Dalam kitab Ensiklopedia Kiamat
(aslinya: al-Yaum al-Akhir:al-Qiyamah
ash-Shughra wa ‘Alamat al-Qiyamah al-Kubra), Dr Umar Sulaiman al-
Asyqar menulis pasal khusus
berjudul “Hal-hal Yang Menyebabkan Su’ul Khatimah (akhir kehidupan yang buruk)”. Di dalamnya beliau menyebutkan ada empat perkara
yang dapat menyebabkan
seseorang mengakhiri hidupnya
dalam keadaan buruk sehingga
menghantarkannya ke Neraka di
kehidupan abadi negeri akhirat kelak. Namun sebelum kita uraikan
keempat hal tersebut alangkah
baiknya kita perhatikan hadits di
bawah ini yang memuat salah satu
rukun iman yang fundamental, yaitu
iman akan taqdir Allah, baik itu taqdir yang terasa menyenangkan
maupun yang terasa pahit. ِﻪﻴِﻓ ُﺦُﻔْﻨَﻴَﻓ ُﻚَﻠَﻤْﻟﺍ ُﻞَﺳْﺮُﻳ َّﻢُﺛ ٍﺕﺎَﻤِﻠَﻛ ِﻊَﺑْﺭَﺄِﺑ ُﺮَﻣْﺆُﻳَﻭ َﺡﻭُّﺮﻟﺍ ِﻪِﻠَﻤَﻋَﻭ ِﻪِﻠَﺟَﺃَﻭ ِﻪِﻗْﺯِﺭ ِﺐْﺘَﻜِﺑ ﺎَﻟ ﻱِﺬَّﻟﺍَﻮَﻓ ٌﺪﻴِﻌَﺳ ْﻭَﺃ ٌّﻲِﻘَﺷَﻭ ُﻩُﺮْﻴَﻏ َﻪَﻟِﺇ ِﻞَﻤَﻌِﺑ ُﻞَﻤْﻌَﻴَﻟ ْﻢُﻛَﺪَﺣَﺃ َّﻥِﺇ ُﻥﻮُﻜَﻳ ﺎَﻣ ﻰَّﺘَﺣ ِﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ ِﻞْﻫَﺃ ُﻪَﻨْﻴَﺑ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻖِﺒْﺴَﻴَﻓ ٌﻉﺍَﺭِﺫ ﺎَّﻟِﺇ ﺎَﻬَﻨْﻴَﺑَﻭ ِﻞْﻫَﺃ ِﻞَﻤَﻌِﺑ ُﻞَﻤْﻌَﻴَﻓ ُﺏﺎَﺘِﻜْﻟﺍ ﺎَﻬُﻠُﺧْﺪَﻴَﻓ ِﺭﺎَّﻨﻟﺍ ِﻞَﻤَﻌِﺑ ُﻞَﻤْﻌَﻴَﻟ ْﻢُﻛَﺪَﺣَﺃ َّﻥِﺇَﻭ ُﻥﻮُﻜَﻳ ﺎَﻣ ﻰَّﺘَﺣ ِﺭﺎَّﻨﻟﺍ ِﻞْﻫَﺃ ﺎَﻬَﻨْﻴَﺑَﻭ ُﻪَﻨْﻴَﺑ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻖِﺒْﺴَﻴَﻓ ٌﻉﺍَﺭِﺫ ﺎَّﻟِﺇ ِﻞْﻫَﺃ ِﻞَﻤَﻌِﺑ ُﻞَﻤْﻌَﻴَﻓ ُﺏﺎَﺘِﻜْﻟﺍ ﺎَﻬُﻠُﺧْﺪَﻴَﻓ ِﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ Dari Abu Abdirrohman, Abdulloh bin
Mas’ud rodhiyallohu’anhu, dia berkata: ”Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam telah bersabda kepada kami dan beliau adalah
orang yang selalu benar dan
dibenarkan: “…Kemudian diutuslah seorang malaikat kepadanya, lalu
malaikat itu meniupkan ruh
kepadanya dan ia diperintahkan
menulis empat kalimat: Menulis
rizkinya, ajalnya, amalnya, dan nasib
celakanya atau keberuntungannya. Maka demi Alloh yang tiada tuhan
selain-Nya, sesungguhnya ada
diantara kamu yang melakukan
amalan penduduk surga dan amalan
itu mendekatkannya ke surga
sehingga jarak antara dia dan surga kurang satu hasta, namun karena
taqdir yang telah ditetapkan atas
dirinya, lalu dia melakukan amalan
penduduk neraka sehingga dia
masuk ke dalamnya. Dan
sesungguhnya ada seseorang diantara kamu yang melakukan
amalan penduduk neraka dan amal
itu mendekatkannya ke neraka
sehingga jarak antara dia dan
neraka hanya kurang satu hasta,
namun karena taqdir yang telah ditetapka atas dirinya, lalu dia
melakukan amalan penduduk surga
sehingga dia masuk ke
dalamnya.” (HR. Muslim) Seorang yang beriman kepada taqdir
yang ditetapkan oleh Allah pastilah
sangat khawatir bilamana dirinya
termasuk ke dalam golongan yang
disabdakan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam di atas yaitu “… sesungguhnya ada diantara kamu
yang melakukan amalan penduduk
surga dan amalan itu
mendekatkannya ke surga sehingga
jarak antara dia dan surga kurang
satu hasta, namun karena taqdir yang telah ditetapkan atas dirinya,
lalu dia melakukan amalan
penduduk neraka sehingga dia
masuk ke dalamnya.” Sungguh merugilah orang yang ditaqdirkan
Allah seperti itu. Namun tentunya
melalui pelajaran ini Nabi shollallahu
’alaih wa sallam bermaksud untuk menjelaskan adanya orang yang
amalan baiknya selama ini sekedar
yang tampak pada manusia.
Sedangkan bisa jadi pada
hakikatnya tersimpan dalam hatinya
kejahatan yang kemudian muncul secara lahir pada akhir hayatnya. Sebaliknya golongan orang yang
digambarkan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sebagai ”dan sesungguhnya ada seseorang
diantara kamu yang melakukan
amalan penduduk neraka dan amal
itu mendekatkannya ke neraka
sehingga jarak antara dia dan
neraka hanya kurang satu hasta, namun karena taqdir yang telah
ditetapkan atas dirinya, lalu dia
melakukan amalan penduduk surga
sehingga dia masuk ke dalamnya.” Tentunya ini adalah orang yang
sangat beruntung dan disayang
Allah ta’aala. Boleh jadi manusia memberi penilaian buruk karena
perilakunya selama ini, namun
sesungguhnya ia memiliki suatu
kebaikan tertentu yang tersembunyi
dari penglihatan orang lain
sedangkan Allah memandang kebaikannya itu layak menjauhkan
dirinya dari neraka dan
menghantarkannya ke surga.
Wallahu a’lam. Yang pasti, beriman kepada taqdir
akan menghasilkan rasa takut yang
mendalam akan nasib akhir hidup
dan menumbuhkan semangat yang
tinggi untuk beramal dan istiqomah
dalam ketaatan demi mengharap husnul khatimah. Beriman kepada
taqdir bukanlah alasan untuk
bermaksiat dan bermalas-malasan.
Beriman kepada taqdir justru
semakin membuat seseorang
berusaha keras berbuat sebanyak mungkin ’amal sholeh dan ’amal ibadah sekaligus menjauhi segala
bentuk kemungkaran dan
kemaksiatan yang berpotensi
menyebabkan terjadinya su’ul khatimah. Shiddiq Hasan Khan mengatakan
bahwa su’ul khatimah memiliki sebab-sebab yang harus diwaspadai
oleh seorang mukmin. Pertama, kerusakan dalam aqidah, walau disertai zuhud dan kesholehan. Jika
ia memiliki kerusakan dalam aqidah
dan ia meyakininya sambil tidak
menganggap itu salah, terkadang
kekeliruan aqidahnya itu tersingkap
pada saat sakratul maut. Bila ia wafat dalam keadaan ini sebelum ia
menyadari dan kembali ke iman
yang benar, maka ia mendapatkan
su’ul khatimah dan wafat dalam keadaan tidak beriman. Setiap orang
yang beraqidah secara keliru berada
dalam bahaya besar dan zuhud serta
kesholehannya akan sia-sia. Yang
berguna adalah aqidah yang benar
yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasul. Mereka terancam oleh
ayat Allah berikut: َﻦﻳِﺮَﺴْﺧَﺄْﻟﺎِﺑ ْﻢُﻜُﺌِّﺒَﻨُﻧ ْﻞَﻫ ْﻞُﻗ ْﻢُﻬُﻴْﻌَﺳ َّﻞَﺿ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ﺎًﻟﺎَﻤْﻋَﺃ ْﻢُﻫَﻭ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ ِﺓﺎَﻴَﺤْﻟﺍ ﻲِﻓ َﻥﻮُﻨِﺴْﺤُﻳ ْﻢُﻬَّﻧَﺃ َﻥﻮُﺒَﺴْﺤَﻳ ﺎًﻌْﻨُﺻ ”Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang
orang-orang yang paling merugi
perbuatannya?" Yaitu orang-orang
yang telah sia-sia perbuatannya
dalam kehidupan dunia ini,
sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-
baiknya.” (QS Al-Kahfi ayat 103-104) Kedua, banyak melakukan maksiat. Orang yang sering bermaksiat akan didominasi oleh
memori tersebut saat kematian
menjelang. Sebaliknya bila
seseorang seumur hidupnya banyak
melakukan ketaatan, maka memori
tersebutlah yang menemaninya saat sakratul maut. Orang yang banyak
dosanya sehingga melebihi
ketatannya maka ini sangat
berbahaya baginya. Dominasi
maksiat akan terpateri di dalam
hatinya dan membuatnya cenderung dan terikat pada maksiat, dan pada
gilirannya menyebabkan su’ul khatimah. Adz-Dzahabi dalam
kitabnya al-Kaba’ir mengutip Mujahid: Tidaklah seseorang mati
kecuali ditampilkan kepadanya
orang-orang yang biasa ia gauli.
Seorang lelaki yang suka main catur
sekarat, lalu dikatakan kepadanya:
”Ucapkanlah La ilaha illa Allah. ” Ia menjawab: ”Skak!” kemudian ia mati. Jadi, yang mendominasi lidahnya
adalah kebiasaan permainan dalam
hidupnya. Sebagai ganti kalimat
Tauhid, ia mengatakan skak. Ketiga, tidak istiqomah. Sungguh, seorang yang istiqomah pada
awalnya, lalu berubah dan
menyimpang dari awalnya bisa
menjadi penyebab ia mendapat su’ul khatimah, seperti iblis yang pada
mulanya merupakan pemimpin dan
guru malaikat serta malaikat yang
paling gigih beribadah, tapi
kemudian tatakala ia diperintah
untuk sujud kepada Adam, ia membangkang dan
menyombongkan diri, sehingga ia
masuk golongan kafir. Demikian
pula dengan ulama Bani Israil Bal’am yang digambarkan dalam ayat
berikut: ُﻩﺎَﻨْﻴَﺗَﺁ ﻱِﺬَّﻟﺍ َﺄَﺒَﻧ ْﻢِﻬْﻴَﻠَﻋ ُﻞْﺗﺍَﻭ ُﻪَﻌَﺒْﺗَﺄَﻓ ﺎَﻬْﻨِﻣ َﺦَﻠَﺴْﻧﺎَﻓ ﺎَﻨِﺗﺎَﻳَﺁ ُﻥﺎَﻄْﻴَّﺸﻟﺍ ﺎَﻨْﺌِﺷ ْﻮَﻟَﻭ َﻦﻳِﻭﺎَﻐْﻟﺍ َﻦِﻣ َﻥﺎَﻜَﻓ ﻰَﻟِﺇ َﺪَﻠْﺧَﺃ ُﻪَّﻨِﻜَﻟَﻭ ﺎَﻬِﺑ ُﻩﺎَﻨْﻌَﻓَﺮَﻟ ِﺽْﺭَﺄْﻟﺍ ِﻞَﺜَﻤَﻛ ُﻪُﻠَﺜَﻤَﻓ ُﻩﺍَﻮَﻫ َﻊَﺒَّﺗﺍَﻭ ْﺚَﻬْﻠَﻳ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ْﻞِﻤْﺤَﺗ ْﻥِﺇ ِﺐْﻠَﻜْﻟﺍ ْﺚَﻬْﻠَﻳ ُﻪْﻛُﺮْﺘَﺗ ْﻭَﺃ ﺍﻮُﺑَّﺬَﻛ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ِﻡْﻮَﻘْﻟﺍ ُﻞَﺜَﻣ َﻚِﻟَﺫ َﺺَﺼَﻘْﻟﺍ ِﺺُﺼْﻗﺎَﻓ ﺎَﻨِﺗﺎَﻳَﺂِﺑ َﻥﻭُﺮَّﻜَﻔَﺘَﻳ ْﻢُﻬَّﻠَﻌَﻟ ﺍﻮُﺑَّﺬَﻛ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ُﻡْﻮَﻘْﻟﺍ ﺎًﻠَﺜَﻣ َﺀﺎَﺳ ﺍﻮُﻧﺎَﻛ ْﻢُﻬَﺴُﻔْﻧَﺃَﻭ ﺎَﻨِﺗﺎَﻳَﺂِﺑ َﻥﻮُﻤِﻠْﻈَﻳ ”Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan
kepadanya ayat-ayat Kami
(pengetahuan tentang isi Al Kitab),
kemudian dia melepaskan diri
daripada ayat-ayat itu lalu dia diikuti
oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-
orang yang sesat. Dan kalau Kami
menghendaki, sesungguhnya Kami
tinggikan (derajat) nya dengan ayat-
ayat itu, tetapi dia cenderung kepada
dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka
perumpamaannya seperti anjing jika
kamu menghalaunya diulurkannya
lidahnya dan jika kamu
membiarkannya dia mengulurkan
lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang
mendustakan ayat-ayat Kami. Maka
ceritakanlah (kepada mereka) kisah-
kisah itu agar mereka berfikir. Amat
buruklah perumpamaan orang-
orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka
sendirilah mereka berbuat zalim.” (QS Al-A’raaf ayat 175-177) Keempat, iman yang lemah. Hal ini dapat melemahkan cinta kepada
Allah dan menguatkan cinta dunia
dalam hatinya. Bahkan lemahnya
iman dapat mendominasi dirinya
sehingga tidak tersisa dalam hatinya
tempat untuk cinta kepada Allah kecuali sedikit bisikan jiwa, sehingga
pengaruhnya tidak tampak dalam
melawan jiwa dan menahan maksiat
serta menganjurkan berbuat baik.
Akibatnya ia terperosok ke dalam
lembah nafsu syahwat dan perbuatan maksiat, sehingga noda
hitam dosa menumpukdi dalam hati
dan akhirnya memadamkan cahaya
iman yang lemah dalam hati. Dan
ketika sakratul maut tiba, cinta Allah
semakin melemah manakala ia melihat ia akan berpisah dengan
dunia yang dicintainya. Kecintaannya
pada dunia sangat kuat, sehingga ia
tidak rela meninggalkannya dan tak
kuasa berpisah dengannya. Pada
saat yang sama timbul rasa khawatir dalam dirinya bahwa Allah murka
dan tidak mencintainya. Cinta Allah
yang sudah lemah itu berbalik
menjadi benci. Akhirnya bila ia mati
dalam kondisi iman seperti ini, maka
ia mendapat su’ul khatimah dan sengsara selamanya. Ya Allah, kami memohon kepadaMu
husnul khatimah dan berlindung
kepadaMu dari su’ul khatimah. Amin ya Rabb,-
“Bekerjalah kamu, maka Allah dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS at-Taubah /9: 105).
Monday, 2 May 2011
Mu'min Rindu Kampung HalamanSejati
Tahukah saudara bahwa ketika
seorang Mu’min telah lulus menyelesaikan segenap rangkaian
pemeriksaan atas dirinya di yaumul
hisab (hari perhitungan amal), maka
barulah ia diizinkan Allah memasuki
Al-Jannah (surga), negeri keabadian
penuh kebahagiaan hakiki? Ia tidak diizinkan memasuki surga bilamana
terbukti ia masih mempunyai
permasalahan dengan sesama
manusia, walaupun dengan Allah
Ta’aala ia tidak lagi punya masalah apa-apa. Segenap dosanya yang
bersifat hablun minallah telah
diampuni Allah Ta’aala. Namun karena ia masih memiliki masalah
hablun minannaas dengan sesama
manusia, maka ia ditahan di suatu
tempat dekat sekali dari baabul-
jannah (pintu surga) guna
menyelesaikan berbagai perkara (melakukan rekonsiliasi) dengan
sesama manusia. Dalam hal ini Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam menggambarkannya
sebagai berikut: ِّﻱِﺭْﺪُﺨْﻟﺍ ٍﺪﻴِﻌَﺳ ﻲِﺑَﺃ ْﻦَﻋ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﻝﻮُﺳَﺭ َﻝﺎَﻘَﻟﺎَﻗ ُﺺُﻠْﺨَﻴَﻤَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻌُﻬَّﻠﻟﺍ ْﻦِﻣ ِﺔَﻣﺎَﻴِﻘْﻟﺍ َﻡْﻮَﻴَﻧﻮُﻨِﻣْﺆُﻤْﻟﺍ ﻰَﻠَﻋ َﻥﻮُﺴَﺒْﺤُﻴَﻓِﺭﺎَّﻨﻟﺍ ِﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ َﻦْﻴَﺑٍﺓَﺮَﻄْﻨَﻗ ْﻢِﻬِﻀْﻌَﺒِﻟ ُّﺺَﺘْﻘُﻴَﻓِﺭﺎَّﻨﻟﺍَﻭ ْﺖَﻧﺎَﻜُﻤِﻟﺎَﻈَﻣ ٍﺾْﻌَﺒْﻨِﻣ ﻰَّﺘَﺣ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ ﻲِﻔْﻤُﻬَﻨْﻴَﺑ ﻲِﻔْﻤُﻬَﻟ َﻥِﺫُﺃ ﺍﻮُّﻘُﻧَﻭ ﺍﻮُﺑِّﺬُﻫﺍَﺫِﺇ ﻲِﺴْﻔَﻧ ﻱِﺬَّﻟﺍَﻮَﻓِﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ ِﻝﻮُﺧُﺩ ﻯَﺪْﻫَﺃ ْﻢُﻫُﺪَﺣَﺄَﻠِﻫِﺪَﻴِﺑ ُﻪْﻨِﻣ ِﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ ﻲِﻔِﻬِﻟِﺰْﻨَﻤِﻟ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ ﻲِﻓ َﻥﺎَﻜِﻬِﻟِﺰْﻨَﻤِﺑ Dari Abu Sa'id Al Khudri ia berkata;
Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam bersabda, "Orang-orang
yang beriman pada hari Kiamat
selamat dari neraka, lalu mereka
ditahan di jembatan antara surga dan neraka, lalu sebagian akan
diqishas atas sebagian yang lain
karena kezhaliman mereka waktu di
dunia, sehingga setelah mereka
dibersihkan dan telah suci, maka
barulah mereka diizinkan memasuki surga. Demi Dzat yang jiwaku ada
dalam genggaman-Nya, seseorang
di antara mereka lebih mengetahui
rumahnya di surga dari pada
rumahnya di dunia." (HR. Ahmad No.
10673) Dalam hadits di atas Nabi shallallahu
'alaihi wasallam menggunakan istilah
"ditahan di jembatan antara surga dan neraka" untuk menggambarkan masih menggantungnya masalah
orang-orang beriman yang belum
berhak masuk surga karena masih
adanya problema antara dirinya
dengan manusia lainnya yang
pernah ia zalimi. Perbuatan menzalimi manusia lain merupakan
perbuatan tercela yang sangat
dibenci Allah Ta’aala. Dalam sebuah hadits Qudsi dikatakan sebagai
berikut:ﻰَﻠَﻋ ُﺖْﻣَّﺮَﺣ ﻲِّﻧِﺇ ﺎَﻟَﺄﻳِﺩﺎَﺒِﻋ ﻰَﻠَﻋَﻭ َﻢْﻠُّﻈﻟﺎﻴِﺴْﻔَﻧ ﺍﻮُﻤَﻟﺎَﻈَﺗ ﺎَﻠَﻓ Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda bahwa Allah berfirman,
“Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan
kezaliman atas diri-Ku dan Aku
mengharamkannya pula atas kalian,
maka janganlah kalian saling
menzalimi.” (HR. Ahmad No. 20451) Surga merupakan tempat yang
hanya berhak dimasuki oleh hamba-
hamba Allah Ta’aala yang benar- benar telah bersih dari segenap
dosa, baik dosa kepada Allah Ta ’aala maupun dosa kepada sesama
hamba Allah. Oleh karenanya,
seorang muslim senantiasa
mendambakan dan mengharapkan
ampunan Allah Ta’aala sebab ia tahu bahwa jika dirinya masih mempunyai
dosa niscaya ia tidak berhak
memasuki surga. Dan oleh
karenanya seorang muslim sangat
khawatir bila dirinya terlibat dalam
sebuah perbuatan menzalimi manusia lain, sebab ia tahu bahwa
mengharapkan maaf dari sesama
manusia seringkali lebih sulit
daripada mengharapkan ampunan
Allah Ta’aala yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Maka di dalam hadits di atas Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam
menyatakan “...lalu sebagian akan diqishas atas sebagian yang lain
karena kezhaliman mereka waktu di
dunia...” dan ini merupakan suatu keharusan agar si muslim yang
sempat berlaku zalim dapat menjadi
bersih dari dosa tersebut sehingga
layak memasuki surga. Sebab surga
hanya menerima mereka yang bersih
dan suka membersihkan diri. Oleh karenanya Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam selanjutnya berkata,
“...maka barulah mereka diizinkan memasuki surga.” Lalu terakhir Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam menyatakan bahwa “Demi Dzat yang jiwaku ada dalam
genggaman-Nya, seseorang di
antara mereka lebih mengetahui
rumahnya di surga dari pada
rumahnya di dunia." Si mukmin
kemudian berhak memasuki surga Allah Ta’aala dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menggambarkan
bahwa ketika si mukmin
menginjakkan kakinya ke dalam
surga tiba-tiba kakinya membawa
tubuhnya melangkah menuju
kediamannya di surga lebih mengetahui, mantap dan yakin
daripada ia melangkahkan kakinya
pulang ke rumahnya sewaktu hidup
di dunia. Subhanallah... Jadi, saudaraku, surga memang
benar-benar kampung halaman
sejati orang-orang beriman. Sebab
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
sampai perlu bersumpah demi Allah
Ta’aala Dzat yang jiwanya berada di dalam genggamanNya, ketika
menggambarkan hal tersebut.
Sewaktu di dunia seseorang setelah
pulang dari dinas luar kota tentu
sangat rindu pulang ke rumahnya
agar berkumpul dengan anak dan istrinya. Boleh jadi kerinduannya
sedemikian rupa malah
menyebabkan dirinya sampai
kehilangan arah alias tersesat pulang
ke rumahnya sendiri. Hal ini tidak
bakal terjadi ketika seorang mu ’min memasuki pintu surga lalu
melangkahkan kakinya menuju
rumah sejatinya, kampung halaman
sejatinya. Sungguh bahagianya bila seseorang
dapat memasuki pintu surga lalu
berkumpul kembali bersama
keluarganya dan anak-
keturunannya di kampung halaman
sejati orang-orang beriman. Allah Ta’aala berfirman di dalam Kitabullah Al-Qur ’anul Karim: ﺍﻮُﻨَﻣﺁ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍَﻭ ْﻢُﻬُﺘَّﻳِّﺭُﺬْﻤُﻬْﺘَﻌَﺒَّﺗﺍَﻭ ﺎَﻣَﻭ ْﻢُﻬَﺘَّﻳِّﺭُﺬْﻤِﻬِﺑ ﺎَﻨْﻘَﺤْﻟَﺄٍﻧﺎَﻤﻳِﺈِﺑ ْﻦِﻤْﻤِﻬِﻠَﻤَﻌْﻨِﻣ ْﻢُﻫﺎَﻨْﺘَﻟَﺃ َﺐَﺴَﻛ ﺎَﻤِﺑ ٍﺉِﺮْﻣﺍ ُّﻞُﻛٍﺀْﻲَﺷ ٌﻦﻴِﻫَﺭ “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka
mengikuti mereka dalam keimanan,
Kami pertemukan anak cucu mereka
dengan mereka (di dalam surga),
dan Kami tiada mengurangi sedikit
pun dari pahala amal mereka. Tiap- tiap manusia terikat dengan apa
yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thuur [52] : 21). Allah Ta’aala berfirman di dalam Kitabullah Al-Qur ’anul Karim: ُﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ ِﺖَﻔِﻟْﺯُﺃَﻭ ﺎَﻣ ﺍَﺬَﻫٍﺪﻴِﻌَﺑَﺮْﻴَﻐَﻨﻴِﻘَّﺘُﻤْﻠِﻟ ْﻦَﻤٍﻈﻴِﻔَﺤٍﺑﺍَّﻭَﺃ ِّﻞُﻜِﻠَﻧﻭُﺪَﻋﻮُﺗ َﺀﺎَﺟَﻭ ِﺐْﻴَﻐْﻟﺎِﺒَﻨَﻤْﺣَّﺮﻟﺍ َﻲِﺸَﺧ ﺎَﻫﻮُﻠُﺧْﺩﺎٍﺒﻴِﻨُﻣ ٍﺐْﻠَﻘِﺑ ِﺩﻮُﻠُﺨْﻟﺍ ُﻡْﻮَﻳ َﻚِﻟَﺬٍﻣﻼَﺴِﺑ Dan didekatkanlah surga itu kepada
orang-orang yang bertakwa pada
tempat yang tiada jauh (dari
mereka). Inilah yang dijanjikan
kepadamu, (yaitu) kepada setiap
hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua
peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu)
orang yang takut kepada Tuhan
Yang Maha Pemurah sedang Dia
tidak kelihatan (olehnya) dan dia
datang dengan hati yang bertobat, masukilah surga itu dengan aman,
itulah hari kekekalan. (QS. Qaaf [50] :
32-34 ) Ya Allah, masukkanlah kami beserta
keluarga dan anak-cucu kami ke
dalam RahmatMu dan SurgaMu.
seorang Mu’min telah lulus menyelesaikan segenap rangkaian
pemeriksaan atas dirinya di yaumul
hisab (hari perhitungan amal), maka
barulah ia diizinkan Allah memasuki
Al-Jannah (surga), negeri keabadian
penuh kebahagiaan hakiki? Ia tidak diizinkan memasuki surga bilamana
terbukti ia masih mempunyai
permasalahan dengan sesama
manusia, walaupun dengan Allah
Ta’aala ia tidak lagi punya masalah apa-apa. Segenap dosanya yang
bersifat hablun minallah telah
diampuni Allah Ta’aala. Namun karena ia masih memiliki masalah
hablun minannaas dengan sesama
manusia, maka ia ditahan di suatu
tempat dekat sekali dari baabul-
jannah (pintu surga) guna
menyelesaikan berbagai perkara (melakukan rekonsiliasi) dengan
sesama manusia. Dalam hal ini Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam menggambarkannya
sebagai berikut: ِّﻱِﺭْﺪُﺨْﻟﺍ ٍﺪﻴِﻌَﺳ ﻲِﺑَﺃ ْﻦَﻋ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﻝﻮُﺳَﺭ َﻝﺎَﻘَﻟﺎَﻗ ُﺺُﻠْﺨَﻴَﻤَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻌُﻬَّﻠﻟﺍ ْﻦِﻣ ِﺔَﻣﺎَﻴِﻘْﻟﺍ َﻡْﻮَﻴَﻧﻮُﻨِﻣْﺆُﻤْﻟﺍ ﻰَﻠَﻋ َﻥﻮُﺴَﺒْﺤُﻴَﻓِﺭﺎَّﻨﻟﺍ ِﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ َﻦْﻴَﺑٍﺓَﺮَﻄْﻨَﻗ ْﻢِﻬِﻀْﻌَﺒِﻟ ُّﺺَﺘْﻘُﻴَﻓِﺭﺎَّﻨﻟﺍَﻭ ْﺖَﻧﺎَﻜُﻤِﻟﺎَﻈَﻣ ٍﺾْﻌَﺒْﻨِﻣ ﻰَّﺘَﺣ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ ﻲِﻔْﻤُﻬَﻨْﻴَﺑ ﻲِﻔْﻤُﻬَﻟ َﻥِﺫُﺃ ﺍﻮُّﻘُﻧَﻭ ﺍﻮُﺑِّﺬُﻫﺍَﺫِﺇ ﻲِﺴْﻔَﻧ ﻱِﺬَّﻟﺍَﻮَﻓِﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ ِﻝﻮُﺧُﺩ ﻯَﺪْﻫَﺃ ْﻢُﻫُﺪَﺣَﺄَﻠِﻫِﺪَﻴِﺑ ُﻪْﻨِﻣ ِﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ ﻲِﻔِﻬِﻟِﺰْﻨَﻤِﻟ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ ﻲِﻓ َﻥﺎَﻜِﻬِﻟِﺰْﻨَﻤِﺑ Dari Abu Sa'id Al Khudri ia berkata;
Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam bersabda, "Orang-orang
yang beriman pada hari Kiamat
selamat dari neraka, lalu mereka
ditahan di jembatan antara surga dan neraka, lalu sebagian akan
diqishas atas sebagian yang lain
karena kezhaliman mereka waktu di
dunia, sehingga setelah mereka
dibersihkan dan telah suci, maka
barulah mereka diizinkan memasuki surga. Demi Dzat yang jiwaku ada
dalam genggaman-Nya, seseorang
di antara mereka lebih mengetahui
rumahnya di surga dari pada
rumahnya di dunia." (HR. Ahmad No.
10673) Dalam hadits di atas Nabi shallallahu
'alaihi wasallam menggunakan istilah
"ditahan di jembatan antara surga dan neraka" untuk menggambarkan masih menggantungnya masalah
orang-orang beriman yang belum
berhak masuk surga karena masih
adanya problema antara dirinya
dengan manusia lainnya yang
pernah ia zalimi. Perbuatan menzalimi manusia lain merupakan
perbuatan tercela yang sangat
dibenci Allah Ta’aala. Dalam sebuah hadits Qudsi dikatakan sebagai
berikut:ﻰَﻠَﻋ ُﺖْﻣَّﺮَﺣ ﻲِّﻧِﺇ ﺎَﻟَﺄﻳِﺩﺎَﺒِﻋ ﻰَﻠَﻋَﻭ َﻢْﻠُّﻈﻟﺎﻴِﺴْﻔَﻧ ﺍﻮُﻤَﻟﺎَﻈَﺗ ﺎَﻠَﻓ Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda bahwa Allah berfirman,
“Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan
kezaliman atas diri-Ku dan Aku
mengharamkannya pula atas kalian,
maka janganlah kalian saling
menzalimi.” (HR. Ahmad No. 20451) Surga merupakan tempat yang
hanya berhak dimasuki oleh hamba-
hamba Allah Ta’aala yang benar- benar telah bersih dari segenap
dosa, baik dosa kepada Allah Ta ’aala maupun dosa kepada sesama
hamba Allah. Oleh karenanya,
seorang muslim senantiasa
mendambakan dan mengharapkan
ampunan Allah Ta’aala sebab ia tahu bahwa jika dirinya masih mempunyai
dosa niscaya ia tidak berhak
memasuki surga. Dan oleh
karenanya seorang muslim sangat
khawatir bila dirinya terlibat dalam
sebuah perbuatan menzalimi manusia lain, sebab ia tahu bahwa
mengharapkan maaf dari sesama
manusia seringkali lebih sulit
daripada mengharapkan ampunan
Allah Ta’aala yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Maka di dalam hadits di atas Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam
menyatakan “...lalu sebagian akan diqishas atas sebagian yang lain
karena kezhaliman mereka waktu di
dunia...” dan ini merupakan suatu keharusan agar si muslim yang
sempat berlaku zalim dapat menjadi
bersih dari dosa tersebut sehingga
layak memasuki surga. Sebab surga
hanya menerima mereka yang bersih
dan suka membersihkan diri. Oleh karenanya Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam selanjutnya berkata,
“...maka barulah mereka diizinkan memasuki surga.” Lalu terakhir Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam menyatakan bahwa “Demi Dzat yang jiwaku ada dalam
genggaman-Nya, seseorang di
antara mereka lebih mengetahui
rumahnya di surga dari pada
rumahnya di dunia." Si mukmin
kemudian berhak memasuki surga Allah Ta’aala dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menggambarkan
bahwa ketika si mukmin
menginjakkan kakinya ke dalam
surga tiba-tiba kakinya membawa
tubuhnya melangkah menuju
kediamannya di surga lebih mengetahui, mantap dan yakin
daripada ia melangkahkan kakinya
pulang ke rumahnya sewaktu hidup
di dunia. Subhanallah... Jadi, saudaraku, surga memang
benar-benar kampung halaman
sejati orang-orang beriman. Sebab
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
sampai perlu bersumpah demi Allah
Ta’aala Dzat yang jiwanya berada di dalam genggamanNya, ketika
menggambarkan hal tersebut.
Sewaktu di dunia seseorang setelah
pulang dari dinas luar kota tentu
sangat rindu pulang ke rumahnya
agar berkumpul dengan anak dan istrinya. Boleh jadi kerinduannya
sedemikian rupa malah
menyebabkan dirinya sampai
kehilangan arah alias tersesat pulang
ke rumahnya sendiri. Hal ini tidak
bakal terjadi ketika seorang mu ’min memasuki pintu surga lalu
melangkahkan kakinya menuju
rumah sejatinya, kampung halaman
sejatinya. Sungguh bahagianya bila seseorang
dapat memasuki pintu surga lalu
berkumpul kembali bersama
keluarganya dan anak-
keturunannya di kampung halaman
sejati orang-orang beriman. Allah Ta’aala berfirman di dalam Kitabullah Al-Qur ’anul Karim: ﺍﻮُﻨَﻣﺁ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍَﻭ ْﻢُﻬُﺘَّﻳِّﺭُﺬْﻤُﻬْﺘَﻌَﺒَّﺗﺍَﻭ ﺎَﻣَﻭ ْﻢُﻬَﺘَّﻳِّﺭُﺬْﻤِﻬِﺑ ﺎَﻨْﻘَﺤْﻟَﺄٍﻧﺎَﻤﻳِﺈِﺑ ْﻦِﻤْﻤِﻬِﻠَﻤَﻌْﻨِﻣ ْﻢُﻫﺎَﻨْﺘَﻟَﺃ َﺐَﺴَﻛ ﺎَﻤِﺑ ٍﺉِﺮْﻣﺍ ُّﻞُﻛٍﺀْﻲَﺷ ٌﻦﻴِﻫَﺭ “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka
mengikuti mereka dalam keimanan,
Kami pertemukan anak cucu mereka
dengan mereka (di dalam surga),
dan Kami tiada mengurangi sedikit
pun dari pahala amal mereka. Tiap- tiap manusia terikat dengan apa
yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thuur [52] : 21). Allah Ta’aala berfirman di dalam Kitabullah Al-Qur ’anul Karim: ُﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ ِﺖَﻔِﻟْﺯُﺃَﻭ ﺎَﻣ ﺍَﺬَﻫٍﺪﻴِﻌَﺑَﺮْﻴَﻐَﻨﻴِﻘَّﺘُﻤْﻠِﻟ ْﻦَﻤٍﻈﻴِﻔَﺤٍﺑﺍَّﻭَﺃ ِّﻞُﻜِﻠَﻧﻭُﺪَﻋﻮُﺗ َﺀﺎَﺟَﻭ ِﺐْﻴَﻐْﻟﺎِﺒَﻨَﻤْﺣَّﺮﻟﺍ َﻲِﺸَﺧ ﺎَﻫﻮُﻠُﺧْﺩﺎٍﺒﻴِﻨُﻣ ٍﺐْﻠَﻘِﺑ ِﺩﻮُﻠُﺨْﻟﺍ ُﻡْﻮَﻳ َﻚِﻟَﺬٍﻣﻼَﺴِﺑ Dan didekatkanlah surga itu kepada
orang-orang yang bertakwa pada
tempat yang tiada jauh (dari
mereka). Inilah yang dijanjikan
kepadamu, (yaitu) kepada setiap
hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua
peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu)
orang yang takut kepada Tuhan
Yang Maha Pemurah sedang Dia
tidak kelihatan (olehnya) dan dia
datang dengan hati yang bertobat, masukilah surga itu dengan aman,
itulah hari kekekalan. (QS. Qaaf [50] :
32-34 ) Ya Allah, masukkanlah kami beserta
keluarga dan anak-cucu kami ke
dalam RahmatMu dan SurgaMu.
Mu'min Rindu Kampung HalamanSejati
Tahukah saudara bahwa ketika
seorang Mu’min telah lulus menyelesaikan segenap rangkaian
pemeriksaan atas dirinya di yaumul
hisab (hari perhitungan amal), maka
barulah ia diizinkan Allah memasuki
Al-Jannah (surga), negeri keabadian
penuh kebahagiaan hakiki? Ia tidak diizinkan memasuki surga bilamana
terbukti ia masih mempunyai
permasalahan dengan sesama
manusia, walaupun dengan Allah
Ta’aala ia tidak lagi punya masalah apa-apa. Segenap dosanya yang
bersifat hablun minallah telah
diampuni Allah Ta’aala. Namun karena ia masih memiliki masalah
hablun minannaas dengan sesama
manusia, maka ia ditahan di suatu
tempat dekat sekali dari baabul-
jannah (pintu surga) guna
menyelesaikan berbagai perkara (melakukan rekonsiliasi) dengan
sesama manusia. Dalam hal ini Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam menggambarkannya
sebagai berikut: ِّﻱِﺭْﺪُﺨْﻟﺍ ٍﺪﻴِﻌَﺳ ﻲِﺑَﺃ ْﻦَﻋ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﻝﻮُﺳَﺭ َﻝﺎَﻘَﻟﺎَﻗ ُﺺُﻠْﺨَﻴَﻤَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻌُﻬَّﻠﻟﺍ ْﻦِﻣ ِﺔَﻣﺎَﻴِﻘْﻟﺍ َﻡْﻮَﻴَﻧﻮُﻨِﻣْﺆُﻤْﻟﺍ ﻰَﻠَﻋ َﻥﻮُﺴَﺒْﺤُﻴَﻓِﺭﺎَّﻨﻟﺍ ِﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ َﻦْﻴَﺑٍﺓَﺮَﻄْﻨَﻗ ْﻢِﻬِﻀْﻌَﺒِﻟ ُّﺺَﺘْﻘُﻴَﻓِﺭﺎَّﻨﻟﺍَﻭ ْﺖَﻧﺎَﻜُﻤِﻟﺎَﻈَﻣ ٍﺾْﻌَﺒْﻨِﻣ ﻰَّﺘَﺣ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ ﻲِﻔْﻤُﻬَﻨْﻴَﺑ ﻲِﻔْﻤُﻬَﻟ َﻥِﺫُﺃ ﺍﻮُّﻘُﻧَﻭ ﺍﻮُﺑِّﺬُﻫﺍَﺫِﺇ ﻲِﺴْﻔَﻧ ﻱِﺬَّﻟﺍَﻮَﻓِﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ ِﻝﻮُﺧُﺩ ﻯَﺪْﻫَﺃ ْﻢُﻫُﺪَﺣَﺄَﻠِﻫِﺪَﻴِﺑ ُﻪْﻨِﻣ ِﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ ﻲِﻔِﻬِﻟِﺰْﻨَﻤِﻟ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ ﻲِﻓ َﻥﺎَﻜِﻬِﻟِﺰْﻨَﻤِﺑ Dari Abu Sa'id Al Khudri ia berkata;
Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam bersabda, "Orang-orang
yang beriman pada hari Kiamat
selamat dari neraka, lalu mereka
ditahan di jembatan antara surga dan neraka, lalu sebagian akan
diqishas atas sebagian yang lain
karena kezhaliman mereka waktu di
dunia, sehingga setelah mereka
dibersihkan dan telah suci, maka
barulah mereka diizinkan memasuki surga. Demi Dzat yang jiwaku ada
dalam genggaman-Nya, seseorang
di antara mereka lebih mengetahui
rumahnya di surga dari pada
rumahnya di dunia." (HR. Ahmad No.
10673) Dalam hadits di atas Nabi shallallahu
'alaihi wasallam menggunakan istilah
"ditahan di jembatan antara surga dan neraka" untuk menggambarkan masih menggantungnya masalah
orang-orang beriman yang belum
berhak masuk surga karena masih
adanya problema antara dirinya
dengan manusia lainnya yang
pernah ia zalimi. Perbuatan menzalimi manusia lain merupakan
perbuatan tercela yang sangat
dibenci Allah Ta’aala. Dalam sebuah hadits Qudsi dikatakan sebagai
berikut:ﻰَﻠَﻋ ُﺖْﻣَّﺮَﺣ ﻲِّﻧِﺇ ﺎَﻟَﺄﻳِﺩﺎَﺒِﻋ ﻰَﻠَﻋَﻭ َﻢْﻠُّﻈﻟﺎﻴِﺴْﻔَﻧ ﺍﻮُﻤَﻟﺎَﻈَﺗ ﺎَﻠَﻓ Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda bahwa Allah berfirman,
“Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan
kezaliman atas diri-Ku dan Aku
mengharamkannya pula atas kalian,
maka janganlah kalian saling
menzalimi.” (HR. Ahmad No. 20451) Surga merupakan tempat yang
hanya berhak dimasuki oleh hamba-
hamba Allah Ta’aala yang benar- benar telah bersih dari segenap
dosa, baik dosa kepada Allah Ta ’aala maupun dosa kepada sesama
hamba Allah. Oleh karenanya,
seorang muslim senantiasa
mendambakan dan mengharapkan
ampunan Allah Ta’aala sebab ia tahu bahwa jika dirinya masih mempunyai
dosa niscaya ia tidak berhak
memasuki surga. Dan oleh
karenanya seorang muslim sangat
khawatir bila dirinya terlibat dalam
sebuah perbuatan menzalimi manusia lain, sebab ia tahu bahwa
mengharapkan maaf dari sesama
manusia seringkali lebih sulit
daripada mengharapkan ampunan
Allah Ta’aala yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Maka di dalam hadits di atas Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam
menyatakan “...lalu sebagian akan diqishas atas sebagian yang lain
karena kezhaliman mereka waktu di
dunia...” dan ini merupakan suatu keharusan agar si muslim yang
sempat berlaku zalim dapat menjadi
bersih dari dosa tersebut sehingga
layak memasuki surga. Sebab surga
hanya menerima mereka yang bersih
dan suka membersihkan diri. Oleh karenanya Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam selanjutnya berkata,
“...maka barulah mereka diizinkan memasuki surga.” Lalu terakhir Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam menyatakan bahwa “Demi Dzat yang jiwaku ada dalam
genggaman-Nya, seseorang di
antara mereka lebih mengetahui
rumahnya di surga dari pada
rumahnya di dunia." Si mukmin
kemudian berhak memasuki surga Allah Ta’aala dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menggambarkan
bahwa ketika si mukmin
menginjakkan kakinya ke dalam
surga tiba-tiba kakinya membawa
tubuhnya melangkah menuju
kediamannya di surga lebih mengetahui, mantap dan yakin
daripada ia melangkahkan kakinya
pulang ke rumahnya sewaktu hidup
di dunia. Subhanallah... Jadi, saudaraku, surga memang
benar-benar kampung halaman
sejati orang-orang beriman. Sebab
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
sampai perlu bersumpah demi Allah
Ta’aala Dzat yang jiwanya berada di dalam genggamanNya, ketika
menggambarkan hal tersebut.
Sewaktu di dunia seseorang setelah
pulang dari dinas luar kota tentu
sangat rindu pulang ke rumahnya
agar berkumpul dengan anak dan istrinya. Boleh jadi kerinduannya
sedemikian rupa malah
menyebabkan dirinya sampai
kehilangan arah alias tersesat pulang
ke rumahnya sendiri. Hal ini tidak
bakal terjadi ketika seorang mu ’min memasuki pintu surga lalu
melangkahkan kakinya menuju
rumah sejatinya, kampung halaman
sejatinya. Sungguh bahagianya bila seseorang
dapat memasuki pintu surga lalu
berkumpul kembali bersama
keluarganya dan anak-
keturunannya di kampung halaman
sejati orang-orang beriman. Allah Ta’aala berfirman di dalam Kitabullah Al-Qur ’anul Karim: ﺍﻮُﻨَﻣﺁ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍَﻭ ْﻢُﻬُﺘَّﻳِّﺭُﺬْﻤُﻬْﺘَﻌَﺒَّﺗﺍَﻭ ﺎَﻣَﻭ ْﻢُﻬَﺘَّﻳِّﺭُﺬْﻤِﻬِﺑ ﺎَﻨْﻘَﺤْﻟَﺄٍﻧﺎَﻤﻳِﺈِﺑ ْﻦِﻤْﻤِﻬِﻠَﻤَﻌْﻨِﻣ ْﻢُﻫﺎَﻨْﺘَﻟَﺃ َﺐَﺴَﻛ ﺎَﻤِﺑ ٍﺉِﺮْﻣﺍ ُّﻞُﻛٍﺀْﻲَﺷ ٌﻦﻴِﻫَﺭ “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka
mengikuti mereka dalam keimanan,
Kami pertemukan anak cucu mereka
dengan mereka (di dalam surga),
dan Kami tiada mengurangi sedikit
pun dari pahala amal mereka. Tiap- tiap manusia terikat dengan apa
yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thuur [52] : 21). Allah Ta’aala berfirman di dalam Kitabullah Al-Qur ’anul Karim: ُﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ ِﺖَﻔِﻟْﺯُﺃَﻭ ﺎَﻣ ﺍَﺬَﻫٍﺪﻴِﻌَﺑَﺮْﻴَﻐَﻨﻴِﻘَّﺘُﻤْﻠِﻟ ْﻦَﻤٍﻈﻴِﻔَﺤٍﺑﺍَّﻭَﺃ ِّﻞُﻜِﻠَﻧﻭُﺪَﻋﻮُﺗ َﺀﺎَﺟَﻭ ِﺐْﻴَﻐْﻟﺎِﺒَﻨَﻤْﺣَّﺮﻟﺍ َﻲِﺸَﺧ ﺎَﻫﻮُﻠُﺧْﺩﺎٍﺒﻴِﻨُﻣ ٍﺐْﻠَﻘِﺑ ِﺩﻮُﻠُﺨْﻟﺍ ُﻡْﻮَﻳ َﻚِﻟَﺬٍﻣﻼَﺴِﺑ Dan didekatkanlah surga itu kepada
orang-orang yang bertakwa pada
tempat yang tiada jauh (dari
mereka). Inilah yang dijanjikan
kepadamu, (yaitu) kepada setiap
hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua
peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu)
orang yang takut kepada Tuhan
Yang Maha Pemurah sedang Dia
tidak kelihatan (olehnya) dan dia
datang dengan hati yang bertobat, masukilah surga itu dengan aman,
itulah hari kekekalan. (QS. Qaaf [50] :
32-34 ) Ya Allah, masukkanlah kami beserta
keluarga dan anak-cucu kami ke
dalam RahmatMu dan SurgaMu.
seorang Mu’min telah lulus menyelesaikan segenap rangkaian
pemeriksaan atas dirinya di yaumul
hisab (hari perhitungan amal), maka
barulah ia diizinkan Allah memasuki
Al-Jannah (surga), negeri keabadian
penuh kebahagiaan hakiki? Ia tidak diizinkan memasuki surga bilamana
terbukti ia masih mempunyai
permasalahan dengan sesama
manusia, walaupun dengan Allah
Ta’aala ia tidak lagi punya masalah apa-apa. Segenap dosanya yang
bersifat hablun minallah telah
diampuni Allah Ta’aala. Namun karena ia masih memiliki masalah
hablun minannaas dengan sesama
manusia, maka ia ditahan di suatu
tempat dekat sekali dari baabul-
jannah (pintu surga) guna
menyelesaikan berbagai perkara (melakukan rekonsiliasi) dengan
sesama manusia. Dalam hal ini Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam menggambarkannya
sebagai berikut: ِّﻱِﺭْﺪُﺨْﻟﺍ ٍﺪﻴِﻌَﺳ ﻲِﺑَﺃ ْﻦَﻋ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﻝﻮُﺳَﺭ َﻝﺎَﻘَﻟﺎَﻗ ُﺺُﻠْﺨَﻴَﻤَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻌُﻬَّﻠﻟﺍ ْﻦِﻣ ِﺔَﻣﺎَﻴِﻘْﻟﺍ َﻡْﻮَﻴَﻧﻮُﻨِﻣْﺆُﻤْﻟﺍ ﻰَﻠَﻋ َﻥﻮُﺴَﺒْﺤُﻴَﻓِﺭﺎَّﻨﻟﺍ ِﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ َﻦْﻴَﺑٍﺓَﺮَﻄْﻨَﻗ ْﻢِﻬِﻀْﻌَﺒِﻟ ُّﺺَﺘْﻘُﻴَﻓِﺭﺎَّﻨﻟﺍَﻭ ْﺖَﻧﺎَﻜُﻤِﻟﺎَﻈَﻣ ٍﺾْﻌَﺒْﻨِﻣ ﻰَّﺘَﺣ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ ﻲِﻔْﻤُﻬَﻨْﻴَﺑ ﻲِﻔْﻤُﻬَﻟ َﻥِﺫُﺃ ﺍﻮُّﻘُﻧَﻭ ﺍﻮُﺑِّﺬُﻫﺍَﺫِﺇ ﻲِﺴْﻔَﻧ ﻱِﺬَّﻟﺍَﻮَﻓِﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ ِﻝﻮُﺧُﺩ ﻯَﺪْﻫَﺃ ْﻢُﻫُﺪَﺣَﺄَﻠِﻫِﺪَﻴِﺑ ُﻪْﻨِﻣ ِﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ ﻲِﻔِﻬِﻟِﺰْﻨَﻤِﻟ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ ﻲِﻓ َﻥﺎَﻜِﻬِﻟِﺰْﻨَﻤِﺑ Dari Abu Sa'id Al Khudri ia berkata;
Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam bersabda, "Orang-orang
yang beriman pada hari Kiamat
selamat dari neraka, lalu mereka
ditahan di jembatan antara surga dan neraka, lalu sebagian akan
diqishas atas sebagian yang lain
karena kezhaliman mereka waktu di
dunia, sehingga setelah mereka
dibersihkan dan telah suci, maka
barulah mereka diizinkan memasuki surga. Demi Dzat yang jiwaku ada
dalam genggaman-Nya, seseorang
di antara mereka lebih mengetahui
rumahnya di surga dari pada
rumahnya di dunia." (HR. Ahmad No.
10673) Dalam hadits di atas Nabi shallallahu
'alaihi wasallam menggunakan istilah
"ditahan di jembatan antara surga dan neraka" untuk menggambarkan masih menggantungnya masalah
orang-orang beriman yang belum
berhak masuk surga karena masih
adanya problema antara dirinya
dengan manusia lainnya yang
pernah ia zalimi. Perbuatan menzalimi manusia lain merupakan
perbuatan tercela yang sangat
dibenci Allah Ta’aala. Dalam sebuah hadits Qudsi dikatakan sebagai
berikut:ﻰَﻠَﻋ ُﺖْﻣَّﺮَﺣ ﻲِّﻧِﺇ ﺎَﻟَﺄﻳِﺩﺎَﺒِﻋ ﻰَﻠَﻋَﻭ َﻢْﻠُّﻈﻟﺎﻴِﺴْﻔَﻧ ﺍﻮُﻤَﻟﺎَﻈَﺗ ﺎَﻠَﻓ Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda bahwa Allah berfirman,
“Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan
kezaliman atas diri-Ku dan Aku
mengharamkannya pula atas kalian,
maka janganlah kalian saling
menzalimi.” (HR. Ahmad No. 20451) Surga merupakan tempat yang
hanya berhak dimasuki oleh hamba-
hamba Allah Ta’aala yang benar- benar telah bersih dari segenap
dosa, baik dosa kepada Allah Ta ’aala maupun dosa kepada sesama
hamba Allah. Oleh karenanya,
seorang muslim senantiasa
mendambakan dan mengharapkan
ampunan Allah Ta’aala sebab ia tahu bahwa jika dirinya masih mempunyai
dosa niscaya ia tidak berhak
memasuki surga. Dan oleh
karenanya seorang muslim sangat
khawatir bila dirinya terlibat dalam
sebuah perbuatan menzalimi manusia lain, sebab ia tahu bahwa
mengharapkan maaf dari sesama
manusia seringkali lebih sulit
daripada mengharapkan ampunan
Allah Ta’aala yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Maka di dalam hadits di atas Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam
menyatakan “...lalu sebagian akan diqishas atas sebagian yang lain
karena kezhaliman mereka waktu di
dunia...” dan ini merupakan suatu keharusan agar si muslim yang
sempat berlaku zalim dapat menjadi
bersih dari dosa tersebut sehingga
layak memasuki surga. Sebab surga
hanya menerima mereka yang bersih
dan suka membersihkan diri. Oleh karenanya Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam selanjutnya berkata,
“...maka barulah mereka diizinkan memasuki surga.” Lalu terakhir Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam menyatakan bahwa “Demi Dzat yang jiwaku ada dalam
genggaman-Nya, seseorang di
antara mereka lebih mengetahui
rumahnya di surga dari pada
rumahnya di dunia." Si mukmin
kemudian berhak memasuki surga Allah Ta’aala dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menggambarkan
bahwa ketika si mukmin
menginjakkan kakinya ke dalam
surga tiba-tiba kakinya membawa
tubuhnya melangkah menuju
kediamannya di surga lebih mengetahui, mantap dan yakin
daripada ia melangkahkan kakinya
pulang ke rumahnya sewaktu hidup
di dunia. Subhanallah... Jadi, saudaraku, surga memang
benar-benar kampung halaman
sejati orang-orang beriman. Sebab
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
sampai perlu bersumpah demi Allah
Ta’aala Dzat yang jiwanya berada di dalam genggamanNya, ketika
menggambarkan hal tersebut.
Sewaktu di dunia seseorang setelah
pulang dari dinas luar kota tentu
sangat rindu pulang ke rumahnya
agar berkumpul dengan anak dan istrinya. Boleh jadi kerinduannya
sedemikian rupa malah
menyebabkan dirinya sampai
kehilangan arah alias tersesat pulang
ke rumahnya sendiri. Hal ini tidak
bakal terjadi ketika seorang mu ’min memasuki pintu surga lalu
melangkahkan kakinya menuju
rumah sejatinya, kampung halaman
sejatinya. Sungguh bahagianya bila seseorang
dapat memasuki pintu surga lalu
berkumpul kembali bersama
keluarganya dan anak-
keturunannya di kampung halaman
sejati orang-orang beriman. Allah Ta’aala berfirman di dalam Kitabullah Al-Qur ’anul Karim: ﺍﻮُﻨَﻣﺁ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍَﻭ ْﻢُﻬُﺘَّﻳِّﺭُﺬْﻤُﻬْﺘَﻌَﺒَّﺗﺍَﻭ ﺎَﻣَﻭ ْﻢُﻬَﺘَّﻳِّﺭُﺬْﻤِﻬِﺑ ﺎَﻨْﻘَﺤْﻟَﺄٍﻧﺎَﻤﻳِﺈِﺑ ْﻦِﻤْﻤِﻬِﻠَﻤَﻌْﻨِﻣ ْﻢُﻫﺎَﻨْﺘَﻟَﺃ َﺐَﺴَﻛ ﺎَﻤِﺑ ٍﺉِﺮْﻣﺍ ُّﻞُﻛٍﺀْﻲَﺷ ٌﻦﻴِﻫَﺭ “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka
mengikuti mereka dalam keimanan,
Kami pertemukan anak cucu mereka
dengan mereka (di dalam surga),
dan Kami tiada mengurangi sedikit
pun dari pahala amal mereka. Tiap- tiap manusia terikat dengan apa
yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thuur [52] : 21). Allah Ta’aala berfirman di dalam Kitabullah Al-Qur ’anul Karim: ُﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ ِﺖَﻔِﻟْﺯُﺃَﻭ ﺎَﻣ ﺍَﺬَﻫٍﺪﻴِﻌَﺑَﺮْﻴَﻐَﻨﻴِﻘَّﺘُﻤْﻠِﻟ ْﻦَﻤٍﻈﻴِﻔَﺤٍﺑﺍَّﻭَﺃ ِّﻞُﻜِﻠَﻧﻭُﺪَﻋﻮُﺗ َﺀﺎَﺟَﻭ ِﺐْﻴَﻐْﻟﺎِﺒَﻨَﻤْﺣَّﺮﻟﺍ َﻲِﺸَﺧ ﺎَﻫﻮُﻠُﺧْﺩﺎٍﺒﻴِﻨُﻣ ٍﺐْﻠَﻘِﺑ ِﺩﻮُﻠُﺨْﻟﺍ ُﻡْﻮَﻳ َﻚِﻟَﺬٍﻣﻼَﺴِﺑ Dan didekatkanlah surga itu kepada
orang-orang yang bertakwa pada
tempat yang tiada jauh (dari
mereka). Inilah yang dijanjikan
kepadamu, (yaitu) kepada setiap
hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua
peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu)
orang yang takut kepada Tuhan
Yang Maha Pemurah sedang Dia
tidak kelihatan (olehnya) dan dia
datang dengan hati yang bertobat, masukilah surga itu dengan aman,
itulah hari kekekalan. (QS. Qaaf [50] :
32-34 ) Ya Allah, masukkanlah kami beserta
keluarga dan anak-cucu kami ke
dalam RahmatMu dan SurgaMu.
Kunci Kemenangan: SabarMenghadapi Ujian Dan TawakkalKepada Allah Semata (1)
Di dalam surah Al-Baqarah Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ menyatakan bahwa untuk berhak memasuki surga
orang-orang beriman mesti melalui
berbagai ujian terlebih dahulu.
Sebagaimana umat beriman di masa
lalu juga mengalami berbagai ujian.
Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ berfirman: َﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ ﺍﻮُﻠُﺧْﺪَﺗ ْﻥَﺃ ْﻢُﺘْﺒِﺴَﺣ ْﻡَﺃ ﺍْﻮَﻠَﺧ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ُﻞَﺜَﻣ ْﻢُﻜِﺗْﺄَﻳ ﺎَّﻤَﻟَﻭ ُﺀﺎَﺳْﺄَﺒْﻟﺍ ُﻢُﻬْﺘَّﺴَﻣ ْﻢُﻜِﻠْﺒَﻗ ْﻦِﻣ ﻰَّﺘَﺣ ﺍﻮُﻟِﺰْﻟُﺯَﻭ ُﺀﺍَّﺮَّﻀﻟﺍَﻭ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍَﻭ ُﻝﻮُﺳَّﺮﻟﺍ َﻝﻮُﻘَﻳ ﻻَﺃ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﺮْﺼَﻧ ﻰَﺘَﻣ ُﻪَﻌَﻣ ﺍﻮُﻨَﻣﺁ ٌﺐﻳِﺮَﻗ ِﻪَّﻠﻟﺍ َﺮْﺼَﻧ َّﻥِﺇ "Apakah kamu mengira bahwa
kamu akan masuk surga, padahal
belum datang kepadamu (cobaan)
sebagaimana halnya orang-orang
terdahulu sebelum kamu? Mereka
ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan
(dengan bermacam-macam cobaan)
sehingga berkatalah Rasul dan
orang-orang yang beriman
bersamanya, 'Bilakah datangnya
pertolongan Allah?' Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu
amat dekat." (QS. Al-Baqarah [2] :
214) Orang-orang beriman terdahulu
telah ditimpa oleh malapetaka dan
kesengsaraan, serta digoncangkan
(dengan bermacam-macam cobaan).
Menghadapi malapetaka,
kesengsaraan serta digoncangkan dengan aneka cobaan merupakan
sebuah sunnatullah yang pasti harus
dialami oleh mereka yang ingin
beriman dengan sebenar-benarnya
iman. Sebab semua bentuk fitnah
(ujian) tersebut merupakan cara Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ untuk menseleksi dan mendeteksi siapa
yang benar dalam pengakuan
keimanannya dan siapa yang
berdusta. ْﻥَﺃ ﺍﻮُﻛَﺮْﺘُﻳ ْﻥَﺃ ُﺱﺎَّﻨﻟﺍ َﺐِﺴَﺣَﺃ َﻥﻮُﻨَﺘْﻔُﻳ ﻻ ْﻢُﻫَﻭ ﺎَّﻨَﻣﺁ ﺍﻮُﻟﻮُﻘَﻳ ْﻢِﻬِﻠْﺒَﻗ ْﻦِﻣ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ﺎَّﻨَﺘَﻓ ْﺪَﻘَﻟَﻭ ﺍﻮُﻗَﺪَﺻ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ُﻪَّﻠﻟﺍ َّﻦَﻤَﻠْﻌَﻴَﻠَﻓ َﻦﻴِﺑِﺫﺎَﻜْﻟﺍ َّﻦَﻤَﻠْﻌَﻴَﻟَﻭ "Apakah manusia itu mengira bahwa
mereka dibiarkan (saja)
mengatakan, 'Kami telah beriman,'
sedang mereka tidak diuji lagi? Dan
sesungguhnya Kami telah menguji
orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah
mengetahui orang-orang yang
benar dan sesungguhnya Dia
mengetahui orang-orang yang
dusta." (QS. Al-Ankabut [29] : 2-3) Bahkan setiap orang beriman harus
senantiasa waspada bila ia hidup
dalam sebuah kondisi dimana
bercampur-baur antara orang-orang
yang benar imannya dengan orang-
orang yang palsu keimanannya. Sebab Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ tidak akan biarkan mereka dalam
keadaan bercampur-baur terus
menerus seperti itu. Allah ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻰﻟﺎﻌﺗ suatu ketika akan memilah dan mendatangkan berbagai ujian untuk
menyingkap hakikat sebenarnya
dari masing-masing golongan
tersebut. َﻦﻴِﻨِﻣْﺆُﻤْﻟﺍ َﺭَﺬَﻴِﻟ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻥﺎَﻛ ﺎَﻣ َﺰﻴِﻤَﻳ ﻰَّﺘَﺣ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ْﻢُﺘْﻧَﺃ ﺎَﻣ ﻰَﻠَﻋ ِﺐِّﻴَّﻄﻟﺍ َﻦِﻣ َﺚﻴِﺒَﺨْﻟﺍ "Allah sekali-kali tidak akan
membiarkan orang-orang yang
beriman dalam keadaan kamu
sekarang ini, sehingga Dia
menyisihkan yang buruk (munafik)
dari yang baik (mukmin)." (QS. Ali Imran [3] : 179) Berakhirnya kondisi bercampur-
baur antara mukmin dan munafik
ditandai dengan datangnya aneka
ujian dan cobaan kepada orang-
orang yang mengaku beriman
tersebut. Ada yang diuji dengan kesulitan hidup dan ada pula yang
diuji dengan kesenangan hidup. Ada
yang lulus atau gagal menghadapi
kedua-duanya. Ada yang lulus atau
gagal menghadapi salah satunya.
Ada yang gagal menghadapi ujian kesenangan hidup tapi berhasil
menghadapi ujian kesulitan hidup,
ada pula yang gagal menghadapi
ujian kesulitan hidup namun berhasil
menghadapi ujian kesenangan
hidup. Tetapi dalam suatu kesempatan Rasulullah ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻢﻠﺳ ﻭ pernah mengabarkan bahwa sebagian besar ummatnya
cenderung sanggup menghadapi
ujian kesulitan hidup namun gagal
menghadapi ujian kesenangan
hidup. Rasulullah ﻢﻠﺳ ﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ bersabda: ْﻢُﻜْﻴَﻠَﻋ ﻰَﺸْﺧَﺃ َﺮْﻘَﻔْﻟﺍ ﺎَﻟ ْﻥَﺃ ْﻢُﻜْﻴَﻠَﻋ ﻰَﺸَﺧَﺃ ْﻦِﻜَﻟَﻭ ﺎَﻤَﻛ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ ْﻢُﻜْﻴَﻠَﻋ َﻂَﺴْﺒُﺗ َﻥﺎَﻛ ْﻦَﻣ ﻰَﻠَﻋ ْﺖَﻄِﺴُﺑ ﺎَﻤَﻛ ﺎَﻫﻮُﺴَﻓﺎَﻨَﺘَﻓ ْﻢُﻜَﻠْﺒَﻗ ﺎَﻤَﻛ ْﻢُﻜَﻜِﻠْﻬُﺗَﻭ ﺎَﻫﻮُﺴَﻓﺎَﻨَﺗ ْﻢُﻬْﺘَﻜَﻠْﻫَﺃ ”Demi Allah, bukanlah kefakiran (kemiskinan) yang aku khawatirkan
dari kalian. Akan tetapi yg aku
khawatirkan atas kalian adalah bila
kalian telah dibukakan (harta) dunia
sebagaimana telah dibukakan
kepada orang-orang sebelum kalian lalu kalian berlomba-lomba untuk
memperebutkannya sebagaimana
mereka berlomba-lomba
memperebutkannya sehingga harta
dunia itu membinasakan kalian
sebagaimana telah membinasakan mereka." (HR. Bukhari, No. 2924) Itulah sebabnya kita dengan mudah
dapat menemukan orang yang
tadinya sholeh dan rajin beribadah
sewaktu hidupnya masih sederhana,
bukan orang yang memiliki jabatan
atau kekuasaan apapun serta tidak dihinggapi popularitas. Namun
begitu ia mengalami kelapangan
rezeki, memperoleh jabatan dan
kekuasaan serta menjadi orang
terkenal, tiba-tiba kita dikejutkan
dengan ucapan, sikap dan perilakunya yang seolah tidak
mencerminkan kesholehan masa
lalunya. Kitapun menjadi asing
dengannya dan diapun menjadi
asing melihat kita. Tapi jangan salah, ada juga ujian
kesulitan hidup yang telah
diperingatkan oleh Rasulullah ﻰﻠﺻ ﻢﻠﺳ ﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ agar setiap mukmin bersiap diri menghadapinya. Sebab
di masa awal da’wah Nabi ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻢﻠﺳ ﻭ ﻪﻴﻠﻋ dan para sahabat menghadapi kondisi yang sungguh
sulit. Para sahabat waktu itu adalah
golongan minoritas, tertindas dan
terbatas ruang gerak beribadahnya.
Mereka mengalami aneka bentuk
kezaliman dari kaum musyrikin Mekkah yang benci melihat
perkembangan da’wah ajaran Tauhid yang kian merebak sehingga
mengancam eksistensi para
pembesar musyrikin Mekkah. Ada
yang diusir dari rumahnya, ada yang
disiksa di bawah terik matahari di
tengah padang pasir bahkan ada yang dibunuh. Sudah sedemikian
beratnya kondisi para sahabat
sehingga pada suatu ketika Khabab
ibnul Arat mendatangi Nabi ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻢﻠﺳ ﻭ ﻪﻴﻠﻋ meminta beliau untuk berdoa kepada Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ demi keselamatan para sahabat yang
teraniaya. Khabab berkata, "Aku menemui Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam ketika
beliau sedang duduk beralaskan
selendang di bawah naungan
Ka'bah, saat itu kami sedang
mengalami siksaan yang sangat keras dari orang-orang Musyrikin.
Aku berkata, 'Wahai Rasulullah,
tidakkah tuan memohon
pertolongan?' Seketika itu pula
beliau bangun dengan muka merah
lalu bersabda, 'Sungguh diantara orang-orang sebelum kalian ada
yang disisir dengan sisir besi lalu
dagingnya terkupas dari tulangnya
atau uratnya namun hal itu tidak
memalingkannya dari agamanya,
dan ada juga yang diletakkan gergaji di tengah kepalanya lalu kepalanya
itu digergaji hingga terbelah menjadi
dua bagian, namun siksaan itu tidak
menyurutkan dia dari agamanya.
Sungguh, Allah akan
menyempurnakan urusan (Islam) ini hingga ada seorang yang
mengendarai tunggangannya
berjalan dari Shan'a menuju
Hadlramaut tidak ada yang
ditakutinya melainkan Allah atau
(tidak ada) kekhawatiran kepada serigala atas kambingnya'." (HR.
Bukhari, No. 3563) Subhaanallah...! Coba bayangkan.
Sudahlah para sahabat memang
sedang menjalani masa sulit dengan
aneka ujian dan cobaan di masa itu.
Tetapi lihatlah bagaimana Nabi
Muhammad ﻢﻠﺳ ﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ mendidik para sahabat untuk
bersabar dan melipat-gandakan
kesabaran. Justeru mendengar apa
yang dikatakan oleh Khabab malah
Rasulullah ﻢﻠﺳ ﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ memberikan bayangan ujian
kesulitan hidup yang jauh lebih
dahsyat yang telah menimpa
generasi terdahulu sebelum para
sahabat. Ujian generasi terdahulu
lebih berat lagi daripada ujian para sahabat. Padahal apa yang dialami
oleh para sahabat-pun bukanlah
ujian dan cobaan yang ringan...!
Bahkan Nabi ﻢﻠﺳ ﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ mengakhiri pesannya kepada
Khabab dengan menegurnya secara
keras dan menilainya sebagai bagian
dari golongan yang tidak sabar...! ﻰَﻟﺎَﻌَﺗَﻭ َﻙَﺭﺎَﺒَﺗ ُﻪَّﻠﻟﺍ َّﻦَّﻤِﺘُﻴَﻟَﻭ َﺮﻴِﺴَﻳ ﻰَّﺘَﺣ َﺮْﻣَﺄْﻟﺍ ﺍَﺬَﻫ ﻰَﻟِﺇ َﺀﺎَﻌْﻨَﺻ َﻦْﻴَﺑ ﺎَﻣ ُﺐِﻛﺍَّﺮﻟﺍ َﻪَّﻠﻟﺍ ﺎَّﻟِﺇ ﻰَﺸْﺨَﻳ ﺎَﻟ َﺕْﻮَﻣَﺮْﻀَﺣ ِﻪِﻤَﻨَﻏ ﻰَﻠَﻋ َﺐْﺋِّﺬﻟﺍَﻭ ﻰَﻟﺎَﻌَﺗ َﻥﻮُﻠَﺠْﻌَﺗ ْﻢُﻜَّﻨِﻜَﻟَﻭ "Dan sungguh, benar-benar Allah
Tabaaraka Wa Ta'ala akan
menyempunakan urusan (agama) ini
hingga ada seorang pengendara
berjalan dari Shan'a menuju
Hadarmaut dalam keadaan tidak takut kepada siapa pun kecuali
kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala,
atau khawatir kambingnya akan
dimakan serigala. Akan tetapi kalian
terburu-buru." (HR. Ahmad, No.
20148)
orang-orang beriman mesti melalui
berbagai ujian terlebih dahulu.
Sebagaimana umat beriman di masa
lalu juga mengalami berbagai ujian.
Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ berfirman: َﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ ﺍﻮُﻠُﺧْﺪَﺗ ْﻥَﺃ ْﻢُﺘْﺒِﺴَﺣ ْﻡَﺃ ﺍْﻮَﻠَﺧ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ُﻞَﺜَﻣ ْﻢُﻜِﺗْﺄَﻳ ﺎَّﻤَﻟَﻭ ُﺀﺎَﺳْﺄَﺒْﻟﺍ ُﻢُﻬْﺘَّﺴَﻣ ْﻢُﻜِﻠْﺒَﻗ ْﻦِﻣ ﻰَّﺘَﺣ ﺍﻮُﻟِﺰْﻟُﺯَﻭ ُﺀﺍَّﺮَّﻀﻟﺍَﻭ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍَﻭ ُﻝﻮُﺳَّﺮﻟﺍ َﻝﻮُﻘَﻳ ﻻَﺃ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﺮْﺼَﻧ ﻰَﺘَﻣ ُﻪَﻌَﻣ ﺍﻮُﻨَﻣﺁ ٌﺐﻳِﺮَﻗ ِﻪَّﻠﻟﺍ َﺮْﺼَﻧ َّﻥِﺇ "Apakah kamu mengira bahwa
kamu akan masuk surga, padahal
belum datang kepadamu (cobaan)
sebagaimana halnya orang-orang
terdahulu sebelum kamu? Mereka
ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan
(dengan bermacam-macam cobaan)
sehingga berkatalah Rasul dan
orang-orang yang beriman
bersamanya, 'Bilakah datangnya
pertolongan Allah?' Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu
amat dekat." (QS. Al-Baqarah [2] :
214) Orang-orang beriman terdahulu
telah ditimpa oleh malapetaka dan
kesengsaraan, serta digoncangkan
(dengan bermacam-macam cobaan).
Menghadapi malapetaka,
kesengsaraan serta digoncangkan dengan aneka cobaan merupakan
sebuah sunnatullah yang pasti harus
dialami oleh mereka yang ingin
beriman dengan sebenar-benarnya
iman. Sebab semua bentuk fitnah
(ujian) tersebut merupakan cara Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ untuk menseleksi dan mendeteksi siapa
yang benar dalam pengakuan
keimanannya dan siapa yang
berdusta. ْﻥَﺃ ﺍﻮُﻛَﺮْﺘُﻳ ْﻥَﺃ ُﺱﺎَّﻨﻟﺍ َﺐِﺴَﺣَﺃ َﻥﻮُﻨَﺘْﻔُﻳ ﻻ ْﻢُﻫَﻭ ﺎَّﻨَﻣﺁ ﺍﻮُﻟﻮُﻘَﻳ ْﻢِﻬِﻠْﺒَﻗ ْﻦِﻣ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ﺎَّﻨَﺘَﻓ ْﺪَﻘَﻟَﻭ ﺍﻮُﻗَﺪَﺻ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ُﻪَّﻠﻟﺍ َّﻦَﻤَﻠْﻌَﻴَﻠَﻓ َﻦﻴِﺑِﺫﺎَﻜْﻟﺍ َّﻦَﻤَﻠْﻌَﻴَﻟَﻭ "Apakah manusia itu mengira bahwa
mereka dibiarkan (saja)
mengatakan, 'Kami telah beriman,'
sedang mereka tidak diuji lagi? Dan
sesungguhnya Kami telah menguji
orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah
mengetahui orang-orang yang
benar dan sesungguhnya Dia
mengetahui orang-orang yang
dusta." (QS. Al-Ankabut [29] : 2-3) Bahkan setiap orang beriman harus
senantiasa waspada bila ia hidup
dalam sebuah kondisi dimana
bercampur-baur antara orang-orang
yang benar imannya dengan orang-
orang yang palsu keimanannya. Sebab Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ tidak akan biarkan mereka dalam
keadaan bercampur-baur terus
menerus seperti itu. Allah ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻰﻟﺎﻌﺗ suatu ketika akan memilah dan mendatangkan berbagai ujian untuk
menyingkap hakikat sebenarnya
dari masing-masing golongan
tersebut. َﻦﻴِﻨِﻣْﺆُﻤْﻟﺍ َﺭَﺬَﻴِﻟ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻥﺎَﻛ ﺎَﻣ َﺰﻴِﻤَﻳ ﻰَّﺘَﺣ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ْﻢُﺘْﻧَﺃ ﺎَﻣ ﻰَﻠَﻋ ِﺐِّﻴَّﻄﻟﺍ َﻦِﻣ َﺚﻴِﺒَﺨْﻟﺍ "Allah sekali-kali tidak akan
membiarkan orang-orang yang
beriman dalam keadaan kamu
sekarang ini, sehingga Dia
menyisihkan yang buruk (munafik)
dari yang baik (mukmin)." (QS. Ali Imran [3] : 179) Berakhirnya kondisi bercampur-
baur antara mukmin dan munafik
ditandai dengan datangnya aneka
ujian dan cobaan kepada orang-
orang yang mengaku beriman
tersebut. Ada yang diuji dengan kesulitan hidup dan ada pula yang
diuji dengan kesenangan hidup. Ada
yang lulus atau gagal menghadapi
kedua-duanya. Ada yang lulus atau
gagal menghadapi salah satunya.
Ada yang gagal menghadapi ujian kesenangan hidup tapi berhasil
menghadapi ujian kesulitan hidup,
ada pula yang gagal menghadapi
ujian kesulitan hidup namun berhasil
menghadapi ujian kesenangan
hidup. Tetapi dalam suatu kesempatan Rasulullah ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻢﻠﺳ ﻭ pernah mengabarkan bahwa sebagian besar ummatnya
cenderung sanggup menghadapi
ujian kesulitan hidup namun gagal
menghadapi ujian kesenangan
hidup. Rasulullah ﻢﻠﺳ ﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ bersabda: ْﻢُﻜْﻴَﻠَﻋ ﻰَﺸْﺧَﺃ َﺮْﻘَﻔْﻟﺍ ﺎَﻟ ْﻥَﺃ ْﻢُﻜْﻴَﻠَﻋ ﻰَﺸَﺧَﺃ ْﻦِﻜَﻟَﻭ ﺎَﻤَﻛ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ ْﻢُﻜْﻴَﻠَﻋ َﻂَﺴْﺒُﺗ َﻥﺎَﻛ ْﻦَﻣ ﻰَﻠَﻋ ْﺖَﻄِﺴُﺑ ﺎَﻤَﻛ ﺎَﻫﻮُﺴَﻓﺎَﻨَﺘَﻓ ْﻢُﻜَﻠْﺒَﻗ ﺎَﻤَﻛ ْﻢُﻜَﻜِﻠْﻬُﺗَﻭ ﺎَﻫﻮُﺴَﻓﺎَﻨَﺗ ْﻢُﻬْﺘَﻜَﻠْﻫَﺃ ”Demi Allah, bukanlah kefakiran (kemiskinan) yang aku khawatirkan
dari kalian. Akan tetapi yg aku
khawatirkan atas kalian adalah bila
kalian telah dibukakan (harta) dunia
sebagaimana telah dibukakan
kepada orang-orang sebelum kalian lalu kalian berlomba-lomba untuk
memperebutkannya sebagaimana
mereka berlomba-lomba
memperebutkannya sehingga harta
dunia itu membinasakan kalian
sebagaimana telah membinasakan mereka." (HR. Bukhari, No. 2924) Itulah sebabnya kita dengan mudah
dapat menemukan orang yang
tadinya sholeh dan rajin beribadah
sewaktu hidupnya masih sederhana,
bukan orang yang memiliki jabatan
atau kekuasaan apapun serta tidak dihinggapi popularitas. Namun
begitu ia mengalami kelapangan
rezeki, memperoleh jabatan dan
kekuasaan serta menjadi orang
terkenal, tiba-tiba kita dikejutkan
dengan ucapan, sikap dan perilakunya yang seolah tidak
mencerminkan kesholehan masa
lalunya. Kitapun menjadi asing
dengannya dan diapun menjadi
asing melihat kita. Tapi jangan salah, ada juga ujian
kesulitan hidup yang telah
diperingatkan oleh Rasulullah ﻰﻠﺻ ﻢﻠﺳ ﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ agar setiap mukmin bersiap diri menghadapinya. Sebab
di masa awal da’wah Nabi ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻢﻠﺳ ﻭ ﻪﻴﻠﻋ dan para sahabat menghadapi kondisi yang sungguh
sulit. Para sahabat waktu itu adalah
golongan minoritas, tertindas dan
terbatas ruang gerak beribadahnya.
Mereka mengalami aneka bentuk
kezaliman dari kaum musyrikin Mekkah yang benci melihat
perkembangan da’wah ajaran Tauhid yang kian merebak sehingga
mengancam eksistensi para
pembesar musyrikin Mekkah. Ada
yang diusir dari rumahnya, ada yang
disiksa di bawah terik matahari di
tengah padang pasir bahkan ada yang dibunuh. Sudah sedemikian
beratnya kondisi para sahabat
sehingga pada suatu ketika Khabab
ibnul Arat mendatangi Nabi ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻢﻠﺳ ﻭ ﻪﻴﻠﻋ meminta beliau untuk berdoa kepada Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ demi keselamatan para sahabat yang
teraniaya. Khabab berkata, "Aku menemui Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam ketika
beliau sedang duduk beralaskan
selendang di bawah naungan
Ka'bah, saat itu kami sedang
mengalami siksaan yang sangat keras dari orang-orang Musyrikin.
Aku berkata, 'Wahai Rasulullah,
tidakkah tuan memohon
pertolongan?' Seketika itu pula
beliau bangun dengan muka merah
lalu bersabda, 'Sungguh diantara orang-orang sebelum kalian ada
yang disisir dengan sisir besi lalu
dagingnya terkupas dari tulangnya
atau uratnya namun hal itu tidak
memalingkannya dari agamanya,
dan ada juga yang diletakkan gergaji di tengah kepalanya lalu kepalanya
itu digergaji hingga terbelah menjadi
dua bagian, namun siksaan itu tidak
menyurutkan dia dari agamanya.
Sungguh, Allah akan
menyempurnakan urusan (Islam) ini hingga ada seorang yang
mengendarai tunggangannya
berjalan dari Shan'a menuju
Hadlramaut tidak ada yang
ditakutinya melainkan Allah atau
(tidak ada) kekhawatiran kepada serigala atas kambingnya'." (HR.
Bukhari, No. 3563) Subhaanallah...! Coba bayangkan.
Sudahlah para sahabat memang
sedang menjalani masa sulit dengan
aneka ujian dan cobaan di masa itu.
Tetapi lihatlah bagaimana Nabi
Muhammad ﻢﻠﺳ ﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ mendidik para sahabat untuk
bersabar dan melipat-gandakan
kesabaran. Justeru mendengar apa
yang dikatakan oleh Khabab malah
Rasulullah ﻢﻠﺳ ﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ memberikan bayangan ujian
kesulitan hidup yang jauh lebih
dahsyat yang telah menimpa
generasi terdahulu sebelum para
sahabat. Ujian generasi terdahulu
lebih berat lagi daripada ujian para sahabat. Padahal apa yang dialami
oleh para sahabat-pun bukanlah
ujian dan cobaan yang ringan...!
Bahkan Nabi ﻢﻠﺳ ﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ mengakhiri pesannya kepada
Khabab dengan menegurnya secara
keras dan menilainya sebagai bagian
dari golongan yang tidak sabar...! ﻰَﻟﺎَﻌَﺗَﻭ َﻙَﺭﺎَﺒَﺗ ُﻪَّﻠﻟﺍ َّﻦَّﻤِﺘُﻴَﻟَﻭ َﺮﻴِﺴَﻳ ﻰَّﺘَﺣ َﺮْﻣَﺄْﻟﺍ ﺍَﺬَﻫ ﻰَﻟِﺇ َﺀﺎَﻌْﻨَﺻ َﻦْﻴَﺑ ﺎَﻣ ُﺐِﻛﺍَّﺮﻟﺍ َﻪَّﻠﻟﺍ ﺎَّﻟِﺇ ﻰَﺸْﺨَﻳ ﺎَﻟ َﺕْﻮَﻣَﺮْﻀَﺣ ِﻪِﻤَﻨَﻏ ﻰَﻠَﻋ َﺐْﺋِّﺬﻟﺍَﻭ ﻰَﻟﺎَﻌَﺗ َﻥﻮُﻠَﺠْﻌَﺗ ْﻢُﻜَّﻨِﻜَﻟَﻭ "Dan sungguh, benar-benar Allah
Tabaaraka Wa Ta'ala akan
menyempunakan urusan (agama) ini
hingga ada seorang pengendara
berjalan dari Shan'a menuju
Hadarmaut dalam keadaan tidak takut kepada siapa pun kecuali
kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala,
atau khawatir kambingnya akan
dimakan serigala. Akan tetapi kalian
terburu-buru." (HR. Ahmad, No.
20148)
Kunci Kemenangan: SabarMenghadapi Ujian Dan TawakkalKepada Allah Semata (2)
Di dalam surah Al-Baqarah Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ menyatakan bahwa agar berhak memasuki surga orang-
orang beriman mesti melalui
berbagai ujian terlebih dahulu.
Sebagaimana umat beriman di masa
lalu juga mengalami berbagai ujian.
Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ berfirman: َﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ ﺍﻮُﻠُﺧْﺪَﺗ ْﻥَﺃ ْﻢُﺘْﺒِﺴَﺣ ْﻡَﺃ ﺍْﻮَﻠَﺧ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ُﻞَﺜَﻣ ْﻢُﻜِﺗْﺄَﻳ ﺎَّﻤَﻟَﻭ ُﺀﺎَﺳْﺄَﺒْﻟﺍ ُﻢُﻬْﺘَّﺴَﻣ ْﻢُﻜِﻠْﺒَﻗ ْﻦِﻣ ﻰَّﺘَﺣ ﺍﻮُﻟِﺰْﻟُﺯَﻭ ُﺀﺍَّﺮَّﻀﻟﺍَﻭ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍَﻭ ُﻝﻮُﺳَّﺮﻟﺍ َﻝﻮُﻘَﻳ ﻻَﺃ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﺮْﺼَﻧ ﻰَﺘَﻣ ُﻪَﻌَﻣ ﺍﻮُﻨَﻣﺁ ٌﺐﻳِﺮَﻗ ِﻪَّﻠﻟﺍ َﺮْﺼَﻧ َّﻥِﺇ Apakah kamu mengira bahwa kamu
akan masuk surga, padahal belum
datang kepadamu (cobaan)
sebagaimana halnya orang-orang
terdahulu sebelum kamu? Mereka
ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan
(dengan bermacam-macam cobaan)
sehingga berkatalah Rasul dan
orang-orang yang beriman
bersamanya, "Bilakah datangnya
pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu
amat dekat. (QS Al-Baqarah [2] : 214) Subhaanallah...! Coba bayangkan.
Sudahlah para sahabat memang
sedang menjalani masa sulit dengan
aneka ujian dan cobaan di masa itu.
Tetapi lihatlah bagaimana Nabi
Muhammad ﻢﻠﺳ ﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ mendidik para sahabat untuk
bersabar dan melipat-gandakan
kesabaran. Justeru mendengar apa
yang dikatakan oleh Khabab ibnul
Arat malah Rasulullah ﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻢﻠﺳ memberikan bayangan ujian kesulitan hidup yang jauh lebih
dahsyat yang telah menimpa
generasi terdahulu sebelum para
sahabat. Ujian generasi terdahulu
lebih berat lagi dibandingkan ujian
para sahabat. Padahal apa yang dialami oleh para sahabat-pun
bukanlah ujian dan cobaan yang
ringan..! Bahkan Nabi ﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻢﻠﺳ mengakhiri pesannya kepada Khabab dengan menegurnya secara
keras dan menilainya sebagai bagian
dari golongan yang tidak sabar...!! ﻰَﻟﺎَﻌَﺗَﻭ َﻙَﺭﺎَﺒَﺗ ُﻪَّﻠﻟﺍ َّﻦَّﻤِﺘُﻴَﻟَﻭ َﺮﻴِﺴَﻳ ﻰَّﺘَﺣ َﺮْﻣَﺄْﻟﺍ ﺍَﺬَﻫ ﻰَﻟِﺇ َﺀﺎَﻌْﻨَﺻ َﻦْﻴَﺑ ﺎَﻣ ُﺐِﻛﺍَّﺮﻟﺍ َﻪَّﻠﻟﺍ ﺎَّﻟِﺇ ﻰَﺸْﺨَﻳ ﺎَﻟ َﺕْﻮَﻣَﺮْﻀَﺣ ِﻪِﻤَﻨَﻏ ﻰَﻠَﻋ َﺐْﺋِّﺬﻟﺍَﻭ ﻰَﻟﺎَﻌَﺗ َﻥﻮُﻠَﺠْﻌَﺗ ْﻢُﻜَّﻨِﻜَﻟَﻭ Dan sungguh, benar-benar Allah
Tabaaraka Wa Ta'ala akan
menyempunakan urusan (agama) ini
hingga ada seorang pengendara
berjalan dari Shan'a menuju
Hadarmaut dalam keadaan tidak takut kepada siapa pun kecuali
kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala,
atau khawatir kambingnya akan
dimakan serigala. Akan tetapi kalian
terburu-buru." (HR. Ahmad, No.
20148) Bahkan Nabi ﻢﻠﺳ ﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ menilai Khabab sebagai bagian dari
golongan yang tidak sabar. Padahal
Khabab, seorang pandai besi, adalah
salah seorang sahabat yang telah
mengalami penyiksaan yang
sungguh hebat di masa awal da’wah Islam di Mekkah sebelum hijrah.
Sya'bi, salah satu kawan
sependeritaan Khabab,
menggambarkan kegilaan orang-
orang Quraisy yang menyiksa
Khabab. Orang-orang kafir itu datang kepada Khabab dan
menyeretnya keluar kemudian
menindihnya dengan batu yang
membara, hingga meluluhkan
dagingnya. Namun hati Khabab tak
sedikitpun terpengaruh, justru membuat ia semakin yakin akan
kebenaran risalah yang
diikutinya.Sahabatnya yang lain
menceritakan bahwa orang-orang
kafir itu datang ke rumah Khabab.
Mereka membakar besi-besi yang hendak dijadikan pedang. Kemudian
setelah membara mereka gunakan
untuk tiang mengikat tangan, kaki,
berikut tubuh Khabab. Inilah di antara yang telah dialami
oleh generasi pertama ummat Islam.
Namun Rasulullah ﻢﻠﺳ ﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ menyebut Khabab sebagai “Akan tetapi kalian terburu-buru.” Lalu Nabi Muhammad ﻢﻠﺳ ﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ membandingkan dengan ujian yang
telah dialami oleh ummat beriman di
masa lalu. Seolah ingin mengatakan
bahwa sabar dan meilpatgandakan
kesabaran menghadapi ujian berat
merupakan prasyarat untuk meraih kemenangan dan masuk surga. ْﺖِّﺒَﺛَﻭ ﺍًﺮْﺒَﺻ ﺎَﻨْﻴَﻠَﻋ ْﻍِﺮْﻓَﺃ ﺎَﻨَّﺑَﺭ ِﻡْﻮَﻘْﻟﺍ ﻰَﻠَﻋ ﺎَﻧْﺮُﺼْﻧﺍَﻭ ﺎَﻨَﻣﺍَﺪْﻗَﺃ َﻦﻳِﺮِﻓﺎَﻜْﻟﺍ "Ya Tuhan kami, tuangkanlah
kesabaran atas diri kami, dan
kokohkanlah pendirian kami dan
tolonglah kami terhadap orang-
orang kafir". (QS. Al-Baqarah [2] :
250) Syarat kedua agar orang-orang
beriman meraih kemenangan dan
berhak masuk taman keabadian
penuh kenikmatan (yakni surga)
ialah keharusan bertawakkal semata
kepada Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ . Bilamana berbagai ujian dan
penderitaan yang dialami kaum
mukminin telah sampai ke derajat
dimana orang-orang beriman
tersebut hanya memohon
pertolongan kepada Allah ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻰﻟﺎﻌﺗ semata, maka pada saat itulah justeru pertolongan Allah ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻰﻟﺎﻌﺗ akan segera datang. Dan tawakkal kepada Allah ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻰﻟﺎﻌﺗ tersebut haruslah merata berlaku di segenap lini barisan kaum
mukminin, baik Rasul maupun para
pengikutnya, baik pemimpin
maupun pengikutnya. Tidak boleh
ada satupun lapisan kaum mukminin
yang mengharapkan selain pertolongan Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ . Jangan sampai lapisan grassroot
(akar rumput) para pengikut
misalnya berharap kepada Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ , namun jajaran para pemimpin malah ada yang diam-
diam mengharapkan bantuan dari
kaum kuffar ataupun kaum
munafik..! َﻦﻳِﺬَّﻟﺍَﻭ ُﻝﻮُﺳَّﺮﻟﺍ َﻝﻮُﻘَﻳ ﻰَّﺘَﺣ ﻻَﺃ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﺮْﺼَﻧ ﻰَﺘَﻣ ُﻪَﻌَﻣ ﺍﻮُﻨَﻣﺁ ٌﺐﻳِﺮَﻗ ِﻪَّﻠﻟﺍ َﺮْﺼَﻧ َّﻥِﺇ “...sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman
bersamanya: "Bilakah datangnya
pertolongan Allah?" Ingatlah,
sesungguhnya pertolongan Allah itu
amat dekat.” (QS. Al-Baqarah [2] : 214) Dan tawakkal kepada Allah ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻰﻟﺎﻌﺗ yang dituntut ialah tawakkal yang sempurna dan totalitas, bukan
tawakkal yang parsial atau
setengah-setengah. Tawakkal yang
dituntut bukan hanya tawakkal
kepada Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ dalam memohon pertolongan, yaitu dalam
bentuk do’a, sholat lima waktu secara disiplin dan tepat waktu
berjamaah di masjid, sholat tahajjud
di tengah malam, berpuasa baik
wajib maupun sunnah dan berbagai
bentuk ibadah ritual lainnya.
Tawakkal yang ditunutut hendaknya meliputi kefahaman dan keyakinan
bahwa Islam mencakup baik urusan
ritual, individual, sosial, politik,
ekonomi, budaya, militer maupun
segenap aspek kehidupan lainnya.
Ia tidak mau menyerahkan urusan ibadahnya menurut ajaran Islam,
namun urusan falsafah hidup
bermasyarakat dan bernegara
diserahkan kepada man-made
ideologies (ideologi bikinan
manusia). Ia tidak rela mengembangkan aspek ekonomi
menurut aturan syariah sementara
urusan politik berjalan mengikuti
sistem politik produk kaum barat
Yahudi-Nasrani. Sebab sikap seperti
itu bukanlah bentuk sempurna bertawakkal kepada Allah ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻰﻟﺎﻌﺗ semata. Tawakkal sempurna kepada Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ akan menuntut orang-orang beriman supaya
mengembalikan segenap urusan
kepada petunjuk, aturan dan hukum
Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ dan sesuai dengan tuntunan teladan utama
orang-orang beriman yakni Nabi
Muhammad ﻢﻠﺳ ﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ . Demikianlah Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ gambarkan potret kumpulan
manusia beriman terbaik yang selalu
menghiasi panggung sejarah dunia. َﻝﻮُﺳَّﺮﻟﺍَﻭ َﻪَّﻠﻟﺍ ِﻊِﻄُﻳ ْﻦَﻣَﻭ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻢَﻌْﻧَﺃ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ َﻊَﻣ َﻚِﺌَﻟﻭُﺄَﻓ َﻦﻴِّﻴِﺒَّﻨﻟﺍ َﻦِﻣ ْﻢِﻬْﻴَﻠَﻋ ِﺀﺍَﺪَﻬُّﺸﻟﺍَﻭ َﻦﻴِﻘﻳِّﺪِّﺼﻟﺍَﻭ َﻚِﺌَﻟﻭُﺃ َﻦُﺴَﺣَﻭ َﻦﻴِﺤِﻟﺎَّﺼﻟﺍَﻭ ﺎًﻘﻴِﻓَﺭ Dan barang siapa yang mentaati
Allah dan Rasul (Nya), mereka itu
akan bersama-sama dengan orang-
orang yang dianugerahi nikmat oleh
Allah, yaitu: Nabi-nabi, para
shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan
mereka itulah teman yang sebaik-
baiknya. (QS. An-Nisa [4] : 69) Kumpulan para Nabi-nabi, para
shiddiiqiin, orang-orang yang mati
syahid dan orang-orang saleh
merupakan manusia-manusia yang
senantiasa istiqomah di atas jalan
lurus yang Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ bentangkan untuk mencapai
keselamatan di dunia dan di akhirat.
Mereka tidak pernah memiliki
keraguan akan kekuasaan dan
kedaulatan Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ . Mereka tidak pernah silau dan
kagum sehingga menjadi inferior
alias keder menyaksikan
kesewenang-wenangan kaum
kuffar ketika Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ izinkan mereka berkuasa sejenak di
dunia. Bila Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ taqdirkan mereka hidup dalam
potongan zaman dimana kaum
kuffar berkolaborasi dengan kaum
munafiq memimpin dunia tanpa
petunjuk Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ , maka kaum beriman ini tidak surut dari
jalan Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ betapapun tidak populernya sikap dan jalan
yang mereka pilih. Orang-orang beriman sejati adalah
mereka yang tidak sudi memilih
petunjuk, arahan, bimbingan kecuali
yang jelas-jelas bersumber dari Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ dan RasulNya Muhammad ﻢﻠﺳ ﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ Mereka tidak akan rela memilih
agama, jalan hidup, way of life selain
Dienullah (agama Allah ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻰﻟﺎﻌﺗ), Dienul-Haq (agama yang benar), Al-Islam. Dan mereka tidak
meragukan sedikitpun agama Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ Al-Islam tersebut. Mereka sangat yakin bahwa agama
Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ harus dilaksanakan secara
keseluruhannya tanpa pemilahan
dan pilih-pilih. Mereka tidak mudah
ditipu oleh ajaran modern sesat
Sekularisme. Suatu ajaran batil yang
menyuruh ummat Islam agar memisahkan urusan agama dengan
urusan kehidupan sehari-hari. Suatu
ajaran yang mengatakan bahwa
agama hendaknya diberlakukan
sebatas dalam urusan kehidupan
pribadi belaka atau di ruang lingkup masjid saja, sedangkan segenap
urusan hidup seperti sosial, politik,
budaya, ekonomi dan lain
sebagainya hendaknya diatur
berdasarkan rumusan teori-teori
modern sesat produk kaum kuffar barat. Justeru orang-orang beriman
sangat yakin dan tawakkal
sepenuhnya kepada dienullah Al-
Islam karena ia adalah sebuah ajaran
yang syamil (menyeluruh), kamil
(sempurna) dan mutakaamil (saling menyempurnakan). Dan mereka
sangat ragu bahkan menolak
berbagai teori, ajaran, konsep,
ideologi, pandangan hidup, aturan
hidup yang bersumber dari selain
Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ Sebab bagaimana mungkin kaum beriman
ragu kepada ajaran Allah ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻰﻟﺎﻌﺗ padahal Dia adalah Yang Menciptakan langit dan bumi dan
segenap makhluk di antara
keduanya. Sementara apa yang telah
dibikin oleh para manusia kuffar
yang katanya cerdas dan berhasil
menelorkan berbagai teori, konsep, ideologi, pandangan hidup, aturan
hidup yang pantas menjadi
pegangan dalam kehidupan
bermasyarakat dan bernegara di era
modern ini? Saudaraku, sudah tiba masanya bagi
kita ummat Islam yang mengaku
beriman untuk secara serius ber-
tawakkal hanya kepada Allah ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ dan segenap ajaranNya. Hendaknya kita berusaha
mengokohkan keyakinan kita
bahwa hanya dengan kembali
kepada Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ sebagai Rabb, Al-Islam sebagai dien (jalan
hidup) dan Nabi Muhammad ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻢﻠﺳ ﻭ ﻪﻴﻠﻋ sebagai teladan utama serta Al-Quranul Karim sebagai
dustur (konstitusi) sajalah kita akan
memperoleh pertolongan Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ Hanya dengan bertawakkal dalam
arti sebenarnya kepada Allah ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ sajalah kita bakal sukses menghadapi berbagai fitnah yang
mengelilingi hidup kita di era Akhir
Zaman ini. Mari saudaraku, kita
pastikan diri dan keluarga kita
semuanya benar-benar hanya dan
hanya ber-tawakkal kepada Rabb, Pencipta, Pemilik, Pemelihara dan
Penguasa alam raya, yakni Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ . Jika semakin hari semakin banyak ummat Islam yang
bersikap demikian, maka percayalah
insya Allah pertolongan Allah ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ tidak lama lagi akan datang menghampiri ummat Islam. Amiin ya
Rabbal ‘aalamiin. َﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ ﺍﻮُﻠُﺧْﺪَﺗ ْﻥَﺃ ْﻢُﺘْﺒِﺴَﺣ ْﻡَﺃ ﺍْﻮَﻠَﺧ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ُﻞَﺜَﻣ ْﻢُﻜِﺗْﺄَﻳ ﺎَّﻤَﻟَﻭ ُﺀﺎَﺳْﺄَﺒْﻟﺍ ُﻢُﻬْﺘَّﺴَﻣ ْﻢُﻜِﻠْﺒَﻗ ْﻦِﻣ ﻰَّﺘَﺣ ﺍﻮُﻟِﺰْﻟُﺯَﻭ ُﺀﺍَّﺮَّﻀﻟﺍَﻭ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍَﻭ ُﻝﻮُﺳَّﺮﻟﺍ َﻝﻮُﻘَﻳ ﻻَﺃ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﺮْﺼَﻧ ﻰَﺘَﻣ ُﻪَﻌَﻣ ﺍﻮُﻨَﻣﺁ ٌﺐﻳِﺮَﻗ ِﻪَّﻠﻟﺍ َﺮْﺼَﻧ َّﻥِﺇ Apakah kamu mengira bahwa kamu
akan masuk surga, padahal belum
datang kepadamu (cobaan)
sebagaimana halnya orang-orang
terdahulu sebelum kamu? Mereka
ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan
(dengan bermacam-macam cobaan)
sehingga berkatalah Rasul dan
orang-orang yang beriman
bersamanya: "Bilakah datangnya
pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu
amat dekat. (QS. Al-Baqarah [2] :
214) Marilah kita kembangkan diri dan
keluarga kita menjadi kaum beriman
yang benar-benar sabar
menghadapi berbagai ujian dan
cobaan yang kian menghebat di
Akhir Zaman ini. Lalu kita pastikan bahwa jiwa tawakkal kepada Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ menghiasi segenap aspek hidup. Jadilah kaum beriman
yang tidak pernah ragu untuk hanya
dan hanya bergantung kepada Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ dalam keadaan senang maupun susah. (Yaitu) orang-orang (yang menaati
Allah dan Rasul) yang kepada
mereka ada orang-orang yang
mengatakan: "Sesungguhnya
manusia telah mengumpulkan
pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka",
maka perkataan itu menambah
keimanan mereka dan mereka
menjawab: ُﻞﻴِﻛَﻮْﻟﺍ َﻢْﻌِﻧَﻭ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﺎَﻨُﺒْﺴَﺣ "Cukuplah Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ menjadi Penolong kami dan Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ adalah sebaik-baik Pelindung." (QS. Ali Imran [3] : 173)
orang beriman mesti melalui
berbagai ujian terlebih dahulu.
Sebagaimana umat beriman di masa
lalu juga mengalami berbagai ujian.
Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ berfirman: َﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ ﺍﻮُﻠُﺧْﺪَﺗ ْﻥَﺃ ْﻢُﺘْﺒِﺴَﺣ ْﻡَﺃ ﺍْﻮَﻠَﺧ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ُﻞَﺜَﻣ ْﻢُﻜِﺗْﺄَﻳ ﺎَّﻤَﻟَﻭ ُﺀﺎَﺳْﺄَﺒْﻟﺍ ُﻢُﻬْﺘَّﺴَﻣ ْﻢُﻜِﻠْﺒَﻗ ْﻦِﻣ ﻰَّﺘَﺣ ﺍﻮُﻟِﺰْﻟُﺯَﻭ ُﺀﺍَّﺮَّﻀﻟﺍَﻭ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍَﻭ ُﻝﻮُﺳَّﺮﻟﺍ َﻝﻮُﻘَﻳ ﻻَﺃ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﺮْﺼَﻧ ﻰَﺘَﻣ ُﻪَﻌَﻣ ﺍﻮُﻨَﻣﺁ ٌﺐﻳِﺮَﻗ ِﻪَّﻠﻟﺍ َﺮْﺼَﻧ َّﻥِﺇ Apakah kamu mengira bahwa kamu
akan masuk surga, padahal belum
datang kepadamu (cobaan)
sebagaimana halnya orang-orang
terdahulu sebelum kamu? Mereka
ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan
(dengan bermacam-macam cobaan)
sehingga berkatalah Rasul dan
orang-orang yang beriman
bersamanya, "Bilakah datangnya
pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu
amat dekat. (QS Al-Baqarah [2] : 214) Subhaanallah...! Coba bayangkan.
Sudahlah para sahabat memang
sedang menjalani masa sulit dengan
aneka ujian dan cobaan di masa itu.
Tetapi lihatlah bagaimana Nabi
Muhammad ﻢﻠﺳ ﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ mendidik para sahabat untuk
bersabar dan melipat-gandakan
kesabaran. Justeru mendengar apa
yang dikatakan oleh Khabab ibnul
Arat malah Rasulullah ﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻢﻠﺳ memberikan bayangan ujian kesulitan hidup yang jauh lebih
dahsyat yang telah menimpa
generasi terdahulu sebelum para
sahabat. Ujian generasi terdahulu
lebih berat lagi dibandingkan ujian
para sahabat. Padahal apa yang dialami oleh para sahabat-pun
bukanlah ujian dan cobaan yang
ringan..! Bahkan Nabi ﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻢﻠﺳ mengakhiri pesannya kepada Khabab dengan menegurnya secara
keras dan menilainya sebagai bagian
dari golongan yang tidak sabar...!! ﻰَﻟﺎَﻌَﺗَﻭ َﻙَﺭﺎَﺒَﺗ ُﻪَّﻠﻟﺍ َّﻦَّﻤِﺘُﻴَﻟَﻭ َﺮﻴِﺴَﻳ ﻰَّﺘَﺣ َﺮْﻣَﺄْﻟﺍ ﺍَﺬَﻫ ﻰَﻟِﺇ َﺀﺎَﻌْﻨَﺻ َﻦْﻴَﺑ ﺎَﻣ ُﺐِﻛﺍَّﺮﻟﺍ َﻪَّﻠﻟﺍ ﺎَّﻟِﺇ ﻰَﺸْﺨَﻳ ﺎَﻟ َﺕْﻮَﻣَﺮْﻀَﺣ ِﻪِﻤَﻨَﻏ ﻰَﻠَﻋ َﺐْﺋِّﺬﻟﺍَﻭ ﻰَﻟﺎَﻌَﺗ َﻥﻮُﻠَﺠْﻌَﺗ ْﻢُﻜَّﻨِﻜَﻟَﻭ Dan sungguh, benar-benar Allah
Tabaaraka Wa Ta'ala akan
menyempunakan urusan (agama) ini
hingga ada seorang pengendara
berjalan dari Shan'a menuju
Hadarmaut dalam keadaan tidak takut kepada siapa pun kecuali
kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala,
atau khawatir kambingnya akan
dimakan serigala. Akan tetapi kalian
terburu-buru." (HR. Ahmad, No.
20148) Bahkan Nabi ﻢﻠﺳ ﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ menilai Khabab sebagai bagian dari
golongan yang tidak sabar. Padahal
Khabab, seorang pandai besi, adalah
salah seorang sahabat yang telah
mengalami penyiksaan yang
sungguh hebat di masa awal da’wah Islam di Mekkah sebelum hijrah.
Sya'bi, salah satu kawan
sependeritaan Khabab,
menggambarkan kegilaan orang-
orang Quraisy yang menyiksa
Khabab. Orang-orang kafir itu datang kepada Khabab dan
menyeretnya keluar kemudian
menindihnya dengan batu yang
membara, hingga meluluhkan
dagingnya. Namun hati Khabab tak
sedikitpun terpengaruh, justru membuat ia semakin yakin akan
kebenaran risalah yang
diikutinya.Sahabatnya yang lain
menceritakan bahwa orang-orang
kafir itu datang ke rumah Khabab.
Mereka membakar besi-besi yang hendak dijadikan pedang. Kemudian
setelah membara mereka gunakan
untuk tiang mengikat tangan, kaki,
berikut tubuh Khabab. Inilah di antara yang telah dialami
oleh generasi pertama ummat Islam.
Namun Rasulullah ﻢﻠﺳ ﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ menyebut Khabab sebagai “Akan tetapi kalian terburu-buru.” Lalu Nabi Muhammad ﻢﻠﺳ ﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ membandingkan dengan ujian yang
telah dialami oleh ummat beriman di
masa lalu. Seolah ingin mengatakan
bahwa sabar dan meilpatgandakan
kesabaran menghadapi ujian berat
merupakan prasyarat untuk meraih kemenangan dan masuk surga. ْﺖِّﺒَﺛَﻭ ﺍًﺮْﺒَﺻ ﺎَﻨْﻴَﻠَﻋ ْﻍِﺮْﻓَﺃ ﺎَﻨَّﺑَﺭ ِﻡْﻮَﻘْﻟﺍ ﻰَﻠَﻋ ﺎَﻧْﺮُﺼْﻧﺍَﻭ ﺎَﻨَﻣﺍَﺪْﻗَﺃ َﻦﻳِﺮِﻓﺎَﻜْﻟﺍ "Ya Tuhan kami, tuangkanlah
kesabaran atas diri kami, dan
kokohkanlah pendirian kami dan
tolonglah kami terhadap orang-
orang kafir". (QS. Al-Baqarah [2] :
250) Syarat kedua agar orang-orang
beriman meraih kemenangan dan
berhak masuk taman keabadian
penuh kenikmatan (yakni surga)
ialah keharusan bertawakkal semata
kepada Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ . Bilamana berbagai ujian dan
penderitaan yang dialami kaum
mukminin telah sampai ke derajat
dimana orang-orang beriman
tersebut hanya memohon
pertolongan kepada Allah ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻰﻟﺎﻌﺗ semata, maka pada saat itulah justeru pertolongan Allah ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻰﻟﺎﻌﺗ akan segera datang. Dan tawakkal kepada Allah ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻰﻟﺎﻌﺗ tersebut haruslah merata berlaku di segenap lini barisan kaum
mukminin, baik Rasul maupun para
pengikutnya, baik pemimpin
maupun pengikutnya. Tidak boleh
ada satupun lapisan kaum mukminin
yang mengharapkan selain pertolongan Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ . Jangan sampai lapisan grassroot
(akar rumput) para pengikut
misalnya berharap kepada Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ , namun jajaran para pemimpin malah ada yang diam-
diam mengharapkan bantuan dari
kaum kuffar ataupun kaum
munafik..! َﻦﻳِﺬَّﻟﺍَﻭ ُﻝﻮُﺳَّﺮﻟﺍ َﻝﻮُﻘَﻳ ﻰَّﺘَﺣ ﻻَﺃ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﺮْﺼَﻧ ﻰَﺘَﻣ ُﻪَﻌَﻣ ﺍﻮُﻨَﻣﺁ ٌﺐﻳِﺮَﻗ ِﻪَّﻠﻟﺍ َﺮْﺼَﻧ َّﻥِﺇ “...sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman
bersamanya: "Bilakah datangnya
pertolongan Allah?" Ingatlah,
sesungguhnya pertolongan Allah itu
amat dekat.” (QS. Al-Baqarah [2] : 214) Dan tawakkal kepada Allah ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻰﻟﺎﻌﺗ yang dituntut ialah tawakkal yang sempurna dan totalitas, bukan
tawakkal yang parsial atau
setengah-setengah. Tawakkal yang
dituntut bukan hanya tawakkal
kepada Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ dalam memohon pertolongan, yaitu dalam
bentuk do’a, sholat lima waktu secara disiplin dan tepat waktu
berjamaah di masjid, sholat tahajjud
di tengah malam, berpuasa baik
wajib maupun sunnah dan berbagai
bentuk ibadah ritual lainnya.
Tawakkal yang ditunutut hendaknya meliputi kefahaman dan keyakinan
bahwa Islam mencakup baik urusan
ritual, individual, sosial, politik,
ekonomi, budaya, militer maupun
segenap aspek kehidupan lainnya.
Ia tidak mau menyerahkan urusan ibadahnya menurut ajaran Islam,
namun urusan falsafah hidup
bermasyarakat dan bernegara
diserahkan kepada man-made
ideologies (ideologi bikinan
manusia). Ia tidak rela mengembangkan aspek ekonomi
menurut aturan syariah sementara
urusan politik berjalan mengikuti
sistem politik produk kaum barat
Yahudi-Nasrani. Sebab sikap seperti
itu bukanlah bentuk sempurna bertawakkal kepada Allah ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻰﻟﺎﻌﺗ semata. Tawakkal sempurna kepada Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ akan menuntut orang-orang beriman supaya
mengembalikan segenap urusan
kepada petunjuk, aturan dan hukum
Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ dan sesuai dengan tuntunan teladan utama
orang-orang beriman yakni Nabi
Muhammad ﻢﻠﺳ ﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ . Demikianlah Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ gambarkan potret kumpulan
manusia beriman terbaik yang selalu
menghiasi panggung sejarah dunia. َﻝﻮُﺳَّﺮﻟﺍَﻭ َﻪَّﻠﻟﺍ ِﻊِﻄُﻳ ْﻦَﻣَﻭ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻢَﻌْﻧَﺃ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ َﻊَﻣ َﻚِﺌَﻟﻭُﺄَﻓ َﻦﻴِّﻴِﺒَّﻨﻟﺍ َﻦِﻣ ْﻢِﻬْﻴَﻠَﻋ ِﺀﺍَﺪَﻬُّﺸﻟﺍَﻭ َﻦﻴِﻘﻳِّﺪِّﺼﻟﺍَﻭ َﻚِﺌَﻟﻭُﺃ َﻦُﺴَﺣَﻭ َﻦﻴِﺤِﻟﺎَّﺼﻟﺍَﻭ ﺎًﻘﻴِﻓَﺭ Dan barang siapa yang mentaati
Allah dan Rasul (Nya), mereka itu
akan bersama-sama dengan orang-
orang yang dianugerahi nikmat oleh
Allah, yaitu: Nabi-nabi, para
shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan
mereka itulah teman yang sebaik-
baiknya. (QS. An-Nisa [4] : 69) Kumpulan para Nabi-nabi, para
shiddiiqiin, orang-orang yang mati
syahid dan orang-orang saleh
merupakan manusia-manusia yang
senantiasa istiqomah di atas jalan
lurus yang Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ bentangkan untuk mencapai
keselamatan di dunia dan di akhirat.
Mereka tidak pernah memiliki
keraguan akan kekuasaan dan
kedaulatan Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ . Mereka tidak pernah silau dan
kagum sehingga menjadi inferior
alias keder menyaksikan
kesewenang-wenangan kaum
kuffar ketika Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ izinkan mereka berkuasa sejenak di
dunia. Bila Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ taqdirkan mereka hidup dalam
potongan zaman dimana kaum
kuffar berkolaborasi dengan kaum
munafiq memimpin dunia tanpa
petunjuk Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ , maka kaum beriman ini tidak surut dari
jalan Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ betapapun tidak populernya sikap dan jalan
yang mereka pilih. Orang-orang beriman sejati adalah
mereka yang tidak sudi memilih
petunjuk, arahan, bimbingan kecuali
yang jelas-jelas bersumber dari Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ dan RasulNya Muhammad ﻢﻠﺳ ﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ Mereka tidak akan rela memilih
agama, jalan hidup, way of life selain
Dienullah (agama Allah ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻰﻟﺎﻌﺗ), Dienul-Haq (agama yang benar), Al-Islam. Dan mereka tidak
meragukan sedikitpun agama Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ Al-Islam tersebut. Mereka sangat yakin bahwa agama
Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ harus dilaksanakan secara
keseluruhannya tanpa pemilahan
dan pilih-pilih. Mereka tidak mudah
ditipu oleh ajaran modern sesat
Sekularisme. Suatu ajaran batil yang
menyuruh ummat Islam agar memisahkan urusan agama dengan
urusan kehidupan sehari-hari. Suatu
ajaran yang mengatakan bahwa
agama hendaknya diberlakukan
sebatas dalam urusan kehidupan
pribadi belaka atau di ruang lingkup masjid saja, sedangkan segenap
urusan hidup seperti sosial, politik,
budaya, ekonomi dan lain
sebagainya hendaknya diatur
berdasarkan rumusan teori-teori
modern sesat produk kaum kuffar barat. Justeru orang-orang beriman
sangat yakin dan tawakkal
sepenuhnya kepada dienullah Al-
Islam karena ia adalah sebuah ajaran
yang syamil (menyeluruh), kamil
(sempurna) dan mutakaamil (saling menyempurnakan). Dan mereka
sangat ragu bahkan menolak
berbagai teori, ajaran, konsep,
ideologi, pandangan hidup, aturan
hidup yang bersumber dari selain
Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ Sebab bagaimana mungkin kaum beriman
ragu kepada ajaran Allah ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻰﻟﺎﻌﺗ padahal Dia adalah Yang Menciptakan langit dan bumi dan
segenap makhluk di antara
keduanya. Sementara apa yang telah
dibikin oleh para manusia kuffar
yang katanya cerdas dan berhasil
menelorkan berbagai teori, konsep, ideologi, pandangan hidup, aturan
hidup yang pantas menjadi
pegangan dalam kehidupan
bermasyarakat dan bernegara di era
modern ini? Saudaraku, sudah tiba masanya bagi
kita ummat Islam yang mengaku
beriman untuk secara serius ber-
tawakkal hanya kepada Allah ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ dan segenap ajaranNya. Hendaknya kita berusaha
mengokohkan keyakinan kita
bahwa hanya dengan kembali
kepada Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ sebagai Rabb, Al-Islam sebagai dien (jalan
hidup) dan Nabi Muhammad ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻢﻠﺳ ﻭ ﻪﻴﻠﻋ sebagai teladan utama serta Al-Quranul Karim sebagai
dustur (konstitusi) sajalah kita akan
memperoleh pertolongan Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ Hanya dengan bertawakkal dalam
arti sebenarnya kepada Allah ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ sajalah kita bakal sukses menghadapi berbagai fitnah yang
mengelilingi hidup kita di era Akhir
Zaman ini. Mari saudaraku, kita
pastikan diri dan keluarga kita
semuanya benar-benar hanya dan
hanya ber-tawakkal kepada Rabb, Pencipta, Pemilik, Pemelihara dan
Penguasa alam raya, yakni Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ . Jika semakin hari semakin banyak ummat Islam yang
bersikap demikian, maka percayalah
insya Allah pertolongan Allah ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ tidak lama lagi akan datang menghampiri ummat Islam. Amiin ya
Rabbal ‘aalamiin. َﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ ﺍﻮُﻠُﺧْﺪَﺗ ْﻥَﺃ ْﻢُﺘْﺒِﺴَﺣ ْﻡَﺃ ﺍْﻮَﻠَﺧ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ُﻞَﺜَﻣ ْﻢُﻜِﺗْﺄَﻳ ﺎَّﻤَﻟَﻭ ُﺀﺎَﺳْﺄَﺒْﻟﺍ ُﻢُﻬْﺘَّﺴَﻣ ْﻢُﻜِﻠْﺒَﻗ ْﻦِﻣ ﻰَّﺘَﺣ ﺍﻮُﻟِﺰْﻟُﺯَﻭ ُﺀﺍَّﺮَّﻀﻟﺍَﻭ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍَﻭ ُﻝﻮُﺳَّﺮﻟﺍ َﻝﻮُﻘَﻳ ﻻَﺃ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﺮْﺼَﻧ ﻰَﺘَﻣ ُﻪَﻌَﻣ ﺍﻮُﻨَﻣﺁ ٌﺐﻳِﺮَﻗ ِﻪَّﻠﻟﺍ َﺮْﺼَﻧ َّﻥِﺇ Apakah kamu mengira bahwa kamu
akan masuk surga, padahal belum
datang kepadamu (cobaan)
sebagaimana halnya orang-orang
terdahulu sebelum kamu? Mereka
ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan
(dengan bermacam-macam cobaan)
sehingga berkatalah Rasul dan
orang-orang yang beriman
bersamanya: "Bilakah datangnya
pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu
amat dekat. (QS. Al-Baqarah [2] :
214) Marilah kita kembangkan diri dan
keluarga kita menjadi kaum beriman
yang benar-benar sabar
menghadapi berbagai ujian dan
cobaan yang kian menghebat di
Akhir Zaman ini. Lalu kita pastikan bahwa jiwa tawakkal kepada Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ menghiasi segenap aspek hidup. Jadilah kaum beriman
yang tidak pernah ragu untuk hanya
dan hanya bergantung kepada Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ dalam keadaan senang maupun susah. (Yaitu) orang-orang (yang menaati
Allah dan Rasul) yang kepada
mereka ada orang-orang yang
mengatakan: "Sesungguhnya
manusia telah mengumpulkan
pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka",
maka perkataan itu menambah
keimanan mereka dan mereka
menjawab: ُﻞﻴِﻛَﻮْﻟﺍ َﻢْﻌِﻧَﻭ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﺎَﻨُﺒْﺴَﺣ "Cukuplah Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ menjadi Penolong kami dan Allah ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ adalah sebaik-baik Pelindung." (QS. Ali Imran [3] : 173)
Kematian Orang Beriman
Keyakinan orang beriman akan
adanya kehidupan sesudah
kematian menyebabkan dirinya
selalu berada dalam mode standby
menghadapi kematian. Ia
memandang kematian sebagai suatu keniscayaan. Tidak seperti orang
kafir yang selalu saja berusaha
untuk menghindari kematian. Orang
beriman sangat dipengaruhi oleh
pesan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam yang bersabda: َﻝﺎَﻗ َﻝﺎَﻗ َﺓَﺮْﻳَﺮُﻫ ﻲِﺑَﺃ ْﻦَﻋ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﻝﻮُﺳَﺭ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﺕﺍَّﺬَّﻠﻟﺍ ِﻡِﺫﺎَﻫ َﺮْﻛِﺫ ﺍﻭُﺮِﺜْﻛَﺃ َﺕْﻮَﻤْﻟﺍ ﻲِﻨْﻌَﻳ “Banyak-banyaklah mengingat penghapus kenikmatan, yakni
kematian.” (HR Tirmidzi 2229) Sedangkan sahabat Ali bin Abi Thalib
radhiyallahu ’anhu pernah berkata: “Bila manusia meninggal dunia, maka pada saat itulah ia bangun dari
tidurnya.” Subhanallah...! Berarti beliau ingin mengatakan bahwa
manusia yang menemui ajalnya
adalah manusia yang justru baru
mulai menjalani kehidupan
sebenarnya, sedangkan kita yang
masih hidup di dunia ini justru masih ”belum bangun”. Sungguh, ucapan ini sangat sejalan dengan firman
Allah ta’aala: ﺎَّﻟِﺇ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ ُﺓﺎَﻴَﺤْﻟﺍ ِﻩِﺬَﻫ ﺎَﻣَﻭ َﺓَﺮِﺧَﺂْﻟﺍ َﺭﺍَّﺪﻟﺍ َّﻥِﺇَﻭ ٌﺐِﻌَﻟَﻭ ٌﻮْﻬَﻟ ﺍﻮُﻧﺎَﻛ ْﻮَﻟ ُﻥﺍَﻮَﻴَﺤْﻟﺍ َﻲِﻬَﻟ َﻥﻮُﻤَﻠْﻌَﻳ “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-
main. Dan sesungguhnya akhirat
itulah yang sebenarnya kehidupan,
kalau mereka mengetahui” (QS Al- Ankabut 64) Pantas bilamana Ali radhiyallahu
’anhu pula yang berkata: “Dunia pergi menjauh dan akhirat datang
mendekat. Karena itu, jadilah kalian
anak-anak akhirat, jangan menjadi
budak-budak dunia. Sekarang
waktunya beramal, dan tidak ada
penghisaban. Sedangkan besok waktunya penghisaban, tidak ada
amal.” Bagaimanakah kematian orang
beriman? Dalam sebuah hadits Nabi
shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ِﻦْﺑ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﺪْﺒَﻋ ْﻦَﻋ َﺓَﺩﺎَﺘَﻗ ْﻦَﻋ ِﻪﻴِﺑَﺃ ْﻦَﻋ َﺓَﺪْﻳَﺮُﺑ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ ْﻦَﻋ َﻦِﻣْﺆُﻤْﻟﺍ َّﻥِﺇ َﻝﺎَﻗ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻦﻴِﺒَﺠْﻟﺍ ِﻕَﺮَﻌِﺑ ُﺕﻮُﻤَﻳ “Orang beriman meninggal dengan kening penuh keringat.” (HR Ahmad 21886) Penulis produktif Aidh Al-Qarni
menulis: ”Saya menyeru setiap orang tua agar mengingat kematian. Sadar
bahwa dirinya sudah mendekat
maut serta tidak mungkin bisa lari
darinya. Jadi, siapkan diri untuk
menemui Allah. Karena itu, sudah
sepantasnya ia menjauhi akhir kehidupan yang jelek dan
memperbanyak amal kebaikan
sehingga dapat berjumpa dengan
Allah ta’aala dalam keadaan diridhai.” Ambillah keteladanan dari kematian
Khalifah Umar bin Khattab
radhiyallahu ’anhu. Ia ditikam oleh Abu Lu’luah saat sedang mengimami sholat subuh. Umarpun jatuh
tersungkur bersimbah darah. Dalam
keadaan seperti itu ia tidak ingat
isteri, anak, harta, keluarga, sanak
saudara atau kekuasaannya. Yang ia
ingat hanyalah ”Laa ilaha illallah Muhammad rasulullah, hasbiyallah
wa ni’mal wakil.” Setelah itu ia bertanya kepada sahabatnya:
”Siapakah yang telah menikamku ?” ”Kau ditikam oleh Abu Lu ’luah Al- Majusi.” Umar radhiyallahu ’anhu lalu berkata: ”Segala puji bagi Allah ta’aala yang membuatku terbunuh di tangan orang yang tidak pernah
bersujud kepada-Nya walau hanya
sekali.” Umar-pun mati syahid. Ketika Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam menghadapi sakaratul
maut beliau mengambil secarik kain
dan menaruhnya di wajah beliau
karena parahnya kondisi yang
beliau hadapi. Lalu beliau berdoa: ﻪﻠﻟﺍ ﻻﺍ ﻪﻟﺇ ﻻ ... ﻻﺍ ﻪﻟﺇ ﻻ ﻪﻠﻟﺍ ... ﻥﺇ ﻪﻠﻟﺍ ﻻﺍ ﻪﻟﺇ ﻻ ﺕﺍﺮﻜﺴﻟ ﺕﻮﻤﻠﻟ ... ﺕﺍﺮﻜﺳ ﻰﻠﻋ ﻲﻨﻋﺃ ﻢﻬﻠﻟﺍ ﺕﻮﻤﻟﺍ ... ﻲﻠﻋ ﻒﻔﺧ ﻢﻬﻠﻟﺍ ﺕﻮﻤﻟﺍ ﺕﺍﺮﻜﺳ “Laa ilaha illallah… Laa ilaha illallah… Laa ilaha illalla. Sungguh kematian itu
sangat pedih. Ya Allah, bantulah aku
menghadapi sakratul maut. Ya Allah,
ringankanlah sakratul maut itu
buatku.” (HR Bukhary-Muslim) Aisyah radhiyallahu ’anha menuturkan: “Demi Allah, beliau mencelupkan kain itu ke air lalu
meletakkannya di atas wajah beliau
seraya berdoa: ِﺕﺍَﺮَﻜَﺳ َﻰﻠَﻋ ِّﻲﻨِﻋَﺃ َّﻢُﻬّﻠﻟﺍ ِﺕﻮَﻤْﻟﺍ ”Ya Allah, bantulah aku menghadapi sakratul maut.” Saudaraku, marilah kita
mempersiapkan diri untuk
menghadapi kematian yang bisa
datang kapan saja. Kematian yang
sungguh mengandung kepedihan
bagi setiap manusia yang mengalaminya. Hingga kekasih Allah
ta’aala saja, yakni Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam berdoa agar Allah ta’aala ringankan bagi dirinya sakaratul maut. Tidak ada
seorangpun yang tidak bakal
merasakan kepedihan sakratul maut. ِﺕْﻮَﻤْﻟﺍ ُﺔَﻘِﺋﺍَﺫ ٍﺲْﻔَﻧ ُّﻞُﻛ “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS Ali Imran 185) Marilah saudaraku, kita
mempersiapkan diri menghadapi
kematian dengan segera bertaubat
memohon ampunan dan rahmat
Allah ta’aala sebelum terlambat. Sebab begitulah kematian orang
kafir. Suatu bentuk kematian yang
diwarnai penyesalan yang sungguh
terlambat. ُﺕْﻮَﻤْﻟﺍ ُﻢُﻫَﺪَﺣَﺃ َﺀﺎَﺟ ﺍَﺫِﺇ ﻰَّﺘَﺣ ﻲِّﻠَﻌَﻟ ِﻥﻮُﻌِﺟْﺭﺍ ِّﺏَﺭ َﻝﺎَﻗ ﺎًﺤِﻟﺎَﺻ ُﻞَﻤْﻋَﺃ ٌﺔَﻤِﻠَﻛ ﺎَﻬَّﻧِﺇ ﺎَّﻠَﻛ ُﺖْﻛَﺮَﺗ ﺎَﻤﻴِﻓ ْﻢِﻬِﺋﺍَﺭَﻭ ْﻦِﻣَﻭ ﺎَﻬُﻠِﺋﺎَﻗ َﻮُﻫ َﻥﻮُﺜَﻌْﺒُﻳ ِﻡْﻮَﻳ ﻰَﻟِﺇ ٌﺥَﺯْﺮَﺑ “(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang
kematian kepada seseorang dari
mereka, dia berkata, "Ya Tuhanku
kembalikanlah aku (ke dunia), agar
aku berbuat amal yang saleh
terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu
adalah perkataan yang
diucapkannya saja. Dan di hadapan
mereka ada barzakh (dinding)
sampai hari mereka
dibangkitkan.” (QS Al-Mu’minun 99-100)
adanya kehidupan sesudah
kematian menyebabkan dirinya
selalu berada dalam mode standby
menghadapi kematian. Ia
memandang kematian sebagai suatu keniscayaan. Tidak seperti orang
kafir yang selalu saja berusaha
untuk menghindari kematian. Orang
beriman sangat dipengaruhi oleh
pesan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam yang bersabda: َﻝﺎَﻗ َﻝﺎَﻗ َﺓَﺮْﻳَﺮُﻫ ﻲِﺑَﺃ ْﻦَﻋ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﻝﻮُﺳَﺭ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﺕﺍَّﺬَّﻠﻟﺍ ِﻡِﺫﺎَﻫ َﺮْﻛِﺫ ﺍﻭُﺮِﺜْﻛَﺃ َﺕْﻮَﻤْﻟﺍ ﻲِﻨْﻌَﻳ “Banyak-banyaklah mengingat penghapus kenikmatan, yakni
kematian.” (HR Tirmidzi 2229) Sedangkan sahabat Ali bin Abi Thalib
radhiyallahu ’anhu pernah berkata: “Bila manusia meninggal dunia, maka pada saat itulah ia bangun dari
tidurnya.” Subhanallah...! Berarti beliau ingin mengatakan bahwa
manusia yang menemui ajalnya
adalah manusia yang justru baru
mulai menjalani kehidupan
sebenarnya, sedangkan kita yang
masih hidup di dunia ini justru masih ”belum bangun”. Sungguh, ucapan ini sangat sejalan dengan firman
Allah ta’aala: ﺎَّﻟِﺇ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ ُﺓﺎَﻴَﺤْﻟﺍ ِﻩِﺬَﻫ ﺎَﻣَﻭ َﺓَﺮِﺧَﺂْﻟﺍ َﺭﺍَّﺪﻟﺍ َّﻥِﺇَﻭ ٌﺐِﻌَﻟَﻭ ٌﻮْﻬَﻟ ﺍﻮُﻧﺎَﻛ ْﻮَﻟ ُﻥﺍَﻮَﻴَﺤْﻟﺍ َﻲِﻬَﻟ َﻥﻮُﻤَﻠْﻌَﻳ “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-
main. Dan sesungguhnya akhirat
itulah yang sebenarnya kehidupan,
kalau mereka mengetahui” (QS Al- Ankabut 64) Pantas bilamana Ali radhiyallahu
’anhu pula yang berkata: “Dunia pergi menjauh dan akhirat datang
mendekat. Karena itu, jadilah kalian
anak-anak akhirat, jangan menjadi
budak-budak dunia. Sekarang
waktunya beramal, dan tidak ada
penghisaban. Sedangkan besok waktunya penghisaban, tidak ada
amal.” Bagaimanakah kematian orang
beriman? Dalam sebuah hadits Nabi
shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ِﻦْﺑ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﺪْﺒَﻋ ْﻦَﻋ َﺓَﺩﺎَﺘَﻗ ْﻦَﻋ ِﻪﻴِﺑَﺃ ْﻦَﻋ َﺓَﺪْﻳَﺮُﺑ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ ْﻦَﻋ َﻦِﻣْﺆُﻤْﻟﺍ َّﻥِﺇ َﻝﺎَﻗ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻦﻴِﺒَﺠْﻟﺍ ِﻕَﺮَﻌِﺑ ُﺕﻮُﻤَﻳ “Orang beriman meninggal dengan kening penuh keringat.” (HR Ahmad 21886) Penulis produktif Aidh Al-Qarni
menulis: ”Saya menyeru setiap orang tua agar mengingat kematian. Sadar
bahwa dirinya sudah mendekat
maut serta tidak mungkin bisa lari
darinya. Jadi, siapkan diri untuk
menemui Allah. Karena itu, sudah
sepantasnya ia menjauhi akhir kehidupan yang jelek dan
memperbanyak amal kebaikan
sehingga dapat berjumpa dengan
Allah ta’aala dalam keadaan diridhai.” Ambillah keteladanan dari kematian
Khalifah Umar bin Khattab
radhiyallahu ’anhu. Ia ditikam oleh Abu Lu’luah saat sedang mengimami sholat subuh. Umarpun jatuh
tersungkur bersimbah darah. Dalam
keadaan seperti itu ia tidak ingat
isteri, anak, harta, keluarga, sanak
saudara atau kekuasaannya. Yang ia
ingat hanyalah ”Laa ilaha illallah Muhammad rasulullah, hasbiyallah
wa ni’mal wakil.” Setelah itu ia bertanya kepada sahabatnya:
”Siapakah yang telah menikamku ?” ”Kau ditikam oleh Abu Lu ’luah Al- Majusi.” Umar radhiyallahu ’anhu lalu berkata: ”Segala puji bagi Allah ta’aala yang membuatku terbunuh di tangan orang yang tidak pernah
bersujud kepada-Nya walau hanya
sekali.” Umar-pun mati syahid. Ketika Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam menghadapi sakaratul
maut beliau mengambil secarik kain
dan menaruhnya di wajah beliau
karena parahnya kondisi yang
beliau hadapi. Lalu beliau berdoa: ﻪﻠﻟﺍ ﻻﺍ ﻪﻟﺇ ﻻ ... ﻻﺍ ﻪﻟﺇ ﻻ ﻪﻠﻟﺍ ... ﻥﺇ ﻪﻠﻟﺍ ﻻﺍ ﻪﻟﺇ ﻻ ﺕﺍﺮﻜﺴﻟ ﺕﻮﻤﻠﻟ ... ﺕﺍﺮﻜﺳ ﻰﻠﻋ ﻲﻨﻋﺃ ﻢﻬﻠﻟﺍ ﺕﻮﻤﻟﺍ ... ﻲﻠﻋ ﻒﻔﺧ ﻢﻬﻠﻟﺍ ﺕﻮﻤﻟﺍ ﺕﺍﺮﻜﺳ “Laa ilaha illallah… Laa ilaha illallah… Laa ilaha illalla. Sungguh kematian itu
sangat pedih. Ya Allah, bantulah aku
menghadapi sakratul maut. Ya Allah,
ringankanlah sakratul maut itu
buatku.” (HR Bukhary-Muslim) Aisyah radhiyallahu ’anha menuturkan: “Demi Allah, beliau mencelupkan kain itu ke air lalu
meletakkannya di atas wajah beliau
seraya berdoa: ِﺕﺍَﺮَﻜَﺳ َﻰﻠَﻋ ِّﻲﻨِﻋَﺃ َّﻢُﻬّﻠﻟﺍ ِﺕﻮَﻤْﻟﺍ ”Ya Allah, bantulah aku menghadapi sakratul maut.” Saudaraku, marilah kita
mempersiapkan diri untuk
menghadapi kematian yang bisa
datang kapan saja. Kematian yang
sungguh mengandung kepedihan
bagi setiap manusia yang mengalaminya. Hingga kekasih Allah
ta’aala saja, yakni Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam berdoa agar Allah ta’aala ringankan bagi dirinya sakaratul maut. Tidak ada
seorangpun yang tidak bakal
merasakan kepedihan sakratul maut. ِﺕْﻮَﻤْﻟﺍ ُﺔَﻘِﺋﺍَﺫ ٍﺲْﻔَﻧ ُّﻞُﻛ “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS Ali Imran 185) Marilah saudaraku, kita
mempersiapkan diri menghadapi
kematian dengan segera bertaubat
memohon ampunan dan rahmat
Allah ta’aala sebelum terlambat. Sebab begitulah kematian orang
kafir. Suatu bentuk kematian yang
diwarnai penyesalan yang sungguh
terlambat. ُﺕْﻮَﻤْﻟﺍ ُﻢُﻫَﺪَﺣَﺃ َﺀﺎَﺟ ﺍَﺫِﺇ ﻰَّﺘَﺣ ﻲِّﻠَﻌَﻟ ِﻥﻮُﻌِﺟْﺭﺍ ِّﺏَﺭ َﻝﺎَﻗ ﺎًﺤِﻟﺎَﺻ ُﻞَﻤْﻋَﺃ ٌﺔَﻤِﻠَﻛ ﺎَﻬَّﻧِﺇ ﺎَّﻠَﻛ ُﺖْﻛَﺮَﺗ ﺎَﻤﻴِﻓ ْﻢِﻬِﺋﺍَﺭَﻭ ْﻦِﻣَﻭ ﺎَﻬُﻠِﺋﺎَﻗ َﻮُﻫ َﻥﻮُﺜَﻌْﺒُﻳ ِﻡْﻮَﻳ ﻰَﻟِﺇ ٌﺥَﺯْﺮَﺑ “(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang
kematian kepada seseorang dari
mereka, dia berkata, "Ya Tuhanku
kembalikanlah aku (ke dunia), agar
aku berbuat amal yang saleh
terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu
adalah perkataan yang
diucapkannya saja. Dan di hadapan
mereka ada barzakh (dinding)
sampai hari mereka
dibangkitkan.” (QS Al-Mu’minun 99-100)
Kematian Orang Beriman
Keyakinan orang beriman akan
adanya kehidupan sesudah
kematian menyebabkan dirinya
selalu berada dalam mode standby
menghadapi kematian. Ia
memandang kematian sebagai suatu keniscayaan. Tidak seperti orang
kafir yang selalu saja berusaha
untuk menghindari kematian. Orang
beriman sangat dipengaruhi oleh
pesan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam yang bersabda: َﻝﺎَﻗ َﻝﺎَﻗ َﺓَﺮْﻳَﺮُﻫ ﻲِﺑَﺃ ْﻦَﻋ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﻝﻮُﺳَﺭ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﺕﺍَّﺬَّﻠﻟﺍ ِﻡِﺫﺎَﻫ َﺮْﻛِﺫ ﺍﻭُﺮِﺜْﻛَﺃ َﺕْﻮَﻤْﻟﺍ ﻲِﻨْﻌَﻳ “Banyak-banyaklah mengingat penghapus kenikmatan, yakni
kematian.” (HR Tirmidzi 2229) Sedangkan sahabat Ali bin Abi Thalib
radhiyallahu ’anhu pernah berkata: “Bila manusia meninggal dunia, maka pada saat itulah ia bangun dari
tidurnya.” Subhanallah...! Berarti beliau ingin mengatakan bahwa
manusia yang menemui ajalnya
adalah manusia yang justru baru
mulai menjalani kehidupan
sebenarnya, sedangkan kita yang
masih hidup di dunia ini justru masih ”belum bangun”. Sungguh, ucapan ini sangat sejalan dengan firman
Allah ta’aala: ﺎَّﻟِﺇ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ ُﺓﺎَﻴَﺤْﻟﺍ ِﻩِﺬَﻫ ﺎَﻣَﻭ َﺓَﺮِﺧَﺂْﻟﺍ َﺭﺍَّﺪﻟﺍ َّﻥِﺇَﻭ ٌﺐِﻌَﻟَﻭ ٌﻮْﻬَﻟ ﺍﻮُﻧﺎَﻛ ْﻮَﻟ ُﻥﺍَﻮَﻴَﺤْﻟﺍ َﻲِﻬَﻟ َﻥﻮُﻤَﻠْﻌَﻳ “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-
main. Dan sesungguhnya akhirat
itulah yang sebenarnya kehidupan,
kalau mereka mengetahui” (QS Al- Ankabut 64) Pantas bilamana Ali radhiyallahu
’anhu pula yang berkata: “Dunia pergi menjauh dan akhirat datang
mendekat. Karena itu, jadilah kalian
anak-anak akhirat, jangan menjadi
budak-budak dunia. Sekarang
waktunya beramal, dan tidak ada
penghisaban. Sedangkan besok waktunya penghisaban, tidak ada
amal.” Bagaimanakah kematian orang
beriman? Dalam sebuah hadits Nabi
shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ِﻦْﺑ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﺪْﺒَﻋ ْﻦَﻋ َﺓَﺩﺎَﺘَﻗ ْﻦَﻋ ِﻪﻴِﺑَﺃ ْﻦَﻋ َﺓَﺪْﻳَﺮُﺑ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ ْﻦَﻋ َﻦِﻣْﺆُﻤْﻟﺍ َّﻥِﺇ َﻝﺎَﻗ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻦﻴِﺒَﺠْﻟﺍ ِﻕَﺮَﻌِﺑ ُﺕﻮُﻤَﻳ “Orang beriman meninggal dengan kening penuh keringat.” (HR Ahmad 21886) Penulis produktif Aidh Al-Qarni
menulis: ”Saya menyeru setiap orang tua agar mengingat kematian. Sadar
bahwa dirinya sudah mendekat
maut serta tidak mungkin bisa lari
darinya. Jadi, siapkan diri untuk
menemui Allah. Karena itu, sudah
sepantasnya ia menjauhi akhir kehidupan yang jelek dan
memperbanyak amal kebaikan
sehingga dapat berjumpa dengan
Allah ta’aala dalam keadaan diridhai.” Ambillah keteladanan dari kematian
Khalifah Umar bin Khattab
radhiyallahu ’anhu. Ia ditikam oleh Abu Lu’luah saat sedang mengimami sholat subuh. Umarpun jatuh
tersungkur bersimbah darah. Dalam
keadaan seperti itu ia tidak ingat
isteri, anak, harta, keluarga, sanak
saudara atau kekuasaannya. Yang ia
ingat hanyalah ”Laa ilaha illallah Muhammad rasulullah, hasbiyallah
wa ni’mal wakil.” Setelah itu ia bertanya kepada sahabatnya:
”Siapakah yang telah menikamku ?” ”Kau ditikam oleh Abu Lu ’luah Al- Majusi.” Umar radhiyallahu ’anhu lalu berkata: ”Segala puji bagi Allah ta’aala yang membuatku terbunuh di tangan orang yang tidak pernah
bersujud kepada-Nya walau hanya
sekali.” Umar-pun mati syahid. Ketika Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam menghadapi sakaratul
maut beliau mengambil secarik kain
dan menaruhnya di wajah beliau
karena parahnya kondisi yang
beliau hadapi. Lalu beliau berdoa: ﻪﻠﻟﺍ ﻻﺍ ﻪﻟﺇ ﻻ ... ﻻﺍ ﻪﻟﺇ ﻻ ﻪﻠﻟﺍ ... ﻥﺇ ﻪﻠﻟﺍ ﻻﺍ ﻪﻟﺇ ﻻ ﺕﺍﺮﻜﺴﻟ ﺕﻮﻤﻠﻟ ... ﺕﺍﺮﻜﺳ ﻰﻠﻋ ﻲﻨﻋﺃ ﻢﻬﻠﻟﺍ ﺕﻮﻤﻟﺍ ... ﻲﻠﻋ ﻒﻔﺧ ﻢﻬﻠﻟﺍ ﺕﻮﻤﻟﺍ ﺕﺍﺮﻜﺳ “Laa ilaha illallah… Laa ilaha illallah… Laa ilaha illalla. Sungguh kematian itu
sangat pedih. Ya Allah, bantulah aku
menghadapi sakratul maut. Ya Allah,
ringankanlah sakratul maut itu
buatku.” (HR Bukhary-Muslim) Aisyah radhiyallahu ’anha menuturkan: “Demi Allah, beliau mencelupkan kain itu ke air lalu
meletakkannya di atas wajah beliau
seraya berdoa: ِﺕﺍَﺮَﻜَﺳ َﻰﻠَﻋ ِّﻲﻨِﻋَﺃ َّﻢُﻬّﻠﻟﺍ ِﺕﻮَﻤْﻟﺍ ”Ya Allah, bantulah aku menghadapi sakratul maut.” Saudaraku, marilah kita
mempersiapkan diri untuk
menghadapi kematian yang bisa
datang kapan saja. Kematian yang
sungguh mengandung kepedihan
bagi setiap manusia yang mengalaminya. Hingga kekasih Allah
ta’aala saja, yakni Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam berdoa agar Allah ta’aala ringankan bagi dirinya sakaratul maut. Tidak ada
seorangpun yang tidak bakal
merasakan kepedihan sakratul maut. ِﺕْﻮَﻤْﻟﺍ ُﺔَﻘِﺋﺍَﺫ ٍﺲْﻔَﻧ ُّﻞُﻛ “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS Ali Imran 185) Marilah saudaraku, kita
mempersiapkan diri menghadapi
kematian dengan segera bertaubat
memohon ampunan dan rahmat
Allah ta’aala sebelum terlambat. Sebab begitulah kematian orang
kafir. Suatu bentuk kematian yang
diwarnai penyesalan yang sungguh
terlambat. ُﺕْﻮَﻤْﻟﺍ ُﻢُﻫَﺪَﺣَﺃ َﺀﺎَﺟ ﺍَﺫِﺇ ﻰَّﺘَﺣ ﻲِّﻠَﻌَﻟ ِﻥﻮُﻌِﺟْﺭﺍ ِّﺏَﺭ َﻝﺎَﻗ ﺎًﺤِﻟﺎَﺻ ُﻞَﻤْﻋَﺃ ٌﺔَﻤِﻠَﻛ ﺎَﻬَّﻧِﺇ ﺎَّﻠَﻛ ُﺖْﻛَﺮَﺗ ﺎَﻤﻴِﻓ ْﻢِﻬِﺋﺍَﺭَﻭ ْﻦِﻣَﻭ ﺎَﻬُﻠِﺋﺎَﻗ َﻮُﻫ َﻥﻮُﺜَﻌْﺒُﻳ ِﻡْﻮَﻳ ﻰَﻟِﺇ ٌﺥَﺯْﺮَﺑ “(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang
kematian kepada seseorang dari
mereka, dia berkata, "Ya Tuhanku
kembalikanlah aku (ke dunia), agar
aku berbuat amal yang saleh
terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu
adalah perkataan yang
diucapkannya saja. Dan di hadapan
mereka ada barzakh (dinding)
sampai hari mereka
dibangkitkan.” (QS Al-Mu’minun 99-100)
adanya kehidupan sesudah
kematian menyebabkan dirinya
selalu berada dalam mode standby
menghadapi kematian. Ia
memandang kematian sebagai suatu keniscayaan. Tidak seperti orang
kafir yang selalu saja berusaha
untuk menghindari kematian. Orang
beriman sangat dipengaruhi oleh
pesan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam yang bersabda: َﻝﺎَﻗ َﻝﺎَﻗ َﺓَﺮْﻳَﺮُﻫ ﻲِﺑَﺃ ْﻦَﻋ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﻝﻮُﺳَﺭ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﺕﺍَّﺬَّﻠﻟﺍ ِﻡِﺫﺎَﻫ َﺮْﻛِﺫ ﺍﻭُﺮِﺜْﻛَﺃ َﺕْﻮَﻤْﻟﺍ ﻲِﻨْﻌَﻳ “Banyak-banyaklah mengingat penghapus kenikmatan, yakni
kematian.” (HR Tirmidzi 2229) Sedangkan sahabat Ali bin Abi Thalib
radhiyallahu ’anhu pernah berkata: “Bila manusia meninggal dunia, maka pada saat itulah ia bangun dari
tidurnya.” Subhanallah...! Berarti beliau ingin mengatakan bahwa
manusia yang menemui ajalnya
adalah manusia yang justru baru
mulai menjalani kehidupan
sebenarnya, sedangkan kita yang
masih hidup di dunia ini justru masih ”belum bangun”. Sungguh, ucapan ini sangat sejalan dengan firman
Allah ta’aala: ﺎَّﻟِﺇ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ ُﺓﺎَﻴَﺤْﻟﺍ ِﻩِﺬَﻫ ﺎَﻣَﻭ َﺓَﺮِﺧَﺂْﻟﺍ َﺭﺍَّﺪﻟﺍ َّﻥِﺇَﻭ ٌﺐِﻌَﻟَﻭ ٌﻮْﻬَﻟ ﺍﻮُﻧﺎَﻛ ْﻮَﻟ ُﻥﺍَﻮَﻴَﺤْﻟﺍ َﻲِﻬَﻟ َﻥﻮُﻤَﻠْﻌَﻳ “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-
main. Dan sesungguhnya akhirat
itulah yang sebenarnya kehidupan,
kalau mereka mengetahui” (QS Al- Ankabut 64) Pantas bilamana Ali radhiyallahu
’anhu pula yang berkata: “Dunia pergi menjauh dan akhirat datang
mendekat. Karena itu, jadilah kalian
anak-anak akhirat, jangan menjadi
budak-budak dunia. Sekarang
waktunya beramal, dan tidak ada
penghisaban. Sedangkan besok waktunya penghisaban, tidak ada
amal.” Bagaimanakah kematian orang
beriman? Dalam sebuah hadits Nabi
shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ِﻦْﺑ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﺪْﺒَﻋ ْﻦَﻋ َﺓَﺩﺎَﺘَﻗ ْﻦَﻋ ِﻪﻴِﺑَﺃ ْﻦَﻋ َﺓَﺪْﻳَﺮُﺑ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ ْﻦَﻋ َﻦِﻣْﺆُﻤْﻟﺍ َّﻥِﺇ َﻝﺎَﻗ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻦﻴِﺒَﺠْﻟﺍ ِﻕَﺮَﻌِﺑ ُﺕﻮُﻤَﻳ “Orang beriman meninggal dengan kening penuh keringat.” (HR Ahmad 21886) Penulis produktif Aidh Al-Qarni
menulis: ”Saya menyeru setiap orang tua agar mengingat kematian. Sadar
bahwa dirinya sudah mendekat
maut serta tidak mungkin bisa lari
darinya. Jadi, siapkan diri untuk
menemui Allah. Karena itu, sudah
sepantasnya ia menjauhi akhir kehidupan yang jelek dan
memperbanyak amal kebaikan
sehingga dapat berjumpa dengan
Allah ta’aala dalam keadaan diridhai.” Ambillah keteladanan dari kematian
Khalifah Umar bin Khattab
radhiyallahu ’anhu. Ia ditikam oleh Abu Lu’luah saat sedang mengimami sholat subuh. Umarpun jatuh
tersungkur bersimbah darah. Dalam
keadaan seperti itu ia tidak ingat
isteri, anak, harta, keluarga, sanak
saudara atau kekuasaannya. Yang ia
ingat hanyalah ”Laa ilaha illallah Muhammad rasulullah, hasbiyallah
wa ni’mal wakil.” Setelah itu ia bertanya kepada sahabatnya:
”Siapakah yang telah menikamku ?” ”Kau ditikam oleh Abu Lu ’luah Al- Majusi.” Umar radhiyallahu ’anhu lalu berkata: ”Segala puji bagi Allah ta’aala yang membuatku terbunuh di tangan orang yang tidak pernah
bersujud kepada-Nya walau hanya
sekali.” Umar-pun mati syahid. Ketika Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam menghadapi sakaratul
maut beliau mengambil secarik kain
dan menaruhnya di wajah beliau
karena parahnya kondisi yang
beliau hadapi. Lalu beliau berdoa: ﻪﻠﻟﺍ ﻻﺍ ﻪﻟﺇ ﻻ ... ﻻﺍ ﻪﻟﺇ ﻻ ﻪﻠﻟﺍ ... ﻥﺇ ﻪﻠﻟﺍ ﻻﺍ ﻪﻟﺇ ﻻ ﺕﺍﺮﻜﺴﻟ ﺕﻮﻤﻠﻟ ... ﺕﺍﺮﻜﺳ ﻰﻠﻋ ﻲﻨﻋﺃ ﻢﻬﻠﻟﺍ ﺕﻮﻤﻟﺍ ... ﻲﻠﻋ ﻒﻔﺧ ﻢﻬﻠﻟﺍ ﺕﻮﻤﻟﺍ ﺕﺍﺮﻜﺳ “Laa ilaha illallah… Laa ilaha illallah… Laa ilaha illalla. Sungguh kematian itu
sangat pedih. Ya Allah, bantulah aku
menghadapi sakratul maut. Ya Allah,
ringankanlah sakratul maut itu
buatku.” (HR Bukhary-Muslim) Aisyah radhiyallahu ’anha menuturkan: “Demi Allah, beliau mencelupkan kain itu ke air lalu
meletakkannya di atas wajah beliau
seraya berdoa: ِﺕﺍَﺮَﻜَﺳ َﻰﻠَﻋ ِّﻲﻨِﻋَﺃ َّﻢُﻬّﻠﻟﺍ ِﺕﻮَﻤْﻟﺍ ”Ya Allah, bantulah aku menghadapi sakratul maut.” Saudaraku, marilah kita
mempersiapkan diri untuk
menghadapi kematian yang bisa
datang kapan saja. Kematian yang
sungguh mengandung kepedihan
bagi setiap manusia yang mengalaminya. Hingga kekasih Allah
ta’aala saja, yakni Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam berdoa agar Allah ta’aala ringankan bagi dirinya sakaratul maut. Tidak ada
seorangpun yang tidak bakal
merasakan kepedihan sakratul maut. ِﺕْﻮَﻤْﻟﺍ ُﺔَﻘِﺋﺍَﺫ ٍﺲْﻔَﻧ ُّﻞُﻛ “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS Ali Imran 185) Marilah saudaraku, kita
mempersiapkan diri menghadapi
kematian dengan segera bertaubat
memohon ampunan dan rahmat
Allah ta’aala sebelum terlambat. Sebab begitulah kematian orang
kafir. Suatu bentuk kematian yang
diwarnai penyesalan yang sungguh
terlambat. ُﺕْﻮَﻤْﻟﺍ ُﻢُﻫَﺪَﺣَﺃ َﺀﺎَﺟ ﺍَﺫِﺇ ﻰَّﺘَﺣ ﻲِّﻠَﻌَﻟ ِﻥﻮُﻌِﺟْﺭﺍ ِّﺏَﺭ َﻝﺎَﻗ ﺎًﺤِﻟﺎَﺻ ُﻞَﻤْﻋَﺃ ٌﺔَﻤِﻠَﻛ ﺎَﻬَّﻧِﺇ ﺎَّﻠَﻛ ُﺖْﻛَﺮَﺗ ﺎَﻤﻴِﻓ ْﻢِﻬِﺋﺍَﺭَﻭ ْﻦِﻣَﻭ ﺎَﻬُﻠِﺋﺎَﻗ َﻮُﻫ َﻥﻮُﺜَﻌْﺒُﻳ ِﻡْﻮَﻳ ﻰَﻟِﺇ ٌﺥَﺯْﺮَﺑ “(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang
kematian kepada seseorang dari
mereka, dia berkata, "Ya Tuhanku
kembalikanlah aku (ke dunia), agar
aku berbuat amal yang saleh
terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu
adalah perkataan yang
diucapkannya saja. Dan di hadapan
mereka ada barzakh (dinding)
sampai hari mereka
dibangkitkan.” (QS Al-Mu’minun 99-100)
Kambing "Kematian" Disembelih DiAntara Surga Dan Neraka
Lukmanul Hakim merupakan lelaki
sholeh yang banyak menyampaikan
nasehat bijak kepada putranya. Ia
bukan seorang Nabi atau Rasul Allah
ta’aala. Sedemikian mulianya beliau sehingga namanya diabadikan
menjadi nama salah satu surah di
dalam Al-Qur’an. Di antara nasehatnya yang tidak termaktub di
dalam Al-Qur’an ialah ucapannya kepada putranya sebagai berikut: َﺔَﻋﺎَﻘَﺑ ِﺭْﺪَﻘِﺑ َﻙﺎَﻴْﻧُﺪِﻟ ْﻞَﻤْﻋِﺇ ِﺭْﺪَﻘِﺑ َﻚَﺗَﺮِﺧﺂِﻟ ْﻞَﻤْﻋﺍَﻭ ﺎَﻬﻴِﻓ ﺎَﻬﻴِﻓ َﺔَﻋﺎَﻘَﺑ “Berbaktilah untuk duniamu sesuai jatah waktu engkau tinggal di
dalamnya. Dan berbaktilah untuk
akhiratmu sesuai jatah waktu
engkau tinggal di dalamnya.” Subhanallah…! Sebuah nasihat yang sungguh mencerminkan kedalaman
perenungan Lukmanul Hakim akan
hakekat perbandingan kehidupan di
dunia dengan akhirat. Ia sangat
memahami betapa jauh lebih
bermaknanya kehidupan di akhirat daripada kehidupan di dunia. Dan
betapa fananya dunia ini
dibandingkan kekalnya alam akhirat
kelak..! Coba kita renungkan. Berapa lama
jatah waktu hidup kita di dunia?
Paling-paling hanya 60-an atau 70-
an tahun. Kalau bisa lebih daripada
itu tentu sudah sangat istimewa.
Seorang yang mencapai usia 100 tahun sungguh sudah sangat luar
biasa..! Sehingga Rasulullah
shollallahu ’alaih wa sallam mengisyaratkan sebagai berikut: َﻝﺎَﻗ َﻝﺎَﻗ َﺓَﺮْﻳَﺮُﻫ ﻲِﺑَﺃ ْﻦَﻋ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﻝﻮُﺳَﺭ َﻦْﻴَﺑ ﺎَﻣ ﻲِﺘَّﻣُﺃ ُﺭﺎَﻤْﻋَﺃ َﻢَّﻠَﺳَﻭ َﻦﻴِﻌْﺒَّﺴﻟﺍ ﻰَﻟِﺇ َﻦﻴِّﺘِّﺴﻟﺍ َﻚِﻟَﺫ ُﺯﻮُﺠَﻳ ْﻦَﻣ ْﻢُﻬُّﻠَﻗَﺃَﻭ “Umur ummatku antara enampuluh hingga tujuhpuluh tahun, dan sedikit
di antara mereka yang mencapai
(tujuhpuluh tahun) itu.” (HR Tirmidzi 3473) Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam wafat pada usia 63 tahun
hijriyah. Demikian pula dengan
kedua sahabat utamanya Abu Bakar
Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab.
Keduanya wafat pada usia 63 tahun
hijriyah. Ini semata taqdir Allah ta’aala, bukan suatu kebetulan, yang tentunya mengandung rahasia dan
hikmah ilahi. Dan berapa lama jatah hidup
seseorang di akhirat? Menurut Al-
Qur’an manusia bakal hidup kekal selamanya di akhirat. Dalam Al-
Qur’an disebut dengan istilah: ﺍًﺪَﺑَﺃ ﺎَﻬﻴِﻓ َﻦﻳِﺪِﻟﺎَﺧ “Kekal selamanya di dalamnya.” Bahkan di dalam hadits kita jumpai
keterangan mengenai hal ini dengan
ungkapan yang lebih
membangkitkan bulu roma. Nabi
shollallahu ’alaih wa sallam menjelaskan bahwa ketika nanti
seluruh penghuni surga telah
dimasukkan ke dalam surga
sementara penghuni neraka telah
masuk neraka semuanya, maka
Allah ta’aala akan tampilkan kematian dalam wujud seekor kambing yang ditempatkan di antara surga dan neraka. Selanjutnya
Allah ta’aala perintahkan malaikat untuk menyembelih ”kematian” sambil ditonton oleh segenap ahli
neraka dan ahli surga. Sesudah itu
Allah ta’aala akan berfirman kepada ahli surga: “Hai penghuni surga kekallah tidak ada lagi kematian …” Selanjutnya Allah ta’aala berfirman kepada para ahli neraka: ”Hai penghuni neraka kekallah tidak ada
lagi kematian...” ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﻝﻮُﺳَﺭ َﻝﺎَﻗ ِﺕْﻮَﻤْﻟﺎِﺑ ُﺀﺎَﺠُﻳ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ٌﺶْﺒَﻛ ُﻪَّﻧَﺄَﻛ ِﺔَﻣﺎَﻴِﻘْﻟﺍ َﻡْﻮَﻳ ُﺢَﻠْﻣَﺃ Bersabda Rasulullah shollallahu
’alaih wa sallam: “Kematian didatangkan pada hari kiamat
berupa seekor kambing hitam...” (HR Muslim 5087) ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﻝﻮُﺳَﺭ َﻝﺎَﻗ ُﻞْﻫَﺃ َﺭﺎَﺻ ﺍَﺫِﺇ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ِﺭﺎَّﻨﻟﺍ ُﻞْﻫَﺃَﻭ ِﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ ﻲِﻓ ِﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ ِﺕْﻮَﻤْﻟﺎِﺑ َﺀﻲِﺟ ِﺭﺎَّﻨﻟﺍ ﻲِﻓ ِﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ َﻦْﻴَﺑ َﻒَﻗﻮُﻳ ﻰَّﺘَﺣ ٍﺩﺎَﻨُﻣ ﻱِﺩﺎَﻨُﻳ َّﻢُﺛ ُﺢَﺑْﺬُﻳ َّﻢُﺛ ِﺭﺎَّﻨﻟﺍَﻭ َﺕْﻮَﻣ ﺎَﻟ ٌﺩﻮُﻠُﺧ ِﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ َﻞْﻫَﺃ ﺎَﻳ َﺕْﻮَﻣ ﺎَﻟ ٌﺩﻮُﻠُﺧ ِﺭﺎَّﻨﻟﺍ َﻞْﻫَﺃ ﺎَﻳ ﻰَﻟِﺇ ﺎًﺣَﺮَﻓ ِﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ ُﻞْﻫَﺃ َﺩﺍَﺩْﺯﺎَﻓ ِﺭﺎَّﻨﻟﺍ ُﻞْﻫَﺃ َﺩﺍَﺩْﺯﺍَﻭ ْﻢِﻬِﺣَﺮَﻓ ْﻢِﻬِﻧْﺰُﺣ ﻰَﻟِﺇ ﺎًﻧْﺰُﺣ ) ﺪﻤﺣﺃ ( “Bila penghuni surga sudah masuk surga dan penghuni neraka masuk
neraka, datanglah kematian berdiri
di antara surga dan neraka,
kemudian disembelih. Lalu terdengar
seruan “Hai penghuni surga kekallah tidak ada lagi kematian… Hai penghuni neraka kekallah tidak ada
lagi kematian”, maka bertambahlah kegembiraan penghuni surga dan
bertambahlah kesedihan penghuni
neraka.” (HR Ahmad 5721) Saudaraku, bila Allah ta ’aala taqdirkan kita hidup di akhirat dalam
kesenangan abadi di dalam surga
tentulah ini suatu kenikmatan yang
tiada tara dan bandingan.
Sebaliknya, barangsiapa yang
ditaqdirkan Allah ta ’aala hidup di akhirat di dalam penderitaan abadi
siksaan neraka tentulah ini suatu
kerugian yang sungguh nyata dan
mengerikan...! Na’udzubillahi min dzaalika...! Pantas bilamana Nabi shollallahu
’alaih wa sallam menggambarkan betapa tiada berartinya kesenangan
dunia yang penuh kepalsuan jika
dibandingkan dengan kesenangan
surga yang hakiki, bukan khayalan
atau virtual atau sekedar dongeng
orang-orang terdahulu. Begitu pula tiada berartinya kesulitan di dunia
yang penuh tipuan jika
dibandingkan dengan kesulitan dan
penderitaan sejati neraka yang
berkepanjangan tiada ujung akhir,
bukan khayalan atau virtual atau sekedar dongeng orang-orang
terdahulu.... Na’udzubillahi min dzaalika...! ْﻦِﻣ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ ِﻞْﻫَﺃ ِﻢَﻌْﻧَﺄِﺑ ﻰَﺗْﺆُﻳ ِﺔَﻣﺎَﻴِﻘْﻟﺍ َﻡْﻮَﻳ ِﺭﺎَّﻨﻟﺍ ِﻞْﻫَﺃ َّﻢُﺛ ًﺔَﻐْﺒَﺻ ِﺭﺎَّﻨﻟﺍ ﻲِﻓ ُﻎَﺒْﺼُﻴَﻓ َﺖْﻳَﺃَﺭ ْﻞَﻫ َﻡَﺩﺁ َﻦْﺑﺍ ﺎَﻳ ُﻝﺎَﻘُﻳ ٌﻢﻴِﻌَﻧ َﻚِﺑ َّﺮَﻣ ْﻞَﻫ ُّﻂَﻗ ﺍًﺮْﻴَﺧ ِّﺏَﺭ ﺎَﻳ ِﻪَّﻠﻟﺍَﻭ ﺎَﻟ ُﻝﻮُﻘَﻴَﻓ ُّﻂَﻗ ﺎًﺳْﺆُﺑ ِﺱﺎَّﻨﻟﺍ ِّﺪَﺷَﺄِﺑ ﻰَﺗْﺆُﻳَﻭ ِﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ ِﻞْﻫَﺃ ْﻦِﻣ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ ﻲِﻓ ِﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ ﻲِﻓ ًﺔَﻐْﺒَﺻ ُﻎَﺒْﺼُﻴَﻓ ْﻞَﻫ َﻡَﺩﺁ َﻦْﺑﺍ ﺎَﻳ ُﻪَﻟ ُﻝﺎَﻘُﻴَﻓ َﻚِﺑ َّﺮَﻣ ْﻞَﻫ ُّﻂَﻗ ﺎًﺳْﺆُﺑ َﺖْﻳَﺃَﺭ ﺎَﻳ ِﻪَّﻠﻟﺍَﻭ ﺎَﻟ ُﻝﻮُﻘَﻴَﻓ ُّﻂَﻗ ٌﺓَّﺪِﺷ ﺎَﻟَﻭ ُّﻂَﻗ ٌﺱْﺆُﺑ ﻲِﺑ َّﺮَﻣ ﺎَﻣ ِّﺏَﺭ ُّﻂَﻗ ًﺓَّﺪِﺷ ُﺖْﻳَﺃَﺭ "Pada hari berbangkit didatangkan
orang yang paling ni'mat hidupnya
sewaktu di dunia dari ahli neraka.
Maka ia dicelupkan ke dalam neraka
sejenak. Kemudian ditanya:"Hai anak
Adam, apakah kamu pernah melihat kesenangan? Apakah kamu pernah
merasakan kenikmatan?" Ia
menjawab: "Tidak, demi Allah wahai
Rabb.” Lalu didatangkanlah orang yang paling sengsara hidupnya
sewaktu di dunia dari ahli surga.
Maka ia dicelupkan ke dalam surga
sejenak. Kemudian ditanya:"Hai anak
Adam, apakah kamu pernah melihat
kesengsaraan? Apakah kamu pernah merasakan penderitaan?" Ia
menjawab: "Tidak, demi Allah wahai
Rabb. Aku tdk pernah mengalami
kesengsaraan dan tidak pula melihat
penderitaan" (HR Muslim 5018) Maka saudaraku, pantaskah kita
mempertaruhkan kehidupan kita
yang hakiki dan abadi di akhirat
nanti demi meraih kesenangan dunia
yang fana dan sesungguhnya penuh
dengan tipuan yang sangat memperdayakan....? Saudaraku,
jadilah orang yang ”cerdas” versi Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Bukan orang yang cerdas
berdasarkan pandangan para
pencinta dunia yang sejatinya sangat
bodoh dan tidak sabar...! ُﻪَﺴْﻔَﻧ َﻥﺍَﺩ ْﻦَﻣ ُﺲِّﻴَﻜْﻟﺍ ِﺕْﻮَﻤْﻟﺍ َﺪْﻌَﺑ ﺎَﻤِﻟ َﻞِﻤَﻋَﻭ “Orang yang paling cerdas ialah barangsiapa yang menghitung-
hitung/evaluasi/introspeksi (‘amal- perbuatan) dirinya dan ber’amal untuk kehidupan setelah
kematian.” (At-Tirmidzi 8/499)
sholeh yang banyak menyampaikan
nasehat bijak kepada putranya. Ia
bukan seorang Nabi atau Rasul Allah
ta’aala. Sedemikian mulianya beliau sehingga namanya diabadikan
menjadi nama salah satu surah di
dalam Al-Qur’an. Di antara nasehatnya yang tidak termaktub di
dalam Al-Qur’an ialah ucapannya kepada putranya sebagai berikut: َﺔَﻋﺎَﻘَﺑ ِﺭْﺪَﻘِﺑ َﻙﺎَﻴْﻧُﺪِﻟ ْﻞَﻤْﻋِﺇ ِﺭْﺪَﻘِﺑ َﻚَﺗَﺮِﺧﺂِﻟ ْﻞَﻤْﻋﺍَﻭ ﺎَﻬﻴِﻓ ﺎَﻬﻴِﻓ َﺔَﻋﺎَﻘَﺑ “Berbaktilah untuk duniamu sesuai jatah waktu engkau tinggal di
dalamnya. Dan berbaktilah untuk
akhiratmu sesuai jatah waktu
engkau tinggal di dalamnya.” Subhanallah…! Sebuah nasihat yang sungguh mencerminkan kedalaman
perenungan Lukmanul Hakim akan
hakekat perbandingan kehidupan di
dunia dengan akhirat. Ia sangat
memahami betapa jauh lebih
bermaknanya kehidupan di akhirat daripada kehidupan di dunia. Dan
betapa fananya dunia ini
dibandingkan kekalnya alam akhirat
kelak..! Coba kita renungkan. Berapa lama
jatah waktu hidup kita di dunia?
Paling-paling hanya 60-an atau 70-
an tahun. Kalau bisa lebih daripada
itu tentu sudah sangat istimewa.
Seorang yang mencapai usia 100 tahun sungguh sudah sangat luar
biasa..! Sehingga Rasulullah
shollallahu ’alaih wa sallam mengisyaratkan sebagai berikut: َﻝﺎَﻗ َﻝﺎَﻗ َﺓَﺮْﻳَﺮُﻫ ﻲِﺑَﺃ ْﻦَﻋ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﻝﻮُﺳَﺭ َﻦْﻴَﺑ ﺎَﻣ ﻲِﺘَّﻣُﺃ ُﺭﺎَﻤْﻋَﺃ َﻢَّﻠَﺳَﻭ َﻦﻴِﻌْﺒَّﺴﻟﺍ ﻰَﻟِﺇ َﻦﻴِّﺘِّﺴﻟﺍ َﻚِﻟَﺫ ُﺯﻮُﺠَﻳ ْﻦَﻣ ْﻢُﻬُّﻠَﻗَﺃَﻭ “Umur ummatku antara enampuluh hingga tujuhpuluh tahun, dan sedikit
di antara mereka yang mencapai
(tujuhpuluh tahun) itu.” (HR Tirmidzi 3473) Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam wafat pada usia 63 tahun
hijriyah. Demikian pula dengan
kedua sahabat utamanya Abu Bakar
Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab.
Keduanya wafat pada usia 63 tahun
hijriyah. Ini semata taqdir Allah ta’aala, bukan suatu kebetulan, yang tentunya mengandung rahasia dan
hikmah ilahi. Dan berapa lama jatah hidup
seseorang di akhirat? Menurut Al-
Qur’an manusia bakal hidup kekal selamanya di akhirat. Dalam Al-
Qur’an disebut dengan istilah: ﺍًﺪَﺑَﺃ ﺎَﻬﻴِﻓ َﻦﻳِﺪِﻟﺎَﺧ “Kekal selamanya di dalamnya.” Bahkan di dalam hadits kita jumpai
keterangan mengenai hal ini dengan
ungkapan yang lebih
membangkitkan bulu roma. Nabi
shollallahu ’alaih wa sallam menjelaskan bahwa ketika nanti
seluruh penghuni surga telah
dimasukkan ke dalam surga
sementara penghuni neraka telah
masuk neraka semuanya, maka
Allah ta’aala akan tampilkan kematian dalam wujud seekor kambing yang ditempatkan di antara surga dan neraka. Selanjutnya
Allah ta’aala perintahkan malaikat untuk menyembelih ”kematian” sambil ditonton oleh segenap ahli
neraka dan ahli surga. Sesudah itu
Allah ta’aala akan berfirman kepada ahli surga: “Hai penghuni surga kekallah tidak ada lagi kematian …” Selanjutnya Allah ta’aala berfirman kepada para ahli neraka: ”Hai penghuni neraka kekallah tidak ada
lagi kematian...” ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﻝﻮُﺳَﺭ َﻝﺎَﻗ ِﺕْﻮَﻤْﻟﺎِﺑ ُﺀﺎَﺠُﻳ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ٌﺶْﺒَﻛ ُﻪَّﻧَﺄَﻛ ِﺔَﻣﺎَﻴِﻘْﻟﺍ َﻡْﻮَﻳ ُﺢَﻠْﻣَﺃ Bersabda Rasulullah shollallahu
’alaih wa sallam: “Kematian didatangkan pada hari kiamat
berupa seekor kambing hitam...” (HR Muslim 5087) ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﻝﻮُﺳَﺭ َﻝﺎَﻗ ُﻞْﻫَﺃ َﺭﺎَﺻ ﺍَﺫِﺇ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ِﺭﺎَّﻨﻟﺍ ُﻞْﻫَﺃَﻭ ِﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ ﻲِﻓ ِﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ ِﺕْﻮَﻤْﻟﺎِﺑ َﺀﻲِﺟ ِﺭﺎَّﻨﻟﺍ ﻲِﻓ ِﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ َﻦْﻴَﺑ َﻒَﻗﻮُﻳ ﻰَّﺘَﺣ ٍﺩﺎَﻨُﻣ ﻱِﺩﺎَﻨُﻳ َّﻢُﺛ ُﺢَﺑْﺬُﻳ َّﻢُﺛ ِﺭﺎَّﻨﻟﺍَﻭ َﺕْﻮَﻣ ﺎَﻟ ٌﺩﻮُﻠُﺧ ِﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ َﻞْﻫَﺃ ﺎَﻳ َﺕْﻮَﻣ ﺎَﻟ ٌﺩﻮُﻠُﺧ ِﺭﺎَّﻨﻟﺍ َﻞْﻫَﺃ ﺎَﻳ ﻰَﻟِﺇ ﺎًﺣَﺮَﻓ ِﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ ُﻞْﻫَﺃ َﺩﺍَﺩْﺯﺎَﻓ ِﺭﺎَّﻨﻟﺍ ُﻞْﻫَﺃ َﺩﺍَﺩْﺯﺍَﻭ ْﻢِﻬِﺣَﺮَﻓ ْﻢِﻬِﻧْﺰُﺣ ﻰَﻟِﺇ ﺎًﻧْﺰُﺣ ) ﺪﻤﺣﺃ ( “Bila penghuni surga sudah masuk surga dan penghuni neraka masuk
neraka, datanglah kematian berdiri
di antara surga dan neraka,
kemudian disembelih. Lalu terdengar
seruan “Hai penghuni surga kekallah tidak ada lagi kematian… Hai penghuni neraka kekallah tidak ada
lagi kematian”, maka bertambahlah kegembiraan penghuni surga dan
bertambahlah kesedihan penghuni
neraka.” (HR Ahmad 5721) Saudaraku, bila Allah ta ’aala taqdirkan kita hidup di akhirat dalam
kesenangan abadi di dalam surga
tentulah ini suatu kenikmatan yang
tiada tara dan bandingan.
Sebaliknya, barangsiapa yang
ditaqdirkan Allah ta ’aala hidup di akhirat di dalam penderitaan abadi
siksaan neraka tentulah ini suatu
kerugian yang sungguh nyata dan
mengerikan...! Na’udzubillahi min dzaalika...! Pantas bilamana Nabi shollallahu
’alaih wa sallam menggambarkan betapa tiada berartinya kesenangan
dunia yang penuh kepalsuan jika
dibandingkan dengan kesenangan
surga yang hakiki, bukan khayalan
atau virtual atau sekedar dongeng
orang-orang terdahulu. Begitu pula tiada berartinya kesulitan di dunia
yang penuh tipuan jika
dibandingkan dengan kesulitan dan
penderitaan sejati neraka yang
berkepanjangan tiada ujung akhir,
bukan khayalan atau virtual atau sekedar dongeng orang-orang
terdahulu.... Na’udzubillahi min dzaalika...! ْﻦِﻣ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ ِﻞْﻫَﺃ ِﻢَﻌْﻧَﺄِﺑ ﻰَﺗْﺆُﻳ ِﺔَﻣﺎَﻴِﻘْﻟﺍ َﻡْﻮَﻳ ِﺭﺎَّﻨﻟﺍ ِﻞْﻫَﺃ َّﻢُﺛ ًﺔَﻐْﺒَﺻ ِﺭﺎَّﻨﻟﺍ ﻲِﻓ ُﻎَﺒْﺼُﻴَﻓ َﺖْﻳَﺃَﺭ ْﻞَﻫ َﻡَﺩﺁ َﻦْﺑﺍ ﺎَﻳ ُﻝﺎَﻘُﻳ ٌﻢﻴِﻌَﻧ َﻚِﺑ َّﺮَﻣ ْﻞَﻫ ُّﻂَﻗ ﺍًﺮْﻴَﺧ ِّﺏَﺭ ﺎَﻳ ِﻪَّﻠﻟﺍَﻭ ﺎَﻟ ُﻝﻮُﻘَﻴَﻓ ُّﻂَﻗ ﺎًﺳْﺆُﺑ ِﺱﺎَّﻨﻟﺍ ِّﺪَﺷَﺄِﺑ ﻰَﺗْﺆُﻳَﻭ ِﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ ِﻞْﻫَﺃ ْﻦِﻣ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ ﻲِﻓ ِﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ ﻲِﻓ ًﺔَﻐْﺒَﺻ ُﻎَﺒْﺼُﻴَﻓ ْﻞَﻫ َﻡَﺩﺁ َﻦْﺑﺍ ﺎَﻳ ُﻪَﻟ ُﻝﺎَﻘُﻴَﻓ َﻚِﺑ َّﺮَﻣ ْﻞَﻫ ُّﻂَﻗ ﺎًﺳْﺆُﺑ َﺖْﻳَﺃَﺭ ﺎَﻳ ِﻪَّﻠﻟﺍَﻭ ﺎَﻟ ُﻝﻮُﻘَﻴَﻓ ُّﻂَﻗ ٌﺓَّﺪِﺷ ﺎَﻟَﻭ ُّﻂَﻗ ٌﺱْﺆُﺑ ﻲِﺑ َّﺮَﻣ ﺎَﻣ ِّﺏَﺭ ُّﻂَﻗ ًﺓَّﺪِﺷ ُﺖْﻳَﺃَﺭ "Pada hari berbangkit didatangkan
orang yang paling ni'mat hidupnya
sewaktu di dunia dari ahli neraka.
Maka ia dicelupkan ke dalam neraka
sejenak. Kemudian ditanya:"Hai anak
Adam, apakah kamu pernah melihat kesenangan? Apakah kamu pernah
merasakan kenikmatan?" Ia
menjawab: "Tidak, demi Allah wahai
Rabb.” Lalu didatangkanlah orang yang paling sengsara hidupnya
sewaktu di dunia dari ahli surga.
Maka ia dicelupkan ke dalam surga
sejenak. Kemudian ditanya:"Hai anak
Adam, apakah kamu pernah melihat
kesengsaraan? Apakah kamu pernah merasakan penderitaan?" Ia
menjawab: "Tidak, demi Allah wahai
Rabb. Aku tdk pernah mengalami
kesengsaraan dan tidak pula melihat
penderitaan" (HR Muslim 5018) Maka saudaraku, pantaskah kita
mempertaruhkan kehidupan kita
yang hakiki dan abadi di akhirat
nanti demi meraih kesenangan dunia
yang fana dan sesungguhnya penuh
dengan tipuan yang sangat memperdayakan....? Saudaraku,
jadilah orang yang ”cerdas” versi Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Bukan orang yang cerdas
berdasarkan pandangan para
pencinta dunia yang sejatinya sangat
bodoh dan tidak sabar...! ُﻪَﺴْﻔَﻧ َﻥﺍَﺩ ْﻦَﻣ ُﺲِّﻴَﻜْﻟﺍ ِﺕْﻮَﻤْﻟﺍ َﺪْﻌَﺑ ﺎَﻤِﻟ َﻞِﻤَﻋَﻭ “Orang yang paling cerdas ialah barangsiapa yang menghitung-
hitung/evaluasi/introspeksi (‘amal- perbuatan) dirinya dan ber’amal untuk kehidupan setelah
kematian.” (At-Tirmidzi 8/499)
Mewaspadai Kemunculan FitnahDajjal (1)
Semenjak runtuhnya kekhalifahan
terakhir, ummat Islam menjadi
laksana anak-anak ayam kehilangan
induk. Masing-masing negeri kaum
muslimin mendirikan karakter
kebangsaannya sendiri-sendiri seraya meninggalkan dan
menanggalkan ikatan aqidah serta
akhlak Islam sebagai identitas utama
bangsa. Akhirnya tidak terelakkan
bahwa ummat Islam yang jumlahnya
di seantero dunia mencapai bilangan satu setengah miliar lebih, tidak
memiliki kewibawaan karena
mereka terpecah belah tidak bersatu
sebagai suatu blok kekuataan yang
tunggal dan mandiri. Nabi
Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam sudah mensinyalir bahwa
akan muncul babak keempat
perjalanan ummat Islam, yakni
kepemimpinan para Mulkan Jabriyyan (Raja-raja yang memaksakan kehendak). Inilah
babak yang sedang dilalui ummat
Islam dewasa ini. (lihat tulisan
Menuju Kehidupan Sejati berjudul
Boleh Jadi Kiamat Sudah Dekat
tanggal 6 Jul 08) Jangankan kaum muslimin
memimpin dunia, bahkan mereka
menjadi ummat yang diarahkan
(baca: dieksploitasi) oleh ummat
lainnya. Inilah babak paling kelam
dalam sejarah Islam. Allah subhaanahu wa ta’aala gilir kepemimpinan dunia dari kaum
mu’minin kepada kaum kafirin. Inilah zaman kita sekarang. We are
living in the darkest ages of the
Islamic history. Dunia menjadi morat-
marit sarat fitnah. Nilai-nilai jahiliah
modern mendominasi kehidupan.
Para penguasa mengatur masyarakat bukan dengan
bimbingan wahyu Ilahi, melainkan
hawa nafsu pribadi dan kelompok.
Pada babak inilah tegaknya Sistem
Dajjal. Berbagai lini kehidupan
ummat manusia diatur dengan Dajjalic values (nilai-nilai Dajjal).
Segenap urusan dunia dikelola
dengan nilai-nilai materialisme-
liberalisme-sekularisme, baik politik,
sosial, ekonomi, budaya, medis,
pendidikan, hukum, pertahanan- keamanan, militer bahkan
keagamaan. Masyarakat kian
dijauhkan dari pola hidup
berdasarkan manhaj Kenabian. Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda mensinyalir bahwa tidak
ada fitnah yang lebih dahsyat
semenjak Allah ciptakan manusia
pertama hingga datangnya hari
Kiamat selain fitnah Dajjal. ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﻝﻮُﺳَﺭ َﻝﺎَﻗ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻂَﺒْﻫَﺃ ﺎَﻣ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻡَﺩﺁ َﻖَﻠَﺧ ُﺬْﻨُﻣ ِﺽْﺭَﻷﺍ ﻰَﻟِﺇ ًﺔَﻨْﺘِﻓ ُﺔَﻋﺎَّﺴﻟﺍ َﻡﻮُﻘَﺗ ْﻥَﺃ ﻰَﻟِﺇ ِﻝﺎَّﺟَّﺪﻟﺍ ِﺔَﻨْﺘِﻓ ْﻦِﻣ َﻢَﻈْﻋَﺃ ) ﻲﻧﺍﺮﺒﻄﻟﺍ ( “Allah tidak menurunkan ke muka bumi -sejak penciptaan Adam as
hingga hari Kiamat- fitnah yang lebih
dahsyat dari fitnah Dajjal.” (HR Thabrani 1672) Ummat Islam yang menjalani babak
keempat dewasa ini harus
mempersiapkan diri mengantisipasi
kemunculan fitnah paling dahsyat
yaitu fitnah Dajjal. Hidup di babak
keempat, yakni babak kepemimpinan para Mulkan
Jabriyyan (para penguasa yang
memaksakan kehendak),
merupakan hidup yang penuh
tantangan. Pada babak ini Allah
memberikan giliran kepemimpinan ummat manusia kepada fihak kuffar.
Allah menguji kesabaran kaum
muslimin menghadapi
kepemimpinan para penguasa yang
memaksakan kehendak seraya
mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya. Sistem hidup yang mereka
tawarkan merupakan sistem yang
jauh dari nilai-nilai keimanan bahkan
didominasi oleh nilai-nilai kekufuran. Inilah zaman yang sarat dengan
fitnah. Keterlibatan seorang muslim
dalam aspek kehidupan modern
manapun sangat berpotensi
mendatangkan dosa bagi dirinya.
Rangkaian fitnah yang sedemikian hebat akan berpuncak pada
munculnya puncak fitnah yakni
fitnah Dajjal. Barangsiapa yang
sanggup menyelamatkan dirinya
dari rangkaian fitnah sebelum
munculnya fitnah Dajjal akan sangat berpeluang selamat pula pada saat
munculnya fitnah Dajjal. Demikianlah
peringatan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam: ُﻝﺎَّﺟَّﺪﻟﺍ َﺮِﻛُﺫ َﻝﺎَﻗ َﺔَﻔْﻳَﺬُﺣ ْﻦَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﻝﻮُﺳَﺭ َﺪْﻨِﻋ ُﺔَﻨْﺘِﻔَﻟ ﺎَﻧَﺄَﻟ َﻝﺎَﻘَﻓ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ْﻦِﻣ ﻱِﺪْﻨِﻋ ُﻑَﻮْﺧَﺃ ْﻢُﻜِﻀْﻌَﺑ ٌﺪَﺣَﺃ َﻮُﺠْﻨَﻳ ْﻦَﻟَﻭ ِﻝﺎَّﺟَّﺪﻟﺍ ِﺔَﻨْﺘِﻓ ﺎَﻣَﻭ ﺎَﻬْﻨِﻣ ﺎَﺠَﻧ ﺎَّﻟِﺇ ﺎَﻬَﻠْﺒَﻗ ﺎَّﻤِﻣ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ ْﺖَﻧﺎَﻛ ُﺬْﻨُﻣ ٌﺔَﻨْﺘِﻓ ْﺖَﻌِﻨُﺻ ِﺔَﻨْﺘِﻔِﻟ ﺎَّﻟِﺇ ٌﺓَﺮﻴِﺒَﻛ ﺎَﻟَﻭ ٌﺓَﺮﻴِﻐَﺻ ِﻝﺎَّﺟَّﺪﻟﺍ ) ﺪﻤﺣﺃ ( Suatu ketika ihwal Dajjal dibicarakan
di hadapan Rasulullah shollallahu
’alaih wa sallam. Kemudian beliau bersabda: ”Sungguh fitnah yang terjadi di antara kalian lebih aku
takuti dari fitnah Dajjal, dan tiada
seseorang yang dapat selamat dari
rangkaian fitnah sebelum fitnah
Dajjal melainkan akan selamat pula
darinya (Dajjal). Dan tiada fitnah yang dibuat sejak adanya dunia ini –baik kecil ataupun besar- kecuali dalam
rangka menyongsong fitnah
Dajjal.” (HR Ahmad V/389) Demikian pula sebaliknya,
barangsiapa ketika rangkaian fitnah
di berbagai dimensi kehidupan
sedang menggejala kemudian ia
terjebak ke dalamnya, maka
dikhawatirkan pada saat puncak fitnah muncul ia akan terjebak pula
untuk menjadi pengikut bahkan
hamba Dajjal. Wa na’udzubillahi min dzaalika.-
terakhir, ummat Islam menjadi
laksana anak-anak ayam kehilangan
induk. Masing-masing negeri kaum
muslimin mendirikan karakter
kebangsaannya sendiri-sendiri seraya meninggalkan dan
menanggalkan ikatan aqidah serta
akhlak Islam sebagai identitas utama
bangsa. Akhirnya tidak terelakkan
bahwa ummat Islam yang jumlahnya
di seantero dunia mencapai bilangan satu setengah miliar lebih, tidak
memiliki kewibawaan karena
mereka terpecah belah tidak bersatu
sebagai suatu blok kekuataan yang
tunggal dan mandiri. Nabi
Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam sudah mensinyalir bahwa
akan muncul babak keempat
perjalanan ummat Islam, yakni
kepemimpinan para Mulkan Jabriyyan (Raja-raja yang memaksakan kehendak). Inilah
babak yang sedang dilalui ummat
Islam dewasa ini. (lihat tulisan
Menuju Kehidupan Sejati berjudul
Boleh Jadi Kiamat Sudah Dekat
tanggal 6 Jul 08) Jangankan kaum muslimin
memimpin dunia, bahkan mereka
menjadi ummat yang diarahkan
(baca: dieksploitasi) oleh ummat
lainnya. Inilah babak paling kelam
dalam sejarah Islam. Allah subhaanahu wa ta’aala gilir kepemimpinan dunia dari kaum
mu’minin kepada kaum kafirin. Inilah zaman kita sekarang. We are
living in the darkest ages of the
Islamic history. Dunia menjadi morat-
marit sarat fitnah. Nilai-nilai jahiliah
modern mendominasi kehidupan.
Para penguasa mengatur masyarakat bukan dengan
bimbingan wahyu Ilahi, melainkan
hawa nafsu pribadi dan kelompok.
Pada babak inilah tegaknya Sistem
Dajjal. Berbagai lini kehidupan
ummat manusia diatur dengan Dajjalic values (nilai-nilai Dajjal).
Segenap urusan dunia dikelola
dengan nilai-nilai materialisme-
liberalisme-sekularisme, baik politik,
sosial, ekonomi, budaya, medis,
pendidikan, hukum, pertahanan- keamanan, militer bahkan
keagamaan. Masyarakat kian
dijauhkan dari pola hidup
berdasarkan manhaj Kenabian. Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda mensinyalir bahwa tidak
ada fitnah yang lebih dahsyat
semenjak Allah ciptakan manusia
pertama hingga datangnya hari
Kiamat selain fitnah Dajjal. ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﻝﻮُﺳَﺭ َﻝﺎَﻗ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻂَﺒْﻫَﺃ ﺎَﻣ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻡَﺩﺁ َﻖَﻠَﺧ ُﺬْﻨُﻣ ِﺽْﺭَﻷﺍ ﻰَﻟِﺇ ًﺔَﻨْﺘِﻓ ُﺔَﻋﺎَّﺴﻟﺍ َﻡﻮُﻘَﺗ ْﻥَﺃ ﻰَﻟِﺇ ِﻝﺎَّﺟَّﺪﻟﺍ ِﺔَﻨْﺘِﻓ ْﻦِﻣ َﻢَﻈْﻋَﺃ ) ﻲﻧﺍﺮﺒﻄﻟﺍ ( “Allah tidak menurunkan ke muka bumi -sejak penciptaan Adam as
hingga hari Kiamat- fitnah yang lebih
dahsyat dari fitnah Dajjal.” (HR Thabrani 1672) Ummat Islam yang menjalani babak
keempat dewasa ini harus
mempersiapkan diri mengantisipasi
kemunculan fitnah paling dahsyat
yaitu fitnah Dajjal. Hidup di babak
keempat, yakni babak kepemimpinan para Mulkan
Jabriyyan (para penguasa yang
memaksakan kehendak),
merupakan hidup yang penuh
tantangan. Pada babak ini Allah
memberikan giliran kepemimpinan ummat manusia kepada fihak kuffar.
Allah menguji kesabaran kaum
muslimin menghadapi
kepemimpinan para penguasa yang
memaksakan kehendak seraya
mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya. Sistem hidup yang mereka
tawarkan merupakan sistem yang
jauh dari nilai-nilai keimanan bahkan
didominasi oleh nilai-nilai kekufuran. Inilah zaman yang sarat dengan
fitnah. Keterlibatan seorang muslim
dalam aspek kehidupan modern
manapun sangat berpotensi
mendatangkan dosa bagi dirinya.
Rangkaian fitnah yang sedemikian hebat akan berpuncak pada
munculnya puncak fitnah yakni
fitnah Dajjal. Barangsiapa yang
sanggup menyelamatkan dirinya
dari rangkaian fitnah sebelum
munculnya fitnah Dajjal akan sangat berpeluang selamat pula pada saat
munculnya fitnah Dajjal. Demikianlah
peringatan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam: ُﻝﺎَّﺟَّﺪﻟﺍ َﺮِﻛُﺫ َﻝﺎَﻗ َﺔَﻔْﻳَﺬُﺣ ْﻦَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﻝﻮُﺳَﺭ َﺪْﻨِﻋ ُﺔَﻨْﺘِﻔَﻟ ﺎَﻧَﺄَﻟ َﻝﺎَﻘَﻓ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ْﻦِﻣ ﻱِﺪْﻨِﻋ ُﻑَﻮْﺧَﺃ ْﻢُﻜِﻀْﻌَﺑ ٌﺪَﺣَﺃ َﻮُﺠْﻨَﻳ ْﻦَﻟَﻭ ِﻝﺎَّﺟَّﺪﻟﺍ ِﺔَﻨْﺘِﻓ ﺎَﻣَﻭ ﺎَﻬْﻨِﻣ ﺎَﺠَﻧ ﺎَّﻟِﺇ ﺎَﻬَﻠْﺒَﻗ ﺎَّﻤِﻣ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ ْﺖَﻧﺎَﻛ ُﺬْﻨُﻣ ٌﺔَﻨْﺘِﻓ ْﺖَﻌِﻨُﺻ ِﺔَﻨْﺘِﻔِﻟ ﺎَّﻟِﺇ ٌﺓَﺮﻴِﺒَﻛ ﺎَﻟَﻭ ٌﺓَﺮﻴِﻐَﺻ ِﻝﺎَّﺟَّﺪﻟﺍ ) ﺪﻤﺣﺃ ( Suatu ketika ihwal Dajjal dibicarakan
di hadapan Rasulullah shollallahu
’alaih wa sallam. Kemudian beliau bersabda: ”Sungguh fitnah yang terjadi di antara kalian lebih aku
takuti dari fitnah Dajjal, dan tiada
seseorang yang dapat selamat dari
rangkaian fitnah sebelum fitnah
Dajjal melainkan akan selamat pula
darinya (Dajjal). Dan tiada fitnah yang dibuat sejak adanya dunia ini –baik kecil ataupun besar- kecuali dalam
rangka menyongsong fitnah
Dajjal.” (HR Ahmad V/389) Demikian pula sebaliknya,
barangsiapa ketika rangkaian fitnah
di berbagai dimensi kehidupan
sedang menggejala kemudian ia
terjebak ke dalamnya, maka
dikhawatirkan pada saat puncak fitnah muncul ia akan terjebak pula
untuk menjadi pengikut bahkan
hamba Dajjal. Wa na’udzubillahi min dzaalika.-
Mewaspadai Kemunculan FitnahDajjal (2)
Banyak manusia dewasa ini yang
tidak peduli akan puncak fitnah
yang bakal datang di akhir zaman.
Dajjal menjadi fenomena yang
dianggap sekedar mitos. Bahkan
banyak yang menganggap Dajjal tidak ada. Sehingga banyak manusia
yang melupakannya dan tidak
pernah peduli untuk
membicarakannya. Ketika
pengabaian ini terjadi di kalangan
orang awam ia sudah menjadi suatu masalah. Namun realitasnya lebih
jauh daripada itu. Bahkan kita
menyaksikan dewasa ini para
pemberi peringatan seperti para
muballigh, penceramah, ustadz dan
kebanyakan ulama tidak lagi peduli untuk memperingatkan ummat akan
bahaya fitnah Dajjal. Padahal
bilamana kedua gejala ini sudah
tampak, maka Nabi shollallahu ’alaih wa sallam justru mengatakan bahwa
pada saat seperti itulah Dajjal bakal
keluar. ﻰَّﻠَﺻ ِﻪَّﻠﻟﺍ َﻝﻮُﺳَﺭ ُﺖْﻌِﻤَﺳ ﺎَﻟ ُﻝﻮُﻘَﻳ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻞَﻫْﺬَﻳ ﻰَّﺘَﺣ ُﻝﺎَّﺟَّﺪﻟﺍ ُﺝُﺮْﺨَﻳ ﻰَّﺘَﺣَﻭ ِﻩِﺮْﻛِﺫ ْﻦَﻋ ُﺱﺎَّﻨﻟﺍ ﻰَﻠَﻋ ُﻩَﺮْﻛِﺫ ُﺔَّﻤِﺋَﺄْﻟﺍ َﻙُﺮْﺘَﺗ ِﺮِﺑﺎَﻨَﻤْﻟﺍ ) ﺪﻤﺣﺃ ( “Dajjal tidak akan muncul sehingga manusia melupakannya dan para
Imam meninggalkan untuk
mengingatnya di atas mimbar-
mimbar.” (HR Ahmad 16073) Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda bahwa pada saat
kebanyakan orang awam
melupakan perkara Dajjal dan para
Imam tidak lagi memperingatkan
ummat akan bahaya puncak fitnah
Dajjal, maka ketika itulah justru Dajjal bakal keluar. Sedangkan realitas
dunia kita dewasa ini sudah
mengandung kedua fenomena
tersebut. Artinya, sudah saatnya kita
waspada mengantisipasi
kemunculan Dajjal yang bila-bila masa dewasa ini akan keluar...!
Dalam sebuah hadits riwayat Imam
Ahmad Nabi Muhammad shollallahu
’alaih wa sallam menjelaskan ciri khas Dajjal kepada ummatnya yang
belum pernah dijelaskan oleh para
Nabi sebelumnya kepada ummatnya
masing-masing. Beliau menegaskan
bahwa Dajjal itu bermata dua namun
salah satunya cacat alias buta sehingga yang ada/berfungsi
hanyalah satu mata saja. ُﺡﻮُﺴْﻤَﻣ ُﺭَﻮْﻋَﺃ َﻝﺎَّﺟَّﺪﻟﺍ َّﻥَﺃَﻭ ٌﺏﻮُﺘْﻜَﻣ ِﻪْﻴَﻨْﻴَﻋ َﻦْﻴَﺑ ِﻦْﻴَﻌْﻟﺍ ٍﻦِﻣْﺆُﻣ ُّﻞُﻛ ُﻩُﺅَﺮْﻘَﻳ ٌﺮِﻓﺎَﻛ ٍﺐِﺗﺎَﻛ ِﺮْﻴَﻏَﻭ ٍﺐِﺗﺎَﻛ – ﺪﻤﺣﺃ "Dan sesungguhnya Dajjal itu
bermata satu; sebelah matanya tidak
nampak. Di antara kedua matanya
tertulis "kafir" yg terbaca oleh setiap
mu'min yg mengerti baca-tulis
ataupun tidak." (HR Ahmad) Hadits di atas mengingatkan kita akan suatu
simbol yang tertera pada lembar
uang kertas satu dollar Amerika
Serikat (one dollar bill). Di dalamnya
kita lihat sebuah gambar yang
disebut sebagai The Great Seal (Meterai Yang Agung). Gambar ini
sarat makna dan isyarat. Kata-kata
berbahasa Latin Novus Ordo
Seclorum berarti the New World
Order (Tatanan Dunia Baru).
Sedangkan di atas tulisan tersebut ada gambar primada yang tidak
sempurna karena bagian pucuknya
terpotong. Lalu di atas piramida itu
ada sebuah segitga yang berukuran
persis sesuai untuk diletakkan
menjadi pucuk piramida. Di dalam segitiga tersebut terdapat gambar
mata tunggal. Lalu di atas segitiga
bermata tunggal itu ada tulisan Latin
Annuit Coeptis yang berarti “the Eye of Providence has approved of (our)
undertakings.” (si Mata Tunggal telah merestui usaha-usaha kami). Jika kita tafsirkan gambar di atas,
maka ia bisa bermakna bahwa dunia
sedang diarahkan menjadi sebuah
sistem yang berstruktur bak
piramida yang belum memiliki
pucuk. Struktur dunia yang belum mempunyai pemimpin tertinggi.
Namun pemimpin tersebut sedang
dinanti-nantikan kehadirannya. Dan
struktur dunia yang dirancang
menjadi the New World Order
tersebut menantikan kedatangan pemimpinnya yang bersimbolkan si
Mata Satu (Dajjal?). Seluruh upaya
mewujdukan dan memapankan the
New World Order merupakan
rangkaian usaha untuk meraih
keridhaan dan restu dari si Mata Satu alias Dajjal. Dengan kata lain Tatanan
Dunia Baru ini adalah sebuah proyek
persembahan kolosal untuk
menyambut kedatangan puncak
fitnah yaitu Dajjal...! Segenap dimensi kehidupan modern
dewasa ini adalah dalam rangka
mewujudkan the New World Order
(Tatanan Dunia Baru). Sebuah sistem
yang tidak berlandaskan nilai-nilai
keimanan bahkan dipengaruhi sangat oleh nilai-nilai kekufuran,
nilai-nilai Dajjal. ”We are living in a Godless Civilization,” demikian ungkap Imron Hosein, mantan Imam
Masjid PBB New York. Bahkan
Ahmad Thompson, seorang penulis
Muslim berkebangsaan Inggris jelas-
jelas menyatakan bahwa dunia
modern semenjak hampir satu abad yang lalu (sejak runtuhnya Khilafah
Islamiyah terakhir) membentuk
diriya menjadi sebuah Sistem Dajjal.
Suatu sistem sarat Dajjalic Values
dimana jika oknum Dajjal muncul
pada masa sekarang ini, maka ia akan segera dinobatkan menjadi
pimpinan Sistem Dajjal yang telah
tersedia. Inilah yang dikhawatirkan
Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam. Bila rangkaian fitnah telah
bermunculan menjelang datangnya
Dajjal, maka manusia akan
mengalami proses seleksi.
Barangsiapa yang sanggup
istiqomah menghindarkan diri dan keluarganya dari rangkaian fitnah
tersebut, maka ia bakal sanggup
terbebaskan dari puncak fitnah,
yakni Dajjal. Dan sebaliknya,
barangsiapa yang malah ikut serta
menyemarakkan rangkaian fitnah sebelum datangnya Dajjal, niscaya ia
akan sangat mudah menjadi sasaran
tipudaya Dajjal. Barangsiapa yang
tanpa jiwa kritis menerima bahkan
mendukung the New World Order,
maka ia termasuk mereka yang pada hakikatnya turut menanti-nanti dan
menyambut dengan sukacita
kedatangan pucuk pimpinan, yaitu
Dajjal ُﻝﺎَّﺟَّﺪﻟﺍ َﺮِﻛُﺫ َﻝﺎَﻗ َﺔَﻔْﻳَﺬُﺣ ْﻦَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﻝﻮُﺳَﺭ َﺪْﻨِﻋ ُﺔَﻨْﺘِﻔَﻟ ﺎَﻧَﺄَﻟ َﻝﺎَﻘَﻓ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ْﻦِﻣ ﻱِﺪْﻨِﻋ ُﻑَﻮْﺧَﺃ ْﻢُﻜِﻀْﻌَﺑ ٌﺪَﺣَﺃ َﻮُﺠْﻨَﻳ ْﻦَﻟَﻭ ِﻝﺎَّﺟَّﺪﻟﺍ ِﺔَﻨْﺘِﻓ ﺎَﻣَﻭ ﺎَﻬْﻨِﻣ ﺎَﺠَﻧ ﺎَّﻟِﺇ ﺎَﻬَﻠْﺒَﻗ ﺎَّﻤِﻣ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ ْﺖَﻧﺎَﻛ ُﺬْﻨُﻣ ٌﺔَﻨْﺘِﻓ ْﺖَﻌِﻨُﺻ ِﺔَﻨْﺘِﻔِﻟ ﺎَّﻟِﺇ ٌﺓَﺮﻴِﺒَﻛ ﺎَﻟَﻭ ٌﺓَﺮﻴِﻐَﺻ ِﻝﺎَّﺟَّﺪﻟﺍ ) ﺪﻤﺣﺃ ( Suatu ketika ihwal Dajjal dibicarakan
di hadapan Rasulullah saw.
Kemudian beliau bersabda:
”Sungguh fitnah yang terjadi di antara kalian lebih aku takuti dari
fitnah Dajjal, dan tiada seseorang
yang dapat selamat dari rangkaian
fitnah sebelum fitnah Dajjal
melainkan akan selamat pula darinya
(Dajjal). Dan tiada fitnah yang dibuat sejak adanya dunia ini –baik kecil ataupun besar- kecuali dalam
rangka menyongsong fitnah
Dajjal.” (HR Ahmad V/389)
tidak peduli akan puncak fitnah
yang bakal datang di akhir zaman.
Dajjal menjadi fenomena yang
dianggap sekedar mitos. Bahkan
banyak yang menganggap Dajjal tidak ada. Sehingga banyak manusia
yang melupakannya dan tidak
pernah peduli untuk
membicarakannya. Ketika
pengabaian ini terjadi di kalangan
orang awam ia sudah menjadi suatu masalah. Namun realitasnya lebih
jauh daripada itu. Bahkan kita
menyaksikan dewasa ini para
pemberi peringatan seperti para
muballigh, penceramah, ustadz dan
kebanyakan ulama tidak lagi peduli untuk memperingatkan ummat akan
bahaya fitnah Dajjal. Padahal
bilamana kedua gejala ini sudah
tampak, maka Nabi shollallahu ’alaih wa sallam justru mengatakan bahwa
pada saat seperti itulah Dajjal bakal
keluar. ﻰَّﻠَﺻ ِﻪَّﻠﻟﺍ َﻝﻮُﺳَﺭ ُﺖْﻌِﻤَﺳ ﺎَﻟ ُﻝﻮُﻘَﻳ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻞَﻫْﺬَﻳ ﻰَّﺘَﺣ ُﻝﺎَّﺟَّﺪﻟﺍ ُﺝُﺮْﺨَﻳ ﻰَّﺘَﺣَﻭ ِﻩِﺮْﻛِﺫ ْﻦَﻋ ُﺱﺎَّﻨﻟﺍ ﻰَﻠَﻋ ُﻩَﺮْﻛِﺫ ُﺔَّﻤِﺋَﺄْﻟﺍ َﻙُﺮْﺘَﺗ ِﺮِﺑﺎَﻨَﻤْﻟﺍ ) ﺪﻤﺣﺃ ( “Dajjal tidak akan muncul sehingga manusia melupakannya dan para
Imam meninggalkan untuk
mengingatnya di atas mimbar-
mimbar.” (HR Ahmad 16073) Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda bahwa pada saat
kebanyakan orang awam
melupakan perkara Dajjal dan para
Imam tidak lagi memperingatkan
ummat akan bahaya puncak fitnah
Dajjal, maka ketika itulah justru Dajjal bakal keluar. Sedangkan realitas
dunia kita dewasa ini sudah
mengandung kedua fenomena
tersebut. Artinya, sudah saatnya kita
waspada mengantisipasi
kemunculan Dajjal yang bila-bila masa dewasa ini akan keluar...!
Dalam sebuah hadits riwayat Imam
Ahmad Nabi Muhammad shollallahu
’alaih wa sallam menjelaskan ciri khas Dajjal kepada ummatnya yang
belum pernah dijelaskan oleh para
Nabi sebelumnya kepada ummatnya
masing-masing. Beliau menegaskan
bahwa Dajjal itu bermata dua namun
salah satunya cacat alias buta sehingga yang ada/berfungsi
hanyalah satu mata saja. ُﺡﻮُﺴْﻤَﻣ ُﺭَﻮْﻋَﺃ َﻝﺎَّﺟَّﺪﻟﺍ َّﻥَﺃَﻭ ٌﺏﻮُﺘْﻜَﻣ ِﻪْﻴَﻨْﻴَﻋ َﻦْﻴَﺑ ِﻦْﻴَﻌْﻟﺍ ٍﻦِﻣْﺆُﻣ ُّﻞُﻛ ُﻩُﺅَﺮْﻘَﻳ ٌﺮِﻓﺎَﻛ ٍﺐِﺗﺎَﻛ ِﺮْﻴَﻏَﻭ ٍﺐِﺗﺎَﻛ – ﺪﻤﺣﺃ "Dan sesungguhnya Dajjal itu
bermata satu; sebelah matanya tidak
nampak. Di antara kedua matanya
tertulis "kafir" yg terbaca oleh setiap
mu'min yg mengerti baca-tulis
ataupun tidak." (HR Ahmad) Hadits di atas mengingatkan kita akan suatu
simbol yang tertera pada lembar
uang kertas satu dollar Amerika
Serikat (one dollar bill). Di dalamnya
kita lihat sebuah gambar yang
disebut sebagai The Great Seal (Meterai Yang Agung). Gambar ini
sarat makna dan isyarat. Kata-kata
berbahasa Latin Novus Ordo
Seclorum berarti the New World
Order (Tatanan Dunia Baru).
Sedangkan di atas tulisan tersebut ada gambar primada yang tidak
sempurna karena bagian pucuknya
terpotong. Lalu di atas piramida itu
ada sebuah segitga yang berukuran
persis sesuai untuk diletakkan
menjadi pucuk piramida. Di dalam segitiga tersebut terdapat gambar
mata tunggal. Lalu di atas segitiga
bermata tunggal itu ada tulisan Latin
Annuit Coeptis yang berarti “the Eye of Providence has approved of (our)
undertakings.” (si Mata Tunggal telah merestui usaha-usaha kami). Jika kita tafsirkan gambar di atas,
maka ia bisa bermakna bahwa dunia
sedang diarahkan menjadi sebuah
sistem yang berstruktur bak
piramida yang belum memiliki
pucuk. Struktur dunia yang belum mempunyai pemimpin tertinggi.
Namun pemimpin tersebut sedang
dinanti-nantikan kehadirannya. Dan
struktur dunia yang dirancang
menjadi the New World Order
tersebut menantikan kedatangan pemimpinnya yang bersimbolkan si
Mata Satu (Dajjal?). Seluruh upaya
mewujdukan dan memapankan the
New World Order merupakan
rangkaian usaha untuk meraih
keridhaan dan restu dari si Mata Satu alias Dajjal. Dengan kata lain Tatanan
Dunia Baru ini adalah sebuah proyek
persembahan kolosal untuk
menyambut kedatangan puncak
fitnah yaitu Dajjal...! Segenap dimensi kehidupan modern
dewasa ini adalah dalam rangka
mewujudkan the New World Order
(Tatanan Dunia Baru). Sebuah sistem
yang tidak berlandaskan nilai-nilai
keimanan bahkan dipengaruhi sangat oleh nilai-nilai kekufuran,
nilai-nilai Dajjal. ”We are living in a Godless Civilization,” demikian ungkap Imron Hosein, mantan Imam
Masjid PBB New York. Bahkan
Ahmad Thompson, seorang penulis
Muslim berkebangsaan Inggris jelas-
jelas menyatakan bahwa dunia
modern semenjak hampir satu abad yang lalu (sejak runtuhnya Khilafah
Islamiyah terakhir) membentuk
diriya menjadi sebuah Sistem Dajjal.
Suatu sistem sarat Dajjalic Values
dimana jika oknum Dajjal muncul
pada masa sekarang ini, maka ia akan segera dinobatkan menjadi
pimpinan Sistem Dajjal yang telah
tersedia. Inilah yang dikhawatirkan
Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam. Bila rangkaian fitnah telah
bermunculan menjelang datangnya
Dajjal, maka manusia akan
mengalami proses seleksi.
Barangsiapa yang sanggup
istiqomah menghindarkan diri dan keluarganya dari rangkaian fitnah
tersebut, maka ia bakal sanggup
terbebaskan dari puncak fitnah,
yakni Dajjal. Dan sebaliknya,
barangsiapa yang malah ikut serta
menyemarakkan rangkaian fitnah sebelum datangnya Dajjal, niscaya ia
akan sangat mudah menjadi sasaran
tipudaya Dajjal. Barangsiapa yang
tanpa jiwa kritis menerima bahkan
mendukung the New World Order,
maka ia termasuk mereka yang pada hakikatnya turut menanti-nanti dan
menyambut dengan sukacita
kedatangan pucuk pimpinan, yaitu
Dajjal ُﻝﺎَّﺟَّﺪﻟﺍ َﺮِﻛُﺫ َﻝﺎَﻗ َﺔَﻔْﻳَﺬُﺣ ْﻦَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﻝﻮُﺳَﺭ َﺪْﻨِﻋ ُﺔَﻨْﺘِﻔَﻟ ﺎَﻧَﺄَﻟ َﻝﺎَﻘَﻓ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ْﻦِﻣ ﻱِﺪْﻨِﻋ ُﻑَﻮْﺧَﺃ ْﻢُﻜِﻀْﻌَﺑ ٌﺪَﺣَﺃ َﻮُﺠْﻨَﻳ ْﻦَﻟَﻭ ِﻝﺎَّﺟَّﺪﻟﺍ ِﺔَﻨْﺘِﻓ ﺎَﻣَﻭ ﺎَﻬْﻨِﻣ ﺎَﺠَﻧ ﺎَّﻟِﺇ ﺎَﻬَﻠْﺒَﻗ ﺎَّﻤِﻣ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ ْﺖَﻧﺎَﻛ ُﺬْﻨُﻣ ٌﺔَﻨْﺘِﻓ ْﺖَﻌِﻨُﺻ ِﺔَﻨْﺘِﻔِﻟ ﺎَّﻟِﺇ ٌﺓَﺮﻴِﺒَﻛ ﺎَﻟَﻭ ٌﺓَﺮﻴِﻐَﺻ ِﻝﺎَّﺟَّﺪﻟﺍ ) ﺪﻤﺣﺃ ( Suatu ketika ihwal Dajjal dibicarakan
di hadapan Rasulullah saw.
Kemudian beliau bersabda:
”Sungguh fitnah yang terjadi di antara kalian lebih aku takuti dari
fitnah Dajjal, dan tiada seseorang
yang dapat selamat dari rangkaian
fitnah sebelum fitnah Dajjal
melainkan akan selamat pula darinya
(Dajjal). Dan tiada fitnah yang dibuat sejak adanya dunia ini –baik kecil ataupun besar- kecuali dalam
rangka menyongsong fitnah
Dajjal.” (HR Ahmad V/389)
NASIB PEMBURU DUNIA
Saudaraku, sungguh Allah ta ’aala memang Maha Pemurah. Allah ta’aala tidak membedakan pemberian
karuniaNya kepada golongan
pencinta dunia maupun golongan
pemburu akhirat. Keduanya Allah
ta’aala berikan bantuan dari kemurahanNya. Namun Allah ta ’aala tegaskan bahwa nasib akhir para
pemburu akhirat jauh lebih baik dan
lebih terpuji. ْﻦِﻣ ِﺀﺎَﻟُﺆَﻫَﻭ ِﺀﺎَﻟُﺆَﻫ ُّﺪِﻤُﻧ ﺎًّﻠُﻛ ُﺀﺎَﻄَﻋ َﻥﺎَﻛ ﺎَﻣَﻭ َﻚِّﺑَﺭ ِﺀﺎَﻄَﻋ ﺍًﺭﻮُﻈْﺤَﻣ َﻚِّﺑَﺭ "Kepada masing-masing golongan
baik golongan ini maupun golongan
itu Kami berikan bantuan dari
kemurahan Tuhanmu. Dan pasti
kehidupan akhirat lebih tinggi
tingkatnya dan lebih besar keutamaannya." (QS Al-Israa ayat
20-21) Saudaraku, manusia pencinta dunia
adalah manusia yang tidak sabar.
Sebab mereka ingin memperoleh
yang dekat sambil meninggalkan
yang jauh. Yang dekat ialah
kesenangan dunia fana. Sedangkan yang jauh ialah kebahagiaan hakiki
akhirat yang kekal-abadi dan
kehadirannya sesudah berlalunya
kehidupan dunia ini. Allah ta’aala berjanji akan menyempurnakan keberhasilan para
pencinta dunia di dunia. Allah ta’aala tidak menghalangi pencinta dunia
untuk memperoleh keberhasilannya
di dunia jika ia penuhi segenap
sebab-sebab keberhasilannya. Allah
ta’aala tidak akan membiarkan mereka merugi di dunia. Namun
Allah ta’aala mengancam dengan kepastian neraka di akhirat bagi
mereka dikarenakan sempitnya
pandangan mereka yang hanya
mengidamkan keberhasilan sebatas
dunia fana ini. ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ َﺓﺎَﻴَﺤْﻟﺍ ُﺪﻳِﺮُﻳ َﻥﺎَﻛ ْﻦَﻣ ْﻢُﻬَﻟﺎَﻤْﻋَﺃ ْﻢِﻬْﻴَﻟِﺇ ِّﻑَﻮُﻧ ﺎَﻬَﺘَﻨﻳِﺯَﻭ َﻥﻮُﺴَﺨْﺒُﻳ ﺎَﻟ ﺎَﻬﻴِﻓ ْﻢُﻫَﻭ ﺎَﻬﻴِﻓ ْﻢُﻬَﻟ َﺲْﻴَﻟ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ َﻚِﺌَﻟﻭُﺃ َﻂِﺒَﺣَﻭ ُﺭﺎَّﻨﻟﺍ ﺎَّﻟِﺇ ِﺓَﺮِﺧَﺂْﻟﺍ ﻲِﻓ ﺎَﻣ ٌﻞِﻃﺎَﺑَﻭ ﺎَﻬﻴِﻓ ﺍﻮُﻌَﻨَﺻ ﺎَﻣ َﻥﻮُﻠَﻤْﻌَﻳ ﺍﻮُﻧﺎَﻛ "Barangsiapa yang menghendaki
kehidupan dunia dan perhiasannya,
niscaya Kami berikan kepada
mereka balasan pekerjaan mereka di
dunia dengan sempurna dan mereka
di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak
memperoleh di akhirat, kecuali
neraka dan lenyaplah di akhirat itu
apa yang telah mereka usahakan di
dunia dan sia-sialah apa yang telah
mereka kerjakan" (QS Hud15-16) Sebagian muslim kadang heran
mengapa para pencinta dunia dan
ahli maksiat kok semakin hari
semakin mudah meraih keberhasilan
duniawi. Padahal firman Allah ta’aala di atas jelas-jelas menyebutkan
bahwa Allah ta’aala memang memudahkan para pencinta dunia
untuk memperoleh apa yang mereka
cita-citakan. Ini sudah merupakan
hukum Allah ta ’aala. Jadi kita tidak perlu merasa heran mengapa orang-
orang seperti para selebritis alias ahli
maksiat semakin sukses secara
duniawi. Begitu pula sebaliknya. Ada
sebagian muslim yang sulit
memahami mengapa orang-orang
beriman hidupnya di dunia begitu
sulit dan sarat penderitaan. Padahal
memang inilah ketentuan yang sudah digariskan oleh Allah ta ’aala. Bahkan dalam sebuah hadits Nabi
shollallahu ’alaihi wa sallam jelas- jelas bersabda: ُﺔَّﻨَﺟَﻭ ِﻦِﻣْﺆُﻤْﻟﺍ ُﻦْﺠِﺳ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ ِﺮِﻓﺎَﻜْﻟﺍ "Dunia itu penjara bagi orang
beriman dan surga bagi orang
kafir." (HR Tirmidzy 2246) Orang beriman hidup di dunia
laksana dalam penjara karena ia
dengan penuh kesadaran memilih
jalan hidup yang sarat dengan
komitmen terhadap peraturan dan
batasan-batasan yang telah digariskan Allah ta ’aala. Ia tidak pernah merasa enggan dan
keberatan untuk mentaati peraturan
dan batasan Allah ta’aala sebab ia tahu bahwa dengan menempuh
jalan hidup seperti itulah ia bakal
memasuki kehidupan selanjutnya
dengan penuh kehormatan dan
kebahagiaan hakiki. Ia tidak merasa
keberatan dengan segala kesulitan hidup dunia sebab ia tidak pernah
menjadikan dunia sebagai batas
pengetahuan dan ambisinya.
Pengetahuan dan ambisi hidupnya
jauh melampaui dunia fana ini
sampai ke akhirat yang kekal-abadi. Ia sadar bahwa kalaupun hidupnya
harus susah di dunia, maka itu tidak
akan berlangsung selamanya. Dunia
ini sangat sementara dan sangat
singkat perjalanannya. Adapun
akhirat merupakan tempat yang jauh lebih hakiki dan kekal untuk
dijadikan ambisi. ﻰَﻌَﺳَﻭ َﺓَﺮِﺧَﺂْﻟﺍ َﺩﺍَﺭَﺃ ْﻦَﻣَﻭ ٌﻦِﻣْﺆُﻣ َﻮُﻫَﻭ ﺎَﻬَﻴْﻌَﺳ ﺎَﻬَﻟ ْﻢُﻬُﻴْﻌَﺳ َﻥﺎَﻛ َﻚِﺌَﻟﻭُﺄَﻓ ﺍًﺭﻮُﻜْﺸَﻣ "Dan barangsiapa yang
menghendaki kehidupan akhirat
dan berusaha ke arah itu dengan
sungguh-sungguh sedang ia adalah
mu'min, maka mereka itu adalah
orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik." (QS Al-Israa ayat 19) Sebaliknya, orang-orang kafir
sedemikian obsesinya untuk meraih
kesenangan secepat mungkin, maka
mereka menyangka bahwa hanya di
dunia inilah ia perlu menikmatinya.
Itulah sebabnya mereka demikian bersungguh-sungguh untuk
mengejarnya. Mereka ingin memaksa
agar surga segera dirasakan
secepatnya di dunia fana ini. Mareka
tidak sabar. Bahkan mereka tidak
yakin masih ada lagi kehidupan selain di dunia ini. Maka daripada
berspekulasi dengan akhirat yang
belum pasti keberadaannya lebih
baik bersegera mewujudkan surga
di dunia ini dan menjauh dari neraka
dunia sedapat mungkin. Harus kaya, harus senang, harus berkuasa
sekarang. Jangan biarkan diri sedih
dan menderita di dunia. ﺎَﻨْﻠَّﺠَﻋ َﺔَﻠِﺟﺎَﻌْﻟﺍ ُﺪﻳِﺮُﻳ َﻥﺎَﻛ ْﻦَﻣ ْﻦَﻤِﻟ ُﺀﺎَﺸَﻧ ﺎَﻣ ﺎَﻬﻴِﻓ ُﻪَﻟ َﻢَّﻨَﻬَﺟ ُﻪَﻟ ﺎَﻨْﻠَﻌَﺟ َّﻢُﺛ ُﺪﻳِﺮُﻧ ﺍًﺭﻮُﺣْﺪَﻣ ﺎًﻣﻮُﻣْﺬَﻣ ﺎَﻫﺎَﻠْﺼَﻳ "Barangsiapa menghendaki
kehidupan sekarang (duniawi),
maka Kami segerakan baginya di
dunia itu apa yang Kami kehendaki
bagi orang yang Kami kehendaki
dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya
dalam keadaan tercela dan
terusir." (QS Al-Israa ayat 18)
karuniaNya kepada golongan
pencinta dunia maupun golongan
pemburu akhirat. Keduanya Allah
ta’aala berikan bantuan dari kemurahanNya. Namun Allah ta ’aala tegaskan bahwa nasib akhir para
pemburu akhirat jauh lebih baik dan
lebih terpuji. ْﻦِﻣ ِﺀﺎَﻟُﺆَﻫَﻭ ِﺀﺎَﻟُﺆَﻫ ُّﺪِﻤُﻧ ﺎًّﻠُﻛ ُﺀﺎَﻄَﻋ َﻥﺎَﻛ ﺎَﻣَﻭ َﻚِّﺑَﺭ ِﺀﺎَﻄَﻋ ﺍًﺭﻮُﻈْﺤَﻣ َﻚِّﺑَﺭ "Kepada masing-masing golongan
baik golongan ini maupun golongan
itu Kami berikan bantuan dari
kemurahan Tuhanmu. Dan pasti
kehidupan akhirat lebih tinggi
tingkatnya dan lebih besar keutamaannya." (QS Al-Israa ayat
20-21) Saudaraku, manusia pencinta dunia
adalah manusia yang tidak sabar.
Sebab mereka ingin memperoleh
yang dekat sambil meninggalkan
yang jauh. Yang dekat ialah
kesenangan dunia fana. Sedangkan yang jauh ialah kebahagiaan hakiki
akhirat yang kekal-abadi dan
kehadirannya sesudah berlalunya
kehidupan dunia ini. Allah ta’aala berjanji akan menyempurnakan keberhasilan para
pencinta dunia di dunia. Allah ta’aala tidak menghalangi pencinta dunia
untuk memperoleh keberhasilannya
di dunia jika ia penuhi segenap
sebab-sebab keberhasilannya. Allah
ta’aala tidak akan membiarkan mereka merugi di dunia. Namun
Allah ta’aala mengancam dengan kepastian neraka di akhirat bagi
mereka dikarenakan sempitnya
pandangan mereka yang hanya
mengidamkan keberhasilan sebatas
dunia fana ini. ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ َﺓﺎَﻴَﺤْﻟﺍ ُﺪﻳِﺮُﻳ َﻥﺎَﻛ ْﻦَﻣ ْﻢُﻬَﻟﺎَﻤْﻋَﺃ ْﻢِﻬْﻴَﻟِﺇ ِّﻑَﻮُﻧ ﺎَﻬَﺘَﻨﻳِﺯَﻭ َﻥﻮُﺴَﺨْﺒُﻳ ﺎَﻟ ﺎَﻬﻴِﻓ ْﻢُﻫَﻭ ﺎَﻬﻴِﻓ ْﻢُﻬَﻟ َﺲْﻴَﻟ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ َﻚِﺌَﻟﻭُﺃ َﻂِﺒَﺣَﻭ ُﺭﺎَّﻨﻟﺍ ﺎَّﻟِﺇ ِﺓَﺮِﺧَﺂْﻟﺍ ﻲِﻓ ﺎَﻣ ٌﻞِﻃﺎَﺑَﻭ ﺎَﻬﻴِﻓ ﺍﻮُﻌَﻨَﺻ ﺎَﻣ َﻥﻮُﻠَﻤْﻌَﻳ ﺍﻮُﻧﺎَﻛ "Barangsiapa yang menghendaki
kehidupan dunia dan perhiasannya,
niscaya Kami berikan kepada
mereka balasan pekerjaan mereka di
dunia dengan sempurna dan mereka
di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak
memperoleh di akhirat, kecuali
neraka dan lenyaplah di akhirat itu
apa yang telah mereka usahakan di
dunia dan sia-sialah apa yang telah
mereka kerjakan" (QS Hud15-16) Sebagian muslim kadang heran
mengapa para pencinta dunia dan
ahli maksiat kok semakin hari
semakin mudah meraih keberhasilan
duniawi. Padahal firman Allah ta’aala di atas jelas-jelas menyebutkan
bahwa Allah ta’aala memang memudahkan para pencinta dunia
untuk memperoleh apa yang mereka
cita-citakan. Ini sudah merupakan
hukum Allah ta ’aala. Jadi kita tidak perlu merasa heran mengapa orang-
orang seperti para selebritis alias ahli
maksiat semakin sukses secara
duniawi. Begitu pula sebaliknya. Ada
sebagian muslim yang sulit
memahami mengapa orang-orang
beriman hidupnya di dunia begitu
sulit dan sarat penderitaan. Padahal
memang inilah ketentuan yang sudah digariskan oleh Allah ta ’aala. Bahkan dalam sebuah hadits Nabi
shollallahu ’alaihi wa sallam jelas- jelas bersabda: ُﺔَّﻨَﺟَﻭ ِﻦِﻣْﺆُﻤْﻟﺍ ُﻦْﺠِﺳ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ ِﺮِﻓﺎَﻜْﻟﺍ "Dunia itu penjara bagi orang
beriman dan surga bagi orang
kafir." (HR Tirmidzy 2246) Orang beriman hidup di dunia
laksana dalam penjara karena ia
dengan penuh kesadaran memilih
jalan hidup yang sarat dengan
komitmen terhadap peraturan dan
batasan-batasan yang telah digariskan Allah ta ’aala. Ia tidak pernah merasa enggan dan
keberatan untuk mentaati peraturan
dan batasan Allah ta’aala sebab ia tahu bahwa dengan menempuh
jalan hidup seperti itulah ia bakal
memasuki kehidupan selanjutnya
dengan penuh kehormatan dan
kebahagiaan hakiki. Ia tidak merasa
keberatan dengan segala kesulitan hidup dunia sebab ia tidak pernah
menjadikan dunia sebagai batas
pengetahuan dan ambisinya.
Pengetahuan dan ambisi hidupnya
jauh melampaui dunia fana ini
sampai ke akhirat yang kekal-abadi. Ia sadar bahwa kalaupun hidupnya
harus susah di dunia, maka itu tidak
akan berlangsung selamanya. Dunia
ini sangat sementara dan sangat
singkat perjalanannya. Adapun
akhirat merupakan tempat yang jauh lebih hakiki dan kekal untuk
dijadikan ambisi. ﻰَﻌَﺳَﻭ َﺓَﺮِﺧَﺂْﻟﺍ َﺩﺍَﺭَﺃ ْﻦَﻣَﻭ ٌﻦِﻣْﺆُﻣ َﻮُﻫَﻭ ﺎَﻬَﻴْﻌَﺳ ﺎَﻬَﻟ ْﻢُﻬُﻴْﻌَﺳ َﻥﺎَﻛ َﻚِﺌَﻟﻭُﺄَﻓ ﺍًﺭﻮُﻜْﺸَﻣ "Dan barangsiapa yang
menghendaki kehidupan akhirat
dan berusaha ke arah itu dengan
sungguh-sungguh sedang ia adalah
mu'min, maka mereka itu adalah
orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik." (QS Al-Israa ayat 19) Sebaliknya, orang-orang kafir
sedemikian obsesinya untuk meraih
kesenangan secepat mungkin, maka
mereka menyangka bahwa hanya di
dunia inilah ia perlu menikmatinya.
Itulah sebabnya mereka demikian bersungguh-sungguh untuk
mengejarnya. Mereka ingin memaksa
agar surga segera dirasakan
secepatnya di dunia fana ini. Mareka
tidak sabar. Bahkan mereka tidak
yakin masih ada lagi kehidupan selain di dunia ini. Maka daripada
berspekulasi dengan akhirat yang
belum pasti keberadaannya lebih
baik bersegera mewujudkan surga
di dunia ini dan menjauh dari neraka
dunia sedapat mungkin. Harus kaya, harus senang, harus berkuasa
sekarang. Jangan biarkan diri sedih
dan menderita di dunia. ﺎَﻨْﻠَّﺠَﻋ َﺔَﻠِﺟﺎَﻌْﻟﺍ ُﺪﻳِﺮُﻳ َﻥﺎَﻛ ْﻦَﻣ ْﻦَﻤِﻟ ُﺀﺎَﺸَﻧ ﺎَﻣ ﺎَﻬﻴِﻓ ُﻪَﻟ َﻢَّﻨَﻬَﺟ ُﻪَﻟ ﺎَﻨْﻠَﻌَﺟ َّﻢُﺛ ُﺪﻳِﺮُﻧ ﺍًﺭﻮُﺣْﺪَﻣ ﺎًﻣﻮُﻣْﺬَﻣ ﺎَﻫﺎَﻠْﺼَﻳ "Barangsiapa menghendaki
kehidupan sekarang (duniawi),
maka Kami segerakan baginya di
dunia itu apa yang Kami kehendaki
bagi orang yang Kami kehendaki
dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya
dalam keadaan tercela dan
terusir." (QS Al-Israa ayat 18)
Sunday, 1 May 2011
Penyakit Ummat Islam Di AkhirZaman (1)
Dalam sebuah hadits Nabi shollallahu
’alaih wa sallam mengabarkan bahwa kelak di masa yang akan
datang ummat Islam akan berada
dalam keadaan yang sedemikian
buruknya sehingga diumpamakan
sebagai laksana makanan yang
diperebutkan oleh sekumpulan pemangsanya. Lengkapnya hadits
tersebut sebagai berikut: ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﻝﻮُﺳَﺭ َﻝﺎَﻗ ْﻥَﺃ ُﻢَﻣُﺄْﻟﺍ ُﻚِﺷﻮُﻳ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ﻰَﻋﺍَﺪَﺗ ﺎَﻤَﻛ ْﻢُﻜْﻴَﻠَﻋ ﻰَﻋﺍَﺪَﺗ َﻝﺎَﻘَﻓ ﺎَﻬِﺘَﻌْﺼَﻗ ﻰَﻟِﺇ ُﺔَﻠَﻛَﺄْﻟﺍ ٍﺬِﺌَﻣْﻮَﻳ ُﻦْﺤَﻧ ٍﺔَّﻠِﻗ ْﻦِﻣَﻭ ٌﻞِﺋﺎَﻗ ٌﺮﻴِﺜَﻛ ٍﺬِﺌَﻣْﻮَﻳ ْﻢُﺘْﻧَﺃ ْﻞَﺑ َﻝﺎَﻗ ِﻞْﻴَّﺴﻟﺍ ِﺀﺎَﺜُﻐَﻛ ٌﺀﺎَﺜُﻏ ْﻢُﻜَّﻨِﻜَﻟَﻭ ِﺭﻭُﺪُﺻ ْﻦِﻣ ُﻪَّﻠﻟﺍ َّﻦَﻋَﺰْﻨَﻴَﻟَﻭ ْﻢُﻜْﻨِﻣ َﺔَﺑﺎَﻬَﻤْﻟﺍ ْﻢُﻛِّﻭُﺪَﻋ ْﻢُﻜِﺑﻮُﻠُﻗ ﻲِﻓ ُﻪَّﻠﻟﺍ َّﻦَﻓِﺬْﻘَﻴَﻟَﻭ َﻝﻮُﺳَﺭ ﺎَﻳ ٌﻞِﺋﺎَﻗ َﻝﺎَﻘَﻓ َﻦْﻫَﻮْﻟﺍ ُّﺐُﺣ َﻝﺎَﻗ ُﻦْﻫَﻮْﻟﺍ ﺎَﻣَﻭ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﺕْﻮَﻤْﻟﺍ ُﺔَﻴِﻫﺍَﺮَﻛَﻭ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ Bersabda Rasulullah shollallahu
’alaih wa sallam “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti
sekumpulan pemangsa yang
memperebutkan makanannya.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita ?” ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan
Allah telah mencabut rasa gentar dari
dada musuh kalian terhadap kalian.
Dan Allah telah menanamkan dalam
hati kalian penyakit Al-Wahan. ” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu ?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR Abu Dawud 3745) Ada beberapa pelajaran penting
yang dapat kita tarik dari hadits ini: Pertama, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam memprediksi bahwa akan tiba
suatu masa dimana orang-orang
beriman akan menjadi kumpulan
manusia yang menjadi rebutan
ummat lainnya. Mereka akan
mengalami keadaan yang sedemikian memprihatinkan
sehingga diumpamakan seperti
suatu porsi makanan yang
diperbutkan oleh sekumpulan
pemangsa. Artinya, pada masa itu
kaum muslimin menjadi bulan- bulanan kaum lainnya. Hal ini terjadi
karena mereka tidak memiliki
kemuliaan sebagaimana di masa lalu.
Mereka telah diliputi keinaan. Kedua, pada masa itu muslimin
tertipu dengan banyaknya jumlah
mereka padahal tidak bermutu.
Sahabat menyangka bahwa keadaan
hina yang mereka alami disebabkan
jumlah mereka yang sedikit, lalu Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menyangkal dengan mengatakan
bahwa jumlah muslimin pada waktu
itu banyak, namun berkualitas
rendah. Hal ini juga dapat berarti bahwa pada
masa itu ummat Islam sedemikian
peduli dengan kuantitas namun lalai
memperhatikan aspek kualitas. Yang
penting punya banyak pendukung
alias konstituen sambil kurang peduli apakah mereka berkualitas
atau tidak. Sehingga kaum muslimin
menggunakan tolok ukur mirip
kaum kuffar dimana yang banyak
pasti mengalahkan yang sedikit.
Mereka menjadi gemar menggunakan prinsip the majority rules (mayoritas-lah yang berkuasa) yakni prinsip yang menjiwai falsafah
demokrasi modern. Padahal Allah
menegaskan di dalam Al-Qur ’an bahwa pasukan berjumlah sedikit
dapat mengalahkan pasukan musuh
yang jumlahnya lebih besar dengan
izin Allah. ًﺔَﺌِﻓ ْﺖَﺒَﻠَﻏ ٍﺔَﻠﻴِﻠَﻗ ٍﺔَﺌِﻓ ْﻦِﻣ ْﻢَﻛ َﻊَﻣ ُﻪَّﻠﻟﺍَﻭ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﻥْﺫِﺈِﺑ ًﺓَﺮﻴِﺜَﻛ َﻦﻳِﺮِﺑﺎَّﺼﻟﺍ "Berapa banyak terjadi golongan
yang sedikit dapat mengalahkan
golongan yang banyak dengan izin
Allah. Dan Allah beserta orang-orang
yang sabar." (QS Al-Baqarah ayat
249) Pada masa dimana muslimin terhina,
maka kuantitas mereka yang besar
tidak dapat menutupi kelemahan
kualitas. Sedemikian rupa sehingga
Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengumpamakan mereka seperti
buih mengapung. Coba perhatikan
tabiat buih di tepi pantai. Kita lihat
bahwa buih merupakan sesuatu
yang paling terlihat, paling indah dan
berjumlah sangat banyak saat ombak sedang bergulung. Namun
buih pulalah yang paling pertama
menghilang saat angin berhembus
lalu menghempaskannya ke udara. Ketiga, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengisyaratkan bahwa jika
ummat Islam dalam keadaan terhina,
maka salah satu indikator utamanya
ialah rasa gentar menghilang di
dalam dada musuh menghadapi
ummat Islam. Artinya, sesungguhnya Nabi shollallahu ’alaih wa sallam lebih menyukai ummat Islam
senantiasa berwibawa sehingga
disegani dan ditakuti musuh. Dewasa ini malah kita melihat bahwa para
pemimpin berbagai negeri
berpenduduk mayoritas muslim
justru memiliki rasa segan dan rasa
takut menghadapi para pemimpin
kalangan kaum kuffar dunia barat. Alih-alih mengkritisi mereka,
bersikap sama tinggi sama rendah
saja sudah tidak sanggup. Sehingga
yang kita lihat di panggung dunia
para pemimpin negeri kaum
muslimin menjadi –maaf- pelayan jika tidak bisa dikatakan anjing
piaraan pemimpin kaum kuffar.
Mereka menjulurkan lidah dengan
setia mengikuti kemauan sang
majikan kemanapun mereka pergi.
Padahal Allah menggambarkan kaum muslimin sebagai manusia
yang paling tinggi derajatnya di
tengah manusia lainnya jika mereka
sungguh-sungguh beriman kepada
Allah. ُﻢُﺘْﻧَﺃَﻭ ﺍﻮُﻨَْﺤَﺗ ﺎَﻟَﻭ ﺍﻮُﻨِﻬَﺗ ﺎَﻟَﻭ َﻦﻴِﻨِﻣْﺆُﻣ ْﻢُﺘْﻨُﻛ ْﻥِﺇ َﻥْﻮَﻠْﻋَﺄْﻟﺍ “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih
hati, padahal kamulah orang-orang
yang paling tinggi (derajatnya), jika
kamu orang-orang yang
beriman.” (QS Ali Imran ayat 139) (BERSAMBUNG)
’alaih wa sallam mengabarkan bahwa kelak di masa yang akan
datang ummat Islam akan berada
dalam keadaan yang sedemikian
buruknya sehingga diumpamakan
sebagai laksana makanan yang
diperebutkan oleh sekumpulan pemangsanya. Lengkapnya hadits
tersebut sebagai berikut: ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﻝﻮُﺳَﺭ َﻝﺎَﻗ ْﻥَﺃ ُﻢَﻣُﺄْﻟﺍ ُﻚِﺷﻮُﻳ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ﻰَﻋﺍَﺪَﺗ ﺎَﻤَﻛ ْﻢُﻜْﻴَﻠَﻋ ﻰَﻋﺍَﺪَﺗ َﻝﺎَﻘَﻓ ﺎَﻬِﺘَﻌْﺼَﻗ ﻰَﻟِﺇ ُﺔَﻠَﻛَﺄْﻟﺍ ٍﺬِﺌَﻣْﻮَﻳ ُﻦْﺤَﻧ ٍﺔَّﻠِﻗ ْﻦِﻣَﻭ ٌﻞِﺋﺎَﻗ ٌﺮﻴِﺜَﻛ ٍﺬِﺌَﻣْﻮَﻳ ْﻢُﺘْﻧَﺃ ْﻞَﺑ َﻝﺎَﻗ ِﻞْﻴَّﺴﻟﺍ ِﺀﺎَﺜُﻐَﻛ ٌﺀﺎَﺜُﻏ ْﻢُﻜَّﻨِﻜَﻟَﻭ ِﺭﻭُﺪُﺻ ْﻦِﻣ ُﻪَّﻠﻟﺍ َّﻦَﻋَﺰْﻨَﻴَﻟَﻭ ْﻢُﻜْﻨِﻣ َﺔَﺑﺎَﻬَﻤْﻟﺍ ْﻢُﻛِّﻭُﺪَﻋ ْﻢُﻜِﺑﻮُﻠُﻗ ﻲِﻓ ُﻪَّﻠﻟﺍ َّﻦَﻓِﺬْﻘَﻴَﻟَﻭ َﻝﻮُﺳَﺭ ﺎَﻳ ٌﻞِﺋﺎَﻗ َﻝﺎَﻘَﻓ َﻦْﻫَﻮْﻟﺍ ُّﺐُﺣ َﻝﺎَﻗ ُﻦْﻫَﻮْﻟﺍ ﺎَﻣَﻭ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﺕْﻮَﻤْﻟﺍ ُﺔَﻴِﻫﺍَﺮَﻛَﻭ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ Bersabda Rasulullah shollallahu
’alaih wa sallam “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti
sekumpulan pemangsa yang
memperebutkan makanannya.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita ?” ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan
Allah telah mencabut rasa gentar dari
dada musuh kalian terhadap kalian.
Dan Allah telah menanamkan dalam
hati kalian penyakit Al-Wahan. ” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu ?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR Abu Dawud 3745) Ada beberapa pelajaran penting
yang dapat kita tarik dari hadits ini: Pertama, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam memprediksi bahwa akan tiba
suatu masa dimana orang-orang
beriman akan menjadi kumpulan
manusia yang menjadi rebutan
ummat lainnya. Mereka akan
mengalami keadaan yang sedemikian memprihatinkan
sehingga diumpamakan seperti
suatu porsi makanan yang
diperbutkan oleh sekumpulan
pemangsa. Artinya, pada masa itu
kaum muslimin menjadi bulan- bulanan kaum lainnya. Hal ini terjadi
karena mereka tidak memiliki
kemuliaan sebagaimana di masa lalu.
Mereka telah diliputi keinaan. Kedua, pada masa itu muslimin
tertipu dengan banyaknya jumlah
mereka padahal tidak bermutu.
Sahabat menyangka bahwa keadaan
hina yang mereka alami disebabkan
jumlah mereka yang sedikit, lalu Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menyangkal dengan mengatakan
bahwa jumlah muslimin pada waktu
itu banyak, namun berkualitas
rendah. Hal ini juga dapat berarti bahwa pada
masa itu ummat Islam sedemikian
peduli dengan kuantitas namun lalai
memperhatikan aspek kualitas. Yang
penting punya banyak pendukung
alias konstituen sambil kurang peduli apakah mereka berkualitas
atau tidak. Sehingga kaum muslimin
menggunakan tolok ukur mirip
kaum kuffar dimana yang banyak
pasti mengalahkan yang sedikit.
Mereka menjadi gemar menggunakan prinsip the majority rules (mayoritas-lah yang berkuasa) yakni prinsip yang menjiwai falsafah
demokrasi modern. Padahal Allah
menegaskan di dalam Al-Qur ’an bahwa pasukan berjumlah sedikit
dapat mengalahkan pasukan musuh
yang jumlahnya lebih besar dengan
izin Allah. ًﺔَﺌِﻓ ْﺖَﺒَﻠَﻏ ٍﺔَﻠﻴِﻠَﻗ ٍﺔَﺌِﻓ ْﻦِﻣ ْﻢَﻛ َﻊَﻣ ُﻪَّﻠﻟﺍَﻭ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﻥْﺫِﺈِﺑ ًﺓَﺮﻴِﺜَﻛ َﻦﻳِﺮِﺑﺎَّﺼﻟﺍ "Berapa banyak terjadi golongan
yang sedikit dapat mengalahkan
golongan yang banyak dengan izin
Allah. Dan Allah beserta orang-orang
yang sabar." (QS Al-Baqarah ayat
249) Pada masa dimana muslimin terhina,
maka kuantitas mereka yang besar
tidak dapat menutupi kelemahan
kualitas. Sedemikian rupa sehingga
Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengumpamakan mereka seperti
buih mengapung. Coba perhatikan
tabiat buih di tepi pantai. Kita lihat
bahwa buih merupakan sesuatu
yang paling terlihat, paling indah dan
berjumlah sangat banyak saat ombak sedang bergulung. Namun
buih pulalah yang paling pertama
menghilang saat angin berhembus
lalu menghempaskannya ke udara. Ketiga, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengisyaratkan bahwa jika
ummat Islam dalam keadaan terhina,
maka salah satu indikator utamanya
ialah rasa gentar menghilang di
dalam dada musuh menghadapi
ummat Islam. Artinya, sesungguhnya Nabi shollallahu ’alaih wa sallam lebih menyukai ummat Islam
senantiasa berwibawa sehingga
disegani dan ditakuti musuh. Dewasa ini malah kita melihat bahwa para
pemimpin berbagai negeri
berpenduduk mayoritas muslim
justru memiliki rasa segan dan rasa
takut menghadapi para pemimpin
kalangan kaum kuffar dunia barat. Alih-alih mengkritisi mereka,
bersikap sama tinggi sama rendah
saja sudah tidak sanggup. Sehingga
yang kita lihat di panggung dunia
para pemimpin negeri kaum
muslimin menjadi –maaf- pelayan jika tidak bisa dikatakan anjing
piaraan pemimpin kaum kuffar.
Mereka menjulurkan lidah dengan
setia mengikuti kemauan sang
majikan kemanapun mereka pergi.
Padahal Allah menggambarkan kaum muslimin sebagai manusia
yang paling tinggi derajatnya di
tengah manusia lainnya jika mereka
sungguh-sungguh beriman kepada
Allah. ُﻢُﺘْﻧَﺃَﻭ ﺍﻮُﻨَْﺤَﺗ ﺎَﻟَﻭ ﺍﻮُﻨِﻬَﺗ ﺎَﻟَﻭ َﻦﻴِﻨِﻣْﺆُﻣ ْﻢُﺘْﻨُﻛ ْﻥِﺇ َﻥْﻮَﻠْﻋَﺄْﻟﺍ “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih
hati, padahal kamulah orang-orang
yang paling tinggi (derajatnya), jika
kamu orang-orang yang
beriman.” (QS Ali Imran ayat 139) (BERSAMBUNG)
Penyakit Ummat Islam Di AkhirZaman (2)
Dalam sebuah hadits Nabi shollallahu
’alaih wa sallam mengabarkan bahwa kelak di masa yang akan
datang ummat Islam akan berada
dalam keadaan yang sedemikian
buruknya sehingga diumpamakan
sebagai laksana makanan yang
diperebutkan oleh sekumpulan pemangsanya. Lengkapnya hadits
tersebut sebagai berikut: ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﻝﻮُﺳَﺭ َﻝﺎَﻗ ْﻥَﺃ ُﻢَﻣُﺄْﻟﺍ ُﻚِﺷﻮُﻳ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ﻰَﻋﺍَﺪَﺗ ﺎَﻤَﻛ ْﻢُﻜْﻴَﻠَﻋ ﻰَﻋﺍَﺪَﺗ َﻝﺎَﻘَﻓ ﺎَﻬِﺘَﻌْﺼَﻗ ﻰَﻟِﺇ ُﺔَﻠَﻛَﺄْﻟﺍ ٍﺬِﺌَﻣْﻮَﻳ ُﻦْﺤَﻧ ٍﺔَّﻠِﻗ ْﻦِﻣَﻭ ٌﻞِﺋﺎَﻗ ٌﺮﻴِﺜَﻛ ٍﺬِﺌَﻣْﻮَﻳ ْﻢُﺘْﻧَﺃ ْﻞَﺑ َﻝﺎَﻗ ِﻞْﻴَّﺴﻟﺍ ِﺀﺎَﺜُﻐَﻛ ٌﺀﺎَﺜُﻏ ْﻢُﻜَّﻨِﻜَﻟَﻭ ِﺭﻭُﺪُﺻ ْﻦِﻣ ُﻪَّﻠﻟﺍ َّﻦَﻋَﺰْﻨَﻴَﻟَﻭ ْﻢُﻜْﻨِﻣ َﺔَﺑﺎَﻬَﻤْﻟﺍ ْﻢُﻛِّﻭُﺪَﻋ ْﻢُﻜِﺑﻮُﻠُﻗ ﻲِﻓ ُﻪَّﻠﻟﺍ َّﻦَﻓِﺬْﻘَﻴَﻟَﻭ َﻝﻮُﺳَﺭ ﺎَﻳ ٌﻞِﺋﺎَﻗ َﻝﺎَﻘَﻓ َﻦْﻫَﻮْﻟﺍ ُّﺐُﺣ َﻝﺎَﻗ ُﻦْﻫَﻮْﻟﺍ ﺎَﻣَﻭ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﺕْﻮَﻤْﻟﺍ ُﺔَﻴِﻫﺍَﺮَﻛَﻭ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ Bersabda Rasulullah shollallahu
’alaih wa sallam “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti
sekumpulan pemangsa yang
memperebutkan makanannya.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita ?” ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan
Allah telah mencabut rasa gentar dari
dada musuh kalian terhadap kalian.
Dan Allah telah menanamkan dalam
hati kalian penyakit Al-Wahan. ” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu ?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR Abu Dawud 3745) Beberapa pelajaran penting lainnya
yang dapat kita tarik dari hadits ini
ialah: Keempat, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam kemudian menjelaskan apa
sesungguhnya yang
melatarbelakangi ummat Islam di
masa itu sehingga menjadi terhina
dan kehilangan kemuliaannya. ْﻢُﻜِﺑﻮُﻠُﻗ ﻲِﻓ ُﻪَّﻠﻟﺍ َّﻦَﻓِﺬْﻘَﻴَﻟَﻭ َﻦْﻫَﻮْﻟﺍ Bersabda Rasulullah shollallahu
’alaih wa sallam: “Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian
penyakit Al-Wahan. ” (HR Abu Dawud 3745) Jadi, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menyebut penyakit ummat Islam
tersebut dengan istilah ”Al-Wahan”. Suatu istilah baru yang
menyebabkan para sahabatpun
bertanya-tanya. Sehingga Nabi
shollallahu ’alaih wa sallam mendefinisikannya dengan uraian
yang singkat namun sangat jelas. َﻝﺎَﻗ ُﻦْﻫَﻮْﻟﺍ ﺎَﻣَﻭ ِﻪَّﻠﻟﺍ َﻝﻮُﺳَﺭ ﺎَﻳ ٌﻞِﺋﺎَﻗ َﻝﺎَﻘَﻓ ِﺕْﻮَﻤْﻟﺍ ُﺔَﻴِﻫﺍَﺮَﻛَﻭ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ ُّﺐُﺣ Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu ?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR Abu Dawud 3745) Penyakit Al-Wahan merupakan
penyakit yang boleh dikatakan
sangat dominan dewasa ini
menjangkiti ummat manusia,
termasuk ummat Islam. Karena kita
sedang menjalani era paling kelam dalam sejarah Islam dimana kaum kuffar sedang mendapat giliran
mengarahkan dan menguasai
ummat manusia sedunia, maka
konsep hidup kaum kuffar itulah
yang mewarnai kehidupan manusia
pada umumnya tanpa kecuali ummat Islam. ِﺓﺎَﻴَﺤْﻟﺍ َﻦِﻣ ﺍًﺮِﻫﺎَﻇ َﻥﻮُﻤَﻠْﻌَﻳ ْﻢُﻫ ِﺓَﺮِﺧَﺂْﻟﺍ ِﻦَﻋ ْﻢُﻫَﻭ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ َﻥﻮُﻠِﻓﺎَﻏ “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia;
sedang mereka tentang (kehidupan)
akhirat adalah lalai.” (QS Ar-uum ayat 7) Kaum kuffar tidak mengenal dan
meyakini adanya kehidupan selain di
dunia yang fana ini. Mereka sangat
peduli dengan kemenangan,
keberhasilan, kebahagiaan dan
kekuasaan di dunia ini. Mereka menyangka bahwa dunia
merupakan kehidupan yang final.
Sehingga mereka mati-matian
berjuang untuk meraih segala target
keberhasilan duniawi sambil lalai
alias tidak peduli dengan keberhasilan di akhirat. Mengapa
demikian? Karena sesungguhnya
mereka tidak pernah meyakini
adanya kehidupan akhirat. Kelima, ummat Islam yang lemah dan
kehilangan giliran memimpin ummat
manusia, akhirnya menjadi lemah pula dalam hal keyakinan serta sikap
hidup. Mereka mulai ketularan
penyakit kaum kuffar, yakni
mencintai dunia. Lalu mereka mulai
melupakan bahwa kehidupan
akhirat itulah sesungguhnya kehidupan yang sejati. Lupa bahwa
di dunia yang ada hanyalah
fatamorgana dan sementara. Baik itu
dalam hal kebahagiaan maupun
penderitaan. Semua hanyalah
fatamorgana dan bersifat fana. Sedangkan di akhirat kelak, segenap
kebahagiaan dan penderitaan
bersifat sejati dan abadi. Dewasa ini,
sudah mulai bermunculan saudara
muslim kita yang akhirnya mengejar
dunia sedemikian seriusnya, namun bermain-main dalam mengejar
akhirat. Padahal Allah justru
menggambarkan bahwa di dunia
segala sesuatunya seharusnya tidak
diambil terlalu serius, sedangkan
untuk urusan akhiratlah semestinya seseorang berlaku tidak main-main. ﺎَّﻟِﺇ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ ُﺓﺎَﻴَﺤْﻟﺍ ِﻩِﺬَﻫ ﺎَﻣَﻭ ٌﺐِﻌَﻟَﻭ ٌﻮْﻬَﻟ َﻲِﻬَﻟ َﺓَﺮِﺧَﺂْﻟﺍ َﺭﺍَّﺪﻟﺍ َّﻥِﺇَﻭ َﻥﻮُﻤَﻠْﻌَﻳ ﺍﻮُﻧﺎَﻛ ْﻮَﻟ ُﻥﺍَﻮَﻴَﺤْﻟﺍ “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-
main. Dan sesungguhnya akhirat
itulah yang sebenarnya kehidupan,
kalau mereka mengetahui” (QS Al- Ankabut 64) Sehingga mulailah sebagian
muslimin menjadikan kaya-miskin
sebagai tolok ukur kemuliaan. Mulailah mereka memiliki standar
kebanggaan mirip orang kafir. Jika
hidup tidak berpindah-pindah dari
satu hotel mewah ke hotel mewah
lainnya, perjalanan dari satu pesawat
ke pesawat lainnya, kerja berpindah- pindah dari suatu jabatan kekuasaan
formal ke jabatan lainnya, pergaulan
berkenalan dari satu pejabat/
selebritis ke pejabat/selebritis
lainnya, maka orang tersebut belum
masuk dalam lingkaran yang perlu diperhitungkan. Hanya mereka yang
telah masuk dalam lingkaran pola
kehidupan seperti itulah yang dinilai
top dan sukses. Sehingga segala
daya dan upaya dilakukan asalkan
bisa secepatnya masuk ke dalam kelas masyarakat elite tersebut. Keenam, karena kecintaan kepada
dunia telah sedemikian dominan
mirip kaum kuffar, maka biasanya
secara otomatis hilangnya kerinduan
bahkan kesiapan menghadapi alam
berikutnya, yakni al-akhirah. Dan mengingat bahwa pintu memasuki
akhirat ialah kematian di dunia,
maka muslimin yang telah lemah
mental itu kehilangan kesiapan serta
keberanian menghadaoi al-maut
alias kematian. Mereka menjadi takut menghadapi kematian. Padahal Nabi
shollallahu ’alaih wa sallam justru menekankan kepada kita agar
banyak-banyak mengingat
kematian. ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﻝﻮُﺳَﺭ َﻝﺎَﻗ َﺮْﻛِﺫ ﺍﻭُﺮِﺜْﻛَﺃ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﺕْﻮَﻤْﻟﺍ ﻲِﻨْﻌَﻳ ِﺕﺍَّﺬَّﻠﻟﺍ ِﻡِﺫﺎَﻫ Bersabda Nabi shollallahu ’alaih wa sallam: “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yakni
kematian.” (HR Tirmidzi 2229) Orang yang banyak mengingat
kematian mengindikasikan bahwa
dirinya rindu berjumpa dengan
Allah. Sebab kematian adalah saat
dimana seseorang kembali ke Allah.
Dan Allah akan suka berjumpa dengan orang yang memang suka
berjumpa dengan Allah. Sebaliknya,
Allah enggan berjumpa dengan
seseorang yang memang asalnya
juga tidak suka berjumpa dengan
Allah. ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ ْﻦَﻋ َﺀﺎَﻘِﻟ َّﺐَﺣَﺃ ْﻦَﻣ َﻝﺎَﻗ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪَّﻠﻟﺍ َﻩِﺮَﻛ ْﻦَﻣَﻭ ُﻩَﺀﺎَﻘِﻟ ُﻪَّﻠﻟﺍ َّﺐَﺣَﺃ ُﻩَﺀﺎَﻘِﻟ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻩِﺮَﻛ ِﻪَّﻠﻟﺍ َﺀﺎَﻘِﻟ Dari Nabi shollallahu ’alaih wa sallam beliau bersabda: “Barangsiapa suka berjumpa dengan Allah, maka Allah
akan suka berjumpa dengannya.
Dan barangsiapa yang benci
perjumpaan dengan Allah, maka
Allah akan benci pula berjumpa
dengannya.” (HR Bukhary 6026) Tetapi pada saat ummat Islam dalam
kehinaan seperti dewasa ini malah
kita jumpai semakin banyak orang, termasuk muslimin, yang melupakan
kematian. Sedemikian rupa sehingga
kita lihat sebagian mereka
mengembangkan ambisi dan
kecintaan kepada berbagai
keberhasilan duniawi seolah semua itu dapat mereka nikmati selama-
lamanya. Mereka mengejarnya
sedemikian rupa sehingga menjadi
sangat mirip dengan kaum kuffar
yang memang tidak mengimani
adanya kehidupan sesudah kematian. Mereka mengejarnya
seperti kaum kafir sehingga kita
menjadi malu sendiri melihat
kelakuan mereka. Ya Allah, janganlah Engkau jadikan
dunia puncak cita-cita kami dan
batas akhir pengetauan kami. Ya
Allah, jadikanlah akhirat pusat
perhatian kami selalu dan mati di
jalanMu ambisi utama kami.
’alaih wa sallam mengabarkan bahwa kelak di masa yang akan
datang ummat Islam akan berada
dalam keadaan yang sedemikian
buruknya sehingga diumpamakan
sebagai laksana makanan yang
diperebutkan oleh sekumpulan pemangsanya. Lengkapnya hadits
tersebut sebagai berikut: ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﻝﻮُﺳَﺭ َﻝﺎَﻗ ْﻥَﺃ ُﻢَﻣُﺄْﻟﺍ ُﻚِﺷﻮُﻳ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ﻰَﻋﺍَﺪَﺗ ﺎَﻤَﻛ ْﻢُﻜْﻴَﻠَﻋ ﻰَﻋﺍَﺪَﺗ َﻝﺎَﻘَﻓ ﺎَﻬِﺘَﻌْﺼَﻗ ﻰَﻟِﺇ ُﺔَﻠَﻛَﺄْﻟﺍ ٍﺬِﺌَﻣْﻮَﻳ ُﻦْﺤَﻧ ٍﺔَّﻠِﻗ ْﻦِﻣَﻭ ٌﻞِﺋﺎَﻗ ٌﺮﻴِﺜَﻛ ٍﺬِﺌَﻣْﻮَﻳ ْﻢُﺘْﻧَﺃ ْﻞَﺑ َﻝﺎَﻗ ِﻞْﻴَّﺴﻟﺍ ِﺀﺎَﺜُﻐَﻛ ٌﺀﺎَﺜُﻏ ْﻢُﻜَّﻨِﻜَﻟَﻭ ِﺭﻭُﺪُﺻ ْﻦِﻣ ُﻪَّﻠﻟﺍ َّﻦَﻋَﺰْﻨَﻴَﻟَﻭ ْﻢُﻜْﻨِﻣ َﺔَﺑﺎَﻬَﻤْﻟﺍ ْﻢُﻛِّﻭُﺪَﻋ ْﻢُﻜِﺑﻮُﻠُﻗ ﻲِﻓ ُﻪَّﻠﻟﺍ َّﻦَﻓِﺬْﻘَﻴَﻟَﻭ َﻝﻮُﺳَﺭ ﺎَﻳ ٌﻞِﺋﺎَﻗ َﻝﺎَﻘَﻓ َﻦْﻫَﻮْﻟﺍ ُّﺐُﺣ َﻝﺎَﻗ ُﻦْﻫَﻮْﻟﺍ ﺎَﻣَﻭ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﺕْﻮَﻤْﻟﺍ ُﺔَﻴِﻫﺍَﺮَﻛَﻭ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ Bersabda Rasulullah shollallahu
’alaih wa sallam “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti
sekumpulan pemangsa yang
memperebutkan makanannya.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita ?” ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan
Allah telah mencabut rasa gentar dari
dada musuh kalian terhadap kalian.
Dan Allah telah menanamkan dalam
hati kalian penyakit Al-Wahan. ” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu ?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR Abu Dawud 3745) Beberapa pelajaran penting lainnya
yang dapat kita tarik dari hadits ini
ialah: Keempat, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam kemudian menjelaskan apa
sesungguhnya yang
melatarbelakangi ummat Islam di
masa itu sehingga menjadi terhina
dan kehilangan kemuliaannya. ْﻢُﻜِﺑﻮُﻠُﻗ ﻲِﻓ ُﻪَّﻠﻟﺍ َّﻦَﻓِﺬْﻘَﻴَﻟَﻭ َﻦْﻫَﻮْﻟﺍ Bersabda Rasulullah shollallahu
’alaih wa sallam: “Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian
penyakit Al-Wahan. ” (HR Abu Dawud 3745) Jadi, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menyebut penyakit ummat Islam
tersebut dengan istilah ”Al-Wahan”. Suatu istilah baru yang
menyebabkan para sahabatpun
bertanya-tanya. Sehingga Nabi
shollallahu ’alaih wa sallam mendefinisikannya dengan uraian
yang singkat namun sangat jelas. َﻝﺎَﻗ ُﻦْﻫَﻮْﻟﺍ ﺎَﻣَﻭ ِﻪَّﻠﻟﺍ َﻝﻮُﺳَﺭ ﺎَﻳ ٌﻞِﺋﺎَﻗ َﻝﺎَﻘَﻓ ِﺕْﻮَﻤْﻟﺍ ُﺔَﻴِﻫﺍَﺮَﻛَﻭ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ ُّﺐُﺣ Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu ?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR Abu Dawud 3745) Penyakit Al-Wahan merupakan
penyakit yang boleh dikatakan
sangat dominan dewasa ini
menjangkiti ummat manusia,
termasuk ummat Islam. Karena kita
sedang menjalani era paling kelam dalam sejarah Islam dimana kaum kuffar sedang mendapat giliran
mengarahkan dan menguasai
ummat manusia sedunia, maka
konsep hidup kaum kuffar itulah
yang mewarnai kehidupan manusia
pada umumnya tanpa kecuali ummat Islam. ِﺓﺎَﻴَﺤْﻟﺍ َﻦِﻣ ﺍًﺮِﻫﺎَﻇ َﻥﻮُﻤَﻠْﻌَﻳ ْﻢُﻫ ِﺓَﺮِﺧَﺂْﻟﺍ ِﻦَﻋ ْﻢُﻫَﻭ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ َﻥﻮُﻠِﻓﺎَﻏ “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia;
sedang mereka tentang (kehidupan)
akhirat adalah lalai.” (QS Ar-uum ayat 7) Kaum kuffar tidak mengenal dan
meyakini adanya kehidupan selain di
dunia yang fana ini. Mereka sangat
peduli dengan kemenangan,
keberhasilan, kebahagiaan dan
kekuasaan di dunia ini. Mereka menyangka bahwa dunia
merupakan kehidupan yang final.
Sehingga mereka mati-matian
berjuang untuk meraih segala target
keberhasilan duniawi sambil lalai
alias tidak peduli dengan keberhasilan di akhirat. Mengapa
demikian? Karena sesungguhnya
mereka tidak pernah meyakini
adanya kehidupan akhirat. Kelima, ummat Islam yang lemah dan
kehilangan giliran memimpin ummat
manusia, akhirnya menjadi lemah pula dalam hal keyakinan serta sikap
hidup. Mereka mulai ketularan
penyakit kaum kuffar, yakni
mencintai dunia. Lalu mereka mulai
melupakan bahwa kehidupan
akhirat itulah sesungguhnya kehidupan yang sejati. Lupa bahwa
di dunia yang ada hanyalah
fatamorgana dan sementara. Baik itu
dalam hal kebahagiaan maupun
penderitaan. Semua hanyalah
fatamorgana dan bersifat fana. Sedangkan di akhirat kelak, segenap
kebahagiaan dan penderitaan
bersifat sejati dan abadi. Dewasa ini,
sudah mulai bermunculan saudara
muslim kita yang akhirnya mengejar
dunia sedemikian seriusnya, namun bermain-main dalam mengejar
akhirat. Padahal Allah justru
menggambarkan bahwa di dunia
segala sesuatunya seharusnya tidak
diambil terlalu serius, sedangkan
untuk urusan akhiratlah semestinya seseorang berlaku tidak main-main. ﺎَّﻟِﺇ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ ُﺓﺎَﻴَﺤْﻟﺍ ِﻩِﺬَﻫ ﺎَﻣَﻭ ٌﺐِﻌَﻟَﻭ ٌﻮْﻬَﻟ َﻲِﻬَﻟ َﺓَﺮِﺧَﺂْﻟﺍ َﺭﺍَّﺪﻟﺍ َّﻥِﺇَﻭ َﻥﻮُﻤَﻠْﻌَﻳ ﺍﻮُﻧﺎَﻛ ْﻮَﻟ ُﻥﺍَﻮَﻴَﺤْﻟﺍ “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-
main. Dan sesungguhnya akhirat
itulah yang sebenarnya kehidupan,
kalau mereka mengetahui” (QS Al- Ankabut 64) Sehingga mulailah sebagian
muslimin menjadikan kaya-miskin
sebagai tolok ukur kemuliaan. Mulailah mereka memiliki standar
kebanggaan mirip orang kafir. Jika
hidup tidak berpindah-pindah dari
satu hotel mewah ke hotel mewah
lainnya, perjalanan dari satu pesawat
ke pesawat lainnya, kerja berpindah- pindah dari suatu jabatan kekuasaan
formal ke jabatan lainnya, pergaulan
berkenalan dari satu pejabat/
selebritis ke pejabat/selebritis
lainnya, maka orang tersebut belum
masuk dalam lingkaran yang perlu diperhitungkan. Hanya mereka yang
telah masuk dalam lingkaran pola
kehidupan seperti itulah yang dinilai
top dan sukses. Sehingga segala
daya dan upaya dilakukan asalkan
bisa secepatnya masuk ke dalam kelas masyarakat elite tersebut. Keenam, karena kecintaan kepada
dunia telah sedemikian dominan
mirip kaum kuffar, maka biasanya
secara otomatis hilangnya kerinduan
bahkan kesiapan menghadapi alam
berikutnya, yakni al-akhirah. Dan mengingat bahwa pintu memasuki
akhirat ialah kematian di dunia,
maka muslimin yang telah lemah
mental itu kehilangan kesiapan serta
keberanian menghadaoi al-maut
alias kematian. Mereka menjadi takut menghadapi kematian. Padahal Nabi
shollallahu ’alaih wa sallam justru menekankan kepada kita agar
banyak-banyak mengingat
kematian. ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﻝﻮُﺳَﺭ َﻝﺎَﻗ َﺮْﻛِﺫ ﺍﻭُﺮِﺜْﻛَﺃ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﺕْﻮَﻤْﻟﺍ ﻲِﻨْﻌَﻳ ِﺕﺍَّﺬَّﻠﻟﺍ ِﻡِﺫﺎَﻫ Bersabda Nabi shollallahu ’alaih wa sallam: “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yakni
kematian.” (HR Tirmidzi 2229) Orang yang banyak mengingat
kematian mengindikasikan bahwa
dirinya rindu berjumpa dengan
Allah. Sebab kematian adalah saat
dimana seseorang kembali ke Allah.
Dan Allah akan suka berjumpa dengan orang yang memang suka
berjumpa dengan Allah. Sebaliknya,
Allah enggan berjumpa dengan
seseorang yang memang asalnya
juga tidak suka berjumpa dengan
Allah. ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ ْﻦَﻋ َﺀﺎَﻘِﻟ َّﺐَﺣَﺃ ْﻦَﻣ َﻝﺎَﻗ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪَّﻠﻟﺍ َﻩِﺮَﻛ ْﻦَﻣَﻭ ُﻩَﺀﺎَﻘِﻟ ُﻪَّﻠﻟﺍ َّﺐَﺣَﺃ ُﻩَﺀﺎَﻘِﻟ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻩِﺮَﻛ ِﻪَّﻠﻟﺍ َﺀﺎَﻘِﻟ Dari Nabi shollallahu ’alaih wa sallam beliau bersabda: “Barangsiapa suka berjumpa dengan Allah, maka Allah
akan suka berjumpa dengannya.
Dan barangsiapa yang benci
perjumpaan dengan Allah, maka
Allah akan benci pula berjumpa
dengannya.” (HR Bukhary 6026) Tetapi pada saat ummat Islam dalam
kehinaan seperti dewasa ini malah
kita jumpai semakin banyak orang, termasuk muslimin, yang melupakan
kematian. Sedemikian rupa sehingga
kita lihat sebagian mereka
mengembangkan ambisi dan
kecintaan kepada berbagai
keberhasilan duniawi seolah semua itu dapat mereka nikmati selama-
lamanya. Mereka mengejarnya
sedemikian rupa sehingga menjadi
sangat mirip dengan kaum kuffar
yang memang tidak mengimani
adanya kehidupan sesudah kematian. Mereka mengejarnya
seperti kaum kafir sehingga kita
menjadi malu sendiri melihat
kelakuan mereka. Ya Allah, janganlah Engkau jadikan
dunia puncak cita-cita kami dan
batas akhir pengetauan kami. Ya
Allah, jadikanlah akhirat pusat
perhatian kami selalu dan mati di
jalanMu ambisi utama kami.
Surga dan Neraka Membuat LupaPengalaman Hidup di Dunia
Allah menggambarkan kehidupan
dunia ini sebagai senda gurau dan
permainan belaka. Sementara
kehidupan akhirat sebagai
kehidupan yang sebenarnya.
Artinya, Allah mengkondisikan kita untuk memandang dunia dengan
santai tidak terlalu serius. Karena di
dunia ini tidak ada keadaan yang
benar-benar bisa dikatakan bahagia
atau sebaliknya sedih. Di dunia ini
tidak ada keberhasilan hakiki maupun kegagalan sejati. Segala
sesuatu di dunia ini bersifat fana alias
sementara. Kadang seseorang
bahagia kadang seseorang sedih.
Kadang ia berhasil kadang ia gagal.
Itulah dunia dengan segala tabiat sementaranya. Sebaliknya dengan kehidupan
dunia, kehidupan akhirat
merupakan kehidupan sejati. Tidak
ada orang berbahagia di akhirat
untuk jangka waktu singkat saja.
Dan tidak ada pula yang mengalami penderitaan sementara saja, kecuali
Allah menghendaki selain itu. “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-
main. Dan sesungguhnya akhirat
itulah yang sebenarnya kehidupan,
kalau mereka mengetahui.” (QS Al- Ankabut ayat 64) Allah ta’aala menghendaki agar orang bertaqwa memandang
kehidupan akhirat dengan penuh
kesungguhan karena di sanalah
kehidupan sejati akan dijalani
manusia. Sedangkan terhadap dunia
Allah ta’aala menghendaki orang bertaqwa agar berlaku proporsional
saja dan tidak terlampau ngoyo
dalam meraih keberhasilannya.
Sebab kehidupan dunia ini Allah
ta’aala gambarkan sebagai tempat dimana orang sekedar bermain-main
dan bersenda-gurau. Namun dalam kehidupan kita
dewasa ini kebanyakan orang malah
sangat serius bila menyangkut
urusan kehidupan dunia. Mereka
siap mengerahkan tenaga, fikiran,
dana dan waktu all out untuk menggapai keberhasilan
duniawinya. Sedangkan bila
menyangkut urusan akhirat mereka
hanya mengerahkan tenaga dan
waktu sisa, fikiran sampingan serta
dana receh. Jika hal ini terjadi kepada kaum kafir alias tidak
beriman kita tentu bisa maklumi. Tapi
di dalam zaman penuh fitnah ini
tidak sedikit saudara muslim yang
kita saksikan bertingkah dan
berpacu merebut dunia laksana kaum kafir. Allah memang
menggambarkan bahwa kaum yang
tidak beriman sangat peduli dan
faham akan sisi material kehidupan
dunia ini. Namun mereka lalai dan
tidak memiliki pengetahuan apapun mengenai kehidupan akhirat. “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia;
sedang mereka tentang (kehidupan)
akhirat adalah lalai.” (QS ArRuum ayat 7) Sahabat Ali bin Abi Thalib
radhiyallahu ’anhu pernah berkata: ”Bilamana manusia menemui ajalnya, maka saat itulah dia bangun dari
tidurnya”. Sungguh tepat ungkapan beliau ini. Sebab kelak di akhirat
nanti manusia akan menyadari
betapa menipunya pengalaman
hidupnya sewaktu di dunia. Baik
sewaktu di dunia ia menikmati
kesenangan maupun menjalani penderitaan. Kesenangan dunia
sungguh menipu. Penderitaan
duniapun menipu. Saat manusia berada di alam akhirat
barulah ia akan menyadari betapa
sejatinya kehidupan di sana.
Kesenangannya hakiki dan
penderitaannya sejati. Surga
bukanlah khayalan dan sekedar dongeng orang-orang tua di masa
lalu. Begitu pula dengan neraka, ia
bukan suatu mitos atau sekedar
cerita-ceirta orang dahulu kala.
Surga dan neraka adalah perkara
hakiki, saudaraku. Sehingga Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam menggambarkan dengan
deskripsi yang sangat kontras dan
ekstrim mengenai betapa
berbedanya tabiat pengalaman
hidup di dunia yang menipu dengan
kehidupan sejati akhirat. Perhatikanlah baik-baik hadits di
bawah ini: “Pada hari kiamat didatangkan orang yang paling nikmat hidupnya
sewaktu di dunia dari penghuni
neraka. Lalu ia dicelupkan ke dalam
neraka sejenak. Kemudian ia ditanya:
”Hai anak Adam, pernahkah kamu melihat suatu kebaikan, pernahkah
kamu merasakan suatu
kenikmatan?” Maka ia menjawab: ”Tidak, demi Allah, ya Rabb. ” Dan didatangkan orang yang paling
menderita sewaktu hidup di dunia
dari penghuni surga. Lalu ia
dicelupkan ke dalam surga sejenak.
Kemudian ditanya: ”Hai anak Adam, pernahkah kamu melihat suatu
kesulitan, pernahkah kamu
merasakan suatu kesengsaraan?” Maka ia menjawab: ”Tidak, demi Allah, ya Rabb. Aku tidak pernah
merasakan kesulitan apapun dan
aku tidak pernah melihat
kesengsaraan apapun.” (HR Muslim 5018) Mengapa orang pertama ketika Allah
tanya menjawab bahwa ia tidak
pernah melihat suatu kebaikan serta
merasakan suatu kenikmatan,
padahal ia adalah orang yang paling
nikmat hidupnya sewaktu di dunia dibandingkan segenap manusia
lainnya? Jawabannya: karena Allah
telah paksa dia merasakan derita
sejati neraka –sejenak saja- cukup untuk membuat ingatannya akan
segala kenikmatan palsu yang
pernah ia alami sewaktu di dunia
terhapus begitu saja dari ingatannya.
Sebaliknya, mengapa orang kedua
ketika Allah tanya menjawab bahwa ia tidak pernah melihat suatu
kesulitan atau merasakan suatu
kesengsaraan, padahal ia orang
yang paling susah hidupnya
sewaktu di dunia dibandingkan
segenap manusia lainnya? Jawabannya: karena Allah telah
izinkan dia merasakan kesenangan
hakiki surga –sejenak saja- cukup untuk membuat ingatannya akan
segala penderitaan palsu yang
pernah ia alami sewaktu di dunia
terhapus begitu saja dari ingatannya.
Subhaanallah wa laa haula wa laa
quwwata illa billah...!!! Saudaraku, sungguh kehidupan
dunia ini sangat tidak pantas kita
jadikan ajang perebutan dan
perlombaan. Sebab menang di dunia
pada hakikatnya hanyalah menang
yang menipu. Demikian pula sebaliknya, kalah di dunia hanyalah
kalah yang menipu. Saat manusia
diperlihatkan surga dan neraka di
akhirat kelak, sadarlah ia betapa
naifnya perlombaan merebut
keberhasilan dunia ini dibandingkan dengan kenikmatan hakiki dan
abadi surga yang jauh labih patut ia
kejar dan usahakan semaksimal
mungkin. Sadarlah ia betapa
lugunya ia saat di dunia berusaha
mengelak dari segala derita dan kesusahan dunia jika dibandingkan
dengan derita sejati dan lestari
neraka yang jauh lebih pantas ia
berusaha mengelak dan menjauh
darinya. Pantas bila Allah gambarkan bahwa
saat sudah dihadapkan dengan azab
neraka orang-orang kafir bakal
berharap mereka dapat menebus diri
mereka dengan sebanyak apapun
yang diperlukan, andai mereka sanggup. Tentunya pada saat itu
mereka tidak sanggup dan tidak
berdaya. “Sesungguhnya orang-orang yang kafir sekiranya mereka mempunyai
apa yang di bumi ini seluruhnya dan
mempunyai yang sebanyak itu
(pula) untuk menebus diri mereka
dengan itu dari azab hari kiamat,
niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka
beroleh azab yang pedih.” (QS Al- Maaidah ayat 36) Ya Allah, janganlah Engkau jadikan
dunia puncak cita-cita kami dan
batas pengetahuan kami. Amin ya
Rabb.-
dunia ini sebagai senda gurau dan
permainan belaka. Sementara
kehidupan akhirat sebagai
kehidupan yang sebenarnya.
Artinya, Allah mengkondisikan kita untuk memandang dunia dengan
santai tidak terlalu serius. Karena di
dunia ini tidak ada keadaan yang
benar-benar bisa dikatakan bahagia
atau sebaliknya sedih. Di dunia ini
tidak ada keberhasilan hakiki maupun kegagalan sejati. Segala
sesuatu di dunia ini bersifat fana alias
sementara. Kadang seseorang
bahagia kadang seseorang sedih.
Kadang ia berhasil kadang ia gagal.
Itulah dunia dengan segala tabiat sementaranya. Sebaliknya dengan kehidupan
dunia, kehidupan akhirat
merupakan kehidupan sejati. Tidak
ada orang berbahagia di akhirat
untuk jangka waktu singkat saja.
Dan tidak ada pula yang mengalami penderitaan sementara saja, kecuali
Allah menghendaki selain itu. “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-
main. Dan sesungguhnya akhirat
itulah yang sebenarnya kehidupan,
kalau mereka mengetahui.” (QS Al- Ankabut ayat 64) Allah ta’aala menghendaki agar orang bertaqwa memandang
kehidupan akhirat dengan penuh
kesungguhan karena di sanalah
kehidupan sejati akan dijalani
manusia. Sedangkan terhadap dunia
Allah ta’aala menghendaki orang bertaqwa agar berlaku proporsional
saja dan tidak terlampau ngoyo
dalam meraih keberhasilannya.
Sebab kehidupan dunia ini Allah
ta’aala gambarkan sebagai tempat dimana orang sekedar bermain-main
dan bersenda-gurau. Namun dalam kehidupan kita
dewasa ini kebanyakan orang malah
sangat serius bila menyangkut
urusan kehidupan dunia. Mereka
siap mengerahkan tenaga, fikiran,
dana dan waktu all out untuk menggapai keberhasilan
duniawinya. Sedangkan bila
menyangkut urusan akhirat mereka
hanya mengerahkan tenaga dan
waktu sisa, fikiran sampingan serta
dana receh. Jika hal ini terjadi kepada kaum kafir alias tidak
beriman kita tentu bisa maklumi. Tapi
di dalam zaman penuh fitnah ini
tidak sedikit saudara muslim yang
kita saksikan bertingkah dan
berpacu merebut dunia laksana kaum kafir. Allah memang
menggambarkan bahwa kaum yang
tidak beriman sangat peduli dan
faham akan sisi material kehidupan
dunia ini. Namun mereka lalai dan
tidak memiliki pengetahuan apapun mengenai kehidupan akhirat. “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia;
sedang mereka tentang (kehidupan)
akhirat adalah lalai.” (QS ArRuum ayat 7) Sahabat Ali bin Abi Thalib
radhiyallahu ’anhu pernah berkata: ”Bilamana manusia menemui ajalnya, maka saat itulah dia bangun dari
tidurnya”. Sungguh tepat ungkapan beliau ini. Sebab kelak di akhirat
nanti manusia akan menyadari
betapa menipunya pengalaman
hidupnya sewaktu di dunia. Baik
sewaktu di dunia ia menikmati
kesenangan maupun menjalani penderitaan. Kesenangan dunia
sungguh menipu. Penderitaan
duniapun menipu. Saat manusia berada di alam akhirat
barulah ia akan menyadari betapa
sejatinya kehidupan di sana.
Kesenangannya hakiki dan
penderitaannya sejati. Surga
bukanlah khayalan dan sekedar dongeng orang-orang tua di masa
lalu. Begitu pula dengan neraka, ia
bukan suatu mitos atau sekedar
cerita-ceirta orang dahulu kala.
Surga dan neraka adalah perkara
hakiki, saudaraku. Sehingga Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam menggambarkan dengan
deskripsi yang sangat kontras dan
ekstrim mengenai betapa
berbedanya tabiat pengalaman
hidup di dunia yang menipu dengan
kehidupan sejati akhirat. Perhatikanlah baik-baik hadits di
bawah ini: “Pada hari kiamat didatangkan orang yang paling nikmat hidupnya
sewaktu di dunia dari penghuni
neraka. Lalu ia dicelupkan ke dalam
neraka sejenak. Kemudian ia ditanya:
”Hai anak Adam, pernahkah kamu melihat suatu kebaikan, pernahkah
kamu merasakan suatu
kenikmatan?” Maka ia menjawab: ”Tidak, demi Allah, ya Rabb. ” Dan didatangkan orang yang paling
menderita sewaktu hidup di dunia
dari penghuni surga. Lalu ia
dicelupkan ke dalam surga sejenak.
Kemudian ditanya: ”Hai anak Adam, pernahkah kamu melihat suatu
kesulitan, pernahkah kamu
merasakan suatu kesengsaraan?” Maka ia menjawab: ”Tidak, demi Allah, ya Rabb. Aku tidak pernah
merasakan kesulitan apapun dan
aku tidak pernah melihat
kesengsaraan apapun.” (HR Muslim 5018) Mengapa orang pertama ketika Allah
tanya menjawab bahwa ia tidak
pernah melihat suatu kebaikan serta
merasakan suatu kenikmatan,
padahal ia adalah orang yang paling
nikmat hidupnya sewaktu di dunia dibandingkan segenap manusia
lainnya? Jawabannya: karena Allah
telah paksa dia merasakan derita
sejati neraka –sejenak saja- cukup untuk membuat ingatannya akan
segala kenikmatan palsu yang
pernah ia alami sewaktu di dunia
terhapus begitu saja dari ingatannya.
Sebaliknya, mengapa orang kedua
ketika Allah tanya menjawab bahwa ia tidak pernah melihat suatu
kesulitan atau merasakan suatu
kesengsaraan, padahal ia orang
yang paling susah hidupnya
sewaktu di dunia dibandingkan
segenap manusia lainnya? Jawabannya: karena Allah telah
izinkan dia merasakan kesenangan
hakiki surga –sejenak saja- cukup untuk membuat ingatannya akan
segala penderitaan palsu yang
pernah ia alami sewaktu di dunia
terhapus begitu saja dari ingatannya.
Subhaanallah wa laa haula wa laa
quwwata illa billah...!!! Saudaraku, sungguh kehidupan
dunia ini sangat tidak pantas kita
jadikan ajang perebutan dan
perlombaan. Sebab menang di dunia
pada hakikatnya hanyalah menang
yang menipu. Demikian pula sebaliknya, kalah di dunia hanyalah
kalah yang menipu. Saat manusia
diperlihatkan surga dan neraka di
akhirat kelak, sadarlah ia betapa
naifnya perlombaan merebut
keberhasilan dunia ini dibandingkan dengan kenikmatan hakiki dan
abadi surga yang jauh labih patut ia
kejar dan usahakan semaksimal
mungkin. Sadarlah ia betapa
lugunya ia saat di dunia berusaha
mengelak dari segala derita dan kesusahan dunia jika dibandingkan
dengan derita sejati dan lestari
neraka yang jauh lebih pantas ia
berusaha mengelak dan menjauh
darinya. Pantas bila Allah gambarkan bahwa
saat sudah dihadapkan dengan azab
neraka orang-orang kafir bakal
berharap mereka dapat menebus diri
mereka dengan sebanyak apapun
yang diperlukan, andai mereka sanggup. Tentunya pada saat itu
mereka tidak sanggup dan tidak
berdaya. “Sesungguhnya orang-orang yang kafir sekiranya mereka mempunyai
apa yang di bumi ini seluruhnya dan
mempunyai yang sebanyak itu
(pula) untuk menebus diri mereka
dengan itu dari azab hari kiamat,
niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka
beroleh azab yang pedih.” (QS Al- Maaidah ayat 36) Ya Allah, janganlah Engkau jadikan
dunia puncak cita-cita kami dan
batas pengetahuan kami. Amin ya
Rabb.-
Subscribe to:
Posts (Atom)