Saturday, 12 March 2011

mengapa harus tidur dalam kondisi gelap

Pernah
mendengar
hadits
Rasulullah
shallallaahu
'alaihi
wasallam
tentang
sunnah
untuk
tidur
dengan
kondisi
lampu
dipadamkan
(gelap).
Berikut
kutipan
haditsnya :
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi
wasallam bersabda
“ Artinya : Tutuplah bejana, ikatlah
tempat air yang
terbuat dari kulit, kancinglah pintu-
pintu, dan
matikanlah lampu lentera, karena
sesungguhnya
syetan tidak mampu melepaskan
ikatan tempat
air, tidak mampu membuka pintu,
dan tidak
mampu membuka tutup bejana.
Kalau salah
seorang di antara kamu tidak
mendapatkan
(sesuatu untuk menutup bejana)
kecuali hanya
mendapatkan sepotong lidi, maka
tutupkanlah
dan hendaklah dengan menyebut
nama Allah.
Karena sesungguhnya tikus itu
(biasa) membakar
rumah (yang lampu lenteranya
tidak dimatikan),
yaitu dengan menambrak lampu itu
lalu
menumpahkan minyak yang ada di
dalamnya
sehingga terbakarlah rumah
itu ” [Hadits Riwayat
Muslim]
Dan dalam hadits yang lain :
Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu
Umar bahwa
Rasulullah shallallaahu 'alaihi
wasallam bersabda :
"Janganlah engkau tinggalkan api
(lampu lentera)
di rumahmu ketika kamu tidur" (H,R.
Bukhari dan
Muslim).
Anjuran untuk memadamkan api
sebelum tidur
bagi sebagian kita mungkin
berpendapat bahwa
hal itu karena pada zaman
Rasulullah shallallaahu
'alaihi wasallam masih
menggunakan lampu
lentera yang beresiko menimbulkan
kebakaran
jika tidak dimatikan. tapi hadits ini
tetap berlaku
bagi kita yang saat ini
menggunakan lampu listrik.
Ternyata, dibaliknya terkandung
hikmah yang
sangat penting. Salah satu
hikmahnya yakni
hormon melatonin akan diproduksi
lebih banyak
pada suasana ruangan gelap
daripada suasana
yang redup, apalagi terang.
Apa itu hormon melatonin ?
melatonin adalah
hormon yang diproduksi di otak
yang
mempunyai peranan penting dalam
perkembangan sel dan syaraf. Dan
akan mulai
aktif pada saat tidur, terutama pada
malam hari
dan gelap.
Terutama untuk si kecil. Adalah
sangat penting
untuk menidurkannya dalam
kondisi gelap, untuk
perkembangan sel-sel otaknya.

cerpen.. seharusnya kau pergi..

“Aku nggak tau, maunya kamu itu apa. Udah
jelas-jelas Fery itu suka banget sama kamu,
sayang dan perhatian. Kenapa sich dia kamu
putusin, ” tanya Jeni yang nggak habis pikir
tentang kelakuan Ega.
“Aku nggak suka sama dia,” jawab Ega lantang
“Kalau kamu nggak suka, kenapa kamu terima
dari awal, waktu dia nembak kamu?”
“Yach, aku kan nggak tau sikap dan sifat dia kayak
itu. Ternyata udah dijalanin, aku rasa aku nggak
cocok aja sama dia ”.
“Tapi kan kalian baru sebulan jalan bareng. Kamu
butuh waktu Ga, agar kamu tau banyak soal
Fery ”.
“Duh..... Jen. Waktu sebulan itu cukup lama. Mau
berapa lama lagi sich? Lagian aku udah bosan
sama dia ”.
“Kamu nggak boleh gitu Ga. Fery itu orangnya
baik. Salah apa sich dia sama kamu. Pokoknya
aku nggak setuju kamu putus sama dia”.
“Lho ... koq jadinya kamu yang sewot. Ya udah,
kamu aja yang pacaran sama dia. Atau jangan-
jangan kamu tu naksir ya sama Fery, makanya
ngebelain dia ”.
“Bukan gitu Ga!”
“Lantas?”
“Aku nggak mau kamu kena batunya. Aku ini
sahabat kamu. Aku nggak ingin terjadi apa-apa
sama kamu ”.
“Duh......perhatiannya. Tenang aja Jen, nggak
akan terjadi apa-apa sama aku”.
“Iya, aku percaya, Ga. Sejak Irgi pergi dari kamu,
kamu tu banyak berubah. Ega yang dulu nggak
pernah nyakitin perasaan orang lain, Ega yang
selalu setia, Ega yang punta warna hidup”.
“Ach ..... sudah Jen, semua itu masa lalu.
Lupakan aja Ega yang dulu meskipun sikap aku
udah berubah. Dan aku rasa soal Irgi nggak usah
dibahas dech ”.
“Tapi Irgi kan yang buat kamu jadi seperti ini Ga.
Aku kasian sama kamu”.
“Kamu nggak perlu kasiani aku, aku nggak papa
Jen”.
“Kamu nggak perlu bohong Ga. Kamu tu
menderita karena orang yang paling kamu
sayangi ningalin kamu tanpa membuat keputusan
apapun. Aku kenal baik sama kamu Ga. Aku ingin
kamu lupain Irgi ”.
Ega terdiam. Sejurus diresapinya kata-kata Jeni
barusan. Jeni memang benar, Ega harus
membuang jauh-jauh masa lalu dan membuka
kehidupan untuk kebahagiaan. Irwan, Doni, Jay,
Boy, Tomi dan Fery salah apa mereka?
Tanpa diduga oleh Jeni, Ega memeluknya dengan
erat. Gadis itu menangis di pelukan sahabatnya.
“Tapi aku nggak bisa Jen. Aku nggak bisa lupain
Irgi. Aku cinta mati sama dia,” ujar Ega disela
isaknya.
“ Ss ....sst, kamu pasti bisa. Ingat Ega, cinta sejati
itu adalah cinta kepada Tuhan. Kamu coba
ya ..... ”.
Ega nuruti anjuran Jeni untuk menerima Fery
kembali. Memang dia sayang banget sama Ega.
Ega berharap keputusan yang diambilnya kali ini
bukan merupakan kesalahan seperti yang
dilakukannya saat dia menerima Irgi.
Biarpun Fery udah begitu baiknya, Ega tetap aja
belum bisa menerima Fery sepenuhnya menjadi
bagian dari kehidupannya. Menurutnya, posisi Irgi
belum bisa digantikan oleh siapapun termasuk
Fery. Fery ngajak Ega ke sebuah cafe. Suasana
cafe yang cukup romantis pas benar pilihan Fery
untuk mengungkapkan semua perasaannya ke
Ega.
“ Ga, aku nggak tau dan entah apalagi yang bisa
aku lakukan untuk yakini kamu, kalau aku benar-
benar serius sama kamu. Aku ngerti kok, kalau
hati kamu bukan untuk aku. Aku nggak bisa
mengantikan posisi Irgi di hati kamu ”.
“Irgi...? Kok kamu tau?”
“Jeni udah cerita banyak tentang kamu. Maaf,
mungkin aku terlalu lancang tau soal kamu. Tapi
ini aku lakukan karena aku bingung dengan sikap
kamu. Kita sudah hampir dua bulan pacaran, tapi
nggak seperti orang pacaran lazimnya. Aku sadar
Ga, aku nggak akan bisa bahagiakan kamu ”.
Fery menarik napas dalam-dalam. “Aku nggak
peduli perasaan kamu ke aku seperti apa, tapi
kamu harus tau aku benar-benar sayang sama
kamu, aku cinta sama kamu, Ga.
Streett....!! tanpa diduga jus tomat Ega tumpah,
sehingga membasahi jeans yang dikenakan Ega.
“Kok bisa gini Ga? Kamu sich melamun aja,” kata
Fery sembari membersihkan celana Ega dengan
tissue. Ega membiarkan Fery melakukan itu.
Nggak biasanya dia seperti itu.
“ Dah selesai,” kata Fery.
Ega kaget. Berarti dari tadi Fery membersihkan
celananya, Ega terus melamun.
“ Thanks ya Fer. Duh .. jadi nggak enak nich”.
“Nggak apa-apa Ga”.
“Aku ke toilet sebentar ya Fer”.
Ega ke toilet yang berada di sebelah kanan pintu
keluar.
“ Oh Tuhan...., kenapa aku selalu deg-degan terus
bila dekat sama Fery, padahal sebelaumnya
nggak gitu. Dia baik banget, aku nggak tega kalau
nyakitin dia. Mungkin Jeni benar, aku harus
menerima Fery jadi soulmateku, dan aku akan
berusaha belajar mencintainya, ” pikir Ega dalam
hati.
Pas mau masuk ke toilet, tiba-tiba mata Ega
terbentur dengan sosok yang nggak asing lagi
buatnya.
“ Irgi ....?”
“Ega......kenapa ada di sini?”
“Kamu sendiri? Aku lagi makan bareng sama
teman”.
“Dengan siapa kemari? Dengan pacar kamu?”
Bussyet Irgi ngeledek atau serius.
“ Nggak, teman.”
“Kamu masih sendiri Ga?”
“He eh”.
“Sama donk kalau gitu”.
“Kenapa ya aku nggak ngerasain hal yang sama
pada Irgi seperti yang aku rasakan waktu dengan
Fery, ” pikirku
“Berarti aku bisa donk jalan lagi sama kamu,”
tanya Irgi.
Ega bingung dengan pertanyaan Irgi barusan.
“ Boleh”.
“Ga, aku cabut dulu, teman-teman nunggu
tuh...”.
***
“Jen, gimana nich? Ntar malam Irgi ngajak aku
kencan.”
“Kencan apaan?”
“Jen, aku bingung banget. Tau nggak, dia ngajak
aku balikan”.
“Nggak bisa Ga. Aku nggak setuju”.
“Tapi aku masih sayang sama dia. Dia nggak
berubah Jen. Lagian kami kan belum putus”.
“Kamu tu gila ya Ga. Irgi tu udah ninggalin kamu,
terus sekerang dia ngajakin kamu pacaran lagi.
Kamu tu jangan bego Ga ”.
“Tapi aku senang kalau bisa jalan sama dia lagi.
Masalahnya Fery, Jen. Gimana Fery?”
“Aku nggak bisa bantu kamu soal ini. Aku nggak
ikut dalam perbuatan konyol kamu”.
“Ya udahlah, Jen”.
Jeni ninggalin Ega. Sementara Ega masa bodoh
dengan omongan Jeni.
Malamnya Irgi menjemput Ega. Irgi membawa
Ega ke tempat yang nggak kalah romantisnya
dengan waktu Fery ngajak Ega.
“ Ga, aku minta maaf”.
“Soal apa?”
“Aku tau, mungkin permintaan maaf aku ini
nggak cukup buat nebus kesalahan aku sama
kamu. Aku ninggalin kamu gitu aja, ” hati-hati Irgi
melanjutkan kata-katanya.
“ Waktu itu aku nggak tega mutusin kamu,
makanya aku pergi ninggalin kamu”.
Ega terdiam, kegetiran menyelimuti perasaannya.
Luka lamanya tertoreh kembali oleh perkataan Irgi
yang mengingatkannya pada penderitaan yang ia
rasakan sepeninggalan Irgi darinya.
“Ga, maafin aku. Sebenarnya waktu kita masih
pacaran dulu, aku udah menjalin hubungan
dengan cewek lain, namanya Nela. Aku
membandingkan kamu dengan Nela, dengan
tujuan ingin mencari yang terbaik diantara kalian
berdua. Dengan Nela aku mendapatkan sesuatu
yang nggak aku dapat dari kamu. Makanya aku
putuskan bahwa Nela adalah pilihan hatiku ”.
Air mata yang indah ditahan Ega dari tadi nggak
bisa lagi diajak kompromi, kini bergulir di kedua
pipinya.
“Aku pergi dari kehidupan kamu dengan harapan
aku bisa bahagia dengan Nela. Tapi kenyataannya
lain, Nela nggak cuma milik aku, dia juga milik
cowok-cowok lain. Sejak aku tau Nela seperti itu,
aku putus sama dia, dan setelah itu aku kesepian.
Waktu itu aku sempat berpikir untuk kembali
sama kamu, tapi aku takut kamu nggak mau
menerima aku. Akhirnya kita bertemu di cafe itu.
Waktu itu semangat dan keberanianku muncul,
karena aku yakin dari tatapan mata kamu, masih
ada cinta buat aku,” kata Irgi.
Ega mengatur napas. Tampaknya sulit untuk
bicara, karena isakan tangis.
“Aku nggak bisa, Ir”.
“Kenapa?” Irgi terkejut dengan ucapan Ega yang
nggak pernah dia duga.
“ Aku ingin mencari kebahagiaan seperti halnya
kamu. Dan aku rasa kebahagiaan itu nggak aku
dapatkan dari kamu, tapi dari orang lain. ”
“Siapa orang itu, Ga”.
“Kamu nggak perlu tau siapa dia”.
“Tapi aku yakin, Ga, kamu hanya cinta sama aku.”
“Kamu benar, Ir. Aku memang sangat cinta sama
kamu, dan aku sulit untuk ngelupain kamu, tetapi
bukan berarti aku nggak bisa melupakan kamu. ”
“Tapi gimana dengan aku, Ga. Kamu harus
mikirin aku donk!”
“Waktu kamu ninggalin aku, kamu pernah mikir
nggak dengan perasaan aku. Nggak pernah kan,
Ir ?”
“Tapi ....”
“Ir, serbaiknya kamu lupain semua tentang kita.
Itu semua masa lalu, dan aku rasa nggak
seharusnya kamu ada di sini, aku nggak
mengharapkan kehadiran kamu. Pergilah Ir,
kamu harus mencari cinta kamu, karena cinta
kamu bukan aku.
***
“Hei .....ngelamun terus. Tuh Fery nungguin di
bawah, Ga. Kayaknya dia ada sesuatu untuk
kamu, ” Jeni mengejutkan Ega, sehingga
lamunannya berhamburan entah kemana.
“ Apa....?”
“Nggak tau. Lihat aja sendiri”.
“Apaan nich Fer?”
“Ntar aja dibuka”.
“Makasih ya”.
Seharian Ega berduaan sama Fery ngerayaan
ultahnya Ega yang ke 21. Ega mulai suka sama
Fery. Ega nggak sia-sia belajar mencintai dia,
karena sekarang Ega memang cinta sama dia.
“ Oh ya, Ga, handphone kamu ketinggalan. Tadi
aku lihat ada satu missed call dan satu message.
Coba lihat ”.
Ega meraih handphone di tempat tidurnya. Satu
nomor baru, ada satu pesan lagi.
“ Selamat Ulang Tahun Ega,” tulis Irgi di
handphone itu.

Friday, 11 March 2011

Apakah Bagi Waris HarusMenunggu Kedua Orang TuaWafat?

“Apakah Bagi Waris Harus Menunggu Kedua
Orang Tua Wafat?” ketegori Muslim.
Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Pak Ustadz mengenai warisan, apakah
pembagian warisan itu dilakukan setelah kedua
orang tua kita meninggal atau salah satu nya
meninggal? Terima kasih.
Wassallamu’alaikum wr. wb.
Baryono
Jawaban
Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh,
Dalam masalah pembagian warisan, yang dibagi
adalah harta orang yang meninggal. Sedangkan
harta orang yang belum meninggal tidak perlu
dibagi waris.
Dan perlu diketahui bahwa dalam syariah, hak
kepemilikan atas harta benda dibedakan antara
suami dan istri. Meski mereka tinggal dalam satu
rumah dan membangun keluarga yang saling
timbal balik dalam banyak hal. Namun khusus
dalam masalah kepemilikan atas harta, masing-
masing punya haknya sendiri-sendiri.
Seorang suami memang berkewajiban
memberikan nafkah kepada istri dan anak-
anaknya. Baik berupa makanan, tempat tinggal
maupun pakaian. Namun bukan berarti seluruh
harta miliknya secara otomatis menjadi milik istri
dan anak-anaknya. Seorang suami tetap punya
hak kepemilikan secara pribadi atas hartanya, di
luar dari apa yang biasanya diberikan sebagai
nafkah.
Sebaliknya, seorang istri pun tetap punya hak atas
harta pribadi yang dimilikinya. Di mana suaminya
tidak berhak untukmengambil begitu saja harta
milik sang istri. Kecuali bila istri memberikannya
atau menyedekahkannya kepada suami.
Maka demikianlah, semua harta benda yang
dimiliki oleh sepasang suami istri, sesungguhnya
dimiliki oleh masing-masing mereka. Walau pun
dalam pemanfataannya dibolehkan bagi masing-
masing pasangan untuk menggunakannya,
namun tetaplah harta itu ada pemiliknya.
Bila salah seorang dari mereka wafat, misalnya
suami, maka hanya harta yang dimilikinya saja
yang dibagi waris. Adapun harta milik istri tidak
dibagi waris. Sebab istri masih hidup, jadi
hartanya tidak boleh dibagi waris.
Bila tidak dimiliki secara pribadi, maka
dimungkinkan harta itu dimiliki secara bersama,
dengan masing-masing punya prosentase
kepemilikan yang disepakati. Misalnya, sepasang
suami istri secara berpatungan membeli rumah
untuk tinggal mereka. Sebutlah harganya 500 juta
masing-masing bersaham 250 juta. Maka status
kepemilikan rumah itu 50% milik suami dan 50%
milik istri.
Ketika salah seorang dari pasangan itu meninggal
dunia, yang dibagi waris hanyalah yang
merupakan bagian miliknya saja, yaitu hanya
50% saja dari nilai harga rumah. Yang sisanya
50% lagi tidak perlu dibagi, karena bukan harta
almarhum.
Dengan demikian, untuk membagi waris tidak
perlu menunggu kedua orang tua wafat terlebih
dahulu. Segera setelah selesai pemakaman dan
hari-hari duka cita, para ahli waris dikumpulkan
untuk diajak bermusyawarah. Sebab sekarang,
harta peninggalan ayah mereka menjadi hak
mereka.
Dan istri almarhum tentu termasuk salah satu dari
ahli waris, dengan hak 1/8 bagian dari total harta
milik almarhum. Dengan syarat, almarhum
memliki anak. Sebaliknya, bila almarhum tidak
memiliki anak, maka hak istri lebih besar lagi,
yaitu 1/4 dari seluruh harta milik almarhum.
Sedangkan harta milik istri seutuhnya tetap
miliknya, tidak boleh diutak-atik dan tidak perlu
dibagi waris.

Ahklak mulia dalam rumah tangga..

muhammad satu mattress id web hosting camera bags
Akhlak Mulia dlm Rumah Tangga
penulis Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah
Sakinah Mengayuh Biduk 23 - Juni - 2007 22:21:14
Pihak ketiga selama ini dianggap faktor utama yg
memicu pertikaian dlm rumah tangga. Namun
jika kita telisik lbh dlm sejati segala ketakserasian
yg terjadi lbh disebabkan akhlak dan perilaku
suami atau istri sendiri. Sikap-sikap yg jauh dari
tuntunan agama yg dipraktikkan alhasil memupuk
tiap perselisihan antara suami dan istri yg
kemudian menumbuhkan konflik yg bisa berbuah
perceraian.
Dalam Al-Qur`an yg mulia termaktub sebuah
ayat yg berbunyi:
ﻭَﺇِﻧَّﻚَ ﻟَﻌَﻠﻰ ﺧُﻠُﻖٍ ﻋَﻈِﻴْﻢٍ
“ Sungguh engkau berbudi pekerti yg agung.”
Ayat ini memuat pujian Allah Subhanahu wa
Ta’ala kepada Rasul-Nya yg pilihan Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kenyataan memang
tdk ada manusia yg lbh sempurna akhlak
daripada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
sebagai suatu anugerah dari Allah Subhanahu wa
Ta’ala yg telah memberi taufik kepada beliau.
Tidak ada satu pun kebagusan dan kemuliaan
melainkan didapatkan pada diri beliau dlm bentuk
yg paling sempurna dan paling utama. Hal ini pun
diakui oleh para sahabat yg menyertai hari-hari
beliau sebagaimana dinyatakan Anas bin Malik
radhiyallahu ‘anhu:
ﻛَﺎﻥَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ
ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃَﺣْﺴَﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ
ﺧُﻠُﻘًﺎ
“ Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
manusia yg paling bagus akhlaknya.”
Bagaimana Anas tdk memberikan sanjungan yg
demikian sementara ia telah berkhidmat pada
beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sejak usia
sepuluh tahun dan terus menyertai beliau selama
9 tahun.1 tdk pernah sekalipun ia mendapat
hardikan dan kata-kata kasar dari Nabi yg mulia
ini.
ﻓَﺨَﺪَﻣْﺘُﻪُ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴَّﻔَﺮِ ﻭَﺍﻟْﺤَﻀَﺮِ،
ﻭَﺍﻟﻠﻪِ ﻣَﺎ ﻗَﺎﻝَ ﻟِﻲ ﻟِﺸَﻲْﺀٍ
ﺻَﻨَﻌْﺘُﻪُ: ﻟِﻢَ ﺻَﻨَﻌْﺖَ ﻫَﺬَﺍ ﻫَﻜَﺬَﺍ؟
ﻭَﻻَ ﻟِﺸَﻲْﺀٍ ﻟـَﻢْ ﺃَﺻْﻨَﻌْﻪُ: ﻟِﻢَ ﻟَﻢْ
ﺗَﺼْﻨَﻊْ ﻫَﺬَﺍ ﻫَﻜَﺬَﺍ؟
“ Aku berkhidmat beliau Shallallahu ‘alaihi wa
sallam ketika safar maupun tidak. Demi Allah
terhadap suatu pekerjaan yg terlanjur aku lakukan
tdk pernah beliau berkata ‘Kenapa engkau lakukan
hal tersebut demikian?’ Sebalik bila ada suatu
pekerjaan yg belum aku lakukan tdk pernah beliau
berkata ‘Mengapa engkau tdk lakukan demikian?’.”
Demikian pengakuan Anas radhiyallahu ‘anhu.
Kata Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu: “Dalam
hadits ini ada keterangan tentang sempurna
akhlak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagus
pergaulan kesabaran yg luar biasa kemurahan
hati dan pemaafannya.”
Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha
ketika dita oleh Sa’d bin Hisyam bin Amir tentang
akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ia
menjawab:
ﻛَﺎﻥَ ﺧُﻠُﻘُﻪُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ، ﺃَﻣَﺎ
ﺗَﻘْﺮَﺃُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﻗَﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ
ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﻭَﺗَﻌَﺎﻟَﻰ : ؟
“ Akhlak beliau adl Al-Qur`an. Tidakkah engkau
membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
‘Sungguh engkau berbudi pekerti yg agung’?”
Gambaran apa saja yg diperintahkan Al-Qur`an
beliau lakukan. Dan apa saja yg dilarang Al-
Qur`an beliau tinggalkan. Selain memang Allah
Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan beliau
dgn tabiat dan akhlak yg mulia seperti rasa malu
dermawan berani penuh pemaafan sangat sabar
dan lain sebagai dari perangai-perangai yg baik.
Kebagusan akhlak ini tampak dari diri beliau ketika
bergaul dgn istri sanak famili sahabat masyarakat
bahkan dgn musuhnya. tdk heran masyarakat
Quraisy yg paganis ketika itu memberi gelar pada
beliau Al-Amin orang yg terpercaya jujur tdk
pernah dusta lagi amanah sebagai bentuk
pengakuan terhadap salah satu pekerti beliau yg
mulia.
Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam Bersama
Istrinya
Keberadaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
sebagai pemimpin tiap hari tersibukkan dgn
beragam persoalan umat mengurusi dan
membimbing mereka bukanlah menjadi alasan
beliau utk tdk meluangkan waktu membantu istri
di rumah. Bahkan didapati beliau adl orang yg
perhatian terhadap pekerjaan di dlm rumah
sebagaimana persaksian Aisyah radhiyallahu
‘anha ketika dita tentang apa yg dilakukan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dlm
rumah. Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan:
ﻛﺎَﻥَ ﻳَﻜُﻮْﻥُ ﻓِﻲ ﻣِﻬْﻨَﺔِ ﺃَﻫْﻠِﻪِ -
ﺗَﻌْﻨِﻲ ﺧِﺪْﻣَﺔَ ﺃَﻫْﻠِﻪِ - ﻓَﺈِﺫَﺍ
ﺣَﻀَﺮَﺕِ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓُ ﺧَﺮَﺝَ ﺇِﻟَﻰ
ﺍﻟﺼَّﻼَﺓِ
“ Beliau biasa membantu istrinya. Bila datang
waktu shalat beliau pun keluar utk menunaikan
shalat.”
Beliau ikut turun tangan meringankan pekerjaan
yg ada seperti kata istri beliau Aisyah radhiyallahu
‘anha:
ﻛَﺎﻥَ ﺑَﺸَﺮًﺍ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺒَﺸَﺮِ، ﻳَﻔْﻠِﻲ
ﺛَﻮْﺑَﻪُ ﻭَﻳَﺤْﻠُﺐُ ﺷَﺎﺗَﻪُ ﻭَﻳَﺨْﺪُﻡُ
ﻧَﻔْﺴَﻪُ
“ Beliau manusia sebagaimana manusia yg lain.
Beliau membersihkan pakaian memerah susu
kambing dan melayani diri sendiri.”
Sifat penuh pengertian kelembutan kesabaran dan
mau memaklumi keadaan istri amat lekat pada
diri Rasul. Aisyah radhiyallahu ‘anha berbagi cerita
tentang kasih sayang dan pengertian beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
ﺩَﺧَﻞَ ﻋَﻠَﻲَّ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ
ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﻋِﻨْﺪِﻱ
ﺟَﺎﺭِﻳَﺘَﺎﻥِ ﺗُﻐَﻨِّﻴَﺎﻥِ ﺑِﻐِﻨَﺎﺀِ
ﺑُﻌَﺎﺙَ، ﻓَﺎﺿْﻄَﺠَﻊَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻔِﺮَﺍﺵِ
ﻭَﺣَﻮَّﻝَ ﻭَﺟْﻬَﻪُ. ﻭَﺩَﺧَﻞَ ﺃَﺑُﻮْ
ﺑَﻜْﺮٍ ﻓَﺎﻧْﺘَﻬَﺮَﻧِﻲ ﻭَﻗَﺎﻝَ:
ﻣِﺰْﻣَﺎﺭَﺓُ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﻋِﻨْﺪَ
ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ
ﻭَﺳَﻠَّﻢَ؟ ﻓَﺄَﻗْﺒَﻞَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺭَﺳُﻮْﻝُ
ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ،
ﻓَﻘَﺎﻝَ: ﺩَﻋْﻬُﻤﺎَ. ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﻏَﻔَﻞَ
ﻏَﻤَﺰْﺗُﻬُﻤَﺎ ﻓَﺨَﺮَﺟَﺘَﺎ
“ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke
rumahku sementara di sisiku ada dua budak
perempuan yg sedang berdendang dgn
dendangan Bu’ats2. Beliau berbaring di atas
pembaringan dan membalikkan wajahnya. Saat
itu masuklah Abu Bakr. Ia pun menghardikku dgn
berkata ‘Apakah seruling setan dibiarkan di sisi
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap ke arah
Abu Bakr seraya berkata ‘Biarkan keduanya’.3
Ketika Rasulullah telah tertidur aku memberi
isyarat kepada kedua agar menyudahi dendangan
dan keluar. Kedua pun keluar.”
ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻳَﻮْﻡُ ﻋِﻴْﺪٍ ﻳَﻠْﻌَﺐُ
ﺍﻟﺴُّﻮْﺩَﺍﻥُ ﺑِﺎﻟﺪَّﺭَﻕِ ﻭَﺍﻟْﺤِﺮَﺍﺏِ،
ﻓَﺈِﻣَّﺎ ﺳَﺄَﻟْﺖُ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ
ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﺇِﻣَّﺎ ﻗَﺎﻝَ:
ﺗَﺸْﺘَﻬِﻴْﻦَ ﺗَﻨْﻈُﺮِﻳْﻦَ؟ ﻓَﻘُﻠْﺖُ:
ﻧَﻌَﻢْ، ﻓَﺄَﻗَﺎﻣَﻨِﻲ ﻭَﺭَﺍﺀَﻩُ، ﺧَﺪِّﻱ
ﻋَﻠَﻰ ﺧَﺪِّﻩِ، ﻭَﻫُﻮَ ﻳَﻘُﻮْﻝُ:
ﺩُﻭْﻧَﻜُﻢْ ﻳﺎَ ﺑَﻨِﻲ ﺃَﺭْﻓِﺪَﺓَ. ﺣَﺘَّﻰ
ﺇِﺫَﺍ ﻣَﻠِﻠْﺖُ، ﻗَﺎﻝَ: ﺣَﺴْﺒُﻚِ؟ ﻗُﻠْﺖُ:
ﻧَﻌَﻢْ. ﻗَﺎﻝَ: ﻓَﺎﺫْﻫَﺒِﻲ
“ Biasa pada hari raya orang2 Habasyah bermain
perisai dan tombak . Aku yg meminta kepada
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau sendiri
menawarkan dgn berkata ‘Apakah engkau ingin
melihat permainan mereka?’ ‘Iya’ jawabku. Beliau
pun memberdirikan aku di belakang pipiku
menempel pada pipi beliau. Beliau berkata:
‘Teruskan wahai Bani Arfidah4.’ Hingga ketika aku
telah jenuh beliau berta ‘Cukupkah?’ ‘Iya’ jawabku.
‘Kalau begitu pergilah’ kata beliau.”
Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata:
“Dalam hadits ini ada keterangan tentang sifat yg
dimiliki Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
berupa penyayang penuh kasih berakhlak yg
bagus dan bergaul dgn baik terhadap keluarga
istri dan selain mereka.”
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu saat
menafsirkan ayat: ﻭَﻋَﺎﺷِﺮُﻭْﻫُﻦَّ
ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭْﻑِ menyatakan “Termasuk
akhlak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau
sangat baik hubungan dgn para istri beliau.
Wajah senantiasa berseri-seri suka bersenda
gurau dan bercumbu rayu bersikap lembut
terhadap mereka dan melapangkan mereka dlm
hal nafkah serta tertawa bersama istri-istrinya.
Sampai-sampai beliau pernah mengajak Aisyah
Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha berlomba
lari utk menunjukkan cinta dan kasih sayang
beliau terhadapnya.”
Ummul Mukminin Shafiyyah radhiyallahu ‘anha
berkisah bahwa suatu malam ia pernah
mengunjungi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam saat sedang i’tikaf di masjid pada sepuluh
hari yg akhir dari bulan Ramadhan. Shafiyyah
berbincang bersama beliau beberapa waktu.
Setelah ia pamitan utk kembali ke rumahnya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bangkit
utk mengantarkan istrinya. Hingga ketika sampai
di pintu masjid di sisi pintu rumah Ummu
Salamah lewat dua orang dari kalangan Anshar
kedua mengucapkan salam lalu berlalu dgn
segera. Melihat gelagat seperti itu Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegur kedua
“Pelan-pelanlah kalian dlm berjalan tdk usah
terburu-buru seperti itu krn tdk ada yg perlu
kalian khawatirkan. Wanita yg bersamaku ini
Shafiyyah bintu Huyai istriku.” Kedua menjawab
“Subhanallah wahai Rasulullah tidaklah kami
berprasangka jelek padamu.” Beliau menanggapi
“Sesungguh setan berjalan pada diri anak Adam
seperti beredar darah dan aku khawatir ia
melemparkan suatu prasangka di hati kalian.”
Akhlak Mulia dlm Rumah Tangga
Tuturan di atas hendak memberikan gambaran
kepada pembaca tentang indah rumah tangga
seorang muslim yg memerhatikan akhlak mulia
dlm pergaulan suami istri sebagaimana rumah
tangga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sehingga perhatian terhadap kemuliaan akhlak ini
menjadi satu keharusan bagi seorang suami
maupun seorang istri. Karena terkadang ada
orang yg bisa bersopan santun berwajah cerah
dan bertutur manis kepada orang lain di luar
rumah namun hal yg sama sulit ia lakukan di dlm
rumah tangganya. Ada orang yg bisa bersikap
pemurah kepada orang lain ringan tangan dlm
membantu suka memaafkan dan berlapang dada
namun giliran berhadapan dgn “orang rumah”
istri ataupun anak sikap seperti itu tdk tampak
pada dirinya.
Menyinggung akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam kepada keluarga mk hal ini tdk hanya
berlaku kepada para suami sehingga para istri
merasa suami sajalah yg tertuntut utk berakhlak
mulia kepada istrinya. Sama sekali tdk dapat
dipahami seperti itu. Karena akhlak mulia ini
harus ada pada suami dan istri sehingga bahtera
rumah tangga dapat berlayar di atas kebaikan.
Memang suamilah yg paling utama harus
menunjukkan budi pekerti yg baik dlm rumah
tangga krn dia sebagai qawwam sebagai
pimpinan. Kemudian dia tertuntut utk mendidik
anak istri di atas kebaikan sebagai upaya menjaga
mereka dari api neraka sebagaimana difirmankan
Allah Subhanahu wa Ta’ala:
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻗُﻮﺍ
ﺃَﻧْﻔُﺴَﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻫْﻠِﻴْﻜُﻢْ ﻧَﺎﺭًﺍ
ﻭَﻗُﻮْﺩُﻫَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻭَﺍﻟْﺤِﺠَﺎﺭَﺓُ
ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﻣَﻼَﺋِﻜَﺔٌ ﻏِﻼَﻅٌ ﺷِﺪَﺍﺩٌ ﻻَ
ﻳَﻌْﺼُﻮْﻥَ ﺍﻟﻠﻪَ ﻣَﺎ ﺃَﻣَﺮَﻫُﻢْ
ﻭَﻳَﻔْﻌَﻠُﻮْﻥَ ﻣَﺎ ﻳُﺆْﻣَﺮُﻭْﻥَ
“ Wahai orang2 yg beriman jagalah diri-diri kalian
dan keluarga kalian dari api neraka yg bahan
bakar adl manusia dan batu penjaga malaikat-
malaikat yg kasar yg keras yg tdk pernah
mendurhakai Allah terhadap apa yg
diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu
mengerjakan apa yg diperintahkan.”
Seorang istri pun harus memerhatikan perilaku
kepada sang suami sebagai pemimpin hidupnya.
tdk pantas ia “menyuguhi” suami ucapan yg
kasar sikap membangkang membantah dan
mengumpat. tdk semesti ia tinggi hati terhadap
suami dari mana pun keturunan seberapa pun
kekayaan dan setinggi apa pun kedudukannya.
tdk boleh pula ia melecehkan keluarga suami
menyakiti orang tua suami menekan suami agar
tdk memberikan nafkah kepada orang tua dan
keluarganya.
Kenyataan banyak kita dapati istri yg berani
kepada suaminya. tdk segan saling berbantah
dgn suami bahkan adu fisik. Ia tdk merasa
berdosa ketika membangkang pada perintah
suami dan tdk menuruti kehendak suami. Ia
merasa tenang-tenang saja ketika hak suami ia
abaikan. Ia menganggap biasa perbuatan
menyakiti mertua. Ia tekan suami agar tdk
memberi infak pada keluarganya. Ia mengumpat
ia mencela ia menyakiti Istri yg seperti ini
gambaran jelas bukan istri yg berakhlak mulia
dan bukanlah istri shalihah yg dinyatakan dlm
hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻣَﺘَﺎﻉٌ ﻭَﺧَﻴْﺮُ ﻣَﺘَﺎﻉِ
ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓُ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺔُ
“ Sesungguh dunia itu adl perhiasan5 dan sebaik-
baik perhiasan dunia adl wanita/istri shalihah.”
Dan bukan istri yg digambarkan Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Umar ibnul
Khaththab radhiyallahu ‘anhuma:
ﺃَﻻَ ﺃُﺧْﺒِﺮُﻙَ ﺑِﺨَﻴْﺮِ ﻣَﺎ ﻳَﻜْﻨِﺰُ
ﺍﻟْﻤَﺮْﺀُ، ﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓُ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺔُ،
ﺇِﺫَﺍ ﻧَﻈَﺮَ ﺇِﻟَﻴْﻬَﺎ ﺳَﺮَّﺗْﻪُ ﻭَﺇِﺫَﺍ
ﺃَﻣَﺮَﻫَﺎ ﺃَﻃَﺎﻋَﺘْﻪُ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻏَﺎﺏَ
ﻋَﻨْﻬَﺎ ﺣَﻔِﻈَﺘْﻪُ
“ Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-
baik perbendaharaan seorang lelaki yaitu istri
shalihah yg bila dipandang akan
menyenangkannya6 bila diperintah7 akan
menaatinya8 dan bila ia pergi si istri ini akan
menjaga harta dan keluarganya.”
Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullahu menyatakan
bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
memandang perlu memberi kabar gembira
kepada para sahabat tentang perbendaharaan
harta mereka yg terbaik di mana harta ini lbh baik
dan lbh kekal yaitu istri yg shalihah yg cantik lahir
batin. Karena istri yg seperti ini akan selalu
menyertai suaminya. Bila dipandang suami ia
akan menyenangkannya. Ia tunaikan kebutuhan
suami bila suami membutuhkannya. Ia dapat
diajak bermusyawarah dlm perkara suami dan ia
akan menjaga rahasia suaminya. Bantuan kepada
suami selalu diberikan ia menaati perintah suami.
Bila suami sedang bepergian meninggalkan
rumah ia akan menjaga diri harta suami dan
anak-anaknya.
Oleh krn itu wahai para istri perhatikanlah akhlak
kepada suami dan kerabatnya. Ketahuilah akhlak
yg baik itu berat dlm timbangan nanti di hari
penghisaban dan akan memasukkan pemilik ke
dlm surga sebagaimana dikabarkan dlm hadits
berikut ini. Abud Darda` z mengabarkan bahwa
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
ﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ ﺃَﺛْﻘَﻞُ ﻓِﻲ ﻣِﻴْﺰَﺍﻥِ
ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻦِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻣِﻦْ
ﺣُﺴْﻦِ ﺍﻟْﺨُﻠُﻖِ ﻭَﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻳُﺒْﻐِﺾُ
ﺍﻟْﻔَﺎﺣِﺶَ ﺍﻟْﺒَﺬِﺉَ
“ Tidak ada sesuatu yg lbh berat dlm timbangan
seorang mukmin kelak di hari kiamat daripada
budi pekerti yg baik. Dan sungguh Allah
membenci orang yg suka berkata keji berucap
kotor/jelek.”
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata:
ﺳُﺌِﻞَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ
ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻋَﻦْ ﺃَﻛْﺜَﺮِ ﻣَﺎ
ﻳُﺪْﺧِﻞُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ، ﻗﺎَﻝَ:
ﺗَﻘْﻮَﻯ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺣُﺴْﻦُ ﺍﻟْﺨُﻠُﻖِ.
ﻭَﺳُﺌِﻞَ ﻋَﻦْ ﺃَﻛْﺜَﺮِ ﻣَﺎ ﻳُﺪْﺧِﻞُ
ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ، ﻗَﺎﻝَ: ﺍﻟْﻔَﻢُ
ﻭَﺍﻟْﻔَﺮْﺝُ
“ Rasulullah dita tentang perkara apa yg paling
banyak memasukkan orang ke dlm surga. Beliau
menjawab ‘Takwa kepada Allah dan budi pekerti
yg baik.’ Ketika dita tentang perkara yg paling
banyak memasukkan orang ke dlm neraka beliau
jawab ‘Mulut dan kemaluan’.”
Bagi para suami hendak pula memerhatikan
pergaulan dgn istri krn Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
ﺃَﻛْﻤَﻞُ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴْﻦَ ﺇِﻳْﻤَﺎﻧًﺎ
ﺃَﺣْﺴَﻨُﻬُﻢْ ﺧُﻠُﻘًﺎ، ﻭَﺧِﻴَﺎﺭُﻛُﻢْ
ﺧِﻴَﺎﺭُﻛُﻢْ ﻟِﻨِﺴَﺎﺋِﻬِﻢْ
“ Mukmin yg paling sempurna iman adl yg paling
baik akhlak dan sebaik-baik kalian adl yg paling
baik terhadap istri-istrinya.”
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
1 Kata Anas radhiyallahu ‘anhu:
ﺧَﺪَﻣْﺖُ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ
ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺗِﺴْﻊَ ﺳِﻨِﻴْﻦَ ..
“Aku berkhidmat kepada Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam selama sembilan tahun.”
2 Bu’ats adl hari yg masyhur di antara hari-hari
yg berlangsung dlm sejarah orang Arab. Pada
hari tersebut terjadi peperangan besar antara Aus
dan Khazraj. Peperangan antara kedua terus
berlangsung selama 120 tahun sampai datang
Islam. Syair yg didendangkan dua anak
perempuan tersebut berbicara tentang
peperangan dan keberanian. Sementara
keberanian diperlukan utk membantu agama ini.
Adapun nyanyian yg menyebutkan perbuatan
keji perbuatan haram dan ucapan yg mungkar
mk terlarang dlm syariat ini. Dan tdk mungkin
nyanyian seperti itu didendangkan di hadapan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau
diam tdk mengingkarinya.
3 Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengizinkan istri mendengarkan dendangan
tersebut krn hari itu bertepatan dgn hari raya .
Sementara pada hari raya diperkenankan bagi
kaum muslimin utk menampakkan kegembiraan
bahkan hal ini termasuk syiar agama selama dlm
koridor syariat tentunya. Dan hadits ini bukanlah
dalil utk menyatakan boleh bernyanyi dan
mendengarkan nyanyian baik dgn alat ataupun
tanpa alat sebagaimana anggapan kelompok Sufi.
4 Sebutan utk orang2 Habasyah
5 Tempat utk bersenang-senang.
6 Karena keindahan dan kecantikan secara lahir
krn kebagusan akhlak secara batin atau krn dia
senantiasa menyibukkan diri utk taat dan
bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
7 Dengan perkara syar’i atau perkara biasa.
8 Mengerjakan apa yg diperintahkan dan
melayaninya.

Tata cara talak...

Assalamualaikum…Mungkin pertanyaan ini
pernah diajukan sebelumnya, namun saya sangat
membutuhkan penjelasan yang jelas dan singkat
dari Ustadz Ahmad mengenai proses talak 3.
Bisakah talak 3 dijatuhkan dalam sekali ucap?
Apakah diperlukan saksi-saksi dalam melakukan
talak? Apakah talak bisa dijatuhkan suami kepada
istri hanya melalui walinya saja tanpa keberadaan
istri ? Bagaimana dalil-dalilnya?
Esa W. Fadhilla
Jawaban
Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh,
1. Talak Tiga Sekaligus. Jumhur ulama memang
mengatakan bahwa talak tiga bisa jatuh bila suami
mengatakannya tiga kali dalam satu majelis.
Contohnya, ”Kamu saya talak, kamu syaa talak,
kamu saya talak”. Maka jatuhlah talak tiga. Namun
pendapat ini bukanlah satu-satunya. Karena
ulama lain mengatakan bahwa lafaz seperti itu
tidak menjatuhkan talak tiga tapi hanya talak satu
saja. Dasarnya adalah hadits berikut:Dari Mahmud
bin Labid berkata bahwa Rasulullah SAW
menceritakan kepada kami tentang seorang yang
menceraikan istrinya talak tiga sekaligus. Lalu
Rasulullah SAW berdiri sambil marah dan
berkata, ”Apakah kitabullah dipermainkan
sementara aku masih berada di antara kamu?”
Sampai-sampai ada seorang yang berdiri dan
bertanya kepada Rasulullah SAW, ”Ya Rasul,
Bolehkah aku membunuh orang itu?”
Selain itu memang dalam Al-Quran telah
disebutkan bahwa talak itu berjenjang. “Talak itu
dua kali” sebagaimana disebutkan dalam surat Al-
Baqarah.
Kedua pendapat ini merupakan pilihan yang
masing-masingnya memiliki sejumlah dalil yang
kuat.
2. Talak Tidak Butuh Saksi. Mentalak istri adalah
sebuah pernyataan untuk melepaskan hubungan
syar’i antara suami dengan istri. Talak dilakukan
oleh suami kepada istrinya, tanpa membutuhkan
saksi atau pun hadir di depan hakim. Cukup
dilakukan dengan lafadz, ungkapan atau
pernyataan. Dan ungkapan/lafaz cerai itu ada dua
macam. Pertama lafaz yang sharih dan kedua
lafaz yang majazi . a. Lafaz sharih atau lafaz yang
jelas Di mana di dalam lafaz itu disebutkan secara
jelas kata ‘cerai’, ‘talak’ atau ‘firaq’. Bila hal ini
disebutkan, maka meski dilakukan dengan main-
main, tapi talaknya tetap jatuh.Lafaz yang sharih
misalnya, ”Aku ceraikan kamu.” Bila lafaz itu
diucapkan oleh seorang suami kepada istrinya,
maka jatuhlah talaq satu. Bahkan meski itu
dilakukan dengan main-main.
Rasulullah SAW bersabda, “Tiga hal yang main-
mainnya tetap dianggap serius, yaitu nikah, talak
dan rujuk.” Dalam lain riwayat disebutkan, “nikah,
talak dan membebaskan budak”.
b. Lafaz yang bersifat kina`i, Yaitu lafaz yang tidak
secara jelas menyebutkan salah satu dari tiga lafaz
itu. Atau lafaz yang bisa bermakna ganda.
Misalnya adalah apa yang Anda sebutkan di
atas.Seperti seroang suami berkata kepada
istrinya, ”Pulanglah kamu ke rumah orang
tuamu”. Dalam kasus seperti ini, maka yang
menjadi titik acuannya adalah niat dari suami
ketika mengucapkannya. Atau `urf yang terjadi di
negeri itu.
Misalnya, kata-kata,”Pulanglah ke rumah orang
tuamu.” Apakah lafaz ini berarti thalaq atau
bukan? Jawabannya tergantung niat atau
kebiasaan yang terjadi di masyarakat. Bila
kebiasaannya lafaz itu yang digunakan untuk
mencerai istri, maka jatuhlah thalak itu. Bila tidak,
maka tidak.
Talak kina`i ini tidak menjatuhkan talak kecuali bila
dengan niat dari pihak suami. Jadi tergantung
pada niatnya saat melafalkan lafaz kina’i itu.
3. Istri Tidak Ditemui Saat Talak Yang terpenting
istri itu tahu dan mendengar informasi bahwa
dirinya sudah ditalak suaminya. Tidak ada
persyaratan bahwa lafaz talaq itu harus diucapkan
suami langsung di depan istrinya. Talak bisa saja
disampaikan lewat tulisan atau pesan yang
dibawa seseorang kepada istri. Dan talak itu
sudah jatuh terhitung sejak suami
mengatakannya, bukan tergantung kapan istri
mengetahuinya.
wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

allah selalu bersamamu dan dekat pada kita

Salah satu bekal yg penting diberikan para orang
tua kepada anak-anak adl upaya menumbuhkan
rasa optimis pada diri anak dlm menghadapi
kehidupan yg sarat dgn problema. Cara terbaik
utk mencapai hal tersebut adl dgn mengenalkan
pada anak akan pertolongan Allah yg diberikan
kepada tiap hamba-Nya yg beriman. Anak perlu
dipahamkan bahwa bila Allah telah memberikan
pertolongan-Nya mk permasalahan seberat
apapun akan bisa diselesaikan.
Anak dgn segala keunikan yg ada pada pribadi tdk
terlepas dari permasalahan baik berkenaan dgn
diri tempat belajar ataupun orang2 di
sekelilingnya. Begitu pun sisi berat ringan
permasalahan yg dihadapi berbeda-beda antara
satu anak dgn yg lainnya. tdk jarang dijumpai
dlm keseharian anak-anak yg begitu penakut
terhadap segala sesuatu yg tdk pantas
dikhawatirkan. Semua itu terkadang membuat
orang tua berkerut dahi dgn jalan apa kira
mengatasi hal-hal semacam ini?
Jika demikian tentu sang anak membutuhkan
bekal utk menghadapi tiap problema yg
dihadapinya. Dia membutuhkan bimbingan agar
senantiasa merasakan pengawasan Rabb-
meminta hanya kepada-Nya disertai keyakinan yg
kokoh terhadap ketetapan dan takdir-Nya.
Ketika itulah selayak orang tua melihat kembali
bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menanamkan optimisme dan kebesaran jiwa
pada diri anak agar menghadapi gelombang
kehidupan ini dgn keberanian dan penuh harapan
hingga kelak mereka menjadi sesosok pribadi yg
bermanfaat bagi umat ini. Beliau pesankan kepada
putra paman Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu
‘anhuma:
ﻳَﺎ ﻏُﻼَﻡُ، ﺇِﻧِّﻲ ﺃُﻋَﻠِّﻤُﻚَ
ﻛَﻠِﻤَﺎﺕٍ. ﺍﺣْﻔَﻆِ ﺍﻟﻠﻪَ ﻳَﺤْﻔَﻈْﻚَ،
ﺍِﺣْﻔَﻆِ ﺍﻟﻠﻪَ ﺗَﺠِﺪْﻩُ ﺗُﺠَﺎﻫَﻚَ. ﺇِﺫَﺍ
ﺳَﺄَﻟْﺖَ ﻓَﺎﺳْﺄَﻝِ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﺇِﺫَﺍ
ﺍﺳْﺘَﻌَﻨْﺖَ ﻓَﺎﺳْﺘَﻌِﻦْ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ.
ﻭَﺍﻋْﻠَﻢْ ﺃَﻥَّ ﺍﻷُﻣَّﺔَ ﻟَﻮِ
ﺍﺟْﺘَﻤَﻌَﺖْ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻥْ ﻳَﻨْﻔَﻌُﻮﻙَ
ﺑِﺸَﻲْﺀٍ ﻟَﻢْ ﻳَﻨْﻔَﻌُﻮﻙَ ﺇِﻻَّ ﺑِﺸَﻲْﺀٍ
ﻗَﺪْ ﻛَﺘَﺒَﻪُ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟَﻚَ ﻭَﺇِﻥِ
ﺍﺟْﺘَﻤَﻌُﻮﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻥْ ﻳَﻀُﺮُّﻭﻙَ
ﺑِﺸَﻴْﺊٍ ﻟَﻢْ ﻳَﻀُﺮُّﻭﻙَ ﺇِﻻَّ ﺑِﺸَﻲْﺀٍ
ﻗَﺪْ ﻛَﺘَﺒَﻪُ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻚَ. ﺭُﻓِﻌَﺖِ
ﺍﻷَﻗْﻼَﻡُ ﻭَﺟَﻔَّﺖِ ﺍﻟﺼُّﺤُﻒُ. ﺭَﻭَﺍﻩُ
ﺍﻟﺘِّﺮْﻣِﺬِﻱ ﻭَﻗَﺎﻝَ: ﺣَﺪِﻳْﺚٌ ﺣَﺴَﻦٌ
ﺻَﺤِﻴْﺢٌ.
ﻭَﻓِﻲ ﺭِﻭَﺍﻳَﺔِ ﻏَﻴْﺮِ ﺍﻟﺘِّﺮْﻣِﺬِﻱ:
ﺍﺣْﻔَﻆِ ﺍﻟﻠﻪَ ﺗَﺠِﺪْﻩُ ﺃَﻣَﺎﻣَﻚَ.
ﺗَﻌَﺮَّﻑْ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠﻪِ ﻓِﻲ ﺍﻟﺮَّﺧَﺎﺀِ
ﻳَﻌْﺮِﻓْﻚَ ﻓِﻲ ﺍﻟﺸِّﺪَّﺓِ. ﻭَﺍﻋْﻠَﻢْ
ﺃَﻥَّ ﻣَﺎ ﺃَﺧْﻄَﺄَﻙَ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ
ﻟِﻴُﺼِﻴْﺒَﻚَ ﻭَﻣَﺎ ﺃَﺻَﺎﺑَﻚَ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ
ﻟِﻴُﺨْﻄِﺌَﻚَ. ﻭَﺍﻋْﻠَﻢْ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺼْﺮَ
ﻣَﻊَ ﺍﻟﺼَّﺒْﺮِ ﻭَﺃَﻥََّ ﺍﻟﻔَﺮَﺝَ ﻣَﻊَ
ﺍﻟﻜَﺮْﺏِ ﻭَﺃَﻥَّ ﻣَﻊَ ﺍﻟﻌُﺴْﺮِ ﻳُﺴْﺮًﺍ
“ Wahai anak sesungguh aku akan mengajarkan
kepadamu beberapa kalimat. Jagalah Allah niscaya
Allah akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya
engkau akan dapati Dia ada di hadapanmu.
Apabila engkau meminta mintalah kepada Allah
dan apabila engkau memohon pertolongan
mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah
seandai seluruh umat ini berkumpul utk
memberikan manfaat kepadamu mereka tdk akan
dapat memberikan kecuali apa yg telah Allah
tetapkan bagimu. Dan seandai mereka berkumpul
utk menimpakan mudharat kepadamu mereka
tdk akan dapat menimpakan kecuali apa yg telah
Allah tetapkan menimpamu. Telah diangkat pena
dan telah kering lembaran-lembaran.” .1
Dan dlm riwayat selain At-Tirmidzi: “Jagalah Allah
niscaya engkau akan dapati Dia di hadapanmu.
Kenalilah Allah dlm keadaan lapang niscaya Dia
akan mengenalimu dlm keadaan susah.
Ketahuilah sesungguh apa yg ditetapkan luput
darimu tdk akan menimpamu dan apa yg
ditetapkan menimpamu tdk akan luput darimu.
Ketahuilah pertolongan itu berrsama kesabaran
kelapangan itu bersama kesusahan dan bersama
kesulitan itu ada kemudahan.”
Inilah kalimat yg agung dan mulia dari lisan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seakan
beliau mengatakan: Jagalah batasan-batasan dan
syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn
melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi
larangan-Nya juga dgn mempelajari agama-Nya
hingga engkau dapat menunaikan ibadah dan
muamalahmu. Jagalah semua itu niscaya Dia
akan menjaga agama keluarga harta maupun
dirimu krn Allah Subhanahu wa Ta’ala
memberikan balasan kepada orang2 yg berbuat
baik atas kebaikannya. Sementara balasan yg
paling penting adl penjagaan-Nya terhadap
agamamu serta menyelamatkan dirimu dari
kesesatan.
Sebalik seseorang yg menelantarkan agama Allah
Subhanahu wa Ta’ala mk Allah Subhanahu wa
Ta’ala pun akan menelantarkan diri dan dia tdk
berhak mendapatkan penjagaan dari Allah
Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana firman-Nya:
ﻭَﻻَ ﺗَﻜُﻮْﻧُﻮﺍ ﻛَﺎﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﻧَﺴُﻮﺍ
ﺍﻟﻠﻪَ ﻓَﺄَﻧْﺴَﺎﻫُﻢْ ﺃَﻧْﻔُﺴَﻬُﻢْ
ﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻔَﺎﺳِﻘُﻮْﻥَ
“ Dan janganlah kalian seperti orang2 yg
melupakan Allah sehingga Allah jadikan mereka
lupa pada diri mereka sendiri. Mereka itulah
orang2 yg fasik.”
Pesan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini
juga memberikan pelajaran pada seorang anak
utk meminta ataupun memohon pertolongan
hanya kepada Allah semata tdk meminta kepada
makhluk. Karena Dialah yg memiliki kerajaan
langit dan bumi. Namun tdk terlarang utk
meminta pertolongan kepada makhluk pada hal-
hal yg mampu dia lakukan. Kalaupun dia harus
meminta sesuatu atau mencari pertolongan
kepada makhluk mk sesungguh makhluk itu
hanyalah sebab dan Allahlah yg menciptakan
sebab hingga kepada-Nyalah harus bersandar.
Demikian pula segala kebaikan yg diberikan dan
bahaya yg ditimpakan oleh makhluk semua telah
ditetapkan oleh Allah. Namun bukan berarti
seseorang tdk diperkenankan utk menolak bahaya
dari diri krn Allah Subhanahu wa Ta ’ala berfirman:
ﻭَﺟَﺰَﺍﺀُ ﺳَﻴِّﺌَﺔٍ ﺳَﻴِّﺌَﺔٌ ﻣِﺜْﻠُﻬَﺎ
“ Dan balasan kejelekan itu adl kejelekan yg
semisal.”
Oleh krn itu seorang hamba harus
menggantungkan harapan kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala dan tdk berpaling sedikit
pun kepada makhluk krn makhluk tdk memiliki
kekuasaan sedikit pun utk memberi manfaat
maupun menimpakan bahaya.
Begitu pun nasihat ini berisi anjuran utk
menunaikan hak Allah di saat lapang sehat dan
berkecukupan niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala
akan mengenali ketika berada dlm kesusahan
hingga Dia ringankan penderitaan menolong dan
menghilangkan kesusahan itu.
Ditemui pula pengajaran pada sang anak bahwa
apa pun yg ditetapkan akan menimpa tdk akan
dapat ditolak. Dan apa pun yg tdk ditetapkan tdk
akan bisa diraih krn Allah telah menetapkan
semua itu.
Di dlm nasihat ini juga terdapat anjuran agar
bersabar utk memperoleh pertolongan.
Kesabaran ini mencakup sabar utk taat kepada
Allah sabar dlm menjauhi maksiat kepada Allah
dan sabar di atas ketetapan Allah yg
‘menyakitkan’ . Inilah kabar gembira bagi orang
yg bersabar krn pertolongan akan mengiringi
kesabaran. Inilah kabar gembira bahwa
kelapangan itu mengiringi kesusahan. Hendak
pula ketika ditimpa kesulitan seorang hamba
bersandar diri kepada Allah dgn menanti-nantikan
kemudahan dari Allah serta membenarkan janji
Allah krn Allah telah mengatakan di dlm Kitab-Nya
yg mulia:
ﻓَﺈِﻥَّ ﻣَﻊَ ﺍﻟْﻌُﺴْﺮِ ﻳُﺴْﺮًﺍ. ﺇِﻥَّ
ﻣَﻊَ ﺍﻟْﻌُﺴْﺮِ ﻳُﺴْﺮًﺍ
“ Maka sesungguh bersama kesulitan itu ada
kemudahan. Sesungguh bersama kesulitan itu
ada kemudahan.” (Dirangkum dari Syarh Al-
Arba’in An-Nawawiyyah Asy-Syaikh Ibnu
‘Utsaimin rahimahullah2)
Di waktu yg lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam memberikan nasihat yg diriwayatkan oleh
Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:
ﺍﻟﻤُﺆْﻣِﻦُ ﺍﻟﻘَﻮِﻱ ﺧَﻴْْﺮٌ ﻭَﺃَﺣَﺐُّ
ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠﻪِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻤُﺆْﻣِﻦِِ ﺍﻟﻀَﻌِﻴْﻒِ.
ﻭَﻓِﻲ ﻛُﻞٍّ ﺧَﻴْﺮٌ. ﺍِﺣْﺮِﺹْ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎ
ﻳَﻨْﻔَﻌُﻚَ ﻭَﺍﺳْﺘَﻌِﻦْ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻭَﻻَ
ﺗَﻌْﺠِﺰْ. ﻭَﺇِﻥْ ﺃَﺻَﺎﺑَﻚَ ﺷَﻲْﺀٌ ﻓَﻼَ
ﺗَﻘُﻞْ: ﻟَﻮْ ﺃَﻧِّﻲ ﻓَﻌَﻠْﺖُ ﻛَﺎﻥَ ﻛَﺬَﺍ
ﻭَﻛَﺬَﺍ. ﻭَﻟَﻜِﻦْ ﻗُﻞْ: ﻗَﺪَﺭُ ﺍﻟﻠﻪِ
ﻭَﻣَﺎ ﺷَﺎﺀَ ﻓَﻌَﻞَ. ﻓَﺈِﻥَّ ﻟَﻮْ ﺗَﻔْﺘَﺢُ
ﻋَﻤَﻞَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ
“ Seorang mukmin yg kuat lbh baik dan lbh
dicintai oleh Allah daripada mukmin yg lemah dan
pada masing-masing dari kedua ada kebaikan.
Bersemangatlah utk melakukan apa yg
bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan
kepada Allah serta jangan merasa lemah. Apabila
engkau ditimpa sesuatu janganlah mengatakan
‘Seandai aku dulu melakukan begini dan begini’
namun katakanlah ‘Ini adl takdir Allah dan apa pun
yg Allah kehendaki pasti Allah lakukan’ krn ucapan
‘seandainya’ itu membuka amalan setan.”
Yang dimaksud dgn kuat dlm ucapan Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini adl jiwa yg kokoh
dan bersemangat terhadap perkara akhirat.
Sehingga orang yg seperti ini menjadi orang yg
paling pemberani terhadap musuh paling cepat
bertolak ke medan jihad paling teguh dlm
memerintahkan orang lain pada kebaikan dan
mencegah dari kemungkaran dan bersabar dlm
menempuh semua itu serta tabah dlm
menempuh kesusahan krn mengharap Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Dia pun menjadi orang yg
paling senang menunaikan shalat puasa dzikir
maupun seluruh ibadah bersemangat pula utk
menjalankan dan menjaganya. Akan tetapi baik
orang yg kuat maupun orang yg lemah memiliki
kebaikan krn mereka sama-sama beriman juga
krn ibadah yg dilakukan oleh orang yg lemah itu.
Dianjurkan pula oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam utk bersemangat dlm berbuat ketaatan
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan
menginginkan apa yg ada di sisi-Nya serta
memohon pertolongan kepada-Nya utk
mendapatkan itu semua. Hendak seorang hamba
tdk merasa lemah dan malas utk mencari amalan
ketaatan dan memohon pertolongan dari-Nya.
Inilah yg semesti tergambar dlm sosok pribadi
seorang anak. tdk ada salah bila suatu ketika
orang tua menuturkan kisah-kisah dari Al-Qur’an
dan As-Sunnah tentang perjalanan hidup orang2
yg Allah Subhanahu wa Ta’ala beri kemuliaan yg
sarat dgn optimisme dan keyakinan kepada Rabb-
nya. Karena anak senang dgn cerita dan biasa
berbekas dlm jiwanya. Salah satu dituturkan oleh
Shuhaib bin Sinan radhiallahu ‘anhu3 dari apa yg
disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam:
Dulu hidup seorang raja yg memiliki seorang
tukang sihir. Ketika usia tukang sihir itu telah
menua ia berkata kepada sang raja “Sesungguh
aku ini telah tua mk utuslah padaku seorang
pemuda yg dapat kuajari sihir.” Lalu raja pun
mengirim seorang pemuda utk diajari sihir. Di
tengah jalan yg biasa dilalui pemuda itu menuju
tukang sihir ada seorang rahib. Pemuda itu
singgah duduk dan mendengarkan ucapan sang
rahib. Dia pun merasa takjub. mk demikianlah bila
dia mendatangi tukang sihir dia melewati rahib
lalu duduk di hadapannya. Bila tiba di hadapan
tukang sihir tukang sihir itu pun memukulnya. Dia
adukan hal itu kepada rahib. Si rahib menjawab
“Kalau engkau khawatir terhadap tukang sihir
katakan pada ‘Keluargaku menahanku’ dan kalau
engkau khawatir terhadap keluargamu katakan
‘Tukang sihir menahanku’.”
Demikian terus berlangsung sampai suatu saat
muncul seekor binatang besar yg menghalangi
jalan manusia. Pemuda itu berkata “Pada hari ini
aku akan mengetahui apakah tukang sihir yg lbh
utama ataukah rahib.” Lalu diambil sebuah batu
sambil berkata “Ya Allah bila ajaran rahib lbh
Engkau cintai daripada ajaran tukang sihir
matikanlah binatang ini hingga manusia dapat
lewat kembali.” Dilempar binatang itu hingga akhir
mati dan orang2 pun dapat melewati jalan itu lagi.
Kemudian dia datang kepada rahib dan
menceritakan apa yg terjadi. Mendengar itu rahib
berkata “Wahai anakku sekarang engkau lbh
utama daripadaku engkau telah mencapai
kedudukan sebagaimana yg kulihat dan nanti
engkau akan diuji. Jika engkau mendapatkan ujian
jangan sekali-kali menunjuk padaku.”
Pemuda itu pun dapat mengobati orang yg buta
sejak lahir orang yg berpenyakit sopak ataupun
segala penyakit. Hal itu didengar oleh seorang
pendamping raja yg buta. Dia pun mendatangi
pemuda itu dgn membawa banyak hadiah lalu
berkata “Semua yg di hadapanmu ini menjadi
milikmu kalau engkau bisa menyembuhkanku.” Si
pemuda menjawab “Aku tdk bisa
menyembuhkan seorang pun yg
menyembuhkan hanyalah Allah. Kalau engkau
beriman kepada Allah aku akan berdoa agar Allah
menyembuhkanmu.” Pendamping raja itu pun
beriman dan Allah pun menyembuhkannya.
Pendamping raja itu kembali duduk di sisi raja
sebagaimana biasanya. Sang raja berta “Siapa yg
menyembuhkan penglihatanmu?” “Rabbku”
jawab pendamping raja. “Apakah engkau punya
rabb selain aku?” ta raja lagi. “Rabbku dan
Rabbmu adl Allah” jawabnya.
Sang raja pun menangkap dan terus-menerus
menyiksa sampai akhir pendamping raja itu
menunjukkan si pemuda. Didatangkanlah
pemuda itu dan dia mengatakan “Sesungguh aku
tdk dapat menyembuhkan seorang pun yg
menyembuhkan hanyalah Allah.” Mendengar itu
raja segera menangkap dan terus-menerus
menyiksa sampai pemuda itu menunjukkan si
rahib. Didatangkan pula si rahib dan dikatakan
pada “Keluar dari agamamu!” Rahib itu menolak.
Raja meminta sebilah gergaji lalu digergajilah
tepat di tengah-tengah kepala rahib hingga
terbelah dua badannya. Kemudian didatangkan
pendamping raja dan dikatakan pula “Keluar dari
agamamu!” Akan tetapi dia menolak hingga
digergaji tepat di tengah kepala sampai terbelah
dua badannya.
Setelah itu didatangkan si pemuda dan dikatakan
juga pada “Keluar dari agamamu!” Dia pun
menolak hingga raja menyerahkan pada para
pengawal “Bawa dia naik ke gunung. Kalau kalian
telah sampai di puncak tawarkanlah kalau dia mau
keluar dari agamanya. Kalau tdk lemparkan dia!”
Mereka membawa pemuda itu naik ke gunung.
Pemuda itu berdoa “Ya Allah selamatkanlah aku
dari mereka dgn cara yg Engkau kehendaki.”
Tiba-tiba gunung itu bergoncang dahsyat hingga
para pengawal itu berjatuhan dari atas gunung.
Pulanglah pemuda itu dgn berjalan kaki ke
hadapan raja. Raja pun berta heran “Apa yg
mereka lakukan?” Jawab pemuda itu “Allah
menyelamatkanku dari mereka.”
Kemudian raja kembali menyerahkan pada
pengawal “Bawalah dia dgn perahu hingga ke
tengah lautan lalu tawarkan kalau dia mau keluar
dari agamanya. Kalau tdk lemparkan dia ke
lautan.” Mereka pun membawa ke tengah lautan.
Pemuda itu lalu berdoa “Ya Allah selamatkan aku
dari mereka dgn cara yg Engkau kehendaki.”
Tiba-tiba perahu itu terbalik hingga para pengawal
raja tenggelam. Pemuda itu pulang ke hadapan
raja dgn berjalan kaki. Raja berta lagi “Apa yg
mereka lakukan?” Pemuda itu menjawab “Allah
menyelamatkanku dari mereka.”
Pemuda itu berkata lagi “Sesungguh engkau tdk
akan dapat membunuhku sampai engkau
laksanakan saranku.” “Apa itu?” ta raja. “Engkau
kumpulkan manusia di sebuah tanah lapang dan
engkau salib aku pada sebatang pohon. Lalu
ambil sebuah anak panah dari tempat anak
panahku dan letakkan di busur. Kemudian
ucapkan ‘Dengan nama Allah Rabb pemuda ini’
lalu panahlah. Kalau engkau lakukan ini engkau
akan bisa membunuhku.”
Raja segera mengumpulkan manusia di suatu
tanah lapang dan menyalib pemuda itu pada
sebatang pohon. Lalu diambil anak panah dari
tempat kemudian diletakkan di busur sambil
berkata “Dengan nama Allah Rabb pemuda ini.”
Dilontarkan anak panah tepat mengenai dahi
pemuda itu. Pemuda itu pun meletakkan tangan
di dahi di tempat sasaran anak panah lalu
meninggal.
Menyaksikan hal itu manusia pun berkata “Kami
beriman kepada Rabb pemuda itu! Kami beriman
kepada Rabb pemuda itu! Kami beriman kepada
Rabb pemuda itu!”
Disampaikanlah kepada raja “Tidakkah engkau
melihat apa yg engkau khawatirkan? Demi Allah
sungguh telah terjadi apa yg engkau takutkan.
Manusia telah beriman.” mk raja memerintahkan
utk dibuat parit besar di tiap pintu kota dan
dinyalakan api di dalamnya. Raja berkata
“Barangsiapa yg tdk mau keluar dari agama
lempar dan bakar dia di dalamnya!” Perintah itu
pun segera dilaksanakan.
Suatu ketika datang seorang wanita membawa
anak yg masih kecil. Dia merasa bimbang utk
masuk ke dlm api. Tiba-tiba berucaplah sang anak
“ Bersabarlah wahai ibu sesungguh engkau di atas
kebenaran.”
Inilah di antara banyak kisah yg memberikan
gambaran tentang keadaan seorang mukmin yg
senantiasa bersandar kepada Allah utk
mendapatkan jalan keluar dari permasalahannya.
Semogalah tuturan ini memberikan bekas
kebaikan yg tertanam dlm jiwa anak-anak.
Wallahu a ’lamu bish shawab.

Tuesday, 8 March 2011

Bukti begadang dapat merusak organ tubuh kita...

Para dokter di National Taiwan
Hospital baru-baru ini mengejutkan
dunia kedokteran karena
ditemukannya kasus seorang
dokter muda berusia 37 tahun
yang selama ini sangat
mempercayai hasil pemeriksaan
fungsi hati (GOT,GPT), tetapi
ternyata saat menjelang Hari Raya
Imlek diketahui positif menderita
kanker hati sepanjang 10 cm!
Selama ini hampir semua orang
sangat bergantung pada hasil
indeks pemeriksaan fungsi hati
(Liver Function Index).
Mereka menganggap bila
pemeriksaan menunjukkan hasil
index yang normal berarti semua
OK. Kesalahpahaman macam ini
ternyata juga dilakukan oleh
banyak dokter spesialis. Benar-
benar mengejutkan, para dokter
yang seharusnya memberikan
pengetahuan yang benar pada
masyarakat umum, ternyata
memiliki pengetahuan yang tidak
benar.
Pencegahan kanker hati harus
dilakukan dengan cara yang
benar. Tidak ada jalan lain kecuali
mendeteksi dan mengobatinya
sedini mungkin, demikian kata
dokter Hsu Chin Chuan. Tetapi
ironisnya, ternyata dokter yang
menangani kanker hati juga bisa
memiliki pandangan yang salah,
bahkan menyesatkan
masyarakat, inilah penyebab
terbesar kenapa kanker hati sulit
untuk disembuhkan.
Penyebab utama kerusakan hati
adalah:
1. Tidur terlalu malam dan bangun
terlalu siang adalah penyebab
paling utama
2. Tidak buang air di pagi hari
3. Pola makan yang tidak
beraturan
4. Tidak makan pagi
5. Terlalu banyak mengkonsumsi
obat-obatan
6. Terlalu banyak mengkonsumsi
bahan pengawet, zat tambahan,
zat pewarna, pemanis buatan
7. Minyak goreng yang tidak
sehat! Sedapat mungkin kurangi
penggunaan minyak goreng saat
menggoreng makanan hal ini juga
berlaku meski menggunakan
minyak goreng terbaik sekalipun
seperti olive oil. Jangan
mengkonsumsi makanan yang
digoreng bila kita dalam kondisi
penat, kecuali dalam kondisi tubuh
yang fit
8. Mengkonsumsi masakan
mentah (sangat matang) juga
menambah beban hati. Sayur
mayur dimakan mentah atau
dimasak matang 3/ 5 bagian.
Sayur yang digoreng harus
dimakan habis saat itu juga,
jangan disimpan
Kita harus melakukan pencegahan
dengan tanpa mengeluarkan
biaya tambahan. Cukup atur gaya
hidup dan pola makanan sehari-
hari. Perawatan dari pola makan
dan kondisi waktu sangat
diperlukan agar tubuh kita dapat
melakukan penyerapan dan
pembuangan zat-zat yang tidak
berguna sesuai dengan jadwalnya.
Sebab:
Malam hari pk 21.00 – 23.00:
Adalah pembuangan zat-zat tidak
berguna / beracun (de-toxin) di
bagian sistem antibodi (kelenjar
getah bening). Selama durasi
waktu ini seharusnya dilalui
dengan suasana tenang atau
mendengarkan musik. Bila saat itu
seorang ibu rumah tangga masih
dalam kondisi yang tidak santai
seperti misalnya mencuci piring
atau mengawasi anak belajar, hal
ini dapat berdampak negatif bagi
kesehatan.
Malam hari pk 23.00 - dini hari pk
01.00:
Saat proses de-toxin di bagian
hati, harus berlangsung dalam
kondisi tidur pulas
Dini hari pk 01.00 – 03.00:
Proses de-toxin di bagian empedu,
juga berlangsung dalam kondisi
tidur
Dini hari pk 03.00 – 05.00:
De-toxin di bagian paru-paru.
Sebab itu akan terjadi batuk yang
hebat bagi penderita batuk selama
durasi waktu ini. Karena proses
pembersihan (de-toxin) telah
mencapai saluran pernafasan,
maka tak perlu minum obat batuk
agar supaya tidak merintangi
proses pembuangan kotoran
Pagi pk 05.00 – 07.00:
De-toxin di bagian usus besar,
harus buang air di kamar kecil.
Pagi pk 07.00 – 09.00:
Waktu penyerapan gizi makanan
bagi usus kecil, harus makan pagi.
Bagi orang yang sakit sebaiknya
makan lebih pagi yaitu sebelum
pk 6:30. Makan pagi sebelum pk
7:30 sangat baik bagi mereka
yang ingin menjaga
kesehatannya.
Bagi mereka yang tidak makan
pagi harap merubah
kebiasaannya ini, bahkan masih
lebih baik terlambat makan pagi
hingga pk 9-10 daripada tidak
makan sama sekali.
Tidur terlalu malam dan bangun
terlalu siang akan mengacaukan
proses pembuangan zat-zat tidak
berguna.
Selain itu, dari tengah malam
hingga pukul 04.00 dini hari
adalah waktu bagi sumsum tulang
belakang untuk memproduksi
darah.
Sebab itu, tidurlah yang nyenyak
dan jangan begadang!. Kecuali
karna ada hal - hal yang sangat
penting dan asal jangan dibiasakan

mulia dengan mengucap salam

"Ada apa sih Kak?” Umar tiba-tiba
menarik kedua tangan adiknya,
hingga posisinya berubah dari
posisi duduk bersila menjadi tegak
berdiri.
“ Saatnya kita beraksi, Nif!” Umar
memaksa Hanif berjalan keluar.
“ Ke mana?” Hanif nampaknya
keberatan meninggalkan acara
televisi favoritnya yang hanya
tayang tiap Ahad pagi.
Umar tersenyum dan menjawab,
“ Aku ingin traktir makanan
favoritmu, Bakso!” Hanif pun
tersenyum lebar.
Sesampainya di Pasar, Hanif
menggerutu, karena diajak
berkeliling pasar dahulu dan tidak
langsung menuju Warung Bakso
Sapi halal langganan mereka.
“Assalamu’alaykum
Warohmatullaah,” ucap Umar tiap
melewati orang-orang yang
mereka jumpai, dan disambut
salam serupa atau terkadang
dijawab lebih panjang oleh orang
yang ia salami. Beberapa kali,
Umar mengiringi salamnya
dengan menjabat tangan. Karena
tidak ingin membuat adiknya
jengkel, setelah berkeliling
memutari pasar, Umar
menghentikan ‘aksi salamnya’ dan
segera menuju ke warung bakso.
“ Kak Umar kurang kerjaan!”
gerutu Hanif, ketika mereka sudah
sampai di warung bakso.
“ Siapa bilang? Aku melakukan
yang disunnahkan oleh Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam,
menyebarkan salam biar jadi
orang mulia. Daripada nonton
televisi yang nggak jelas? Udahlah,
Hanif mau Bakso kan ?”
Umar memang kakak teladan,
selalu mensyiarkan syariat islam
dengan unik, apalagi dengan adik
kecilnya yang baru berumur enam
tahun. Di satu sisi Ia tidak ingin
mengganggu hari libur adiknya,
namun di sisi lain ia tidak tega
melihat adiknya terus diracuni
tayangan televisi yang tidak
bermanfaat. Maka, Ia pun
mengalihkan liburan adiknya ke
sesuatu yang lebih bermanfaat;
menyebarkan salam. Sebenarnya
yang dilakukan Umar adalah
teladan dari sahabat Abdullah bin
Umar. Suatu hari, Thufail Bin Ubay
Bin Ka ’ab datang lagi ke rumah
Abdullah Bin Umar, dan diajak lagi
ke pasar. Maka Thufail bertanya,
” Perlu apa kita ke pasar? Kamu
sendiri bukanlah seorang
pedagang dan tidak ada
kepentingan menanyakan harga
barang atau menawar barang.
Lebih baik bila kita duduk
bercengkerama di sini ”. Abdullah
Bin Umar menjawab, ”Hai Abu
Bathn! Sebenarnya kita pergi ke
pasar hanya untuk
memasyarakatkan salam. Kita
beri salam kepada siapa saja yang
kita temui di sana !” (HR. Malik
dalam kitab Al Muwatha’ dengan
sanad shahih).
Hukum mengucapkan salam
adalah sunnah yang amat
dianjurkan (sunnah mu ’akadah).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, ”Jika seseorang
di antara kalian berjumpa dengan
saudaranya, maka hendaklah
memberi salam kepadanya. Jika
antara dia dan saudaranya
terhalang pepohonan, dinding atau
bebatuan; kemudian mereka
berjumpa kembali, maka ucapkan
salam kepadanya ” (HR. Abu Daud).
Sedangkan hukum menjawab
salam adalah wajib. Sebagaimana
firman Allah Ta ’ala (yang artinya),
“Apabila kamu dihormati dengan
suatu penghormatan, maka
balaslah yang lebih baik atau
balaslah dengan yang serupa.
Sesungguhnya Allah
memperhitungkan segala
sesuatu ” (QS. An Nisaa’[4]: 86).
Adab dalam mengucapkan salam
pun perlu diperhatikan.
Adab Pertama:
Urutan salam yang disabdakan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam dalam hadits Riwayat
Bukhary adalah sebagai
berikut:Orang yang berkendaraan
memberi salam kepada yang
berjalanOrang yang berjalan
memberi salam kepada orang
yang dudukRombongan yang
sedikit memberi salam kepada
rombongan yang lebih banyak
Yang kecil (muda) memberi salam
kepada yang besar (tua)
Adab Kedua:
Adab salam kedua adalah
mendahului salam. Terlepas dari
urutan dalam memberi salam,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam mengajarkan untuk
mendahului dalam memberi
salam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam mengajarkan, justru
yang memulai salam itulah orang
yang lebih mulia.
Sabdanya, ”Seutama-utama
manusia bagi Allah adalah yang
mendahului salam ” (HR. Abu Daud
dan Tirmidzi). Seseorang pernah
bertanya kepada Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Ya
Rasulullah, jika dua orang bertemu
muka, manakah di antara
keduanya yang harus terlebih
dahulu memberi salam ?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam menjawab, ”Yang lebih
dekat kepada Allah (yang berhak
terlebih dahulu memberi
salam )” (HR. Tirmidzi).
Adab Ketiga:
Adab salam ketiga adalah
menjawab setara atau Lebih.
Apabila ada seseorang yang
memberi salam kepada kita, maka
idealnya kita memberikan
jawaban yang sama (setara).
Misalkan seseorang mengucapkan
salam kepada kita, ”Assalaamu
‘alaikum warahmatuulaah!”
Minimal kita harus menjawab,
” Wa’alaikumussalaam
warahmatullaah!”
Adab Keempat:
Adab salam keempat adalah
menjabat tangan. Selain
mengucapkan salam, akhlaq yang
indah (karimah) bagi seorang
Muslim ketika bertemu dengan
saudaranya adalah menjabat
tangannya dengan hangat.
Seseorang bertanya kepada
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
salam, ”Wahai Rasulullah, jika
seseorang dari kami bertemu
dengan saudaranya atau
temannya apakah harus
menunduk-nunduk ?” Jawab
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam, ”Tidak!” Tanyanya,
”Apakah harus merangkul
kemudian menciumnya?” Jawab
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam, ”Tidak!” Tanyanya sekali
lagi, ”Apakah meraih tangannya
kemudian menjabatnya?” Jawab
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam, Ya!” (HR. Muslim).
Selain memiliki nilai kehangatan
dan persahabatan (ukhuwwah),
jabatan tangan juga akan
menghapus dosa di antara kedua
muslim yang melakukannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, ”Tidaklah dua
orang Muslim yang bertemu
kemudian berjabat tangan kecuali
Allah akan mengampuni dosa
keduanya sampai mereka
melepaskan jabatan
tangannya ” (HR. Abu Daud). Yang
tetap perlu diperhatikan
hendaklah lelaki tidak berjabat-
tangan dengan wanita yang
bukan mahromnya; demikian pula
sebaliknya.
Adab Kelima:
Adab salam kelima adalah
berwajah manis dan tidak
memalingkan wajah. Sabda
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam, ”Jangan kalian
meremehkan kebaikan sedikit
pun, meskipun hanya wajah yang
manis saat bertemu dengan
saudaramu ” (HR. Bukhari). Yang
dimaksud berwajah manis adalah
penampilan yang menyenangkan
serta senyum yang mengembang.
Tentu saja, ketika mengucapkan
salam, diusahakan menatap wajah
yang disalaminya.
Makna salam adalah do’a seorang
Muslim kepada saudaranya
seiman. Kata “Assalaamu ‘alaikum
warahmatullaahi wabarakaatuh”
mempunyai makna “Semoga
seluruh keselamatan, rahmat dan
berkah dianugerahkan Allah
kepada kalian ”. Nilai do’a dalam
kandungan salam ini menjadi salah
satu dasar mengapa salam tidak
dapat diberikan kepada orang-
orang non Muslim.
Do ’a seorang muslim kepada non
muslim adalah do’a supaya
mereka mendapat petunjuk
masuk dalam pangkuan Islam.
Demikianlah do ’a Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
kepada orang non muslim, ”Ya
Allah berilah petunjuk kepada
kaumku, karena sesungguhnya
mereka orang yang tidak
mengerti ” (Sirah Nabawiyah, Abul
Hasan ali An Nadwi).

jilbab lebih menjaga dirimu ...

Segala puji bagi Allah, Rabb
semesta alam. Shalawat dan
salam kepada Nabi kita
Muhammad, keluarga dan
sahabatnya.
Jilbab, apa sih manfaatnya?
Banyak wanita yang menanya-
nanyakan hal ini karena ia belum
mendapat hidayah untuk
mengenakannya. Berikut ada
sebuah ayat dalam Kitabullah
yang disebut dengan "Ayat Hijab".
Ayat ini sangat bagus sekali untuk
direnungkan. Moga kita bisa
mendapatkan pelajaran dari ayat
tersebut dari para ulama tafsir.
Semoga dengan ini Allah
membuka hati para wanita yang
memang belum mengenakannya
dengan sempurna.
Allah Ta ’ala berfirman,
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﻗُﻞْ ﻟِﺄَﺯْﻭَﺍﺟِﻚَ ﻭَﺑَﻨَﺎﺗِﻚَ ﻭَﻧِﺴَﺎﺀِ
ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻳُﺪْﻧِﻴﻦَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻦَّ ﻣِﻦْ ﺟَﻠَﺎﺑِﻴﺒِﻬِﻦَّ
ﺫَﻟِﻚَ ﺃَﺩْﻧَﻰ ﺃَﻥْ ﻳُﻌْﺮَﻓْﻦَ ﻓَﻠَﺎ ﻳُﺆْﺫَﻳْﻦَ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪُ
ﻏَﻔُﻮﺭًﺍ
“ Hai Nabi, katakanlah kepada
isteri-isterimu, anak-anak
perempuanmu dan isteri-isteri
orang mukmin: "Hendaklah
mereka mengulurkan jilbabnya ke
seluruh tubuh mereka". Yang
demikian itu supaya mereka lebih
mudah untuk dikenal, karena itu
mereka tidak di ganggu. Dan Allah
adalah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang. ” (QS. Al Ahzab:
59)
Apa Itu Jilbab?
Ibnu Katsir rahimahullah
menerangkan bahwa jilbab adalah
pakaian atas (rida ’)[1] yang
menutupi khimar. Demikian yang
dikatakan oleh Ibnu Mas ’ud,
‘Ubaidah, Al Hasan Al Bashri, Sa’id
bin Jubair, Ibrahim An Nakho’i, dan
‘Atho’ Al Khurosaani. Untuk saat ini,
jilbab itu semisal izar (pakaian
bawah). Al Jauhari berkata bahwa
jilbab adalah “mulhafah” (kain
penutup).[2]
Asy Syaukani rahimahullah
berkata bahwa jilbab adalah
pakaian yang ukurannya lebih
besar dari khimar.[3] Ada ulama
yang katakan bahwa jilbab adalah
pakaian yang menutupi seluruh
badan wanita. Dalam hadits shahih
dari ‘Ummu ‘Athiyah, ia berkata,
“Wahai Rasulullah, salah seorang di
antara kami tidak memiliki jilbab.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
lantas bersabda,
ﻟِﺘُﻠْﺒِﺴْﻬَﺎ ﺃُﺧْﺘُﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﺟِﻠْﺒَﺎﺑِﻬَﺎ
“ Hendaklah saudaranya
mengenakan jilbab untuknya.”[4]
Al Wahidi mengatakan bahwa
pakar tafsir mengatakan, “Yaitu
hendaklah ia menutupi wajah dan
kepalanya kecuali satu mata
saja. ”[5]
Ibnul Jauzi rahimahullah dalam
Zaadul Masiir memberi keterangan
mengenai jilbab. Beliau nukil
perkataan Ibnu Qutaibah, di mana
ia memberikan penjelasan,
“ Hendaklah wanita itu
mengenakan rida’nya (pakaian
atasnya).” Ulama lainnya berkata,
“Hendaklah para wanita menutup
kepala dan wajah mereka, supaya
orang-orang tahu bahwa ia adalah
wanita merdeka (bukan
budak). ”[6]
Syaikh As Sa’di rahimahullah
menerangkan bahwa jilbab adalah
mulhafah (kain penutup atas),
khimar, rida ’ (kain penutup badan
atas) atau selainnya yang
dikenakan di atas pakaian.
Hendaklah jilbab tersebut
menutupi diri wanita itu, menutupi
wajah dan dadanya.[7]
Kesimpulan mengenai maksud
jilbab dan khimar, silakan lihat
gambar www.muslimah.or.id [8]
berikut ini.
Mengenakan Jilbab, Ciri-Ciri Wanita
Merdeka
Dalam ayat yang kita kaji saat ini,
Allah Ta ’ala memerintahkan
kepada Rasul-Nya shallallahu
‘ alaihi wa sallam agar
memerintahkan para wanita
mukminat —khususnya para istri
dan anak perempuan Nabi karena
kemuliaan mereka —yaitu supaya
mereka mengulurkan jilbabnya.
Tujuannya adalah untuk
membedakan antara para wanita
jahiliyah dan para budak wanita.
[9]
As Sudi rahimahullah mengatakan,
“Dahulu orang-orang fasik di
Madinah biasa keluar di waktu
malam ketika malam begitu gelap
di jalan-jalan Madinah. Mereka
ingin menghadang para wanita.
Dahulu orang-orang miskin dari
penduduk Madinah mengalami
kesusahan. Jika malam tiba para
wanita (yang susah tadi) keluar ke
jalan-jalan untuk memenuhi hajat
mereka. Para orang fasik sangat
ingin menggoda para wanita tadi.
Ketika mereka melihat para
wanita yang mengenakan jilbab,
mereka katakan, “Ini adalah
wanita merdeka. Jangan sampai
menggagunya. ” Namun ketika
mereka melihat para wanita yang
tidak berjilbab, mereka katakan,
“ Ini adalah budak wanita. Mari kita
menghadangnya.”
Mujahid rahimahullah berkata,
“ Hendaklah para wanita
mengenakan jilbab supaya
diketahui manakah yang
termasuk wanita merdeka. Jika
ada wanita yang berjilbab, orang-
orang yang fasik ketika bertemu
dengannya tidak akan
menyakitinya.”[10]
Penjelasan para ulama di atas
menerangkan firman Allah
mengenai manfaat jilbab,
ﺫَﻟِﻚَ ﺃَﺩْﻧَﻰ ﺃَﻥْ ﻳُﻌْﺮَﻓْﻦَ
“ Yang demikian itu supaya
mereka lebih mudah untuk
dikenal. ” (QS. Al Ahzab: 59)
Asy Syaukani rahimahullah
menerangkan, “Ayat (yang
artinya), ” Yang demikian itu
supaya mereka lebih mudah
untuk dikenal ”, bukanlah yang
dimaksud supaya salah satu di
antara mereka dikenal, yaitu siapa
wanita itu. Namun yang
dimaksudkan adalah supaya
mereka dikenal, manakah yang
sudah merdeka, manakah yang
masih budak. Karena jika mereka
mengenakan jilbab, itu berarti
mereka mengenakan pakaian
orang merdeka. ”[11]
Inilah yang membedakan
manakah budak dan wanita
merdeka dahulu. Hal ini
menunjukkan bahwa wanita yang
tidak berjilbab berarti masih
menginginkan status dirinya
sebagai budak. Hanya Allah yang
beri taufik.
Mengenakan Jilbab Lebih Menjaga
Diri
Mengenai ayat,
ﺫَﻟِﻚَ ﺃَﺩْﻧَﻰ ﺃَﻥْ ﻳُﻌْﺮَﻓْﻦَ ﻓَﻠَﺎ ﻳُﺆْﺫَﻳْﻦَ
“ Yang demikian itu supaya
mereka lebih mudah untuk
dikenal, karena itu mereka tidak di
ganggu. ” (QS. Al Ahzab: 59)
Syaikh As Sa’di rahimahullah
berkata, “Ayat di atas
menunjukkan, orang yang tidak
mengenakan jilbab akan lebih
mudah digoda. Karena jika
seorang wanita tidak berjilbab,
maka orang-orang akan mengira
bahwa ia bukanlah wanita ‘afifaat
(wanita yang benar-benar
menjaga diri atau
kehormatannya). Akhirnya orang
yang punya penyakit dalam
hatinya muncul hal yang bukan-
bukan, lantas mereka pun
menyakitinya dan
menganggapnya rendah seperti
anggapan mereka itu budak.
Akhirnya orang-orang yang ingin
berlaku jelek
merendahkannya. ”[12]
Allah Maha Pengampun
Di akhir ayat, Allah Ta ’ala katakan,
ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻏَﻔُﻮﺭًﺍ
“ Dan Allah adalah Maha
Pengampun lagi Maha
Penyayang. ” (QS. Al Ahzab: 59).
Ibnu Katsir rahimahullah berkata,
"Allah Maha Pengampun dan
Penyayang terhadap apa yang
telah lalu di masa-masa jahiliyah,
di mana ketika itu mereka (para
wanita) tidak memiliki ilmu akan
hal ini."[13]
Artinya, bagi wanita yang belum
mengenakan jilbab, Allah masih
membuka pintu taubat selama
nyawa masih dikandung badan,
selama malaikat maut belum
datang di hadapannya.
Jangan Lupa untuk Dakwahi
Keluarga
Dakwahi keluarga untuk berjilbab
dan menutup aurat, itu yang
seharusnya jadi skala prioritas.
Lihatlah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam saja diperintahkan untuk
memulainya dari istri dan anak-
anak perempuannya sebelum
wanita mukminat lainnya
sebagaimana perintah di awal
ayat.
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﻗُﻞْ ﻟِﺄَﺯْﻭَﺍﺟِﻚَ ﻭَﺑَﻨَﺎﺗِﻚَ ﻭَﻧِﺴَﺎﺀِ
ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ
“ Hai Nabi, katakanlah kepada
isteri-isterimu, anak-anak
perempuanmu dan isteri-isteri
orang mukmin ”
Hal ini sebagaimana firman Allah
Ta ’ala,
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻗُﻮﺍ ﺃَﻧْﻔُﺴَﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻫْﻠِﻴﻜُﻢْ
ﻧَﺎﺭًﺍ
“ Hai orang-orang yang beriman,
peliharalah dirimu dan keluargamu
dari api neraka. ” (QS. At Tahrim: 6)
Ya Allah, bukakanlah hati keluarga
dan kerabat kami yang belum
berjilbab untuk segera berjilbab
dengan sempurna.
Segala puji bagi Allah yang dengan
nikmat-Nya segala kebaikan
menjadi sempurna.

cinta bukanlah d salurkan lewat pacaran

Cinta kepada lain jenis merupakan
hal yang fitrah bagi manusia.
Karena sebab cintalah,
keberlangsungan hidup manusia
bisa terjaga. Oleh sebab itu, Allah
Ta ’ala menjadikan wanita sebagai
perhiasan dunia dan kenikmatan
bagi penghuni surga.
Cinta kepada lain jenis merupakan
hal yang fitrah bagi manusia.
Karena sebab cintalah,
keberlangsungan hidup manusia
bisa terjaga. Oleh sebab itu, Allah
Ta ’ala menjadikan wanita sebagai
perhiasan dunia dan kenikmatan
bagi penghuni surga. Islam sebagai
agama yang sempurna juga telah
mengatur bagaimana
menyalurkan fitrah cinta tersebut
dalam syariatnya yang rahmatan
lil ‘alamin. Namun, bagaimanakah
jika cinta itu disalurkan melalui
cara yang tidak syar`i? Fenomena
itulah yang melanda hampir
sebagian besar anak muda saat
ini. Penyaluran cinta ala mereka
biasa disebut dengan pacaran.
Berikut adalah beberapa tinjauan
syari ’at Islam mengenai pacaran.
Ajaran Islam Melarang Mendekati
Zina
Allah Ta’ala berfirman,
ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻘْﺮَﺑُﻮﺍ ﺍﻟﺰِّﻧَﺎ ﺇِﻧَّﻪُ ﻛَﺎﻥَ ﻓَﺎﺣِﺸَﺔً ﻭَﺳَﺎﺀَ
ﺳَﺒِﻴﻠًﺎ
“Dan janganlah kamu mendekati
zina; sesungguhnya zina itu adalah
suatu perbuatan yang keji. Dan
suatu jalan yang buruk. ”(QS. Al
Isro’ [17] : 32)
Dalam Tafsir Jalalain dikatakan
bahwa larangan dalam ayat ini
lebih keras daripada perkataan
‘ Janganlah melakukannya’.
Artinya bahwa jika kita mendekati
zina saja tidak boleh, apalagi
sampai melakukan zina, jelas-jelas
lebih terlarang.
Asy Syaukani dalam Fathul Qodir
mengatakan, ”Apabila perantara
kepada sesuatu saja dilarang,
tentu saja tujuannya juga haram
dilihat dari maksud pembicaraan.”
Dilihat dari perkataan Asy
Syaukani ini, maka kita dapat
simpulkan bahwa setiap jalan
(perantara) menuju zina adalah
suatu yang terlarang. Ini berarti
memandang, berjabat tangan,
berduaan dan bentuk perbuatan
lain yang dilakukan dengan lawan
jenis karena hal itu sebagai
perantara kepada zina adalah
suatu hal yang terlarang.
Islam Memerintahkan untuk
Menundukkan Pandangan
Allah memerintahkan kaum
muslimin untuk menundukkan
pandangan ketika melihat lawan
jenis. Allah Ta ’ala berfirman,
ﻗُﻞْ ﻟِﻠْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻳَﻐُﻀُّﻮﺍ ﻣِﻦْ ﺃَﺑْﺼَﺎﺭِﻫِﻢْ
ﻭَﻳَﺤْﻔَﻈُﻮﺍ ﻓُﺮُﻭﺟَﻬُﻢْ
“Katakanlah kepada laki – laki
yang beriman :”Hendaklah
mereka menundukkan
pandangannya dan memelihara
kemaluannya. ” (QS. An Nuur [24] :
30 )
Dalam lanjutan ayat ini, Allah juga
berfirman,
ﻭَﻗُﻞْ ﻟِﻠْﻤُﺆْﻣِﻨَﺎﺕِ ﻳَﻐْﻀُﻀْﻦَ ﻣِﻦْ ﺃَﺑْﺼَﺎﺭِﻫِﻦَّ
ﻭَﻳَﺤْﻔَﻈْﻦَ ﻓُﺮُﻭﺟَﻬُﻦَّ
“Katakanlah kepada wanita-
wanita yang beriman : "Hendaklah
mereka menundukkan
pandangannya, dan
kemaluannya ” (QS. An Nuur [24] :
31)
Ibnu Katsir ketika menafsirkan
ayat pertama di atas mengatakan,
” Ayat ini merupakan perintah
Allah Ta’ala kepada hamba-Nya
yang beriman untuk
menundukkan pandangan mereka
dari hal-hal yang haram.
Janganlah mereka melihat kecuali
pada apa yang dihalalkan bagi
mereka untuk dilihat (yaitu pada
istri dan mahromnya). Hendaklah
mereka juga menundukkan
pandangan dari hal-hal yang
haram. Jika memang mereka tiba-
tiba melihat sesuatu yang haram
itu dengan tidak sengaja, maka
hendaklah mereka memalingkan
pandangannya dengan segera. ”
Ketika menafsirkan ayat kedua di
atas, Ibnu Katsir juga
mengatakan, ”Firman Allah (yang
artinya) ‘katakanlah kepada
wanita-wanita yang beriman :
hendaklah mereka menundukkan
pandangan mereka ’ yaitu
hendaklah mereka
menundukkannya dari apa yang
Allah haramkan dengan melihat
kepada orang lain selain
suaminya. Oleh karena itu,
mayoritas ulama berpendapat
bahwa tidak boleh seorang wanita
melihat laki-laki lain (selain suami
atau mahromnya, pen) baik
dengan syahwat dan tanpa
syahwat. … Sebagian ulama
lainnya berpendapat tentang
bolehnya melihat laki-laki lain
dengan tanpa syahwat. ”
Lalu bagaimana jika kita tidak
sengaja memandang lawan jenis?
Dari Jarir bin Abdillah, beliau
mengatakan,
ﺳَﺄَﻟْﺖُ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ -ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ
ﻭﺳﻠﻢ- ﻋَﻦْ ﻧَﻈَﺮِ ﺍﻟْﻔُﺠَﺎﺀَﺓِ ﻓَﺄَﻣَﺮَﻧِﻰ ﺃَﻥْ
ﺃَﺻْﺮِﻑَ ﺑَﺼَﺮِﻯ .
“Aku bertanya kepada Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
tentang pandangan yang cuma
selintas (tidak sengaja). Kemudian
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam memerintahkan kepadaku
agar aku segera memalingkan
pandanganku. ” (HR. Muslim no.
5770)
Faedah dari menundukkan
pandangan, sebagaimana
difirmankan Allah dalam surat An
Nur ayat 30 (yang artinya) “yang
demikian itu adalah lebih suci bagi
mereka ” yaitu dengan
menundukkan pandangan akan
lebih membersihkan hati dan lebih
menjaga agama orang-orang
yang beriman. Inilah yang
dikatakan oleh Ibnu Katsir –
semoga Allah merahmati beliau-
ketika menafsirkan ayat ini. –
Semoga kita dimudahkan oleh
Allah untuk menundukkan
pandangan sehingga hati dan
agama kita selalu terjaga
kesuciannya-
Allah Memerintahkan kepada
Wanita untuk Menutup Auratnya
Allah Ta ’ala berfirman,
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﻗُﻞْ ﻟِﺄَﺯْﻭَﺍﺟِﻚَ ﻭَﺑَﻨَﺎﺗِﻚَ ﻭَﻧِﺴَﺎﺀِ
ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻳُﺪْﻧِﻴﻦَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻦَّ ﻣِﻦْ ﺟَﻠَﺎﺑِﻴﺒِﻬِﻦَّ
ﺫَﻟِﻚَ ﺃَﺩْﻧَﻰ ﺃَﻥْ ﻳُﻌْﺮَﻓْﻦَ ﻓَﻠَﺎ ﻳُﺆْﺫَﻳْﻦَ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪُ
ﻏَﻔُﻮﺭًﺍ ﺭَﺣِﻴﻤًﺎ
“ Hai Nabi, katakanlah kepada
isteri-isterimu, anak-anak
perempuanmu dan isteri-isteri
orang mu'min: "Hendaklah
mereka mengulurkan jilbabnya ke
seluruh tubuh mereka". Yang
demikian itu supaya mereka lebih
mudah untuk dikenal, karena itu
mereka tidak di ganggu. Dan Allah
adalah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab
[33] : 59)
ﻭَﻗُﻞْ ﻟِﻠْﻤُﺆْﻣِﻨَﺎﺕِ ﻳَﻐْﻀُﻀْﻦَ ﻣِﻦْ ﺃَﺑْﺼَﺎﺭِﻫِﻦَّ
ﻭَﻳَﺤْﻔَﻈْﻦَ ﻓُﺮُﻭﺟَﻬُﻦَّ ﻭَﻟَﺎ ﻳُﺒْﺪِﻳﻦَ ﺯِﻳﻨَﺘَﻬُﻦَّ ﺇِﻟَّﺎ
ﻣَﺎ ﻇَﻬَﺮَ ﻣِﻨْﻬَﺎ
“ Katakanlah kepada wanita yang
beriman: "Hendaklah mereka
menahan pandangannya, dan
kemaluannya, dan janganlah
mereka menampakkan
perhiasannya, kecuali yang (biasa)
nampak dari padanya. ” (QS. An
Nuur [24] : 31).
Berdasarkan tafsiran Ibnu Abbas,
Ibnu Umar, dan Atho ’ bin Abi
Robbah bahwa yang boleh
ditampakkan adalah wajah dan
kedua telapak tangan. (Lihat Jilbab
Al Mar ’ah Al Muslimah, Amr Abdul
Mun’im Salim)
Agama Islam Melarang Berduaan
dengan Lawan Jenis
Dari Ibnu Abbas, Nabi shallallahu
‘ alaihi wa sallam bersabda,
ﻻَ ﻳَﺨْﻠُﻮَﻥَّ ﺭَﺟُﻞٌ ﺑِﺎﻣْﺮَﺃَﺓٍ ﺇِﻻَّ ﻣَﻊَ ﺫِﻯ ﻣَﺤْﺮَﻡٍ
“ Janganlah seorang laki-laki
berduaan dengan seorang wanita
kecuali jika bersama
mahromnya. ” (HR. Bukhari, no.
5233)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
ﺃَﻻَ ﻻَ ﻳَﺨْﻠُﻮَﻥَّ ﺭَﺟُﻞٌ ﺑِﺎﻣْﺮَﺃَﺓٍ ﻻَ ﺗَﺤِﻞُّ ﻟَﻪُ ، ﻓَﺈِﻥَّ
ﺛَﺎﻟِﺜَﻬُﻤَﺎ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥُ ، ﺇِﻻَّ ﻣَﺤْﺮَﻡٍ
“ Janganlah seorang laki-laki
berduaan dengan seorang wanita
yang tidak halal baginya karena
sesungguhnya syaithan adalah
orang ketiga di antara mereka
berdua kecuali apabila bersama
mahromnya. (HR. Ahmad no.
15734. Syaikh Syu’aib Al Arnauth
mengatakan hadits ini shohih
ligoirihi)
Jabat Tangan dengan Lawan Jenis
Termasuk yang Dilarang
Dari Abu Hurairah radhiyallahu
‘ anhu , Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda,
ﻛُﺘِﺐَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﺑْﻦِ ﺁﺩَﻡَ ﻧَﺼِﻴﺒُﻪُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺰِّﻧَﻰ
ﻣُﺪْﺭِﻙٌ ﺫَﻟِﻚَ ﻻَ ﻣَﺤَﺎﻟَﺔَ ﻓَﺎﻟْﻌَﻴْﻨَﺎﻥِ ﺯِﻧَﺎﻫُﻤَﺎ
ﺍﻟﻨَّﻈَﺮُ ﻭَﺍﻷُﺫُﻧَﺎﻥِ ﺯِﻧَﺎﻫُﻤَﺎ ﺍﻻِﺳْﺘِﻤَﺎﻉُ ﻭَﺍﻟﻠِّﺴَﺎﻥُ
ﺯِﻧَﺎﻩُ ﺍﻟْﻜَﻼَﻡُ ﻭَﺍﻟْﻴَﺪُ ﺯِﻧَﺎﻫَﺎ ﺍﻟْﺒَﻄْﺶُ ﻭَﺍﻟﺮِّﺟْﻞُ
ﺯِﻧَﺎﻫَﺎ ﺍﻟْﺨُﻄَﺎ ﻭَﺍﻟْﻘَﻠْﺐُ ﻳَﻬْﻮَﻯ ﻭَﻳَﺘَﻤَﻨَّﻰ
ﻭَﻳُﺼَﺪِّﻕُ ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟْﻔَﺮْﺝُ ﻭَﻳُﻜَﺬِّﺑُﻪُ
“Setiap anak Adam telah
ditakdirkan bagian untuk berzina
dan ini suatu yang pasti terjadi,
tidak bisa tidak. Zina kedua mata
adalah dengan melihat. Zina kedua
telinga dengan mendengar. Zina
lisan adalah dengan berbicara. Zina
tangan adalah dengan meraba
(menyentuh). Zina kaki adalah
dengan melangkah. Zina hati
adalah dengan menginginkan dan
berangan-angan. Lalu
kemaluanlah yang nanti akan
membenarkan atau mengingkari
yang demikian. ” (HR. Muslim no.
6925)
An Nawawi –seorang ulama besar
Syafi’iyyah- berkata,
”Makna hadits ini adalah bahwa
anak Adam telah ditetapkan
bagian untuk berzina. Di
antaranya ada yang berbentuk
zina secara hakiki yaitu
memasukkan kemaluan kepada
kemaluan yang haram. Di samping
itu juga ada zina yang bentuknya
simbolis (majas) yaitu dengan
melihat sesuatu yang haram,
mendengar hal-hal zina dan yang
berkaitan dengan hasilnya; atau
pula dengan menyentuh wanita
ajnabiyah (wanita yang bukan istri
dan bukan mahrom) dengan
tangannya atau menciumnya;
atau juga berjalan dengan kakinya
menuju zina, memandang,
menyentuh, atau berbicara yang
haram dengan wanita ajnabiyah
dan berbagai contoh yang semisal
ini; bisa juga dengan
membayangkan dalam hati.
Semua ini merupakan macam zina
yang simbolis (majas). Lalu
kemaluan nanti yang akan
membenarkan perbuatan-
perbuatan tadi atau
mengingkarinya. Hal ini berarti ada
zina yang bentuknya hakiki yaitu
zina dengan kemaluan dan ada
pula yang tidak hakiki dengan
tidak memasukkan kemaluan
pada kemaluan, atau yang
mendekati hal ini. Wallahu
a ’lam” (Syarh An Nawawi ‘ala
Muslim)
Jika kita melihat pada hadits di
atas, menyentuh lawan jenis -
yang bukan istri atau mahrom-
diistilahkan dengan berzina. Hal ini
berarti menyentuh lawan jenis
adalah perbuatan yang haram
karena berdasarkan kaedah ushul
“ apabila sesuatu dinamakan
dengan sesuatu lain yang haram,
maka menunjukkan bahwa
perbuatan tersebut adalah
haram ”. (Lihat Taysir Ilmi Ushul
Fiqh, Abdullah bin Yusuf Al Juda’i)
Meninjau Fenomena Pacaran
Setelah pemaparan kami di atas,
jika kita meninjau fenomena
pacaran saat ini pasti ada
perbuatan-perbuatan yang
dilarang di atas. Kita dapat melihat
bahwa bentuk pacaran bisa
mendekati zina. Semula diawali
dengan pandangan mata terlebih
dahulu. Lalu pandangan itu
mengendap di hati. Kemudian
timbul hasrat untuk jalan berdua.
Lalu berani berdua-duan di tempat
yang sepi. Setelah itu bersentuhan
dengan pasangan. Lalu dilanjutkan
dengan ciuman. Akhirnya, sebagai
pembuktian cinta dibuktikan
dengan berzina. –Naudzu billahi
min dzalik-. Lalu pintu mana lagi
paling lebar dan paling dekat
dengan ruang perzinaan melebihi
pintu pacaran?!
Mungkinkah ada pacaran Islami?
Sungguh, pacaran yang dilakukan
saat ini bahkan yang dilabeli
dengan ’pacaran Islami’ tidak
mungkin bisa terhindar dari
larangan-larangan di atas.
Renungkanlah hal ini!
Mustahil Ada Pacaran Islami
Salah seorang dai terkemuka
pernah ditanya, ”Ngomong-
ngomong, dulu bapak dengan ibu,
maksudnya sebelum nikah, apa
sempat berpacaran ?”
Dengan diplomatis, si dai
menjawab, ”Pacaran seperti apa
dulu? Kami dulu juga berpacaran,
tapi berpacaran secara Islami. Lho,
gimana caranya? Kami juga sering
berjalan-jalan ke tempat rekreasi,
tapi tak pernah ngumpet
berduaan. Kami juga gak pernah
melakukan yang enggak-enggak,
ciuman, pelukan, apalagi –wal
‘iyyadzubillah- berzina.
Nuansa berpikir seperti itu,
tampaknya bukan hanya milik si
dai. Banyak kalangan kaum
muslimin yang masih
berpandangan, bahwa pacaran itu
sah-sah saja, asalkan tetap
menjaga diri masing-masing.
Ungkapan itu ibarat kalimat,
“ Mandi boleh, asal jangan basah.”
Ungkapan yang hakikatnya tidak
berwujud. Karena berpacaran itu
sendiri, dalam makna apapun
yang dipahami orang-orang
sekarang ini, tidaklah dibenarkan
dalam Islam. Kecuali kalau
sekedar melakukan nazhor
(melihat calon istri sebelum
dinikahi, dengan didampingi
mahramnya), itu dianggap sebagai
pacaran. Atau setidaknya,
diistilahkan demikian. Namun itu
sungguh merupakan perancuan
istilah. Istilah pacaran sudah
kadong dipahami sebagai
hubungan lebih intim antara
sepasang kekasih, yang
diaplikasikan dengan jalan bareng,
jalan-jalan, saling berkirim surat,
ber SMS ria, dan berbagai hal lain,
yang jelas-jelas disisipi oleh
banyak hal-hal haram, seperti
pandangan haram, bayangan
haram, dan banyak hal-hal lain
yang bertentangan dengan
syariat. Bila kemudian ada istilah
pacaran yang Islami, sama halnya
dengan memaksakan adanya
istilah, meneggak minuman keras
yang Islami. Mungkin, karena
minuman keras itu di tenggal di
dalam masjid. Atau zina yang
Islami, judi yang Islami, dan
sejenisnya. Kalaupun ada aktivitas
tertentu yang halal, kemudian di
labeli nama-nama perbuatan
haram tersebut, jelas terlelu
dipaksakan, dan sama sekali tidak
bermanfaat. (Diambil dari buku
Sutra Asmara, Abu Umar Basyir)
Pacaran Mempengaruhi Kecintaan
pada Allah
Ibnul Qayyim menjelaskan,
” Kalau orang yang sedang dilanda
asmara itu disuruh memilih antara
kesukaan pujaannya itu dengan
kesukaan Allah, pasti ia akan
memilih yang pertama. Ia pun
lebih merindukan perjumpaan
dengan kekasihnya itu ketimbang
pertemuan dengan Allah Yang
Maha Kuasa. Lebih dari itu, angan-
angannya untuk selalu dekat
dengan sang kekasih, lebih dari
keinginannya untuk dekat dengan
Allah ”.
Pacaran Terbaik adalah Setelah
Nikah
Islam yang sempurna telah
mengatur hubungan dengan
lawan jenis. Hubungan ini telah
diatur dalam syariat suci yaitu
pernikahan. Pernikahan yang
benar dalam islam juga bukanlah
yang diawali dengan pacaran, tapi
dengan mengenal karakter calon
pasangan tanpa melanggar
syariat. Melalui pernikahan inilah
akan dirasakan percintaan yang
hakiki dan berbeda dengan
pacaran yang cintanya hanya
cinta bualan.
Dari Ibnu Abbas, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
« ﻟَﻢْ ﻧَﺮَ ﻟِﻠْﻤُﺘَﺤَﺎﺑَّﻴْﻦِ ﻣِﺜْﻞَ ﺍﻟﻨِّﻜَﺎﺡِ »
“Kami tidak pernah mengetahui
solusi untuk dua orang yang saling
mencintai semisal
pernikahan. ” (HR. Ibnu Majah no.
1920. Dikatakan shohih oleh
Syaikh Al Albani)
Kalau belum mampu menikah,
tahanlah diri dengan berpuasa.
Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
ﻣَﻦِ ﺍﺳْﺘَﻄَﺎﻉَ ﺍﻟْﺒَﺎﺀَﺓَ ﻓَﻠْﻴَﺘَﺰَﻭَّﺝْ ، ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﺃَﻏَﺾُّ
ﻟِﻠْﺒَﺼَﺮِ ﻭَﺃَﺣْﺼَﻦُ ﻟِﻠْﻔَﺮْﺝِ ، ﻭَﻣَﻦْ ﻟَﻢْ ﻳَﺴْﺘَﻄِﻊْ
ﻓَﻌَﻠَﻴْﻪِ ﺑِﺎﻟﺼَّﻮْﻡِ ، ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻟَﻪُ ﻭِﺟَﺎﺀٌ
“Barangsiapa yang mampu untuk
menikah, maka menikahlah.
Karena itu lebih akan
menundukkan pandangan dan
lebih menjaga kemaluan.
Barangsiapa yang belum mampu,
maka berpuasalah karena puasa
itu bagaikan kebiri.” (HR. Bukhari
dan Muslim)
Ibnul Qayyim berkata, ”Hubungan
intim tanpa pernikahan adalah
haram dan merusak cinta, malah
cinta di antara keduanya akan
berakhir dengan sikap saling
membenci dan bermusuhan,
karena bila keduanya telah
merasakan kelezatan dan cita rasa
cinta, tidak bisa tidak akan timbul
keinginan lain yang belum
diperolehnya. ”
Cinta sejati akan ditemui dalam
pernikahan yang dilandasi oleh
rasa cinta pada-Nya.
Mudah-mudahan Allah
memudahkan kita semua untuk
menjalankan perintah-Nya serta
menjauhi larangan-Nya.
Allahumma inna nas ’aluka ’ilman
nafi’a wa rizqon thoyyiban wa
’amalan mutaqobbbalan
***

Engkau Sang BIDADARI TERPILIH

Wanita terlahir sebagai anugerah
terindah dari Rabb Sang Pencipta
untuk seluruh semesta. Betapa
kelamnya dunia ini tanpa
kehadiran seorang wanita sebagai
perhiasan di tengah hiruk
pikuknya kaum Adam. Pun, dia
adalah sosok hamba yang penuh
dengan keindahan dan
menyejukkan mata yang
melihatnya. Tiada tergantikan
perannya, hingga tak jarang para
bidadari surga iri padanya.
Ketulusan dan pengorbannannya
begitu dahsyat, hingga mereka
pun dikabarkan memiliki 3 tingkat
derajat lebih baik dibanding para
panglima keluarga.
Sebaik-baik Perhiasan
Ternyata, dunia yang penuh
dengan gemerlap ini hanyalah
perhiasan semu yang melalaikan.
Keindahannya masih belum bisa
menggantikan perhiasan terbaik
yang telah diciptakan Allah a
dengan rasa cinta. Ya, seindah dan
semewah apa pun dunia ternyata
tak mampu mengalahkan
kemulian seorang wanita. Tapi,
bukan semabarang wanita
tentunya. Hanyalah wanita salihah
yang mendapat predikat kebaikan
lebih baik dari dunia dan seisinya.
Rasulullah n, bersabda
“ Dunia ini adalah perhiasan dan
sebaik-baik perhiasan adalah
wanita shalihah. ” (HR. Muslim,
Nasa’I, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Dan wanita shalihah adalah
sumber kebahagian para
penduduk bumi. Keberadaannya
begitu mempesona hingga para
wanita buruk (tidak shalihah) tak
akan pernah mampu
mengalahkannya walau dengan
emas setinggi gunung dan
kemewahan seluas laut. Dan itulah
yang ditekankan oleh Rasulullah n
dalam sebuah hadist,
“ Di antara kebahagian anak adam
itu ada tiga, demikian juga dengan
kesengsaraannya, juga ada tiga. Di
antara kebahagian anak Adam itu
adalah: wanita shalihah, tempat
tinggal yang baik, dan kendaraan
yang baik. Sedangkan ketiga
kesengsaraannya adalah wanita
yang buruk (tidak shalihah),
tempat tinggal yang buruk, dan
kendaraan yang
buruk. ” (Diriwayatkan oleh Imam
Ahmad)
Kini, Kemulian Itu Ternoda
Begitu agung dan mulianya
seorang wanita di sisi Rabb Sang
Pencipta, membuat para musuh
Allah menjadi resah. Karenanya,
mereka tiupakan aroma-aroma
kebinasaan atas nama kebebasan
dan kesetaraan. Mereka jadikan
larangan Allah a dan rasul-Nya
sebagai racun beraroma cokelat
yang tampak begitu lezat. Dan
aturan Ilahi yang begitu mulia,
tampak seperti barang lusuh yang
tiada arti. Lihat saja racun itu kini
telah menghinggapi banyak
wanita muslim di sekitar kita.
Banyak wanita muslim yang
terjebak untuk berpenampilan
seronok dan berlenggak-lenggok
di jalanan atas nama mode dan
kecantikan. Padahal, Allah telah
memberikan ancaman yang
begitu dahsyat berkaitan dengan
hal ini melalui lisan rasul-Nya yang
mulia
“ Dua golongan dari penghuni
neraka yang tidak pernah kulihat
yang seperti mereka berdua, yaitu
orang-orang yang membawa
cemeti seperti ekor-ekor sapi,
yang dengan cemeti itu mereka
memukuli manusia, dan wanita
yang berpakaian tapi telanjang,
berlenggak-lenggok dan
bergoyang-goyang, kepala
mereka seperti punuh onta yang
bergoyang-goyang. Mereka tidak
masuk surgadan tidak mencium
baunya. Sesungguhnya bau surga
itu bisa tercium dari jarak
perjalanan sekian lama dan sekian
lama. ” (Diriwayatkan Muslim dan
lain-lain)
Yang lebih mengerikan, banyak
wanita yang tergiur dan
terjerembab oleh gemerlapnya
dunia. Mereka tinggalkan
singgasana kemulian dan berlari
menuju kursi panas kehancuran.
Atas nama uang dan popularitas,
merelakan keindahan tubuh dan
kehormatan diri sebagai wanita
terjaga. Mereka lupa bahwa harta
dan dunia adalah perhiasan dunia
yang melalaikan saja. Inilah
musibah yang sebenarnya sudah
diperingatkan oleh Rasulullah n,
“ Celakalah hamba dinar dan
dirham, hamba sutera dan beludru.
Apabila diberi dia akan merasa
senang dan apabila tidak diberi
maka di akan marah. ”
Kembali Kepada Kemulian
Tidak ada cara lain untuk
mengembalikan dunia pada
tatanan yang lebih baik kecuali
mengembalikan para wanita pada
kedudukan awalnya, kemulian.
Dan untuk memuliakan wanita,
Islam telah menjadi satu-satunya
solusi terbaik dengan syariatnya.
Satu diantaranya dengan syariat
hijab. Allah a berfirman yang
artinya,
Katakanlah kepada wanita yang
beriman: "Hendaklah mereka
menahan pandangannya, dan
memelihara kemaluannya, dan
janganlah mereka menampakkan
perhiasannya, kecuali yang (biasa)
nampak daripadanya. Dan
hendaklah mereka menutupkan
kain kudung ke dadanya, dan
janganlah menampakkan
perhiasannya, kecuali kepada
suami mereka, atau ayah mereka,
atau ayah suami mereka, atau
putra-putra mereka, atau putra-
putra suami mereka, atau
saudara-saudara laki-laki mereka,
atau putra-putra saudara laki-laki
mereka, atau putra-putra saudara
perempuan mereka, atau wanita-
wanita Islam, atau budak-budak
yang mereka miliki, atau pelayan-
pelayan laki-laki yang tidak
mempunyai keinginan (terhadap
wanita) atau anak-anak yang
belum mengerti tentang aurat
wanita. Dan janganlah mereka
memukulkan kakinya agar
diketahui perhiasan yang mereka
sembunyikan. Dan bertobatlah
kamu sekalian kepada Allah, hai
orang-orang yang beriman supaya
kamu beruntung. (Surat An Nuurr :
31)
Sudah saatnya para muslimah
meraih kemulian sebagai hamba
yang dikarunia banyak keindahan.
Tentu caranya bukan dengan
menjadikan mereka sebagai
barang dagangan pemuas
syahwat. Tapi, mereka harusnya
menjadi perhiasan terbaik yang
akan menggetarkan dunia dengan
kelembutan dan ketulusan. Dan
jika itu benar terwujud, sungguh
mereka lebih mulia daripada para
bidadri karena sholat, ibadah, dan
ketakwaan mereka.