Dunia ramal-meramal telah dikenal
sejak zaman manusia belum
mengenal tulisan (prasejarah). Ada
yang menggunakan tanda alam.
adapula yang menggunakan
simbol-simbol benda yang dianggap
keramat. Tak terkecuali pada masa
kenabian Muhammad shallallahu
‘ alaihi wa sallam. Pada masa hidup
beliau juga telah dikenal ramal-
meramal yang digemari oleh para
kahin atau dukun. Beradab
kemudian, dunia ramal-meramal
populer di tengah kehidupan
masyarakat yang mengaku telah
maju. Lucunya, ramal-meramal di
era modern masih menggunakan
prinsip-prinsip ramal zaman baheula
seperti ilmu bintang. Dan yang
tampaknya terus populer hingga
saat ini adalah ramal-meramal ala
zodiak.
ASAL ZODIAK
Zodiak tentunya tak asing
lagi bagi telinga sebagian dari kita.
Banyak yang langsung memberi
penilaian bahwa zodiak adalah
dunia ramal-meramal yang diwakili
oleh simbol-simbol hewan. Tak salah
memang, karena istilah zodiak
sekarang lebih dekat dengan dunia
ramal-meramal daripada dunia
ilmiah. Tapi tentunya tak banyak
yang tahu apa itu sebenarnya
zodiak sehingga banyak yang salah
memberikan penilaian terhadapnya.
Ada yang berlebihan memberikan
pujian namun ada juga yang tak
mau melihatnya dari sisi keilmuan.
So?
Istilah zodiak berasal dari
bahasa latin zodiacus yang
kemudian diadopsi dalam bahasa
Yunani menjadi Zoodiacos Cyclos
(lingkaran hewan). Seperti artinya
sebagian besar zodiak dalam
kepercayaan Yunani disimbolkan
dalam aneka wujud hewan seperti;
Aries (kambing biri-biri), Taurus
(lembu jantan), Leo (singa), Scorpio
(kalajengking), dan Pisces (ikan).
Symbol tersebut dianggap sebagai
perwakilan dari benda-benda tata
surya (planet, bulan, dan matahari)
yang melingkari garis khayal bola
langit, lingkaran ekleptika.
Pada perkembangan
selanjutnya, zodiak tidak hanya
dihubung-hubungkan dengan
astronomi, tetapi juga dikaitkan
dengan astrologi. Apa itu astrologi?
Astrologi adalah ilmu yang
mempelajari hubungan antara
gerakan benda-benda tata surya
dengan nasib yang akan dialami
oleh seseorang. Sebagai contoh,
seseorang yang memiliki zodiak X
pada bulan Y akan bisa diketahui
nasibnya melalui perhitungan
zodiak. Dengan kata lain, ilmu
astrologi adalah salah satu cabang
dari sekian ilmu peramalan. Hanya
saja media ramalnya mungkin
berbeda dari yang lain karena
menggunakan ilmu perbintangan
dan simbol-simbol aneh.
ZODIAK DAN DUNIA PERAMALAN
Awal kisah zodiak dalam dunia
astrologi dimulai tahun 2000 SM saat
Babylonia memberlakukan
visualisasi waktu seperti dalam
system penanggalan (12 bulan
dalam 1 tahun), zodiac dibagi
menjadi 12 bagian. Setiap bagian
diberi tanda unik yang
melambangkan suatu waktu atau
karakter tertentu. Ada dua belas
tanda yaitu: Aries, Taurus, Gemini,
Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpio,
Sagitarius, Capricorn, Aquarius, dan
Pisces. Lambang-lambang tersebut
merupakan hasil kajian para ahli
astronomi mesir setelah dua ribu
tahun lamanya.
Dalam astrologi, seseorang dianggap
menyandang tanda zodiak tertentu
jika dia lahir pada rentang tanggal
dan bulan tertentu menurut
penanggalan matahari. Sebagai
contoh, orang yang lahir pada awal
bulan Desember maka dia
dimasukkan dalam tanda zodiak
Sagitarius. Atas dasar inilah, orang
yang lahir pada awal bulan
Desember dikatakan memiliki
zodiak Sagitarius.
Anehnya, tidak ada perbedaan
zodiak berdasarkan tahun kelahiran
seseorang. Padahal jelas berbeda
seseorang yang lahir pada 27 Juli
2009 dan lahir pada 27 Juli 2010.
Namun, dalam perhitungan zodiak
semua disamakan. Tidak ada
perbedaan antara yang berusia 60
tahun dengan yang berusia 10
tahun. Oleh karenanya, peramalan
zodiak akan sangat ganjil, bila dinilai
dengan akal sehat. Sebab, ramalan
zodiak menyamaratakan nasib
semua orang hanya berdasarkan
bulan kelahirannya.
RAMALAN ZODIAK, AKURAT?
Dalam zodiak, paling tidak
ada empat unsur yang biasanya
diramal, yaitu kesehatan, cinta atau
perjodohan, keuangan, dan karir.
Kurun waktu peramalan biasanya
satu bulan atau dari tanggal x
sampai tanggal y. Dalam kurun
waktu itu, seseorang peramal
zodiak menentukan nasib
kesehatan seseorang akan seperti
apa, nasib cintanya bergejolak atau
datar-datar saja, keuangannya
lancar atau serat, dan karirnya
menanjak atau turun. Tak lupa
biasanya sang peramal
memberikan kata-kata nasehat
untuk menguatkan ramalannya.
Secara prinsip, cara
melakukan peramalan zodiak
adalah menggunakan prinsip
kedudukan benda-benda tata surya
terhadap matahari. Oleh karena itu,
seharusnya peramalan antara satu
tempat dengan tempat yang lain
sama karena posisi benda-benda
tata surya relatif stabil. Tapi apa
yang terjadi? Sering sekali antar
satu peramal dengan peramal lain
melakukan hasil peramalan yang
berbeda. Satu peramal mengatakan
nasib keuangan penyandang zodiak
Leo sulit tapi di sisi lain ada peramal
yang meramal nasib keuangan
zodiak Leo melejit. Padahal mereka
dalam satu kawasan lhooo …
Kenapa bisa begitu?
Hingga saat ini tidak ada
standarisasi hasil peramalan antar
peramal zodiak. Sangat tidak
mengherankan jika setiap peramal
memiliki hasil berbeda untuk satu
jenis zodiak tertentu. Setiap dari
mereka memiliki cara tersendiri
untuk menentukan hasil. Oleh
karenanya, keakuratan hasil
ramalan zodiak sangat disangsikan
hingga sekarang. Sayang, masih
saja banyak yang mempercayai
zodiak sebagai sarana untuk
mengetahui nasib pada masa
depan.
Bukti tentang
ketidakakuratan ramalan zodiak
pernah dikaji oleh seorang doktor
dari Universitas Manchester, Dr.
David Voas. Menurut Voas –yang
melakukan kajian tentang
hubungan antara zodiak dengan
nasib asrama seseorang-, zodiak
sama sekali tidak mempengaruhi
kehidupan cinta seorang manusia.
Pernyataan ini ia kuatkan dengan
melakukan penelitian bersama
dengan tim dari Research Fellow,
Centre for Census and Survey
Research. Dalam penelitian yang
melibatkan 20 juta pasangan di
Inggris dan Wales tersebut
ditemukan fakta bahwa tidak ada
bukti yang kuat jika zodiak
berpengaruh pada kehidupan
asrama seseorang. David juga
menyampaikan bahwa banyak
sekali pasangan suami istri di Inggris
dan Wales yang menikah tidak
sesuai dengan kecocokan ramalan
zodiak.
Majalah Stren pernah pula
melakukan penelitian untuk
mengetahui keakuratan ramalan
zodiak. Dari hasil penelitian yang
dilakukan selama satu tahun,
disimpulkan bahwa 3% saja ramalan
yang sesuai dengan kenyataan.
Dengan kata lain, perbandingan
keakuratan zodiak dengan
kesalahannya adalah 1:32/33.
Masihkan bisa dipercaya?
At least, walau cara
melakukan peramalan zodiak harus
didasarkan pada ilmu astrologi,
ternyata tak banyak para astrolog
(peramal) yang mengetahui secara
baik ilmu astrologi. Menurut
penelitian yang pernah dilakukan di
Eropa, 70% astrolog di Eropa tidak
mengetahui secara persis posisi
delapan palnet-planet besar.
Padahal, para astrolog Eropa
seringkali menjadi acuan para
peramal zodiak di negeri ini. So,
mungkinkah ramalannya bisa jitu
jika ilmu dasarnya saja tidak
diketahui?!
“Bekerjalah kamu, maka Allah dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS at-Taubah /9: 105).
Tuesday, 8 March 2011
Kisah ampuh sebuah do'a..
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta
alam. Shalawat dan salam kepada
Nabi kita Muhammad, keluarga dan
sahabatnya.
Untuk menggapai hasil yang kita
cita-citakan, setiap orang punya
usaha keras. Siang malam
mengeluarkan keringat untuk
menggapainya. Mau usaha
laundrynya sukses, bisnis
komputernya lancar, atau berhasil
dalam menghadapi ujian berbagai
usaha pemasaran, inovasi produk
dan belajar keras pun dilakukan.
Namun satu hal yang mesti seorang
pengusaha atau seorang yang ingin
meraih keberhasilan perhatikan
adalah bagaimana dirinya jangan
sampai melupakan Rabb yang
memudahkan segala urusan. Betapa
pun usaha yang kita lakukan, itu
bisa jadi sia-sia ketika kita
melupakan Rabb Ar Rahman yang
mengabulkan segala hajat. Dengan
banyak memohon pada Al Fattaah,
Maha Pemberi Karunia, segala hal
bisa jadi lebih mudah. Inilah yang
jadi senjata seorang muslim yang
mesti ia gunakan untuk meraih
suksesnya.
Janji Allah Bagi Orang yang
Memanjatkan Do ’a
Ayat-ayat qur’aniyah berikut
menunjukkan keutamaan
seseorang yang memanjatkan do’a.
Allah Ta’ala berfirman,
ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺭَﺑُّﻜُﻢُ ﺍﺩْﻋُﻮﻧِﻲ ﺃَﺳْﺘَﺠِﺐْ ﻟَﻜُﻢْ ﺇِﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ
ﻳَﺴْﺘَﻜْﺒِﺮُﻭﻥَ ﻋَﻦْ ﻋِﺒَﺎﺩَﺗِﻲ ﺳَﻴَﺪْﺧُﻠُﻮﻥَ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ
ﺩَﺍﺧِﺮِﻳﻦَ
“ Dan Tuhanmu berfirman:
"Berdoalah kepada-Ku, niscaya
akan Kuperkenankan bagimu.
Sesungguhnya orang-orang yang
menyombongkan diri dari
menyembah-Ku akan masuk
neraka Jahannam dalam keadaan
hina dina".” (QS. Ghofir/ Al Mu’min:
60)
ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺳَﺄَﻟَﻚَ ﻋِﺒَﺎﺩِﻱ ﻋَﻨِّﻲ ﻓَﺈِﻧِّﻲ ﻗَﺮِﻳﺐٌ ﺃُﺟِﻴﺐُ
ﺩَﻋْﻮَﺓَ ﺍﻟﺪَّﺍﻉِ ﺇِﺫَﺍ ﺩَﻋَﺎﻥِ ﻓَﻠْﻴَﺴْﺘَﺠِﻴﺒُﻮﺍ ﻟِﻲ
ﻭَﻟْﻴُﺆْﻣِﻨُﻮﺍ ﺑِﻲ ﻟَﻌَﻠَّﻬُﻢْ ﻳَﺮْﺷُﺪُﻭﻥَ
“ Dan apabila hamba-hamba-Ku
bertanya kepadamu tentang Aku,
maka (jawablah), bahwasanya Aku
adalah dekat. Aku mengabulkan
permohonan orang yang berdoa
apabila ia memohon kepada-Ku,
maka hendaklah mereka itu
memenuhi (segala perintah-Ku) dan
hendaklah mereka beriman
kepada-Ku, agar mereka selalu
berada dalam kebenaran. ” (QS. Al
Baqarah: 186)
Beberapa hadits berikut juga
menunjukkan bagaimanakah
keutamaan seseorang yang tidak
bosan-bosannya memohon pada
Allah. Dari An Nu ’man bin Basyir,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
ﺍﻟﺪُّﻋَﺎﺀُ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻌِﺒَﺎﺩَﺓُ
“ Do’a adalah ibadah.”[1]
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu
‘ alaihi wa sallam bersabda,
ﻟَﻴْﺲَ ﺷَﻲْﺀٌ ﺃَﻛْﺮَﻡَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻣِﻦَ
ﺍﻟﺪُّﻋَﺎﺀِ
“ Tidak ada sesuatu yang lebih besar
pengaruhnya di sisi Allah Ta’ala
selain do’a.”[2]
Dari Abu Sa’id, Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda,
« ﻣﺎ ﻣِﻦْ ﻣُﺴْﻠِﻢٍ ﻳَﺪْﻋُﻮ ﺑِﺪَﻋْﻮَﺓٍ ﻟَﻴْﺲَ ﻓِﻴﻬَﺎ
ﺇِﺛْﻢٌ ﻭَﻻَ ﻗَﻄِﻴﻌَﺔُ ﺭَﺣِﻢٍ ﺇِﻻَّ ﺃَﻋْﻄَﺎﻩُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﻬَﺎ
ﺇِﺣْﺪَﻯ ﺛَﻼَﺙٍ ﺇِﻣَّﺎ ﺃَﻥْ ﺗُﻌَﺠَّﻞَ ﻟَﻪُ ﺩَﻋْﻮَﺗُﻪُ ﻭَﺇِﻣَّﺎ ﺃَﻥْ
ﻳَﺪَّﺧِﺮَﻫَﺎ ﻟَﻪُ ﻓِﻰ ﺍﻵﺧِﺮَﺓِ ﻭَﺇِﻣَّﺎ ﺃَﻥُْ ﻳَﺼْﺮِﻑَ ﻋَﻨْﻪُ
ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴُّﻮﺀِ ﻣِﺜْﻠَﻬَﺎ «. ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺇِﺫﺍً ﻧُﻜْﺜِﺮُ. ﻗَﺎﻝَ »
ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻛْﺜَﺮُ »
“Tidaklah seorang muslim
memanjatkan do’a pada Allah
selama tidak mengandung dosa dan
memutuskan silaturahmi (antar
kerabat, pen) melainkan Allah akan
beri padanya tiga hal: [1] Allah akan
segera mengabulkan do ’anya, [2]
Allah akan menyimpannya baginya
di akhirat kelak, dan [3] Allah akan
menghindarkan darinya kejelekan
yang semisal. ” Para sahabat lantas
mengatakan, “Kalau begitu kami
akan memperbanyak berdo’a.” Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas
berkata, “Allah nanti yang
memperbanyak mengabulkan do'a-
do'a kalian. ”[3]
Bukti Ampuhnya Do’a
Beberapa kisah berikut
membuktikan betapa ampuhnya
do ’a bagi seorang muslim.
(1) Do’a Ummu Salamah sehingga
bisa menikah dengan Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ada sebuah hadits dari Ummu
Salamah -salah satu istri Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam- berkata
bahwa beliau pernah mendengar
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda,
« ﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﻋَﺒْﺪٍ ﺗُﺼِﻴﺒُﻪُ ﻣُﺼِﻴﺒَﺔٌ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ ﺇِﻧَّﺎ ﻟِﻠَّﻪِ
ﻭَﺇِﻧَّﺎ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺭَﺍﺟِﻌُﻮﻥَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺃْﺟُﺮْﻧِﻰ ﻓِﻰ
ﻣُﺼِﻴﺒَﺘِﻰ ﻭَﺃَﺧْﻠِﻒْ ﻟِﻰ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺇِﻻَّ ﺃَﺟَﺮَﻩُ
ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻓِﻰ ﻣُﺼِﻴﺒَﺘِﻪِ ﻭَﺃَﺧْﻠَﻒَ ﻟَﻪُ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻣِﻨْﻬَﺎ «.
ﻗَﺎﻟَﺖْ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺗُﻮُﻓِّﻰَ ﺃَﺑُﻮ ﺳَﻠَﻤَﺔَ ﻗُﻠْﺖُ ﻛَﻤَﺎ
ﺃَﻣَﺮَﻧِﻰ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ -ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ-
ﻓَﺄَﺧْﻠَﻒَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟِﻰ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻣِﻨْﻪُ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ -
ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -.
“Siapa saja dari hamba yang
tertimpa suatu musibah lalu ia
mengucapkan: “Inna lillahi wa inna
ilaihi rooji'un. Allahumma'jurnii fii
mushibatii wa akhlif lii khoiron
minhaa [Segala sesuatu adalah milik
Allah dan akan kembali pada-Nya.
Ya Allah, berilah ganjaran terhadap
musibah ang menimpaku dan
berilah ganti dengan yang lebih
baik ]”, maka Allah akan
memberinya ganjaran dalam
musibahnya dan menggantinya
dengan yang lebih baik. ” Ketika,
Abu Salamah (suamiku) wafat, aku
pun menyebut do'a sebagaimana
yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam perintahkan padaku. Allah
pun memberiku suami yang lebih
baik dari suamiku yang dulu yaitu
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam. ”[4]
Lihatlah bagaimana do’a Ummu
Salamah bisa dikabulkan dengan
diberi suami seperti Rasul shallallahu
‘ alaihi wa sallam. Ini menunjukkan
ajaibnya do’a.
(2) Kisah Seorang Istri yang
Mendoakan Suaminya yang Bejat
Ada seorang suami yang benar-
benar jauh dari ketaatan pada Allah
Ta ’ala, yang gemar melakukan
dosa. Ia memiliki istri yang
sholehah. Istrinya ini senantiasa
memberinya nasehat, wejangan
dan berlemah lembut dalam ucapan
pada suaminya, namun belum juga
nampak bekas kebaikan pada diri
sang suami. Si istri ini pun tahu
bahwa do ’a kepada Allah Ta’ala
adalah sebaik-baiknya cara (agar
suaminya bisa mendapatkan
hidayah). Karena Allah subhanahu
wa ta ’ala yang memberi petunjuk
pada siapa saja yang Dia kehendaki
dan menyesatkan siapa saja yang
Dia kehendaki. Si istri ini akhirnya
terus menerus berdoa agar Allah
memperbaiki keadaan suaminya
menjadi baik dan menunjukkan
suaminya ke jalan yang lurus
(shirothol mustaqim). Ia tidak
bosan-bosannya berdoa akan hal ini
siang dan malam.
Akhirnya si istri mendapatkan
waktu yang ia nanti-nanti. Suatu
hari hidayah pun menghampiri
suaminya, nampak pada suaminya
tanda kembali taat. Suaminya
akhirnya gemar lakukan kebaikan,
ia pun bertaubat dan kembali
kepada Allah Ta ’ala. Walillahil hamd,
segala puji hanya untuk Allah.[5]
Lihatlah bagaimana lagi satu kisah
yang menunjukkan keinginan yang
terwujud berkat do ’a pada Allah.
(3) Kisah Seorang Pria yang
Dikaruniai Anak di Usia Senja.
Ada seorang pria menikahi seorang
wanita. Ia sudah bersama wanita
tersebut beberapa tahun lamanya,
namun belum juga dikaruniai anak.
Lalu ia menikah lagi dengan wanita
lainnya, Allah pun belum
menakdirkan baginya untuk
memiliki anak. Hal ini membuat ia
semakin merindukan memiliki buah
hati. Ketika usianya sudah beranjak
dewasa, ia menikah lagi dengan
wanita ketiga. Padahal umurnya
ketika itu adalah 60 tahun. Di setiap
malam, ia selalu melakukan shalat
tahajud. Di waktu sahr (menjelang
Shubuh), ia berdo ’a pada Allah, “Ya
Allah, karuniakanlah padaku
seorang anak laki-laki atau seorang
anak perempuan. ” Dengan karunia
Allah subhanahu wa ta’ala, akhirnya
istrinya pun hamil. Kemudian
datanglah waktu istrinya
melahirkan. Ia pun diberikan kabar
gembira dengan diberi rizki seorang
putera. Ia begitu amat gembira dan
banyak bersyukur pada Allah.
Beberapa waktu lagi setelah
kelahiran tadi, Allah memberinya
juga seorang puteri. Fa subhanal
kariim. Maha Suci Allah atas karunia-
Nya.[6]
Kisah ini menunjukkan bagaimana
ampuhnya do’a bagi seorang
muslim. Mendapatkan keturunan di
usia tua juga sudah dialami oleh
Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Namun
Nabi Ibrahim mendapatkan anak
dengan istri yang sama-sama juga
sudah berusia senja. Allah Ta'ala
menceritakan,
ﻭَﺍﻣْﺮَﺃَﺗُﻪُ ﻗَﺎﺋِﻤَﺔٌ ﻓَﻀَﺤِﻜَﺖْ ﻓَﺒَﺸَّﺮْﻧَﺎﻫَﺎ
ﺑِﺈِﺳْﺤَﺎﻕَ ﻭَﻣِﻦْ ﻭَﺭَﺍﺀِ ﺇِﺳْﺤَﺎﻕَ ﻳَﻌْﻘُﻮﺏَ )71(
ﻗَﺎﻟَﺖْ ﻳَﺎ ﻭَﻳْﻠَﺘَﺎ ﺃَﺃَﻟِﺪُ ﻭَﺃَﻧَﺎ ﻋَﺠُﻮﺯٌ ﻭَﻫَﺬَﺍ ﺑَﻌْﻠِﻲ
ﺷَﻴْﺨًﺎ ﺇِﻥَّ ﻫَﺬَﺍ ﻟَﺸَﻲْﺀٌ ﻋَﺠِﻴﺐٌ )72 )
“Dan isterinya berdiri (dibalik tirai)
lalu dia tersenyum, maka Kami
sampaikan kepadanya berita
gembira tentang (kelahiran) Ishak
dan dari Ishak (akan lahir
puteranya) Ya'qub. Isterinya
berkata: "Sungguh mengherankan,
apakah aku akan melahirkan anak
padahal aku adalah seorang
perempuan tua, dan ini suamikupun
dalam keadaan yang sudah tua
pula?. Sesungguhnya ini benar-
benar suatu yang sangat aneh."
” (QS. Huud: 71-72)
Itulah karunia Allah, suatu hal yang
mustahil bisa saja terjadi dengan izin
Allah.
(4) Seorang Pemuda yang Berdo’a
agar Dimudahkan Menundukkan
Pandangan dari yang Haram
Ada seorang pemuda yang sempat
melihat video-video (porno) dan
gambar lain yang diharamkan. Ia
pun bertekad kuat agar terhindar
dari melihat seperti itu. Namun ia
tidak mampu. Kemudian ia mampu.
Ia pun berdo ’a pada Allah Ta’ala
agar Allah menjaga pendengaran
dan penglihatannya dari yang
haram. Akhirnya, Allah
memperkenankan do ’anya. Dari sini
ia pun tidak suka melihat gambar-
gambar yang terlarang seperti itu.
Sampai-sampai ia pun bisa
menghafalkan Al Qur ’an karena
sikapnya yang menjauhi maksiat.[7]
Kisah ini membuktikan bahwa kita
bisa terhindar dari maksiat hanya
dengan taufik Allah, jalannya adalah
dengan banyak memohon pada
Allah. Laa hawla wa laa quwwata illa
billah, tidak ada kekuatan untuk
melaksanakan ketaatan dan
menjauhi maksiat kecuali dengan
pertolongan Ar Rahman. Do ’a yang
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
ajarkan agar kita bisa menjaga
pandangan, pendengaran dan hati
kita dari kejelekan dan maksiat
adalah do ’a,
ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻰ ﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﺷَﺮِّ ﺳَﻤْﻌِﻰ ﻭَﻣِﻦْ
ﺷَﺮِّ ﺑَﺼَﺮِﻯ ﻭَﻣِﻦْ ﺷَﺮِّ ﻟِﺴَﺎﻧِﻰ ﻭَﻣِﻦْ ﺷَﺮِّ
ﻗَﻠْﺒِﻰ ﻭَﻣِﻦْ ﺷَﺮِّ ﻣَﻨِﻴِّﻰ
“ Allahumma inni a’udzu bika min
syarri sam’ii, wa min syarri bashorii,
wa min syarri lisaanii, wa min syarri
qolbii wa min syarri maniyyii ” (Ya
Allah, aku berlindung pada-Mu dari
kejelekan pendengaran,
penglihatan, lisan, hati dan angan-
angan yang rusak).[8]
alam. Shalawat dan salam kepada
Nabi kita Muhammad, keluarga dan
sahabatnya.
Untuk menggapai hasil yang kita
cita-citakan, setiap orang punya
usaha keras. Siang malam
mengeluarkan keringat untuk
menggapainya. Mau usaha
laundrynya sukses, bisnis
komputernya lancar, atau berhasil
dalam menghadapi ujian berbagai
usaha pemasaran, inovasi produk
dan belajar keras pun dilakukan.
Namun satu hal yang mesti seorang
pengusaha atau seorang yang ingin
meraih keberhasilan perhatikan
adalah bagaimana dirinya jangan
sampai melupakan Rabb yang
memudahkan segala urusan. Betapa
pun usaha yang kita lakukan, itu
bisa jadi sia-sia ketika kita
melupakan Rabb Ar Rahman yang
mengabulkan segala hajat. Dengan
banyak memohon pada Al Fattaah,
Maha Pemberi Karunia, segala hal
bisa jadi lebih mudah. Inilah yang
jadi senjata seorang muslim yang
mesti ia gunakan untuk meraih
suksesnya.
Janji Allah Bagi Orang yang
Memanjatkan Do ’a
Ayat-ayat qur’aniyah berikut
menunjukkan keutamaan
seseorang yang memanjatkan do’a.
Allah Ta’ala berfirman,
ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺭَﺑُّﻜُﻢُ ﺍﺩْﻋُﻮﻧِﻲ ﺃَﺳْﺘَﺠِﺐْ ﻟَﻜُﻢْ ﺇِﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ
ﻳَﺴْﺘَﻜْﺒِﺮُﻭﻥَ ﻋَﻦْ ﻋِﺒَﺎﺩَﺗِﻲ ﺳَﻴَﺪْﺧُﻠُﻮﻥَ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ
ﺩَﺍﺧِﺮِﻳﻦَ
“ Dan Tuhanmu berfirman:
"Berdoalah kepada-Ku, niscaya
akan Kuperkenankan bagimu.
Sesungguhnya orang-orang yang
menyombongkan diri dari
menyembah-Ku akan masuk
neraka Jahannam dalam keadaan
hina dina".” (QS. Ghofir/ Al Mu’min:
60)
ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺳَﺄَﻟَﻚَ ﻋِﺒَﺎﺩِﻱ ﻋَﻨِّﻲ ﻓَﺈِﻧِّﻲ ﻗَﺮِﻳﺐٌ ﺃُﺟِﻴﺐُ
ﺩَﻋْﻮَﺓَ ﺍﻟﺪَّﺍﻉِ ﺇِﺫَﺍ ﺩَﻋَﺎﻥِ ﻓَﻠْﻴَﺴْﺘَﺠِﻴﺒُﻮﺍ ﻟِﻲ
ﻭَﻟْﻴُﺆْﻣِﻨُﻮﺍ ﺑِﻲ ﻟَﻌَﻠَّﻬُﻢْ ﻳَﺮْﺷُﺪُﻭﻥَ
“ Dan apabila hamba-hamba-Ku
bertanya kepadamu tentang Aku,
maka (jawablah), bahwasanya Aku
adalah dekat. Aku mengabulkan
permohonan orang yang berdoa
apabila ia memohon kepada-Ku,
maka hendaklah mereka itu
memenuhi (segala perintah-Ku) dan
hendaklah mereka beriman
kepada-Ku, agar mereka selalu
berada dalam kebenaran. ” (QS. Al
Baqarah: 186)
Beberapa hadits berikut juga
menunjukkan bagaimanakah
keutamaan seseorang yang tidak
bosan-bosannya memohon pada
Allah. Dari An Nu ’man bin Basyir,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
ﺍﻟﺪُّﻋَﺎﺀُ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻌِﺒَﺎﺩَﺓُ
“ Do’a adalah ibadah.”[1]
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu
‘ alaihi wa sallam bersabda,
ﻟَﻴْﺲَ ﺷَﻲْﺀٌ ﺃَﻛْﺮَﻡَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻣِﻦَ
ﺍﻟﺪُّﻋَﺎﺀِ
“ Tidak ada sesuatu yang lebih besar
pengaruhnya di sisi Allah Ta’ala
selain do’a.”[2]
Dari Abu Sa’id, Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda,
« ﻣﺎ ﻣِﻦْ ﻣُﺴْﻠِﻢٍ ﻳَﺪْﻋُﻮ ﺑِﺪَﻋْﻮَﺓٍ ﻟَﻴْﺲَ ﻓِﻴﻬَﺎ
ﺇِﺛْﻢٌ ﻭَﻻَ ﻗَﻄِﻴﻌَﺔُ ﺭَﺣِﻢٍ ﺇِﻻَّ ﺃَﻋْﻄَﺎﻩُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﻬَﺎ
ﺇِﺣْﺪَﻯ ﺛَﻼَﺙٍ ﺇِﻣَّﺎ ﺃَﻥْ ﺗُﻌَﺠَّﻞَ ﻟَﻪُ ﺩَﻋْﻮَﺗُﻪُ ﻭَﺇِﻣَّﺎ ﺃَﻥْ
ﻳَﺪَّﺧِﺮَﻫَﺎ ﻟَﻪُ ﻓِﻰ ﺍﻵﺧِﺮَﺓِ ﻭَﺇِﻣَّﺎ ﺃَﻥُْ ﻳَﺼْﺮِﻑَ ﻋَﻨْﻪُ
ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴُّﻮﺀِ ﻣِﺜْﻠَﻬَﺎ «. ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺇِﺫﺍً ﻧُﻜْﺜِﺮُ. ﻗَﺎﻝَ »
ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻛْﺜَﺮُ »
“Tidaklah seorang muslim
memanjatkan do’a pada Allah
selama tidak mengandung dosa dan
memutuskan silaturahmi (antar
kerabat, pen) melainkan Allah akan
beri padanya tiga hal: [1] Allah akan
segera mengabulkan do ’anya, [2]
Allah akan menyimpannya baginya
di akhirat kelak, dan [3] Allah akan
menghindarkan darinya kejelekan
yang semisal. ” Para sahabat lantas
mengatakan, “Kalau begitu kami
akan memperbanyak berdo’a.” Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas
berkata, “Allah nanti yang
memperbanyak mengabulkan do'a-
do'a kalian. ”[3]
Bukti Ampuhnya Do’a
Beberapa kisah berikut
membuktikan betapa ampuhnya
do ’a bagi seorang muslim.
(1) Do’a Ummu Salamah sehingga
bisa menikah dengan Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ada sebuah hadits dari Ummu
Salamah -salah satu istri Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam- berkata
bahwa beliau pernah mendengar
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda,
« ﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﻋَﺒْﺪٍ ﺗُﺼِﻴﺒُﻪُ ﻣُﺼِﻴﺒَﺔٌ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ ﺇِﻧَّﺎ ﻟِﻠَّﻪِ
ﻭَﺇِﻧَّﺎ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺭَﺍﺟِﻌُﻮﻥَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺃْﺟُﺮْﻧِﻰ ﻓِﻰ
ﻣُﺼِﻴﺒَﺘِﻰ ﻭَﺃَﺧْﻠِﻒْ ﻟِﻰ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺇِﻻَّ ﺃَﺟَﺮَﻩُ
ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻓِﻰ ﻣُﺼِﻴﺒَﺘِﻪِ ﻭَﺃَﺧْﻠَﻒَ ﻟَﻪُ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻣِﻨْﻬَﺎ «.
ﻗَﺎﻟَﺖْ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺗُﻮُﻓِّﻰَ ﺃَﺑُﻮ ﺳَﻠَﻤَﺔَ ﻗُﻠْﺖُ ﻛَﻤَﺎ
ﺃَﻣَﺮَﻧِﻰ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ -ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ-
ﻓَﺄَﺧْﻠَﻒَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟِﻰ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻣِﻨْﻪُ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ -
ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -.
“Siapa saja dari hamba yang
tertimpa suatu musibah lalu ia
mengucapkan: “Inna lillahi wa inna
ilaihi rooji'un. Allahumma'jurnii fii
mushibatii wa akhlif lii khoiron
minhaa [Segala sesuatu adalah milik
Allah dan akan kembali pada-Nya.
Ya Allah, berilah ganjaran terhadap
musibah ang menimpaku dan
berilah ganti dengan yang lebih
baik ]”, maka Allah akan
memberinya ganjaran dalam
musibahnya dan menggantinya
dengan yang lebih baik. ” Ketika,
Abu Salamah (suamiku) wafat, aku
pun menyebut do'a sebagaimana
yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam perintahkan padaku. Allah
pun memberiku suami yang lebih
baik dari suamiku yang dulu yaitu
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam. ”[4]
Lihatlah bagaimana do’a Ummu
Salamah bisa dikabulkan dengan
diberi suami seperti Rasul shallallahu
‘ alaihi wa sallam. Ini menunjukkan
ajaibnya do’a.
(2) Kisah Seorang Istri yang
Mendoakan Suaminya yang Bejat
Ada seorang suami yang benar-
benar jauh dari ketaatan pada Allah
Ta ’ala, yang gemar melakukan
dosa. Ia memiliki istri yang
sholehah. Istrinya ini senantiasa
memberinya nasehat, wejangan
dan berlemah lembut dalam ucapan
pada suaminya, namun belum juga
nampak bekas kebaikan pada diri
sang suami. Si istri ini pun tahu
bahwa do ’a kepada Allah Ta’ala
adalah sebaik-baiknya cara (agar
suaminya bisa mendapatkan
hidayah). Karena Allah subhanahu
wa ta ’ala yang memberi petunjuk
pada siapa saja yang Dia kehendaki
dan menyesatkan siapa saja yang
Dia kehendaki. Si istri ini akhirnya
terus menerus berdoa agar Allah
memperbaiki keadaan suaminya
menjadi baik dan menunjukkan
suaminya ke jalan yang lurus
(shirothol mustaqim). Ia tidak
bosan-bosannya berdoa akan hal ini
siang dan malam.
Akhirnya si istri mendapatkan
waktu yang ia nanti-nanti. Suatu
hari hidayah pun menghampiri
suaminya, nampak pada suaminya
tanda kembali taat. Suaminya
akhirnya gemar lakukan kebaikan,
ia pun bertaubat dan kembali
kepada Allah Ta ’ala. Walillahil hamd,
segala puji hanya untuk Allah.[5]
Lihatlah bagaimana lagi satu kisah
yang menunjukkan keinginan yang
terwujud berkat do ’a pada Allah.
(3) Kisah Seorang Pria yang
Dikaruniai Anak di Usia Senja.
Ada seorang pria menikahi seorang
wanita. Ia sudah bersama wanita
tersebut beberapa tahun lamanya,
namun belum juga dikaruniai anak.
Lalu ia menikah lagi dengan wanita
lainnya, Allah pun belum
menakdirkan baginya untuk
memiliki anak. Hal ini membuat ia
semakin merindukan memiliki buah
hati. Ketika usianya sudah beranjak
dewasa, ia menikah lagi dengan
wanita ketiga. Padahal umurnya
ketika itu adalah 60 tahun. Di setiap
malam, ia selalu melakukan shalat
tahajud. Di waktu sahr (menjelang
Shubuh), ia berdo ’a pada Allah, “Ya
Allah, karuniakanlah padaku
seorang anak laki-laki atau seorang
anak perempuan. ” Dengan karunia
Allah subhanahu wa ta’ala, akhirnya
istrinya pun hamil. Kemudian
datanglah waktu istrinya
melahirkan. Ia pun diberikan kabar
gembira dengan diberi rizki seorang
putera. Ia begitu amat gembira dan
banyak bersyukur pada Allah.
Beberapa waktu lagi setelah
kelahiran tadi, Allah memberinya
juga seorang puteri. Fa subhanal
kariim. Maha Suci Allah atas karunia-
Nya.[6]
Kisah ini menunjukkan bagaimana
ampuhnya do’a bagi seorang
muslim. Mendapatkan keturunan di
usia tua juga sudah dialami oleh
Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Namun
Nabi Ibrahim mendapatkan anak
dengan istri yang sama-sama juga
sudah berusia senja. Allah Ta'ala
menceritakan,
ﻭَﺍﻣْﺮَﺃَﺗُﻪُ ﻗَﺎﺋِﻤَﺔٌ ﻓَﻀَﺤِﻜَﺖْ ﻓَﺒَﺸَّﺮْﻧَﺎﻫَﺎ
ﺑِﺈِﺳْﺤَﺎﻕَ ﻭَﻣِﻦْ ﻭَﺭَﺍﺀِ ﺇِﺳْﺤَﺎﻕَ ﻳَﻌْﻘُﻮﺏَ )71(
ﻗَﺎﻟَﺖْ ﻳَﺎ ﻭَﻳْﻠَﺘَﺎ ﺃَﺃَﻟِﺪُ ﻭَﺃَﻧَﺎ ﻋَﺠُﻮﺯٌ ﻭَﻫَﺬَﺍ ﺑَﻌْﻠِﻲ
ﺷَﻴْﺨًﺎ ﺇِﻥَّ ﻫَﺬَﺍ ﻟَﺸَﻲْﺀٌ ﻋَﺠِﻴﺐٌ )72 )
“Dan isterinya berdiri (dibalik tirai)
lalu dia tersenyum, maka Kami
sampaikan kepadanya berita
gembira tentang (kelahiran) Ishak
dan dari Ishak (akan lahir
puteranya) Ya'qub. Isterinya
berkata: "Sungguh mengherankan,
apakah aku akan melahirkan anak
padahal aku adalah seorang
perempuan tua, dan ini suamikupun
dalam keadaan yang sudah tua
pula?. Sesungguhnya ini benar-
benar suatu yang sangat aneh."
” (QS. Huud: 71-72)
Itulah karunia Allah, suatu hal yang
mustahil bisa saja terjadi dengan izin
Allah.
(4) Seorang Pemuda yang Berdo’a
agar Dimudahkan Menundukkan
Pandangan dari yang Haram
Ada seorang pemuda yang sempat
melihat video-video (porno) dan
gambar lain yang diharamkan. Ia
pun bertekad kuat agar terhindar
dari melihat seperti itu. Namun ia
tidak mampu. Kemudian ia mampu.
Ia pun berdo ’a pada Allah Ta’ala
agar Allah menjaga pendengaran
dan penglihatannya dari yang
haram. Akhirnya, Allah
memperkenankan do ’anya. Dari sini
ia pun tidak suka melihat gambar-
gambar yang terlarang seperti itu.
Sampai-sampai ia pun bisa
menghafalkan Al Qur ’an karena
sikapnya yang menjauhi maksiat.[7]
Kisah ini membuktikan bahwa kita
bisa terhindar dari maksiat hanya
dengan taufik Allah, jalannya adalah
dengan banyak memohon pada
Allah. Laa hawla wa laa quwwata illa
billah, tidak ada kekuatan untuk
melaksanakan ketaatan dan
menjauhi maksiat kecuali dengan
pertolongan Ar Rahman. Do ’a yang
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
ajarkan agar kita bisa menjaga
pandangan, pendengaran dan hati
kita dari kejelekan dan maksiat
adalah do ’a,
ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻰ ﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﺷَﺮِّ ﺳَﻤْﻌِﻰ ﻭَﻣِﻦْ
ﺷَﺮِّ ﺑَﺼَﺮِﻯ ﻭَﻣِﻦْ ﺷَﺮِّ ﻟِﺴَﺎﻧِﻰ ﻭَﻣِﻦْ ﺷَﺮِّ
ﻗَﻠْﺒِﻰ ﻭَﻣِﻦْ ﺷَﺮِّ ﻣَﻨِﻴِّﻰ
“ Allahumma inni a’udzu bika min
syarri sam’ii, wa min syarri bashorii,
wa min syarri lisaanii, wa min syarri
qolbii wa min syarri maniyyii ” (Ya
Allah, aku berlindung pada-Mu dari
kejelekan pendengaran,
penglihatan, lisan, hati dan angan-
angan yang rusak).[8]
mutiara terkubur dalam diri..apa itu malu..?
Ia begitu indah. Menghiasi hati pemeliharanya
dengan pancaran sinar kebaikan. Akan tetapi, ia
kini menghilang. Terpendam dalam kegelapan
hati yang melupakannya. Itulah rasa malu.
Bagaikan mutiara yang terkubur. Ia adalah
keistimewaan para manusia, akhlak yang agung,
tanpanya tidak ada kebaikan sedikitpun dalam
kehidupan.
Apa Itu Malu?
Malu adalah getaran rasa takut dan segan yang
terjadi di dalam hati untuk melakukan sesuatu
yang telah diharamkan oleh Allah Ta ’ala, untuk
tidak melakukan sesuatu yang telah diwajibkan
Allah Ta ’ala, atau untuk melakukan sesuatu yang
tidak dianggap baik oleh manusia selama hal
tersebut juga tidak dianggap baik oleh syariat.
Sehingga rasa malu menjadi penghalang antara
keberanian untuk melakukan kemaksiatan dan
menahan diri dari melakukannya, karena rasa
malu ibarat bendungan yang apabila hancur,
maka air pun akan mengalir dan
menenggelamkan segala sesuatu. Oleh karena itu,
jika seseorang tidak memiliki rasa malu, maka dia
tidak memiliki bendungan, sehingga tidak ada
yang menghalanginya dari melakukan
kemaksiatan. Rasa malu juga tidak akan terjadi
kecuali karena kebaikan. Rasulullah shallallahu
‘ alaihi wa sallam bersabda:
ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺀُ ﻟَﺎ ﻳَﺄْﺗِﻲ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺨَﻴْﺮ
“Sifat malu itu tidak mendatangkan sesuatu
melainkan kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Setangkai Cabang Keimanan
Seiring dengan bertambahnya rasa malu, maka
keimanan pun bertambah. Sebaliknya, jika rasa
malu itu berkurang, berkurang pula
keimanannya. Karena rasa malu adalah sebagian
dari iman. Sebagaimana yang disabdakan oleh
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau
bersabda:
ﺍﻟْﺈِﻳﻤَﺎﻥُ ﺑِﻀْﻊٌ ﻭَﺳَﺒْﻌُﻮﻥَ ﺃَﻭْ
ﺑِﻀْﻊٌ ﻭَﺳِﺘُّﻮﻥَ ﺷُﻌْﺒَﺔً
ﻓَﺄَﻓْﻀَﻠُﻬَﺎ ﻗَﻮْﻝُ ﻟَﺎ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻟَّﺎ
ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺃَﺩْﻧَﺎﻫَﺎ ﺇِﻣَﺎﻃَﺔُ ﺍﻟْﺄَﺫَﻯ
ﻋَﻦْ ﺍﻟﻄَّﺮِﻳﻖِ ﻭَﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺀُ ﺷُﻌْﺒَﺔٌ
ﻣِﻦْ ﺍﻟْﺈِﻳﻤَﺎﻥ
“Keimanan memiliki tujuh puluh atau enam
puluh sekian cabang. Yang paling tinggi adalah
ucapan “Laa ilaaha illallaah” dan yang paling
rendah adalah menyingkirkan gangguan dari
jalan. Sedangkan rasa malu adalah satu dari
cabang-cabang iman. ” (HR. Bukhari dan Muslim)
Obat Penawar Keburukan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ﺇِﻥَّ ﻣِﻤَّﺎ ﺃَﺩْﺭَﻙَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻣِﻦْ
ﻛَﻠَﺎﻡِ ﺍﻟﻨُّﺒُﻮَّﺓِ ﺍﻟْﺄُﻭﻟَﻰ ﺇِﺫَﺍ
ﻟَﻢْ ﺗَﺴْﺘَﺤْﻲِ ﻓَﺎﺻْﻨَﻊْ ﻣَﺎ ﺷِﺌْﺖَ
“Sesungguhnya di antara perkara yang telah
dipahami oleh manusia dari perkataan kenabian
pertama adalah ‘Jika kamu tidak malu, maka
lakukanlah apa yang kamu suka.’” (HR. Bukhari)
Maksudnya adalah bahwa sesungguhnya
penghalang keburukan adalah rasa malu. Oleh
karena itu, orang yang rasa malu telah hilang dari
dalam hatinya, dia akan berbuat apa yang dia
suka. Dia tidak merasa malu di hadapan manusia,
di hadapan dirinya sendiri, bahkan di hadapan
Allah Ta’ala. Maka dia pasti akan mendapatkan
balasan dari apa yang dia perbuat.
Abu Dulaf al-’Ijli rahimahullahu berkata:
Apabila kamu tidak menjaga kehormatan..
Dan tidak takut Sang Pencipta..
Juga tidak merasa malu terhadap makhluk..
Maka lakukan apa yang kamu suka..
Rasa Malu Tidak Menghalangi Amar Ma’ruf
Dan Nahi Munkar
Allah Ta’ala berfirman(yang artinya):
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan
umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma ’ruf dan mencegah
dari yang munkar; merekalah orang-orang yang
beruntung. ” (QS. Ali ‘Imran: 104)
Dosa yang pernah kita perbuat bukanlah menjadi
alasan untuk meninggalkan amar ma ’ruf nahi
munkar. Karena meninggalkannya juga termasuk
dosa. Padahal setiap anak Adam sering
melakukan kesalahan, bahkan setiap da ’i pun
pernah berbuat kesalahan. Seorang penyair
berkata:
Jika saja orang yang berbuat dosa tidak pantas
untuk menasehati manusia
Siapakah yang pantas menasehati para pelaku
maksiat setelah kematian Nabi Muhammad
Rasa Malu Bukan Penghalang Menuntut Ilmu
Sebagaiamana yang diriwayatkan oleh Imam
Bukhari dalam Shahih-nya dari Mujahid berkata:
“ Tidak akan belajar ilmu orang yang pemalu dan
sombong.” Rasa malu bukanlah penghalang
seseorang untuk berbuat kebaikan. Terlebih lagi
kebaikan yang sangat agung, dimana kita
diperintahkan untuk berlomba-lomba di
dalamnya, seperti menuntut ilmu. Sungguh tidak
sepatutnya rasa malu menghalangi kita
menghadiri majelis ta ’lim, bertanya tentang
agama, dan mendalami syariat Islam.
Sebagaimana kaum wanita anshor yang terkenal
dengan sifat malu, akan tetapi hal itu tidak
menghalangi mereka dari mempelajari agama
mereka. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh
Imam Muslim dalam Shahih-nya dari ‘Aisyah
radhiyallahu ‘anha, dia mengabarkan:
ﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀُ ﻧِﺴَﺎﺀُ ﺍﻟْﺄَﻧْﺼَﺎﺭِ
ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻳَﻤْﻨَﻌُﻬُﻦَّ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺀُ
ﺃَﻥْ ﻳَﺴْﺄَﻟْﻦَ ﻋَﻦْ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ ﻭَﺃَﻥْ
ﻳَﺘَﻔَﻘَّﻬْﻦَ ﻓِﻴﻪِ
“Sebaik-baik wanita adalah wanita kaum Anshar.
Rasa malu mereka tidak menghalangi mereka
untuk mendalami ilmu agama. ”
Tidak Menampakkan Perbuatan
Kemaksiatan Adalah Rasa Malu
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ﻛُﻞُّ ﺃُﻣَّﺘِﻲ ﻣُﻌَﺎﻓًﻰ ﺇِﻟَّﺎ
ﺍﻟْﻤُﺠَﺎﻫِﺮِﻳﻦَ ﻭَﺇِﻥَّ ﻣِﻦَ
ﺍﻟْﻤُﺠَﺎﻫَﺮَﺓِ )ﺍﻟْﻤَﺠَﺎﻧَﺔِ( ﺃَﻥْ
ﻳَﻌْﻤَﻞَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻋَﻤَﻠًﺎ
ﺛُﻢَّ ﻳُﺼْﺒِﺢَ ﻭَﻗَﺪْ ﺳَﺘَﺮَﻩُ ﺍﻟﻠﻪُ
ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝَ ﻳَﺎ ﻓُﻠَﺎﻥُ ﻋَﻤِﻠْﺖُ
ﺍﻟْﺒَﺎﺭِﺣَﺔَ ﻛَﺬَﺍ ﻭَﻛَﺬَﺍ ﻭَﻗَﺪْ ﺑَﺎﺕَ
ﻳَﺴْﺘُﺮُﻩُ ﺭَﺑُّﻪُ ﻭَﻳُﺼْﺒِﺢُ ﻳَﻜْﺸِﻒُ
ﺳِﺘْﺮَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻋَﻨْﻪُ
“Seluruh umatku akan diampuni kecuali orang-
orang yang terang-terangan (bermaksiat). Di
antaranya adalah seorang lelaki yang pada malam
hari melakukan satu perbuatan maksiat, padahal
Allah Ta ’ala telah menutupi aibnya tersebut, tetapi
ketika di pagi hari, dia berkata: ‘Wahai Fulan, tadi
malam aku telah melakukan ini dan itu.’ Pada
malam hari Rabb-nya telah menutupi aibnya,
akan tetapi ketika pagi hari dia membuka penutup
tersebut darinya. ” (HR. Bukhari dan Muslim)
Fenomena Rasa Malu
Sebagai contoh nyata adalah sikap malu seorang
remaja putri yang bertemu dengan Nabi Musa
‘ alaihis salam, yang kisahnya telah disebutkan
dalam Al-Qur’an:
“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang
dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia
berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil
kamu agar ia memberikan Balasan terhadap
(kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami”.
Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib)
dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai
dirinya), Syu ’aib berkata: “Janganlah kamu takut.
kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim
itu. ” (QS. Al-Qoshshoh: 25)
Allah Ta’ala telah menyifatinya dengan rasa malu
di dalam cara jalan dan bicaranya, yang
semuanya dihiasi dengan rasa malu.
Namun kenyataan sekarang berbicara lain.
Kebanyakan wanita sekarang menjadi pameran
fashion. Mereka keluar rumah membuka aurat,
ber-tabarruj, dan memakai wangi-wangian.
Sungguh rasa malu telah hilang dari mereka.
Bahkan tidak sedikit kaum lelaki tanpa rasa malu
mengumbar pandangan untuk mengintai aurat
wanita. Tidakkah mereka tahu bahwa Allah Ta ’ala
Maha Mengetahui mata-mata yang berkhianat dan
segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati?
Tidakkah mereka tahu bahwa pandangan mata
adalah panah beracun dari panah-panah setan
laknatullah? Panah tersebut bisa saja
menghancurkan keimanan. Sehingga ia
berpeluang besar berpindah dari satu maksiat ke
maksiat lain.
Ibnu as-Samaak rahimahullahu berkata:
Hai pecandu dosa, tidakkah kamu merasa malu..
Padahal Allah bersamamu di dalam
kesendirianmu..
Penangguhan dosa dari Rabbmu telah
menipumu..
Juga banyaknya keburukan yang telah ditutupi
untukmu..
Oleh karena itu, sudah seharusnya bagi kita agar
bersikap malu untuk melakukan kemaksiatan dan
meninggalkan kewajiban. Akan tetapi, tidak
selayaknya kita bersikap malu untuk
meninggalkan keburukan dan mengerjakan
kebaikan. Janganlah kita biarkan mutiara yang
begitu indah terkubur dalam kegelapan hati. Akan
tetapi, hiasilah hati kita dengan sinar kemuliaannya
yang berkilau. Allahu al-Musta ’an.
[Abu Ahnaf Roni Nuryusmansyah
dengan pancaran sinar kebaikan. Akan tetapi, ia
kini menghilang. Terpendam dalam kegelapan
hati yang melupakannya. Itulah rasa malu.
Bagaikan mutiara yang terkubur. Ia adalah
keistimewaan para manusia, akhlak yang agung,
tanpanya tidak ada kebaikan sedikitpun dalam
kehidupan.
Apa Itu Malu?
Malu adalah getaran rasa takut dan segan yang
terjadi di dalam hati untuk melakukan sesuatu
yang telah diharamkan oleh Allah Ta ’ala, untuk
tidak melakukan sesuatu yang telah diwajibkan
Allah Ta ’ala, atau untuk melakukan sesuatu yang
tidak dianggap baik oleh manusia selama hal
tersebut juga tidak dianggap baik oleh syariat.
Sehingga rasa malu menjadi penghalang antara
keberanian untuk melakukan kemaksiatan dan
menahan diri dari melakukannya, karena rasa
malu ibarat bendungan yang apabila hancur,
maka air pun akan mengalir dan
menenggelamkan segala sesuatu. Oleh karena itu,
jika seseorang tidak memiliki rasa malu, maka dia
tidak memiliki bendungan, sehingga tidak ada
yang menghalanginya dari melakukan
kemaksiatan. Rasa malu juga tidak akan terjadi
kecuali karena kebaikan. Rasulullah shallallahu
‘ alaihi wa sallam bersabda:
ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺀُ ﻟَﺎ ﻳَﺄْﺗِﻲ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺨَﻴْﺮ
“Sifat malu itu tidak mendatangkan sesuatu
melainkan kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Setangkai Cabang Keimanan
Seiring dengan bertambahnya rasa malu, maka
keimanan pun bertambah. Sebaliknya, jika rasa
malu itu berkurang, berkurang pula
keimanannya. Karena rasa malu adalah sebagian
dari iman. Sebagaimana yang disabdakan oleh
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau
bersabda:
ﺍﻟْﺈِﻳﻤَﺎﻥُ ﺑِﻀْﻊٌ ﻭَﺳَﺒْﻌُﻮﻥَ ﺃَﻭْ
ﺑِﻀْﻊٌ ﻭَﺳِﺘُّﻮﻥَ ﺷُﻌْﺒَﺔً
ﻓَﺄَﻓْﻀَﻠُﻬَﺎ ﻗَﻮْﻝُ ﻟَﺎ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻟَّﺎ
ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺃَﺩْﻧَﺎﻫَﺎ ﺇِﻣَﺎﻃَﺔُ ﺍﻟْﺄَﺫَﻯ
ﻋَﻦْ ﺍﻟﻄَّﺮِﻳﻖِ ﻭَﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺀُ ﺷُﻌْﺒَﺔٌ
ﻣِﻦْ ﺍﻟْﺈِﻳﻤَﺎﻥ
“Keimanan memiliki tujuh puluh atau enam
puluh sekian cabang. Yang paling tinggi adalah
ucapan “Laa ilaaha illallaah” dan yang paling
rendah adalah menyingkirkan gangguan dari
jalan. Sedangkan rasa malu adalah satu dari
cabang-cabang iman. ” (HR. Bukhari dan Muslim)
Obat Penawar Keburukan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ﺇِﻥَّ ﻣِﻤَّﺎ ﺃَﺩْﺭَﻙَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻣِﻦْ
ﻛَﻠَﺎﻡِ ﺍﻟﻨُّﺒُﻮَّﺓِ ﺍﻟْﺄُﻭﻟَﻰ ﺇِﺫَﺍ
ﻟَﻢْ ﺗَﺴْﺘَﺤْﻲِ ﻓَﺎﺻْﻨَﻊْ ﻣَﺎ ﺷِﺌْﺖَ
“Sesungguhnya di antara perkara yang telah
dipahami oleh manusia dari perkataan kenabian
pertama adalah ‘Jika kamu tidak malu, maka
lakukanlah apa yang kamu suka.’” (HR. Bukhari)
Maksudnya adalah bahwa sesungguhnya
penghalang keburukan adalah rasa malu. Oleh
karena itu, orang yang rasa malu telah hilang dari
dalam hatinya, dia akan berbuat apa yang dia
suka. Dia tidak merasa malu di hadapan manusia,
di hadapan dirinya sendiri, bahkan di hadapan
Allah Ta’ala. Maka dia pasti akan mendapatkan
balasan dari apa yang dia perbuat.
Abu Dulaf al-’Ijli rahimahullahu berkata:
Apabila kamu tidak menjaga kehormatan..
Dan tidak takut Sang Pencipta..
Juga tidak merasa malu terhadap makhluk..
Maka lakukan apa yang kamu suka..
Rasa Malu Tidak Menghalangi Amar Ma’ruf
Dan Nahi Munkar
Allah Ta’ala berfirman(yang artinya):
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan
umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma ’ruf dan mencegah
dari yang munkar; merekalah orang-orang yang
beruntung. ” (QS. Ali ‘Imran: 104)
Dosa yang pernah kita perbuat bukanlah menjadi
alasan untuk meninggalkan amar ma ’ruf nahi
munkar. Karena meninggalkannya juga termasuk
dosa. Padahal setiap anak Adam sering
melakukan kesalahan, bahkan setiap da ’i pun
pernah berbuat kesalahan. Seorang penyair
berkata:
Jika saja orang yang berbuat dosa tidak pantas
untuk menasehati manusia
Siapakah yang pantas menasehati para pelaku
maksiat setelah kematian Nabi Muhammad
Rasa Malu Bukan Penghalang Menuntut Ilmu
Sebagaiamana yang diriwayatkan oleh Imam
Bukhari dalam Shahih-nya dari Mujahid berkata:
“ Tidak akan belajar ilmu orang yang pemalu dan
sombong.” Rasa malu bukanlah penghalang
seseorang untuk berbuat kebaikan. Terlebih lagi
kebaikan yang sangat agung, dimana kita
diperintahkan untuk berlomba-lomba di
dalamnya, seperti menuntut ilmu. Sungguh tidak
sepatutnya rasa malu menghalangi kita
menghadiri majelis ta ’lim, bertanya tentang
agama, dan mendalami syariat Islam.
Sebagaimana kaum wanita anshor yang terkenal
dengan sifat malu, akan tetapi hal itu tidak
menghalangi mereka dari mempelajari agama
mereka. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh
Imam Muslim dalam Shahih-nya dari ‘Aisyah
radhiyallahu ‘anha, dia mengabarkan:
ﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀُ ﻧِﺴَﺎﺀُ ﺍﻟْﺄَﻧْﺼَﺎﺭِ
ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻳَﻤْﻨَﻌُﻬُﻦَّ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺀُ
ﺃَﻥْ ﻳَﺴْﺄَﻟْﻦَ ﻋَﻦْ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ ﻭَﺃَﻥْ
ﻳَﺘَﻔَﻘَّﻬْﻦَ ﻓِﻴﻪِ
“Sebaik-baik wanita adalah wanita kaum Anshar.
Rasa malu mereka tidak menghalangi mereka
untuk mendalami ilmu agama. ”
Tidak Menampakkan Perbuatan
Kemaksiatan Adalah Rasa Malu
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ﻛُﻞُّ ﺃُﻣَّﺘِﻲ ﻣُﻌَﺎﻓًﻰ ﺇِﻟَّﺎ
ﺍﻟْﻤُﺠَﺎﻫِﺮِﻳﻦَ ﻭَﺇِﻥَّ ﻣِﻦَ
ﺍﻟْﻤُﺠَﺎﻫَﺮَﺓِ )ﺍﻟْﻤَﺠَﺎﻧَﺔِ( ﺃَﻥْ
ﻳَﻌْﻤَﻞَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻋَﻤَﻠًﺎ
ﺛُﻢَّ ﻳُﺼْﺒِﺢَ ﻭَﻗَﺪْ ﺳَﺘَﺮَﻩُ ﺍﻟﻠﻪُ
ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝَ ﻳَﺎ ﻓُﻠَﺎﻥُ ﻋَﻤِﻠْﺖُ
ﺍﻟْﺒَﺎﺭِﺣَﺔَ ﻛَﺬَﺍ ﻭَﻛَﺬَﺍ ﻭَﻗَﺪْ ﺑَﺎﺕَ
ﻳَﺴْﺘُﺮُﻩُ ﺭَﺑُّﻪُ ﻭَﻳُﺼْﺒِﺢُ ﻳَﻜْﺸِﻒُ
ﺳِﺘْﺮَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻋَﻨْﻪُ
“Seluruh umatku akan diampuni kecuali orang-
orang yang terang-terangan (bermaksiat). Di
antaranya adalah seorang lelaki yang pada malam
hari melakukan satu perbuatan maksiat, padahal
Allah Ta ’ala telah menutupi aibnya tersebut, tetapi
ketika di pagi hari, dia berkata: ‘Wahai Fulan, tadi
malam aku telah melakukan ini dan itu.’ Pada
malam hari Rabb-nya telah menutupi aibnya,
akan tetapi ketika pagi hari dia membuka penutup
tersebut darinya. ” (HR. Bukhari dan Muslim)
Fenomena Rasa Malu
Sebagai contoh nyata adalah sikap malu seorang
remaja putri yang bertemu dengan Nabi Musa
‘ alaihis salam, yang kisahnya telah disebutkan
dalam Al-Qur’an:
“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang
dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia
berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil
kamu agar ia memberikan Balasan terhadap
(kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami”.
Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib)
dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai
dirinya), Syu ’aib berkata: “Janganlah kamu takut.
kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim
itu. ” (QS. Al-Qoshshoh: 25)
Allah Ta’ala telah menyifatinya dengan rasa malu
di dalam cara jalan dan bicaranya, yang
semuanya dihiasi dengan rasa malu.
Namun kenyataan sekarang berbicara lain.
Kebanyakan wanita sekarang menjadi pameran
fashion. Mereka keluar rumah membuka aurat,
ber-tabarruj, dan memakai wangi-wangian.
Sungguh rasa malu telah hilang dari mereka.
Bahkan tidak sedikit kaum lelaki tanpa rasa malu
mengumbar pandangan untuk mengintai aurat
wanita. Tidakkah mereka tahu bahwa Allah Ta ’ala
Maha Mengetahui mata-mata yang berkhianat dan
segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati?
Tidakkah mereka tahu bahwa pandangan mata
adalah panah beracun dari panah-panah setan
laknatullah? Panah tersebut bisa saja
menghancurkan keimanan. Sehingga ia
berpeluang besar berpindah dari satu maksiat ke
maksiat lain.
Ibnu as-Samaak rahimahullahu berkata:
Hai pecandu dosa, tidakkah kamu merasa malu..
Padahal Allah bersamamu di dalam
kesendirianmu..
Penangguhan dosa dari Rabbmu telah
menipumu..
Juga banyaknya keburukan yang telah ditutupi
untukmu..
Oleh karena itu, sudah seharusnya bagi kita agar
bersikap malu untuk melakukan kemaksiatan dan
meninggalkan kewajiban. Akan tetapi, tidak
selayaknya kita bersikap malu untuk
meninggalkan keburukan dan mengerjakan
kebaikan. Janganlah kita biarkan mutiara yang
begitu indah terkubur dalam kegelapan hati. Akan
tetapi, hiasilah hati kita dengan sinar kemuliaannya
yang berkilau. Allahu al-Musta ’an.
[Abu Ahnaf Roni Nuryusmansyah
apakah anda terjangkiti penyakit riya..?
Penyakit yang sangat berbahaya
ini … mengakibatkan hancurnya
amalan dan menjadikannya seperti
debu yang berterbangan tidak
bernilai. Betapa banyak amalan
yang telah dikumpulkan oleh
seseorang selama bertahun-tahun –
dan bisa jadi puluhan tahun- dan
bisa jadi sudah bertumpuk amalan
tersebut setinggi gunung yang
menjulang ke langit … akan tetapi
ternyata semuanya hancur lebur
tidak bernilai sama sekali di sisi
Allah.
Allah berfirman :
ﻛَﺎﻟَّﺬِﻱ ﻳُﻨْﻔِﻖُ ﻣَﺎﻟَﻪُ ﺭِﺋَﺎﺀَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻭَﻻ ﻳُﺆْﻣِﻦُ
ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟْﻴَﻮْﻡِ ﺍﻵﺧِﺮِ ﻓَﻤَﺜَﻠُﻪُ ﻛَﻤَﺜَﻞِ ﺻَﻔْﻮَﺍﻥٍ
ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺗُﺮَﺍﺏٌ ﻓَﺄَﺻَﺎﺑَﻪُ ﻭَﺍﺑِﻞٌ ﻓَﺘَﺮَﻛَﻪُ ﺻَﻠْﺪًﺍ ﻻ
ﻳَﻘْﺪِﺭُﻭﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺷَﻲْﺀٍ ﻣِﻤَّﺎ ﻛَﺴَﺒُﻮﺍ
Seperti orang yang menafkahkan
hartanya karena riya kepada
manusia dan Dia tidak beriman
kepada Allah dan hari kemudian.
Maka perumpamaan orang itu
seperti batu licin yang di atasnya
ada tanah, kemudian batu itu
ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah
Dia bersih (tidak bertanah). mereka
tidak menguasai sesuatupun dari
apa yang mereka usahakan (QS Al-
Baqoroh : 264)
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah,
"Yaitu hujan yang deras tersebut
menjadikan batu yang licin tersebut
bersih, yaitu tanpa tersisa sedikitpun
tanah sama sekali, bahkan seluruh
tanah telah sirna. Maka demikianlah
amalan-amalannya orang-orang
yang riyaa' akan hancur dan sirna di
sisi Allah, meskipun yang nampak
pada orang-orang mereka memiliki
amal sebagaimana tanah (yang
nampak di atas batu licin tadi -pen).
Oleh karenanya Allah berfirman
((mereka tidak menguasai
sesuatupun dari apa yang mereka
usahakan))" (Tafsir Ibnu Katsiir
1/319)
Sungguh ini merupakan permisalan
yang sangat menghinakan orang-
orang yang beramal karena riyaa'.
Mereka menyangka bahwasanya
mereka telah mengumpulkan amal
yang banyak. Bahkan bukan hanya
mereka yang menyangka
demikian, tetapi orang-orang lain
yang melihat mereka juga
menyangka demikian, menyangka
bahwa mereka adalah orang-orang
sholeh yang memiliki banyak
amalan. Akan tetapi ternyata
amalan mereka dimusnahkan oleh
Allah dengan sekejap bahkan tidak
tersisa sama sekali seperti tanah
yang nampak bertumpuk di atas
batu yang licin lantas tersiram
dengan hujan yang sangat deras
sekali, sehingga hilanglah tanah
tersebut dan tidak tersisa sama
sekali. Na'uudzu billaahi min dzaalik,
kita berlindung kepada Allah dari
kehinaan ini.
Inilah hal yang sangat
menyedihkan dan sangat
menyakitkan serta sangat
menghinakan, tatkala orang yang
beramal dengan riyaa' menyangka
bahwasanya ia telah
mengumpulkan amal dengan
sebanyak-banyaknya, dan ia telah
berbangga dengan hal itu, bahkan
masyarakat menyangka dirinya
sebgai orang sholeh dan
memujinya, namun ternyata pada
hakekatnya amalannya tidak
bernilai sama sekali di sisi Allah. Oleh
karenanya disebutkan dalam hadits
tentang tiga orang riyaa' yang
pertama kali didzab di neraka (yaitu
orang yang mati syahid, orang yang
berilmu, dan orang yang
dermawan), maka Allah
mengatakan kepada mereka
bertiga, "Apa yang kalian lakukan
dengan kenikmatan yang telah Aku
berikan kepada kalian?", maka
mereka bertiga menjawab, "Kami
beramal ikhlas karena Engkau yaa
Allah". Maka Allah membantah
mereka dengan berkata, "Kalian
dusta, akan tetapi kalian beramal
supaya dikatakan (oleh
masyarakat) sebagai pemberani…,
supaya dikatakan sebagai orang
alim …, supaya dikatakan sebaga
dermawan, dan sungguh telah
dikatakan demikian …" (lihat HR
Muslim no 1905)
Sungguh masyarakat benar-benar
menyangka mereka bertiga adalah
orang-orang sholeh yang banyak
beramal, dan masyarakat
menyebut-nyebut mereka, akan
tetapi semua itu hanyalah semu,
karena pada hakekatnya amalan
mereka tidak bernilai sama sekali.
Bahkan…bukan hanya tidak bernilai
akan tetapi malah menyebabkan
mereka menjadi orang-orang yang
pertama diadzab di neraka
jahanam.
Yang menjadi permasalahan besar
adalah penyakit ini sangat sulit
untuk dideteksi, sungguh betapa
banyak orang yang merasa diri
mereka ikhlas namun pada
kenyataannya ia telah terjangkiti
penyakit berbahaya ini. Oleh
karenanya Nabi shallallahu 'alaihi
wa sallam sangat mengkhawatirkan
penyakit ini. Beliau bersabda :
ﺇِﻥَّ ﺃَﺧْﻮَﻑَ ﻣﺎ ﺃَﺧَﺎﻑُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢُ ﺍﻟﺸِّﺮْﻙُ ﺍﻷَﺻْﻐَﺮُ
ﻗﺎﻟﻮﺍ ﻭﻣﺎ ﺍﻟﺸِّﺮْﻙُ ﺍﻷَﺻْﻐَﺮُ ﻳﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻗﺎﻝ
ﺍﻟﺮِّﻳَﺎﺀُ ﻳﻘﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﻟﻬﻢ ﻳﻮﻡ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ
ﺇﺫﺍ ﺟُﺰِﻯَ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺑِﺄَﻋْﻤَﺎﻟِﻬِﻢْ ﺍﺫْﻫَﺒُﻮﺍ ﺇﻟﻰ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ
ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗﺮﺍﺅﻭﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻓَﺎﻧْﻈُﺮُﻭﺍ ﻫﻞ
ﺗَﺠِﺪُﻭﻥَ ﻋِﻨْﺪَﻫُﻢْ ﺟَﺰَﺍﺀً
"Sesungguhnya perkara yang paling
aku khawatirkan menimpa kalian
ada syirik kecil", mereka (para
sahabat) berkata, "Wahai Rasulullah,
apa itu syirik kecil?", beliau berkata,
"Riyaa', pada hari kiamat tatkala
manusia dibalas amal perbuatan
mereka maka Allah berkata kepada
orang-orang yang riyaa', "Pergilah
kaliah kepada orang-orang yang
dahulu kalian riyaa' kepada mereka
(mencari pujian mereka -pen)
semasa di dunia, maka lihatlah
apakah kalian akan mendapatkan
ganjaran kalian dari mereka?" (HR
Ahmad dalam musnadnya 5/428 no
23680 dan dishahihkan oleh Syaikh
Albani dalam As-Shahihah no 951)
Rasulullah juga bersabda :
ﺃَﻻَ ﺃُﺧْﺒِﺮُﻛُﻢْ ﺑِﻤَﺎ ﻫﻮ ﺃَﺧْﻮَﻑُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻋِﻨْﺪِﻱ
ﻣﻦ ﺍﻟْﻤَﺴِﻴﺢِ ﺍﻟﺪَّﺟَّﺎﻝِ ﻗﺎﻝ ﻗُﻠْﻨَﺎ ﺑَﻠَﻰ ﻓﻘﺎﻝ
ﺍﻟﺸِّﺮْﻙُ ﺍﻟْﺨَﻔِﻲُّ ﺃَﻥْ ﻳَﻘُﻮﻡَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻳُﺼَﻠِّﻲ
ﻓَﻴُﺰَﻳِّﻦُ ﺻَﻠَﺎﺗَﻪُ ﻟِﻤَﺎ ﻳَﺮَﻯ ﻣﻦ ﻧَﻈَﺮِ ﺭَﺟُﻞٍ
"Maukah aku kabarkan kepada
kalian tentang perkara yang lebih
aku takutkan menimpa kalian
daripada Dajjal?", kami (para
sahabat) berkata, "Tentu wahai
Rasulullah", beliau berkata, "Syirik
yang samar, yaitu seseorang berdiri
melakukan sholat lalu ia perindah
sholatnya karena dia tahu ada
orang lain yang sedang melihatnya
sholat" (HR Ahmad 3/30 no 11270
dan Ibnu Majah no 4204 dan
dihasankan oleh Syaikh Albani)
Finahnya riyaa' lebih ditakuti Nabi
menimpa sahabat lebih daripada
fitnahnya Dajjal karena dua
perkara:
- Karena sulitnya seseorang
untuk menyelamatkan hatinya dari
riyaa. Syaikh Utsaimin berkata,
"Fitnah yang laing besar di dunia ini
adalah fitnahnya Dajjaal, akan
tetapi ketakutan Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam terhadap fitnahnya
syirik yang samar ini (riyaa'-pen)
lebih besar daripada ketakutan
beliau terhadap fitnahnya Dajaal.
Hal ini dikarenakan sangat sulitnya
menghindarkan diri dari
riyaa'" (Majmuu' Fataawaa wa
Rosaail syaikh Al-'Utsaimiin 10/712)
- Karena ftinah Dajjal hanya
muncul di akhir zaman menjelang
hari kiamat, adapun fitnah riyaa'
senantiasa dan selalu mengancam.
(lihat Mirqootul Mafaatiih 15/262)
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
menamakan riyaa' dengan syirik
yang samar, yang tidak nampak
oleh orang lain, dan juga menimpa
seseorang terkadang tanpa ia
sadari.
Sahl bin Abdillah At-Tusturi pernah
berkata,
ﻻَ ﻳَﻌْﺮِﻑُ ﺍﻟﺮِّﻳَﺎﺀَ ﺇِﻻَّ ﻣُﺨْﻠِﺺٌ، ﻭَﻻَ ﺍﻟﻨِّﻔَﺎﻕَ ﺇِﻻَّ
ﻣُﺆْﻣِﻦٌ، ﻭَﻻَ ﺍﻟْﺠَﻬْﻞَ ﺇِﻻَّ ﻋَﺎﻟِﻢٌ، ﻭَﻻَ ﺍﻟْﻤَﻌْﺼِﻴَﺔَ
ﺇِﻻَّ ﻣُﻄِﻴْﻊٌ
"Tidaklah mengetahui riyaa' kecuali
orang yang ikhlash, tidak
mengetahui kemunafikan kecuali
orang mukmin, tidak mengetahui
kejahilan kecuali orang yang 'alim,
dan tidak mengetahui kemaksiatan
kecuali orang yang ta'at" (Syu'ab Al-
Iiman karya Al-Baihaqi 1/188 no
6480)
Sungguh benar… memang hanya
orang yang berusaha meraih
keikhlasan yang senantiasa
memperhatikan gerak-gerik
hatinya, senantiasa mengecek
kondisi hatinya, apakah hatinya
berpenyakit riyaa? Apakah
berpenyakit ujub?.
Kecintaan Manusia terhadap Pujian
Merupakan perkara yang semakin
menjadikan seseorang mudah
terjangkiti penyakit riyaa' yaitu
karena sifat dasar manusia adalah
ingin dipuji dan ingin dihargai.
Sungguh kenikmatan yang
dirasakan seseorang tatkala dipuji
dan dihormati sangatlah besar …
sangatlah lezaat…, jauh lebih besar
dari kenikmatan-kenikmatan yang
lain.. bahkan jauh lebih nikmat dari
nikmatnya seseorang yang memiliki
harta berlimpah.
Oleh karenanya tidaklah
mengherankan jika didapati
seseorang yang mengorbankan
hartanya yang begitu banyak untuk
disedekahkan –bahkan mungkin
hingga ratusan juta, atau bahkan
sampai miliayaran- hanya demi
untuk dihormati dan dipuji dan
dikatakan sebagai dermawan.
Demikian juga tidaklah
mengherankan jika didapati
seseorang yang menghabiskan
waktunya siang dan malam tidak
kenal lelah selama bertahun-tahun
untuk mempelajari ilmu dan
mendakwahkannya, atau untuk
mempelajari Al-Quran,
menghafalkannya dan
mengajarkannya, hanya demi
untuk dikenal oleh masyarakat
bahwasanya ia adalah seorang
yang 'alim atau seorang qoori' yang
ahli baca Al-Qur'an.
Bahkan yang lebih dari ini semua
adalah tidak mengherankan jika
didapati seseorang yang telah
mengorbankan sesuatu yang paling
berharga yang ia miliki di dunia ini,
yaitu ruhnya dan nyawanya hanya
agar dipuji oleh masyarakat dan
dikenal sebagai pahlawan
pemberani. Bukankah tidak semua
orang yang meninggal di medan
pertempuran adalah seorang yang
mati syahiid?
Ada seseorang bertanya kepada
Nabi :
ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻳُﻘَﺎﺗِﻞُ ﺣَﻤِﻴَّﺔً ﻭَﻳُﻘَﺎﺗِﻞُ ﺷَﺠَﺎﻋَﺔً
ﻭَﻳُﻘَﺎﺗِﻞُ ﺭِﻳَﺎﺀً ﻓَﺄَﻱُّ ﺫﻟﻚ ﻓﻲ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ؟
"Seseorang berperang karena
membela sukunya, ada yang
berperang karena menampakan
keberaniannya, dan ada yang
berperang karena riyaa', maka
manakah diantara mereka yang fi
sabiilillah?"
(Dalam riwayat yang lain ﻓﺈﻥ ﺃَﺣَﺪَﻧَﺎ
ﻳُﻘَﺎﺗِﻞُ ﻏَﻀَﺒًﺎ "Sesungguhnya salah
seorang di antara kami ada yang
berperang karena marah? (HR Al-
Bukhari no 123), dalam riwayat
yang lain ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻳُﻘَﺎﺗِﻞُ ﻟِﻠْﻤَﻐْﻨَﻢِ ﻭَﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ
ﻳُﻘَﺎﺗِﻞُ ﻟِﻴُﺬْﻛَﺮَ ﻭَﻳُﻘَﺎﺗِﻞُ ﻟِﻴُﺮَﻯ ﻣَﻜَﺎﻧُﻪُ ﻣﻦ ﻓﻲ
ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ "Seseorang berperang
untuk mencari gonimah (harta
rampasan perang), seseorang
berperang agar dikenang, dan
seseorang berperang agar nampak
kedudukannya (dalam hal
keberanian dan kepahlawanannya -
pen), maka manakah di antara
mereka yang fi sabiilillah?" (HR Al-
Bukhari 2958)
Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam berkata :
ﻣﻦ ﻗَﺎﺗَﻞَ ﻟِﺘَﻜُﻮﻥَ ﻛَﻠِﻤَﺔُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻫِﻲَ ﺍﻟْﻌُﻠْﻴَﺎ ﻓَﻬُﻮَ
ﻓﻲ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ
"Barangsiapa yang berperang agar
perkataannya Allahlah yang
tertinggi maka itulah yang fi
sabiilillah" (HR Al-Bukhari no 7020)
Memang ketenaran dan popularitas
suatu kenikmatan yang sangat
ledzat, yang senantiasa dikejar-
kejar oleh banyak orang dengan
melalui banyak pengorbanan …
bahkan mengorbankan jiwa raga…
Mereka menyangka bahwasanya
dengan terseohornya mereka dan
dikenalnya mereka sebagai seorang
yang alim -atau seorang yang rajin
ibadah, atau seorang pemberani,
atau seorang dermawan-
merupakan puncak kemuliaan dan
kebahagiaan. Apakah mereka tidak
tahu bahwasanya mencari
ketenaran merupukan puncak dari
kehinaan dan keterpurukan..???
Ikhlas atau Riyaa? (Uji diri sendiri!!!)
Keikhlasan merupakan amalan hati
tidak ada yang mengetahuinya
kecuali Allah, bahkan terkadang
seseorang merasa dirinya telah
ikhlas namun ternyata ia tidak
ikhlas, bahkan ternyata ia telah
terjangkiti penyakit riyaa' tanpa ia
sadari. Oleh karenanya seorang
muslim hendaknya senantiasa
mengecek kondisi relung-relung
hatinya pada lubuk hatinya yang
paling dalam.
Berikut ini beberapa pertanyaan
yang membantu kita –baik para
pembaca sekalian maupun si penulis
sendiri- untuk mengetahui jauh
dekatnya diri kita dari keikhlasan,
demikian untuk mengetahui juga
parah tidaknya penyakit riyaa'
yang telah menjangkiti kita. Dan
diharapkan pertanyaan-pertanyaan
berikut dijawab dengan jujur dan
teliti.
Pertama : Apakah engkau
senantiasa berhenti sejenak
sebelum beramal apapun (baik
sebelum sholat, sebelum
berdakwah, sebelum menulis
sebuah tulisan ilmiyah, sebelum
menulis status maupun catatan,
atau memberi komentar di
facebook, dll) untuk mengecek
apakah niatku sudah benar ikhlas
karena Allah atau tidak?? (Selalu –
sering – terkadang –jarang – hampir
tidak pernah
)
Untuk menjawab pertanyaan ini ada
sebaiknya kita merenungkan atsar
berikut ini :
Ada orang yang berkata kepada
Naafi' bin Jubair rahimahullah, ﺃَﻻَ
ﺗَﺸْﻬَﺪُ ﺟَﻨَﺎﺯَﺓً؟ , "Apakah engkau tidak
menghadiri janazah?" maka
beliaupun berkata, ﻛَﻤَﺎ ﺃَﻧْﺖَ ﺣَﺘَّﻰ ﺃﻧْﻮِﻱَ
"Tetaplah di tempatmu hingga aku
berniat". Beliaupun berfikir sejenak
lantas beliau berkata, "Mari kita
jalan" (Jaami'ul 'Uluum wal Hikam
29).
Kedua : Apakah engkau senantiasa
berusaha menjadikan kecintaan dan
kebencianku pada seseorang adalah
karena Allah bukan karena perkara
dunia apapun? (Selalu –sering –
terkadang –jarang –hampir tidak
pernah
)
Untuk menjawab pertanyaan ini ada
baiknya kita renungkan yang
berikut ini :
Kita semua mengetahui akan
keutamaan cinta dan benci karena
Allah. Betapa indahnya tatkala kita
mengucapkan kepada saudara kita
Uhibbuka fillah (Aku mencintaimu
karena Allah), lantas saudara kita
menjawab Ahabbakallahu aldzii
ahbatnii fiih (Semoga Allah –yang
engkau mencintaiku karenaNya-
juga mencintaimu). Kita semua
sudah mengetahui sabda Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam:
ﺃَﻭْﺛَﻖُ ﻋُﺮَﻯ ﺍﻹِﻳْﻤَﺎﻥِ ﺍﻟْﻤُﻮَﺍﻻَﺓُ ﻓِﻲ ﺍﻟﻠﻪِ
ﻭَﺍﻟْﻤُﻌَﺎﺩَﺍﺓُ ﻓِﻲ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺍﻟْﺤُﺐُّ ﻓِﻲ ﺍﻟﻠﻪِ
ﻭِﺍﻟْﺒُﻐْﺾُ ﻓِﻲ ﺍﻟﻠﻪِ
"Tali keimanan yang paling kuat
adalah berwalaa' karena Allah dan
memusuhi karena Allah, cinta
karena Allah dan benci karena
Allah" (Dishahihkan oleh Syaikh Al-
Albani dalam As-Shahihah no 998)
Bukankah kita tahu bahwasanya
yang hanya boleh dibenci secara
mutlak seratus persen hanyalah
orang kafir, sedangkan seorang
muslim yang bercampur pada
dirinya maksiat dan ketaatan maka
tidak boleh kita membencinya
secara total. Demikian juga seorang
muslim yang tercampur pada
dirinya sunnah dan bid'ah maka
tidak boleh kita membencinya
secara total. Akan tetapi kita
mencintainya sesuai dengan kadar
ketaatan dan sunnah yang
dilakukannya dan kita
membencinya sesuai dengan kadar
maksiat dan bid'ah yang
dilakukannya. (lihat penjelasan Ibnu
Taimiyyah dalam Majmuu' Al-
Fataawaa) Inilah penerapan yang
benar dari kaidah Al-Walaa wal
Baroo'.
Namun sering kita dapati :
- Ternyata terkadang kita
sangat membenci saudara kita yang
menyelisihi kita dalam beberapa
perkara, padahal perkara-perkara
tersebut merupakan perkara
khilafiah ijtihadiah
- Terkadang kita membenci
saudara kita secara total padahal
saudara kita tersebut hanya
terjerumus dalam sebuah bid'ah dan
kita telah mengetahui semangatnya
dalam melaksanakan sunnah dan
ketaatan kepada Allah.
- Terkadang kita ikut-ikutan
mentahdziir dan menghajr saudara
kita sesama ahlus sunnah bukan
karena Allah, akan tetapi lantaran
kita takut kalau kita tidak ikut
mentahdzir maka kitalah yang kena
tahdzir dan dihajr, padahal batin kita
menolak hal tersebut???!!!. Ini
berarti kita beramal karena selain
Allah, mentahdzir bukan karena
takut kepada Allah akan tetapi
karena takut kepada manusia.
Ketiga : Apakah engkau senantiasa
bergembira tatkala ada orang lain
(dari manapun juga dia, dan dari
pondok atau yayasan atau lulusan
manupun) yang ikut menyebarkan
dakwah Ahlus Sunnah wal Jama'ah?
(selalu – sering – terkadang – jarang
– hampir tidak pernah
).
Suatu penyakit yang sering
menimpa seorang da'i tatkala
datang seorang da'i yang lain yang
lebih berilmu atau lebih pandai
berceramah bahkan lebih disukai
oleh para pendengar atau pemirsa.
Terkadang seseorang berdakwah
selama bertahun-tahun dan berhasil
mengumpulkan banyak pengikut,
dan selama itu ia merasa bahwa
dirinya telah ikhlas dalam
berdakwah. Namun kebenaran
keikhlasannya teruji tatkala datang
seorang da'i yang lebih piawai
daripada dirinya. Di sinilah akan
nampak apakah ia ikhlas ataukah
tidak. Jika dia ikhlas tentunya ia
akan sangat bergembira karena ada
dai yang lain yang membantunya
dalam menyebarkan dakwah Ahlus
Sunnah wal Jama'ah, terlebih lagi
akan bertambah kegembiraannya
tatkala ia tahu bahwasanya dai
tersebut sangat pandai dalam
berdakwah.
Akan tetapi jika ternyata selama ini
dakwah yang ia bangun bukan di
atas keikhlasan maka yang timbul
adalah rasa hasad dan dengki yang
amat sangat terhadap dai tersebut.
Syaikh Utsaimin rahimahullah
berkata, "Orang yang berdakwah
kepada selain Allah terkadang
berdakwah kepada dirinya sendiri,
ia berdakwah kepada al-haq
(kebenaran) agar ia diagungkan di
hadapan masyarakat dan
dihormati" (Al-Qoul Al-Mufiid 1/126)
Beliau juga berkata, "Banyak orang
yang kalau berdakwah kepada
kebenaran mereka berdakwah
kepada diri mereka sendiri" (Al-Qoul
Al-Mufiid 1/136)
Cukuplah bagi kita kisah berharga
yang pernah di alami oleh Al-Imam
Al-Bukhari, dimana beliau ditahdzir
dan dihajr oleh gurunya sendiri
karena hasad (sebagaimana yang
dijelaskan oleh Ibnul Qoyyim dalam
As-Sowaa'iq Al-Mursalah dan juga
Ibnu Hajr dalam Hadyu As-Saari).
Padahal sebelum kedatangan Imam
Al-Bukhari maka gurunya tersebut
banyak memuji beliau dan
menganjurkan murid-muridnya
untuk menghadiri majelis Imam Al-
Bukhari. Namun tatkala majelis
Imam Al-Bukhari ternyata dihadiri
banyak orang maka timbullah
hasad dalam diri sang guru tersebut.
Keempat : Apakah engkau
senantiasa mengecek niatmu di
tengah amalmu? (selalu – sering –
terkadang – jarang – hampir tidak
pernah
)
Kita harus menyadari bahwasanya
meraih keikhlasan adalah perkara
yang sulit, akan tetapi lebih sulit lagi
adalah menjaga keikhlasan
tersebut. Ada dua bentuk menjaga
kelanggengan keikhlasan
- Menjaga keikhlasan agar
tetap langgeng pada amalan-
amalan berikutnya.
- Menjaga keikhlasan tatkala
sedang beramal. Yaitu sebagaimana
kita ikhlas tatkala memulai amalan
(di awal amalan) demikian juga kita
berusaha menjaga keikhlasan
tersebut tatkala melakukan amalan.
Sufyan At-Tsauri pernah berkata,
ﻣَﺎ ﻋَﺎﻟَﺠْﺖُ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺃَﺷَﺪَّ ﻋَﻠَﻲَّ ﻣِﻦْ ﻧِﻴَّﺘِﻲ ﻷَﻧَّﻬَﺎ
ﺗَﺘَﻘَﻠَّﺐُ ﻋَﻠَﻲَّ
"Tidak pernah aku meluruskan
sesuatu lebih berat dari meluruskan
niatku, karena niatku selalu
berbolak-balik padaku" (jaami'ul
'Uluum wal Hikam 29)
Sungguh benar perkataan Sufyan,
niat selalu berbolak-balik dan
berubah-ubah. Sulaiman bin Dawud
Al-Haasyimi berkata,
ﺭُﺑَّﻤَﺎ ﺃُﺣَﺪِّﺙُ ﺑِﺤَﺪِﻳْﺚٍ ﻭَﻟِﻲَ ﻓِﻴﻪِ ﻧِﻴَّﺔٌ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺃَﺗَﻴْﺖُ
ﻋَﻠَﻰ ﺑَﻌْﻀِﻪِ ﺗَﻐَﻴَّﺮَﺕْ ﻧِﻴَّﺘِﻲ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳْﺚُ
ﺍﻟْﻮَﺍﺣِﺪُ ﻳَﺤْﺘَﺎﺝُ ﺇِﻟَﻰ ﻧِﻴَّﺎﺕٍ
"Terkadang aku menyampaikan
sebuah hadits dan aku memiliki niat
yang benar dalam menyampaikan
hadits tersebut. Maka tatkala aku
menyampaikan sepenggal dari
hadits tersebut berubahlah niatku.
Ternyata untuk menyampaikan
satu hadits membutuhkan banyak
niat" (Jaami'ul 'Uluum wal Hikam 41)
Kelima : Apakah engkau selalu
berusaha menyembunyikan segala
amalan sholehmu? (selalu – sering –
terkadang – jarang – hampir tidak
pernah
)
Menyembunyikan amalan
merupakan perkara yang sulit
sekali, karena memang hati kita
berusaha dan gembira tatkala ada
orang yang mengetahui amalan
sholeh kita, sehingga orang tersebut
akan tahu kedudukan kita. Akan
tetapi barangsiapa yang berusaha
untuk menyembunyikan amalan
sholehnya serta membiasakan
dirinya dengan hal itu maka akan
dimudahkan oleh Allah. Para salaf
dahulu berusaha untuk
menyembunyikan amalan mereka
(silahkan lihat http://
www.firanda.com/index.php/
artikel/aqidah/1-ikhlas-dan-bahaya-
riya?start=2 )
Keenam : Apakah engkau selalu
tidak terpengaruh dengan pujian
dan celaan masyarakat, karena
yang engkau perhatikan hanyalah
penilaian Allah dan bukan penilaian
manusia? (Selalu – sering –
terkadang – jarang – hampir tidak
pernah
)
Inilah hakekat inti dari keikhlasan,
yaitu seseorang hanya menyibukan
hatinya untuk mengetahui
bagaimana penilaian Allah terhadap
amal sholeh yang ia kerjakan, dan
tidak peduli dengan penilaian
masyarakat. Sungguh ini
merupakan perkara yang sulit dan
butuh perjuangan yang sangat
berat untuk bisa mencapai hal ini.
Oleh karenanya di antara definisi
ikhlas adalah :
ﻧِﺴْﻴَﺎﻥُ ﺭُﺅْﻳَﺔِ ﺍﻟْﺨَﻠْﻖِ ﺑِﺪَﻭَﺍﻡِ ﺍﻟﻨَّﻈْﺮِ ﺇِﻟَﻰ
ﺍﻟْﺨَﺎﻟِﻖِ
"Melupakan pandangan makhluq
(manusia) dengan selalu
memandang kepada Maha
Pencipta" (Tazkiyatun Nafs 13)
Pertanyaan-pertanyaan di atas
hanyalah sebagai renungan bagi
kita semua, yang mungkin selama
ini di antara kita ada yang telah
merasa ikhlas dan terlepas dari
riyaa' maka hendaknya kita
bermuhasabah dengan pertanyaan-
pertanyaan di atas.
ini … mengakibatkan hancurnya
amalan dan menjadikannya seperti
debu yang berterbangan tidak
bernilai. Betapa banyak amalan
yang telah dikumpulkan oleh
seseorang selama bertahun-tahun –
dan bisa jadi puluhan tahun- dan
bisa jadi sudah bertumpuk amalan
tersebut setinggi gunung yang
menjulang ke langit … akan tetapi
ternyata semuanya hancur lebur
tidak bernilai sama sekali di sisi
Allah.
Allah berfirman :
ﻛَﺎﻟَّﺬِﻱ ﻳُﻨْﻔِﻖُ ﻣَﺎﻟَﻪُ ﺭِﺋَﺎﺀَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻭَﻻ ﻳُﺆْﻣِﻦُ
ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟْﻴَﻮْﻡِ ﺍﻵﺧِﺮِ ﻓَﻤَﺜَﻠُﻪُ ﻛَﻤَﺜَﻞِ ﺻَﻔْﻮَﺍﻥٍ
ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺗُﺮَﺍﺏٌ ﻓَﺄَﺻَﺎﺑَﻪُ ﻭَﺍﺑِﻞٌ ﻓَﺘَﺮَﻛَﻪُ ﺻَﻠْﺪًﺍ ﻻ
ﻳَﻘْﺪِﺭُﻭﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺷَﻲْﺀٍ ﻣِﻤَّﺎ ﻛَﺴَﺒُﻮﺍ
Seperti orang yang menafkahkan
hartanya karena riya kepada
manusia dan Dia tidak beriman
kepada Allah dan hari kemudian.
Maka perumpamaan orang itu
seperti batu licin yang di atasnya
ada tanah, kemudian batu itu
ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah
Dia bersih (tidak bertanah). mereka
tidak menguasai sesuatupun dari
apa yang mereka usahakan (QS Al-
Baqoroh : 264)
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah,
"Yaitu hujan yang deras tersebut
menjadikan batu yang licin tersebut
bersih, yaitu tanpa tersisa sedikitpun
tanah sama sekali, bahkan seluruh
tanah telah sirna. Maka demikianlah
amalan-amalannya orang-orang
yang riyaa' akan hancur dan sirna di
sisi Allah, meskipun yang nampak
pada orang-orang mereka memiliki
amal sebagaimana tanah (yang
nampak di atas batu licin tadi -pen).
Oleh karenanya Allah berfirman
((mereka tidak menguasai
sesuatupun dari apa yang mereka
usahakan))" (Tafsir Ibnu Katsiir
1/319)
Sungguh ini merupakan permisalan
yang sangat menghinakan orang-
orang yang beramal karena riyaa'.
Mereka menyangka bahwasanya
mereka telah mengumpulkan amal
yang banyak. Bahkan bukan hanya
mereka yang menyangka
demikian, tetapi orang-orang lain
yang melihat mereka juga
menyangka demikian, menyangka
bahwa mereka adalah orang-orang
sholeh yang memiliki banyak
amalan. Akan tetapi ternyata
amalan mereka dimusnahkan oleh
Allah dengan sekejap bahkan tidak
tersisa sama sekali seperti tanah
yang nampak bertumpuk di atas
batu yang licin lantas tersiram
dengan hujan yang sangat deras
sekali, sehingga hilanglah tanah
tersebut dan tidak tersisa sama
sekali. Na'uudzu billaahi min dzaalik,
kita berlindung kepada Allah dari
kehinaan ini.
Inilah hal yang sangat
menyedihkan dan sangat
menyakitkan serta sangat
menghinakan, tatkala orang yang
beramal dengan riyaa' menyangka
bahwasanya ia telah
mengumpulkan amal dengan
sebanyak-banyaknya, dan ia telah
berbangga dengan hal itu, bahkan
masyarakat menyangka dirinya
sebgai orang sholeh dan
memujinya, namun ternyata pada
hakekatnya amalannya tidak
bernilai sama sekali di sisi Allah. Oleh
karenanya disebutkan dalam hadits
tentang tiga orang riyaa' yang
pertama kali didzab di neraka (yaitu
orang yang mati syahid, orang yang
berilmu, dan orang yang
dermawan), maka Allah
mengatakan kepada mereka
bertiga, "Apa yang kalian lakukan
dengan kenikmatan yang telah Aku
berikan kepada kalian?", maka
mereka bertiga menjawab, "Kami
beramal ikhlas karena Engkau yaa
Allah". Maka Allah membantah
mereka dengan berkata, "Kalian
dusta, akan tetapi kalian beramal
supaya dikatakan (oleh
masyarakat) sebagai pemberani…,
supaya dikatakan sebagai orang
alim …, supaya dikatakan sebaga
dermawan, dan sungguh telah
dikatakan demikian …" (lihat HR
Muslim no 1905)
Sungguh masyarakat benar-benar
menyangka mereka bertiga adalah
orang-orang sholeh yang banyak
beramal, dan masyarakat
menyebut-nyebut mereka, akan
tetapi semua itu hanyalah semu,
karena pada hakekatnya amalan
mereka tidak bernilai sama sekali.
Bahkan…bukan hanya tidak bernilai
akan tetapi malah menyebabkan
mereka menjadi orang-orang yang
pertama diadzab di neraka
jahanam.
Yang menjadi permasalahan besar
adalah penyakit ini sangat sulit
untuk dideteksi, sungguh betapa
banyak orang yang merasa diri
mereka ikhlas namun pada
kenyataannya ia telah terjangkiti
penyakit berbahaya ini. Oleh
karenanya Nabi shallallahu 'alaihi
wa sallam sangat mengkhawatirkan
penyakit ini. Beliau bersabda :
ﺇِﻥَّ ﺃَﺧْﻮَﻑَ ﻣﺎ ﺃَﺧَﺎﻑُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢُ ﺍﻟﺸِّﺮْﻙُ ﺍﻷَﺻْﻐَﺮُ
ﻗﺎﻟﻮﺍ ﻭﻣﺎ ﺍﻟﺸِّﺮْﻙُ ﺍﻷَﺻْﻐَﺮُ ﻳﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻗﺎﻝ
ﺍﻟﺮِّﻳَﺎﺀُ ﻳﻘﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﻟﻬﻢ ﻳﻮﻡ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ
ﺇﺫﺍ ﺟُﺰِﻯَ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺑِﺄَﻋْﻤَﺎﻟِﻬِﻢْ ﺍﺫْﻫَﺒُﻮﺍ ﺇﻟﻰ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ
ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗﺮﺍﺅﻭﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻓَﺎﻧْﻈُﺮُﻭﺍ ﻫﻞ
ﺗَﺠِﺪُﻭﻥَ ﻋِﻨْﺪَﻫُﻢْ ﺟَﺰَﺍﺀً
"Sesungguhnya perkara yang paling
aku khawatirkan menimpa kalian
ada syirik kecil", mereka (para
sahabat) berkata, "Wahai Rasulullah,
apa itu syirik kecil?", beliau berkata,
"Riyaa', pada hari kiamat tatkala
manusia dibalas amal perbuatan
mereka maka Allah berkata kepada
orang-orang yang riyaa', "Pergilah
kaliah kepada orang-orang yang
dahulu kalian riyaa' kepada mereka
(mencari pujian mereka -pen)
semasa di dunia, maka lihatlah
apakah kalian akan mendapatkan
ganjaran kalian dari mereka?" (HR
Ahmad dalam musnadnya 5/428 no
23680 dan dishahihkan oleh Syaikh
Albani dalam As-Shahihah no 951)
Rasulullah juga bersabda :
ﺃَﻻَ ﺃُﺧْﺒِﺮُﻛُﻢْ ﺑِﻤَﺎ ﻫﻮ ﺃَﺧْﻮَﻑُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻋِﻨْﺪِﻱ
ﻣﻦ ﺍﻟْﻤَﺴِﻴﺢِ ﺍﻟﺪَّﺟَّﺎﻝِ ﻗﺎﻝ ﻗُﻠْﻨَﺎ ﺑَﻠَﻰ ﻓﻘﺎﻝ
ﺍﻟﺸِّﺮْﻙُ ﺍﻟْﺨَﻔِﻲُّ ﺃَﻥْ ﻳَﻘُﻮﻡَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻳُﺼَﻠِّﻲ
ﻓَﻴُﺰَﻳِّﻦُ ﺻَﻠَﺎﺗَﻪُ ﻟِﻤَﺎ ﻳَﺮَﻯ ﻣﻦ ﻧَﻈَﺮِ ﺭَﺟُﻞٍ
"Maukah aku kabarkan kepada
kalian tentang perkara yang lebih
aku takutkan menimpa kalian
daripada Dajjal?", kami (para
sahabat) berkata, "Tentu wahai
Rasulullah", beliau berkata, "Syirik
yang samar, yaitu seseorang berdiri
melakukan sholat lalu ia perindah
sholatnya karena dia tahu ada
orang lain yang sedang melihatnya
sholat" (HR Ahmad 3/30 no 11270
dan Ibnu Majah no 4204 dan
dihasankan oleh Syaikh Albani)
Finahnya riyaa' lebih ditakuti Nabi
menimpa sahabat lebih daripada
fitnahnya Dajjal karena dua
perkara:
- Karena sulitnya seseorang
untuk menyelamatkan hatinya dari
riyaa. Syaikh Utsaimin berkata,
"Fitnah yang laing besar di dunia ini
adalah fitnahnya Dajjaal, akan
tetapi ketakutan Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam terhadap fitnahnya
syirik yang samar ini (riyaa'-pen)
lebih besar daripada ketakutan
beliau terhadap fitnahnya Dajaal.
Hal ini dikarenakan sangat sulitnya
menghindarkan diri dari
riyaa'" (Majmuu' Fataawaa wa
Rosaail syaikh Al-'Utsaimiin 10/712)
- Karena ftinah Dajjal hanya
muncul di akhir zaman menjelang
hari kiamat, adapun fitnah riyaa'
senantiasa dan selalu mengancam.
(lihat Mirqootul Mafaatiih 15/262)
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
menamakan riyaa' dengan syirik
yang samar, yang tidak nampak
oleh orang lain, dan juga menimpa
seseorang terkadang tanpa ia
sadari.
Sahl bin Abdillah At-Tusturi pernah
berkata,
ﻻَ ﻳَﻌْﺮِﻑُ ﺍﻟﺮِّﻳَﺎﺀَ ﺇِﻻَّ ﻣُﺨْﻠِﺺٌ، ﻭَﻻَ ﺍﻟﻨِّﻔَﺎﻕَ ﺇِﻻَّ
ﻣُﺆْﻣِﻦٌ، ﻭَﻻَ ﺍﻟْﺠَﻬْﻞَ ﺇِﻻَّ ﻋَﺎﻟِﻢٌ، ﻭَﻻَ ﺍﻟْﻤَﻌْﺼِﻴَﺔَ
ﺇِﻻَّ ﻣُﻄِﻴْﻊٌ
"Tidaklah mengetahui riyaa' kecuali
orang yang ikhlash, tidak
mengetahui kemunafikan kecuali
orang mukmin, tidak mengetahui
kejahilan kecuali orang yang 'alim,
dan tidak mengetahui kemaksiatan
kecuali orang yang ta'at" (Syu'ab Al-
Iiman karya Al-Baihaqi 1/188 no
6480)
Sungguh benar… memang hanya
orang yang berusaha meraih
keikhlasan yang senantiasa
memperhatikan gerak-gerik
hatinya, senantiasa mengecek
kondisi hatinya, apakah hatinya
berpenyakit riyaa? Apakah
berpenyakit ujub?.
Kecintaan Manusia terhadap Pujian
Merupakan perkara yang semakin
menjadikan seseorang mudah
terjangkiti penyakit riyaa' yaitu
karena sifat dasar manusia adalah
ingin dipuji dan ingin dihargai.
Sungguh kenikmatan yang
dirasakan seseorang tatkala dipuji
dan dihormati sangatlah besar …
sangatlah lezaat…, jauh lebih besar
dari kenikmatan-kenikmatan yang
lain.. bahkan jauh lebih nikmat dari
nikmatnya seseorang yang memiliki
harta berlimpah.
Oleh karenanya tidaklah
mengherankan jika didapati
seseorang yang mengorbankan
hartanya yang begitu banyak untuk
disedekahkan –bahkan mungkin
hingga ratusan juta, atau bahkan
sampai miliayaran- hanya demi
untuk dihormati dan dipuji dan
dikatakan sebagai dermawan.
Demikian juga tidaklah
mengherankan jika didapati
seseorang yang menghabiskan
waktunya siang dan malam tidak
kenal lelah selama bertahun-tahun
untuk mempelajari ilmu dan
mendakwahkannya, atau untuk
mempelajari Al-Quran,
menghafalkannya dan
mengajarkannya, hanya demi
untuk dikenal oleh masyarakat
bahwasanya ia adalah seorang
yang 'alim atau seorang qoori' yang
ahli baca Al-Qur'an.
Bahkan yang lebih dari ini semua
adalah tidak mengherankan jika
didapati seseorang yang telah
mengorbankan sesuatu yang paling
berharga yang ia miliki di dunia ini,
yaitu ruhnya dan nyawanya hanya
agar dipuji oleh masyarakat dan
dikenal sebagai pahlawan
pemberani. Bukankah tidak semua
orang yang meninggal di medan
pertempuran adalah seorang yang
mati syahiid?
Ada seseorang bertanya kepada
Nabi :
ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻳُﻘَﺎﺗِﻞُ ﺣَﻤِﻴَّﺔً ﻭَﻳُﻘَﺎﺗِﻞُ ﺷَﺠَﺎﻋَﺔً
ﻭَﻳُﻘَﺎﺗِﻞُ ﺭِﻳَﺎﺀً ﻓَﺄَﻱُّ ﺫﻟﻚ ﻓﻲ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ؟
"Seseorang berperang karena
membela sukunya, ada yang
berperang karena menampakan
keberaniannya, dan ada yang
berperang karena riyaa', maka
manakah diantara mereka yang fi
sabiilillah?"
(Dalam riwayat yang lain ﻓﺈﻥ ﺃَﺣَﺪَﻧَﺎ
ﻳُﻘَﺎﺗِﻞُ ﻏَﻀَﺒًﺎ "Sesungguhnya salah
seorang di antara kami ada yang
berperang karena marah? (HR Al-
Bukhari no 123), dalam riwayat
yang lain ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻳُﻘَﺎﺗِﻞُ ﻟِﻠْﻤَﻐْﻨَﻢِ ﻭَﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ
ﻳُﻘَﺎﺗِﻞُ ﻟِﻴُﺬْﻛَﺮَ ﻭَﻳُﻘَﺎﺗِﻞُ ﻟِﻴُﺮَﻯ ﻣَﻜَﺎﻧُﻪُ ﻣﻦ ﻓﻲ
ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ "Seseorang berperang
untuk mencari gonimah (harta
rampasan perang), seseorang
berperang agar dikenang, dan
seseorang berperang agar nampak
kedudukannya (dalam hal
keberanian dan kepahlawanannya -
pen), maka manakah di antara
mereka yang fi sabiilillah?" (HR Al-
Bukhari 2958)
Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam berkata :
ﻣﻦ ﻗَﺎﺗَﻞَ ﻟِﺘَﻜُﻮﻥَ ﻛَﻠِﻤَﺔُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻫِﻲَ ﺍﻟْﻌُﻠْﻴَﺎ ﻓَﻬُﻮَ
ﻓﻲ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ
"Barangsiapa yang berperang agar
perkataannya Allahlah yang
tertinggi maka itulah yang fi
sabiilillah" (HR Al-Bukhari no 7020)
Memang ketenaran dan popularitas
suatu kenikmatan yang sangat
ledzat, yang senantiasa dikejar-
kejar oleh banyak orang dengan
melalui banyak pengorbanan …
bahkan mengorbankan jiwa raga…
Mereka menyangka bahwasanya
dengan terseohornya mereka dan
dikenalnya mereka sebagai seorang
yang alim -atau seorang yang rajin
ibadah, atau seorang pemberani,
atau seorang dermawan-
merupakan puncak kemuliaan dan
kebahagiaan. Apakah mereka tidak
tahu bahwasanya mencari
ketenaran merupukan puncak dari
kehinaan dan keterpurukan..???
Ikhlas atau Riyaa? (Uji diri sendiri!!!)
Keikhlasan merupakan amalan hati
tidak ada yang mengetahuinya
kecuali Allah, bahkan terkadang
seseorang merasa dirinya telah
ikhlas namun ternyata ia tidak
ikhlas, bahkan ternyata ia telah
terjangkiti penyakit riyaa' tanpa ia
sadari. Oleh karenanya seorang
muslim hendaknya senantiasa
mengecek kondisi relung-relung
hatinya pada lubuk hatinya yang
paling dalam.
Berikut ini beberapa pertanyaan
yang membantu kita –baik para
pembaca sekalian maupun si penulis
sendiri- untuk mengetahui jauh
dekatnya diri kita dari keikhlasan,
demikian untuk mengetahui juga
parah tidaknya penyakit riyaa'
yang telah menjangkiti kita. Dan
diharapkan pertanyaan-pertanyaan
berikut dijawab dengan jujur dan
teliti.
Pertama : Apakah engkau
senantiasa berhenti sejenak
sebelum beramal apapun (baik
sebelum sholat, sebelum
berdakwah, sebelum menulis
sebuah tulisan ilmiyah, sebelum
menulis status maupun catatan,
atau memberi komentar di
facebook, dll) untuk mengecek
apakah niatku sudah benar ikhlas
karena Allah atau tidak?? (Selalu –
sering – terkadang –jarang – hampir
tidak pernah
)
Untuk menjawab pertanyaan ini ada
sebaiknya kita merenungkan atsar
berikut ini :
Ada orang yang berkata kepada
Naafi' bin Jubair rahimahullah, ﺃَﻻَ
ﺗَﺸْﻬَﺪُ ﺟَﻨَﺎﺯَﺓً؟ , "Apakah engkau tidak
menghadiri janazah?" maka
beliaupun berkata, ﻛَﻤَﺎ ﺃَﻧْﺖَ ﺣَﺘَّﻰ ﺃﻧْﻮِﻱَ
"Tetaplah di tempatmu hingga aku
berniat". Beliaupun berfikir sejenak
lantas beliau berkata, "Mari kita
jalan" (Jaami'ul 'Uluum wal Hikam
29).
Kedua : Apakah engkau senantiasa
berusaha menjadikan kecintaan dan
kebencianku pada seseorang adalah
karena Allah bukan karena perkara
dunia apapun? (Selalu –sering –
terkadang –jarang –hampir tidak
pernah
)
Untuk menjawab pertanyaan ini ada
baiknya kita renungkan yang
berikut ini :
Kita semua mengetahui akan
keutamaan cinta dan benci karena
Allah. Betapa indahnya tatkala kita
mengucapkan kepada saudara kita
Uhibbuka fillah (Aku mencintaimu
karena Allah), lantas saudara kita
menjawab Ahabbakallahu aldzii
ahbatnii fiih (Semoga Allah –yang
engkau mencintaiku karenaNya-
juga mencintaimu). Kita semua
sudah mengetahui sabda Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam:
ﺃَﻭْﺛَﻖُ ﻋُﺮَﻯ ﺍﻹِﻳْﻤَﺎﻥِ ﺍﻟْﻤُﻮَﺍﻻَﺓُ ﻓِﻲ ﺍﻟﻠﻪِ
ﻭَﺍﻟْﻤُﻌَﺎﺩَﺍﺓُ ﻓِﻲ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺍﻟْﺤُﺐُّ ﻓِﻲ ﺍﻟﻠﻪِ
ﻭِﺍﻟْﺒُﻐْﺾُ ﻓِﻲ ﺍﻟﻠﻪِ
"Tali keimanan yang paling kuat
adalah berwalaa' karena Allah dan
memusuhi karena Allah, cinta
karena Allah dan benci karena
Allah" (Dishahihkan oleh Syaikh Al-
Albani dalam As-Shahihah no 998)
Bukankah kita tahu bahwasanya
yang hanya boleh dibenci secara
mutlak seratus persen hanyalah
orang kafir, sedangkan seorang
muslim yang bercampur pada
dirinya maksiat dan ketaatan maka
tidak boleh kita membencinya
secara total. Demikian juga seorang
muslim yang tercampur pada
dirinya sunnah dan bid'ah maka
tidak boleh kita membencinya
secara total. Akan tetapi kita
mencintainya sesuai dengan kadar
ketaatan dan sunnah yang
dilakukannya dan kita
membencinya sesuai dengan kadar
maksiat dan bid'ah yang
dilakukannya. (lihat penjelasan Ibnu
Taimiyyah dalam Majmuu' Al-
Fataawaa) Inilah penerapan yang
benar dari kaidah Al-Walaa wal
Baroo'.
Namun sering kita dapati :
- Ternyata terkadang kita
sangat membenci saudara kita yang
menyelisihi kita dalam beberapa
perkara, padahal perkara-perkara
tersebut merupakan perkara
khilafiah ijtihadiah
- Terkadang kita membenci
saudara kita secara total padahal
saudara kita tersebut hanya
terjerumus dalam sebuah bid'ah dan
kita telah mengetahui semangatnya
dalam melaksanakan sunnah dan
ketaatan kepada Allah.
- Terkadang kita ikut-ikutan
mentahdziir dan menghajr saudara
kita sesama ahlus sunnah bukan
karena Allah, akan tetapi lantaran
kita takut kalau kita tidak ikut
mentahdzir maka kitalah yang kena
tahdzir dan dihajr, padahal batin kita
menolak hal tersebut???!!!. Ini
berarti kita beramal karena selain
Allah, mentahdzir bukan karena
takut kepada Allah akan tetapi
karena takut kepada manusia.
Ketiga : Apakah engkau senantiasa
bergembira tatkala ada orang lain
(dari manapun juga dia, dan dari
pondok atau yayasan atau lulusan
manupun) yang ikut menyebarkan
dakwah Ahlus Sunnah wal Jama'ah?
(selalu – sering – terkadang – jarang
– hampir tidak pernah
).
Suatu penyakit yang sering
menimpa seorang da'i tatkala
datang seorang da'i yang lain yang
lebih berilmu atau lebih pandai
berceramah bahkan lebih disukai
oleh para pendengar atau pemirsa.
Terkadang seseorang berdakwah
selama bertahun-tahun dan berhasil
mengumpulkan banyak pengikut,
dan selama itu ia merasa bahwa
dirinya telah ikhlas dalam
berdakwah. Namun kebenaran
keikhlasannya teruji tatkala datang
seorang da'i yang lebih piawai
daripada dirinya. Di sinilah akan
nampak apakah ia ikhlas ataukah
tidak. Jika dia ikhlas tentunya ia
akan sangat bergembira karena ada
dai yang lain yang membantunya
dalam menyebarkan dakwah Ahlus
Sunnah wal Jama'ah, terlebih lagi
akan bertambah kegembiraannya
tatkala ia tahu bahwasanya dai
tersebut sangat pandai dalam
berdakwah.
Akan tetapi jika ternyata selama ini
dakwah yang ia bangun bukan di
atas keikhlasan maka yang timbul
adalah rasa hasad dan dengki yang
amat sangat terhadap dai tersebut.
Syaikh Utsaimin rahimahullah
berkata, "Orang yang berdakwah
kepada selain Allah terkadang
berdakwah kepada dirinya sendiri,
ia berdakwah kepada al-haq
(kebenaran) agar ia diagungkan di
hadapan masyarakat dan
dihormati" (Al-Qoul Al-Mufiid 1/126)
Beliau juga berkata, "Banyak orang
yang kalau berdakwah kepada
kebenaran mereka berdakwah
kepada diri mereka sendiri" (Al-Qoul
Al-Mufiid 1/136)
Cukuplah bagi kita kisah berharga
yang pernah di alami oleh Al-Imam
Al-Bukhari, dimana beliau ditahdzir
dan dihajr oleh gurunya sendiri
karena hasad (sebagaimana yang
dijelaskan oleh Ibnul Qoyyim dalam
As-Sowaa'iq Al-Mursalah dan juga
Ibnu Hajr dalam Hadyu As-Saari).
Padahal sebelum kedatangan Imam
Al-Bukhari maka gurunya tersebut
banyak memuji beliau dan
menganjurkan murid-muridnya
untuk menghadiri majelis Imam Al-
Bukhari. Namun tatkala majelis
Imam Al-Bukhari ternyata dihadiri
banyak orang maka timbullah
hasad dalam diri sang guru tersebut.
Keempat : Apakah engkau
senantiasa mengecek niatmu di
tengah amalmu? (selalu – sering –
terkadang – jarang – hampir tidak
pernah
)
Kita harus menyadari bahwasanya
meraih keikhlasan adalah perkara
yang sulit, akan tetapi lebih sulit lagi
adalah menjaga keikhlasan
tersebut. Ada dua bentuk menjaga
kelanggengan keikhlasan
- Menjaga keikhlasan agar
tetap langgeng pada amalan-
amalan berikutnya.
- Menjaga keikhlasan tatkala
sedang beramal. Yaitu sebagaimana
kita ikhlas tatkala memulai amalan
(di awal amalan) demikian juga kita
berusaha menjaga keikhlasan
tersebut tatkala melakukan amalan.
Sufyan At-Tsauri pernah berkata,
ﻣَﺎ ﻋَﺎﻟَﺠْﺖُ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺃَﺷَﺪَّ ﻋَﻠَﻲَّ ﻣِﻦْ ﻧِﻴَّﺘِﻲ ﻷَﻧَّﻬَﺎ
ﺗَﺘَﻘَﻠَّﺐُ ﻋَﻠَﻲَّ
"Tidak pernah aku meluruskan
sesuatu lebih berat dari meluruskan
niatku, karena niatku selalu
berbolak-balik padaku" (jaami'ul
'Uluum wal Hikam 29)
Sungguh benar perkataan Sufyan,
niat selalu berbolak-balik dan
berubah-ubah. Sulaiman bin Dawud
Al-Haasyimi berkata,
ﺭُﺑَّﻤَﺎ ﺃُﺣَﺪِّﺙُ ﺑِﺤَﺪِﻳْﺚٍ ﻭَﻟِﻲَ ﻓِﻴﻪِ ﻧِﻴَّﺔٌ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺃَﺗَﻴْﺖُ
ﻋَﻠَﻰ ﺑَﻌْﻀِﻪِ ﺗَﻐَﻴَّﺮَﺕْ ﻧِﻴَّﺘِﻲ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳْﺚُ
ﺍﻟْﻮَﺍﺣِﺪُ ﻳَﺤْﺘَﺎﺝُ ﺇِﻟَﻰ ﻧِﻴَّﺎﺕٍ
"Terkadang aku menyampaikan
sebuah hadits dan aku memiliki niat
yang benar dalam menyampaikan
hadits tersebut. Maka tatkala aku
menyampaikan sepenggal dari
hadits tersebut berubahlah niatku.
Ternyata untuk menyampaikan
satu hadits membutuhkan banyak
niat" (Jaami'ul 'Uluum wal Hikam 41)
Kelima : Apakah engkau selalu
berusaha menyembunyikan segala
amalan sholehmu? (selalu – sering –
terkadang – jarang – hampir tidak
pernah
)
Menyembunyikan amalan
merupakan perkara yang sulit
sekali, karena memang hati kita
berusaha dan gembira tatkala ada
orang yang mengetahui amalan
sholeh kita, sehingga orang tersebut
akan tahu kedudukan kita. Akan
tetapi barangsiapa yang berusaha
untuk menyembunyikan amalan
sholehnya serta membiasakan
dirinya dengan hal itu maka akan
dimudahkan oleh Allah. Para salaf
dahulu berusaha untuk
menyembunyikan amalan mereka
(silahkan lihat http://
www.firanda.com/index.php/
artikel/aqidah/1-ikhlas-dan-bahaya-
riya?start=2 )
Keenam : Apakah engkau selalu
tidak terpengaruh dengan pujian
dan celaan masyarakat, karena
yang engkau perhatikan hanyalah
penilaian Allah dan bukan penilaian
manusia? (Selalu – sering –
terkadang – jarang – hampir tidak
pernah
)
Inilah hakekat inti dari keikhlasan,
yaitu seseorang hanya menyibukan
hatinya untuk mengetahui
bagaimana penilaian Allah terhadap
amal sholeh yang ia kerjakan, dan
tidak peduli dengan penilaian
masyarakat. Sungguh ini
merupakan perkara yang sulit dan
butuh perjuangan yang sangat
berat untuk bisa mencapai hal ini.
Oleh karenanya di antara definisi
ikhlas adalah :
ﻧِﺴْﻴَﺎﻥُ ﺭُﺅْﻳَﺔِ ﺍﻟْﺨَﻠْﻖِ ﺑِﺪَﻭَﺍﻡِ ﺍﻟﻨَّﻈْﺮِ ﺇِﻟَﻰ
ﺍﻟْﺨَﺎﻟِﻖِ
"Melupakan pandangan makhluq
(manusia) dengan selalu
memandang kepada Maha
Pencipta" (Tazkiyatun Nafs 13)
Pertanyaan-pertanyaan di atas
hanyalah sebagai renungan bagi
kita semua, yang mungkin selama
ini di antara kita ada yang telah
merasa ikhlas dan terlepas dari
riyaa' maka hendaknya kita
bermuhasabah dengan pertanyaan-
pertanyaan di atas.
hukum perayaan ultah part 2
Mencegah lebih baik daripada mengobati;
Sesuatu yg lebih baik daripada ucapan
“ happy b’day or wish U all the best"
Atau mengucapkan SELAMAT HARI ULANG
TAHUN
Diantara bentuk kebaikan/perhatian yg kita
ungkapkan kepada orang lain adalah
memberinya ucapan selamat di hari ulang
tahunnya.
Sebagai seorang muslim sebaiknya kita
tinggalkan, kebiasaan ini,
karena mengucapkan “selamat ulang tahun (dan
sejenisnya)” bukanlah tradisi islam.
Islam hadir dengan solusi mu’amalah (interaksi
sosial) yang jauh lebih baik...yakni…do’a.
Ya, mendoakan kebaikan bagi kawan atau
siapapun orang yang kita sayangi,
sebagai bentuk perhatian kita pada orang
tersebut.
Namun, JANGANLAH kita mendoakan orang lain
HANYA pada saat di hari ultahnya saja
atau jangan kita mengkhususkan hari tersebut.
Hendaknya kita mendoakan orang lain kapan saja.
Nah…kali ini akan saya coba angkat sebuah
tuntunan agung dalam mendoakan orang lain…
Al-Imam Muslim rohimahulloh meletakkan
beberapa hadits dalam kitab Shohih-nya,
yang kemudian diberi judul oleh Al-Imam An-
Nawawi Asy-Syafi ’i rohimahulloh :
“Keutamaan doa untuk kaum muslimin dengan
tanpa sepengetahuan dan kehadiran mereka.”
Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda
dalam hadits dari shahabiyah
Ummud Darda`rodhiyallohu‘anha :
ﺩَﻋْﻮَﺓُ ﺍﻟْﻤَﺮْﺀِ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢِ
ﻟِﺄَﺧِﻴﻪِ ﺑِﻈَﻬْﺮِ ﺍﻟْﻐَﻴْﺐِ
ﻣُﺴْﺘَﺠَﺎﺑَﺔٌ
ﻋِﻨْﺪَ ﺭَﺃْﺳِﻪِ ﻣَﻠَﻚٌ ﻣُﻮَﻛَّﻞٌ
ﻛُﻠَّﻤَﺎ ﺩَﻋَﺎ ﻟِﺄَﺧِﻴﻪِ ﺑِﺨَﻴْﺮٍ ﻗَﺎﻝَ
ﺍﻟْﻤَﻠَﻚُ ﺍﻟْﻤُﻮَﻛَّﻞُ ﺑِﻪِ ﺁﻣِﻴﻦَ
ﻭَﻟَﻚَ ﺑِﻤِﺜْﻞٍ
“Doa seorang muslim kepada saudaranya secara
rahasia dan tidak hadir di hadapannya adalah
sangat dikabulkan. Di sisinya ada seorang
malaikat yang ditunjuk oleh Alloh. Setiap kali ia
berdoa untuk saudaranya dengan kebaikan,
malaikat tersebut berkata (kepadanya): “Ya Alloh,
kabulkanlah, dan (semoga) bagimu juga
(mendapatkan balasan) yang semisalnya.” (HR.
Muslim)
Al-Imam An-Nawawi rohimahulloh menjelaskan
hadits diatas dalam kitabnya, Al-Minhaj, dengan
mengatakan : “Makna ﺑﻈﻬﺮ ﺍﻟﻐﻴﺐ adalah tanpa
kehadiran orang yang didoakan di hadapannya
dan tanpa sepengetahuannya. Amalan yang
seperti ini benar-benar menunjukkan di dalam
keikhlasannya.
Dan dahulu sebagian para salaf jika menginginkan
suatu doa bagi dirinya sendiri, maka iapun akan
berdoa dengan doa tersebut bagi saudaranya
sesama muslim dikarenakan amalan tersebut
sangat dikabulkan dan ia akan mendapatkan
balasan yang semisalnya. ”
Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin
rohimahulloh menjelaskan : “Bahwasanya jika
seseorang mendoakan saudaranya (sesama
muslim) dengan tanpa sepengetahuan dan
kehadiran saudaranya di hadapannya. Seorang
malaikat berkata, ‘Amin (Ya Alloh, kabulkanlah),
dan bagimu juga (mendapatkan balasan) yang
semisalnya. ’ Maka malaikat akan mengaminkan
atas doamu jika engkau mendoakan bagi
saudaramu tanpa sepengetahuan dan
kehadirannya. ”
======================================================
Subhanalloh…
Demikianlah salah satu dari sekian banyak
keindahan islam, keagungan sunnah …
ketika kita mendoakan orang lain TANPA
SEPENGETAHUAN orang tersebut …
maka malaikat akan meng-amin-kan doa kita...
ditambah mendoakan kebaikan yang serupa pula
untuk diri kita.
Ya Ayyuhal ikhwah
Telah berlalu beberapa “birthday reminder” kalian
di facebook saya…
Dan dibulan September ini akan muncul pula
“ birthday reminder” saya di facebook kalian…
Namun kali ini indahnya persahabatan kita…
tidaklah diukur dari siapa yang lebih dulu
mengetik ucapan-ucapan selamat di wall saat
ulang tahun …
akan tetapi yang jauh lebih penting dari hal itu
adalah …
siapa yang paling tulus mendoakan…
semoga Alloh memberi kita hati yang tulus dan
ikhlas untuk berdoa...
Mungkin saya tidak selalu ada saat kalian
bahagia …
Dan saya pun sering tidak ada saat kalian
berduka …
Namun ketidakhadiran itu tidaklah berarti
ketidakpedulian …
Yakinlah kawan…insya Alloh, doa saya bersama
kalian…
Kemudian…
Saya tidaklah sebaik ‘Umar ibn Khoththob…
bahkan sangat jauh…
Namun, saya harap bisa mempunyai kawan
yang mewariskan keutamaan Uwais Al-Qorni…
Ya…Uwais Al-Qorni…seorang yg tidak terkenal di
dunia…
Tetapi...namanya, suaranya, doanya sangat
dikenal oleh penduduk langit sana …
Ya Ayyuhal ikhwah
Doakan saya …
Semoga malaikat-Nya mendoakan kalian juga…
Dan semoga Alloh ‘Azza wa Jalla…mengabulkan
doa kita semua…
Sesuatu yg lebih baik daripada ucapan
“ happy b’day or wish U all the best"
Atau mengucapkan SELAMAT HARI ULANG
TAHUN
Diantara bentuk kebaikan/perhatian yg kita
ungkapkan kepada orang lain adalah
memberinya ucapan selamat di hari ulang
tahunnya.
Sebagai seorang muslim sebaiknya kita
tinggalkan, kebiasaan ini,
karena mengucapkan “selamat ulang tahun (dan
sejenisnya)” bukanlah tradisi islam.
Islam hadir dengan solusi mu’amalah (interaksi
sosial) yang jauh lebih baik...yakni…do’a.
Ya, mendoakan kebaikan bagi kawan atau
siapapun orang yang kita sayangi,
sebagai bentuk perhatian kita pada orang
tersebut.
Namun, JANGANLAH kita mendoakan orang lain
HANYA pada saat di hari ultahnya saja
atau jangan kita mengkhususkan hari tersebut.
Hendaknya kita mendoakan orang lain kapan saja.
Nah…kali ini akan saya coba angkat sebuah
tuntunan agung dalam mendoakan orang lain…
Al-Imam Muslim rohimahulloh meletakkan
beberapa hadits dalam kitab Shohih-nya,
yang kemudian diberi judul oleh Al-Imam An-
Nawawi Asy-Syafi ’i rohimahulloh :
“Keutamaan doa untuk kaum muslimin dengan
tanpa sepengetahuan dan kehadiran mereka.”
Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda
dalam hadits dari shahabiyah
Ummud Darda`rodhiyallohu‘anha :
ﺩَﻋْﻮَﺓُ ﺍﻟْﻤَﺮْﺀِ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢِ
ﻟِﺄَﺧِﻴﻪِ ﺑِﻈَﻬْﺮِ ﺍﻟْﻐَﻴْﺐِ
ﻣُﺴْﺘَﺠَﺎﺑَﺔٌ
ﻋِﻨْﺪَ ﺭَﺃْﺳِﻪِ ﻣَﻠَﻚٌ ﻣُﻮَﻛَّﻞٌ
ﻛُﻠَّﻤَﺎ ﺩَﻋَﺎ ﻟِﺄَﺧِﻴﻪِ ﺑِﺨَﻴْﺮٍ ﻗَﺎﻝَ
ﺍﻟْﻤَﻠَﻚُ ﺍﻟْﻤُﻮَﻛَّﻞُ ﺑِﻪِ ﺁﻣِﻴﻦَ
ﻭَﻟَﻚَ ﺑِﻤِﺜْﻞٍ
“Doa seorang muslim kepada saudaranya secara
rahasia dan tidak hadir di hadapannya adalah
sangat dikabulkan. Di sisinya ada seorang
malaikat yang ditunjuk oleh Alloh. Setiap kali ia
berdoa untuk saudaranya dengan kebaikan,
malaikat tersebut berkata (kepadanya): “Ya Alloh,
kabulkanlah, dan (semoga) bagimu juga
(mendapatkan balasan) yang semisalnya.” (HR.
Muslim)
Al-Imam An-Nawawi rohimahulloh menjelaskan
hadits diatas dalam kitabnya, Al-Minhaj, dengan
mengatakan : “Makna ﺑﻈﻬﺮ ﺍﻟﻐﻴﺐ adalah tanpa
kehadiran orang yang didoakan di hadapannya
dan tanpa sepengetahuannya. Amalan yang
seperti ini benar-benar menunjukkan di dalam
keikhlasannya.
Dan dahulu sebagian para salaf jika menginginkan
suatu doa bagi dirinya sendiri, maka iapun akan
berdoa dengan doa tersebut bagi saudaranya
sesama muslim dikarenakan amalan tersebut
sangat dikabulkan dan ia akan mendapatkan
balasan yang semisalnya. ”
Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin
rohimahulloh menjelaskan : “Bahwasanya jika
seseorang mendoakan saudaranya (sesama
muslim) dengan tanpa sepengetahuan dan
kehadiran saudaranya di hadapannya. Seorang
malaikat berkata, ‘Amin (Ya Alloh, kabulkanlah),
dan bagimu juga (mendapatkan balasan) yang
semisalnya. ’ Maka malaikat akan mengaminkan
atas doamu jika engkau mendoakan bagi
saudaramu tanpa sepengetahuan dan
kehadirannya. ”
======================================================
Subhanalloh…
Demikianlah salah satu dari sekian banyak
keindahan islam, keagungan sunnah …
ketika kita mendoakan orang lain TANPA
SEPENGETAHUAN orang tersebut …
maka malaikat akan meng-amin-kan doa kita...
ditambah mendoakan kebaikan yang serupa pula
untuk diri kita.
Ya Ayyuhal ikhwah
Telah berlalu beberapa “birthday reminder” kalian
di facebook saya…
Dan dibulan September ini akan muncul pula
“ birthday reminder” saya di facebook kalian…
Namun kali ini indahnya persahabatan kita…
tidaklah diukur dari siapa yang lebih dulu
mengetik ucapan-ucapan selamat di wall saat
ulang tahun …
akan tetapi yang jauh lebih penting dari hal itu
adalah …
siapa yang paling tulus mendoakan…
semoga Alloh memberi kita hati yang tulus dan
ikhlas untuk berdoa...
Mungkin saya tidak selalu ada saat kalian
bahagia …
Dan saya pun sering tidak ada saat kalian
berduka …
Namun ketidakhadiran itu tidaklah berarti
ketidakpedulian …
Yakinlah kawan…insya Alloh, doa saya bersama
kalian…
Kemudian…
Saya tidaklah sebaik ‘Umar ibn Khoththob…
bahkan sangat jauh…
Namun, saya harap bisa mempunyai kawan
yang mewariskan keutamaan Uwais Al-Qorni…
Ya…Uwais Al-Qorni…seorang yg tidak terkenal di
dunia…
Tetapi...namanya, suaranya, doanya sangat
dikenal oleh penduduk langit sana …
Ya Ayyuhal ikhwah
Doakan saya …
Semoga malaikat-Nya mendoakan kalian juga…
Dan semoga Alloh ‘Azza wa Jalla…mengabulkan
doa kita semua…
Hukum perayaan hari ulang tahun..part 1
PERAYAAN HARI ULANG TAHUN
Oleh : Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat
dan salam semoga dilimpahkan kepada
Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya serta
mereka yang mengikuti jejak langkahnya. Amma
ba'd.
Pertanyaan.
Saya telah mengkaji makalah yang diterbitkan
oleh koran Al-Madinah yang terbit pada hari
Senin, tanggal 28/12/1410 H. Isinya menyebutkan
bahwa saudara Jamal Muhammad Al-Qadhi,
pernah menyaksikan program Abna ’ Al-Islam
yang disiarkan oleh televisi Saudi yang
menayangkan acara yang mencakup perayaan
hari kelahiran. Saudara Jamal menanyakan,
apakah perayaan hari kelahiran dibolehkan Islam?
dst.
Jawaban.
Tidak diragukan lagi bahwa Allah telah
mensyari'atkan dua hari raya bagi kaum
muslimin, yang pada kedua hari tersebut mereka
berkumpul untuk berdzikir dan shalat, yaitu hari
raya ledul Fitri dan ledul Adha sebagai pengganti
hari raya-hari raya jahiliyah. Di samping itu Allah
pun mensyari'atkan hari raya-hari raya lainnya
yang mengandung berbagai dzikir dan ibadah,
seperti hari Jum'at, hari Arafah dan hari-hari
tasyriq. Namun Allah tidak mensyari'atkan
perayaan hari kelahiran, tidak untuk kelahiran Nabi
dan tidak pula untuk yang lainnya. Bahkan dalil-
dalil syar'i dari Al-Kitab dan As-Sunnah
menunjukkan bahwa perayaan-perayaan hari
kelahiran merupakan bid'ah dalam agama dan
termasuk tasyabbuh (menyerupai) musuh-
musuh Allah dari kalangan Yahudi, Nashrani dan
lainnya. Maka yang wajib atas para pemeluk
Islam untuk meninggalkannya, mewaspadainya,
mengingkarinya terhadap yang melakukannya
dan tidak menyebarkan atau menyiarkan apa-apa
yang dapat mendorong pelaksanaannya atau
mengesankan pembolehannya baik di radio,
media cetak maupun televisi, berdasarkan sabda
Nabi Saw dalam sebuah hadits shahih.
"Barangsiapa membuat sesuatu yang baru dalam
urusan kami (dalam Islam) yang tidak terdapat
(tuntunan) padanya, maka ia tertolak." [1]
Dan sabda beliau,
"Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang
tidak kami perintahkan maka ia tertolak."[2]
Dikeluarkan oleh Muslim dalam kitab Shahihnya
dan dianggap mu'allaq oleh Al-Bukhari namun ia
menguatkannya.
Kemudian disebutkan dalam Shahih Muslim dari
Jabir Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam, bahwa dalam salah satu
khutbah Jum'at beliau mengatakan.
"Amma ba ’du. Sesungguhnya sebaik-baik
perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik tuntunan
adalah tuntunan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, seburuk-buruk perkara adalah hal-hal
baru yang diada-adakan dan setiap hal baru
adalah sesat."[3]
Dan masih banyak lagi hadits-hadits lainnya yang
semakna. Disebutkan pula dalam Musnad Ahmad
dengan isnad jayyid dari Ibnu Umar , bahwa Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
"Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum,
berarti ia dari golongan mereka."[4]
Dalam Ash-Shahihain disebutkan, dari Abu Sa'id
Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, bahwa beliau bersabda.
"Kalian pasti akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan
orang-orang sebelum kalian sejengkal demi
sejengkal dan sehasta demi sehasta, bahkan,
seandainya mereka masuk ke dalam sarang
biawak pun kalian mengikuti mereka." Kami
bertanya, "Ya Rasulullah, itu kaum Yahudi dan
Nashrani?" Beliau berkata, "Siapa lagi."[5]
Masih banyak lagi hadits-hadits lainnya yang
semakna dengan ini, semuanya menunjukkan
kewajiban untuk waspada agar tidak menyerupai
musuh-musuh Allah dalam perayaan-perayaan
mereka dan lainnya. Makhluk paling mulia dan
paling utama, Nabi kita Muhammad, tidak pernah
merayakan hari kelahirannya semasa hidupnya,
tidak pula para sahabat beliau pun, dan tidak juga
para tabi'in yang mengikuti jejak langkah mereka
dengan kebaikan pada tiga generasi pertama yang
diutamakan. Seandainya perayaan hari kelahiran
Nabi, atau lainnya, merupakan perbuatan baik,
tentulah para sahabat dan tabi'in sudah lebih dulu
melaksanakannya daripada kita, dan sudah
barang tentu Nabi Saw mengajarkan kepada
umatnya dan menganjurkan mereka
merayakannya atau beliau sendiri
melaksanakannya. Namun ternyata tidak
demikian, maka kita pun tahu, bahwa perayaan
hari kelahiran termasuk bid'ah, termasuk hal baru
yang diada-adakan dalam agama yang harus
ditinggalkan dan diwaspadai, sebagai pelaksanaan
perintah Allah Subhanahu wa Ta ’ala dan perintah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sebagian ahli ilmu menyebutkan, bahwa yang
pertama kali mengadakan perayaan hari kelahiran
ini adalah golongan Syi'ah Fathimiyah pada abad
keempat, kemudian diikuti oleh sebagian orang
yang berafiliasi kepada As-Sunnah karena tidak
tahu dan karena meniru mereka, atau meniru
kaum Yahudi dan Nashrani, kemudian bid'ah ini
menyebar ke masyarakat lainnya. Seharusnya
para ulama kaum muslimin menjelaskan hukum
Allah dalam bid'ah-bid'ah ini, mengingkarinya dan
memperingatkan bahayanya, karena
keberadaannya melahirkan kerusakan besar,
tersebarnya bid'ah-bid'ah dan tertutupnya
sunnah-sunnah. Di samping itu, terkandung
tasyabbuh (penyerupaan) dengan musuh-musuh
Allah dari golongan Yahudi, Nashrani dan
golongan-golongan kafir lainnya yang terbiasa
menyelenggarakan perayaan-perayaan semacam
itu. Para ahli dahulu dan kini telah menulis dan
menjelaskan hukum Allah mengenai bid'ah-bid'ah
ini. Semoga Allah membalas mereka dengan
kebaikan dan menjadikan kita semua termasuk
orang-orang yang mengikuti mereka dengan
kebaikan.
Pada kesempatan yang singkat ini, kami
bermaksud mengingatkan kepada para pembaca
tentang bid'ah ini agar mereka benar-benar
mengetahui. Dan mengenai masalah ini telah
diterbitkan tulisan yang panjang dan diedarkan
melalui media cetak-media cetak lokal dan lainnya.
Tidak diragukan lagi, bahwa wajib atas para
pejabat pemerintahan kita dan kementrian
penerangan secara khusus serta para penguasa di
negara-negara Islam, untuk mencegah
penyebaran bid'ah-bid'ah ini dan propagandanya
atau penyebaran sesuatu yang mengesankan
pembolehannya. Semua ini sebagai pelaksanaan
perintah loyal terhadap Allah dan para hambaNya,
dan sebagai pelaksanaan perintah yang
diwajibkan Allah, yaitu mengingkari kemungkaran
serta turut dalam memperbaiki kondisi kaum
muslimin dan membersihkannya dari hal-hal
yang menyelisihi syari'at yang suci. Hanya Allah
lah tempat meminta dengan nama-namaNya
yang baik dan sifat-sifat-Nya yang luhur, semoga
Allah memperbaiki kondisi kaum muslimin dan
menunjuki mereka agar berpegang teguh dengan
KitabNya dan Sunnah NabiNya Shallallahu ‘alaihi
wa sallam serta waspada dari segala sesuatu
yang menyelisihi keduanya. Dan semoga Allah
memperbaiki para pemimpin mereka dan
menunjuki mereka agar menerapkan syari'at
Allah pada hamba hambaNya serta memerangi
segala sesuatu yang menyelisihinya.
Sesungguhnya Allah Maha kuasa atas hal itu.
Shalawat dan salam semoga senantiasa
dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad,
keluarga dan para sahabatnya
__________
Foote Note
[1]. Muttafaq ‘Alaih: Al-Bukhari dalam Ash-Shulh
(2697). Muslim dalam Al-Aqdhiyah (1718).
[2]. Al-Bukhari menganggapnya mu'allaq dalam
Al-Buyu' dan Al-I'tisham. Imam Muslim
menyambungnya dalam Al-Aqdhiyah (18-1718).
[3]. HR. Muslim dalam Al-Jumu ’ah (867).
[4]. HR. Abu Dawud (4031), Ahmad (5093, 5094,
5634).
[5]. HR. AI-Bukhari dalam Al-I ’tisham bil Kitab was
Sunnah (7320). Muslim dalam Al-Ilm (2669).
Oleh : Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat
dan salam semoga dilimpahkan kepada
Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya serta
mereka yang mengikuti jejak langkahnya. Amma
ba'd.
Pertanyaan.
Saya telah mengkaji makalah yang diterbitkan
oleh koran Al-Madinah yang terbit pada hari
Senin, tanggal 28/12/1410 H. Isinya menyebutkan
bahwa saudara Jamal Muhammad Al-Qadhi,
pernah menyaksikan program Abna ’ Al-Islam
yang disiarkan oleh televisi Saudi yang
menayangkan acara yang mencakup perayaan
hari kelahiran. Saudara Jamal menanyakan,
apakah perayaan hari kelahiran dibolehkan Islam?
dst.
Jawaban.
Tidak diragukan lagi bahwa Allah telah
mensyari'atkan dua hari raya bagi kaum
muslimin, yang pada kedua hari tersebut mereka
berkumpul untuk berdzikir dan shalat, yaitu hari
raya ledul Fitri dan ledul Adha sebagai pengganti
hari raya-hari raya jahiliyah. Di samping itu Allah
pun mensyari'atkan hari raya-hari raya lainnya
yang mengandung berbagai dzikir dan ibadah,
seperti hari Jum'at, hari Arafah dan hari-hari
tasyriq. Namun Allah tidak mensyari'atkan
perayaan hari kelahiran, tidak untuk kelahiran Nabi
dan tidak pula untuk yang lainnya. Bahkan dalil-
dalil syar'i dari Al-Kitab dan As-Sunnah
menunjukkan bahwa perayaan-perayaan hari
kelahiran merupakan bid'ah dalam agama dan
termasuk tasyabbuh (menyerupai) musuh-
musuh Allah dari kalangan Yahudi, Nashrani dan
lainnya. Maka yang wajib atas para pemeluk
Islam untuk meninggalkannya, mewaspadainya,
mengingkarinya terhadap yang melakukannya
dan tidak menyebarkan atau menyiarkan apa-apa
yang dapat mendorong pelaksanaannya atau
mengesankan pembolehannya baik di radio,
media cetak maupun televisi, berdasarkan sabda
Nabi Saw dalam sebuah hadits shahih.
"Barangsiapa membuat sesuatu yang baru dalam
urusan kami (dalam Islam) yang tidak terdapat
(tuntunan) padanya, maka ia tertolak." [1]
Dan sabda beliau,
"Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang
tidak kami perintahkan maka ia tertolak."[2]
Dikeluarkan oleh Muslim dalam kitab Shahihnya
dan dianggap mu'allaq oleh Al-Bukhari namun ia
menguatkannya.
Kemudian disebutkan dalam Shahih Muslim dari
Jabir Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam, bahwa dalam salah satu
khutbah Jum'at beliau mengatakan.
"Amma ba ’du. Sesungguhnya sebaik-baik
perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik tuntunan
adalah tuntunan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, seburuk-buruk perkara adalah hal-hal
baru yang diada-adakan dan setiap hal baru
adalah sesat."[3]
Dan masih banyak lagi hadits-hadits lainnya yang
semakna. Disebutkan pula dalam Musnad Ahmad
dengan isnad jayyid dari Ibnu Umar , bahwa Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
"Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum,
berarti ia dari golongan mereka."[4]
Dalam Ash-Shahihain disebutkan, dari Abu Sa'id
Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, bahwa beliau bersabda.
"Kalian pasti akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan
orang-orang sebelum kalian sejengkal demi
sejengkal dan sehasta demi sehasta, bahkan,
seandainya mereka masuk ke dalam sarang
biawak pun kalian mengikuti mereka." Kami
bertanya, "Ya Rasulullah, itu kaum Yahudi dan
Nashrani?" Beliau berkata, "Siapa lagi."[5]
Masih banyak lagi hadits-hadits lainnya yang
semakna dengan ini, semuanya menunjukkan
kewajiban untuk waspada agar tidak menyerupai
musuh-musuh Allah dalam perayaan-perayaan
mereka dan lainnya. Makhluk paling mulia dan
paling utama, Nabi kita Muhammad, tidak pernah
merayakan hari kelahirannya semasa hidupnya,
tidak pula para sahabat beliau pun, dan tidak juga
para tabi'in yang mengikuti jejak langkah mereka
dengan kebaikan pada tiga generasi pertama yang
diutamakan. Seandainya perayaan hari kelahiran
Nabi, atau lainnya, merupakan perbuatan baik,
tentulah para sahabat dan tabi'in sudah lebih dulu
melaksanakannya daripada kita, dan sudah
barang tentu Nabi Saw mengajarkan kepada
umatnya dan menganjurkan mereka
merayakannya atau beliau sendiri
melaksanakannya. Namun ternyata tidak
demikian, maka kita pun tahu, bahwa perayaan
hari kelahiran termasuk bid'ah, termasuk hal baru
yang diada-adakan dalam agama yang harus
ditinggalkan dan diwaspadai, sebagai pelaksanaan
perintah Allah Subhanahu wa Ta ’ala dan perintah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sebagian ahli ilmu menyebutkan, bahwa yang
pertama kali mengadakan perayaan hari kelahiran
ini adalah golongan Syi'ah Fathimiyah pada abad
keempat, kemudian diikuti oleh sebagian orang
yang berafiliasi kepada As-Sunnah karena tidak
tahu dan karena meniru mereka, atau meniru
kaum Yahudi dan Nashrani, kemudian bid'ah ini
menyebar ke masyarakat lainnya. Seharusnya
para ulama kaum muslimin menjelaskan hukum
Allah dalam bid'ah-bid'ah ini, mengingkarinya dan
memperingatkan bahayanya, karena
keberadaannya melahirkan kerusakan besar,
tersebarnya bid'ah-bid'ah dan tertutupnya
sunnah-sunnah. Di samping itu, terkandung
tasyabbuh (penyerupaan) dengan musuh-musuh
Allah dari golongan Yahudi, Nashrani dan
golongan-golongan kafir lainnya yang terbiasa
menyelenggarakan perayaan-perayaan semacam
itu. Para ahli dahulu dan kini telah menulis dan
menjelaskan hukum Allah mengenai bid'ah-bid'ah
ini. Semoga Allah membalas mereka dengan
kebaikan dan menjadikan kita semua termasuk
orang-orang yang mengikuti mereka dengan
kebaikan.
Pada kesempatan yang singkat ini, kami
bermaksud mengingatkan kepada para pembaca
tentang bid'ah ini agar mereka benar-benar
mengetahui. Dan mengenai masalah ini telah
diterbitkan tulisan yang panjang dan diedarkan
melalui media cetak-media cetak lokal dan lainnya.
Tidak diragukan lagi, bahwa wajib atas para
pejabat pemerintahan kita dan kementrian
penerangan secara khusus serta para penguasa di
negara-negara Islam, untuk mencegah
penyebaran bid'ah-bid'ah ini dan propagandanya
atau penyebaran sesuatu yang mengesankan
pembolehannya. Semua ini sebagai pelaksanaan
perintah loyal terhadap Allah dan para hambaNya,
dan sebagai pelaksanaan perintah yang
diwajibkan Allah, yaitu mengingkari kemungkaran
serta turut dalam memperbaiki kondisi kaum
muslimin dan membersihkannya dari hal-hal
yang menyelisihi syari'at yang suci. Hanya Allah
lah tempat meminta dengan nama-namaNya
yang baik dan sifat-sifat-Nya yang luhur, semoga
Allah memperbaiki kondisi kaum muslimin dan
menunjuki mereka agar berpegang teguh dengan
KitabNya dan Sunnah NabiNya Shallallahu ‘alaihi
wa sallam serta waspada dari segala sesuatu
yang menyelisihi keduanya. Dan semoga Allah
memperbaiki para pemimpin mereka dan
menunjuki mereka agar menerapkan syari'at
Allah pada hamba hambaNya serta memerangi
segala sesuatu yang menyelisihinya.
Sesungguhnya Allah Maha kuasa atas hal itu.
Shalawat dan salam semoga senantiasa
dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad,
keluarga dan para sahabatnya
__________
Foote Note
[1]. Muttafaq ‘Alaih: Al-Bukhari dalam Ash-Shulh
(2697). Muslim dalam Al-Aqdhiyah (1718).
[2]. Al-Bukhari menganggapnya mu'allaq dalam
Al-Buyu' dan Al-I'tisham. Imam Muslim
menyambungnya dalam Al-Aqdhiyah (18-1718).
[3]. HR. Muslim dalam Al-Jumu ’ah (867).
[4]. HR. Abu Dawud (4031), Ahmad (5093, 5094,
5634).
[5]. HR. AI-Bukhari dalam Al-I ’tisham bil Kitab was
Sunnah (7320). Muslim dalam Al-Ilm (2669).
Ma’af Kawan..Saya Gak NgucapinSelamat ULTAH-mu. TernyataULANG TAHUN ada Dalam INJILMATIUS 14 : 6 dan INJIL MARKUS6 :21
Mungkin kurangnya pengetahuan mengenai “ke-
Aqidah-an“, masih banyak ummat Islam yang
mengikuti ritual paganisme ini. Bahkan tidak
menutup kemungkinan para ustadz dan
ustazdahpun ikut merayakannya dan terjebak di
dalamnya. Apalagi gencarnya media televisi dan
media massa lainnya mempublikasikan
seremonialnya yang terkadang dilakukan oleh
beberapa da ’i muda atau yang bergelar ustadz
[setengah artis, katanya sih !]. Ditambah lagi
kebiasaan ini sudah jamak dan menjadi hal yang
seakan-akan wajib apabila ada anggota keluarga,
rekan atau sahabat yang memperingati hari
lahirnya. Dan tak kurang kelirunya sejak di Taman
Kanak-kanak dan SD sudah diajarkan secara
praktek langsung bahkan ada termaktub dalam
buku-buku kurikulum mereka . Wallahu a ’lam.
Semoga Allah memberikan hidayah kepada
mereka.
Pada masa-masa awal Nasrani generasi pertama
(Ahlul Kitab / kaum khawariyyun / pengikut nabi
Isa) mereka tidak merayakan Upacara
UlangTahun, karena mereka menganggap bahwa
pesta ulang tahun itu adalah pesta yang mungkar
dan hanya pekerjaan orang kafir Paganisme.
Pada masa Herodeslah acara ulang tahun
dimeriahkan sebagaimana tertulis dalam Injil
Matius 14:6;
Tetapi pada HARI ULANG TAHUN Herodes,
menarilah anak Herodes yang perempuan,
Herodiaz, ditengah-tengah meraka akan
menyukakan hati Herodes. (Matius14 : 6)
Dalam Injil Markus 6:21
Akhirnya tiba juga kesempatan
yang baik bagi Herodias, ketika
Herodes pada HARI ULANG
TAHUNNYA mengadakan
perjamuan untuk pembesar-
pembesarnya, perwira-
perwiranya dan orang-orang
terkemuka di Galilea. (Markus
6:21)
————————————————————-
Look at the Bible, Matthew 14 : 6 and Mark 6:21;
celebrating of birthday is Paganism, and Jesus
(Isa, peace be upon him) doesn ’t to do it, but
Herod.
Matthew 14:6 :
“But when Herod’s birthday was kept, the
daughter of Herodias danced before them,
and pleased Herod ”.
Mark 6:21 :
And when a convenient day was come, that
Herod on his birthday made a supper to his
lords, and the high captains, and the chief
men of Galilee.
————————————————————-
Orang Nasrani yang pertama kali mengadakan
pesta ulang tahun adalah orang Nasrani
Romawi. Beberapa batang lilin dinyalakan sesuai
dengan usia orang yang berulang tahun. Sebuah
kue ulang tahun dibuatnya dan dalam pesta itu,
kue besar dipotong dan lilinpun ditiup. (Baca
buku : Parasit Aqidah. A.D. El. Marzdedeq,
Penerbit Syaamil, hal. 298)
Sudah menjadi kebiasaan kita mengucapkan
selamat ulang tahun kepada keluarga maupun
teman, sahabat pada hari ULTAHnya. Bahkan
tidak sedikit yang aktif dakwah (ustadz dan
ustadzah) pun turut larut dalam tradisi jahiliyah
ini.
Sedangkan kita sama-sama tahu bahwa tradisi ini
tidak pernah diajarkan oleh Nabi kita yang mulia
MUHAMMAD Shalallah Alaihi Wasallam, dan kita
ketahui Rasulullah adalah orang yang paling
mengerti cara bermasyarakat,
bersosialisasi, paling tahu bagaimana cara
menggembirakan para sahabat-sahabatnya.
Rasulullah paling mengerti bagaimana cara
mensyukuri hidup dan kenikmatannya.
Rasulullah paling mengerti bagaimana cara
menghibur orang yang sedang bersedih.
Rasulullah adalah orang yang paling
mengerti CARA BERSYUKUR dalam setiap hal
yang di dalamnya ada rasa kegembiraan.
Adapun tradisi ULANG TAHUN ini merupakan
tradisi orang-orang Yahudi, Nasrani dan kaum
paganism, maka Rasulullah memerintahkan untuk
menyelisihinya. Apakah Rasulullah pernah
melakukannya ? Apakah para sahabat Rasululah
pernah melakukannya ? Apakah para Tabi ’in dan
Tabiut tabi’in pernah melakukannya ? Padahal
Herodes sudah hidup pada jaman Nabi Isa.
Apakah Rasulullah mengikuti tradisi ini ? Apakah 3
generasi terbaik dalam Islam melakukan
ritual paganisme ini ?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sebaik-baik umat manusia adalah
generasiku (sahabat), kemudian orang-
orang yang mengikuti mereka (tabi ’in) dan
kemudian orang-orang yang mengikuti
mereka lagi (tabi ’ut tabi’in).” (Muttafaq
‘alaih)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Janganlah kalian mencela seorang pun di
antara para sahabatku. Karena
sesungguhnya apabila seandainya ada salah
satu di antara kalian yang bisa berinfak
emas sebesar Gunung Uhud maka itu tidak
akan bisa menyaingi infak salah seorang di
antara mereka; yang hanya sebesar
genggaman tangan atau bahkan
setengahnya saja. ” (Muttafaq ‘alaih)
Rasulullah pernah bersabda:
“Kamu akan mengkuti cara hidup orang-
orang sebelum kamu, sejengkal demi
sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga
jika mereka masuk kedalam lobang biawak
kamu pasti akan memasukinya juga ”. Para
sahabat bertanya,”Apakah yang engkau
maksud adalah kaum Yahudi dan Nasrani
wahai Rasulullah ?”Rasulullah
menjawab:”Siapa lagi jika bukan mereka?!”.
Rasulullah bersabda:
ﻣَﻦْ ﺗَﺸَﺒَّﻪَ ﺑِﻘَﻮْﻡٍ ﻓَﻬُﻮَ ﻣِﻨْﻬُﻢْ
“ Man tasabbaha biqaumin fahua
minhum” (Barang siapa yang menyerupai
suatu kaum, maka ia termasuk golongan
mereka. ”( HR. Ahmad dan Abu Daud dari Ibnu
Umar).
Allah berfirman;
ﻭَﻟَﻦْ ﺗَﺮْﺿَﻰ ﻋَﻨْﻚَ ﺍﻟْﻴَﻬُﻮﺩُ ﻭَﻻ
ﺍﻟﻨَّﺼَﺎﺭَﻯ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﺘَّﺒِﻊَ
ﻣِﻠَّﺘَﻬُﻢْ
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan
senang kepada kamu hingga kamu
mengikuti agama mereka. (QS. Al Baqarah :
120)
ﻭَﻻ ﺗَﻘْﻒُ ﻣَﺎ ﻟَﻴْﺲَ ﻟَﻚَ ﺑِﻪِ ﻋِﻠْﻢٌ
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺴَّﻤْﻊَ ﻭَﺍﻟْﺒَﺼَﺮَ
ﻭَﺍﻟْﻔُﺆَﺍﺩَ ﻛُﻞُّ ﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻛَﺎﻥَ
ﻋَﻨْﻪُ ﻣَﺴْﺌُﻮﻻ
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang
kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran ,
pengelihatan, dan hati, semuannya itu akan
diminta pertanggungjawabannya. (QS. Al-
Isra ’:36)
“… dan kamu mengatakan dengan mulutmu
apa yang tidak kamu ketahui sedikitpun
juga, dan kamu menganggapnya suatu yang
ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah
adalah besar. ” (QS. an-Nuur: 15)
Janganlah kita ikut-ikutan, karena tidak mengerti
tentang sesuatu perkara. Latah ikut-ikutan
memperingati Ulang Tahun, tanpa mengerti
darimana asal perayaan tersebut.
Ini penjelasan Nabi tentang sebagian umatnya
yang akan meninggalkan tuntunan beliau dan
lebih memilih tuntunan dan cara hidup diluar
Islam. Termasuk juga diantaranya adalah
peringatan perayaan ULTAH, meskipun ditutupi
dengan label SYUKURAN atau ucapan selamat
MILAD atau Met MILAD seakan-akan kelihatan
lebih Islami.
Ingatlah ! Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk
Rasul.
ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﻋَﻤَﻼً ﻟَﻴْﺲَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ
ﺃَﻣْﺮُﻧَﺎ ﻓَﻬُﻮَ ﺭَﺩٌّ
“Barangsiapa beramal dengan suatu amalan yang
“tidak ada perintah dari kami padanya” maka
amalan tersebut TERTOLAK (yaitu tidak diterima
oleh Allah). ” [HR. Muslim]
Rasulullah, para sahabat, tabi’in dan tabiut tabi’in
adalah orang yang PALING MENGERTI AGAMA
ISLAM. Mereka tidak mengucapkan dan tidak
memperingati Ulang Tahun, walaupun mungkin
sebagian manusia menganggapnya baik.
Pahamilah “Kaidah” yang agung ini;
ﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﺧﻴﺮﺍ ﻟﺴﺒﻘﻮﻥ ﺍﻟﻴﻪ
“Lau Kaana Khairan Lasabaquuna ilaihi”
SEANDAINYA PERBUATAN ITU BAIK, MAKA
RASULULLAH, PARA SAHABAT, TABI ’IN DAN
TABIUT TABI’IN PASTI MEREKA LEBIH DAHULU
MENGMALKANNYA DARIPADA KITA. Karena
mereka paling tahu tentang nilai sebuah kebaikan
daripada kita yang hidup di jaman sekarang ini.
Jika kita mau merenung apa yang harus
dirayakan atau disyukuri BERKURANGNYA usia
kita? Semakin dekatnya kita dengan KUBUR?
SUDAH SIAPKAH kita untuk itu? Akankah kita bisa
merayakannya tahun depan?
Allah berfirman :
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ
ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﻟْﺘَﻨْﻈُﺮْ ﻧَﻔْﺲٌ ﻣَﺎ
ﻗَﺪَّﻣَﺖْ ﻟِﻐَﺪٍ ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺧَﺒِﻴﺮٌ ﺑِﻤَﺎ ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah
kepada Allah dan hendaklah setiap diri
MEMPERHATIKAN apa yang telah diperbuatnya
UNTUK HARI ESOK (akhirat), dan bertakwalah
kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan. ” (QS. Al-
Hasyr: 18)
Seorang muslim dia dituntut untuk MUHASABAH
setiap hari, karena setiap detik yang dilaluinya
TIDAK akan pernah kembali lagi sampai nanti
dipertemukan oleh ALLAH pada hari
penghisaban , yang tidak ada yang bermanfaat
pada hari itu baik anak maupun harta kecuali
orang yang menghadap ALLAH dengan
membawa hati yang ikhlas dan amal yang soleh.
Jadi, alangkah baiknya jika tradisi jahiliyah ini kita
buang jauh-jauh dari diri kita, keluarga dan anak-
anak kita dan menggantinya dengan tuntunan yg
mulia yang diajarkan oleh Rasulullah.
Aqidah-an“, masih banyak ummat Islam yang
mengikuti ritual paganisme ini. Bahkan tidak
menutup kemungkinan para ustadz dan
ustazdahpun ikut merayakannya dan terjebak di
dalamnya. Apalagi gencarnya media televisi dan
media massa lainnya mempublikasikan
seremonialnya yang terkadang dilakukan oleh
beberapa da ’i muda atau yang bergelar ustadz
[setengah artis, katanya sih !]. Ditambah lagi
kebiasaan ini sudah jamak dan menjadi hal yang
seakan-akan wajib apabila ada anggota keluarga,
rekan atau sahabat yang memperingati hari
lahirnya. Dan tak kurang kelirunya sejak di Taman
Kanak-kanak dan SD sudah diajarkan secara
praktek langsung bahkan ada termaktub dalam
buku-buku kurikulum mereka . Wallahu a ’lam.
Semoga Allah memberikan hidayah kepada
mereka.
Pada masa-masa awal Nasrani generasi pertama
(Ahlul Kitab / kaum khawariyyun / pengikut nabi
Isa) mereka tidak merayakan Upacara
UlangTahun, karena mereka menganggap bahwa
pesta ulang tahun itu adalah pesta yang mungkar
dan hanya pekerjaan orang kafir Paganisme.
Pada masa Herodeslah acara ulang tahun
dimeriahkan sebagaimana tertulis dalam Injil
Matius 14:6;
Tetapi pada HARI ULANG TAHUN Herodes,
menarilah anak Herodes yang perempuan,
Herodiaz, ditengah-tengah meraka akan
menyukakan hati Herodes. (Matius14 : 6)
Dalam Injil Markus 6:21
Akhirnya tiba juga kesempatan
yang baik bagi Herodias, ketika
Herodes pada HARI ULANG
TAHUNNYA mengadakan
perjamuan untuk pembesar-
pembesarnya, perwira-
perwiranya dan orang-orang
terkemuka di Galilea. (Markus
6:21)
————————————————————-
Look at the Bible, Matthew 14 : 6 and Mark 6:21;
celebrating of birthday is Paganism, and Jesus
(Isa, peace be upon him) doesn ’t to do it, but
Herod.
Matthew 14:6 :
“But when Herod’s birthday was kept, the
daughter of Herodias danced before them,
and pleased Herod ”.
Mark 6:21 :
And when a convenient day was come, that
Herod on his birthday made a supper to his
lords, and the high captains, and the chief
men of Galilee.
————————————————————-
Orang Nasrani yang pertama kali mengadakan
pesta ulang tahun adalah orang Nasrani
Romawi. Beberapa batang lilin dinyalakan sesuai
dengan usia orang yang berulang tahun. Sebuah
kue ulang tahun dibuatnya dan dalam pesta itu,
kue besar dipotong dan lilinpun ditiup. (Baca
buku : Parasit Aqidah. A.D. El. Marzdedeq,
Penerbit Syaamil, hal. 298)
Sudah menjadi kebiasaan kita mengucapkan
selamat ulang tahun kepada keluarga maupun
teman, sahabat pada hari ULTAHnya. Bahkan
tidak sedikit yang aktif dakwah (ustadz dan
ustadzah) pun turut larut dalam tradisi jahiliyah
ini.
Sedangkan kita sama-sama tahu bahwa tradisi ini
tidak pernah diajarkan oleh Nabi kita yang mulia
MUHAMMAD Shalallah Alaihi Wasallam, dan kita
ketahui Rasulullah adalah orang yang paling
mengerti cara bermasyarakat,
bersosialisasi, paling tahu bagaimana cara
menggembirakan para sahabat-sahabatnya.
Rasulullah paling mengerti bagaimana cara
mensyukuri hidup dan kenikmatannya.
Rasulullah paling mengerti bagaimana cara
menghibur orang yang sedang bersedih.
Rasulullah adalah orang yang paling
mengerti CARA BERSYUKUR dalam setiap hal
yang di dalamnya ada rasa kegembiraan.
Adapun tradisi ULANG TAHUN ini merupakan
tradisi orang-orang Yahudi, Nasrani dan kaum
paganism, maka Rasulullah memerintahkan untuk
menyelisihinya. Apakah Rasulullah pernah
melakukannya ? Apakah para sahabat Rasululah
pernah melakukannya ? Apakah para Tabi ’in dan
Tabiut tabi’in pernah melakukannya ? Padahal
Herodes sudah hidup pada jaman Nabi Isa.
Apakah Rasulullah mengikuti tradisi ini ? Apakah 3
generasi terbaik dalam Islam melakukan
ritual paganisme ini ?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sebaik-baik umat manusia adalah
generasiku (sahabat), kemudian orang-
orang yang mengikuti mereka (tabi ’in) dan
kemudian orang-orang yang mengikuti
mereka lagi (tabi ’ut tabi’in).” (Muttafaq
‘alaih)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Janganlah kalian mencela seorang pun di
antara para sahabatku. Karena
sesungguhnya apabila seandainya ada salah
satu di antara kalian yang bisa berinfak
emas sebesar Gunung Uhud maka itu tidak
akan bisa menyaingi infak salah seorang di
antara mereka; yang hanya sebesar
genggaman tangan atau bahkan
setengahnya saja. ” (Muttafaq ‘alaih)
Rasulullah pernah bersabda:
“Kamu akan mengkuti cara hidup orang-
orang sebelum kamu, sejengkal demi
sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga
jika mereka masuk kedalam lobang biawak
kamu pasti akan memasukinya juga ”. Para
sahabat bertanya,”Apakah yang engkau
maksud adalah kaum Yahudi dan Nasrani
wahai Rasulullah ?”Rasulullah
menjawab:”Siapa lagi jika bukan mereka?!”.
Rasulullah bersabda:
ﻣَﻦْ ﺗَﺸَﺒَّﻪَ ﺑِﻘَﻮْﻡٍ ﻓَﻬُﻮَ ﻣِﻨْﻬُﻢْ
“ Man tasabbaha biqaumin fahua
minhum” (Barang siapa yang menyerupai
suatu kaum, maka ia termasuk golongan
mereka. ”( HR. Ahmad dan Abu Daud dari Ibnu
Umar).
Allah berfirman;
ﻭَﻟَﻦْ ﺗَﺮْﺿَﻰ ﻋَﻨْﻚَ ﺍﻟْﻴَﻬُﻮﺩُ ﻭَﻻ
ﺍﻟﻨَّﺼَﺎﺭَﻯ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﺘَّﺒِﻊَ
ﻣِﻠَّﺘَﻬُﻢْ
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan
senang kepada kamu hingga kamu
mengikuti agama mereka. (QS. Al Baqarah :
120)
ﻭَﻻ ﺗَﻘْﻒُ ﻣَﺎ ﻟَﻴْﺲَ ﻟَﻚَ ﺑِﻪِ ﻋِﻠْﻢٌ
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺴَّﻤْﻊَ ﻭَﺍﻟْﺒَﺼَﺮَ
ﻭَﺍﻟْﻔُﺆَﺍﺩَ ﻛُﻞُّ ﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻛَﺎﻥَ
ﻋَﻨْﻪُ ﻣَﺴْﺌُﻮﻻ
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang
kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran ,
pengelihatan, dan hati, semuannya itu akan
diminta pertanggungjawabannya. (QS. Al-
Isra ’:36)
“… dan kamu mengatakan dengan mulutmu
apa yang tidak kamu ketahui sedikitpun
juga, dan kamu menganggapnya suatu yang
ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah
adalah besar. ” (QS. an-Nuur: 15)
Janganlah kita ikut-ikutan, karena tidak mengerti
tentang sesuatu perkara. Latah ikut-ikutan
memperingati Ulang Tahun, tanpa mengerti
darimana asal perayaan tersebut.
Ini penjelasan Nabi tentang sebagian umatnya
yang akan meninggalkan tuntunan beliau dan
lebih memilih tuntunan dan cara hidup diluar
Islam. Termasuk juga diantaranya adalah
peringatan perayaan ULTAH, meskipun ditutupi
dengan label SYUKURAN atau ucapan selamat
MILAD atau Met MILAD seakan-akan kelihatan
lebih Islami.
Ingatlah ! Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk
Rasul.
ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﻋَﻤَﻼً ﻟَﻴْﺲَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ
ﺃَﻣْﺮُﻧَﺎ ﻓَﻬُﻮَ ﺭَﺩٌّ
“Barangsiapa beramal dengan suatu amalan yang
“tidak ada perintah dari kami padanya” maka
amalan tersebut TERTOLAK (yaitu tidak diterima
oleh Allah). ” [HR. Muslim]
Rasulullah, para sahabat, tabi’in dan tabiut tabi’in
adalah orang yang PALING MENGERTI AGAMA
ISLAM. Mereka tidak mengucapkan dan tidak
memperingati Ulang Tahun, walaupun mungkin
sebagian manusia menganggapnya baik.
Pahamilah “Kaidah” yang agung ini;
ﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﺧﻴﺮﺍ ﻟﺴﺒﻘﻮﻥ ﺍﻟﻴﻪ
“Lau Kaana Khairan Lasabaquuna ilaihi”
SEANDAINYA PERBUATAN ITU BAIK, MAKA
RASULULLAH, PARA SAHABAT, TABI ’IN DAN
TABIUT TABI’IN PASTI MEREKA LEBIH DAHULU
MENGMALKANNYA DARIPADA KITA. Karena
mereka paling tahu tentang nilai sebuah kebaikan
daripada kita yang hidup di jaman sekarang ini.
Jika kita mau merenung apa yang harus
dirayakan atau disyukuri BERKURANGNYA usia
kita? Semakin dekatnya kita dengan KUBUR?
SUDAH SIAPKAH kita untuk itu? Akankah kita bisa
merayakannya tahun depan?
Allah berfirman :
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ
ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﻟْﺘَﻨْﻈُﺮْ ﻧَﻔْﺲٌ ﻣَﺎ
ﻗَﺪَّﻣَﺖْ ﻟِﻐَﺪٍ ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺧَﺒِﻴﺮٌ ﺑِﻤَﺎ ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah
kepada Allah dan hendaklah setiap diri
MEMPERHATIKAN apa yang telah diperbuatnya
UNTUK HARI ESOK (akhirat), dan bertakwalah
kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan. ” (QS. Al-
Hasyr: 18)
Seorang muslim dia dituntut untuk MUHASABAH
setiap hari, karena setiap detik yang dilaluinya
TIDAK akan pernah kembali lagi sampai nanti
dipertemukan oleh ALLAH pada hari
penghisaban , yang tidak ada yang bermanfaat
pada hari itu baik anak maupun harta kecuali
orang yang menghadap ALLAH dengan
membawa hati yang ikhlas dan amal yang soleh.
Jadi, alangkah baiknya jika tradisi jahiliyah ini kita
buang jauh-jauh dari diri kita, keluarga dan anak-
anak kita dan menggantinya dengan tuntunan yg
mulia yang diajarkan oleh Rasulullah.
penyebab anak IDIOT..
Penyebab Anak Idiot
Istilah idiot sebenarnya sudah tidak dipakai di
dunia medis untuk menyebut anak-anak yang
memiliki kelambanan menangkap respons baik
secara motorik, kognitif, sosial dan bahasa. Apa
yang menjadi penyebab keterbelakangan mental
atau retardasi mental itu?
Meski intelligence quotient (IQ) bukan satu-
satunya cara untuk mengukur anak ‘idiot’ tapi
kebanyakan anak dengan kondisi itu memiliki
tingkat kecerdasan di bawah normal.
Standar IQ yang normal menurut skala Stanford-
Binet adalah di kisaran 85-115. Hanya 1 persen
saja populasi di dunia yang memiliki tingkat IQ di
atas 135. Separuh (50%) populasi di dunia
memiliki IQ rata-rata di kisaran 90-110, sebesar
25% memiliki IQ di atas rata-rata itu dan 25%
populasi di dunia memiliki IQ di bawahnya.
Orang yang ber-IQ rendah di bawah 70 dan sulit
berkomunikasi dengan orang lain yang biasanya
disebut ‘idiot’ atau keterbelakangan mental.
Orang-orang seperti ini memiliki kepribadian yang
unik namun dalam kehidupan sosial sering
menjadi olok-olokan di masyarakat.
Seperti dilansir dari keepkidshealthy, Selasa
(16/3/2010), ‘idiot’ diklasifikasikan menurut
besarnya IQ, yaitu:
1. Ringan
Nilai IQ antara 55-69. Sekitar 85 persen anak
‘ idiot’ berada di kisaran ini, dan tergolong yang
berpendidikan. Anak-anak tersebut dapat belajar
membaca dan menulis hingga kelas 4 atau 5.
Mereka relatif hidup mandiri dan bisa bekerja
dengan pelatihan khusus.
2. Sedang
Nilai IQ antara 40-54. Sekitar 10 persen anak ‘idiot’
masuk klasifikasi ini, juga tergolong yang dapat
dilatih. Anak-anak ini mungkin memiliki potensi
akademik di TK atau kelas 1. Memiliki kemampuan
terbatas untuk membaca dan biasanya
membutuhkan dukungan dan pengawasan
sehari-hari dalam kegiatan hidup, dan bisa bekerja
dengan pelatihan khusus.
3. Parah
Nilai IQ antara 25-39. Sekitar 5 persen anak ‘idiot’
masuk klasifikasi ini. Anak-anak dengan tingkat ini
tampaknya tidak akan mampu belajar membaca
dan menulis, tetapi mungkin bisa ke toilet sendiri
dengan dilatih dan berpakaian dengan dibantu.
Mereka biasanya membutuhkan pengawasan dan
dukungan total untuk kegiatan kehidupan sehari-
hari.
4. Mendalam
Nilai IQ di bawah 24, dan kurang dari 1 persen
anak ‘idiot’ yang berada di klasifikasi ini.
Namun sebuah sistem klasifikasi lebih baru
dikembangkan pada tahun 1992 yang tidak
didasarkan pada nilai IQ. Pengelompokkan anak
keterbelakangan mental didasarkan pada jumlah
dukungan dan pengawasan terhadap kebutuhan
individu yaitu intermittent, limited, extensive dan
pervasive.
Ada banyak hal yang menjadi pemicu anak
mengalami ‘idiot’. Biasanya dikelompokkan
menjadi:
1. Prenatal (sebelum lahir)
Disebabkan oleh:
- Kelainan kromosom, termasuk sindrom Fragile
X
- Cacat gen
- Terkena racun atau infeksi selama kehamilan
2. Perinatal
Disebabkan oleh:
- Lahir prematur
- Komplikasi infeksi
3. Postnatal (setelah lahir)
Disebabkan oleh:
- Infeksi
- Keracunan
- Gangguan metabolisme
- Trauma kepala
Lebih dari setengah anak ‘idiot’ ringan tidak dapat
diidentifikasi penyebabnya, tetapi ‘idiot’ berat jauh
lebih mungkin ditemukan penyebabnya, dengan
kemungkinan sekitar 75 persen. Tes untuk
mengidentifikasikan penyebab ‘idiot’ tergantung
pada kondisi di penderita.
Pengujian biasanya terbatas pada analisa
kromosom untuk Down Sindrom atau sindrom
Fragile X. Atau lebih dalam lagi dapat dilakukan
pengujian dengan MRI otak. Pengujian akan
meliputi tes psikologis untuk mengevaluasi tingkat
IQ dan fungsinya.
Penyebab umum ‘idiot’, meliputi:
1. Down syndrome
Merupakan penyebab yang paling umum dari
‘ idiot’ sedang hingga parah.
2. Fragile X syndrome
Ini merupakan penyebab paling umum dari ‘idiot’.
3. Rett syndrome
Sindrom ini hanya berpengaruh pada
perempuan.
Gejala anak yang mengalami idiot dapat sangat
bervariasi, tergantung pada penyebab dan
beratnya. Secara umum, kebanyakan tanpa bukti
fisik seperti bayi dengan Down sindrom yang
diduga menderita ‘idiot’ ketika mereka tidak
memenuhi tahap perkembangan sesuai dengan
usianya. Beberapa anak dengan ‘idiot’ ringan tidak
teridentifikasi sampai mereka mulai bersekolah.
Pengobatannya tergantung pada penyebab tetapi
secara umum tidak ada obat untuk ‘idiot’.
Perawatan hanya dimaksudkan untuk
mengajarkan keterampilan yang diperlukan untuk
memaksimalkan bagaimana mereka dapat
mandiri.
Anak-anak yang mengalami keterbelakangan
mental mungkin memiliki kondisi lainnya juga
seperti autisme, ADHD (Attention-Deficit
Hyperactivity Disorder), gangguan kecemasan,
depresi, obcessive compulsive disorder, cerebral
palsy, epilepsi, hyrocephalus, dan spina bifida,
dan masalah tingkah laku. Jika ada, kondisi-
kondisi tersebut harus ditanggapi secara baik.
Masa-masa mengandung ibu hamil dan
konsumsi makanan bergizi bisa mencegah
lahirnya anak keterbelakangan mental. Anak-anak
dalam kondisi seperti ini banyak yang bisa
melewati hidupnya dengan baik karena memiliki
keterampilan yang cukup yang bisa didapat dari
sekolah-sekolah khusus
Istilah idiot sebenarnya sudah tidak dipakai di
dunia medis untuk menyebut anak-anak yang
memiliki kelambanan menangkap respons baik
secara motorik, kognitif, sosial dan bahasa. Apa
yang menjadi penyebab keterbelakangan mental
atau retardasi mental itu?
Meski intelligence quotient (IQ) bukan satu-
satunya cara untuk mengukur anak ‘idiot’ tapi
kebanyakan anak dengan kondisi itu memiliki
tingkat kecerdasan di bawah normal.
Standar IQ yang normal menurut skala Stanford-
Binet adalah di kisaran 85-115. Hanya 1 persen
saja populasi di dunia yang memiliki tingkat IQ di
atas 135. Separuh (50%) populasi di dunia
memiliki IQ rata-rata di kisaran 90-110, sebesar
25% memiliki IQ di atas rata-rata itu dan 25%
populasi di dunia memiliki IQ di bawahnya.
Orang yang ber-IQ rendah di bawah 70 dan sulit
berkomunikasi dengan orang lain yang biasanya
disebut ‘idiot’ atau keterbelakangan mental.
Orang-orang seperti ini memiliki kepribadian yang
unik namun dalam kehidupan sosial sering
menjadi olok-olokan di masyarakat.
Seperti dilansir dari keepkidshealthy, Selasa
(16/3/2010), ‘idiot’ diklasifikasikan menurut
besarnya IQ, yaitu:
1. Ringan
Nilai IQ antara 55-69. Sekitar 85 persen anak
‘ idiot’ berada di kisaran ini, dan tergolong yang
berpendidikan. Anak-anak tersebut dapat belajar
membaca dan menulis hingga kelas 4 atau 5.
Mereka relatif hidup mandiri dan bisa bekerja
dengan pelatihan khusus.
2. Sedang
Nilai IQ antara 40-54. Sekitar 10 persen anak ‘idiot’
masuk klasifikasi ini, juga tergolong yang dapat
dilatih. Anak-anak ini mungkin memiliki potensi
akademik di TK atau kelas 1. Memiliki kemampuan
terbatas untuk membaca dan biasanya
membutuhkan dukungan dan pengawasan
sehari-hari dalam kegiatan hidup, dan bisa bekerja
dengan pelatihan khusus.
3. Parah
Nilai IQ antara 25-39. Sekitar 5 persen anak ‘idiot’
masuk klasifikasi ini. Anak-anak dengan tingkat ini
tampaknya tidak akan mampu belajar membaca
dan menulis, tetapi mungkin bisa ke toilet sendiri
dengan dilatih dan berpakaian dengan dibantu.
Mereka biasanya membutuhkan pengawasan dan
dukungan total untuk kegiatan kehidupan sehari-
hari.
4. Mendalam
Nilai IQ di bawah 24, dan kurang dari 1 persen
anak ‘idiot’ yang berada di klasifikasi ini.
Namun sebuah sistem klasifikasi lebih baru
dikembangkan pada tahun 1992 yang tidak
didasarkan pada nilai IQ. Pengelompokkan anak
keterbelakangan mental didasarkan pada jumlah
dukungan dan pengawasan terhadap kebutuhan
individu yaitu intermittent, limited, extensive dan
pervasive.
Ada banyak hal yang menjadi pemicu anak
mengalami ‘idiot’. Biasanya dikelompokkan
menjadi:
1. Prenatal (sebelum lahir)
Disebabkan oleh:
- Kelainan kromosom, termasuk sindrom Fragile
X
- Cacat gen
- Terkena racun atau infeksi selama kehamilan
2. Perinatal
Disebabkan oleh:
- Lahir prematur
- Komplikasi infeksi
3. Postnatal (setelah lahir)
Disebabkan oleh:
- Infeksi
- Keracunan
- Gangguan metabolisme
- Trauma kepala
Lebih dari setengah anak ‘idiot’ ringan tidak dapat
diidentifikasi penyebabnya, tetapi ‘idiot’ berat jauh
lebih mungkin ditemukan penyebabnya, dengan
kemungkinan sekitar 75 persen. Tes untuk
mengidentifikasikan penyebab ‘idiot’ tergantung
pada kondisi di penderita.
Pengujian biasanya terbatas pada analisa
kromosom untuk Down Sindrom atau sindrom
Fragile X. Atau lebih dalam lagi dapat dilakukan
pengujian dengan MRI otak. Pengujian akan
meliputi tes psikologis untuk mengevaluasi tingkat
IQ dan fungsinya.
Penyebab umum ‘idiot’, meliputi:
1. Down syndrome
Merupakan penyebab yang paling umum dari
‘ idiot’ sedang hingga parah.
2. Fragile X syndrome
Ini merupakan penyebab paling umum dari ‘idiot’.
3. Rett syndrome
Sindrom ini hanya berpengaruh pada
perempuan.
Gejala anak yang mengalami idiot dapat sangat
bervariasi, tergantung pada penyebab dan
beratnya. Secara umum, kebanyakan tanpa bukti
fisik seperti bayi dengan Down sindrom yang
diduga menderita ‘idiot’ ketika mereka tidak
memenuhi tahap perkembangan sesuai dengan
usianya. Beberapa anak dengan ‘idiot’ ringan tidak
teridentifikasi sampai mereka mulai bersekolah.
Pengobatannya tergantung pada penyebab tetapi
secara umum tidak ada obat untuk ‘idiot’.
Perawatan hanya dimaksudkan untuk
mengajarkan keterampilan yang diperlukan untuk
memaksimalkan bagaimana mereka dapat
mandiri.
Anak-anak yang mengalami keterbelakangan
mental mungkin memiliki kondisi lainnya juga
seperti autisme, ADHD (Attention-Deficit
Hyperactivity Disorder), gangguan kecemasan,
depresi, obcessive compulsive disorder, cerebral
palsy, epilepsi, hyrocephalus, dan spina bifida,
dan masalah tingkah laku. Jika ada, kondisi-
kondisi tersebut harus ditanggapi secara baik.
Masa-masa mengandung ibu hamil dan
konsumsi makanan bergizi bisa mencegah
lahirnya anak keterbelakangan mental. Anak-anak
dalam kondisi seperti ini banyak yang bisa
melewati hidupnya dengan baik karena memiliki
keterampilan yang cukup yang bisa didapat dari
sekolah-sekolah khusus
Monday, 7 March 2011
rizki di tangan allah swt.
subhanallah... jika allah sudah berkenan
memberikan rizki kepada saya...., saya mah tidur
aja di rumah..., atas izin allah, rezeki akan
didatangkan oleh allah ke tempat tidur saya (tanpa
ada yang dapat menahannya).... tetapi, jika allah
tidak berkenan untuk memberikan rizki kepada
saya...., saya banting tulang siang dan malam,
kerja keras tanpa kenal lelah secara abis-abisan,
maka tidak akan datang tuh rizki kepada saya (dan
tidak ada yang dapat membantu sesuatu apapun
kepada saya).....
emang siapa yg berani menentang mau-Nya
allah??? andai kata seluruh jin, seluruh manusia
dan seluruh malaikat bersekutu dan bersatu padu
untuk menentang mau nya allah, niscaya remeh
dihadapan allah...!!! (sungguh inilah tauhid yang
benar...).
apa yang disebut ikhtiar bagi kebanyakan orang
ialah "bekerja keras sekuat tenaga dan maksimal
berusaha untuk mencari dunia" tapi ikhtiar
menurut saya ialah "menuruti mau-Nya allah
sehingga allah menjadikan dunia sebagai budak
saya, sebagai fasilitas yang allah sediakan untuk
saya, agar mempermudah saya untuk beribadah
kepada allah"
kebanyakan orang berbicara bahwa "mencari
rizki" adalah ibadah..., tetapi setelah saya lihat...,
kebanyakan orang kok lupa yah dengan sholat
ketika mencari rizki..., asyik dengan mencari rizki
sampai-sampai tidak mendegar atau malah pura-
pura tidak mendengar jika allah memanggil
(adzan)..., mencari rizki tidak didahulukan dengan
menyebut nama allah (bismillah) terlebih
dahulu.... mencari rizki tetapi kok lupa dengan
yang memberi rizki (yaitu allah), apakah cara-cara
seperti ini masih pantas jika ia menyebut
"mencari rizki itu adalah ibadah???". wah saya kira
nggak deh.... (ini menurut saya loh.... he2, maap
yah klo ada yg beda...)
kalau saya ditanya..., atau temen-temen saya
tanya semua, kaya gini : "rizki ditangan siapa ???"
mesti jawabannya sama semua dan serentak
pula.... iya bener jawabannya adalah "allah"...,
rizki itu ditangan allah. (kita sudah sama-sama
sepakat bahwa rizki itu ditangan allah dan
datangnya dari allah bukan yang lain, bukan selain
allah)
kalau memang jawaban itu adalah jawaban yang
benar-benar datangnya dari pengetahuan, iman
dan kejujuran..., mestinya tidak ada yang berani
nyolong, tidak ada yang berani nipu, tidak ada
yang berani tidak jujur. selain tidak berani, juga
tidak merasa perlu. kenapa?? kan... rizki
datengnya dari allah kenapa juga mesti begitu-
begitu amat nyari rizki...,??, kan tinggal
mendekatkan diri kepada allah aja (kepada yang
maha memiliki dan yang maha membagi-bagikan
rizki) maka terbukalah rizki itu, karena allah sendiri
yang nyuruh kita untuk meminta kepada allah
tidak kepada yang lain (tidak kepada selain allah)...
tetapi pada kenyataannya?? saya tidak percaya
bahwa rizki itu dari allah. sehingga masih mencari
lewat jalan-jalan yang bukan jalan-Nya, dan
masih mencari dengan cara-cara yang bukan
dengan cara-Nya.
saya dan sebagian yang menjawab bahwa rizki
itu dari allah, pun kurang meyakinkan bila dilihat
dari bidahnya. ngakunya, iya. bahwa semua juga
mengaku bahwa rizki itu dari allah.... pertanyaan
selanjutnya, kalau memang tahu dan sadar rizki
itu dari allah, kenapa lalu meninggalkan allah??
melupakan allah?? melalaikan allah??, atau
minimal, mengapa tidak terlalu mengistimewakan
allah??? duh aneh.... padahal sudah saling sepakat
bahwa allah lah yang menguasai rizki dan yang
mengatur rizki dan yang membagi-bagikan rizki
kepada seluruh makhluk (inget yah seluruh
makhluk)...
contoh : ketika allah memanggil (adzan
berkumandang), tanda yang maha memberi rizki
memanggil. apa yang terjadi?? saya, kita, dan
temen-temen semua seperti tidak mengenal rizki
yang saya, kita dan temen-temen semua makan
datang nya dari allah. cuek aja..., tidak bergegas,
tidak takut akan tidak dibagi rizki oleh allah.... allah
manggil (adzan) yah biasa aja (pikiran yang
sangat konyol dalam diri saya ialah.... "ah baru
adzan ini blm qomat".... yang lebih konyol lagi
"ah... sholatkan bisa tiap hari.... ini kerjaan lg
nanggung nih, besok2 gak bisa..."...
subhanallah... allah karim... otak saya memang
tumpul, sudah puluhan ribu tahun gak diasah
sehingga karatan 25 kilometer sepertinya....!!)
beda sekali jiga yang memanggil itu boss saya...,
begitu dipanggil.., detik itu juga meluncur datang
ke mejanya, keruangannya. takut sekali jika tidak
memenuhi panggilannya, takut begini..., takut
begitu... (subhanallah.... ancurr.... ancurr....!!!,
saya memang ancur...)
saya yang sudah janjian meeting dengan
pimpinan, akan takut sekali tidak tepat waktu, apa
lagi sampai telat. masuk bareng dengan pimpinan
saja, rasanya sungkan. kepala divisi saya, kepala
bagian saya, sebagian BOD saya, akan
menyarankan kepada saya, kalau bisa sudah
hadir 15 menit sebelum rapat dimulai. supaya
jangan kedahuluan sama yang punya
perusahaan, jangan sampai keduluan sama
dirut.....
bagaimana dengan allah?? katanya rizki itu dari
allah??? katanya yakin bahwa bisa bekerja dan
berusaha karena allah. bahkan lebih jauh lagi,
saya menyadari dan tahu bahwa hidup ini pun
sejatinya pemberian allah. lengkap dengan segala
apa yang menjadi fasilitas hidup ini. tetapi sama
allah gak ada pengistimewaannya....
(subhanallah.....)
sama allah sebenernya saya ini sudah janjian...,
janjian apa?? janjian sholat minimal... sebagai
seorang hamba allah, saya tahu betul akan jadwal
sholat... itulah jadwal janjian saya dengan allah...,
tetapi saya malah menghindar, bukan malah
harusnya tambah kangen.., setelah subuhan
kangen waktu duha, setelah duha kangen dengan
waktu zuhur, setelah zuhur kangen dengan
ashar, setelah ashar kangen dengan waktu
maghrib, setelah maghriban kangen dengan
waktu isya, setelah isya kangen dengan waktu
tahajjud, setelah tahajjudan tidak pengen melepas
tahajjud kecuali menyertakan dengan witir, baca
al-qur'an dan beristighfar..... (subhanallah.... allah
karim.....)
saya rindu allah, sebab di waktu-waktu itulah
kebersamaan saya dengan allah..., bener sih
setiap saat allah bersama saya... tapi kalau di
waktu-waktu prime time saya tidak bisa
mengistimewakan allah, apa iya saya bisa merasa
bisa bersama allah terus??
orang yang butuh modal akan melakukan apa
saja agar permohonan modalnya itu
dikabulkan.... sedangkan allah?? allah sudah
memberi tanpa saya minta, tapi kemudian saya
berjalan seakan-akan saya tidak mengenal allah....
tinggal bersyukur doang, ternyata saya tidak
mampu.... subhanallah... allah karim.... saya
mohon ampun,, beribu ribu ampun ya allah.... ya
rozzaq
--------------------------
------
oke seperti biasa... untuk temen2 semua jika
tulisan ini bermanfaat, yang mau share saya
persilahkahkan share....!! asal dengan satu syarat
yah.... saya minta do'anya dari temen2....... saya
tunggu doanya dari temen2 semua yah.... terima
kasih. assalamu'alaikum wrwb.....
memberikan rizki kepada saya...., saya mah tidur
aja di rumah..., atas izin allah, rezeki akan
didatangkan oleh allah ke tempat tidur saya (tanpa
ada yang dapat menahannya).... tetapi, jika allah
tidak berkenan untuk memberikan rizki kepada
saya...., saya banting tulang siang dan malam,
kerja keras tanpa kenal lelah secara abis-abisan,
maka tidak akan datang tuh rizki kepada saya (dan
tidak ada yang dapat membantu sesuatu apapun
kepada saya).....
emang siapa yg berani menentang mau-Nya
allah??? andai kata seluruh jin, seluruh manusia
dan seluruh malaikat bersekutu dan bersatu padu
untuk menentang mau nya allah, niscaya remeh
dihadapan allah...!!! (sungguh inilah tauhid yang
benar...).
apa yang disebut ikhtiar bagi kebanyakan orang
ialah "bekerja keras sekuat tenaga dan maksimal
berusaha untuk mencari dunia" tapi ikhtiar
menurut saya ialah "menuruti mau-Nya allah
sehingga allah menjadikan dunia sebagai budak
saya, sebagai fasilitas yang allah sediakan untuk
saya, agar mempermudah saya untuk beribadah
kepada allah"
kebanyakan orang berbicara bahwa "mencari
rizki" adalah ibadah..., tetapi setelah saya lihat...,
kebanyakan orang kok lupa yah dengan sholat
ketika mencari rizki..., asyik dengan mencari rizki
sampai-sampai tidak mendegar atau malah pura-
pura tidak mendengar jika allah memanggil
(adzan)..., mencari rizki tidak didahulukan dengan
menyebut nama allah (bismillah) terlebih
dahulu.... mencari rizki tetapi kok lupa dengan
yang memberi rizki (yaitu allah), apakah cara-cara
seperti ini masih pantas jika ia menyebut
"mencari rizki itu adalah ibadah???". wah saya kira
nggak deh.... (ini menurut saya loh.... he2, maap
yah klo ada yg beda...)
kalau saya ditanya..., atau temen-temen saya
tanya semua, kaya gini : "rizki ditangan siapa ???"
mesti jawabannya sama semua dan serentak
pula.... iya bener jawabannya adalah "allah"...,
rizki itu ditangan allah. (kita sudah sama-sama
sepakat bahwa rizki itu ditangan allah dan
datangnya dari allah bukan yang lain, bukan selain
allah)
kalau memang jawaban itu adalah jawaban yang
benar-benar datangnya dari pengetahuan, iman
dan kejujuran..., mestinya tidak ada yang berani
nyolong, tidak ada yang berani nipu, tidak ada
yang berani tidak jujur. selain tidak berani, juga
tidak merasa perlu. kenapa?? kan... rizki
datengnya dari allah kenapa juga mesti begitu-
begitu amat nyari rizki...,??, kan tinggal
mendekatkan diri kepada allah aja (kepada yang
maha memiliki dan yang maha membagi-bagikan
rizki) maka terbukalah rizki itu, karena allah sendiri
yang nyuruh kita untuk meminta kepada allah
tidak kepada yang lain (tidak kepada selain allah)...
tetapi pada kenyataannya?? saya tidak percaya
bahwa rizki itu dari allah. sehingga masih mencari
lewat jalan-jalan yang bukan jalan-Nya, dan
masih mencari dengan cara-cara yang bukan
dengan cara-Nya.
saya dan sebagian yang menjawab bahwa rizki
itu dari allah, pun kurang meyakinkan bila dilihat
dari bidahnya. ngakunya, iya. bahwa semua juga
mengaku bahwa rizki itu dari allah.... pertanyaan
selanjutnya, kalau memang tahu dan sadar rizki
itu dari allah, kenapa lalu meninggalkan allah??
melupakan allah?? melalaikan allah??, atau
minimal, mengapa tidak terlalu mengistimewakan
allah??? duh aneh.... padahal sudah saling sepakat
bahwa allah lah yang menguasai rizki dan yang
mengatur rizki dan yang membagi-bagikan rizki
kepada seluruh makhluk (inget yah seluruh
makhluk)...
contoh : ketika allah memanggil (adzan
berkumandang), tanda yang maha memberi rizki
memanggil. apa yang terjadi?? saya, kita, dan
temen-temen semua seperti tidak mengenal rizki
yang saya, kita dan temen-temen semua makan
datang nya dari allah. cuek aja..., tidak bergegas,
tidak takut akan tidak dibagi rizki oleh allah.... allah
manggil (adzan) yah biasa aja (pikiran yang
sangat konyol dalam diri saya ialah.... "ah baru
adzan ini blm qomat".... yang lebih konyol lagi
"ah... sholatkan bisa tiap hari.... ini kerjaan lg
nanggung nih, besok2 gak bisa..."...
subhanallah... allah karim... otak saya memang
tumpul, sudah puluhan ribu tahun gak diasah
sehingga karatan 25 kilometer sepertinya....!!)
beda sekali jiga yang memanggil itu boss saya...,
begitu dipanggil.., detik itu juga meluncur datang
ke mejanya, keruangannya. takut sekali jika tidak
memenuhi panggilannya, takut begini..., takut
begitu... (subhanallah.... ancurr.... ancurr....!!!,
saya memang ancur...)
saya yang sudah janjian meeting dengan
pimpinan, akan takut sekali tidak tepat waktu, apa
lagi sampai telat. masuk bareng dengan pimpinan
saja, rasanya sungkan. kepala divisi saya, kepala
bagian saya, sebagian BOD saya, akan
menyarankan kepada saya, kalau bisa sudah
hadir 15 menit sebelum rapat dimulai. supaya
jangan kedahuluan sama yang punya
perusahaan, jangan sampai keduluan sama
dirut.....
bagaimana dengan allah?? katanya rizki itu dari
allah??? katanya yakin bahwa bisa bekerja dan
berusaha karena allah. bahkan lebih jauh lagi,
saya menyadari dan tahu bahwa hidup ini pun
sejatinya pemberian allah. lengkap dengan segala
apa yang menjadi fasilitas hidup ini. tetapi sama
allah gak ada pengistimewaannya....
(subhanallah.....)
sama allah sebenernya saya ini sudah janjian...,
janjian apa?? janjian sholat minimal... sebagai
seorang hamba allah, saya tahu betul akan jadwal
sholat... itulah jadwal janjian saya dengan allah...,
tetapi saya malah menghindar, bukan malah
harusnya tambah kangen.., setelah subuhan
kangen waktu duha, setelah duha kangen dengan
waktu zuhur, setelah zuhur kangen dengan
ashar, setelah ashar kangen dengan waktu
maghrib, setelah maghriban kangen dengan
waktu isya, setelah isya kangen dengan waktu
tahajjud, setelah tahajjudan tidak pengen melepas
tahajjud kecuali menyertakan dengan witir, baca
al-qur'an dan beristighfar..... (subhanallah.... allah
karim.....)
saya rindu allah, sebab di waktu-waktu itulah
kebersamaan saya dengan allah..., bener sih
setiap saat allah bersama saya... tapi kalau di
waktu-waktu prime time saya tidak bisa
mengistimewakan allah, apa iya saya bisa merasa
bisa bersama allah terus??
orang yang butuh modal akan melakukan apa
saja agar permohonan modalnya itu
dikabulkan.... sedangkan allah?? allah sudah
memberi tanpa saya minta, tapi kemudian saya
berjalan seakan-akan saya tidak mengenal allah....
tinggal bersyukur doang, ternyata saya tidak
mampu.... subhanallah... allah karim.... saya
mohon ampun,, beribu ribu ampun ya allah.... ya
rozzaq
--------------------------
------
oke seperti biasa... untuk temen2 semua jika
tulisan ini bermanfaat, yang mau share saya
persilahkahkan share....!! asal dengan satu syarat
yah.... saya minta do'anya dari temen2....... saya
tunggu doanya dari temen2 semua yah.... terima
kasih. assalamu'alaikum wrwb.....
Hidup apa adanya karena allah swt
Allah tahu semua kebutuhan-kebutuhan kita saat
ini dan yang akan datang....
tenang saja, Allah lah sebaik-baik pengurus
semua makhluk...
tidak perlu sibuk menganti-ganti topeng yang
bukan diri kita sebenarnya...
sibuklah mengurusi kedekatan kita dengan Allah...
Allah tahu dengan persis semua kebusukan-
kebusukan kita dan kita tidak perlu menutup-
nutupi itu semua.
Biarkan saja orang berkata kalau kita ini bodoh,
kita ini jelek, kita ini miskin.
Biarkan saja orang lain menjelek-jelekan,
sesungguhnya cacian dan makian tidak dapat
melukai kita sedikitpun dan tidak berpengaruh
terhadap rizki dan Allah yang telah Allah
tentukan...
jika ada orang lain yang berkata 'dasar kamu
kambing..!!' kepada kita, sesungguhnya kita tidak
akan berubah menjadi kambing beneran..., justru
orang tersebut telah menampakkan sifat
kekambingannya...
jika ada orang yang berkata 'dasar kamu
kambing..!!' kepada kita, lalu kita berkata balik
kepada orang tersebut 'kamu yang kambing..!!',
maka ini akan impas...
yang lebih berbahaya jika kita berkata 'dasar
kamu kambing...!!', kepada orang lain dan orang
yang kita maki hanya tersenyum kepada kita dan
berkata "alhamdulillah, terima kasih yah sudah
diingatkan..!!', maka hal ini lebih berbahaya karena
nanti bukan dia yang membalas, melainkan Allah
nanti yang akan membalas makian kita..,
bagaimana jika Allah yang membalas??, tentu saja
serem!!
maka kita tidak perlu sibuk mengurusi orang lain,
sibuklah mengurusi diri kita 'bagaimana caranya
supaya kita bisa dekat dengan Allah sedekat-
dekatnya'....
sibuklah memperbaiki hubungan kita dengan
Allah...
tidak perlu repot mencari-cari orang lain agar
perbuatan baik kita dapat dilihat oleh orang lain..,
cukuplah Allah yang Maha Melihat mengawasi
dan melihat kita...
tidak perlu repot mencari dan berharap
pertolongan dari orang lain. cukuplah Allah
sebaik-baik penolong dalam hidup ini
tidak perlu repot mencari-cari pujian orang lain...,
cukuplah kelak Allah akan memuji kita...
subhanallah...
yang lebih bahaya jika kita ini sibuk mengurusi
agar orang lain memuji kita, dan kita sibuk
menggunakan dalil agama hanya untuk dipuji
oleh makhluk...
mudah-mudahan hidup kita yang hanya satu kali
ini dapat kita manfaatkan untuk mencari
keridhoan Allah, meraih kasih sayang Allah,
mencari surga-Nya Allah. amin
ini dan yang akan datang....
tenang saja, Allah lah sebaik-baik pengurus
semua makhluk...
tidak perlu sibuk menganti-ganti topeng yang
bukan diri kita sebenarnya...
sibuklah mengurusi kedekatan kita dengan Allah...
Allah tahu dengan persis semua kebusukan-
kebusukan kita dan kita tidak perlu menutup-
nutupi itu semua.
Biarkan saja orang berkata kalau kita ini bodoh,
kita ini jelek, kita ini miskin.
Biarkan saja orang lain menjelek-jelekan,
sesungguhnya cacian dan makian tidak dapat
melukai kita sedikitpun dan tidak berpengaruh
terhadap rizki dan Allah yang telah Allah
tentukan...
jika ada orang lain yang berkata 'dasar kamu
kambing..!!' kepada kita, sesungguhnya kita tidak
akan berubah menjadi kambing beneran..., justru
orang tersebut telah menampakkan sifat
kekambingannya...
jika ada orang yang berkata 'dasar kamu
kambing..!!' kepada kita, lalu kita berkata balik
kepada orang tersebut 'kamu yang kambing..!!',
maka ini akan impas...
yang lebih berbahaya jika kita berkata 'dasar
kamu kambing...!!', kepada orang lain dan orang
yang kita maki hanya tersenyum kepada kita dan
berkata "alhamdulillah, terima kasih yah sudah
diingatkan..!!', maka hal ini lebih berbahaya karena
nanti bukan dia yang membalas, melainkan Allah
nanti yang akan membalas makian kita..,
bagaimana jika Allah yang membalas??, tentu saja
serem!!
maka kita tidak perlu sibuk mengurusi orang lain,
sibuklah mengurusi diri kita 'bagaimana caranya
supaya kita bisa dekat dengan Allah sedekat-
dekatnya'....
sibuklah memperbaiki hubungan kita dengan
Allah...
tidak perlu repot mencari-cari orang lain agar
perbuatan baik kita dapat dilihat oleh orang lain..,
cukuplah Allah yang Maha Melihat mengawasi
dan melihat kita...
tidak perlu repot mencari dan berharap
pertolongan dari orang lain. cukuplah Allah
sebaik-baik penolong dalam hidup ini
tidak perlu repot mencari-cari pujian orang lain...,
cukuplah kelak Allah akan memuji kita...
subhanallah...
yang lebih bahaya jika kita ini sibuk mengurusi
agar orang lain memuji kita, dan kita sibuk
menggunakan dalil agama hanya untuk dipuji
oleh makhluk...
mudah-mudahan hidup kita yang hanya satu kali
ini dapat kita manfaatkan untuk mencari
keridhoan Allah, meraih kasih sayang Allah,
mencari surga-Nya Allah. amin
keluarga kaya .tapi tak harmonis..
suatu ketika ada keluarga kaya yang ingin saya
buatkan sebuah usaha warnet.... saya datangi
keluarganya dan mereka berkonsultasi tentang
usaha warnet (kebetulan memang ini salah satu
bidang saya dalam pembuatan warnet).
rumahnya lumayan besar.... saya melihat ada 3
mobil digarasi rumahnya...., sang ayah ialah
pengusaha sukses dan sang ibu ialah pengawan
negeri sipil (PNS) yang lumayan menjabat jabatan
yang penting di kantornya
sang ibu sudah membeli ruko dua lantai seharga
700 juta, biaya renovasi 100 juta, biaya
pengadaaalatan komputer 100 juta.... dan berkata
"ini saya bela-belain bekerja siang dan malam,
cuma untuk anak saya..., saya ingin anak saya
sukses, saya tidak ingin anak saya menjadi orang
yang berguna kelak....!!"
ternyata ruko dua lantai yang kelak akan menjadi
tempat usaha warnet itu khusus dibeli dan
dirancang oleh ibu dan ayahnya untuk
anak2nya... biar mereka bisa belajar usaha secara
mandiri semenjak dini... (ibunya berharap...
anak2nya dapat sukses...., (yang memang sukses
menerut beliau2 ialah menjadi orang kaya)).
keluarga tersebut mempunyai 3 orang anak
(putra semua).... ke tiga anaknya disekolahkan
disekolah-sekolah unggulan terpaforit dan
termahal didaerahnya... (berharap anak2 mereka
akan berhasil (yang memang itu yang diharapkan
dari semua orang tua di dunia ini, para orang tua
berharap anak2nya menjadi lebih baik dari kondisi
orang tua nya saat ini)).
bagi ke tiga orang anaknya (untuk ukuran dunia)
tiada kekurangan sesuatu apapun yang mereka
butuhkan (fasilitas, mobil, motor, rumah,
uang..... wah semuanya tersedia dan gak make
lama....)
suatu ketika...., entah gimana awal kejadiannya,
saya berbincang-bincang dengan salah satu anak
yang paling tua yang sudah menjadi sarjana (dan
beliau curhat2an dengan saya).... ada kata-kata
yang mengagetkan saya "saya tidak
membutuhkan ini semua mas...., saya tidak
butuh ruko dan warnet, tidak butuh mobil, tidak
butuh rumah dan fasilitas mewah lainnya... yang
saya butuhkan ialah ibu dan ayah saya.... tetapi
saya tidak mendapatinya..." subhanallah kata-kata
seperti ini keluar dari mulut seorang anak yang
merindukan sosok ayah dan sosok ibu...
setelah berbicara panjang lebar dengan anak
tertuanya.... lagi-lagi saya terkejut dan tercengang
mendengar pengakuan seorang anak.... anak
pertama merasa sangat dan amat, bahkan
teramat rindu sedari dulu dengan sosok seorang
ayah dan seorang ibu... beliau memang ada
(ayah dan ibu) tetapi tidak hadir (siang dan malam
ayah dan ibu nya bekerja untuk mencari uang
yang banyak..., yang memang kata beliau-belliau
itu untuk beutuhan sang anak.... subhanallah...).
anak kedua : disuruh kuliah malah seringnya ke
diskotik..., (mungkin ini untuk melampiaskan
keheningan didalam rumah nya yang memang
seperti kuburan..., tidak ada orang yg mengaji,
tidak ada berkumpulnya sebuah keluarga, dan
tidak ada kegiatan sama sekali disetiap hari di
rumah...., sibuk mengurusi kegiatan masing-
masing...)
anak ketiga : (dari kesekian banyak kejutan dari
keluarga ini.... inilah hal yang membuat saya
terkejut sekejut-kejutnya...) tidak ubahnya dengan
anak pertama dan kedua, anak ketiga ini pun
merindukan sosok ayah dan ibu.... sering main
ke diskotik dan club malam untuk mengalihkan
kejenuhan didalam rumah.... dan yang paling
fatal dari anak ke tiga ini ialah kehidupannya tidak
normal dari laki-laki pada umumnya.... yang
memang anak ke tiga ini menyukai sesama
jenis.... (allah.....!! mohon ampunan-Mu).
walhasil walaupun di keluarga ini, fasilitas dunia
tercukupi... tidak ada kebahagiaan sama sekali
didalam keluarga ini..., karena tidak ada allah
didalamnya....
walaupun keluarga ini saling berkumpul.... maka
kehampaan yang dirasakan dari masing-masing
anggota keluarga ini..., termasuk para
pembantunya yang selalu berganti-ganti karena
tidak betah.
anak tertua meminta pendapat kepada saya
gimana dengan kondisi ini : saya berkata
"hadirkan lah allah... didalam dadamu agar
dadamu tidak terasa sesak dan sempit di rumah
mu yang besar ini...,"
ibu dari sang anak meminta pendapat kepada
saya, dan saya katakan.... "apakah ini yg ibu
cari ??, apakah ini yg ibu inginkan??, tidak !!!
(jawab sang ibu), kita punya allah.., jangan seperti
orang-orang yang tidak mempunyai allah..., buat
apa ini semua ?? mau kemana?? percuma kita
hadirkan konsultan2 kejiwaan dengan puluhan
juta yang keluar, jika tidak menghadirkan allah,
hati tidak akan tenang dan tentram...,
mendekatlah kepada allah, jangan jauh-jauh agar
kita diberi kelapangan dalam hidup ini....
subhanallah... sang ibu menangisi dirinya didepan
saya dan menyesal.... percuma berpuluh2 tahun
mencari dunia dan pada akhirnya dia tidak
mendapatkan apa-apa dari dunia..., percuma dia
siang dan malam ngebut mengejar dunia yang
bakhan setelah mendapatkan dunia, dunia nya itu
malah mengigitnya.... allahu akbar....!!!
bagi temen-temen... ini menjadi sebuah pelajaran
bagi kita semua..., kita gak perlu lah abis-abisan
untuk dunia..., mau apa?? untuk apa?? mau
dibawa kemana dunia?? nanti ketika meninggal
dunia dunia mah gak dibawa...
bagi temen-temen yang membaca artikel ini....
saya mengajak temen-temen.... mari kita
mendekat kepada allah yang memiliki dunia, mari
kita sambut allah (jangan dicuekin), mari kita
habis-habisan untuk mendekat kepada allah... kita
ngebut menuju allah..., kita niatkan diri kita untuk
mengabdi kepada allah agar hidup kita tentram
dan damai (allah lah pemilik hati manusia yang
dapat menentramkan semua hati manusia.....)
allahu akbar.... allah i am comming allah..... T.T
(jangan tinggalkan kami allah.....)
buatkan sebuah usaha warnet.... saya datangi
keluarganya dan mereka berkonsultasi tentang
usaha warnet (kebetulan memang ini salah satu
bidang saya dalam pembuatan warnet).
rumahnya lumayan besar.... saya melihat ada 3
mobil digarasi rumahnya...., sang ayah ialah
pengusaha sukses dan sang ibu ialah pengawan
negeri sipil (PNS) yang lumayan menjabat jabatan
yang penting di kantornya
sang ibu sudah membeli ruko dua lantai seharga
700 juta, biaya renovasi 100 juta, biaya
pengadaaalatan komputer 100 juta.... dan berkata
"ini saya bela-belain bekerja siang dan malam,
cuma untuk anak saya..., saya ingin anak saya
sukses, saya tidak ingin anak saya menjadi orang
yang berguna kelak....!!"
ternyata ruko dua lantai yang kelak akan menjadi
tempat usaha warnet itu khusus dibeli dan
dirancang oleh ibu dan ayahnya untuk
anak2nya... biar mereka bisa belajar usaha secara
mandiri semenjak dini... (ibunya berharap...
anak2nya dapat sukses...., (yang memang sukses
menerut beliau2 ialah menjadi orang kaya)).
keluarga tersebut mempunyai 3 orang anak
(putra semua).... ke tiga anaknya disekolahkan
disekolah-sekolah unggulan terpaforit dan
termahal didaerahnya... (berharap anak2 mereka
akan berhasil (yang memang itu yang diharapkan
dari semua orang tua di dunia ini, para orang tua
berharap anak2nya menjadi lebih baik dari kondisi
orang tua nya saat ini)).
bagi ke tiga orang anaknya (untuk ukuran dunia)
tiada kekurangan sesuatu apapun yang mereka
butuhkan (fasilitas, mobil, motor, rumah,
uang..... wah semuanya tersedia dan gak make
lama....)
suatu ketika...., entah gimana awal kejadiannya,
saya berbincang-bincang dengan salah satu anak
yang paling tua yang sudah menjadi sarjana (dan
beliau curhat2an dengan saya).... ada kata-kata
yang mengagetkan saya "saya tidak
membutuhkan ini semua mas...., saya tidak
butuh ruko dan warnet, tidak butuh mobil, tidak
butuh rumah dan fasilitas mewah lainnya... yang
saya butuhkan ialah ibu dan ayah saya.... tetapi
saya tidak mendapatinya..." subhanallah kata-kata
seperti ini keluar dari mulut seorang anak yang
merindukan sosok ayah dan sosok ibu...
setelah berbicara panjang lebar dengan anak
tertuanya.... lagi-lagi saya terkejut dan tercengang
mendengar pengakuan seorang anak.... anak
pertama merasa sangat dan amat, bahkan
teramat rindu sedari dulu dengan sosok seorang
ayah dan seorang ibu... beliau memang ada
(ayah dan ibu) tetapi tidak hadir (siang dan malam
ayah dan ibu nya bekerja untuk mencari uang
yang banyak..., yang memang kata beliau-belliau
itu untuk beutuhan sang anak.... subhanallah...).
anak kedua : disuruh kuliah malah seringnya ke
diskotik..., (mungkin ini untuk melampiaskan
keheningan didalam rumah nya yang memang
seperti kuburan..., tidak ada orang yg mengaji,
tidak ada berkumpulnya sebuah keluarga, dan
tidak ada kegiatan sama sekali disetiap hari di
rumah...., sibuk mengurusi kegiatan masing-
masing...)
anak ketiga : (dari kesekian banyak kejutan dari
keluarga ini.... inilah hal yang membuat saya
terkejut sekejut-kejutnya...) tidak ubahnya dengan
anak pertama dan kedua, anak ketiga ini pun
merindukan sosok ayah dan ibu.... sering main
ke diskotik dan club malam untuk mengalihkan
kejenuhan didalam rumah.... dan yang paling
fatal dari anak ke tiga ini ialah kehidupannya tidak
normal dari laki-laki pada umumnya.... yang
memang anak ke tiga ini menyukai sesama
jenis.... (allah.....!! mohon ampunan-Mu).
walhasil walaupun di keluarga ini, fasilitas dunia
tercukupi... tidak ada kebahagiaan sama sekali
didalam keluarga ini..., karena tidak ada allah
didalamnya....
walaupun keluarga ini saling berkumpul.... maka
kehampaan yang dirasakan dari masing-masing
anggota keluarga ini..., termasuk para
pembantunya yang selalu berganti-ganti karena
tidak betah.
anak tertua meminta pendapat kepada saya
gimana dengan kondisi ini : saya berkata
"hadirkan lah allah... didalam dadamu agar
dadamu tidak terasa sesak dan sempit di rumah
mu yang besar ini...,"
ibu dari sang anak meminta pendapat kepada
saya, dan saya katakan.... "apakah ini yg ibu
cari ??, apakah ini yg ibu inginkan??, tidak !!!
(jawab sang ibu), kita punya allah.., jangan seperti
orang-orang yang tidak mempunyai allah..., buat
apa ini semua ?? mau kemana?? percuma kita
hadirkan konsultan2 kejiwaan dengan puluhan
juta yang keluar, jika tidak menghadirkan allah,
hati tidak akan tenang dan tentram...,
mendekatlah kepada allah, jangan jauh-jauh agar
kita diberi kelapangan dalam hidup ini....
subhanallah... sang ibu menangisi dirinya didepan
saya dan menyesal.... percuma berpuluh2 tahun
mencari dunia dan pada akhirnya dia tidak
mendapatkan apa-apa dari dunia..., percuma dia
siang dan malam ngebut mengejar dunia yang
bakhan setelah mendapatkan dunia, dunia nya itu
malah mengigitnya.... allahu akbar....!!!
bagi temen-temen... ini menjadi sebuah pelajaran
bagi kita semua..., kita gak perlu lah abis-abisan
untuk dunia..., mau apa?? untuk apa?? mau
dibawa kemana dunia?? nanti ketika meninggal
dunia dunia mah gak dibawa...
bagi temen-temen yang membaca artikel ini....
saya mengajak temen-temen.... mari kita
mendekat kepada allah yang memiliki dunia, mari
kita sambut allah (jangan dicuekin), mari kita
habis-habisan untuk mendekat kepada allah... kita
ngebut menuju allah..., kita niatkan diri kita untuk
mengabdi kepada allah agar hidup kita tentram
dan damai (allah lah pemilik hati manusia yang
dapat menentramkan semua hati manusia.....)
allahu akbar.... allah i am comming allah..... T.T
(jangan tinggalkan kami allah.....)
fadilah membaca al qur'an
Fadhilat Membaca Al-Qur’an
Membaca al-Qur’an adalah seafdhal-afdhal ibadat
sehingga disebut bahawa al-Qur’an itu akan
datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafaat
bagi orang yang membacanya, sebagaimana
riwayat Abu Umamah yang maksudnya :
“Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda: “Bacalah oleh kamu al-
Qur’an, sesungguhnya (al-Qur’an) itu datang
pada hari qiamat menjadi syafaat kepada
pembacanya. ”
(Hadis riwayat Muslim)
Amatlah rugi bagi orang-orang yang kurang
gemar membaca al-Qur ’an kerana Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam banyak menyebut
dalam hadis-hadis Baginda tentang faedah dan
fadhilat memebaca al-Qur ’an itu, antaranya;
1.Pembaca al-Qur’an dinaungi dengan payung
rahmat, dikelilingi oleh para malaikat dan
diturunkan Allah kepadanya ketenangan dan
kewaspadaan. Disebutkan dalam hadis
riwayat Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu,
bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam yang maksudnya :
“Tidak berkumpul satu kaum di suatu rumah
daripada rumah-rumah Allah (masjid) yang
membaca al-Qur ’an dan saling mempelajarinya
antara mereka melainkan diturunkan ke atas
mereka ketenangan, diselubungi rahmat, di
kelilingi para malaikat rahmat dan Allah
mengingati mereka pada siapa di sisiNya. ”
(Hadis riwayat Muslim)
2.Pembaca al-Qur’an dikurniakan hatinya dengan
cahaya oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala dan
dipeliharaNya dari kegelapan. Diriwayatkan
daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu yang
maksudnya :
“Bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda: “Sesiapa yang mendengar satu ayat
daripada Kitab Allah Ta‘ala (al-Qur’an) ditulis
baginya satu kebaikan yang berlipat ganda.
Sesiapa yang membacanya pula, baginya cahaya
di hari qiamat. ”
(Hadis riwayat Ahmad)
3.Pembaca al-Qur’an diumpamakan seperti buah
utrujah yang harum bau dan enak rasanya.
Disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan
oleh Anas Radhiallahu ‘anhu yang
maksudnya :
“ Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Perumpamaan orang beriman yang membaca
al-Qur’an seperti perumpamaan buah al-utrujah
iaitu buah yang berbau harum dan enak rasanya.
Perumpamaan orang beriman yang tidak
membaca al-Qur’an adalah seperti perumpamaan
buah tamar, rasanya manis tetapi tidak ada
baunya. Perumpamaan orang berbuat dosa
(maksiat) yang membaca al-Qur’an adalah seperti
ar-raihanah yang berbau harum tapi pahit
rasanya. Perumpamaan orang berbuat dosa
(maksiat) yang tidak membaca al-Qur’an adalah
seperti buah al-hanzhalah iaitu buah yang pahit
rasanya dan tidak ada baunya. Perumpamaan
mendampingi orang yang salih adalah seperti
mendampingi pemilik minyak wangi, sekalipun
engkau tidak terkena minyaknya engkau tetap
mendapat harumnya. Perumpamaan
berdamping dengan teman yang jahat adalah
seperti mendampingi orang yang menggunakan
ububan (alat menghembus api), jika engkau tidak
terkena hitamnya (daripada percikan api), namun
engkau tetap terkena asapnya.”
(Hadis riwayat Abu Daud)
4.Pembaca al-Qur’an, tiada bergundah hati dan
terlepas dari kesusahan-kesusahan di hari
kiamat, kerana dia sentiasa dalam
pemeliharaan dan penjagaan Allah.
Sebagaimana disebutkan dalam hadis
riwayat Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu yang
maksudnya :
“Daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,
Baginda bersabda: “Al-Qur’an datang pada hari
qiamat lalu ia (al-Qur’an) berkata: “Wahai Tuhanku
hiasilah dia (pembaca al-Qur’an)!, maka dia dihiasi
dengan mahkota kemuliaan.”
Kemudian ia berkata: “Wahai Tuhanku tambahlah
lagi! Maka dia ditambahi dengan hiasan-hiasan
kemuliaan. ”
Ia berkata lagi: “ Wahai Tuhanku redhailah dia!
Maka dia diredhai.”
Berkata ia pada pembaca al-Qur’an: “Bacalah al-
Qur’an dan naiklah (pada tangga-tangga syurga)
dan ditambahi pada setiap satu ayat satu
kebaikan. ”
(Hadis riwayat at-Tirmidzi)
5.Pembaca al-Qur’an memperolehi kemuliaan dan
diberi rahmat kepada ibu bapanya. Sabda
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang
maksudnya :
“Sesiapa yang membaca al-Qur’an dan beramal
dengan isi kandungannya, dianugerahkan kedua
ibubapanya mahkota di hari qiamat. Cahayanya
(mahkota) lebih baik daripada cahaya matahari di
rumah-rumah dunia. Kalaulah yang demikian itu
matahari berada di rumah kamu (dipenuhi
dengan sinarannya), maka apa sangkaan kamu
terhadap yang beramal dengan ini (al-Qur’an).”
(Hadis riwayat Abu Daud)
6.Pembaca al-Qur’an memperolehi kedudukan yang
tinggi dalam syurga. Bersabda Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya
:
“Dikatakan kepada pembaca al-Qur’an: “Bacalah
(al-Qur’an), naiklah (pada darjat-darjat syurga)
dan bacalah dengan tartil sebagaimana engkau
membacanya dengan tartil di dunia.
Sesungguhnya kedudukan darjatmu sehingga
kadar akhir ayat yang engkau baca. ”
(Hadis riwayat Ahmad)
Home Fadhilat Membaca Al-Qur’an
Membaca al-Qur’an adalah seafdhal-afdhal ibadat
sehingga disebut bahawa al-Qur’an itu akan
datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafaat
bagi orang yang membacanya, sebagaimana
riwayat Abu Umamah yang maksudnya :
“Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda: “Bacalah oleh kamu al-
Qur’an, sesungguhnya (al-Qur’an) itu datang
pada hari qiamat menjadi syafaat kepada
pembacanya. ”
(Hadis riwayat Muslim)
Amatlah rugi bagi orang-orang yang kurang
gemar membaca al-Qur ’an kerana Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam banyak menyebut
dalam hadis-hadis Baginda tentang faedah dan
fadhilat memebaca al-Qur ’an itu, antaranya;
1.Pembaca al-Qur’an dinaungi dengan payung
rahmat, dikelilingi oleh para malaikat dan
diturunkan Allah kepadanya ketenangan dan
kewaspadaan. Disebutkan dalam hadis
riwayat Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu,
bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam yang maksudnya :
“Tidak berkumpul satu kaum di suatu rumah
daripada rumah-rumah Allah (masjid) yang
membaca al-Qur ’an dan saling mempelajarinya
antara mereka melainkan diturunkan ke atas
mereka ketenangan, diselubungi rahmat, di
kelilingi para malaikat rahmat dan Allah
mengingati mereka pada siapa di sisiNya. ”
(Hadis riwayat Muslim)
2.Pembaca al-Qur’an dikurniakan hatinya dengan
cahaya oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala dan
dipeliharaNya dari kegelapan. Diriwayatkan
daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu yang
maksudnya :
“Bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda: “Sesiapa yang mendengar satu ayat
daripada Kitab Allah Ta‘ala (al-Qur’an) ditulis
baginya satu kebaikan yang berlipat ganda.
Sesiapa yang membacanya pula, baginya cahaya
di hari qiamat. ”
(Hadis riwayat Ahmad)
3.Pembaca al-Qur’an diumpamakan seperti buah
utrujah yang harum bau dan enak rasanya.
Disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan
oleh Anas Radhiallahu ‘anhu yang
maksudnya :
“ Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Perumpamaan orang beriman yang membaca
al-Qur’an seperti perumpamaan buah al-utrujah
iaitu buah yang berbau harum dan enak rasanya.
Perumpamaan orang beriman yang tidak
membaca al-Qur’an adalah seperti perumpamaan
buah tamar, rasanya manis tetapi tidak ada
baunya. Perumpamaan orang berbuat dosa
(maksiat) yang membaca al-Qur’an adalah seperti
ar-raihanah yang berbau harum tapi pahit
rasanya. Perumpamaan orang berbuat dosa
(maksiat) yang tidak membaca al-Qur’an adalah
seperti buah al-hanzhalah iaitu buah yang pahit
rasanya dan tidak ada baunya. Perumpamaan
mendampingi orang yang salih adalah seperti
mendampingi pemilik minyak wangi, sekalipun
engkau tidak terkena minyaknya engkau tetap
mendapat harumnya. Perumpamaan
berdamping dengan teman yang jahat adalah
seperti mendampingi orang yang menggunakan
ububan (alat menghembus api), jika engkau tidak
terkena hitamnya (daripada percikan api), namun
engkau tetap terkena asapnya.”
(Hadis riwayat Abu Daud)
4.Pembaca al-Qur’an, tiada bergundah hati dan
terlepas dari kesusahan-kesusahan di hari
kiamat, kerana dia sentiasa dalam
pemeliharaan dan penjagaan Allah.
Sebagaimana disebutkan dalam hadis
riwayat Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu yang
maksudnya :
“Daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,
Baginda bersabda: “Al-Qur’an datang pada hari
qiamat lalu ia (al-Qur’an) berkata: “Wahai Tuhanku
hiasilah dia (pembaca al-Qur’an)!, maka dia dihiasi
dengan mahkota kemuliaan.”
Kemudian ia berkata: “Wahai Tuhanku tambahlah
lagi! Maka dia ditambahi dengan hiasan-hiasan
kemuliaan. ”
Ia berkata lagi: “ Wahai Tuhanku redhailah dia!
Maka dia diredhai.”
Berkata ia pada pembaca al-Qur’an: “Bacalah al-
Qur’an dan naiklah (pada tangga-tangga syurga)
dan ditambahi pada setiap satu ayat satu
kebaikan. ”
(Hadis riwayat at-Tirmidzi)
5.Pembaca al-Qur’an memperolehi kemuliaan dan
diberi rahmat kepada ibu bapanya. Sabda
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang
maksudnya :
“Sesiapa yang membaca al-Qur’an dan beramal
dengan isi kandungannya, dianugerahkan kedua
ibubapanya mahkota di hari qiamat. Cahayanya
(mahkota) lebih baik daripada cahaya matahari di
rumah-rumah dunia. Kalaulah yang demikian itu
matahari berada di rumah kamu (dipenuhi
dengan sinarannya), maka apa sangkaan kamu
terhadap yang beramal dengan ini (al-Qur’an).”
(Hadis riwayat Abu Daud)
6.Pembaca al-Qur’an memperolehi kedudukan yang
tinggi dalam syurga. Bersabda Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya
:
“Dikatakan kepada pembaca al-Qur’an: “Bacalah
(al-Qur’an), naiklah (pada darjat-darjat syurga)
dan bacalah dengan tartil sebagaimana engkau
membacanya dengan tartil di dunia.
Sesungguhnya kedudukan darjatmu sehingga
kadar akhir ayat yang engkau baca. ”
(Hadis riwayat Ahmad)
Home Fadhilat Membaca Al-Qur’an
Subscribe to:
Posts (Atom)