Semoga Allah s.w.t. menyelamatkan kita dari azab-Nya. Amin.

19 Hadist RasulullahSAW Mengenai Wanita

1. Doa perempuan lebih makbul daripada lelaki kerana sifat penyayang yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah akan hal tersebut, jawab baginda, “Ibu lebih penyayang daripada bapa dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia”. 2. Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya.Allah mencatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebajikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan. 3. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah. 4. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia dari dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya. 5. Apabila telah lahir anak lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan. 6. Apabila semalaman ibu tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah memberinya pahala seperti memerdekakan 70 hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah. 7. Barangsiapa yang menggembirakan anak perempuannya, darajatnya seumpama
orang yang sentiasa menangis kerana takutkan Allah dan orang yang takutkan Allah, akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya. 8. Barangsiapa membawa hadiah, (barang makanan dari pasar ke rumah lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedekah. Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki. Maka barangsiapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail. 9. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu daripada suaminya (10,000 tahun). 10. Perempuan apabila sembahyang limawaktu, puasa bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana sahaja yang dikehendaki. 11. Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 1,000 lelaki yang soleh. 12. Aisyah berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah, siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita? Jawab rasulullah, “Suaminya. “Siapa pula berhak terhadap lelaki?” Jawab Rasulullah, “Ibunya”. 13. Apabila memanggil akan engkau dua orang ibubapamu, maka jawablah panggilan ibumu dahulu. 14. Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan di laut,burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan semua beristighfar baginya selama mana dia taat kepada suaminya serta menjaga sembahyang dan puasanya. 15. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-
pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab. 16. Syurga itu di bawah telapak kaki ibu. 17. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Nabi s.a.w) di dalam syurga. 18. Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggungjawab, maka baginya syurga. 19. Daripada Aisyah r.a. Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuan lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka. “Barangsiapa mempunyai harta yang banyak, akan lama hisabnya pada hari
Akhirat. ” Hadits Riwayat :Imam Ahmad bin Hambal

Tuesday, 29 March 2011

mengapa aku d uji ...???.(..Al-qur'an menjawab.)

Manusia Bertanya : Kenapa aku diuji ? Qur’an Menjawab : Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:” Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (Al-Ankabuut : 2). Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-
orang yang dusta. (Al-Ankabuut : 3) Manusia Bertanya : Kenapa aku tidak diuji saja dengan hal-hal yang baik ?
Qur’an Menjawab : boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah : 216) Manusia Bertanya : Kenapa aku diberi ujian seberat ini?
Qur’an Menjawab : Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (Al- Baqarah : 286) Manusia Bertanya : Bolehkah aku frustrasi ?
Qur’an Menjawab : Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) , jika kamu orang-orang yang beriman. (Ali Imraan : 139) Manusia Bertanya : Bolehkah aku berputus asa ?
Qur’an Menjawab : dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir. (Yusuf : 87) Manusia Bertanya : Bagaimana cara menghadapi ujian hidup ini?
Qur’an Menjawab : Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung. (Ali Imraan : 200) Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang- orang yang khusyu’. (Al-Baqarah : 45) Manusia Bertanya : Bagaimana menguatkan hatiku?
Qur’an Menjawab : Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal. (At-Taubah : 129) Manusia Bertanya : Apa yang kudapat dari semua ujian ini?
Qur’an Menjawab : Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. (At-
Taubah : 111)

15 hal di cabutnya berkah dari allah swt

Berkah adalah sesuatu yang tumbuh dan bertambah, sedangkan tabarruk adalah do’a seorang manusia atau selainnya untuk memohon berkah. Allah SWT menjadikan berkah hanya bagi hamba-Nya yang beriman, bertaqwa dan shaleh. Firman Allah dalam surat Al-A’raaf ayat 96 yang artinya “Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pastilah
Kami melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…” Beberapa sebab dicabutnya Berkah : 1. Tidak adanya Taqwa dan Tidak takut kepada Allah SWT.
2. Tidak Ikhlas dalam beramal.
3. Tidak menyebut nama Allah SWT dalam setiap perbuatan dan tidak melakukan Dzikir serta Ibadah kepada-Nya. Setiap perbuatan yang tidak diawali dengan Bismillah, maka perbuatan itu terputus untuk memperoleh kebaikan dan berkah, bahkan perbuatan anda tersebut akan disertai syetan. 4. Memakan barang yang haram dan yang dihasilkan dari perbuatan haram.
5. Tidak berbakti kepada kedua orang
tua dan menyia-nyiakan hak anak.
6. Memutus tali silaturahmi dan hubungan kekerabatan.
7. Sikap Bakhil dan tidak mau ber- infaq. Allah SWT tidak akan memberkahi harta yang hanya disimpan oleh pemiliknya dan enggan untuk menginfakkannya, karena perbuatan tersebut adalah perbuatan bakhil yang sangat tercela dan dibenci. Allah SWT Berfirman : “Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang – orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan – kesalahanmu dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” ( QS.Al-Baqarah(2): 271 ) Fiman Allah SWT : “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh)orang-orang yang menafkahkan
hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap- tiap bulir, Seratus biji. Allah melipat gandakan(ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui” ( QS.Al-Baqarah(2): 261 ) 8. Tidak bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya. 9. Tidak Ridha terhadap apa yang diberikan Allah dan tidak pernah merasa puas (tidak qana’ah). 10. Melakukan perbuatan maksiat dan dosa, serta enggan bertaubat dan beristighfar. 11. Tidak mendidik anak dengan ajaran Diennullaah.
Anak kita adalah tumpuan hati kita, pengharum jantung kita, pewangi aroma dunia dan buah kehidupan kita. Siapa saja yang berlaku buruk terhadap anak maka ia telah merugi dan telah melakukan ketidak patutan. Anak kita adalah madu kehidupan kita. 12. Berbuat kerusakan dan keburukan dimuka bumi.
13. Tidak bersyukur kepada Allah atas
nikmat-Nya.
14. Pertengkaran dan perselisihan antara suami-istri.
15. Mendoakan kecelakaan bagi diri sendiri, anak-anak dan harta benda. Tidak ada kebaikan dan keberkahan pada dirimu, anakmu atau harta bendamu jika engkau mendoakannya dengan kecelakaan, karena terkadang Allah mengabulkan doamu pada saat itu, maka terjadilah musibah dan engkau menyesal ketika penyesalan tak berguna lagi. Semoga bermanfaat bagi kita semua,,!!!Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma wabihamdika AsyaduAllahilaha illa Anta Astagfiruka wa’atubu Ilaik Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

25 pertanyaan untuk calon suami

Jangan hanya bertanya tentang penghasilan, hobby atau dimana akan membangun rumah. Tanyakanlah hal2 yg jauh lebih penting kepada calon suami- misalnya, sedalam apa cintanya kepada Allah … Dia ingin berkenalan lebih jauh dengan anda. Tujuannya untuk menjajaki apakah hubungan suami isteri ygsuci dan dahsyat itu bisa dibangun bersama anda. Anda berdua sudah saling bertukar curriculum vitae, kawan-kawan dan kerabat sudah saling bertukar informasi kepada anda dan dia. Dia ingin bertemu dan mengajukan beberapa pertanyaan. Sebaliknya, dia juga siap membuka dirinya untuk ditanya-tanya oleh anda. Berwudhu’-lah dulu, laksanakan shalat sunnat dua rakaat, mintalah Allah merengkuh anda dan mengendalikan lisan serta gerak- gerik anda. Ucapkanlah ta’awudz, dan bismillah dg jelas di hadapannya, lalu ajukan pertanyaan2 dibawah ini sambil menggantungkan diri anda hanya kepada Allah yg telah menciptakan anda dan dia. 1. Bagaimana anda pertama kali mengenal Allah? Tolong ceritakan sedetil mungkin. 2. Kapan pertama kali anda bertaubat yg sungguh sungguh? Kalau boleh tahu, kesalahan apakah yang anda mintakan ampun kpada Allah waktu itu? Pernahkah anda mengulangi kesalahan itu? Apa yg akan mungkin membuat anda terjerumus lagi pada kesalahan itu di masa mendatang? (jika dia menganggap itu aib yang anda tak perlu tahu, jangan sekali-kali anda mendesaknya untuk menjawab. Tunjukkan rasa hormat anda atas pilihannya untuk tidak menjawab). 3. Adakah kesalahan kepada Allah yang selalu anda lakukan dan sampai hari ini belum anda mintakan ampun kpada Allah? Kalau boleh tahu kesalahan apakah itu? (Begitu juga yang ini) 4. Seberapa sering anda ingkar kepada Allah terutama kalau sedang sendirian? Dalam bentuk apa keingkaran anda itu? (Begitu juga yang ini) 5. Tolong ceritakan bagaimana hubungan anda dengan Allah saat ini 6. Dalam seminggu terakhir, Berapa kali anda gagal mengikuti shalat fardhu berjamaah sesudah adzan berkumandang? Kenapa? 7. Dalam seminggu terakhir, Berapa kali anda gagal membaca Quran minimal 50 ayat per hari? Kenapa? 8. Dalam seminggu terakhir, Berapa kali anda gagal bangun shalat malam/ tahajjud? 9. Dalam seminggu terakhir, Berapa hari yg anda lewatkan tanpa bershodaqoh atau berinfaq untuk orang miskin dan sabilillah? 10. Tolong sebutkan 5 langkah pertama dan yang akan anda lakukan secara istiqomah untuk membangun rumah tangga yang taat kpada Allah dan Rasul-Nya? Kenapa anda memilih ke-5 langkah tersebut ? Bagaimana cara anda melaksanakannya? 11. Saya mau buka rahasia. Sebenarnya, saya sudah memiliki seorang laki-laki yang sangat saya cintai. Orangnya kalem, pintar, ganteng, dan sangat sopan. Hanya kepada dia saya memberikan cinta saya lebih dari kepada lelaki lain. Bersediakah anda mengizinkan saya melanjutkan cinta saya kepada lelaki ini, kalau anda suami saya? (Biarkan dia salah tingkah dulu. Mungkin juga dia akan menjawab secara emosional. Perhatikan mimic wajahnya, wajah seperti itulah yang akan anda lihat setiap kali kelak anda bertengkar dan mengingatkan dia dengan ayat Allah atau hadist Rasulullah. Setelah anda merekam mimic wajahnya, barulah anda katakana…)laki-laki itu bernama Muhammad shallallohu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana caranya supaya saya semakin mencintai beliau, lebih dari saya mencintai suami saya? 12. Apa saja rencana anda dalam menghidupkan sunnah nabi Muhammad Shallallohu ‘alaihi wa sallam dalam rumah tangga yang akan anda bangun? Bagaimana anda akan melaksanakannya? 13. Ada 3 hal yg insyaAllah akan selalu saya perbaiki dalam diri saya secara bersungguh2 sampai saya mati yaitu ibadah, ilmu dan ‘amal shalih saya. Apa saran anda untuk saya? 14. Tentang Ibu anda, ceritakan sebanyak mungkin hal penting yg menurut anda perlu saya ketahui tentang beliau? 15. Sejak anda dewasa, pernahkah anda membuat beliau sangat marah? Apa sebabnya? Apa yg anda lakukan setelah itu? 16. Dalam seminggu terakhir, berapa kali anda mencium tangan dan memeluknya dengan mesra? Kalau anda tinggal kota dengan beliau, berapa kali anda menelponnya dalam seminggu terakhir? Apa kata2 yang paling sering anda sampaikan ke beliau sebelum anda menutup telepon? 17. Jika Ibu anda melakukan kesalahan, apa yg anda lakukan utk mengingatkannya? 18. Menurut anda, adakah hal tertentu dari ibu anda- apakah itu perkataan maupun perbuatan- yang sangat mempengaruhi cara anda memperlakukan wanita, terutama kelak isteri anda? Apakah itu?
19. Jika kelak terjadi pertengkaran atau ketegangan antara Ibu dan isteri anda, apa yg akan anda lakukan?
20. Tentang Ayah anda, ceritakan hal2
penting yg menurut anda perlu saya ketahui ttg beliau? 21. Apa saja yg menurut anda bisa menghancurkan sebuah hubungan suami isteri? Apa rencana anda untuk menghindarinya? 22. Apa saja menurut anda bisa menggagalkan sebuah rumah tangga dalam menghasilkan anak2 yg shalih? Apa rencana anda utk menghindarinya? 23. Ttg mencari nafkah, kalau pendapatan ekonomi RT anda kurang memadai, jenis pekerjaan apa yg sebaiknya dilakukan oleh isteri anda utk membantu mencari nafkah? 24. Ta’adud ( menikahi lebih dari satu isteri) merupakan salah satu aturan Allah yg Maha sempurna, berikut syarat dan akibat2nya baik utk laki2 dan perempuan. Apa pandangan anda ttg ta’addud? 25. Bagaimana mati yg anda inginkan? Apa rencana2 anda utk itu? Mudah-mudahan Allah subhanahu wa
ta’ala membuka segala sesuatu yang paling mendasar, untuk anda ketahui tentang dia, lewat pertanyaan- pertanyaan diatas. Tetapi ada satu hal kecil yang perlu anda lakukan sebelum anda bertemu dia. Pergilah kedepan cermin, pandangilah bayangan mata anda, lalu tanyakan satu persatu pertanyaan diatas tadi kepada diri anda sendiri, dan jawablah dengan jujur.

25 Pertanyaan untuk calon istri..

Anda tertarik pada semua
karakternya. anda ingin berkenalan lebih dalam. Tujuannya untuk
menjajaki apakah hubungan suami
isteri yg suci dan dahsyat itu bisa
dibangun bersama anda. Anda
berdua sudah saling bertukar
curriculum vitae, kawan-kawan dan kerabat sudah saling bertukar informasi kepada anda dan dia. Anda ingin bertemu dan mengajukan beberapa pertanyaan. Berwudhu’-lah dulu, laksanakan shalat sunnat dua rakaat, mintalah Allah merengkuh anda dan mengendalikan lisan serta gerak- gerik anda. Ucapkanlah ta’awudz, dan bismillah dg jelas di hadapannya, lalu ajukan pertanyaan2 dibawah ini sambil menggantungkan diri anda hanya kepada Allah yg telah menciptakan anda dan dia. 1. Bagaimana anda pertama kali mengenal Allah? Tolong ceritakan sedetil mungkin.
2. Siapakah laki2 yg paling anda cintai? (jawabannya haruslah Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam)
3. Bagaimana cara anda mempelajari al-qur-an dan bagaimana cara anda mengajarkan al-quran kepada orang lain.
4. Seorang suami bertanggung jawab atas keselamatan istrinya dunia- akherat. Pada saat yg sama, dia harus menempatkan ibunya sebagai wanita utama dalam hidupnya, yg merupakan kuncinya mendapatkan syurga. apa saran anda supaya keduanya bisa terjaga dengan baik.
5. Tolong sebutkan 5 hal terpenting yg anda harapkan dari seorang suami. Apapun jawabannya akan menggambarkan akidahnya, akhlaqnya, wawasannya, dan cita2 hidupnya.
6. Apa saja kelemahan yg menurut anda tdk bisa anda terima dari seorang calon suami.
7. Apa yang anda fahami tentang taat kepada suami karena Allah Subhanahu wa ta’ala? Bagaimana anda akan melaksanakannya?
8. Kalau suami anda menyakiti anda dengan kata-katanya, apa yg akan anda lakukan?
9. Kalau suami anda memukul anda dengan tangannya, apa yang akan anda lakukan?
10. kalau suami anda tertarik pada wanita lain, apa yang akan anda lakukan?
11. Tolong ceritakan bagaimana hubungan anda dengan Allah saat ini
12. Dalam seminggu terakhir, Berapa kali anda gagal bangun shalat malam/ tahajjud?13. Dalam seminggu terakhir,
Berapa hari yg anda lewatkan tanpa bershodaqoh atau berinfaq untuk orang miskin dan sabilillah?
14. Tolong sebutkan 5 langkah pertama dan yang akan anda lakukan secara istiqomah untuk membangun rumah tangga yang taat kpada Allah dan Rasul-Nya? Kenapa anda memilih ke-5 langkah tersebut ? Bagaimana cara anda melaksanakannya?
15. Sebagai suami, ada 3 hal yg insyaAllah akan selalu saya perbaiki dalam diri saya secara bersungguh2 sampai saya mati yaitu ibadah, ilmu dan ‘amal shalih saya. Apa saran anda untuk saya?
16. Tentang Ayah dan Ibu anda, ceritakan sebanyak mungkin hal penting yg menurut anda perlu saya ketahui tentang beliau?
17. Sejak anda dewasa, pernahkah anda membuat beliau berdua sangat marah? Apa sebabnya? Apa yg anda lakukan setelah itu?
18. Dalam seminggu terakhir, berapa kali anda mencium tangan dan memeluknya dengan mesra? Kalau anda tinggal kota dengan beliau, berapa kali anda menelponnya dalam seminggu terakhir? Apa kata2 yang paling sering anda sampaikan ke beliau sebelum anda menutup telepon?
19. Jika Ayah anda melakukan kesalahan, apa yg anda lakukan utk mengingatkannya?
20. Menurut anda, adakah hal tertentu dari Ayah anda- apakah itu perkataan maupun perbuatan- yang sangat mempengaruhi cara anda menghadapi dan memperlakukan lelaki, terutama kelak suami anda? Apakah itu?
21. Jika kelak terjadi pertengkaran atau ketegangan antara Ayah anda dan suami anda, apa yg akan anda lakukan?
22. Apa saja yg menurut anda bisa menghancurkan sebuah hubungan suami isteri? Apa rencana anda untuk menghindarinya?
23. Apa saja menurut anda bisa menggagalkan sebuah rumah tangga dalam menghasilkan anak2 yg shalih? Apa rencana anda utk menghindarinya?
24. Ttg mencari nafkah, kalau pendapatan ekonomi RT anda kurang memadai, Apa yg akan anda lakukan? 25. Bagaimana mati yg anda inginkan? Apa rencana2 anda utk itu? Mudah-mudahan Allah subhanahu wa
ta’ala membuka segala sesuatu yang paling mendasar, untuk anda ketahui tentang dia, lewat pertanyaan- pertanyaan diatas. Tetapi ada satu hal kecil yang perlu anda lakukan sebelum anda bertemu dia. Pergilah kedepan cermin, pandangilah bayangan mata anda, lalu tanyakan satu persatu pertanyaan diatas tadi kepada diri anda sendiri, dan jawablah dengan jujur.

hukum meninggalkan solat..

Allah Ta’ala berfirman: َﻒَﻠَﺨَﻓ ﻦِﻣ ْﻢِﻫِﺪْﻌَﺑ ٌﻒْﻠَﺧ ﺍﻮُﻋﺎَﺿَﺃ َﺓﻼَّﺼﻟﺍ ِﺕﺍَﻮَﻬَّﺸﻟﺍ ﺍﻮُﻌَﺒَّﺗﺍَﻭ ﺎًّﻴَﻏ َﻥْﻮَﻘْﻠَﻳ َﻑْﻮَﺴَﻓ “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia- nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui ghayya.” (QS. Maryam: 59) Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menafsirkan kata ‘ghoyya’ dalam ayat tersebut bahwa dia adalah sungai di Jahannam yang makanannya sangat menjijikkan, yang tempatnya sangat dalam. (Lihat kitab Ash-Shalah karya Ibnu Al-Qayyim hal. 31) Para ulama menyatakan bahwa tatkala orang yang meninggalkan shalat berada di dasar neraka, maka ini menunjukkan kafirnya mereka. Karena dasar neraka bukanlah tempat seorang pelaku maksiat selama dia masih muslim. Hal ini dipertegas dalam lanjutan ayatnya, “Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh.” Ini menujukkan bahwa ketika mereka menyia-nyiakan shalat dengan cara meninggalkannya, maka mereka bukanlah orang yang beriman. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- telah bersabda: ُﺕْﺮِﻣُﺃ َﻞِﺗﺎَﻗُﺃ ْﻥَﺃ َﺱﺎَّﻨﻟﺍ ﻰَّﺘَﺣ ﺍﻭُﺪَﻬْﺸَﻳ ْﻥَﺃ ﺎَﻟ َﻪَﻟِﺇ ﺎَّﻟِﺇ ُﻪَّﻠﻟﺍ َّﻥَﺃَﻭ ﺍًﺪَّﻤَﺤُﻣ ُﻝﻮُﺳَﺭ ِﻪَّﻠﻟﺍ ﺍﻮُﻤﻴِﻘُﻳَﻭ َﺓﺎَﻠَّﺼﻟﺍ ﺍﻮُﺗْﺆُﻳَﻭ َﺓﺎَﻛَّﺰﻟﺍ ﺍَﺫِﺈَﻓ ﺍﻮُﻠَﻌَﻓ َﻚِﻟَﺫ ﺍﻮُﻤَﺼَﻋ ﻲِّﻨِﻣ ْﻢُﻫَﺀﺎَﻣِﺩ ْﻢُﻬَﻟﺍَﻮْﻣَﺃَﻭ ﺎَّﻟِﺇ ِّﻖَﺤِﺑ ْﻢُﻬُﺑﺎَﺴِﺣَﻭ ِﻡﺎَﻠْﺳِﺈْﻟﺍ ِﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَﻠَﻋ “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka
lakukan yang demikian maka mereka telah memelihara darah dan harta mereka dariku kecuali dengan haq Islam dan perhitungan mereka ada pada Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 75 dan Muslim no. 21) Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata: Saya mendengar Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: َّﻥِﺇ َﻦْﻴَﺑ ِﻞُﺟَّﺮﻟﺍ َﻦْﻴَﺑَﻭ ِﻙْﺮِّﺸﻟﺍ ِﺮْﻔُﻜْﻟﺍَﻭ َﻙْﺮَﺗ ِﺓﺎَﻠَّﺼﻟﺍ “Sungguh yang memisahkan antara seorang laki-laki (baca: muslim) dengan kesyirikan dan kekufuan adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 82) Asy-Syaukani berkata dalam Nailul Authar (1/403), “Hadits ini menunjukkan bahwa meninggalkan shalat termasuk dari perkara yang menyebabkan terjadinya kekafiran. ” Syaikhul Islam Ibnu Taimiah juga menerangkan perbedaan antara kata ‘al-kufru’ (memakai ‘al’) dengan kata ‘kufrun’ (tanpa ‘al’). Dimana kata yang pertama (yang memakai ‘al’/makrifah) bermakna kekafiran akbar yang mengeluarkan dari agama, sementara kata yang kedua (tanpa ‘al’/nakirah) bermakna kafir asghar yang tidak mengeluarkan dari agama. Sementara dalam hadits di atas dia memakai ‘al’. (lihat Iqtidha` Ash-Shirath Al- Mustaqim hal. 70) Buraidah -radhiallahu anhu- berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: ُﺪْﻬَﻌْﻟﺍ ﻱِﺬَّﻟﺍ ﺎَﻨَﻨْﻴَﺑ ْﻢُﻬَﻨْﻴَﺑَﻭ ُﺓﺎَﻠَّﺼﻟﺍ ْﻦَﻤَﻓ ﺎَﻬَﻛَﺮَﺗ َﺮَﻔَﻛ ْﺪَﻘَﻓ “Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat, karenanya barangsiapa yang meninggalkannya maka sungguh dia telah kafir.” (HR. At-Tirmizi no. 2621, An-Nasai no. 459, Ibnu Majah no. 1069 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 4143) Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin berkata, “Yang dimaksud dengan kekafiran di sini adalah kekafiran yang menyebabkan keluar dari Islam, karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan shalat sebagai batas pemisah antara orang orang mu’min dan orang orang kafir, dan hal ini bisa diketahui secara jelas bahwa aturan orang kafir tidak sama dengan aturan orang Islam. Karena itu, barang siapa yang tidak melaksanakan perjanjian ini maka dia termasuk golongan orang kafir.” Dari Abdullah bin Syaqiq Al-Uqaili - rahimahullah- dia berkata: َﻥﺎَﻛ ُﺏﺎَﺤْﺻَﺃ ٍﺪَّﻤَﺤُﻣ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪَّﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ﺎَﻟ َﻥْﻭَﺮَﻳ ﺎًﺌْﻴَﺷ ْﻦِﻣ ِﻝﺎَﻤْﻋَﺄْﻟﺍ ُﻪُﻛْﺮَﺗ ٌﺮْﻔُﻛ َﺮْﻴَﻏ ِﺓﺎَﻠَّﺼﻟﺍ “Para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah berpendapat mengenai sesuatu dari amal perbuatan yang mana meninggalkannya adalah suatu kekufuran melainkan shalat.” (HR. At- Tirmizi no. 2622) Pembahasan: Shalat mempunyai kedudukan yang besar dalam agama Islam, bahkan dia adalah tiang penegaknya yang tanpanya maka agama seseorang akan roboh dan hancur. Karenannya Allah Ta’ala dan Rasul-Nya - alaihishshalatu wassalam- senantiasa memperingatkan akan bahayanya meninggalkan dan menyepelekan shalat, sampai-sampai Nabi - alaihishshalatu wassalam- mengabarkan bahwa pemisah antara seorang muslim dengan kekafiran adalah ketika dia meninggalkan shalat. Adapun masalah hukum orang yang meninggalkan shalat, maka ada beberapa masalah yang butuh dibahas: Masalah Pertama: Hukum umum meninggalkan shalat. Kaum muslimin sepakat bahwa barangsiapa yang meninggalkan shalat tanpa ada uzur syar’i maka sungguh dia telah terjatuh ke dalam suatu dosa yang sangat besar yang akan membahayakan kehidupannya di akhirat kelak. Ibnu Al-Qayyim -rahimahullah- berkata dalam kitab Ash-Shalah wa Hukmu Tarikiha hal. 7, ”Kaum muslimin bersepakat bahwa meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, berzina, mencuri, dan minum minuman keras.” Imam Ibnu Hazm -rahimahullah- juga berkata, “Tidak ada dosa setelah kejelekan yang paling besar daripada dosa meninggalkan shalat hingga keluar waktunya dan membunuh seorang mukmin tanpa alasan yang bisa dibenarkan.” (Dinukil oleh Adz- Dzahabi dalam Al-Kabair hal. 25) Dan para ulama juga telah bersepakat bahwa barangsiapa yang mengingkari wajibnya shalat lima waktu -misalnya dia meyakini sunnahnya shalat ashar- maka sungguh dia telah kafir keluar dari Islam, sama saja baik dia shalat maupun tidak. Karena keyakinan seperti ini termasuk kekafiran yang bersifat i’tiqadi (hati) di mana dia mengingkari kewajiban sebuah amalan yang telah diketahui wajibnya secara darurat (tanpa butuh dipelajari)
dalam agama Islam ini. Imam Asy-Syaukani berkata dalam Nailul Authar (1/403), “Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan kaum muslimin akan kafirnya orang yang meninggalkan shalat (lima waktu) dalam keadaan dia mengingkari wajibnya.” Masalah Kedua: Hukum meninggalkan shalat karena malas. Setelah mereka bersepakat dalam masalah di atas, mereka kemudian berbeda pendapat dalam masalah orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja karena malas atau tanpa ada uzur syar’i, apakah itu merupakan perbuatan kekafiran akbar yang mengeluarkan pelakunya dari agama (jika syarat pengkafiran terpenuhi dan penghalangnya tidak ada) ataukah itu merupakan dosa yang sangat besar akan tetapi hanya merupakan kekafiran asghar (kecil) yang tidak mengeluarkan pelakunya dari agama Islam. Ada dua pendapat besar di kalangan ulama: 1. Meninggalkan shalat karena malas adalah kekafiran akbar yang mengeluarkan dari agama. Ini adalah pendapat Imam Ahmad, Said bin Jubair, Asy-Sya’bi, An-Nakhai, Al Auzai, Ayyub As-Sakhtiyani, Ibnu Al- Mubarak, Ishaq bin Rahawaih, Al- Hakam bin Utaibah, Abu Daud Ath- Thayalisi, Abu Bakar bin Abi Syaibah, Zuhair bin Harb, Abdul Malik bin Hubaib dari kalangan Al-Malikiah, pendapat sebagian ulama Asy- Syafi’iyah, pendapat Imam Syafi’i (sebagaimana yang dikatakan oleh Ath-Thahawi). Dan ini merupakan pendapat sebagian besar sahabat - bahkan sebagian ada yang menukil ijma’ berdasarkan sebagaimana dalam atsar Ibnu Syaqiq di atas-, di antaranya adalah: Umar bin Al- Khaththab, Muadz bin Jabal, Abdurrahman bin Auf, Abu Hurairah, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Abbas, Jabir bin Abdillah, Abu Ad- Darda`, Ali buin Abi Thalib, dan selainnya radhiallahu ‘anhum. Ishaq bin Rahawaih rahimahullah, berkata, “Telah dinyatakan dalam hadits shahih dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir. Dan demikianlah pendapat yang dianut oleh para ulama sejak zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai sekarang ini, bahwa orang yang sengaja meninggalkan shalat tanpa ada suatu halangan hingga keluar waktunya adalah kafir.” 2. Meninggalkan shalat karena malas adalah kekafiran asghar yang tidak mengeluarkan dari agama. Ini adalah pendapat Al-Hanafiah, Imam Malik, Ats-Tsauri, Asy-Syafi ’i, salah salah satu pendapat Imam Ahmad, dan ini merupakan pendapat mayoritas ulama. Pendapat yang paling tepat adalah pendapat yang pertama, dan inilah pendapat yang dikuatkan oleh Imam Ibnu Mandah dalam Al-Iman (1/362), Ibnu Baththah dalam Al-Ibanah (2/683), Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Fatawa Kubra Al-Fiqhiah (2/32), Ibnu Al-Qayyim dalam kitab Ash-Shalah di mana beliau menukil ijma’ para sahabat akan kafirnya orang yang meninggalkan shalat. Dan dari kalangan masyaikh belakangan seperti: Abdurrahman bin Nashir As- Sa’di, Ibnu Baz, Ibnu Al-Utsaimin, Muqbil bin Hadi, dan selainnya - rahimahumullah-. Di antara dalil mereka adalah semua dalil yang disebutkan di atas, dan di antara dalil lainnya adalah: a. Allah Ta’ala berfirman, “Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara saudaramu seagama.” (QS. At Taubah: 11) Ayat ini tegas menunjukkan bahwa orang yang tidak bertaubat dari kesyirikan, tidak mengerjakan shalat, dan tidak menunaikan zakat maka dia bukanlah saudara kita seislam, yakni dia adalah orang kafir. Hanya saja dikecualikan darinya zakat (yakni yang meninggalkannya tidak dihukumi kafir) berdasarkan hadits Abu Hurairah tatkala Nabi - alaihishshalatu wassalam- menyebutkan siksaan yang menimpa orang yang tidak mengeluarkan zakat, kemudian beliau bersabda: ﺎَّﻣِﺇ ُﻪَﻠْﻴِﺒَﺳ ﻯَﺮَﻳ َّﻢُﺛ ﺎَّﻣِﺇَﻭ ِﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ َﻰﻟِﺇ ِﺭﺎَّﻨﻟﺍ َﻰﻟِﺇ “Kemudian (setelah dia disiksa, pent.) dia akan melihat jalannya, apakah menuju ke surga atau ke neraka. ” (HR. Abu Daud no. 1414) Hadits ini mengkhususkan makna ayat di atas, di mana hadits ini menunjukkan bahwa setelah orang yang tidak menunaikan zakat itu disiksa, maka dia akan diperlihatkan tujuan akhirnya, apakah ke dalam neraka ataukah surga. Sisi pendalilannya bahwa masih ada kemungkinan dia untuk masuk ke dalam surga, dan ini jelas menunjukkan tidak kafirnya dia. b. Sabda Nabi -alaihishshalatu wassalam- akan tidak bolehnya memberontak kepada pemerintah kecuali dia telah melakukan kekafiran yang nyata. Dari Ubadah bin Ash Shamit radhiallahu ‘anhu: ﺎَﻧﺎَﻋَﺩ ُﻝْﻮُﺳَﺭ ِﻪﻠﻟﺍ  ُﻩﺎَﻨْﻌَﻳﺎَﺒَﻓ ، َﻥﺎَﻜَﻓ ﺎَﻤْﻴِﻓ َﺬَﺧَﺃ ﺎَﻨْﻴَﻠَﻋ ْﻥَﺃ ﺎَﻨْﻌَﻳﺎَﺑ ﻰَﻠَﻋ ِﻊْﻤَّﺴﻟﺍ ِﺔَﻋﺎَّﻄﻟﺍَﻭ ْﻲَﻓ َﺎﻨِﻄَﺸْﻨَﻣ ﺎَﻨِﻫَﺮْﻜَﻣَﻭ َﺎﻧِﺮْﺴُﻋَﻭ ﺎَﻧِﺮْﺴُﻳَﻭ ٍﺓَﺮْﺛَﺃَﻭ ﺎَﻨْﻴَﻠَﻋ ، ْﻥَﺃَﻭ َﻻ َﻉِﺯﺎَﻨُﻧ ُﻪَﻠْﻫَﺃ َﺮـْﻣَﺄْﻟﺍ ، َﻝﺎَﻗ : َّﻻِﺇ ْﻥَﺃ ﺍْﻭَﺮَﺗ ﺍًﺮْﻔُﻛ ﺎًﺣﺍَّﻮَﺑ ْﻢُﻛَﺪْﻨِﻋ َﻦِﻣ ِﻪﻠﻟﺍ ِﻪْﻴِﻓ ﻥﺎَﻫْﺮُﺑ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajak kami, dan kamipun membai’at beliau, di antara bai’at yang diminta dari kami ialah hendaklah kami membai’at untuk senantiasa patuh dan taat, baik dalam keadaan senang maupun susah, dalam kesulitan maupun kemudahan, dan mendahulukannya atas kepentingan dari kami, dan janganlah kami menentang orang yang telah terpilih dalam urusan (kepemimpinan) ini, sabda beliau, “Kecuali jika kalian melihat kekafiran yang sangat jelas yang ada bukti kuatnya bagi kalian dari Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 6532 dan Muslim no. 3427) Dan dalam hadits yang lain beliau melarang untuk mengkudeta pemerintah selama pemerintah itu masih mengerjakan shalat. Diriwayatkan dalam shahih Muslim no. 3445, dari Ummu Salamah radliallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ُﻥْﻮُﻜَﺘَﺳ ﺀﺍَﺮـَﻣُﺃ ، َﻥْﻮُﻓِﺮْﻌَﺘَﻓ َﻥْﻭُﺮـِﻜْﻨُﺗَﻭ ، ْﻦَﻤَﻓ َﻑَﺮَﻋ َﺉَﺮَﺑ ، ْﻦَﻣَﻭ َﺮـَﻜْﻧَﺃ َﻢِﻠَﺳ ، ْﻦِﻜَﻟَﻭ َﻲِﺿَﺭ ْﻦَﻣ َﻊَﺑﺎَﺗَﻭ ، ﺍْﻮُﻟﺎَﻗ : َﻼَﻓَﺃ ْﻢُﻬُﻠِﺗﺎَﻘُﻧ ؟ َﻝﺎَﻗ : َﻻ ﺎَﻣ ﺍْﻮُّﻠَﺻ “Kelak akan ada para pemimpin di mana kalian mengenal mereka akan tetapi kalian mengingkari perbuatan mereka. Barangsiapa yang mengetahui kemungkaran (lalu mengingarinya) maka dia telah bebas dari pertanggungjawaban, barangsiapa yang menolaknya maka dia juga selamat, akan tetapi (yang berdosa adalah) siapa yang rela dan mengikuti kemungkaran tersebut. Para sahabat bertanya, “Bolehkah kami memerangi mereka?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak boleh, selama mereka mengerjakan shalat.” Maka ini menunjukkan bahwa meninggalkan shalat termasuk kekafiran yang sangat jelas, karena dia merupakan salah satu sebab akan bolehnya mengkudeta pemerintah, yakni jika mereka sudah tidak mengerjakan shalat. Adapun dalil-dalil dari pendapat kedua, yaitu para ulama yang tidak mengkafirkan orang yang meninggalkan shalat, maka Asy- Syaikh Ibnu Al-Utsaimin berkata, “Siapapun yang memperhatikan dalil- dalil itu dengan seksama pasti akan menemukan bahwa dalil-dalil itu tidak keluar dari lima jenis dalil. Dan kesemuanya tidaklah bertentangan dengan dalil-dalil yang dipergunakan oleh mereka yang berpendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir.” Jenis pertama: Hadits-hadits tersebut dhaif dan tidak jelas. Jenis kedua: Dalilnya shahih akan tetapi tidak ada sisi pendalilan yang menjadi pijakan pendapat yang mereka anut dalam masalah ini. Jenis ketiga: Dalil-dalil umum, akan tetapi dia dikhususkan oleh hadits- hadits yang menunjukkan kekafiran orang yang meninggalkan shalat. Jenis Keempat: Dalil umum yang muqayyad (dibatasi) oleh suatu batasan yang tidak mungkin baginya meninggalkan shalat. Jenis kelima: Dalil yang disebutkan secara muqayyad (dibatasi) oleh suatu
kondisi yang menjadi alasan bagi seseorang untuk meninggalkan shalat. Lihat penjabaran dan contoh kelima jenis dalil ini dalam risalah Hukmu Tarik Ash-Shalah karya Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin -rahimahullah-. Kesimpulan: Meninggalkan shalat karena malas dan tanpa ada uzur syar’i adalah kekafiran akbar yang mengeluarkan pelakunya dari agama islam. Masalah Ketiga: Hukum bunuh bagi yang meninggalkan shalat. Mengenai hukum bunuh bagi orang yang meninggalkan shalat karena malas, ada tiga pendapat di kalangan ulama. Pendapat pertama adalah bahwa dia harus dibunuh karena dia telah murtad keluar dari Islam. Ini adalah pendapat semua ulama yang menyatakan kafirnya orang yang meninggalkan shalat. Mereka berdalil dengan sabda Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-: ُﻪَﻨﻳِﺩ َﻝَّﺪَﺑ ْﻦَﻣ ُﻩﻮُﻠُﺘْﻗﺎَﻓ “Barangsiapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah dia!” (HR. Al-Bukhari no. 2794, 6411) Pendapat kedua adalah yang menyatakan dia harus dibunuh, akan tetapi bukan karena dia kafir tapi sebagai hukum had sebagaimana yang terjadi pada pezina yang telah menikah, dia dibunuh dengan dirajam. Ini adalah pendapat semua ulama yang tidak mengkafirkan orang
yang meninggalkan shalat, kecuali Abu Hanifah. Pendapat yang ketiga adalah pendapat Abu Hanifah, di mana beliau menyatakan bahwa pelakunya cukup dikurung sampai dia mau kembali shalat dan dia tidak dibunuh. Berdasarkan pendapat yang kuat pada masalah kedua sebelumnya, maka pendapat yang lebih tepat dalam masalah ini adalah pendapat yang pertama, yakni dia harus dibunuh karena dia telah murtad dari agamanya. Catatan: Yang melaksanakan hukum bunuh di sini adalah pemerintah atau yang mewakilinya, sebagaimana merekalah yang berhak menegakkan hukum- hukum had lainnya seperti rajam dan potong tangan bagi pencuri. Masalah Keempat: Kapan seseorang
dihukumi meninggalkan shalat. Dalam masalah ini, secara umum ada dua pendapat besar di kalangan para ulama yang menyatakan kafirnya orang yang meninggalkan shalat karena malas: Pendapat pertama: Ibnu Hazm menyebutkan dalam Al-Muhalla (1/242), “Terdapat riwayat dari Umar, Muadz, Abdurrahman bin Auf, Abu Hurairah dan dari para sahabat yang lain, bahwa seorang yang sengaja meninggalkan shalat fardhu sekali saja hingga keluar waktunya telah kafir dan murtad.” Dan inilah pendapat yang dikuatkan oleh Asy-Syaikh Ibnu Baz -rahimahullah-. Pendapat yang lain: Bahwa orang yang meninggalkan shalat tidak dikafirkan kecuali meninggalkannya secara total, atau bersikukuh untuk meninggalkan walaupun setelah diancam untuk dibunuh. Ini adalah pendapat Imam Ahmad di mana beliau menyatakan mengenai hadits Jabir di atas bahwa yang dimaksudkan dengan meninggalkan shalat di situ adalah meninggalkan shalat selamanya. Yang lebih tepat insya Allah pendapat yang paling terakhir. Ini adalah pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyyah sebagaimana dalam Majmu` Al-Fatawa (7/219), Ibnul Qayyim dalam Ash-Shalah hal. 60, 82, Al- Mardawi dalam kitab Al-Inshaf (1/378), dan Asy-Syaikh Ibnu Al- Utsaimin dalam Asy-Syarh Al-Mumti` (2/26). Jadi jika ada seseorang yang asalnya dia shalat hanya saja terkadang dia meninggalkannya karena malas, maka dia tetap dihukumi seorang muslim dan tidak dihukumi kafir, kecuali jika dia telah meninggalkan shalat secara menyeluruh, wallahu a’lam. Sumber: al-atsariyyah.com

Sunday, 27 March 2011

letih..

Ku telah jelajahi langit dengan pikiranku tak satupun yang bisa kufahami ku telah jelajahi kehidupan dengan rasaku tak satupun yang bisa buat hati tersenyum semua hanya bayang-bayang hanya samar hingga buatku duduk termangu dan merasa semua sia-sia hingga saat ini tak ada apa-apa pikiran tak bisa berpikir lagi rasa ini beku haruskah aku hidup seperti ini hanya KAU yang bisa menjawabnya karna dihati yang paling dalam ku percaya KAU ad